Category: Filsafat

  • Kendali diri

    Kendali diri. Memangnya diri itu kuda? Kendali. Atau kekang. Kekang diri? Yah, dua-duanya sama arti, kekang diri, kendali diri. Ibarat kuda, dikendalikan agar ikut jalan sesuai kehendak tuannya. Begitu pun diri kita, harus dikendali. Setiap saat. Tidak boleh lepas kendali. Kalau diri dikendali, siapa yang pegang kendali? Yah, diri yang pegang kendali dan diri kendali diri. Hidup sering runyam karena diri lepas kendali. Hidup itu jalan. Diri harus ikut jalan itu. Makanya harus dikendali agar tetap ikut jalan itu. Bagaimana diri kendali diri? Dalam diri ada Nafsu. Karena ada Nafsu, diri kita ingin apa saja yang ia mau. Sabar, ada Nalar. Nalar inilah yang kendali Nafsu dengan berbagai pertimbangan sehingga Nafsu tidak seenaknya ikut Nafsu punya mau. Lalu ada Naluri. Naluri ini kendali diri kita untuk ingat ada diri-diri yang lain. Makanya diri kita kendali diri kita untuk tidak bersenggolan dengan diri yang lain. Terakhir ada Nurani. Nurani inilah pemegang kendali terakhir. Dia ibarat wasit, tiup sempritan kalau Nafsu + Nalar + Naluri lepas kendali lewat batas, langgar aturan. Nurani dengan tegas ingatkan, awas, ikut jalan. Dengan keras Nurani tarik kendali dan diri terpaksa ikut jalan yang dimaui Nurani. Kerjasama antara empat unsur inilah yang membuat diri kita dikendali. (4N, Kwadran Bele, 2011). Dalam kendaraan bermotor, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ini  ibarat rem yang terdiri dari minyak rem, kanfas, besi dan injakan yang serentak digerakkan bersama sehingga kendaraan terhenti dan tidak terperosok ke luar jalan.

    Kendali diri. Bayi pun sudah tahu kendali diri sehingga menetek susu ibu sebatas ruang ususnya tersedia. Seluruh anggota tubuh diri kita manusia tersusun dalam sistem kendali yang saling mengendalikan. Kendali diri bukan kungkungan yang menyengsarakan. Kendali diri berarti kegiatan yang berjalan dengan tenang dan senang ibarat sais pegang kendali kuda penarik pedati yang jalan gontai sambil sais itu duduk terkantuk-kantuk.  Hidup tenang dan senang itu karena hidup terkendali. Kendali diri itu tanda sadar diri.

    Kendali diri. Kalau setiap kita manusia yang milyaran ini masing-masing tahu kendali diri sewajarnya, maka biarpun hidup ini ramai, pasti tetap damai. Itulah yang dikehendaki oleh Sang Juru Damai, TUHAN.

  • Percaya diri

    Percaya diri. Maksudnya? Percaya bahwa diri itu ada, berada dan mengada. Kalau kurang atau tidak percaya diri? Celaka. Kalau diri saja sudah kurang atau tidak dipercaya, mana mungkin percaya yang di luar diri? Ada titian dari kayu. Waktu mau meniti harus percaya bahwa kayu itu kuat. Lalu percaya bahwa diri mampu meniti kayu itu dan bisa tiba di seberang. Percaya diri artinya dalam diri itu ada perangkat yang memampukan diri untuk berbuat apa saja yang dikehendaki. Ada dan bisa. Ada kalau tidak bisa, jangan percaya. Bisa tapi tidak ada, apa gunanya percaya? Percaya artinya dalam diri itu ada dan bisa untuk buat apa-apa. Dan apa-apa itu harus yang baik, benar dan bagus. Untuk itulah percaya diri. Dalam diri ada Nafsu, dorongan untuk menikmati yang baik. Percaya itu. Dalam diri ada Nalar, kemampuan untuk berpikir dan mengalami hal yang baik. Percaya. Laksanakan. Dalam diri ada Naluri untuk mengarahkan diri kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sesama untuk hal-hal yang baik. Percaya itu. Dalam diri kita ada Nurani untuk menyadari adanya kebaikan yang berasal dari Yang Mahabaik, TUHAN. Haaa, inilah sumber dari segala sumber untuk percaya, percaya diri dan sesama yang mengarah kepada percaya pada TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Percaya diri. Hidup ini percaya diri bahwa TUHAN tempatkan kita di bumi ini tidak untuk hal yang sia-sia. Percaya diri bahwa diri kita itu dipercaya oleh TUHAN untuk tampil menjadi saksi tentang adanya TUHAN Yang kepadaNya kita percaya. Hidup tanpa percaya adalah hampa. Buat apa-apa tanpa percaya diri, sia-sia. Penuh percaya diri untuk hidup detik demi detik. Orok dalam kandungan bundanya sudah percaya diri bahwa dirinya aman selama sembilan bulan lebih. Waktu dilahirkan, bayi ini sudah percaya diri bahwa dirinya diberi asi untuk hidup. Itulah kita manusia. Percaya diri sejak dari kandungan. Malah percaya diri sejak diri kita tercipta oleh Pencipta lewat kasih Ibu dan Ayah kita.

    Percaya diri. Ini jadi dasar untuk saling percaya. Suami percaya isteri, isteri percaya suami. Keluarga tercipta atas dasar saling percaya ini yang dipancarkan oleh diri-diri yang percaya diri. Anak-anak percaya bahwa diri mereka akan bertumbuh menjadi dewasa karena terlindungi oleh orang tua yang percaya diri bahwa mereka adalah orang tua yang baik. Guru yang baik percaya diri untuk tampil di muka kelas berhadapan dengan siswa-siswi yang percaya bahwa Guru mereka ini orang baik. Para siswa-siswi pun masing-masing percaya diri bahwa dirinya diakui sebagai siswa atau siswi karena mampu menerima ilmu dari seorang Guru yang percaya diri bahwa apa yang dia sampaikan kepada siswa-siswinya itu hal-hal yang baik, benar dan bagus.

    Percaya diri. Hidup dan kehidupan adalah gerak langkah setiap diri manusia yang percaya diri bahwa dirinya dipercaya oleh SANG PENCIPTA untuk bergerak dari DIA, dalam DIA ke DIA. DIA itu adalah DIRI Yang kita sapa dengan berbagai NAMA, salah satu NAMA, TUHAN.

  • Pertahankan diri

    Pertahankan diri. Siapa yang bertahan akan hidup. Hidup ini bertahan dari saat ke saat. Nafsu pertahankan diri itu yang membuat kita hidup dan terus hidup. Nalar kita terus bekerja untuk bertahan hidup dalam situasi apa pun. Malam berlalu dan nalar kita mulai beraksi untuk menyambut siang. Sepanjang siang bertahan sampai malam tiba dan begitu terus dan itulah hidup, bertahan, pertahankan diri. Naluri kita mendorong kita untuk pertahankan diri bersama sesama yang juga tiap-tiapnya pertahankan diri. Kita makan sama-sama di meja makan adalah aktivitas pertahankan diri masing-masing pribadi untuk bertahan hidup dengan kenyangkan diri seperlunya. Pertahankan diri yang tidak boleh terjadi itu kalau pertahankan diri sambil robohkan orang lain yang sementara bertahan pertahankan diri. Dia juga ada hak untuk pertahankan diri. Kalau baik, mengapa dia digerogoti? Nurani kita berbisik pada diri kita untuk tetap pertahankan diri dalam situai apa pun sejauh diri bertahan dalam kebaikan, kejujuran dan keadilan. Inilah kerjasama antara 4N dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pertahankan diri. Memangnya ada serangan? Tidak. Pertahankan diri dalam arti luas itu bergerak, menyatakan diri ada dan berada serta mengada untuk pertahankan nafas kehidupan yang ada dalam diri setiap diri kita. Dalam bus yang pengap seorang bergerak mengap-mengap mencari udara segar, itu dorongan pertahankan diri agar tidak mati lemas. Bayi dalam gendongan mamanya meronta menangis histeris, tanda dia pertahankan diri karena ternyata tangannya yang tergantung disengat semut merah. Kelompok suku terasing merontak memanah dan menyumpit pendatang baru yang mengganggu, tanda pertahankan diri dalam situasi belantara yang penuh nyamuk dan pelanduk yang sama-sama ada dan sama-sama pertahankan diri. Hidup ini pertahankan diri dalam tenang dan damai.

    Pertahankan diri. Tiap diri kita pertahankan diri dan tiap kita diberi TUHAN, PENCIPTA kita kemampuan pertahankan diri yaitu empat unsur itu: NAFSU + NALAR + NALURI +  NURANI. Makan dan minum adalah kegiatan rutin pertahankan diri yang didorong oleh Nafsu. Makan apa, minum apa adalan pertanyaan yang dijawab oleh daya Nalar dalam diri kita untuk tahu dan alami apa yang tepat untuk dimakan dan diminum. Bedakan antara madu dan racun adalah kemampuan Nalar. Naluri kita mendorong untuk memandang keliling untuk rangkul sesama agar sama-sama pertahankan diri dan bukan saling merobohkan. Jalan seiring duduk sejajar. Itulah gerak yang diarahkan oleh naluri setiap kita dalam hidup dari hari ke hari. Nurani kita hembuskan dalam diri kita hawa segar untuk segarkan diri dan sesama sekitar untuk sama-sama segar agar semua mekar rengkuh Rahmat yang tercurah dari DIA tanpa hitung waktu dan tempat. Itulah hidup, pertahankan diri agar utuh datang dari DIA dan kembali pun dalam keadaan utuh.

  • Benarkan diri

    Benarkan diri. Tidak ada satu orang pun yang suka salahkan diri. Salahkan orang lain dan benarkan diri, biasa. Sendiri benar terus. Nafsu untuk benarkan diri dan menang sendiri itu sangat kuat dalam diri setiap orang. Dengan Nafsu benarkan diri inilah setiap manusia itu bisa hidup. Salahkan diri sama dengan bunuh diri. Nalar setiap kita bermain, cari berbagai alasan yang masuk akal untuk benarkan diri. biarpun sering alasan itu tidak masuk akal sehingga sesama yang melihat itu langsung melontarkan ungkapan, sistim burung unta, sembunyi kepala padahal seluruh badan ada di luar, kelihatan. Naluri kita manusia ini memang cari yang benar dan benarkan diri di hadapan sesama. Bangga kalau dapat acungan jempol karena diri benar. Syukur kalau itu benar yang benar-benar benar. Bisa terjadi nampaknya benar padahal terselimuti dengan berbagai ke-tidak-benar-an. kebohongan. Nurani kita tertipu kalau benar yang sekedar dibenar-benarkan padahal sebenarnya tidak benar. Hidup tipu diri. Inilah kerjasama antara empat N: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dalam proses benarkan diri. Nurani kita berbinar kalau benar dan memang benar sehingga benarkan diri yanb benar. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Benarkan diri. Luar biasa kalau memang itu benar-benar benar. Menampik tuduhan yang mempersalahkan lalu pertahankan diri dan uraikan panjang lebar tentang benarnya diri yang benar, maka itulah yang harus terjadi setiap saat, benarkan diri, bukan salahkan diri. Setiap penampilan diri kita itu adalah penampilan pembenaran diri. Diri benar duduk di tempat yang benar. Di tempat umum,  duduk  di tempat yang disediakan untuk umum, benar. Kalau duduk di tempat yang sudah dikhususkan untuk orang tertentu, misalnya untuk orang cacat, salah. Itu salah duduk. Kalau sudah salah duduk lalu benarkan diri, ini yang salah.  Pertahankan kesalahan itulah yang sering membuat hidup kita ini tidak nyaman, penuh dengan salah faham sampai bertikai malah saling serang mengarah ke saling bunuh-membunuh.

    Benarkan diri. Itu baik sejauh benarkan diri pada posisi yang benar. Saya guru. Pukul murid. Orang bilang itu salah, lalu bela diri, saya benar, murid salah. Posisi guru itu mengajar, mendidik, bukan memukul. Cara mendidik dengan memukul, salajh. Tapi kalau benarkan diri dan pertahankan diri bahwa cara mendidik dengan memukul itu benar, itu salah. Lalu dalam posisi guru, benar, tapi pakai posisi itu untuk menghajar murid bukan mengajar, maka posisi ini salah digunakan. Tidak benar. Sudah tidak benar terus benarkan diri. Itulah contoh kekisruhan dalam hidup kita bahwa pakai salah posisi untuk berbuat yang tidak benar lalu ngotot tetap benarkan diri. Salah.

    Benarkan diri. Setiap diri kita manusia ini ada karena benar ada dan adanya kita itu untuk saksikan kebenaran. Kebenaran tentang apa saja. Hidup ini kumpulan berkas benar dan benar tentang kebenaran. Setiap langkah itu benar ke arah kebenaran. Hati-hati, jangan salah langkah. Langkah yang tidak benar itu segera dibalik ke arah yang benar. Jangan pernah kita benarkan diri kalau langkah sudah salah. Hidup benar itu berasal dari sumber kebenaran dan itulah TUHAN. Dari DIA , ke DIA, dalam DIA. Itulah hidup yang benar.

  • Vox

    Vox. Ini kata bahasa Latin, artinya suara. Dalam pemilihan umum, pemilu, suara dikumpulkan melalui pencoblosan surat suara oleh tiap orang satu surat suara. Maka, satu orang satu suara. Ini yang lazim disebut ‘vox populi‘, suara rakyat. Ini benar-benar suara rakyat. Mulai tidak benar itu waktu ditambah dua kata, ‘Vox Dei‘ artinya, Suara Allah. Lebih tidak benar lagi kalau suara yang terkumpul di kotak suara waktu pemilu disebut ‘vox populi vox Dei‘. Lucu. Suara rakyat itu disebut suara Allah. Berarti suara itu kudus, karena dari Allah, untuk calon tertentu. Lalu calon itu terpilih, dia berbangga bahwa dia terpilih karena ‘suara Allah’. Lalu yang tidak terpilih karena jumlah suara tidak mencukupi, berarti ‘suara Allah’ tidak cukup, kurang?

    Vox. Suara itu kehendak dari Nafsu seseorang yang memberi suara kepada seorang calon. Suara itu berdasarkan pertimbangan  Nalar seseorang pemilih. Dia beri suara karena ada Naluri yang cocok dengan pribadi calon. Nurani pemberi suara itu tenang karena sudah memberikan suara kepada calon pujaannya. Kerjasama empat unsur dalam diri manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani ini menghasilkan satu suara dari seseorang untuk seseorang. Ini sama sekali bukan suara Allah. Ini murni suara pribadi manusia yang dengan bebas atau tidak bebas (kalau tertipu) memberikan suara kepada sang calon. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Vox. Suara yang dibeli dengan uang, suara Allah? Suara yang terhimpun dengan umbar janji kosong sang calon. Suara Allah? Ini murni suara rakyat dalam sistem yang disepakati untuk pemilihan calon legislatif atau eksekutif pada periode waktu tertentu, lima tahunan. Herannya ada anggapan, sang calon yang terpilih dengan pengumpulan suara terbanyak mengganggap itu kehendak Allah. Berarti Allah campur tangan untuk memilih seseorang dalam posisi tertentu, menjadi anggota legislatif atau eksekutif, kepada daerah atau presiden dan wakil presiden. Salah kaprah. Pemilihan umum itu perebutan suara. Perebutan itu tidak mungkin atas amanat Allah. Itu murni kehendak bebas dari manusia yang berkenan pada Allah kalau dilaksanakan dengan jujur dan adil, sebaliknya tidak berkenan pada Allah kalau perebutan suara itu dengan cara-cara kotor, penipuan dan persekongkolan jahat.

    Vox. Kalau vox, suara itu sudah diperoleh dan seseorang menduduki kursi sebagai hasil penghimpunan suara, langsung kewajiban si pemenang itu untuk melaksanakan segala tugas dan wewenang sesuai dengan kehendak Allah, jujur dan adil. Itu saja. Jadi bukan Allah Yang pilih, bukan Allah yang suruh duduk di kursi ini atau itu. Kursi itu direbut dan diduduki untuk melayani sesama, mengabdi Allah. Dengan itu si-pemenang senang (hasil Nafsu), gembira (hasil Nalar), puas (hasil Naluri), bahagia (hasil Nurani). Perpaduan empat hasil ini: senang + gembira + puas + bahagia, menjadi tujuan hidup setiap manusia baik di dunia ini maupun di akhirat.

  • HP

    HP. Handphone. Telepon genggam. HP saya artikan dengan istilah, Hati Putih. HP jadi alat, sarana untuk sebarkan isi Hati Putih. Semua serba putih, dalam arti, bersih,  jernih, menyegarkan diri dan sesama. Dalam diri kita setiap pribadi, ada empat unsur itu: NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).  Empat unsur ini harus sama-sama putih baru hasilnya putih. Kalau salah satunya, hitam, kotor, empat-empatnya tercemar sehingga diri pribadi jadi kotor, tidak putih lagi.

    HP. Lewat sarana ini, tersebar getar Hati Putih yang membuat hati yang lain turut putih. Nafsu menyebarkan isi hati, selalu membuat diri kita tidak tenang sebelum isi hati itu dicurahkan. Senang sesudah terungkap kepada sesama. Nalar menggebu-gebu mencari rumus yang tepat untuk menampilkan isi hati putih dengan cara yang tepat. Hasilnya gembira. Naluri membuat diri kita sibuk utak-atik HP menjangkau kerabat kenalan jauh dekat sebar berita putih dari hati putih. Nurani jadi tenang sesudah isi hati putih disambut dan dibalas dengan hati yang putih pula. Ini tujuan si-penemu alat yang satu ini, hp.

    HP. Tujuan baik,  pakai hp dari hati putih, hasilnya dunia ini ramai, damai, ria, teduh, tenang, aman, tenteram. Mengapa hp disalah-gunakan untuk gembar-gembor berita miring iris hati cincang hati berkeping-keping? Puaskah sipenyebar? Hp kirim dan terima khabar kasar penuh amarah dari hati yang kelam tenggelamkan segala rindu dan harap akan sejuknya bathin. Ini yang sering terjadi. Sebar berita amarah dan dengki akan terus berlanjut? Akan membudaya? Kita manusia meracuni diri, hati hancur lebur, dari putih ke kelam, gelap gulita.

    HP. Ini alat kurnia TUHAN lewat daya Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dari para penemu, perancang dan perakit, yang kemudian dilempar ke pasar lalu digenggam oleh setiap tangan kecil-besar, lembut-kasar dari lebih separuh penduduk dunia sekarang ini.

    TUHAN mau kita sebar khabar putih penuh kasih  dari hati putih antar sesama. Itulah tujuaHP, Handhone, Telpon genggam

  • Pilih

    Pilih. Hidup ini pilih. Pilih ini atau itu. Tidak bisa genggam semua. Dua telapak tangan tidak mampu untuk genggam sekarung jagung. Pilih dan cuma ambil satu genggam atau dua genggam kalau dengan dua tangan. Terbatas. Pilih dari sekian banyak. Ada pemilih ada pilihan, ada yang dipilih ada yang tidak dipilih. Dalam politik ada pemilihan umum. Dalam hidup sehari-hari, ada pilihan yang dahulu dan yang kemudian. Tempat dipilih. Mau di sini atau di sana. Waktu juga dipilih. Hari ini atau esok. Orang pun dipilih. Berkawan dengan dia ini atau dia itu. Berkawan dengan semua, itu harus. Tetapi harus pilih salah satu. Berkawan akrab sama akrab dengan dua orang sekaligus, tidak mungkin. Pasti ada satu yang lebih akrab. Inilah pilihan.

    Pilih. NAFSU dalam diri kita mendorong kita untuk pilih ini atau itu. NALAR kita memberikan pertimbangan untuk jatuhkan pilihan untuk yang ini bukan itu. Dalam diri kita ada  NALURI yang mempengaruhi sampai kita pilih ini sebagai yang terbaik menurut kita. Dalam NURANI selalu ada dorongan untuk memberikan pujian kalau kita pilih yang benar dan beri teguran kepada kita kalau kita salah pilih. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita dalam aksi pilih. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pilih. Pilih yang baik. Mana pilih yang buruk. Kegiatan pilih memilih yang dikendali oleh 4N dalam diri kita membuat kita manusia segar setiap saat dari peristiwa ke peristiwa. Kita tidak terpaku pada satu keadaan. Terus berubah dan itulah pilihan. Berubah karena kita berubah. Berubah bukan karena orang yang ubah kita. Tidak. Kitalah yang ubah sehingga berubah. Inilah hasil dari pilih. Hari ini pilih makan ini, besok makan itu. Hari ini belajar ini dan besok belajar yang lain. Terus pilih dan pilih. Jadilah pilihan yang membuat diri kita terpilih untuk apa saja yang tidak sama dengan orang lain.

    Setiap kita adalah pribadi pilihan TUHAN. Karena pilihan TUHAN, maka dengan sendirinya setiap kita itu orang kesayangan TUHAN. Saat kita menutup mata untuk terakhir kalinya, itulah saat kita dipilih TUHAN untuk bersatu abadi dengan DIRINYA.

  • Calon

    Calon. Menanti jadi. Mengharapkan jadi. Jadi apa? Sesuatu. Yang baik, benar dan bagus. Tidak ada seorang pun yang mau jadi calon untuk sesuatu yang hina, salah dan buruk. Semua berebutan jadi calon untuk sesuatu yang baik, benar dan bagus. Makanya hidup kita manusia ini sebenarnya dalam posisi calon. Dan sebagai calon, kita dilengkapi oleh Pencipta kita, TUHAN, dengan empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Calon. Mau jadi sesuatu itu adalah dorongan NAFSU dalam diri kita. Bayi adalah calon kanak-kanak, selanjutnya calon pribadi remaja dan calon pribadi dewasa. Dalam bidang politik praktis, biasanya seseorang itu mengharapkan untuk menjadi sesuatu dalam posisi yang lebih tinggi, lebih terhormat. Tidak pernah seorang pejabat mencalonkan diri untuk menjadi penyapu lantai dan berebutan untuk mencapai posisi itu. Calon itu harap menggapai kursi yang lebih tinggi.

    Calon. Kalau berebutan, parah. Hidup kita manusia jadi kacau karena cara yang salah dalam proses pencalonan. Saling sikut, saling jegal dan saling injak terjadi karena kita yang adalah sama-sama calon begitu utamakan diri sampai sesama diremehkan. NAFSU menggebu-gebu, NALAR diperas tanpa ampun, NALURI dipacu cari pengaruh, NURANI ditindas ikut maunya diri tanpa lihat ada sesama dan paling utama dan pertama, tanpa peduli pada YANG di Atas,TUHAN. Calon itu berjuang menata diri untuk lebih cantik, lebih menarik, lebih pantas dan lebih layak, sangat boleh dan harus demikian. NAFSU dikendalikan dengan baik, NALAR dipakai untuk berpikir yang matang penuh pertimbangan,  NALURI dijadikan ajang mempengaruhi sesama baik dekat maupun jauh dengan tanam jasa dan budi baik, NURANI ditenteramkan dengan menyapa sesama  dan menyembah TUHAN.

    Calon. Mau jadi orang terhormat di bidang politik praktis, silahkan. Mau jadi pejabat pemerintah, silahkan. Ada tangga-tangga yang harus diikuti secara berjenjang. Mau jadi pengusaha yang sukses, harus, asal lewat cara-cara yang jujur tidak bohong-bohongan dalam harga dan pemasaran. Mau jadi artis yang tersohor, baik sekali. Berlatih dan terus  berlatih dan tampil dengan apik. Mau jadi olah-ragawan atau olah-ragawati yang menjuarai berbagai perlombaan, mengapa tidak? Calon juara.

    Calon. Kita semua ini calon orang yang berbahagia abadi. Dunia ini medan laga. Siapa kuat, dia menang. Kuat bukan untuk mengalahkan sesama, karena sesama itu bukan lawan. Kuat dalam melawan kelemahan dan ketamakan. Itulah perjuangan. Menang, menggembirakan PENCIPTA dan DIA akan merangkul kita pada saat akhir hayat dikandung badan.

  • Ada yang salah

    Ada yang salah. Belajar dari kesalahan. Tidak ada manusia yang tidak pernah buat salah. Manusia tidak sempurna. Dalam hal apa saja, manusia tetap buat kesalahan. Sampai dalam urusan agama pun manusia buat kesalahan. Makanya manusia harus sadar bahwa ia sudah dan sedang buat salah. Itu yang harus disadari dan perbaiki kesalahan itu. Untuk itu harus lihat dan sadar bahwa ada yang salah. Dalam sistem pemilihan umum di Indonesia sekarang ini ada begitu banyak keluh-kesah tentang berbagai hal. Tentang partai, tentang perangkat pemerintah yang urus pemilu, tentang calon, tentang uang, tentang cara. Banyak. Pemilu tidak disambut dengan gembira tetapi dengan kecemasan. Contoh konkrit, di tingkat Provinsi tertentu, ada daerah pemilihan (dapil) yang mempunyai jatah tujuh kursi di DPR-D Provinsi. Tujuh belas partai masing-masing mencalonkan tujuh orang. Maka jumlah calon, 17 x 7 = 119 calon. Mereka 119 orang memperebutkan 7 kursi. Maka siap-siaplah 119-7 = 112 orang mengelus dada sesudah hari pemilu karena tidak dapat kursi. Padahal proses pencalonan, sosialisasi, kampanye, baliho, temu-muka sudah menelan puluhan malah ratusan juta rupiah. Tragis.

    Ada yang salah. Salah di mana? Apa yang salah? Siapa yang salah? Tiga pertanyaan. Saya coba jawab mulai dari pribadi manusia. Alat yang saya pakai, Kwadran Bele, 4N. NAFSU untuk raih kursi terlalu besar. Kurang pakai NALAR. NALURI dipangkas. NURANI diberangus. Oleh diri sendiri. Salah di mana? Di sini, sistem. Perekrutan oleh Partai. Calon loyal pada Partai. NALAR kurang dipakai dalam arti paksa diri untuk ikuti kehendak orang-orang tertentu di Partai sehingga kerdilkan diri dengan abaikan pengetahuan dan pengalaman yang baik untuk diri dan masyarakat lalu dikorbankan untuk memuaskan kehendak Partai dalam diri orang-orang petinggi Partai. NALURI dikerdilkan dengan persempit pengaruh terbatas pada sesama anggota Partai dan para donatur Partai. NURANI dikesampingkan dengan pemaafan diri bahwa ini urusan politik, tidak perlu libatkan TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011). 

    Ada yang salah. Jadi salah pokok dan pokok salah di Partai. Desa pun mulai dibelah-pisah berdasarkan Partai. Lebih ngeri lagi, keluarga saja diporak-porandakan berdasarkan Partai. Suami, Isteri, Anak-anak, bisa saja tidak se-Partai. Runyam.

    Ada yang salah. Partai itu wadah, organisasi, kumpulan manusia. Kita manusia yang buat. Jadi? Kita yang salah. Kita memberangus diri dalam Partai. Pilih Kepala Daerah Kabupaten, Kota, Provinsi berdasarkan Partai. Pilih Presiden, Wakil Presiden, Anggota DPR-D, mulai dari Kabupaten, Kota, Provinsi sampai Pusat, lewat Partai. Kita jadikan diri robot dalam Partai. 

    Ada yang salah. Siapa yang harus perbaiki? Kita semua. Pertama, sadar dulu bahwa ada salah. Kedua, cari jalan keluar. Ketiga, laksanakan. Kembali, setiap kita, sadar untuk: kendalikan NAFSU,  cerahkan NALAR, arahkan NALUJRI, murnikan NURANI. TUHAN mau yang itu.

  • Kabar Gembira

    Kabar gembira. Itu pasti dari orang yang gembira untuk menggembirakan orang lain. Isi kabar itu sendiri diyakini menggembirakan. Lawan dari kabar gembira, kabar buruk, kabar duka, kabar sedih. Kabar gembira menarik. Tapi kabar buruk lebih menarik. Kabar buruk itu bahan konsumsi yang empuk untuk NAFSU yang sudah kabur dan dikaburkan baik dari dalam diri maupun dari luar diri. Kabar buruk laris. Yang menyebarkan dan yang menerima sama-sama panik. Itulah efek buruk dari kabar buruk. NALAR kita tidak bekerja wajar lagi. Ini yang sering kita dengar istilah pikir pendek dan jadinya nafas pendek. Kabar baik memupuki NALURI. Kabar buruk meracuni NALURI. Kalau kabar buruk menguasai NAFSU + NALAR + NALURI, maka NURANI jadi gelap. Dan orang kalap adalah akibat dari kabar buruk yang memperburuk keadaan sampai situasi terpuruk ke dasar yang terdalam. Persekutuan manusia jadi perseteruan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kabar gembira. Seluruh hidup kita manusia ini adalah kabar gembira. Bayangkan. Pada tahun 2024 ini  tercatat sekitar delapan milliar manusia menghuni bumi. Apakah ini tidak menggembirakan? Memang ada juga kabar buruk. Masih ada yang kurang makan, kurang aman. Ini kabar buruk. Kabar gembira itu ada hasil kebun di mana-mana, hasil laut, hasil industri. Ada kedamaian dan keramaian. Ini kabar gembira. Siapa yang buat kabar gembira? Kita manusia. Siapa yang sebarkan kabar gembira? Kita manusia. Apa isi kabar gembira? Kabar tentang manusia, kita, saling menghidupkan,saling menolong, saling mengasihi. Itulah isi kabar gembira. Berarti, kabar buruk itu isinya apa saja? Saling menodong,  saling membenci, saling menyusahkan, malah saling membunuh. Kabar buruk ini yang tidak boleh terjadi untuk memenuhi alat-alat komunikasi kita. Penuhi muka bumi dengan kabar gembira.

    Kabar gembira. Penuhi hidup kita dengan kabar gembira. Suatu keanehan, kita sudah tahu bahwa kabar buruk itu memperburuk situasi, masih saja sebarkan kabar buruk. Setiap diri kita, saya, anda, dia, sama-sama pembawa kabar gembira. Tema kabar gembira begitu berlimpah. Dan di mana sumber kabar gembira itu? Di alam ini, dalam hidup kita ini yang berasal dari sumber dari segala sumber kegembiraan, TUHAN.