Category: Filsafat

  • Pihak

    Pihak. Memihak. Berpihak. Pihak sebelah. Pihak sana, pihak sini. Ikut pihak mana? Hidup ini membuat diri kita manusia terombang-ambing antara dua pihak. Tidak pernah ada satu manusia pun yang tidak berpihak. Selalu hidup dalam berpihak. Hanya ada dua pihak. Pihak yang baik atau pihak yang buruk. Ini saja. Tiap kita, ada di pihak yang baik atau di pihak yang buruk.

    Pihak. Pribadi yang berpihak pada yang baik, disebut manusia baik. Pribadi yang berpihak pada yang buruk, dikelompokkan sebagai pribadi buruk atau jahat. Hanya itu saja, baik atau buruk. Ini tergantung pada dorongan dari empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pihak. Nafsu kita selalu mendorong untuk menyukai hal, barang atau orang tertentu. Kalau itu yang baik, maka diri kita waktu itu ada di pihak yang baik. Kalau buruk, dan kita mau yang buruk itu, maka dengan sendirinya  kita di pihak yang buruk.

    Pihak. Nalar kita selalu juga mendorong diri kita untuk berpikir dan timbang pilihan kita jatuh pada hal, barang atau orang yang baik atau buruk. Pilih dan putuskan pegang yang baik, berarti kita berada di pihak yang baik, kalau yang buruk, ada di pihak yang buruk.

    Pihak. Naluri kita pun tertantang selalu untuk berada di pihak mana. Yang baik atau yang buruk. Kalau sesama yang baik yang kita pilih dan jadikan dia sebagai teman, maka pada waktu itu kita di pihak yang baik. Kalau yang kita pilih itu teman yang buruk, kita sedang berada di pihak yang buruk.

    Pihak. Nurani kita ini menentukan. Kalau Nafsu + Nalar + Naluri sudah berada di pihak yang baik, maka Nurani kita bergembira karena diri kita masuk di pihak orang yang baik. TUHAN mau yang itu. Kalau tiga unsur dalam diri kita itu pilih yang buruk, maka diri kita sedang berada di pihak yang buruk dan kita dikenal sebagai orang yang buruk atau dengan kata lain, orang jahat.

    Pihak. Harus pilih yang baik supaya kita jadi orang baik. TUHAN, PENCIPTA kita itu Mahabaik, maka kita wajib pikir yang baik, omong yang baik, buat yang baik, dan jadilah orang yang baik di hadapan sesama dan dengan sendirinya di hadapan TUHAN. Genaplah tujuan kita berada di dunia ini sesuai dengan Kehendak PENCIPTA kita, jadi orang baik yang sedang berada di pihak yang baik.

  • Saat

    Saat itu sekarang. Saat itu terus berlalu. Tidak ada satu orang pun yang dapat menghentikan atau menunda saat.  Juga tidak ada satu pribadi pun di antara kita manusia ini yang mampu memperpendek atau memperpanjang saat. Saat yah saat, tiba dan lewat. Tidak bisa diulang. Saat tidak berulang. Saat ada awalnya. Ada akhirnya. Kita manusia ini, sejak saat kita ada baik sebagai makhluk  ciptaan umum maupun secara pribadi dalam kandungan ibu, kita ada dalam saat. Hidup kita ini rentetan saat demi saat.

    Saat. Nafsu kita membuat diri kita  menanti dan mengalami saat yang dinanti. Saat yang menyenangkan, harapan Nafsu kita terpenuhi. Saat yang menyedihkan, Nafsu kita kecewa dan maunya cepat berlalu. Nalar kita manusia mempertimbangkan saat yang baik untuk diri kita. Saat yang dirindu itu tiba, Nalar kita berteriak gembira membuat diri kita loncat kegirangan.  Naluri kita pun selalu berada dalam penantian dan pelampiasan rasa suka atau duka atas kebersamaan diri dengan sesama, siapa pun dia. Saat bertemu dengan orang yang disayangi, diri kita terhanyut dalam rasa puas. Saat berpapasan dengan orang yang tidak diharapkan, Naluri kita kaget dan kecewa. Nurani kita tenang tenteram saat berteduh diri dalam keheningan. Saat teduh tenang itu membuat Nurani kita turut teduh dan bahagia. Perpaduan kegiatan  empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani membuat diri kita terbuai ria kalau saat yang dialami itu indah. Sebaliknya, empat unsur dalam diri kita ini akan membuat diri kita  bermuram durja kalau saat yang dialami itu pahit penuh kegetiran. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Saat. Hidup kita manusia ini beranjak dari saat ke saat. Tidak meloncat, tapi melangkah. Saat tidur pun saraf otak kita bekerja dan ada mimpi yang sempat diingat dan membuat diri kita terhibur oleh mimpi yang indah atau cemas oleh mimpi yang buruk. Itu semua gambaran tentang saat demi saat dalam jejak langkah hidup kita. Timbul pertanyaan, siapa yang atur saat yang kita bicarakan ini? Pertanyaan ini tidak layak untuk ditanyakan karena saat itu diatur oleh TUHAN sendiri. Tidak ada yang lain. Kita hidup dalam TUHAN dan saat itu adalah penyelenggaraan TUHAN. Saat itu adalah anugerah sebagai kesempatan untuk kita hidup, hidupi diri dan bantu sesama untuk sama-sama hidup dari saat ke saat. Karena saat itu milik TUHAN, maka sangat wajar kalau kita syukuri anugerah TUHAN ini dari saat ke saat.

  • Kumpul

    KUMPUL

    Kumpul. Uang, Ilmu, Orang, Berkat. Ini  empat hal yang selalu kita manusia kumpul tiap hari. Uang itu Nafsu. Ilmu itu Nalar. Orang itu Naluri. Berkat itu Nurani. Keempat ini satu. Tak terpisahkan. Tidak bisa hidup tanpa yang satu dipadukan dengan yang lain. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kumpul. Uang. Kumpul uang itu wajar dan harus. Ini dorongan Nafsu yang wajar dan sah. Pemulung kumpul sampah dan dalam sampah dia lihat uang. Tidak hina. Nelayan lihat uang dalam laut. Petani lihat uang dalam lumpur di tengah sawah. Guru lihat uang di mata murid. Di mata guru murid lihat uang yang akan datang. Pegawai kantor lihat uang di laci meja. Bankir simpan uang dalam brankas. Uang dan uang. Ibu-ibu lihat uang dalam kompor dan bokor. Untuk kumpul uang ini Nafsu menggebu-gebu. Perlu ada rem, kendali. Kumpul uang atas cara yang wajar, baik dan benar. Kumpul sampai sendiri tidak bisa hitung dan bingung dengan jumlah berapa banyak, terlalu. Itu uang bekin celaka, malapetaka menanti. Uang harus jadi kerabat bukan keparat. Bunyi dentingan uang logam dan desisan uang kertas harus jadi merdu dan sejuk di telinga dan hati.

    Kumpul. Ilmu. Harus. Belajar dan banyak berjalan. Ini karya Nalar. Nalar itu siap untuk kumpul pengetahuan dan pengalaman. Tiru orang lain yang berhasil. Semakin terampil semakin berhasil. Ilmu memampukan seseorang untuk menghasilkan uang. Ilmu itu bakal menambah pengetahuan dan pengalaman.

    Kumpul. Orang. Kumpul orang sambil berkumpul dengan orang lain. Ini karya Naluri. Tidak mungkin seorang diri buat segala hal. Perlu orang lain. Guru perlu murid. Murid butuh guru. Saling membutuhkan. Maka berkumpullah orang-orang yang dikenal dengan nama sekolah. Kumpul asal kumpul tidak berguna. Setiap orang dengan bakat dan kemampuannya mencari sesama untuk sama-sama kumpul tenaga, dana dan waktu untuk sama-sama hidup. Kumpul orang harus dengan tujuan luhur, saling menghidupkan. Kumpul orang untuk kejahatan, itu namanya komplotan, gerombolan. Harus kumpul orang jadi rombongan yang terpadu dan terhormat demi tujuan yang luhur.

    Kumpul. Berkat. Kalau kumpul harta, kumpul ilmu, kumpul orang lalu tidak kumpuil berkat, semuanya percuma, sia-sia. Dari mana dan dari siapa berkat itu didapat untuk dikumpul? Hanya hati yang tumpul dan keras membatu serta otak yang beku kaku saja yang bertanya tentang asal usul berkat. Nurani menyatakan dengan jelas bahwa berkat itu hanya dari atas, dari TUHAN. Uang, ilmu dan orang harus dikumpul dalam rangka kumpul berkat. Muncul pertanyaan. Bagaimana supaya uang, ilmu dan orang itu terkumpul lalu berkat ikut terkumpul? Kuncinya, kesadaran. Sadar bahwa semua yang ada ini Pemiliknya hanya Satu, TUHAN. Tanpa kesadaran ini, manusia bukan manusia.

    Kumpul. Kumpul empat hal ini serentak: uang +  ilmu + orang + berkat. Dalam empat hal ini ada nilai sementara dan abadi. Uang, ilmu, orang dalam arti pribadi-pribai manusia, ada nilai sejauh itu dikaitkan dengan berkat yang dimanfaatkan untuk menolong diri dan sesama. Itu semua untuk sama-sama semakin sadar akan adanya Yang Maha Agung, Sang Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, termasuk diri kita manusia. Kumpul segala-galanya dalam Dia, demi Dia, untuk Dia.

     

  • Siap

    SIAP

    Siap. Ini ucapan yang lazim di kalangan militer. Apa pun perintah atasan, dibalas, siap. Kalau tidak siap, waktu dipanggil, huru-hara, raba sana raba sini, bingung, panik. Hidup ini tidak boleh begitu. Harus tetap siap. Siap untuk apa? Untuk akhiri. Ngeri sekali. Tidak. Bekerja seolah akan hidup ratusan tahun, berdoa seolah sebentar akan mati. Ini bukan sikap orang yang putus asa. Tidak. Kaki injak bumi, tangan jangkau langit. Itu yang namanya siap.

    Siap. Siap itu bukan sekedar siap-siap tanpa tahu pasti kapan dipanggil. Itu yang namanya siap asal-asalan. Hidup tidak bisa hanya sekedar hidup. Kita bukan serpihan bunga kapok randu yang habis pecah lepas dari polongnya dan bebas dihembus angin tak tentu ke mana arahnya. Kita jelas dari mana dan mau ke mana. Siap dan tetap siap.

    Siap. Caranya? Berdiri tegak pada posisi di mana berada. Lihat kiri-kanan, muka-belakang, lalu maju langkah demi langkah. Sebagai petani, yah, bergaul dengan lumpur, benih dan panen. Sebagai prajurit, siap panggul senjata bela tanah air. Sebagai guru, siap bahan ajar dan ajar sesuai apa yang harus diketahui oleh pelajar dari berbagai jenjang usia. Sebagai pejabat pemerintah, siap perintah rakyat untuk semakin sejahtera. Sebagai tukang siap campur semen sesuai takaran yang benar. Sebagai pedagang, siap atur dacing tanpa main anak timbangan. Ini yang namanya siap.

    Siap. Untuk yang benar-benar siap itu, sederhana sekali. Kita manusia ini tiap pribadi dilengkapi dengan empat unsur. Pertama, Nafsu. Siap makan untuk sehat. Atur nafsu makan. Jangan terkulai karena kekenyangan. Kedua, Nalar. Siap pecahkan setiap masalah dan cari jalan keluar yang benar dan baik. Jangan berbelit-belit dan berkelit pikir lain, omong lain buat lain. Ketiga, Naluri. Ingat ada sesama, mulai dari rumah sampai riuh ramai hiruk pikuknya orang di pasar. Kendali diri untuk atur diri untuk tidak jadi gangguan bagi orang lain tapi jadi tumpuan kaki bagi diri dan sesama. Keempat, Nurani. Di sana ada sempritan ibarat wasit. Dengar bunyi untuk mulai dan akhiri pertandingan. Dengar bunyi tiupan, salah langkah, stop. Bunyi lagi, lanjutkan dengan tertip sampai finis. Inilah peran empat unsur dalam diri kita untuk hidup siap dari saat ke saat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Siap. TUHAN beri kita hidup dengan segala perlengkapan untuk tetap siap bila dipanggil pulang.

     

  • Singkat

    SINGKAT

    Singkat. Usia alam semesta, kira-kira lima belas miliar tahun. Usia bumi, sekitar empat setengah milliar tahun. Umur kita manusia? Menurut studi para ahli, rata-rata maksimal usia manusia seratus lima puluh tahun. Singkat. Ternyata umur kita manusia ini singkat dibandingkan dengan usia ciptaan lain, seperti alam semesta dan bumi yang hitungannya miliaran tahun.

    Singkat. Usia kita manusia ini singkat kalau dibanding-banding dengan yang lain. Tapi TUHAN beri usia kita itu pas-pas. Tergantung dari kita masing-masing untuk memaknai tiap detik usia kita. Nafsu menggebu-gebu untuk memperoleh segala-galanya. Harus tahu batas. Nalar mengambang ke sana-sini untuk alami dan tahu semua hal. Padahal tidak mungkinl. Naluri meledak-ledak untuk merangkul semua pengagum. Tapi usia membuat wajah keriput dan lutut bertekuk. Nurani memohon TUHAN perpanjang usia tapi TUHAN hanya beri waktu yang sangat terbatas.

    Singkat. Usia yang singkat inilah yang sering kita kurang peduli. Kumpul harta untuk tujuh tururan. Ini dorongan nafsu yang lewat batas.Cari ilmu untuk selami lautan dan jelajah angkasa. Ini angan-angan nalar yang melayang-layang. Rangkul sesama cari pengaruh. Pamer pamor biar dengan cara licik. Ini arah naluri yang kurang tahu malu. Sembahyang bersujud berlutut sampai tiarap tanpa hiraukan nasib sesama. Ini desakan nurani yang sudah tumpul keras membatu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Singkat. Seharusnya setiap diri kita manusia ini sadar bahwa usia kita itu bukan ditentukan oleh diri kita sesuka hati. Siang senang-senang makan-minum, malam terbaring kaku. Anak dalam kandungan  sudah disiapkan segala kelengkapan sampai nama pun sudah dipilih. Sayang, lahir mati. Ini semua gambaran buram tentang usia kita yang tidak tentu.

    Singkat. Karena usia yang singkat itulah maka setiap kita, saya, anda, dia, kita, siap rangkul sesama, sujudi TUHAN. Di mana sulitnya? Nafsu dikendalikan. Nalar diarahkan. Naluri ditenangkan. Nurani dijernihkan. TUHAN mau yang begini ini. Hidup kita biar singkat namun padat isi, sarat makna.

  • Puas

    PUAS

    Puas.  Kita manusia tidak pernah puas. Itu karena oleh Pencipta kita diciptakan demikian untuk tidak pernah puas. Dalam diri kita masing-masing Tuhan tempatkan empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani (4N, Kwadran Bele, 2011). Nafsu yang mendorong diri kita untuk nikmati ini lalu itu dan terus mau dan mau. Nalar kita menuntun untuk alami segala macam hal sejauh kita mau dan mampu. Naluri kita cenderung mengejar terus apa saja dan siapa saja untuk merasa puas. Nurani kita pun terus berbisik untuk kejar sesuatu sampai puas.

    Puas. Kalau tidak pernah puas, maka kapan baru kita manusia alami yang namanya puas. Puas akan terjadi kalau kita sudah senang. Senang itu hasil usaha Nafsu kita. Kalau sudah senang, Nalar kita terus membuka cakrawala baru untuk kejar terus segala kemungkinan untuk puas dan lebih puas lagi. Dan hasil dari Nalar ini ialah gembira. Pengetahuan baru, pengalaman baru membuat diri kita gembira. Karena gembira, kita puas. Tapi Naluri kita masih menunjuk ke arah yang baru dan mendorong diri kita untuk kejar dan terus kejar supaya dapat dan lebih puas.

    Puas. Puas itu terjadi sesudah ada rasa senang dan gembira. Jadi ada tiga wajah, senang, gembira dan puas. Tiga ini saja tidak cukup. Masih kurang. Kurang apa? Tanya pada Nurani. Tiga rasa ini sumbernya dari mana? Dari diri kita manusia sendiri? Tidak. Kalau ada dalam diri kita sendiri, maka apa gunanya dicari, diupayakan lalu diperoleh? Berarti ada di luar diri kita. Nah, di mana? Nurani menjawab, sumber senang, gembira, puas itu ada dalam DIRI TUHAN, Sumber, asal dan tujuan hidup kita di dunia ini. Maka senang, gembira, puas itu kalau terjadi karena diri kita manusia mengupayakan sesuai dengan Kehendak Pencipta yaitu, mengasihi dan sesama secara jujur, tulus, maka kita akan merasa bahagia. Lengkaplah hidup kita. Senang, Gembira, Puas, Bahagia. Ini yang kita nikmati di dunia ini dan berlanjut di akhirat.

  • Barang berteriak

    Barang berteriak. Barang apa? Segala macam barang. Di dunia ini segala barang itu ada tuannya. Hutan, laut, udara, binatang. Semua itu ada tuannya. Tidak ada yang liar. Tidak ada yang tak bertuan. Siapa tuannya? Yah, kita manusia ini. Siapa lagi kalau bukan kita manusia. Lalu kita manusia, siapa punya, siapa tuan kita? Ah, ini pertanyaan angkuh. Kita manusia ini tuan kita itu, TUHAN. Maka, ada tiga lapis: TUHAN itu lapis pertama, paling atas, Tuan atas segala sesuatu. Kita manusia, lapis kedua, tuan atas diri dan semua barang yang lain. Lapis ketiga, hewan. Mereka tuan atas tempat mereka hidup. Ikan tuan atas laut. Harimau tuan atas hutan. Monyet tuan atas pohon-pohon di mana mereka bergantung. Burung-burung tuan atas sarang mereka. Tiga lapis inilah tuan atas semua barang yang kelihatan dan tak kelihatan. Tuan punya tugas, jaga barang-barang itu dan manfaatkan secara baik dan benar. Kita manusia sadar bahwa kita punya Tuan itu TUHAN, maka tidak ada kata lain selain sembah sujud TUHAN karena sudah bermurah hati beri segala sesuatu untuk kita manusia lalu suruh kita untuk jaga dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan kita manusia.

    Barang berteriak. Teriak ada dua macam. Teriak gembira atau teriak ketakutan. Kalau diperlakukan secara baik dan benar, maka barang itu teriak kegirangan. Tanaman yang kita tanam di kebun kita. Kalau kita rawat, kita pangkas, maka tanaman itu teriak kegirangan dalam bentuk tumbuh menghijau dan menghasilkan buah. Hewan piaraan, kalau kita beri makan dan minum pada waktunya, mereka kegirangan dan teriak puas lalu teriak lagi kalau mereka lapar dan haus. Kita manusia juga teriak kegirangan karena dapat rezeki dan teriak ketakutan kalau kita dipersulit dalam bentuk apa pun saja, entah dalam bentuk kata-kata hinaan atau tindakan pelecehan.

    Barang berteriak. Orang Romawi ratusan tahun sebelum Masehi sudah ada ungkapan bijak dalam bahasa Latin, “Res Clamat Dominum“, artinya, “Barang teriak kepada tuannya”. Teriak atau menangis, mengerang, meringis, mengaduh malah meratap, mohon perlindungan,  mohon belas kasih, mencari selamat.  Kita manusia tuan atas alam. Kalau garap alam untuk yang baik, rintihan mereka itu rintihan yang baik seperti ibu bersalin yang teriak  sepintas lalu lahirlah bayi. Tapi kalau kita garap alam sesuka hati, bakar hutan, kotorkan udara, maka alam itu teriak kesakitan dan teriaknya itu sampai kepada SANG PEMILIK, TUHAN.

    Barang teriak. Kita manusia ada NAFSU untuk manfaatkan alam. Pakai baik-baik, teratur dan terukur. Alam teriak untuk baik. Kita ada NALAR supaya pakai akal, ilmu dan pengalaman untuk atur dan pakai alam ini dengan benar. Kita ada NALURI untuk perhatikan sesama dan alam sekitar supaya sama-sama aman dan nyaman, tidak teriak histeris mengerang kesakitan. Kita ada NURANI untuk bertanggung-jawab kepada TUHAN, Tuan segala tuan. (4N, Kwadran Bele, 2011). Ayo, mari kita teriak kegirangan puji Sang PENCIPTA.

  • Mau bahagia

     

    Mau bahagia. Merawat diri, mengurus kesehatan termasuk proses pencaharian keadaan bahagia.  Setiap kita manusia ini mau bahagia. Orang gila pun merasa bahagia dengan yang kita lain anggap itu gila. Mau bahagia  karena ada dorongan Nafsu dalam diri kita untuk bahagia dalam arti senang, gembira, puas dan damai. Semua upaya Nalar kita itu mengarah kepada pencaharian pengethuan baru dan menghimpun pengalaman untuk menjadi jalan menuju bahagia. Naluri kita mendorong kita untuk bahagia itu tidak sendiri, harus dengan sesama jauh dan dekat. Nurani kita langsung menyambut maunya kita bahagia itu dengan menunjuk pada sumber Bahagia Abadi, TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mau bahagia. Makan enak berlebihan adalah dorongan Nafsu yang keliru campur serakah dalam mau bahagia. Tipu-tipu sesama, main otak sana-sini adalah cara cari bahagia yang khilaf dari Nalar yang dikelabui oleh Nafsu yang menyimpang. Ajak sesama untuk pikir bengkok, omong kotor, buat curang, lalaikan tugas adalah juga cara cari bahagia yang memelintir karya Nafsu + Nalar + Naluri. Langsung Nurani menangis terseduh-sedan karena si Manusia sudah salah arah dalam menggerakkan Nafsu + Nalar + Naluri. Lengkaplah diri manusia, jauh dari bahagia karena Nafsu telanjur, Nalar takabur, Naluri membuyar, Nurani  terpencar. Mau bahagia tahu-tahu jadi bahaya.

    Mau bahagia. Setiap manusia mulai dari janin mau bahagia sehingga janin rasa nyaman dalam kandungan sang Bunda tersayang. Ini karya TUHAN Yang memang mau setiap kita itu bahagia. Heran bahwa diri kita ada yang mau bahagia dengan jalan dan cara yang curang coreng moreng, sikut sana suntik sini, buat polusi bukan hanya udara tapi seluruh suasana hidup. Ampun.

    Mau bahagia. Ayoooo, sama-sama serentak wujud-nyatakan mau itu satu-satunya, bahagia. TUHAN mau kita bahagia, mengapa tidak ikut yang TUHAN mau itu?

  • Lebih

    Lebih. Siapa yang lebih di dunia ini? Lebih tua, ada. Lebih gemuk, ada. Lebih kaya, ada. Itu ukuran yang biasa kita pakai untuk ukur diri dan sesama. Banding-banding. Banding diri dengan sesama. Banding sesama dengan diri. Tidak habis-habisnya banding-membanding ini. Kalau di sana lebih, di sini bilang kurang. Kurang lebih. Lebih kurang. Hidup kita jadi kacau ditambah balau lagi galau karena banding-banding ini. Akibatnya, lomba. Siapa lebih.

    Lebih. Ungkapan ini muncul karena diri lihat pada orang lain dan kurang lihat diri. Dalam diri setiap kita manusia itu TUHAN berikan secara cuma-cuma, gratis, empat unsur:  Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Dengan Nafsu kita manusia diberi kemampuan untuk lebih sehat, lebih baik dari hari ke hari. Dengan Nalar kita dimampukan untuk pikir dan alami hal-hal yang lebih benar, lebih berguna. Dengan Naluri kita manusia diberi peluang untuk lebih akrab dengan sesama, lebih  hargai, lebih sayang. Dengan Nurani kita yang diciptakan setiap orang atas dasar Kasih dari Yang Mahakasih itu untuk lebih kasihi DIA dalam tindak-tanduk kasihi diri dan sesama. (4N, Kwadran Bele, 2011). Lebih itu adalah ukuran untuk lebih dalam hal ini, lebih baik dalam diri sesuai tujuan DIA ciptakan diri kita. Bukan lihat kiri-kanan dan banding-banding dia lebih ini, lebih itu, dan saya kurang ini kurang itu.

    Lebih. TUHAN tidak kasihi lebih yang satu dari yang lain. Bagi TUHAN, tidak ada anak mas anak perunggu, anak kandung anak angkat. Setiap diri kita, saya, anda, dia, sama-sama anak, tidak lebih tidak kurang. Ini kebenaran dan siap terima. Kalau mau selidiki, silahkan, tapi pasti buntu. Jadi silahkan jalan atau lari, gerak tanpa henti, ke depan, dan bukan uji jalan atau lomba lari, tapi hidup demi hidup yang lebih hidup mengarah ke DIA, Sumber HIDUP itu sendiri.

     

  • Jamah

    JAMAH

    Jamah. Pegang, sentuh tidak sama dengan jamah. Jamah itu sentuh dan pegang diri sesama dengan rasa. Jamah juga sentuh sesama dengan sengaja secara seksama. Dokter jamah orang sakit. Itu tidak sebatas pegang atau sentuh. Jamah itu diri dengan diri yang berpadu. Jamah tidak selalu dengan tangan. Jamah bisa dengan mata, bisa dengan tangan, malah bisa dengan seluruh tubuh terutama hati. Jamah itu darah yang mengalir dari pribadi yang satu ke  pribadi yang lain.

    Jamah. Nafsu mengingini gelang milik sesama jamah  pergelangan tangan pemiliknya dengan mesrah. Nalar mengagumi karya lukis seseorang jamah pelukisnya sampai memeluk dengan erat penuh kagum pada sang pelukis. Naluri menerima sapaan sesama mendekap relung dada sesama sambil menjamah merambah lekuk pipi sesama itu sepuas-puasnya tanpa mau lepas. Nurani meresap kasih sesama lewat sejuk kalbu yang jamah relung terdalam telaga hati sesama. Inilah jamah- menjamah antara dua pribadi yang luluh dalam rindu dan berpadu dalam lugu. Jamah- menjamah antara empat unsur, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dari dua pribadi yang ada bersama di persada bumi ini yang membuat manusia itu sama dan satu tanpa bedakan asal dan usul, derajat dan pangkat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jamah. Saya, anda, dia, kita saling jamah-menjamah sekian sampai hilang makna dari kata kamu dan mereka berupa jarak yang membentang memisah-jauhkan satu manusia dengan manusia yang lain. Ternyata kenyataan jamah-menjamah antar kita yang sama-sama manusia ini hanyalah percikan dari jamahan jemari dari DIA, PENCIPTA kita. Di mana lagi jarak antara saya dan anda kalau DIA sudah jamah berdua kita dengan ramah melimpah menelusuri sekujur diri kita?