Terbatas

Terbatas. Sayang, kita manusia ini sering kurang sadar bahwa diri kita terbatas. Malah tidak jarang menganggap diri teratas. Sering pula berlaku tanpa batas. Padahal terbatas, terbatas dalam segala hal. Terbatas itu bukan kekurangan, tapi keniscayaan yang harus disadari dan diterima. Gigi tanggal tinggal beberapa di usia tua. Itu bukti keterbatasan. Jalan tegak lalu bongkok. Mau tegak terus? Tidak bisa. Karena daya untuk tegak itu terbatas. Mau duduk di kursi kekuasaan terus-menerus tanpa pikir turun? Tidak boleh dan tidak bisa. Ini harus disadari, karena ada¬†generasi¬†baru yang siap mengalami apa yang dinamakan ‘regenerasi‘. Dalam jabat-menjabat, sering kita terikat pada jabatan bukan sebaliknya jabatan terikat pada kita. Lepas jabatan itu mudah sekali kalau kita sadari bahwa diri kita terbatas dan pada waktunya segera lepas dan serahkan jabatan kepada orang lain. Ini semua terjadi karena pemahaman kita tentang makna terbatas itu sangat terbatas. Maunya terus-menerus sehingga julukan yang tepat itu pribadi ini sudah pada tingkat tak terbatas, dia terus, apa-apa dia saja, mau ketua ini, direktur ini, malah presiden direktur atau presdir, pokoknya mau di atas terus tanpa mau sadar bahwa dirinya terbatas.

Terbatas. Nafsu kita diberikan TUHAN untuk memenuhi keinginan kita dalam berbagai hal, keinginan untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, sampai keinginan seks pun termasuk dalam ranah Nafsu. Ini baik dan wajar. Hanya TUHAN sudah ciptakan kita dalam keadaan yang terbatas. Kalau batas yang terbatas ini dilampaui, maka jelas Nafsu dari pribadi kita itu melenceng.

Nalar kita dikaruniakan TUHAN kepada kita untuk menimbang dan terus menimang yang kita cita-citakan itu pas dengan diri kita yang terbatas ini atau melampaui kemampuan diri kita. Kalau Nalar kurang jernih apa lagi kalau kita membelokkan Nalar kita ke arah angan-angan melayang tanpa arah, diri kita akan menjadi orang tukang mimpi dan makelar janji.

Naluri kita diletakkan TUHAN dalam diri kita untuk sadar sesadar-sadarnya diri kita itu terbatas maka harus bergandengan tangan dengan sesama yang juga sama-sama terbatas. Segala tindakan saling menjajah, saling menjagal dan saling menyangkal muncul dari kurang-sadarnya kita pada adanya diri kita yang serba terbatas ini.

Nurani kita itu wasit dalam diri kita yang ditetapkan TUHAN untuk membunyikan sempritan sewaktu kita mau lewat batas dan melawan keadaan dalam diri kita yang terbatas. Sering kita buat diri itu terlampau suci dan monopoli kesucian sampai menganggap orang lain tetangga iblis. Ini akibat dari kurang sadarnya diri kita bahwa untuk memahami dan menyembah YANG MAHA SUCI itu diri kita ini sangat terbatas oleh kedosaan kita. Doa dan amal pun kita pamer untuk mengelabui diri dan sesama bahwa sebenarnya diri itu terbatas tapi angkuh di Hadirat YANG MAHA TAK TERBATAS.

Kita diberi perangkat empat unsur oleh PENCIPTA kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani untuk sadari diri kita bahwa kita terbatas dalam arus waktu yang terbatas dan luas ruang yang terbatas. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

Terpujilah DIKAU TUHAN Yang telah menciptakan diri kami dalam segala keadaan yang terbatas untuk semakin sadar bahwa diri kami berasal dari DIKAU dan berziarah menuju DIKAU dalam kebersamaan dengan sesama yang harus kami rangkul untuk sama-sama berlangkah tertatih-tatih dalam iman, harap dan kasih menapaki hidup yang terbatas ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *