Category: Filsafat

  • Warisan

    Warisan. Kata ini tidak asing lagi. Kata waris artinya ‘orang yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal’. Ini dari Kamus  Besar Bahasa Indonesia. Jadi warisan itu kita yang hidup ini terima dari mereka yang sudah meninggal. Muncul banyak hal. Pertama orang yang mewariskan harta pusaka itu. Dia atau mereka, mewariskan harta pusaka yang benar-benar ada nilainya atau tidak. Kedua, orang yang menerima warisan itu, ahli waris, tahu atau tidak bahwa barang yang diwariskan itu ada nilai atau tidak. Ketiga, warisan itu kalau bernilai,  dijaga dan dimanfaatkan dengan semestinya atau tidak.

    Warisan. Hidup kita manusia ini sebenarnya terdiri dari waris-mewaris. Yang mewariskan itu sudah pergi ke alam baka. Yang mewarisi ini, disebut ahli waris,  masih menghuni bumi. Sering terjadi para ahli waris ini bertengkar meperebutkan warisan. Masing-masing menyatakan dirinya lebih berhak sebagai ahli waris yang sah.

    Warisan. Alam dunia yang kita huni ini adalah warisan bersama semua umat manusia. Ini yang sering kurang kita fahami sehingga pengrusakan lingkungan hidup tetap terjadi.  Pribadi atau kelompok merasa berhak memakai sesuka-hati lingkungan yang ada di sekitarnya sebagai warisannya. Nafsu menikmati, ada. Harus dikendali oleh Nalar yang berfungsi mempertimbangkan azas manfaat dari lingkungan yang digarap. Naluri pun harus bekerja untuk mempertimbangkan kepentingan sesama manusia yang lain. Nurani berperan untuk menyadarkan diri kita masing-masing bahwa lingkungan hidup ini Pemilik-Nya adalah TUHAN. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam kepribadian setiap diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang melihat alam sebagai warisan bersama. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Warisan. Kita sekarang yang mewarisi alam ini akan mewariskan kepada anak-cucu kita. Begitu seterusnya. Bayangkan, apa jadinya kalau kita wariskan alam yang rusak karena ulah kita akibat Nafsu menggarap yang tidak terkendali oleh Nalar, Naluri dan Nurani. Mari kita wariskan warisan yang rapi tertata. Anak-cucu kita, para ahli waris akan berseru gembira menerima warisan yang menghidupkan mereka. TUHAN SANG PEMILIK alam semesta akan menerima tanggung-jawab kita dan memberikan kepada kita kebahagiaan abadi di alam baka.

     

  • Mulai

    Mulai. Semua yang ada di dunia ini, termasuk kita manusia, ada mulainya. Karena itu ada istilah, mula. Mulai dari mula itu. Kata mula dipadukan dengan kata awal, maka ada kata majemuk, awal-mula. Semua kita ada awal-mula. Seorang manusia, awal-mulanya dari sepasang suami-isteri yang menjadi ayah-ibu. Manusia kecil menjadi remaja dan kemudian menjadi dewasa biasanya mulai buat apa-apa dan menjadi apa. Si kecil mulai sekolah. Jadilah ia manusia cerdas dan mulai banyak hal.

    Mulai. Ini dorongan Nafsu dikendalikan oleh Nalar tambah dipicu oleh Naluri, maka lengkaplah apa yang menjadi hasil mulai itu masuk dalam ranah Nurani yang beri nilai, baik atau tidak apa yang sudah berawal dari mulai ke mulai yang baru itu. Inilah proses mulai apa saja yang merupakan karya dari perpaduan empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mulai. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak ada mulainya. Mulai dulu baru ada mulai yang baru. Hidup kita ini adalah rentetan dari mulai ke mulai. Tanpa mulai kita mati. Pohon yang gugur daunnya di musim panas memberi kesempatan untuk tunas baru mulai tumbuh. Gigi susu yang tanggal memberi kesempatan untuk gigi asli mulai tumbuh. Kita sambut setiap perubahan dalam diri kita yang adalah saat mulai sesuatu yang ada di luar kuasa kita. Tiap detak jantung kita itu adalah mulai membuka dan mengatup yang memberi ruang kepada mulai detak berikutnya untuk darah mulai beredar ke seluruh tubuh.

    Mulai. Timbul pertanyaan. Siapa yang mulai dari semua mulai ini? Langsung jawab, DIA, TUHAN. DIA tidak ada yang menyebabkan DIA mulai karena DIA itu awal dari segala mulai sehingga pantas kita pakai saja istilah, DIA itu tanpa awal tanpa akhir, DIA pangkal segala mulai. Kita manusia hasil dari DIA Yang mulai sehingga pada DIA-lah patut dan harus kita bersyukur karena DIA sudah mulai adakan kita dan setiap kita akan mulai bersatu dengan DIA tanpa ada mulai yang baru lagi. Karena sekali mulai terus mulai. Itulah hidup yang berasal dari SANG PEMILIK KEHIDUPAN, TUHAN.

  • Sama

    Sama. Kemarin, ini hari, besok, sama. Yang sama kemarin, tidak sama dengan yang hari ini. Besok juga demikian. Ini sama, besok yang sama itu tidak sama lagi. Itulah makna tahun lama dan tahun baru. Sebenarnya sama saja. Tanggal 31 Desember beralih ke tanggal 1 Januari, sama, orang yang sama, lingkungan yang sama, tidak ada barunya, tidak ada bedanya. Beda itu saya yang kemarin memang beda dengan saya hari ini. Tidak bisa berulang. Tidak mungkin saya kembali buat diri ada dan hadir di tanggal 31 Desember kalau sudah sampai tanggal 1 Januari. Juga tidak mungkin sementara di tanggal 1 Januari saya mau ada di tanggal 2 Januari. Itu semua di luar kemampuan saya, anda, dia, kita. Kita tidak ada kuasa sedikit pun untuk atur yang ini. Lalu siapa yang ada kuasa untuk itu? Yah, YANG MAHAKUASA. Titik. Stop di situ dan jangan pikir terus lagi.

    Sama. Tahun lama dan tahun baru, sama. Awas. Bukan karena sama jadi ambil keputusan sama saja. Penyakit muncul karena sikap ini, sama saja. Tidak sama saja. Karena sama yang kemarin lain dari sama hari ini. Dan sama hari ini pasti tidak sama dengan sama besok hari. Sama yang lain. Lain yang sama. NAFSU terdorong untuk mau ini atau itu karena yang sama tidak sama lagi. NALAR bergetar cari tahu ini dan itu karena yang sama itu tidak sama lagi. NALURI bergerak karena yang sesama yang sama itu sudah ada dan hadir dalam keadaan yang tidak sama lagi. Sang kekasih kemarin ceria,  kini lesuh terbaring di rumah sakit, atau sebaliknya, kemarin murung hari ini girang. NURANI tertegun merenung tentang teduh yang kemarin tidak lagi teduh dan tenang tapi teduh menjadi terik membara membuat diri gemas. Empat unsur dalam diri kita sama dan masuk dalam keadaan sama yang lain. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sama. Kita hidup ini dari sama ke yang sama dalam diri kita bersama sesama ke YANG MAHA-SAMA, TUHAN. Jalani liku-liku lorong rumah yang sama dan tapaki anak tangga yang sama entah turun atau naik tidaklah penting karena tetap beranjak dari yang sama menuju yang sama juga. Saat yang sama sekarang ini akan terus menuju saat yang sama sampai ke saat yang sama yang sama tak berujung tak berbatas. Itulah yang untuk sementara kita namakan kekal, abadi dalam hadirat YANG MAHA-SAMA dan MAHA-KEKAL.

  • Kelompok

    Kelompok. Kita manusia berkelompok dengan berbagai alasan. Saya mengemukakan empat alasan. Pertama: NAFSU. Dorongan untuk mencari kesenangan membuat seseorang untuk mencari teman lain dan jadilah kelompok pencari dan penikmat kesenangan. Kedua: NALAR. Kecenderungan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman membuka pikiran seseorang untuk mengajak sesama yang sama minat menjadi kelompok pencari kebenaran. Sering disebut ilmuwan. Ketiga: NALURI. Kita manusia hidup berkelompok mulai dari yang terkecil, keluarga, suami-isteri, sampai yang lebih besar, keturunan, kerabat, suku, etnis. Keempat: NURANI. Kita manusia ini sadar akan asal-usul kita sampai pada kesadaran akan Kuasa YANG MAHATINGGI. Ini terjadi karena bisikan NURANI. Jadi kelompok terbentuk atas dasar empat alasan ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kelompok. Aneh kalau kelompok itu terjadi lalu ada huru-hara dalam kelompok. Keserasian dalam kelompok menjadi idaman setiap kelompok. Adanya anggota kelompok yang mengganggu ketenteraman kelompok tidak diperkenankan. Heran, di dunia ini selalu saja ada kelompok, mulai dari yang terkecil, keluarga sampai kepada kelompok besar umat manusia selalu diganggu oleh ulah pribadi malah kelompok yang menjadi pengganggu. Itu duri dalam daging. Musuh dalam selimut. Manusia jadi serigala bagi manusia lain. Menyakitkan. Ini penyakit, malapetaka yang tidak diharapkan oleh siapa pun.

    Kelompok. Harapan tiap kelompok itu ada empat. Ini menurut saya. Senang, Gembira, Puas, Bahagia. Ini ada kaitan erat dengan empat unsur dalam diri kita manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. NAFSU cari senang.  NALAR kejar gembira.  NALURI harap puas. NURANI damba bahagia. Jadi kelompok itu terjadi secara alamiah atas panggilan Ilahi, dari PENCIPTA sendiri bagi kita untuk mengalami secara pribadi dan bersama, ke-SENANG-an, ke-GEMBIRA-an, ke-PUAS-an, ke-BAHAGIA-an. Empat tujuan upaya manusia itu terpadu jadi satu. Itu yang dalam Iman-kepercayaan Agama-agama disebut Surga.  Makna surga sejatinya perpaduan empat sisi ini, Senang + Gembira + Puas + Bahagia  baik selama berada di dunia yang fana ini maupun kelak  di akhirat.

  • Empat orang

    Empat orang. Yang saya maksud dengan empat orang ini, empat orang yang dekat dengan saya. Teman, Kawan,  Rekan,  Sahabat. Teman itu sesaat. Ini hasil dorongan Nafsu. Ingin berkenalan, langsung kenal dan berteman. Contoh, teman seperjalanan. Kawan itu lebih erat sifatnya karena ada kesamaan dalam minat dan tugas. Ini hasil olahan Nalar kita. Contoh, kawan kelas. Rekan itu lebih erat lagi karena ada tujuan yang ingin dicapai bersama. Ini hasil dorongan Naluri. Contoh, rekan kerja. Sahabat itu sangat mendalam sifatnya. Sulit dipisahkan. Ini berkat permenungan Nurani dalam memilih orang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Empat orang. Dalam hidup ini setiap kita mempunyai empat orang ini dan kita pun berada dalam posisi empat orang ini juga. Sesama kita juga memperlakukan kita entah sebagai teman, kawan, rekan atau sahabat. Hidup kita menjadi indah dan penuh makna karena hadirnya empat orang ini dalam keseharian kita. Bisa saja seseorang menjadi teman berkembang menjadi kawan lalu rekan dan akhirnya menjadi sahabat. Diri kita dan diri orang lain akan hidup aman dan tenteram kalau dikelilingi oleh empat orang ini. Di mana-mana ada teman, kawan, rekan dan sahabat. Hidup aman, tenteram dan damai.

    Empat orang. Teman melindungi, kawan meneguhkan, rekan mengamankan, sahabat menenteramkan. Tiap diri kita seharusnya berlaku sebagai empat orang ini untuk sesama yang lain. Lawan dari empat orang ini ialah, musuh, seteru, lawan. Menjadi musuh, seteru dan lawan untuk sesama itu membuat hidup diri dan sesama seperti api dalam sekam. Setiap saat bisa menyala. Permusuhan, perseteruan, perlawanan membuat hidup kita menjadi kacau-balau tidak menentu.

    Empat orang. Tuhan menciptakan kita manusia ini untuk menjadi empat orang itu bagi sesama. Mulai dari keluarga sampai ke masyarakat luas, kalau empat sifat dari empat orang ini yang terjadi antara sesama manusia, maka pasti dunia kita ini benar-benar aman dan damai sesuai yang dimaksudkan oleh Pencipta kita. Kita harus jadikan empat kata ini menjadi sifat bagi diri kita masing-masing sehingga kita umat manusia yang pada tahun 2023 tercatat sekitar delapan milliar orang menjadi teman, kawan, rekan dan sahabat bagi sesama.

  • Terpaksa

    Terpaksa. Kalau terpaksa berarti ada yang memaksa dan ada yang dipaksa. Situasi ini terjadi kalau yang dipaksa dan yang memaksa sama-sama berada dalam posisi yang gawat. Salah satu pihak harus menyerah dan mengalah. Yang pasti, pihak yang lebih kuat yang menang. Kalau dua belah pihak tidak berpapasan dalam kepentingan yang berlawanan, maka tidak perlu terjadi apa yang dinamakan terpaksa.

    Terpaksa. Hidup kita manusia ini sering berada dalam situasi terpaksa. Paksa – memaksa terjadi kalau dua manusia tidak sejalan. Inilah pangkal ketidak-serasian, kekacauan sampai ke tingkat saling membinasahkan. Kalau itu  yang terus menerus terjadi, maka kita manusia ini bisa punah. Perang dalam berbagai bentuk yang terjadi saat ini atau pernah terjadi malah akan terjadi seperti, perang suku, perang agama, perang dunia malah perang nuklir, semua itu karena ada situasi terpaksa dalam skala kecil sampai skala besar.

    Terpaksa. Situasi ini tidak perlu terjadi kalau empat unsur dalam diri kita manusia ini digiatkan secara seimbang. Nafsu teratur. Nalar terarah. Naluri tersalur. Nurani terasah. (4N, Kwadran Bele, 2011). Tiap  orang sudah diberi TUHAN untuk dengan leluasa hidup bersama sesama dengan Nafsu untuk hidup, Nalar untuk mengupayakan jalan keluar, Naluri untuk saling membantu dan Nurani untuk saling mengasihi. Rangkul merangkul antar sesama. Sulit? Tidak. Mengumbar senyum, saling menyapa, saling menopang adalah tindakan-tindakan yang tidak masuk dalam kategori terpaksa. Tidak ada orang yang boleh didesak sampai terpaksa hidup untuk mempertahankan hidup. Kalau kita ini saling menghidupkan, mengapa harus ada situasi terpaksa?

    Terpaksa. Kata ini harus hilang dari kamus kehidupan kita. TUHAN menempatkan kita di dunia ini bukan untuk terpaksa hidup. Nafas saja disiapkan TUHAN untuk setiap orang bernafas dengan lega sampai saatnya nafas itu dihembuskan terakhir kali secara alamiah. Tidak boleh ada orang yang tahan nafas, tarik nafas, sesak nafas sampai lemas. Ruang dan waktu diberikan TUHAN kepada kita secara berlimpah untuk menapaki lorong kehidupan ini dengan penuh tawa-ria. Duka-derita ratap-tangis itu ada karena ulah kita manusia yang memang hidup dalam ketidak-sempurnaan menuju ke kesempurnaan abadi. Hidup harus dijalani dengan lapang dada tanpa membusungkan dada dan paksa-memaksa sampai ada yang hidup terpaksa atau terpaksa hidup. TUHAN tetap merangkul kita dengan penuh kasih sayang dan kita pun dituntut untuk saling mengasihi sepenuh hati.

  • Dibatasi

    Dibatasi. Hidup kita ini dibatasi. Siapa yang batasi? Kalau bukan TUHAN, siapa lagi? TUHAN Yang beri kita hidup dan DIA-lah Yang batasi hidup kita sehingga kita hidup ini dibatasi dengan ruang dan waktu. Lalu apa sikap kita? Yah, terima dan syukuri. Berapa pun waktu yang diberikan, berapa pun luas ruang gerak kita, harus terima dan syukuri. Hidup kita menjadi berat karena dikira beban  berat dan itu  karena kurang sadar bahwa hidup kita dibatasi oleh PEMBERI hidup itu sendiri. Mengeluh? Menyesal? Tidak boleh. Itu sikap yang keliru. Karena kalau kenyataan bahwa hidup kita dibatasi oleh PEMBERI hidup, maka DIA itu MAHA KASIH, tidak mungkin DIA batasi kita sekedar untuk buat kita susah dan tanggung beban berat seolah-olah hidup itu beban. Hidup itu kurnia, bukan beban.

    Dibatasi. Bayangkan kalau hidup kita tidak dibatasi. Dunia penuh dengan manusia. Tidak perlu membayangkan yang aneh-aneh seperti itu. Sekarang terima kenyataan. Hidup dibatasi.

    Nafsu kita diberikan TUHAN sambil dibatasi sehingga tidak pernah Nafsu makan itu tidak dibatasi sampai mau  makan terus dan makan apa saja. Ada saat kenyang, dan Nafsu makan terbatas sampai kenyang lalu lapar, Nafsu makan muncul lagi.

    Nalar kita juga demikian. Berpikir dan berpikir, sudah temukan jawaban atas persoalan hidup, gembira, Nalar kerja lagi untuk cari pengetahuan baru dan pengalaman lain.

    Naluri kita juga dibatasi dengan kemampuan untuk bergaul dengan sesama dalam jumlah terbatas.

    Nurani kita dibatasi untuk mengabdi hanya pada SATU, yaitu PENCIPTA kita itu. Lalu Nurani kita disiapkan untuk mengasihi sesama dan mengasihi TUHAN.

    Inilah kenyataan yang kita hadapi dengan adanya empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani untuk menyadari bahwa hidup kita dibatasi di luar kemauan kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Dibatasi. Ruang gerak kita manusia dibatasi. Luas atau sempit, itu bukan urusan kita. Namanya Hadiah, Rahmat dari SANG PEMILIK. Manfaatkan ruang itu. Kita jadi resah karena sering mau perluas atau persempit  ruang gerak di luar batas kemampuan kita. Waktu yang diberikan sudah dibatasi oleh DIA. Kita sering dengan kemampuan Nalar yang sudah dibatasi itu mau memperpanjang atau memperpendek jangka waktu yang sudah disiapkan untuk kita. Patut kita bertanya, mengapa ruang gerak saya dibatasi dan waktu hidup saya dibatasi? Ini pertanyaan konyol karena tidak ada jawabannya. Mana mungkin YANG MAHA BIJAKSANA ditanya malah diuji untuk beri jawaban kepada diri kita yang di alam semesta ini hanya ibarat setitik debu.

    Dibatasi. Terima. Syukuri. Sendiri sadar bahwa dibatasi dan sadarkan sesama bahwa kita sama-sama dibatasi. Sikap kita? Yah, sama-sama terima dan nikmati yang dibatasi itu dan jangan saling merampas atau menggerogoti hak sesama yang sudah ada batasnya karena dibatasi oleh PENCIPTA kita. Hidup jadi aman, tenteram dan damai.

  • Membatasi

    Membatasi. Membatasi apa? Membatasi siapa?  Siapa yang membatasi? Untuk apa membatasi? Empat pertanyaan ini membutuhkan jawaban. Apa, siapa, dan untuk apa? Ada dua pelaku dalam hal ini yang membatasi dan yang dibatasi. Membatasi diri, itu biasa. Saya membatasi diri sehingga diri yang membatasi dan diri pula yang dibatasi. Dalam segala hal. Tinggal jawaban atas pertanyaan, untuk apa membatasi. Kalau tujuannya baik, benar dan bagus, maka kegiatan membatasi itu baik, benar dan bagus. Kalau tujuannya tidak baik, benar dan bagus, maka tindakan membatasi itu entah oleh diri untuk diri atau oleh orang lain untuk diri saya, melanggar hak asasi saya. Batas membatasi itu ada dasarnya, ada aturannya dan ada tujuannya.

    Membatasi. Pertama,  membatasi diri. Dalam hidup ini persoalan muncul karena kita lalai membatasi diri. Terbawa Nafsu sampai tidak kenal batas. Nalar dibelokkan dengan segala tipu daya, tipu diri dan sesama. Naluri diabaikan sampai batas adat dan agama dilanggar seenaknya. Nurani dibungkam dengan berbagai alasan pembenaran diri sehingga seharusnya membatasi diri malah batas-batas itu tidak dianggap batas lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Membatasi. Kedua, membatasi pihak lain. Pihak lain itu, entah sesama manusia atau yang paling parah, membatasi TUHAN. Sesama kita itu ada hak dan kewajiban untuk membatasi diri kita karena berbagai alasan, demi kebaikan dirinya atau demi kebaikan diri kita. Hak dan kewajiban pemimpin agama, membatasi gerak-gerik kita atas Nama Tuhan untuk kebaikan kita. Wewenang pemimpin agama ini kita batasi malah kita remehkan dengan alasan, itu urusan saya dengan Tuhan, jangan campur tangan. Ini kita membatasi hak dan kewajiban pemimpin agama. Dalam keluarga, seorang anak wajib hukumnya untuk menaati perintah dan bimbingan orang tua sejauh perintah dan pembimbingan itu baik, benar dan bagus. Tapi kalau hak dan kewajiban mendidik ini dibatasi oleh sang anak dengan alasan orang tua kolot, orang tua merampas hak dan kebebasan diri anak, maka tindakan membatasi orang tua ini membawa petaka bagi diri si anak.

    Membatasi. Dalam dua tindakan terdahulu, membatasi diri dan sesama, sejauh itu baik, terpuji. Sejauh itu buruk, terpuruk. Pihak lain yang dibatasi itu, bagaimana kalau itu TUHAN? Sering kita manusia ini membatasi TUHAN YANG MAHABAIK sekian rupa sampai Kasih TUHAN itu tidak lagi sampai ke diri kita dan sesama kita. Ini yang kita harapkan tidak terjadi.

  • Terbatas

    Terbatas. Sayang, kita manusia ini sering kurang sadar bahwa diri kita terbatas. Malah tidak jarang menganggap diri teratas. Sering pula berlaku tanpa batas. Padahal terbatas, terbatas dalam segala hal. Terbatas itu bukan kekurangan, tapi keniscayaan yang harus disadari dan diterima. Gigi tanggal tinggal beberapa di usia tua. Itu bukti keterbatasan. Jalan tegak lalu bongkok. Mau tegak terus? Tidak bisa. Karena daya untuk tegak itu terbatas. Mau duduk di kursi kekuasaan terus-menerus tanpa pikir turun? Tidak boleh dan tidak bisa. Ini harus disadari, karena ada generasi baru yang siap mengalami apa yang dinamakan ‘regenerasi‘. Dalam jabat-menjabat, sering kita terikat pada jabatan bukan sebaliknya jabatan terikat pada kita. Lepas jabatan itu mudah sekali kalau kita sadari bahwa diri kita terbatas dan pada waktunya segera lepas dan serahkan jabatan kepada orang lain. Ini semua terjadi karena pemahaman kita tentang makna terbatas itu sangat terbatas. Maunya terus-menerus sehingga julukan yang tepat itu pribadi ini sudah pada tingkat tak terbatas, dia terus, apa-apa dia saja, mau ketua ini, direktur ini, malah presiden direktur atau presdir, pokoknya mau di atas terus tanpa mau sadar bahwa dirinya terbatas.

    Terbatas. Nafsu kita diberikan TUHAN untuk memenuhi keinginan kita dalam berbagai hal, keinginan untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, sampai keinginan seks pun termasuk dalam ranah Nafsu. Ini baik dan wajar. Hanya TUHAN sudah ciptakan kita dalam keadaan yang terbatas. Kalau batas yang terbatas ini dilampaui, maka jelas Nafsu dari pribadi kita itu melenceng.

    Nalar kita dikaruniakan TUHAN kepada kita untuk menimbang dan terus menimang yang kita cita-citakan itu pas dengan diri kita yang terbatas ini atau melampaui kemampuan diri kita. Kalau Nalar kurang jernih apa lagi kalau kita membelokkan Nalar kita ke arah angan-angan melayang tanpa arah, diri kita akan menjadi orang tukang mimpi dan makelar janji.

    Naluri kita diletakkan TUHAN dalam diri kita untuk sadar sesadar-sadarnya diri kita itu terbatas maka harus bergandengan tangan dengan sesama yang juga sama-sama terbatas. Segala tindakan saling menjajah, saling menjagal dan saling menyangkal muncul dari kurang-sadarnya kita pada adanya diri kita yang serba terbatas ini.

    Nurani kita itu wasit dalam diri kita yang ditetapkan TUHAN untuk membunyikan sempritan sewaktu kita mau lewat batas dan melawan keadaan dalam diri kita yang terbatas. Sering kita buat diri itu terlampau suci dan monopoli kesucian sampai menganggap orang lain tetangga iblis. Ini akibat dari kurang sadarnya diri kita bahwa untuk memahami dan menyembah YANG MAHA SUCI itu diri kita ini sangat terbatas oleh kedosaan kita. Doa dan amal pun kita pamer untuk mengelabui diri dan sesama bahwa sebenarnya diri itu terbatas tapi angkuh di Hadirat YANG MAHA TAK TERBATAS.

    Kita diberi perangkat empat unsur oleh PENCIPTA kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani untuk sadari diri kita bahwa kita terbatas dalam arus waktu yang terbatas dan luas ruang yang terbatas. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Terpujilah DIKAU TUHAN Yang telah menciptakan diri kami dalam segala keadaan yang terbatas untuk semakin sadar bahwa diri kami berasal dari DIKAU dan berziarah menuju DIKAU dalam kebersamaan dengan sesama yang harus kami rangkul untuk sama-sama berlangkah tertatih-tatih dalam iman, harap dan kasih menapaki hidup yang terbatas ini.

  • Pembatas

    Pembatas. Ada tanda pembatas. Pembatas itu bisa tanda atau isyarat. Pembatas bisa berarti larangan atau suruhan. Tujuannya satu: keselamatan. Yang meletakkan pembatas adalah yang berkuasa. Dalam alam tempat hunian kita manusia ini ada pembatas di mana-mana. Siapa yang taruh pembatas? PEMILIK dan PENGUASA alam semesta. Itu TUHAN. DIA menaruh pembatas di mana-mana demi kita manusia agar kita selamat dalam ziarah hidup kita di dunia ini.

    Pembatas. Nafsu kita mau apa saja. Tapi ada batas karena itu ada pembatas. Kalau ada Nafsu makan, boleh dan harus makan. Tapi pembatas sudah diletakkan dalam tubuh kita yang menyebabkan diri kita merasa kenyang. Kalau lewat pembatas ini maka kelewat kenyang dan perut kita tidak selamat, sakit. Nalar kita diberi TUHAN untuk kita mengetahui dan mengalami apa saja yang bermakna bagi hidup kita. Nalar kita menyadarkan diri kita arti dan maksud berbagai pembatas yang ada dalam alam. Mengabaikan pembatas ini berarti Nalar kita kurang dipakai secara wajar. Naluri kita tertanam dalam diri kita untuk menyadari berbagai pembatas yang ada dalam diri kita manusia dan sesama kita. Adat istiadat pun terbentuk dalam pengalaman hidup kelompok manusia dari waktu ke waktu sebagai pembatas perilaku kita dalam pergaulan. Pembatas ini harus disadari dan diikuti berdasarkan petunjuk Naluri. Dalam diri kita ada Nurani yang menyadarkan diri kita terus-menerus dari waktu ke waktu untuk menyadari bahwa SANG PENCIPTA memberi kepada kita kebebasan dan berbagai pembatas untuk mengawaskan kita supaya menyadari keterbatasan kita dan tetap bergantung dan bersyukur pada DIRI PENCIPTA yang menghantar kita kepada keselamatan baik di dunia ini maupun di akhirat.

    Pembatas. Empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani yang dihadiahkan TUHAN kepada kita justru untuk memahami arti dan tujuan pembatas-pembatas yang ada dalam diri kita dan sekitar kita. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mengabaikan pembatas sama dengan mengabaikan kehendak SANG PENCIPTA dan akibatnya ditanggung oleh kita sendiri, celaka menimpa. Bahwa tubuh kita berbentuk seperti ini dan itu harus dimengerti dan diterima sebagai pembatas. Berlaku di luar postur tubuh kita termasuk contoh pengabaian terhadap pembatas yang ada.

    Pembatas. Kita manusia seharusnya bersyukur kepada TUHAN karena begitu banyak pembatas yang ditempatkan bagi kita sehingga hidup kita menjadi aman dan tenteram menuju ketenteraman abadi.