Category: Filsafat

  • Tanam Siram Tumbuh

    “Tanam, tanam, sekali lagi tanam”. Ini seruan klasik  almarhum Bapa Penghijauan Nusa Tenggara Timur, El Tari.  Penulis sebagai rakyat kecil melanjutkan,  “Siram, siram sekali lagi siram”. Ini baru bisa tumbuh yang kita tanam. Tanam, tidak siram, percuma, mati. Kita di NTT,  empat bulan hujan, delapan bulan kering. Manusia, hewan dan tumbuhan butuh air untuk hidup. Bukan hanya hidup empat bulan lalu layu delapan bulan. Manusia dan hewan bertahan, tanaman tidak. Manusia dan hewan berpindah, bisa lari hindari kegersangan. Tanaman tetap tegak di mana dia ditanam. Terik matahari dia tadah sepanjang musim kemarau, delapan bulan, dari Maret sampai Oktober.

    Tanam adalah tindakan manusia yang manusiawi. Tumbuhan apa pun tumbuh sendiri, itu hukum alam. Tanam, siram, pelihara penuh rasa sayang, itu manusiawi. Bayangkan, sudah tanam, biarkan merana dan mati. Sampai hati. Ulah kita manusialah yang menghalangi malah merusak hukum alam dengan menebas dan membakar tumbuhan apa pun yang tumbuh sendiri atau ditanam. Di kebun ditebang. Di hutan dibabat. Dengan sekali tebas,  api sekali sulut, tanaman mati, hangus terbakar.

    Hewan lari atau terbang menghindari api, tapi tumbuhan berteriak meringis dan mati sesaat atau mati perlahan-lahan. Kita manusia sering hanya menonton malah ada yang tambah membakar tanpa rasa sayang sedikit pun. Rumput yang hanya setahun umurnya dalam hitungan menit, lenyap. Tapi pepohonan yang hidup belasan, puluhan malah ratusan tahun, berserah diri dilalap api. Kulitnya terkelupas, daun-daun hangus, ranting dan batang membara patah, ada yang langsung mati ada yang meraung bertahan dan hidup lagi di musim hujan nanti. Tuhan, Pencipta melihat semua ini.

    Tanam apa pun saja yang berguna bagi kehidupan kita manusia, satu kewajiban. Tanaman hidup, kita hidup. Kita manusia ini dapat makan dari tiga orang. Petani, Peternak, Nelayan. Mereka tiga ini yang hasilkan langsung nasi di piring, daging di mangkok dan ikan di dulang. Mereka tiga butuh tanaman. Di laut pun ada tanaman. Di pantai ada bakau, di pesisir bisa ditanam rumput laut. Itu di laut. Di daratan, petani dan peternak sangat bergantung pada tanaman. Untuk manusia disebut pangan, untuk ternak, pakan. Semua ini ditanam. Pantas Bapak El Tari serukan “Tanam, tanam sekali lagi tanam”.

    Tanam siram atau siram tanam. Serentak. Tidak bisa tanam sebelum siram. Tidak boleh tanam lalu tidak siram. Seluruh daratan di mana pun tidak boleh dibiarkan tanpa tanaman. Hanya batu saja yang tidak bisa ditanami. Itu pun batu masih berguna untuk dirayapi oleh tanaman. Tanah dan tanam itu satu. Dua-duanya perlu siram. Tanah disiram, tanaman disiram. Air itulah bahan siraman. Dari mana air itu? Hujan. Hujan turun tanaman tumbuh dengan sendirinya. Jamur pun tumbuh subur di musim hujan. Sayang, di Provinsi kita, Nusa Tenggara Timur, hujan hanya empat bulan. Delapan bulan yang lain? Yah, sederhana. Tangkap hujan, jebak hujan. Berbagai cara bisa ditempuh. Pokoknya harus ada air untuk siram dan tanam.

    Tumbuhan butuh air. Berarti, tanam-siram-tumbuh perlu air. Tanaman yang ditanam lalu disiram rutin akan menghasilkan berbagai kebutuhan untuk hewan dan manusia. Pangan dan pakan butuh air. Papan, perumahan, butuh tanaman. Sandang, butuh tanaman untuk hasilkan serat. Ini mata rantai tak terpisahkan, tanam-siram-tumbuh. Kita lalai dan abai dalam yang di tengah itu, siram. Tanaman yang kita tanam, layu dan mati, kita mengeluh, kurang air, tidak ada air untuk siram. Lalu hibur diri, gagal panen. Pukul dahi, tepuk dada. Kasihan, menyesal, tanam setengah mati, tumbuh, lalu mati, tanpa hasil. Karena tidak siram.

    Jangankan di padang, di halaman rumah pun tanaman pohon, bunga dan sayur, layu, mati di pelupuk mata karena tidak disiram. Tidak ada air, mau siram dengan apa. Ternak yang dipelihara pun kurus kering tinggal tulang, karena pakan kurang, air susah. Ternak susah, tuannya sedih. Di rumah, makan kosong karena tidak ada daging, tidak ada ikan. Gizi kurang, sampai gizi buruk, stunting, kerdil, cebol, kita saling persalahkan, padahal pokok kesalahan itu pada tiga huruf  ini, TST, “Tanam + Siram + Tumbuh”. Dari mana dan di mana bisa ada tumbuhan yang tumbuh kalau tidak ditanam dan disiram?

    Untuk tanam harus ada air, wajar, harus. Untuk tumbuh juga harus ada ada air, wajar dan harus. Upaya kita? Siapkan air untuk siram setiap saat, tidak tunggu musim hujan. Selama musim kemarau, air tetap tersedia untuk siram supaya tanam dan tumbuh.  Yang tumbuh tetap disiram supaya terus tumbuh dan berhasil. Kalau berbagai tanaman tumbuh dan berhasil, dengan sendirinya hewan dan manusia dapat memperoleh bahan pakan dan pangan.

    Ada kearifan orang Israel sekarang ini untuk sedia air sebanyak mungkin dan atur air itu untuk tanam, siram dan tumbuhkan berbagai tanaman. Cara Israel itu sederhana. Air dari sungai Yordan dipompa ke bukit-bukit dan dari sana dialirkan ke lahan pertanian. Ini ditulis dalam buku yang laris manis, tulisan Seth M. Siegel tahun 2015, berjudul, “Israel’s solution for a water-starved world, LET THERE BE WATER”. Dalam bahasa Indonesia: “Cara Israel Mengatasi Negeri  Yang Kekurangan Air: JADILAH AIR”.  Tiga cara dipakai. Air dari Sungai Yordan dipompa, air bawah tanah dibor dan air laut ditawarkan, desalinisasi. Jadi ada tiga sumber air. Tanaman hidup, ternak berbiak. Mereka kelimpahan makanan lalu ekspor ke luar negeri. Sudah ada ribuan anak-anak muda kita kursus di Israel untuk mempelajarai teknologi mengatasi kekurangan air ini. Tidak perlu datangkan orang Israel ke sini.

    Kita cukup upayakan ketersediaan air dengan cara kita. Sederhana saja. Air hujan ditampung atau ditangkap dengan berbagai cara, buat bak tadah air hujan, kolam buatan, bangun embung-embung, bendungan kalau ada dana cukup. Ke bukit-bukit dialirkan dengan sistim pompa, ke tempat yang lebih rendah dengan sistim alirkan, gravitasi. Dalam kota-kota, buat sebanyak mungkin bak penampung air lalu pasang pipa-pipa untuk siram anakan pohon yang ditanam. Kalau pakai mobil tangki, boros waktu, tenaga dan dana. Cukup areal taman kota dijangkau dengan jaringan pipa-pipa dan keran dibuka, tanaman disiram. Ini pikiran penulis sebagai orang awam. Banyak ahli untuk jabarkan pikiran penulis ini.

    Tanam apa saja di setiap jengkal tanah. Tidak boleh ada tanah yang diberi gelar ‘lahan kering’. Hujan empat bulan sudah cukup untuk dimanfaatkan dengan berbagai upaya sederhana, tangkap air. Tuhan, terimakasih, tanah kami, ciptaan-Mu sudah disiram selama empat bulan. Kami lanjutkan dengan tangkap air itu lalu siram tanam tumbuh, STS.

     

    Kupang, Rabu, 11 Desember 2024

     

     

     

     

     

  • Kembar Tiga

    KEMBAR TIGA

    Oleh: Anton Bele.

    Tiga bersaudara ini umurnya setua manusia. Karena ulah manusia. Mereka masing-masing ada nama. Mereka lahir karena orang tuanya, manusia, bapa dan mama mereka, memiliki empat unsur dalam diri mereka, Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani. Empat unsur ini diciptakan Sang Pencipta dan ditempatkan dalam diri manusia sejak awal adanya, kita-kita ini. Penyimpangan empat unsur inilah yang melahirkan tiga bersaudara kembar, namanya: Korupsi, Kolusi, Nepotisme.

    Nafsu itu dorongan dalam diri manusia untuk hidup dan menikmati segala kesenangan  secara  terukur. Nalar ada untuk mempertimbangkan segala tindak-tanduk kita benar atau salah. Naluri diletakkan Tuhan dalam diri kita untuk hidup bersama manusia lain secara santun. Nurani tempat ketenangan, perpaduan dari tiga unsur, Nafsu terpenuhi, Nalar cerah dan Naluri ramah. (Kwadran Bele).

    Penyimpangan dari arah yang benar ke arah yang salah dari tujuan empat usur inilah yang melahirkan si kembar tiga. Arti nama kembar tiga ini jelas sekali. Kembar pertama, “Korupsi”, bahasa Latin, co, bersama, rumpere, merusak.  Corumpere, coruptio, asal-usul nama kembar  pertama, ‘Korupsi”. Nafsu yang berlebihan, tanda serakah, sulit membedakan mana milikku,  mana milik orang lain. Rampok dan caplok. Akibatnya,  Nalar gelap, Naluri kalap, Nurani tumpul. Lahirlah ‘Korupsi’.

    Kembar kedua, “Kolusi”, dari kata  Latin, co, bersama, ludere, bermain, coludere, colusio, bermain bersama untuk tujuan yang buruk, rampas hak orang lain. Ini yang namanya, “Kolusi”.

    Kembar ketiga, “Nepotisme”. Ini kata Yunani, nepote, ponakan, arti luas, keluarga. “Nepotisme”, utamakan keluarga, kerabat, orang dekat secara tidak benar dan singkirkan orang lain yang bukan keluarga.

    Kembar tiga ini sama-sama hidup dan kerjasama erat sekali. Mereka tiga Dalam urusan publik, kembar tiga ini benar-benar membahayakan karena seperti virus yang mematikan, virus ini bernama KKN.   Kalau virus ini sempat masuk ke tubuh satu organisasi, maka seluruh tubuh terserang penyakit sampai ke sumsum. Penyakit apa? Penyakit pembangunan. Itu modelnya apa? Pencurian barang milik umum secara gelap atau terang-terangan. Kembar tiga yang memiliki nama mentereng, ‘Korupsi Kolusi Nepotisme’ ternyata virus berbahaya yang disebabkan oleh manusia dan mencelakakan manusia.

    Virus KKN ini berawal dari Nafsu manusia yang tidak terkendali. Karena Nafsu sudah begitu bergelora, Nalar pun menjadi gelap diputar-balikkan tidak lagi bisa melihat mana benar dan mana yang salah. Semua pengetahuan dan pengalaman yang baik tidak dipakai lagi tapi dibelokkan ke arah penipuan untuk menjungkir-balikkan fakta dan data. Fakta, ada kebutuhan. Data, ada sejumlah anggaran. Butuh jembatan yang dapat bertahan minimal berpuluh-puluh tahun, dipreteli anggarannya sehingga baru sepuluh tahun sudah ambruk.

    Penyakit KKN membuat Nurani kita manusia jadi pribadi yang beragama dalam KTP dan beribadah demi memenuhi tradisi. Lengkaplah empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu, Nalar, Naluri dan Nurani yang harus seimbang, tidak seimbang. berantakan, pecah berkeping-keping. Rusaklah diri pribadi kita manusia terserang virus KKN.

    Ungkapan kalimat-kalimat di atas jauh dari ramah. Penulis sadar bahwa mengorek luka KKN ini tidak mudah. Menyakitkan kita semua.

    Penulis pernah jadi Kepala Kantor di satu instansi Pemerintah. Itu dua puluhan tahun lalu. Ada anggaran untuk pemeliharaan kantor. Waktu itu Cuma ratusan ribu rupiah, tidak jutaan. Kami gotong-royong, semua pegawai kantor, lima puluhan orang, bersihkan kantor, ada yang labur tembok yang sudah kabur catnya termakan cuaca. Tahun lalu sudah kabur, labur, tahun ini belum kabur, labur lagi. Anggaran pemeliharaan kantor dialihkan untuk biaya pameran pembangunan, perayaan Tujuh belas Agustus dan lain-lain.    Bendahara kantor bersama kepala urusan keuangan mengatur kuitansi fiktif dalam bentuk beli semen dan oker dan ongkos tukang, lalu ditandatangi oleh penulis sebagai Kepala Kantor. Tujuannyaa baik tapi caranya salah. Inilah salah satu bentuk KKN dengan dalih, kebijakan.

    Ceritera di atas bukan fiksi. Tapi fakta. Itulah yang namanya KKN, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Penyalah-gunaan. Nafsu senang terpenuhi. Nalar diajar untuk bijaksana. Naluri dibungkam untuk tahu-sama-tahu. Nurani ditenangkan dengan bisikan, ini tidak apa-apa, kecil-kecil saja,  tujuannya baik biarpun caranya salah. Inilah KKN dalam skala kecil. Aman, biarpun Naluri tidak meng-Amin-kan. Tuhan pasti tahu karena dapat laporan dari Malaikat-malaikat. Untung diampuni karena disesali dengan doa tobat dan ini digolongkan dalam dosa kecil karena kebijakan yang menyimpang dalam skala kecil. Cuma sedikit salah arah dengan tujuan baik, biarpun tidak benar. Ini sekedar bela diri, KKN tetap KKN, bukan diukur dari besar-kecilnya.

    Dalam pembangunan, inilah yang dinamakan virus KKN yang menggerogoti pribadi manusia sampai ke sum-sum. Pribadi sakit, keluarga rusak, masyarakat ambruk. Kanker pembagunan ini yang merajalela dalam diri para pembangun.  Kalau tidak dihindari, tidak dibabat dan  diobati, maka sampai kapan pun isi Sila Kelima dalam Pancasila, ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’, tidak akan terwujud.

    Kembar tiga ini sudah lahir dan ada. Tidak bisa dihilangkan. Mereka bertiga melekat dalam diri kita manusia, setiap orang. Kembar tiga ini bertumbuh mulai dalam diri kita manusia sejak kecil.

    Kembar tiga ini dihindari, harus sejak usia dini.  Kata kunci, jujur. Setiap tindakan kita harus diukur dengan empat B: Benar, Baik, Bagus dan Butuh. Lawan dari 4 B, ialah 4S: Salah, Suap, Susut, Susah.  Bangunan jembatan yang besar, anggaran besar dipakai secara benar, dibangun dengan  baik supaya bertahan lama, dibuat bagus supaya menarik dan dibuat sesuai kebutuhan.  Kalau kembar tiga KKN itu masuk, maka yang terjadi, anggaran di-salah-gunakan, suap sana-sini supaya tutup mulut, mutu bangunan tidak baik karena anggaran sudah susut dari yang seharusnya dan akibatnya, semua orang susah. Inilah kerja virus KKN.

    Kita harus biasakan diri dengan kearifan orang tua-tua kita, “ Saya punya, saya punya, orang punya, orang punya”. Orang Latin ratusan tahun sebelum Masehi, sudah ada peribahasa, “Res clamat dominum”, ‘Barang teriak menangis cari tuannya’. Bolpoin yang harganya seribu rupiah kalau dipinjam lalu lupa kembalikan segera kembalikan. Bolpoin itu menangis, berteriak cari tuannya.

    Niat baik selalu ada dalam diri kita setiap manusia. Menghindari virus KKN tidak membutuhkan sekolah atau kuliah bertahun-tahun. Mulai dari keluarga. Jangan ajar anak, waktu ada tamu datang, anak lari masuk ke kamar, bapak, ada tamu, dan bapa bilang, bapa ada keluar,  lalu anak dengan polosnya beritahu tamu, bapak bilang bapa ada keluar. Ini benih KKN mulai ditabur. Memalukan.

    Kembar tiga ini membuat diri kita tidak tenang, tegang, tidur tak nyenyak, makan tak enak. Mari kita berdoa, “Tuhan, kami tidak mau KKN, beri kami rahmat untuk hidup jujur. Amin”.

    Kupang, Minggu, 8 Desember 2024

  • Langsung

    Langsung. Hidup ini langsung ke tujuan. Dari satu saat langsung ke saat yang lain. Tidak mungkin satu keadaan bertahan terus dan tidak langsung ke keadaan berikut. Kalau ada kegagalan, langsung bangkit ke arah yang menguntungkan. Kalau duka langsung ke suka. Itu diatur oleh diri kita manusia sendiri. Bukan diatur oleh Tuhan. Tuhan menyiapkan medan, kitalah yang berlaga di medan itu. Menang, syukur, kalah, sesali. Kegagalan itu cambuk untuk merobah dan memperbaharui cara ke arah yang sama dan tetapm yang indah itu. Langsung, jangan tanggung-tanggung.

    Langsung. Jalan ke satu arah, langsung ke tujuan, jangan singgah-singgah. Nafsu kita manusia ini mau langsung nikmati apa yang kita mau. Nalar sibuk pikir jalan dan cara apa yang harus ditempuh untuk langsung mencapai tujuan. Naluri kita langsung bergerak untuk mengajak siapa saja yang dapat membantu untuk langsung menggapai tujuan. Nurani kita langsung tenang kalau tujuan sudah tercapai. Itulah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu, Nalar, Naluri dan Nurani. (4N, Kwadran Bele,2011).

    Langsung. Diberi hidangan yang enak, tidak langsung makan tapi masih cari yang lain. Hidup ini hidangan. Sumber hidup, Tuhan, hidangkan yang enak, paling enak. Tapi kita manusia masih berpaling ke hidangan yang lain yang dihidangkan oleh musuh dari Tuhan. Heran, diri kita manusia langsung melahap hidangan yang bukan dari Sang Penyelanggara hidup tapi masih cari berkeliling berputar-putar mengitari hidangan lain yang nampaknya enak padahal beracun. Sudah diingatkan, “Langsung makan hidangan yang Saya siapkan”, kata Tuhan, tapi Ajakan dan Suara merdu menawan ini tidak didengar malah kita berpaling ke arah panggilan yang lebih merdu menawan penuh tipu-daya. Langsung kita manusia terjun ke jurang kehancuran karena ajakan sang pendusta ini mengarahkan kita untuk tidak langsung ke Tuhan tetapi masih singgah sana singgah sini yang penuh tipu dan dusta ke arah malapetaka.

    Langsung. Kita manusia tidak boleh ragu-ragu. Langsung ke tujuan dan itu pasti ke arah Yang Kekal Abadi. Saat itulah kita manusia langsung bertatap dari muka ke Muka dengan Sang Pencipta.

     

     

  • Tarik

    Tarik. Ada yang menarik ada yang ditarik. Untuk apa? Yang menarik dan yang ditarik mempunyai tujuan bersama. Tujuan itu harus baik, benar, bagus dan berguna. Ini harus disadari bersama oleh kedua belah pihak yang tarik-menarik. Kalau hanya satu pihak saja menarik tanpa persetujuan pihak yang ditarik, maka itu namanya tarik paksa. Kalau tarik menarik itu terjadi antara dua pihak sama yang sama  kuat karena sama-sama mempunyai kemauan yang berawanan maka terjadilah siapa kuat dia menang. Hasil dari tarik-menarik seperti ini ialah salah satunya yang berhasil ditarik itu berada di pihak yang lemah. Dia kalah. Pihak yang berhasil menarik berada di pihak yang menang. Terjadilah kalah-menang.

    Tarik. Yang menarik harus ada daya tarik. Maka terjadilah yang ditarik menyerahkan diri untuk ditarik karena tertarik. Secara alamiah, kita manusia tidak terpelanting ke luar dari bumi karena ada daya tarik dari bumi. Kekuatan dahsyat yang ada dalam bumi menarik semua pada dirinya sehingga semua yang ada di muka bumi ini melekat pada kulit bumi.

    Tarik. Hidup ini adalah kejadian tarik-menarik. Kita manusia diberikan oleh Pencipta, Nafsu untuk menginginkan apa saja yang kita sukai. Segala sesuatu yang baik, benar, bagus dan berguna yang menarik Nafsu kita itu ada para Diri Pencipta. Maka terjadilah bahwa Dia menarik dan kita tertarik untuk memenuhi keinginan Nafsu kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tarik. Kita manusia diberi oleh Tuhan, Nalar untuk mengetahui dan mengalami segala sesuatu yang baik, benar, bagus dan berguna. Karena pengetahuan dan pengalaman itu sumbernya ada dalam Diri Yang Maha-tahu dan Maha-baik, maka Dia menarik sedang kita tertarik. Melawan daya tarik ini dan mebangkang, itulah yang namanya dosa, melawan Daya tarik dari Sang Maha-daya.

    Tarik. Kita manusia ada Naluri yang diberikan oleh Tuhan untuk hidup bersama dengan sesama. Makanya kita tertarik antara sesama kita dan saling tarik-menarik. Tarik-menarik berdasarkan Naluri ini harus tetap ke arah tujuan yang sama, baik, benar, bagus dan berguna. Kita tarik-menarik dan serentak ditarik oleh Tuhan. Itulah yang namanya hidup yang sementara karena pada saat ajal, tarik-menarik itu dari sementara menjadi tarik-menarik abadi. Itulah hidup kekal.

    Tarik. Kita manusia diberi Tuhan, Nurani. Di sana tersimpan segala ketenangan dan kebahagiaan sebagai hasil kasih dan damai. Kita manusia tarik-menarik untuk menikmati (Nafsu), memikir dan mengalami (Nalar) dan berbagi antara sesama (Naluri) segala ketenangan dan kebahagiaan itu yang bersumber dari Sang Maha-damai, Tuhan. Dialah yang menarik kita dan kita tertarik kepada Dia. Terjadilah tarik-menarik antara kita dengan Dia, Tuhan, yang membuat Nurani kita tenang dan damai.

    Tarik. Biarkan diri ditarik, itulah hidup. Menarik sesama kita ke arah Dia untuk sama-sama masuk dalam daya tarik Ilahi, itulah hidup. Mari kita masuk medan Daya Tarik itu sehingga kita bersatu dengan Dia karena kita ini berasal dari Dia dan sedang kembali ke Dia Yang tetap menarik kita setiap saat tanpa henti ibarat Magnit Abadi yang menarik setiap serbuk logam di sekitar Diri-Nya. Kita adalah serbuk yang ditarik oleh Maknit Raksasa itu. Itulah hidup yang berlangsung dalam keadaan tarik-menarik.

     

  • Devosi

    MAKNA DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA

    DALAM KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK

    Konggres Legio Maria Kuria Mater Beatissima ke-11

    Paroki St. Familia Sikumana, Sabtu, 30 November 2024

    Anton Bele – Katekis

    1. Istilah: (Bahasa Latin): Devotio = Ibadah. Latria = penyembahan. Dulia = penghormatan, Hyperdulia = Penghormatan yang paling tinggi. Dulia atau Devosi: penghormatan kepada orang-orang kudus dan hal-hal yang kudus.

    Hyperdulia: Penghormatan Istimewa kepada Bunda Maria.

    1. Empat Dogma tentang Bunda Maria: (Ajaran Resmi Gereja Katolik)

    1). Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal : Maria Immaculata, Paus Pius IX, 8 Desember 1854.  2). Maria Bunda Allah: Maria Mater Dei. (Konsili Efesus 431, dikukuhkan lagi Konsili Kalsedon 451). 3). Maria tetap perawan: Virgo semper Maria  (Konsili Konstantinopel II, 553): Bunda Maria tetap Perawan, sebelum melahirkan, waktu melahirkan dan sesudah melahirkan. 4).Bunda Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan badan. Maria Assumpta. (Paus Pius XII, 1 November 1950).

    1. Gelar-gelar untuk Bunda Maria: 50 gelar. (Litani Bunda Maria).
    2. Pesta: kalender liturgi. Ada 15 Pesta: 1). 1 Januari, Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. 2). 11 Februari, SP Maria dari Lourdes. 3). 25 Maret, Hari Raya Kabar Sukacita. 4). 13 Mei, SP Maria dari Fatima. 5). 29 Mei, SP Maria Bunda Gereja. 6). 31 Mei, SP Maria mengunjungi Elisabet. 7). 17 Juni, Hati Tak Bernoda SP Maria. 8). 5 Agustus, Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria di Roma. 9). 15 Agustus, Hari Raya SP Maria diangkat ke Surga. 10). 22 Agustus, SP Maria. 11). 8 Septermber, Pesta Kelahiran SP Maria. 12). 15 Septermber, SP Maria Berdukacita. 13). 7 Oktober, SP Maria Ratu Rosario. 14). 8 Desember, Hari Raya SP Maria dikandung tanpa noda. 15). 25 Desember, Hari Raya Natal.
    3. Dua Bulan untuk menghormati Bunda Maria: Mei, bulan Maria, suka-cita dan kasih, hadiahkan kuntum mawar (rosa), untaian kuntum mawar (rosarium) kepada Bunda Maria. Oktober, Bulan Rosario, bulan perjuangan dan kemenangan, secara khusus, menghormati Bunda Maria sebagai Ratu Rosario (tgl. 7 Oktober). Pasukan Katolik menang lawan Pasukan Turki di Lepanto, 7 Oktober 1571, karena Paus Pius V ajak umat doa Rosario. Tahun 1572, Paus Gregorius XIII, tetapkan sebagai Mukjizat Rosario.
    4. Doa-doa untuk menghormati Bunda Maria:
    5. Doa Rosario: Tanda Salib, doa Tobat, Kemuliaan, Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Doa Fatima ‘Ya Yesus Yang Baik…’. Empat peristiwa: Gembira (Senin, Sabtu). Peristiwa Sedih (Selasa, Jumat). Peristiwa Mulia (Kamis). Peristiwa Mulia (Rabu, Minggu).
    6. Magnificat: Nyanyian Pujian Maria, Luk 1:46-56.
    7. Kabar malaikat (Masa Biasa), Ratu surga (Masa Paskah).
    8. Litani: pujian kepada Bunda Maria, ada 50 Gelar.
    9. Salam maria: Doa ini ditetapkan rumusannya oleh Paus Pius V, 1568.

    Dua bahagian: a. Pujian. b. Permohonan: “doakanlah kami”.

    1. Tujuh Duka Bunda Maria:

    1).  Ramalan Simeon: suatu pedang akan menembus jiwamu. (Luk 2:34-35).

    2).  Pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15).

    3).  Yesus hilang dan ditemukan di Bait Allah (Luk 2:43-45).

    4).  Maria bertemu dengan Yesus yang memanggul SalibNya ke Bukit Kalvari.

    5).  Maria berdiri di kaki Salib Yesus (Yoh 19:25-27)

    6).  Yesus diturunkan dari Salib dan dipangku oleh Bunda Maria. (Pieta).

    (Mat 27:57-59).

    7).  Yesus dibaringkan di dalam makam. (Yoh 19:40-42).

    1. Mukjizat:
    2. 1. Loreto: di Italia, ada Gereja, di dalamnya ada rumah kecil yang diyakini sebagai rumah yang pernah ditinggali oleh Keluarga Kudus di Nazareth, diterbangkan oleh Malaekat ke kota Loreto. Di tempat ini Bunda Maria dihormati sebagai Ibu Keluarga Kudus dari Nazareth.
    3. 2. Lourdes: 11 Februari – 16 Juli (18 kali) 1858, Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadete, dan memperkenalkan diri sebagai ‘Perawan Yang dikandung tanpa noda’. Ciri: patung Bunda Maria, berpakaian putih, berikat pinggang biru, di atas kakinya ada bunga mawar berwarna keemasan, di dalam Gua, dan ada air yang mengalir secara ajaib sampai sekarang.
    4. 3. Fatima: Bunda Maria menampakkan diri kepada 3 Anak, Lusia, Fransisko dan Yasintha pada tahun 1917, 13 Mei – 13 Oktober. Bunda Maria memperkenalkan diri sebagai ‘Ratu Rosario’, minta kepada 3 anak untuk berkurban dan berdoa untuk orang-orang berdosa supaya bertobat dan memperpoleh pengampunan dari Tuhan Yesus. Fransisko dan Yasintha sudah digelar sebagai Santo dan Santa oleh Paus Fransiskus, tgl. 13 Mei 2017. Fransisko meninggal pada tahun 1918, dalam usia 9 tahun dan Jasinta meninggal dalam usia 11 tahun.
    5. Guadalupe: Di Meksiko, Amerika Selatan, Bunda Maria menampakkan diri kepada seorang duda berumur 57 tahun, sebanyak empat kali, bernama Juan Diego, pada hari Sabtu, 9 Desember 1531. Ada keajaiban, mawar yang diberikan kepada Juan Diego untuk dibawa ke Uskup, menjadi Lukisan di mantel bersama lukisan Bunda Maria.
    6. Garabandal: Di Spanyol Utara, tahun 1961-1965, penampakan Bunda Maria bersama Malaekat Agung Mikhael kepada empat siswi sekolah dasar di desa Garabandal.
    7. Sarana: tempat ziarah, patung, gambar, skapulir, relikwi, lambang Menghormati Bunda Maria dengan berbagai sarana: Tempat seperti Gereja, Kapela, ruang, gua, taman. Patung dalam berbagai bentuk sesuai dengan tradisi dan tujuan, gambar kudus, skapulir (potongan kain atau lambang lain yang diberkati), relikwi berupa peninggalan dan lambang-lambang lain seperti bulan, bintang, hati, bunga mawar, cahaya.
    8. Cara: Cara menghormati Bunda Maria ini rupa-rupa sesuai tradisi setempat yang diakui oleh pimpinan Gereja. Berdoa rosario sendiri atau bersama, menyanyikan lagu-lagu, mengadakan perarakan, mengadakan novena (doa dengan wujud tertentu selama sembilan hari berturut-turut).
    9. Tradisi devosi setiap hari: Senin, menyembah Roh Kudus; Selasa, menghormati Malaekat, khususnya Malaekat Pelindung; Rabu, menghormati Santu Yosef; Kamis, menyembah Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus (Salve = Salam). Jumat, menyembah Tuhan lewat Sembah sujud kepada Hati Amat Kudus Tuhan Yesus; Sabtu, menghormati Bunda Maria. Minggu, menyembah Tritunggal-Mahakudus.

     

    1. Doa Malaekat: Tradisi membagi hari atas lima bahagian: 1.Jam 01.00 – 06.00, diawali dengan doa Malaekat (Angelus) atau Ratu Surga ditandai dengan bunyi lonceng gereja; 2. Jam 06.00 – 12.00, diawali  dengan doa Malaekat (Angelus) atau Ratu Surga disertai dengan bunyi lonceng gereja; 3. Jam 12.00 – 18.00 / jam 6 sore, diawali dengan doa yang sama dan lonceng gereja. Jam 18.00 –  21.00 (sembilan malam), diawali dengan doa yang sama dan lonceng Gereja. 5. Jam 21.00 – 24.00 (jam 12 tengah malam), diawali dengan doa yang sama. Tradisi ini dipegang teguh di biara-biara kontemplatif, seperti Benedictin dan Trapist, sedangkan untuk kita umat biasa, masih dipertahankan tiga waktu, jam 06.00, jam 12.00, jam 18.00. Bunyi lonceng itu mempunyai maksud sesuai rumusan berkat atas lonceng sebelum digantung di tempat yang tinggi, menara gereja: “Ya Tuhan, berkatilah logam ini agar gaungnya bergema ke seluruh penjuru mata angin mewartakan kabar keselamatan kekal. Amin”.
    2. Niat: Setiap Keluarga Katolik adalah Keluarga Kudus, Sancta Familia, harus meneladani Keluarga Kudus dari Nazareth. Melalui Baptis, Mama+Bapa+Anak2+Cucu-cucu, Kudus. Dosa adalah pikiran, perkataan, perbuatan, kelalaian melawan ke-KUDUS-an. BUNDA MARIA, teladan bagi kita Keluarga Katolik dalam hidup sehari-hari.

    Catatan: Ringkasan keterangan ini disarikan dari berbagai sumber sesuai ajaran resmi dan tradisi dalam Gereja Katolik. Disarikan oleh: Anton Bele, Katekis Paroki Santu Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang.

     

  • Arti

    Arti. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak ada arti. Semua ada arti. Arti itu selalu dalam tatanan yang baik, benar, bagus dan berguna. Hidup ini ada arti. Maksudnya hidup ini baik, benar, bagus dan berguna. Hidup yang ada dalam diri tumbuhan, hewan dan manusia mempunyai arti. Semua yang ada ini, benda hidup dan benda mati,  ada arti dan arti itulah yang harus disadari oleh kita manusia sebagai ciptaan yang paling tinggi. Kita manusialah yang memahami arti dari diri dan sekitar diri kita. Kita harus tetap berpegang pada arti sesungguhnya dari segala sesuatu ini bahwa arti itu selalu baik, benar, bagus dan berguna.

    Arti. Mengartikan arti itu muncul dari empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Manusia ada arti. Nafsu kita mendorong kita untuk memggapai keadaan yang lebih tinggi supaya diri kita lebih berarti dalam arti lebih baik, lebih benar, lebih bagus dan lebih berguna untuk diri dan sesama. Diri semakin berarti dan arti diri itu semakin nyata bagi diri dan sesama.

    Arti. Nalar kitalah yang membawa kita kepada pemahaman dan pengalaman tentang arti semua yang ada di sekitar kita. Semua itu ada arti dan Nalar kita mengartikan semua itu demi keberadaan kita untuk semakin berarti dalam semua yang ada arti.

    Arti. Naluri kita mengartikan setiap gerak diri sendiri dan sesama yang ada di sekitar kita. Kita saling mengartikan. Hidup menjadi semakin berarti karena semua mempunyai arti yang dipahami oleh Nalar sejauh Naluri kita ada bersama dengan semua yang ada arti itu.

    Arti. Nurani kita menyaring setiap arti itu untuk menuntun diri kita semakin berarti dari hari ke hari. Tidak ada sesuatu pun yang diadakan oleh Maha ADA, TUHAN, tanpa arti. Semua punya arti yang diartikan oleh MAHA ARTI. Maka Nurani kita ada dalam arti yang sesungguhnya yaitu TUHAN beri arti kepada diri kita sebagai ciptaan-NYA yang paling sempurna di antara semua ciptaan di atas muka bumi ini.

    Arti. Empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani, dianugerahkan TUHAN kepada kita manusia dan empat unsur ini  sama-sama punya arti yang baik, benar, bagus dan berguna. Keempat-empatnya sendiri punya arti dan sama-sama menghantar kita manusia untuk membuat hidup ini dan menghayati arti itu untuk digunakan bagi kebaikan diri dan sesama serentak dipersembahkan kepada SANG PENCIPTA selama di dunia ini yang akan mempunyai arti yang  sementara menuju arti sesungguhnya yang namanya Bahagia Abadi.

  • Tegas

    Tegas. Tegas dalam hal apa? Tegas untuk apa? Tegas terhadap siapa? Tegas setiap saat? Empat  pertanyaan ini harus diukur dengan empat ukuran: baik, benar, bagus dan berguna. Baik itu menyangkut Nafsu. Benar itu menyangkut Nalar. Bagus itu menyangkut Naluri. Berguna itu menyangkut Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tegas. Tegas dalam hal apa?  Hidup kita menjadi ringan dan berarti kalau tegas dalam empat hal ini, baik, benar, bagus dan berguna. Dalam hal apa? Apa saja yang kita tahu dan alami. Tegas. Terima dan laksanakan dengan tegas. Kalau kurang atau tidak baik,  benar, bagus dan berguna, langsung dengan tegas, tolak. Hidup jadi mulus, tanpa beban. Kalau kurang tegas, ragu-ragu, maka hidup ibarat perahu oleng di tengah arus gelombang ganas tunggu tenggelam.

    Tegas. Tegas untuk apa? Yah, untuk hidup yang penuh makna dan bermartabat di depan sesama dan TUHAN. Hasil dari tegas untuk hal yang baik, benar, bagus dan berguna ini membuat diri kita semakin berarti dan berguna di depan sesama dan TUHAN.

    Tegas. Tegas terhadap siapa? Tegas terhadap diri dan sesama, siapa pun yang kita temui dalam hidup ini. Kalau sesama itu mendorong kita untuk hal yang baik, benar, bagus dan berguna, tegas terima dan laksanakan bersama. Kalau sesama itu ajak untuk hal yang kurang atau tidak baik, benar, bagus dan berguna, maka langsung tegas menolak dan menghindar. Tegas seperti inilah yang dikehendaki oleh Sang Pencipta kita, TUHAN.

    Tegas. Tegas setiap saat? Ya. Tidak bisa tegas saat ini dan tidak tegas di saat nanti. Dalam istilah asing, konsisten. Tegas baik hari ini maupun besok dalam hal yang baik, benar, bagus dan berguna. Kalau mau dibelokkan, tegas, katakan tidak dan balik haluan dengan tegas tolak yang kurang atau tidak baik, benar, bagus dan berguna itu.

    Tegas. Haruslah muncul julukan orang terhadap diri kita bahwa, ‘Orang ini tegas’. Yah, tegas dalam pendirian, perkataan dan perbuatan untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat yang baik, benar, bagus dan berguna di hadapan sesama dan terutama di hadirat TUHAN. Itulah namanya hidup seorang manusia yang sungguh manusia sejati. Perpaduan dalam diri, nilai duniawi dan surgawi, manusiawi dan ilahi, fana dan abadi.

  • Perlu

    Perlu. Perlu apa? Perlu siapa? Setiap kita manusia pasti perlu sesuatu dan perlu seseorang. Kita perlu orang, orang perlu kita. Semua kita saling memerlukan. Kita perlu apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, entah itu makanan, pakaian atau perumahan. Itu merupakan keperluan kita setiap hari. Kita perlu tahu dan sadar bahwa diri kita manusia ini dilengkapi oleh Pencipta kita dengan empat unsur, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Perlu. Nafsu kita mendorong diri kita untuk cari, dapat dan nikmati barang apa saja yang kita perlu seperti makanan, pakaian dan perumahan. Nalar kita memberi jalan untuk memakai segala upaya berupa pengetahuan dan pengalaman untuk memperoleh apa yang kita perlu. Naluri kita mengajak kita untuk kerjasama dengan siapa saja untuk perlu dapat bantuan supaya apa yang kita perlu itu mudah diperoleh. Nurani kita menyadarkan kita bahwa semua yang kita perlukan itu, baik barang maupun sesama, sudah diciptakan oleh TUHAN agar kita tidak kesasar di dunia ini selama kita hidup. Semua yang kita perlu sudah disiapkan oleh Sang Pencipta.

    Perlu. Kita perlu ingat apa pun saja yang kita perlu itu bukan milik kita. Itu milik TUHAN. Jadi perlu hati-hati, pelihara dan pakai segala yang ada dengan penuh rasa tanggung-jawab. Kumpul yah kumpul.  Pakai yah pakai. Kumpul seperlunya. Pakai seperlunya. Jangan liwat batas. Nafsu perlu dikendalikan agar tidak serakah. Nalar perlu diarahkan agar tidak kebablasan. Naluri diatur agar tidak ceroboh. Nurani disadarkan agar tidak takabur.

    Perlu. Hidup ini perlu diatur. Oleh siapa? Oleh diri kita masing-masing. Kita perlu sadar bahwa kita ini manusia yang diciptakan TUHAN untuk hidup bersama sesama yang segala keperluan hidup itu disediakan oleh TUHAN. Bukan oleh siapa-siapa. Perlu barang, baik. Itu dorongan Nafsu. Perlu pengetahuan, harus. Itu dorongan Nalar. Perlu sesama. Wajib. Itu desakan Naluri. Perlu TUHAN. Dengan sendirinya. Itu bisikan Nurani. Semua yang perlu ini kalau diikuti dengan benar, betapa indahnya hidup ini. TUHAN beserta kita.

  • Isi

    Isi. Ada dua arti: isi mengisi dan isinya apa. Kata kerja dan kata benda. Hidup ini isi mengisi. Hidup ini ada isi. Isinya apa? Perbuatan yang baik. Siapa yang isi? Yah, tiap diri kita sendiri. Kita yang isi kita punya hidup. Isi hidup supaya hidup ada isi. Isi dengan yang baik isinya baik. Isi dengan yang buruk, isinya buruk.

    Isi. Nafsu kita tidak pernah berhenti isi diri kita dengan segala macam keinginan. Tubuh kita ada isi, gemuk. Itu hasil nafsu makan. Nalar kita juga tidak pernah lelah isi otak kita dengan bebagai pengetahuan dan ingatan akan berbagai pengalaman. Otak penuh isi. Itu hasil kerja nalar. Naluri kita mendorong diri kita untuk melanglang buana. Hasilnya diri kita ada isi dengan berbagai keakraban antar kita sesama manusia. Nurani kita penuh dengan isi dalam bentuk ketenangan kalau diri kita itu baik.  Tapi nurani kita bisa saja penuh dengan ketegangan kalau kita isi dengan hal-hal yang buruk. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele 2011).

    Isi. Diri kita tidak kosong. Tidak hampa. Selalu Ada isi. Ada dua saja kemungkinan: isi yang baik atau isi yang buruk. Tidak mungkin isi dua-dua, baik dan buruk sekaligus. Isi yang buruk sedikit saja, itu sudah buruk. Maka yang buruk itu diperbaiki supaya isi diri kita itu baik. Utuh. Sekarang terserah pada diri kita masing-masing. Isi yang baik dan terus yang baik maka jadilah diri kita itu orang baik. Tapi kalau  isi yang buruk terus-menerus, sudah jelas, hasilnya diri kita jadi orang yang buruk di mata sesama dan terlebih di hadirat TUHAN. Tetapi kita tidak usah cemas. Karena TUHAN, Pencipta kita, tidak pernah akan membiarkan diri kita jadi orang buruk karena RahmatNYA berlimpah-limpah  tercurah kepada diri kita perorangan dan per kelompok untuk jadi pribadi yang baik.

    Isi. Mari kita isi diri kita dengan segala yang baik, benar dan berguna (tiga B) karena itulah tujuan kita hidup di dunia ini untuk nantinya tiba kembali pada PEMBERI kebaikan karena DIA itu MAHA-BAIK.

  • Peran

    Peran. Setiap manusia ada peran. Tidak ada satu manusia pun yang tidak ada peran. TUHAN ciptakan setiap manusia itu dengan perannya masing-masing. Mana mungkin TUHAN ciptakan satu orang sekedar ada tanpa peran. Tidak mungkin.

    Peran. Manusia dari kandungan ibu sudah ada peran. Hah, peran apa? Peran pribadi dalam kandungan itu ialah, menyadarkan ibunya dan juga bapaknya bahwa dirinya adalah hasil cinta antara dua insan. Bayi yang dikandung di luar nikah yang sah pun ada peran untuk mengingatkan kepada si Ibu dan Ayah untuk bertanggung-jawab di hadapan sesama terlebih di hadapan TUHAN.

    Peran. Diri kita manusia ini masing-masing ada peran. Bayi yang baru lahir berperan untuk menangis mengingatkan ibunya dan ayahnya untuk beri rezeki sebagai wujud tanggung-jawab. Anak, remaja, dewasa, tua, semua yang kita yang namanya manusia ini ada peran terhadap diri, sesama dan TUHAN. Tidur nyenyak pun salah satu bentuk peran, kumpul tenaga. Yang tua renta, apa perannya? Beri nasihat dan terutama mendoakan yang muda agar hidup baik. Orang sakit? Perannya itu beri kesaksian bahwa hidup ini begantung pada orang lain, terutama pada TUHAN. Orang mati pun ada peran, sadarkan kita yang masih hidup bahwa hidup ini tidak sia-sia karena dari TUHAN kembali ke TUHAN.

    Nafsu kita berperan untuk dorong diri kita tidak tinggal diam, terus bergerak cari hidup dengan kerja dan hasilkan makanan dan semua kebutuhan lain. Ada catatan, cari makan dengan jujur, tidak curi, tidak serakah. Itu namanya Nafsu yang teratur dan terukur.

    Nalar kita berperan untuk pikir dan putuskan buat apa saja yang baik, benar dan berguna untuk kehidupan yang sedang kita jalani. Nalar  berperan pikir lurus, tidak bengkak-bengkok tipu sana tipu sini. Nalar berperan buat diri kita cerdas tidak culas.

    Naluri kita berperan untuk dorong kita hidup bersama sesama guna sama-sama pelihara diri dan sesama dalam alam ini untuk hidup sama-sama sejahtera. Peran Naluri tidak boleh dibelokkan untuk ciderai sesama, iri dan dengki pada sesama, apalagi habiskan nyawa orang lain. Itu bukan peran yang dimaksud oleh SANG PENCIPTA. Peran Naluri itu rangkul sesama, balas yang baik dengan baik, yang buruk pun dibalas dengan yang baik.

    Nurani kita berperan untuk pegang kendali supaya hidup itu baik dan benar, sayang sesama dan sembah TUHAN. Nurani berperan untuk buat diri kita teduh dan tenang dalam naungan Kasih Sang Maha Pengasih dan Penyayang.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Peran. Empat unsur dalam diri kita ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sama-sama serentak berperan menjadi peran diri pribadi kita untuk pelihara diri, pelihara sesama, manfaatkan alam, sembah TUHAN sujud PENCIPTA. Itulah peran kita masing-masing. Ganjarannya apa? Kebahagiaan baik di dunia ini maupun di akhirat.