Category: Filsafat

  • Terbatas

     

    Terbatas. Kita manusia ini terbatas. Ada titik awal. Ada titik akhir. Lahir. Lalu mati, itulah batas hidup di dunia ini sebagai batas dari nafas yang awal dihembuskan lalu pada saatnya dihembuskan terakhir kali. Nafas ada batas. Kalau dibatasi dalam ruang yang terbatas maka hidup kita yang terbatas ini akan langsung terbatas dan tibalah  pada akhir batas hidup, mati. Kita cantolkan keterbatasan kita pada Yang Tak Terbatas, TUHAN, itulah yang disebut Iman. Percaya pada Yang Tak Terbatas bahwa hidup kita yang terbatas ini dijaga keterbatasannya oleh TUHAN. Penjagaan diri kita yang terbatas dalam keterbatasan kita oleh TUHAN, itulah yang kita kenal dengan istilah Rahmat, Anugerah, Kurnia.

    Terbatas. Kita manusia ini terbatas maka Nafsu yang ada dalam kita itu selalu menginginkan terus apa saja yang kita butuhkan untuk mengisi keterbatasan kita. Nalar kita ada untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan yang terbatas itu melalui berbagai daya dan upaya yang kita miliki lewat perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman kita. Naluri kita mendorong diri kita yang terbatas ini untuk tidak berjuang sendirian tetapi bersama sesama sehingga ramai-ramai sadari keterbatasan untuk saling mendukung mengatasi keterbatasan kita masing-masing. Nurani kita langsung bertindak untuk pertama-tama sadari keterbatasan diri kita, dan berharap pada Yang Tak Terbatas, TUHAN, untuk menopang diri kita lalu bersyukur karena keterbatasan kita dipulihkan oleh Yang Tak Terbatas, TUHAN. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita, hadiah dari TUHAN, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Terbatas. Ruang terbatas. Waktu terbatas. Kita hidup dalam ruang dan waktu yang terbatas ini. Sering kita memperluas ruang tempat tinggal kita melampaui batas tenaga dan dana yang ada pada kita yang terbatas ini sehingga Nafsu untuk mencuri dan merampok menggerogoti dan menguasai diri kita. Sering pula kita mengejar harta dan kuasa di luar Nalar kita yang terbatas sehingga membuat diri kita lelah tak berdaya dan main otak untuk menipu diri dan sesama bahwa diri kita belum sampai pada titik terbatasnya ruang dan waktu yang tersedia bagi diri kita. Kerja kurang menyadari lanjutnya usia termasuk daya Nalar yang kurang mau mengakui diri kita bahwa sedang mengalami hidup yang terbatas. Naluri kita juga sering kita pelintir menjadi dorongan yang penuh rasa ingat diri dan mengabaikan sesama sehingga sudah jelas diri kita terbatas tapi cari pengaruh di luar batas. Nurani kita mengendalikan diri kita untuk tetap hidup seimbang dalam mengendalikan Nafsu, mengatur Nalar dan memanfaatkan Naluri secara benar karena kita ini terbatas, tetapi sering Nurani kita kecewa karena kita dengan tahu dan mau tidak sadar bahwa diri kita ini terbatas oleh ruang dan waktu.

    Terbatas. Syukur bahwa TUHAN menyayangi diri kita yang terbatas ini dengan segala bentuk Rahmat, Anugerah, Kurnia yang dicurahkan kepada kita dalam ruang dan waktu yang terbatas untuk tiba pada akhir hidup kita di dunia ini, tiba pada Hidup abadi yang tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Itulah yang kita percaya tentang apa yang disebut Hidup Kekal, Abadi dalam haribaan SANG ABADI, TUHAN.

     

     

  • Batas

     

    Batas. Ujung. Ada batas. Membatasi. Dibatasi. Terbatas. Pembatas. Pembatasan. Perbatasan.  Segala sesuatu yang ada di dunia ini terbatas. Termasuk diri kita manusia ini, terbatas. Semua yang terbatas ini berasal dari Yang Tak Terbatas. TUHAN. Diri kita manusia terikat oleh keterbatasan. Setiap gerak kita itu terbatas. Kalau melampaui batas, kita jadi pangling. Kalau belum sampai batas, kita penasaran. Kalau sampai batas, kita puas. Batas itu ada sebagai pembatas agar kita yang terbatas ini tahu batas dan tidak lewat batas. Dalam segala urusan apa saja kita dibatasi sehingga dituntut dari kita untuk tahu batas.

    Batas. Nafsu kita ada, diberikan oleh TUHAN untuk menginginkan sesuatu dalam segala keterbatasan. Nalar kita diberikan TUHAN kepada kita untuk mengetahui batas-batas yang ada dari segala keterbatasan yang ada di sekitar kita. Naluri kita ada untuk akrab dengan sesama yang sama-sama ada dalam keterbatasan sehingga tidak boleh menuntut dari sesama kita di luar keterbatasannya. Nurani kita ada segagai hadiah dari TUHAN untuk menyadari bahwa kita diciptakan dalam keterbatasan maka kita harus tetap menggantungkan diri pada YANG TIDAK TERBATAS itu, TUHAN sendiri. Inilah peranan dari empat unsur dalam diri kita yang saya beri istilah, 4 N: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Batas. Sejauh kita manusia sadar akan keterbatasan dari empat unsur dalam diri kita ini maka hidup kita mulus, lurus dan lulus dalam berbagai tantangan dan cobaan. Hidup kita galau dan kacau karena kita sering tidak sadari keterbatasan diri kita dan sering bertindak lewat batas. Sikap angkuh hinggap pada diri kita yang pamer diri di luar keterbatasan diri kita. Sikap iri dan dengki muncul dari kurang tahu batas kesadaran diri kita  bahwa orang lain itu ada keterbatasan di bidang lain tapi ada kelebihan di bidang lain. Mengapa iri, mengapa dengki? Dia ada dalam keterbatasannya dan saya ada dalam keterbatasan saya. Masing-masing terbatas dan harus tahu bahwa diri kita terbatas oleh keterbatasan masing-masing. Kalau kita saling mengakui keterbatasan kita, maka hidup akan menjadi aman tenteram sebagaimana yang dirancang oleh Pencipta kita sumber segala ketenteraman. Tahu batas.

  • Tengah

    Tengah. Kalau tengah, berarti ada di kiri dan kanan. Ada atas dan bawah. Atau juga ada lingkaran. Tengah berarti tidak kiri tidak kanan, tidak atas tidak bawah, tidak pinggir tidak luar. Tengah. Di tengah. Orang Latin punya peribahasa tua, ‘Via media aura est‘, artinya: jalan tengah adalah emas. Muncul dalam bahasa kita, ‘jalan tengah’.

    Dalam hidup ini paling aman kalau berada di tengah sejauh ada pertimbangan yang matang. Diri kita dikendali oleh empat unsur dalam diri kita: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Nafsu adalah keinginan yang setiap saat dapat membelokkan diri kita entah ke kiri atau ke kanan. Nalar memegang kendali agar diri kita tidak terombang-ambing antara dua arus ini, bawah atau atas. Naluri kita tetap mengarahkan diri kita untuk tegak berdiri di tengah untuk tidak terpengaruh oleh kekuatan kiri atau kanan. Nurani kita bertindak untuk mengawasi dengan ketat agar kita tidak jatuh entah ke kiri atau ke kanan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tengah. Mengapa tengah? Karena tengah itu identik dengan aman, adil, damai. Ke kiri berarti serong. Ke kanan sama saja, menyimpang. Lurus, ya tengah itu. Setiap saat diri kita itu di tengah. Itu berarti sedang berada di jalan yang benar. Kalau mau ke kiri atau kanan, dipertimbangkan alasan yang tepat. Sejauh itu benar dan baik, maka itulah yang namanya tengah, tidak lagi pinggir atau tepian, tidak lagi kiri atau kanan.

    Tengah. Berarti tidak belok atau serong. Hidup menjadi tidak seimbang, terombang-ambing karena ada kiri atau kanan. Pilih dan ikut tengah. Ditarik ke kiri atau ke kanan, selalu ada bahaya, ada risiko. Kalau ke kiri atau ke kanan, pasti tinggalkan tengah di mana ada kenyataan yang  damai dan adil. Sisi kiri, selalu tonjolkan yang jelek untuk merusak yang baik yang ada di tengah. Sisi kanan, selalu tonjolkan yang baik secara sengaja dalam bentuk penyamaran untuk menghambat keadilan dan kedamaian yang sejati.

    Tengah. Tengah selalu baik karena di situlah letaknya keseimbangan antara empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Ibarat timbangan, tidak berat sebelah.  Di tengah itu ada sumber kedamaian dan keadilan yang berasal dari Sang Maha Damai dan Sang Maha Adil. Berdirilah di situ. Jalanlah di situ. Di tengah itu.

  • Lanjut

     

    Lanjut. Dalam berbagai upacara kedinasan, ada perintah dari Pemimpin Upacara kepada Komandan Upacara, ‘Lanjutkan’, dijawab, ‘Lanjutkan’. Lanjut berarti ada mulainya. Ada lanjut usia, usia lanjut. Ada sekolah lanjutan, lanjut sekolah. Ternyata kata lanjut ini luas jangakauannya dan dalam isinya.

    Hidup ini adalah lanjutan. Lanjutkan hidup. Bangun pagi itu lanjutkan hidup dari tadi malam. Ini hari hidup, besok lanjutkan lagi. Ada yang tidak mau lanjutkan? Tidak ada yang jawab untuk tidak lanjutkan. Makan dan minum itu bukti untuk lanjutkan hidup. Berhenti makan biar dipaksa, tidak mau makan lagi, hah, itu yang namanya tidak mau lanjutkan hidup. Putus asa. Jarang terjadi.

    NAFSU untuk hidup membuat diri kita lanjut hidup sampai usia lanjut. NALAR kita terus bergulat untuk mencari jalan agar hidup terus berlanjut.  NALURI kita berkeliling merangkul sesama untuk turut dalam lanjutkan usaha  agar tetap hidup. NURANI kita bergembira ria karena diperkenankan TUHAN untuk lanjutkan hidup hari demi hari. Inilah kerjasama empat unsur dalam diri kita manusia untuk hidup dan terus lanjutkan hidup. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lanjut dan terus lanjutkan hidup itu adalah amanat dari TUHAN SANG PENCIPTA kita. Hidup di dunia ini pasti akan dilanjutkan di dunia lain yang disebut Surga. Ke sana kita lanjutkan perjalanan kita.

  • Murah-meriah

    Murah-meriah. Sudah murah, meriah lagi. Dua kata yang sangat menarik dan menghibur. Memang kalau diumumkan jual barang murah, mana orang tidak tertarik? Murah berarti penjual itu sedang bermurah hati dan pembeli pun merasa tidak terlalu banyak mengeruk isi kantongnya. Bertemulah dua niat, penjual dan pembeli sama-sama puas. Sama-sama tidak merasa dirugikan, malah diuntungkan. Ada dua pihak, pemilik barang dan pembeli barang. Hanya ada keterikatan, penjual memilih dan memajang barang-barang yang ada harga dan harga itulah yang diturunkan, dari mahal ke murah. Pembeli harus berupaya  untuk membawa sejumlah uang guna memilih dan membeli barang yang dipajang itu karena ada harga, bukan sampah, bukan barang rongsokan, ada transaksi, jual-beli.

    Murah-meriah. Meriah inilah daya tarik yang paling besar. Penjual itu memang luar biasa. Untuk menarik pembeli, ada acara, suasana meriah, pesta, musik, tari-tarian, jamuan, tegur-sapa, berbagai penjelasan yang penuh makna untuk pengunjung yang adalah pembeli. Meriahnya di situ. Pengunjung berjejal, berpakaian warna-warni, tidak kenal batas usia, status sosial, siapa pun saja dia, di arena pemajangan barang ini, ada yang menggendong bayi, ada yang tua renta, wajah cantik-jelek, tampang gagah-pincang, tidak ada soal. Semua sama.

    Murah-meriah. Ada NAFSU menjual dan membeli, ada NALAR untuk mempertimbangkan, ada NALURI untuk berjumpa, ada NURANI untuk tenang. Setiap pengunjung itu yang pergi-datang sama-sama mempunyai empat unsur ini dalam dirinya untuk dipuaskan, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Murah-meriah. Ternyata, barang yang dijajakan, dipajang itu, alam ini serta segala isinya. Pemiliknya, SANG PENCIPTA. Pengunjung, kita ini, setiap manusia. Alam ini ada nilai. Kita manusia harus sadar untuk menghargai setiap apa pun saja yang ada dalam alam ini. Karena Pmiliknya, yang adalah PEMCINTPA, tidak mungkin mengadakan sesuatu tanpa arah dan maksud. Dan kita manusialah yang diberi kemampuan untuk menjaga, menikmati dan menghaturkan syukur setiap saat, karena kita sedang ada di arena murah-meriah.

  • Cerdas cermat

    Cerdas-cermat. Dua kata ini sudah menjadi kata majemuk. Tindakan manusia yang cerdas dibutuhkan cermat. Sebaliknya, kalau cermat, harus cerdas. Hasilnya? Senang karena keinginan NAFSU terpenuhi. Gembira karena upaya NALAR tercapai. Puas karena dorongan NALURI tercapai. Bahagia karena harapan NURANI terjadi. Di sinilah letaknya peranan empat unsur dalam diri manusia: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI  serentak terpenuhi karena tindakan cerdas yang cermat dan cermat yang cerdas. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup manusia ini seharusnya cerdas dan cermat dari saat ke saat. Tidak cermat berarti semberono. Tidak cerdas berarti ceroboh. Sayang kalau saya, anda, dia, kita hidup semberono dan ceroboh. Suasana baik dalam diri kita maupun di luar diri kita akan senang, gembira, puas dan bahagia kalau kita hidup cerdas dan cermat. Itulah yang dikehendaki TUHAN Pencipta kita. Tidak ada satu manusia pun yang diciptakan tidak cerdas dan tidak cermat. Mana mungkin SANG PENCIPTA menciptakan bagi dirinya pribadi yang siap celaka dan celakakan diri serta sesama karena diciptakan untuk semberono dan ceroboh.

    Hidup kita ini terkadang ricuh, resah dan gelisah hanya kurang atau malah tidak cermat dan cerdas. Udara bersih tersedia secara cuma-cuma,gratis. Kita kotorkan. Tubuh kita sudah diatur untuk tumbuh kembang sampai matang, dewasa dan pada waktunya tua dan berhenti secara wajar. Kita sudah diberi NAFSU untuk makan sesuka hati dengan memakai  NALAR untuk mengukur dan NALURI untuk menakar serta NURANI untuk menyukuri. Itu baru soal makan. Belum lagi soal pakaian dan perumahan serta berbagai kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, hiburan. Itu semua tersedia untuk kita, putera-puteri kesayangan SANG PENCIPTA.

    Segeralah setiap kita untuk hidup cerdas dan cermat setiap saat. Cerdas maju, cermat melangkah. Hari demi hari menjadi cerah penuh tawa dan ria yang diselingi tangis dan derita pada saat-saat tertentu sebagai gelombang panca-roba alamiah. Ibarat gigi berganti melalui sakit. Proses alamiah. Bukan sakit karena disakiti. Kita dengan cermat dan cerdas hidupi hidup bergerak dari PEMBERI hidup kembali kepada DIA.

  • Buat apa?

    Buat apa? Siapa tanya pada siapa? Pada diri dan sesama. Tiap saat diri kita tanya pada diri kita sendiri, buat apa? Setiap langkah dalam hidup ini adalah jawaban atas pertanyaan ini: buat apa? Hidup adalah buat sesuatu. Rentetan buat apa itulah yang menjadi kelengkapan dari hidup setiap kita. Waktu dan tempat tersedia bagi kita untuk menjawab pertanyaan ini. Dua kata menjadi satu pertanyaan. Buat dan apa. Sederhana sekali. Buat. Apa? Yah, apa saja! Ternyata apa itu ada dalam diri kita, bukan di luar diri kita.

    NAFSU menunjukkan segala macam apa yang ada dan mungkin ada untuk dibuat.

    NALAR membentangkan segala cara untuk melaksanakan apa itu yang ditanyakan.

    NALURI mengajak siapa saja yang dikenal untuk bersama membuat apa saja yang berguna bagi diri dan sesama.

    NURANI memuji kalau apa yang dilaksanakan itu baik dan menegur kalau salah pilih dan salah buat.

    Empat unsur dalam diri kita manusia inilah yang mengusik kita untuk bertanya buat apa dan mendorong kita untuk segera buat apa saja sesuai kemampuan dan kebutuhan kita. (4N, Kwadran Bele, 2011). Waktu kita berhenti bertanya buat apa, maka pada saat itulah kita berhenti hidup di dunia ini.

    Buat apa? Itu pertanyaan jangan ditujukan kepada orang lain, apa lagi kepada TUHAN. Tujukan pada diri. Yang buat adalah diri kita. Tanggung-jawab ada pada diri kita. Pada saatnya, kita akan beri pertanggungan-jawab terakhir kepada DIA, TUHAN.

  • Sedang

    Sedang yang dimaksud di sini, sementara. Dia sedang duduk. Saya sedang menulis. Hidup ini dari sedang ke sedang dan menjadi satu untaian sedang yang dilanjutkan dengan sedang abadi. Kalau sedang duduk lalu tidur. Maka yang terjadi ialah orang itu sedang tidur. Kata sedang dipakai terus dengan pengertian, keadaan tertentu berlangsung sesudah keadaan yang lain. Sedang tidur lalu sedang bangun disusul dengan sedang mandi dan seterusnya. Maka benar bahwa hidup ini untaian sedang.

    Sedang hidup di dunia. Itu kalau ada pembicaraan antara yang di dunia dengan yang di luar dunia. Pembicaraan seperti itu tidak ada. Yang ada, kita-kita yang sedang hidup inilah yang menyadari bahwa diri kita sedang berada di dalam dunia ini dengan segala keterbatasan waktu dan tempat.

    Sedang berada dalam satu situasi tertentu sebenarnya diatur oleh NAFSU kita. Mau makan lalu makan, maka dikatakan sedang makan.

    NALAR kita memahami bahwa diri kita sedang berada dalam situasi tertentu dan pasti cepat atau lambat akan beralih ke situasi yang lain sehingga diri kita dikatakan sedang ini atau itu.

    NALURI kita tetap menyadarkan diri kita bahwa kita sedang berada sendiri atau bersama orang lain sehingga diri kita harus disesuaikan dengan keadaan yang sedang dialami. Tidak mungkin seorang yang sedang duduk sendirian berbicara tentang apa saja tanpa ada yang mendengar. Pasti yang sedang berbicara sendirian itu dianggap gila.

    NURANI kita menenangkan kita karena kita sedang mengalami suasana tenang dan gembira. Di sini jelas empat unsur dalam diri kita: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sedang bekerja sama dalam situasi tertentu meninggalkan situasi lama masuk ke situasi baru.

    TUHAN sedang terus memelihara kita. Kita sedang berada dalam lindungan TUHAN. TUHAN Pencipta kita tidak pernah membiarkan kita berada di luar jangkauan perhatian-Nya. Di sinilah muncul soal: kita tidak bisa berbuat sesuka-hati di luar Kehendak TUHAN.

    Kita bebas untuk berbuat apa saja sesuai atau tidak sesuai dengan Kehendak DIA, TUHAN. Yang jelas, DIA sedang menuntun dan mengawasi kita terus. Kita sedang hidup dan hidup dalam rangkulan HIDUP itu sendiri, TUHAN.

    Kita berharap agar kita akhiri hidup kita di dunia ini dalam keadaan sedang berada di jalan yang benar sesuai Kehendak DIA.

  • Pantas

    Pantas itu cocok antara diri dengan keadaan yang dimaksud. Pantas jadi guru. Pantas untuk diteladani. Lawannya, ganjil, janggal, tidak pantas. Diri pribadi kita harus pantas untuk sesuatu di luar diri kita sesuai empat unsur yang ada dalam diri kita.

    Nafsu seseorang mau jadi bupati. Pantas kalau ada pendidikan dan pengalaman untuk itu. Pantas kalau ada banyak orang yang memilih sesuai peraturan yang ada dalam proses pemilihan kepala daerah.

    Nalar menyimpan dan mengolah segala hasil pendidikan dan pengalaman  untuk menjadi bupati.

    Naluri begitu terarah untuk menjadi bupati. Ada jasa bagi para pemilih dan ada simpati dari para pemilih. Maka dari segi Naluri, pantas jadi bupati.

    Nurani  membawa ketenangan bathin untuk menjadi bupati. Pantas jadi bupati dan dengan posisi ini diri tenang dan senang berbakti bagi daerah dan rakyat yang dipimpin. Pantas jadi bupati. Ini contoh konkrit tentang istilah pantas. Ada kerjasama antara empat unsur dalam diri manusia untuk diri itu pantas menjadi sesuatu, dalam hal ini menjadi bupati.   (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pantas masuk surga. Ini kalimat biasa, dan sering dianggap terlalu kudus. Surga itu keadaan bahagia abadi bersama TUHAN sumber kebahagiaan. Manusia pantas untuk masuk dalam keadaan ini kalau dirinya sesuai dengan persyaratan yang ada. Syarat untuk mengalami surga itu ialah diri dalam keadaan kudus, suci dari dosa. Berarti tidak berdosa. Atau pun kalau sudah berdosa, sudah dihapus oleh TUHAN karena diri manusia itu bertobat. Dari tidak pantas menjadi pantas.

    Pantas jadi pemimpin. Syarat-syarat tentang seorang pemimpin itu sudah ada berdasarkan peraturan atau kesepakatan dari masyarakat. Pantas itu tidak bisa dipaksakan dari luar diri. Pantas itu ada dan muncul dari dalam diri manusia. Segala kemungkinan yang ada di luar manusia itu tersedia sesuai arah dan maksud kemungkinan itu. Malapetaka muncul untuk diri kalau sudah tidak pantas lalu dipantaskan untuk posisi tertentu. Ada keluh kesah dari banyak orang, dia tidak pantas. Diri pun terbelit dengan rasa kesal dan sebal. Ini terjadi karena ada ketidak-cocokan antara diri orang itu dengan persyaratan yang ada tentang posisi tertentu.

    Pantas tidak bisa dipantas-pantaskan. Pantas itu harus dengan sendirinya muncul dari diri pribadi sesuai NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang khas dalam diri setiap kita. TUHAN hadiahkan kemungkinan  itu dalam diri kita untuk kita pantas jadi ini dan itu.

    Kita berjuang dan TUHAN mengabulkan dengan pantas untuk kita dapat  bahagia abadi. Puji TUHAN.

     

  • Kenyang

    Kenyang itu lawannya lapar. Saya kenyang karena Nafsu makan terpenuhi dengan adanya makanan yang saya makan. Nalar saya juga bekerja, pilih dan putuskan makanan apa yang layak saya makan. Naluri saya beraksi dengan memanfaatkan jasa semua orang untuk mendapat makanan sampai terhidang dan saya makan. Nurani saya mengiyakan dengan perasaan tenang, damai karena sudah kenyang. Empat unsur dalam diri saya bekerja serentak dalam proses mencari (Nafsu) menemukan (Nalar) menikmati (Nalar) menyukuri (Nurani) makanan yang saya makan sampai terjadi, saya kenyang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini kelansungan peristiwa dari kenyang ke kenyang. Kita manusia diberi anugerah kehidupan oleh SANG PENCIPTA untuk kenyang melalui upaya yang diberi oleh TUHAN dalam alam untuk dikuasai dengan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Dalam upaya untuk kenyang, saya, anda, dia, kita, tidak diperkenankan untuk kenyang sendiri sambil membiarkan sesama kelaparan. Kenyang itu dambaan setiap kita. Membiarkan sesama kelaparan, salah. Menyebabkan sesama kelaparan, lebih salah lagi. Merampas milik sesama sampai sendiri kenyang dan sesama yang kehilangan itu terdampar dalam malapetaka kelaparan, salah di atas salah. Itulah tragedi dalam kehidupan ini yang sering terjadi, yang satu kekenyangan dan yang satu kelaparan.

    Kenyang itu hak setiap orang. TUHAN mengadakan segala sesuatu untuk kita setiap orang kenyang sesuai keadaan masing-masing orang. Merusak alam termasuk menghalangi kekenyangan. Memelihara alam sekitar adalah upaya terpuji sesuai kehendak SANG PENCIPTA untuk kita manusia memperoleh secukupnya makanan untuk tetap kenyang, tidak kelaparan. Sesama ada untuk sama-sama menggiatkan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI demi kepentingan bersama untuk kenyang. Kenyang sebatas ukuran perut. Kenyang berlebihan, salah. Kenyang dengan hasil curian, merusak diri. Kenyang dengan hasil keringat sendiri, membahagiakan. Akhiri hidup di dunia ini dengan kenyang secara jujur dan kita akan tiba pada keadaan kenyang abadi. Itu di dalam TUHAN.