Category: Filsafat

  • Nelayan

    Nelayan, Petani, Peternak, itu tiga manusia yang memberi makan kepada semua manusia di dunia ini. Nelayan siap ikan. Petani siap nasi. Peternak siap daging. Lengkaplah menu harian untuk manusia. Nelayan itu cari ikan atau ikan cari nelayan, tidak ada yang tahu persis. Keduanya baku cari. Ini kearifan yang sulit diselami.

    Nelayan ada Nafsu untuk cari dan tangkap ikan. Laut adalah medan hidup nelayan. Nelayan dan laut itu satu. Nelayan tak mungkin tanpa laut. Laut pun tak bisa dipisahkan dari neayan. Laut tenang, nelayan senang. Laut bergelora, nelayan galau. Ikan jadi pemersatu antara laut dan nelayan. Berjenis-jenis binatang laut akrab dengn nelayan. Nelayan mengenal begitu banyak biota laut sesuai alam laut, tropis, sub-tropis atau kutub.

    Nelayan ada Nalar untuk duga gelagat laut. Di mana dan kapan ikan bergurau menanti datangnya nelayan, sudah ada dalam peta Nalar nelayan. Dugaan nelayan jarang meleset. Sepertinya ikan dan nelayan sudah ikat janji untuk bertemu. Berbagai alat disiapkan nelayan dan ikan menyerah untuk ditangkap. Ini semua karya Nalar si nelayan.

    Nelayan ada Naluri untuk menyapa dan disapa oleh berbagai jenis penghuni laut. Begitu akrabnya nelayan dengan ikan-ikan sampai ikan-ikan kalau ditangkap, menggelepar menyapa nelayan sambil memercikkan sejuknya air laut ke pipi nelayan dan menjabat tangan nelayan dengan sirip dan ekor yang dikebas sesuai irama deburan ombak memecah di pantai.

    Nelayan ada Nurani untuk mendekap ikan yang menggelepar dan membisikkan suara sendu dari bathin untuk membujuk sang ikan tenang dan lelap dalam perahu yang sedang didayung. Nelayan menatap langit dan berseru kepada Sang Pencipta mohon selamat tiba di pantai sambil bersyukur bahwa sejumlah ikan sudah siap untuk disantap.

    Empat unsur dalam dalam diri pribadi sang nelayan, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI, menyatu berpadu dengan laut dan penghuni laut. (4N, Kwadran Bele, 2011). Itulah nelayan, kembaran petani dan peternak, kembar tiga, pencari dan pemberi nafkah untuk diri dan sesama dalam alam ciptaan TUHAN.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Ramah dan Marah

    Ramah dan Marah. Dua kata yang terdiri dari lima huruf yang sama. Tukar tempat. Artinya jadi lain sama sekali. Ini satu keunikan bahasa kita, bahasa Indonesia. Nafsu disalurkan dengan dua cara, ramah atau marah. Nalar mengolah maksud dan tujuan dua kata ini, ramah atau marah untuk apa? Naluri tergerak oleh dua pilihan, marah atau ramah. Hasilnya beda, marah ada musuh. Ramah, ada kawan. Nurani langsung bisik, untuk apa marah, untuk apa ramah? Jangan marah. Ini perintah dari Nurani.

    Kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia ini mengolah dua kata menjadi kesibukan tersendiri dalam diri kita. Marah membuat seluruh tubuh kita terbawa terpaan sumpah dan serapah. Ramah meneduhkan diri kita dalam keheningan yang bening penuh kesejukan.

    Ramah dan marah tidak tercampur. Saat ramah, yah, ramah. Wajah menjadi lembut selembut kapas. Pipi memerah laksana delima. Sesama sekitar turut teduh dan tenang. Saat marah, yah, marah. Tidak pernah serentak marah dan ramah. Tidak mungkin. Lebih sering ramah dan kurang marah membuat diri kita manusia jadi jinak dan mudah dielus. Yang mengelus terbius rasa manisnya hidup. Yang terelus terhanyut oleh sejuknya air telaga teduh kehidupan.

    Saat marah, suara jadi parau, dada terasa sesak, rambut pun ikut berdiri seperti duri landak. Insan yang marah jadi buas, mata menyala, bibir gemetar kaki terhentak siap menerjang. Aneh. Manusia makhluk mulia lenyap kemuliaannya kalau sedang marah.

    Empat unsur dalam diri kita manusia:NAFSU +  NALAR + NALURI  + NURANI harus dikendali sekian sehingga yang muncul itu, ramah. (4 N, Kwadran Bele, 2011).  Kalau empatnya seimbang, maka pasti ramah yang muncul. Kalau salah satunya terlanjur terjulur terlalu keluar, pastilah marah yang menggelegar.

    Tuhan Pencipta kita mau yang seimbang antara empat unsur itu sehingga yang nampak, ramah dari saat ke saat sampai pada akhir hayat pun di wajah tetap tersungging senyum dan terpancar aroma ramah.

  • Serap dan Resap

    Serap dan resap. Dua kata yang sederhana kaya makna. Serap itu tindakan. Resap juga tindakan. Tanah serap air. Air meresap ke tanah.

    Saya serap ilmu. Ilmu meresap dalam diri saya. Lebih dahulu serap baru resap. Tanah serap air yang meresap. Saya meresapkan ilmu yang saya serap. Serap resap. Itu urutan tindakannya. Tidak terbalik, resap serap. Serap apa yang diresap. Bukan resap  apa yang diserap. Saya serap baru resap. Mengapa dua kata ini dibolak-balik sekian sampai begitu merepotkan?

    Nafsu manusia serap sekian banyak keinginan. Nalar manusia serap begitu banyak pengetahuan dan pengalaman. Naluri manusia serap manis-pahitnya pergaulan. Nurani manusia serap damai dan galaunya rasa. Semuanya itu meresap dalam diri kita manusia. Terlebur menyatu menjadi diri yang bertumbuh dari saat ke saat. Inilah urutan tindakan serap ke resap yang membuat diri kita manusia tak pernah berhenti bergerak sampai nafas terakhir terhembus. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia tidak mungkin  resap segala sesuatu dari luar dirinya tanpa lebih dahulu ia serap. Kita resap dalam diri kita apa yang kita serap. Tak pernah mungkin kita serap apa yang tidak kita resap. Serap membutuhkan kegiatan. Resap dengan sendirinya terjadi tanpa diatur. Serap diatur. Resap tidak. Di sinilah letaknya akibat baik atau buruk dari penampilan diri kita sebagai hasil dari apa yang kita serap lalu meresap tanpa kita kendali lagi.

    Serap membutuhkan kehendak bebas. Bisa pilih apa yang mau diserap. Resap tidak lagi dapat dikontrol. Dengan sendirinya apa yang kita serap itu meresap dalam diri kita. Nafsu kalau resap yang baik maka dalam diri kita akan menyerap hal yang baik dan membuat diri kita orang baik. Nalar kalau resap pengetahuan dan pengalaman yang baik maka dalam diri kita akan menyerap segala yang baik itu. Naluri kita kalau meresapkan tawa-ria maka seluruh diri kita terbawa terbang oleh tawa-ria yang terserap. Nurani kita pun turut meresap segala kebaikan yang selanjutnya terserap sebagai harta yang baik dan menampilkan diri kita sebagai orang baik.

    Kita hidup ini meresap kehidupan yang dicurahkan Pencipta ke dalam tubuh yang terbentuk sejak jadinya diri kita dalam rahim sang ibu yang bersatu dengan sang ayah. Kehidupan yang kita resap itulah yang terserap dalam diri kita sejak awal sampai akhir hidup kita. Waktu dalam rahim ibu, kita meresap apa yang sang ibu resap. Dan itu terserap. Itulah yang kita namakan warisan atau pembawaan. Pembawaan adalah serapan dari apa yang kita serap dari segala yang terserap dalam diri ibu yang sudah serap dari luar dirinya. Diri kita adalah hasil serapan buah perpaduan antara benih ayah dan ibu.  Maka yang kita serap itu perpaduan ini. Dalam rahim ibu kita pun sudah diberi kemampuan untuk serap segala yang disalurkan Pencipta lewat ibu dan ayah kita dan semuanya ini meresap dalam diri kita.

    Kita hidup ini serap kebaikan Pencipta yang kita sebut Rahmat. Rahmat itu teresap dalam diri kita. Nikmati yang baik hasil resapan dari Nafsu yang merepas yang baik. Pikiran yang baik hasil Nalar yang menyerap yang benar. Keakraban adalah hasil Naluri yang menyerap pergaulan dengan sesama yang baik. Rasa tenteram dan damai hasil Nurani yang menyerap segala yang tenteram dan damai.

    Hidup ini serap dan resap Rahmat dari Pencipta.

  • Sahabat

     

    Sahabat. Ada tiga kata lain: teman, rekan, kawan. Empat kata ini mempunyai makna yang berbeda. Dari sudut filsafat kepribadian ‘Kwadran Bele’, empat kata ini ditempatkan  dalam empat unsur yang berbeda. Teman itu berkaitan dengan Nafsu. Kawan dengan Nalar. Rekan dengan Naluri. Sahabat dengan Nurani. Mengapa demikian?

     

    Nafsu melahirkan teman. Ada dorongan untuk mencari kesenangan, ketenangan. Teman main, teman seperjalanan. Teman kelas. Ini daya ikatnya sangat sementara. Tujuan tercapai, habislah usia pertemanan.

     

    Nalar memunculkan kawan. Usia hubungan kawan dengan kawan berlangsung lebih lama dari pada teman. Pengalaman dan pengetahuan diperoleh lewat hubungan kawan dengan kawan. Pengalaman dan pengetahuan diperoleh, kawan lama ditinggalkan diganti dengan kawan baru. Kawan itu silih berganti sesuai dengan pencapaian pengetahuan dan pengalaman.

     

    Naluri menggandeng rekan. Untuk bertahan hidup, perlu rekan. Mata pencaharian dicari dengan ditekuni antara rekan dengan rekan. Perusahaan besar dan kecil membutuhkan rekan. Muncullah istilah rekan kerja. Usia kerekanan bertahan lama sesuai dengan usaha yang digeluti.

    Nurani memantapkan sahabat. Sesama menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Sahabat lama tetap dicari dan dikenang. Sahabat dengan sahabat menjadi sekian erat sampai sedih sama sedih, ria sama ria.

    Empat istilah ini: teman, kawan, rekan dan sahabat, bisa diklasifikasikan atas lamanya dan intensitasnya, tapi keberadaannya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Empat jalinan antara sesama ini menyatu dalam diri setiap pribadi. Nafsu – Teman, Nalar – Kawan, Naluri – Rekan, Nurani – Sahabat merupakan unsur-unsur yang terpadu dalam diri manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Setiap kita manusia erat terjalin padu satu sama lain oleh empat ikatan ini. Murninya persahabatan dieratkan oleh pertemanan, perkawanan dan kerekanan.

    Tuhan Pencipta kita mengarahkan diri kita manusia untuk menjadi teman, kawan, rekan dan sahabat satu dengan yang lain. Empat segi keterikatan ini yang menyatukan kita manusia tanpa ada batas entah tempat atau waktu.

  • Sebar

    Sebar. Sebarkan. Ada penyebar. Menyebar. Tersebar. Apa yang tersebar? Kapan? Di mana? Untuk apa? Pengaruhnya? Ini semua rentetan pertanyaan yang membutuhkan jawaban atas kata dasar, sebar. Inilah filsafat. Jadi filsafat itu tidak muluk-muluk. Semua hal itu obyek filsafat karena semua yang terjangkau oleh akal-budi, hasil filsafat.

    Kita manusia ada Nafsu untuk mengetahui dan mengalami apa saja. Keinginan Nafsu ini diramu oleh Nalar yang mencari upaya rupa-rupa supaya tercapai maksud Nafsu itu. Lalu kita butuh orang lain karena sendiri saja, tidak mampu. Di sinilah Naluri bekerja untuk mendata siapa saja yang bisa dan harus dijangkau. Nurani mulai tergerak untuk mengawaskan, hati-hati, yang dicari ini baik atau tidak.  Inilah kerjasama secara terpadu antara empat unsur dalam diri kita manusia, 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri + Nafsu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    ‘Kwadran Bele” ini adalah gagasan dari saya. Saya sebarkan. Saya penyebar. Gagasan ini menyebar. Sekarang ini. Saya sebarkan di antara kawan-kawan yang sempat membaca tulisan ini. Pengaruhnya, saya kurang tahu, apakah baik atau tidak, karena belum ada evaluasi yang masuk. Baru sebatas apresiasi. Yang katakan jelek, belum ada. Tujuan saya sebarkan ide ‘Kwadran Bele’ ini, sederhana. Membuat filsafat itu semudah mungkin dan sebiasa mungkin sehingga tidak melambung tinggi dan menjadi sesuatu yang asing dan aneh.

    Sebarkan gagasan itu perlu empat syarat. Pertama: berani. Kedua: yakin. Ketiga: baik. Keempat: guna. Saya sebagai penyebar, berani sebarkan gagasan saya ini karena saya yakin gagasan ini baik dan berguna untuk diri dan sesama. Ini menurut saya. Belum tentu teman yang lain sependapat dengan saya. Saya berani sebarkan karena saya yakin gagasan ini baik untuk  dicerna dan dihayati bersama. Saya berani dan yakin karena gagasan yang saya sebarkan ini baik untuk mengolah ulah kita manusia sesuai hukum kodrat dan hukum yang diamanatkan Sang Pencipta. Karena berani, yakin dan baik dalam sebarkan gagasan ini maka saya tawarkan untuk digunakan dalam hidup harian.

    Seandainya saya berani sebarkan gagasan ‘Kwadran Bele’ sambil yakin bahwa gagasan itu tidak baik dan tidak berguna, maka itulah yang namanya pecundang dalam dunia filsafat. Sengaja memutar-balikkan fakta dan data lalu dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang seolah-olah benar padahal penuh dengan kesalahan dan tipu muslihat. Ampun. Kalau itu terjadi, maka saya, Anton Bele, adalah pribadi yang pernah ada dan hidup, sebagai penyebar gagasan aneh penuh kebohongan. Tidak. Ini namanya filsafat, maka terbuka untuk dibantah, dikembangkan dan disempurnakan. Tulisan kecil ini adalah pertanggung-jawaban filsafat atas tersebarnya gagasan saya tentang filsafat kepribadian manusia, ‘Kwadran Bele’. Semua kita, yang namanya manusia, diwajibkan untuk sebarkan dengan berani dan yakin untuk sebarkan apa saja yang baik dan berguna untuk hidup diri dan sesama secara benar dan baik di antara sesama manusia dalam penyelenggaraan Sang Ilahi.

    Baca: Cara Mengembalikan Penglihatan 100% tanpa Operasi/Laser
    Recommended by

     

    EDIT HAPUS

    Lihat Filsafat Selengkapnya
    BERI NILAI
    Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
    AKTUAL
    BERMANFAAT
    INSPIRATIF
    MENARIK
    MENGHIBUR
    UNIK
    Belum ada penilaian.
    Jadilah yang pertama untuk
    memberikan penilaian!
    BERI KOMENTAR

    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    KIRIM
    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

    THE SERIES
    Selengkapnya

    Cerita Seputar Rehabilitasi Narkoba

    Kiat Investasi di Usia Pensiun

    Hewan Kurban Sehat Berkualitas

    Serba-Serbi Produk Obat

    Pelajaran Dalam Perjalanan

    Mengenal Pembelajaran Berdiferensiasi

    Cerita Cinta Fiksi: LDR

    KKN di Desa yang Tak Misteri

    Kebakaran Lahan, 16 Titik Panas Tersebar Di 6 Kabupeten Dan Kota Riau
    -54215 detik yang lalu
    TAG
    humaniora

    filsafat
    TANGGAPI DENGAN ARTIKEL
    RESPONS : 0
    KONTEN SPONSOR

     

    Pembunuh Wasir Ditemukan! Minum Ini Saat Perut Kosong!

    Turunkan 18 Kg dengan Konsumsi sebelum Tidur selama Seminggu

    Wanita 55-an asal Kupang dengan Baby Face Pakai Ini sebelum Tidur

    Pemulihan Penglihatan tanpa Bedah! Cukup Coba Ini

    Ini Membersihkan Pembuluh Darah dan Menormalkan Tekanan Darah

    Tak Perlu Laser jika Mata Mulai Kabur! Ternyata Cukup Lakukan Ini
    Artikel Terkait
    Tak Perlu Laser jika Mata Mulai Kabur! Ternyata Cukup Lakukan Ini
    PR
    Sehatkan Jaringan-jaringan Mata 10x Lebih Cepat dengan Minum Ini
    PR
    Perkembangan Kacang Hijau di Tempat yang Terang dan Gelap
    Fungsi mata Anda bisa sembuh lagi, tanpa bantuan dokter!
    PR
    Tabel 2b.1 Eksplorasi Konsep Modul 2.2
    Mata Anda rabun? Оbat alami ini meningkatkan penglihatan hingga 100%
    PR
    Recommended by

    Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
    Daftar

    POPULERREKOMENDASI

    1
    Kredit Macet UMKM di Bank BUMN Boleh Dihapus, Apa Dampaknya?
    Irwan Rinaldi Sikumbang
    Dibaca 332
    2
    Pensiun Dini dan Tujuan Berinvestasi
    Stevan Manihuruk
    Dibaca 238
    3
    Mengundurkan Diri Setelah Diterima ASN PPPK (P3K), Kenapa?
    Agustian Deny Ardiansyah
    Dibaca 142
    4
    Rebo Rapi, Inisiatif Solutif Atasi Polemik Kabel Utilitas di Kota Malang
    Yy Cor Jesu
    Dibaca 116
    5
    PSBS Biak Siap Jalin Kerja Sama dengan Persis Solo
    Erenzh Pulalo
    Dibaca 115
    Selengkapnya
    NILAI TERTINGGI

    Kredit Macet UMKM di Bank BUMN Boleh Dihapus, Apa Dampaknya?
    Irwan Rinaldi Sikumbang

    Pasa Ateh Bukittinggi: Reinkarnasi Pusat Perbelanjaan Bersejarah di Era Belanja Online
    Akbar Pitopang

    Pensiun Dini dan Tujuan Berinvestasi
    Stevan Manihuruk

    Rebo Rapi, Inisiatif Solutif Atasi Polemik Kabel Utilitas di Kota Malang
    Yy Cor Jesu

    Pengalaman Memelihara Hewan Kesayangan (Bagian Ketiga)
    Roselina Tjiptadinata
    TERBARU

    Daftar Hadir Kejujuran
    RAHMAT GUNAWIJAYA
    0

    Dua Hal Berkesan dari Pengalaman Naik Kendaraan Umum di Jakarta
    Agustina Purwantini
    0

    Permasalahan Jumlah dan Persebaran Penduduk di Indonesia
    aurora kaylaputri
    0

    PG-PAUD UNJ Melatih Memanfaatkan Gawai untuk merekam perkembangan dan Belajar Anak
    Eriva Syamsiatin
    0

    Sebar
    Anton Bele
    0
    ARTIKEL UTAMA

    Cara Unik Merayakan HUT RI ke-78, Melaju Memerdekakan Diri
    Airani Listia
    125

    Pensiun Dini dan Tujuan Berinvestasi
    Stevan Manihuruk
    238

    Rebo Rapi, Inisiatif Solutif Atasi Polemik Kabel Utilitas di Kota Malang
    Yy Cor Jesu
    116

    Kredit Macet UMKM di Bank BUMN Boleh Dihapus, Apa Dampaknya?
    Irwan Rinaldi Sikumbang
    332

    Perpres Jurnalisme Berkualitas, Adu Nasib antara Jurnalis dan Kreator Konten
    Totok Siswantara
    245

    TENTANG KOMPASIANA
    PROFIL
    PERFORMA & STATISTIK
    TIM

    JARINGAN
    KGMEDIA.ID
    SYARAT DAN KETENTUAN
    DEFINISI
    KETENTUAN LAYANAN
    KETENTUAN KONTEN
    PENGGUNAAN DAN HAK CIPTA
    SANGGAHAN DAN PELAPORAN KONTEN
    KETENTUAN PERUBAHAN
    UNDANG-UNDANG ITE
    PRIVACY POLICY
    FAQ KOMPASIANA
    KONTEN
    TEKNIS DAN GANGGUAN
    TIPS DAN TUTORIAL
    BISNIS DAN KERJA SAMA
    BANTUAN
    KONTAK KAMI
    Gedung Kompas Gramedia Palmerah Barat Unit II Lantai 6, Jl. Palmerah Barat No. 29-37, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10270
    6221 536 99 200
    6221 5360678
    kompasiana@kompasiana.com
    Untuk Pengajuan Iklan Dan Kerja Sama Bisa Menghubungi:
    kerjasama@kompasiana.com
    © 2018 KOMPASIANA.COM. A SUBSIDIARY OF KG MEDIA. ALL RIGHTS RESERVED
    0
    0
    X CLOSE

     

    Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Sebar”, Klik untuk baca:
    https://www.kompasiana.com/belanto/64d1c32c4addee2ed2142a12/sebar

    Kreator: Anton Bele

     

    Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

    Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

  • Kesempatan

    Hidup ini adalah kesempatan. Ini potongan lirik lagu yang sudah cukup umum dikenal. Benar, hidup ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk apa? Yah, kesempatan untuk hidup. Hidup untuk hidup. Sang Pemberi Hidup, TUHAN, beri hidup kepada segala macam makhluk hidup di senesta ini untuk hidup dan saling menghidupi dan menghidupkan. Hidup yang penuh itu hanya dalam diri kita manusia sebagai mahkota dari segala macam ciptaan. Ini harus diakui saja dan tidak perlu dibantah.

    Kesempatan itu mempunyai tiga segi: tugas, tempat dan tempo. Tiga ‘T’. Kesempatan untuk laksanakan tugas. Ada tempatnya dan ada temponya. Atau dengan kata lain, ada kegiatan, ada waktu dan tempat. Saya gunakan tiga istilah yang agak lain, tugas + tempat + tempo, tiga T, sekedar untuk mudah diingat.

    Hidup ini kesempatan untuk hidup sebagai tujuan dari hidup itu sendiri. Dari hidup ke hidup. Untuk hidup, oleh Sumber Hidup, TUHAN, kita manusia diberi  empat unsur, yaitu: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI.

    NAFSU untuk hidup itu terdiri dari dorongan, mulai dari yang paling dasar, makan-minum sampai kepada dorongan untuk menampilkan diri sebagai satu sosok pribadi yang diberi kesempatan oleh TUHAN untuk tampilkan diri seutuhnya.

    Kita diberi NALAR untuk pertimbangkan dengan matang pakai kesempatan untuk tampilkan diri secara baik, benar dan bagus.

    NALURI diberi Sang Pencipta kepada kita untuk hidup bersama orang lain supaya pakai kesempatan sebaik-baiknya demi kebaikan bersama.

    NURANI ditempatkan TUHAN dalam diri kita untuk selalu mengawasi dan menilai semua tindak-tanduk kita dalam pakai kesempatan setiap saat itu, sesuai atau tidak dengan kehendak TUHAN.

    Inilah keterpaduan antara empat unsur dalam diri kita untuk hargai dan pakai kesempatan yang diberikan TUHAN kepada kita dalam hidup ini. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kesempatan untuk memadukan ‘tiga T’ dalam diri kita itu sepenuhnya tergantung pada kita sesuai kehendak dari Sang Pemberi Hidup. Tugas bisa terlaksana kalau ada tempat dan tempo. Kalau tempat dan tempo sudah ada lalu tidak diisi dengan tugas, maka sia-sialah kesempatan yang diberi oleh TUHAN. Tempo ada lalu tidak disediakan tempat tambah lagi tugas tidak dilaksanakan, maka tiga-tiganya menjadi kosong. Hilang tempo. Hilang tempat. Hilang kesempatan.

    Pakailah kesempatan dalam hidup ini sebaik-baiknya. Ada banyak tugas, tempat begitu luas, tempo ada. Apa yang kurang lagi dalam hidup ini.

     

     

     

  • Petani

    Petani. Dia pikir dua hal ini, tanah dan tanam. Tanah di mana, tanam apa. Dua hal ini jadi pikiran siang malam. Tanah dicari yang cocok untuk ditanami. Ini melahirkan kata, bercocok-tanam. Nafsu untuk dapat hasil mendorong petani untuk olah tanah dan tanam bibit. Nalar untuk dapat hasil yang baik, pikir dan pakai segala cara untuk bertani yang baik. Naluri untuk hidup diri dan keluarga dorong petani untuk kerjasama. Nurani petani yang tulus, selalu menengadah ke langit harap hujan dan tunduk ke tanah lihat tanaman tumbuh. Empat unsur dalam diri petani ini: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI berpadu menyatu jadi pribadi yang bersujud mencium tanah dan menatap langit, percaya dan berharap pada SANG PEMILIK langit dan bumi. Siang malam doa petani itu cuma satu, “TUHAN, berkatilah usaha saya agar bisa panen berlimpah”. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Petani sedih lihat ada orang yang buat rusak tanah dan air. Heran, kita manusia ini sering kurang sadar, kita hidup dari tanah dan air. Lalu ada yang tega rusakkan tanah, rampas tanah, kotorkan air, boros air. Kalau petani gagal, batal seluruh niat umat manusia. Ini malapetaka besar.  Sering orang melihat petani dengn sebelah mata. Ini tanda kurang sadar bahwa perutnya tergantung pada petani. Perut terisi oleh hasil keringat petani.

    Setiap manusia adalah petani. Cinta tanah, cinta air. Itulah ciri khas petani. Seorang pegawai kantor atau guru sekolah, adalah petani sejauh ia cinta tanah dan tanam apa saja, entah itu yang bisa dimakan hasilnya maupun yang cuma menghasilkan udara bersih dengan rimbunnya daun dan mekarnya bunga. Ini mata rantai usaha tani. Petani jangan hanya dikaitkan selalu dengan ladang yang luas dan sawah yang membentang. Ingat saja, tanah dan tanam. Siapa saja yang garuk tanah dan tanam sesuatu, adalah petani dalam arti yang umum.

    Petani. Gelar ini selalu dikaitkan dengan tangan kotor, kaki berlumpur, kerja kasar, diterpa terik matahari dan bermandi hujan. Bau dekil, khas petani. Harum parfum, khas kantoran. Tidak bisa dibayangkan kalau petani berhenti garap tanah dan mogok tanam. Semua kita harus jadi petani. Tanam  apa saja. Di mana saja. Tanam yang berumbi, tanam yang berbuah. Tanam yang hijau, tanam yang segar. Cinta tanah, gemar tanam. Itulah petani. Mulai kanak-kanak, suka tanam. Sampai kakek-kakek, tetap tanam. Itulah petani dalam arti umum.

    Petani dalam arti khusus? Yah, itu, bapa-ibu kita yang pagi ke sawah ladang, malam urus bibit pada musim tanam, dan himpun hasilnya di musim panen.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mata Pencaharian

    Mata pencaharian. Untuk hidup, kita manusia harus ada mata pencaharian. Dari mata pencaharian kita dapat makanan dan dapat makan. Hidup harus makan. Makan supaya hidup. Hidup untuk makan, tidak benar. Makan untuk hidup. Muncul pertanyaan. Makan apa? Dari mana? Cari. Cari makan supaya dapat makanan dan bisa makan. Inilah yang disebut mata pencaharian.

    Kita manusia ada Nafsu makan dan dengan itu terdorong untuk makan lalu kuat, sehat dan hidup berlanjut. Nalar berfungsi untuk cari daya, hasilkan makanan. Naluri mendorong kita untuk kerjasama dengan sesama untuk hasilkan makanan. Sesudah ada makanan dan bisa makan, Nurani kita berseru ria, memuji TUHAN Sang Pemberi makanan. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ( 4 N, Kwadran Bele, 2011 ).

    Mata pencaharian. Itu ungkapan untuk memahami satu jenis pencaharian untuk cari makan. Mata pencaharian yang utama dan pertama untuk menghasilkan makanan, ada tiga. Pertanian, peternakan dan perikanan. Orang yang bergelut dalam tiga jenis mata pencaharian ini: Petani, Peternak, Nelayan. Mereka tiga inilah yang melalui mata pencaharian mereka, menghasilkan makanan dan memberi makan kepada setiap manusia di dunia ini. Guru tidak menghasilkan makanan secara langsung. Guru mengajar untuk manusia bisa bertani, beternak dan melaut. Tentara tidak menghasilkan makanan. Dia menjaga keamanan agar tiga orang ini bekerja dengan aman, bertani, beternak dan mencari hasil laut dengan aman.

    Petani, Peternak, Nelayan adalah tiga orang yang harus dihormati dan dijunjung tinggi di dunia ini sebagai penghasil makanan untuk dimakan dan kita manusia bisa hidup. Sering terjadi anggapan yang menganggap rendah dan remeh tiga manusia ini. “Oh, hanya petani ya”. Ini ungkapan penghinaan. “Dia hanya hidup dengan hewan saja di kandang”. Ini pun penghinaan. “Wah, dia tiap hari cuma cari ikan di laut”. Penghinaan juga. Mereka tiga inilah yang membuat perut kita kenyang.

    Jadi, mata pencaharian yang utama dan pertama, ialah: bertani, beternak dan melaut. Tiga orang ini yang kita beri nama dan menamakan diri: petani, peternak dan nelayan. Semua mata pencaharian yang lain, harus menopang tiga mata pencaharian ini agar lancar dan aman.

    TUHAN menciptakan alam ini untuk kita peroleh darinya apa saja untuk dimakan. Dan yang menggarap alam ini tiga orang itu: petani, peternak dan nelayan. Kita semua ada tugas.  Jaga tanah supaya jangan rusak. Jaga tanaman supaya hewan dapat hidup. Jaga laut supaya ikan-ikan berkembang. Semua ilmu diabdikan untuk tiga mata pencaharian ini. Nafsu kita terpuaskan dengan makanan. Nalar kita berupaya cari makanan. Naluri kita merapatkan barisan manusia untuk cari dan siap makan bersama. Nurani kita berseru pada Sang Pencipta, “TUHAN, Dikau kami puji karena kami diberi makanan setiap hari”.

     

     

  • Mulai

    Mulai. Mulai berarti awal dari sesuatu yang baru. Memulai, membuat sesuatu yang baru. Dia pintar ini mulai dari dia sekolah. Saya mulai mengajar waktu saya masih muda. Dulu saya tidak pernah minum minuman keras, tapi jadi pemabuk mulai waktu saya diajak oleh teman-teman. Kata mulai mempunyai arti bahwa sesuatu itu baru yang sebelumnya tidak ada.

    Mulai. Kita manusia ini, mau sesuatu dan mulai berusaha untuk mencapai atau memperoleh sesuatu itu. Ini hasrat dari Nafsu kita. Waktu mulai, Nalar kita bekerja untuk mencari upaya apa yang cocok untuk memenuhi hasrat Nafsu itu. Tidak mungkin seseorang berupaya sendirian. Butuh kawan, sesama. Inilah dorongan Naluri. Sebelum, sementara dan sesudah memulai suatu usaha lalu memperolehnya, Nurani kita tetap bergejolak, tenang kalau baik, tegang kalau buruk. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mulai. Ini suatu pemahaman yang sangat terbatas dalam diri kita seolah-olah kita manusia ini bisa mulai buat sesuatu sesuai yang kita kehendaki. Mulai dari awal. Tiap kali mau memulai sesuatu, kita menyangka bahwa kita memulai dari awal. Pemahaman inilah yang membuat diri kita manusia terjerumus ke dalam rasa sombong bahwa dirilah yang memulai, kalau itu baik, dan diri kita menjadi jahat kalau hal itu buruk dan menyangkal mati-matian bahwa bukan dirinya yang memulai.

    Mulai. Pemahaman tentang mulai ini harus dikaitkan dengan karya ciptaan dari Pencipta. TUHAN-lah Yang memulai segala sesuatu yang baik, mencipta alam semesta termasuk diri kita manusia yang menghuni dan menikmati adanya alam ini. Kita tidak memulai apa pun. Hidup kita saja mulai ada oleh TUHAN dan tiap pribadi manusia itu melaksanakan, melanjutkan, menyelesaikan yang sudah dimulai oleh SANG PEMULA, TUHAN. TUHAN Yang memulai. Segala apa yang kita buat selama hidup di dunia ini sudah ada benihnya dalam diri kita dan benih itu dari TUHAN.

    Mulai. Sejak awal hidup tiap diri kita, setiap kita mulai menjalani hidup yang tidak dimulai lagi berulang-ulang oleh kita. Segala tindakan, perolehan yang kita capai dan nikmati, bukan dimulai oleh diri kita, tetapi oleh TUHAN sejak kita diciptakan sebagai pribadi-pribadi dalam rentetan adanya manusia. Tidak pernah seorang jadi Guru dan menggembar-gemborkan posisinya dengan berkoar, saya mulai menjadi Guru sesudah belajar bertahun-tahun di Perguruan Tinggi. Bakat menjadi Guru itu sudah ada, jadi bukan dimulai oleh diri sendiri. Tidak pada tempatnya seorang di muka bumi ini membanggakan diri bahwa dialah yang memulai ini dan itu. Tidak.

    Mulai. Segala yang baik, benar dan bagus yang ada ini mulai ada atas kehendak SANG MAHA-ADA, TUHAN. Di sinilah letaknya titik tolak pemahaman yang terdalam di dalam diri kita untuk berpasrah pada TUHAN. Tidak boleh seenaknya membusungkan dada bahwa diri mulai ini, peletak dasar ini, pemrakarsa itu dan itu hasil saya, buah pikiran saya, buah tangan saya. Inilah kepongahan yang mengotori hidup masing-masing diri kita.

    Mulai. TUHAN sudah mulai mengadakan segala sesuatu dan tiap diri kita melaksanakan amanat TUHAN untuk menunmuh-kembangkan, memelihara, menikmati segala sesuatu yang ada dalam jangkauan kita dalam rasa syukur pada TUHAN. Karya melanjutkan selama di dunia inilah yang kita pertanggung-jawabkan di hadapan TUHAN saat diri kita diberi wajah kehidupan baru terlepas dari ikatan tempat dan waktu.

    Mulai. TUHAN sudah mulai mencipta segala sesuatu itu baik adanya. Kita diawaskan untuk tidak merusak yang baik itu. Jadi, yang salah segera dibenarkan, yang bengkok segera diluruskan, yang ternoda segera dikuduskan. Segala yang buruk itu dari kita, bukan dari TUHAN.  Itulah hidup.

  • Tingkat Doa

     

    Tingkat Doa. Ada empat tingkat Doa. Doa, sapaan kepada Yang Maha Tinggi, ada empat tingkat. Tingkatan doa ini erat berkaitan dengan empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu mendorong diri kita untuk memohon bermacam-macam kebutuhan dari uang sampai pangkat. Doa mohon apa saja dari TUHAN, adalah doa tingkat pertama, ada pada tingkat yang paling rendah.

    Nalar menggugah diri kita untuk menimbang-nimbang peri-laku kita, baik atau buruk. Ada rasa sesal dan terungkaplah doa tobat. Mohon ampun atas kata dan tindakan kita yang tidak baik di hadapan TUHAN. Tobat adalah doa tingkat kedua.

    Naluri kita menggiring diri kita untuk bersyukur kepada TUHAN bahwa sudah dapat apa-apa yang kita minta. Doa syukur ini adalah doa tingkat ketiga. Baik bahwa tahu terimakasih. Inilah yang dalam doa terungkap rasa syukur pada TUHAN Yang sudah mengabulkan niat dan harapan kita.

    Nurani menggugah kita untuk memuji keagungan TUHAN, kemurahan TUHAN, kekuasaan TUNAN. TUHAN Maha segala. Atas dasar itu kita puji TUHAN. Memuji TUHAN dalam bentuk puji-pujian dengan cara apa saja, entah ucapan atau lagu atau pun tari-tarian. Inilah doa pujian, doa tingkat keempat, doa yang paling tinggi.

    Doa hanya sebatas mohon dan mohon dari waktu ke waktu, maka kita merendahkan diri sebagai pengemis dan memaksa TUHAN untuk memenuhi kebutuhan kita sesuka hati kita. Doa seperti ini sering berakhir pada rasa kecewa dan mempersalahkan TUHAN bahwa TUHAN tidak mengabulkan apa yang dimohonkan. Doa tobat saja pun sering membuat diri kita terus merasa bersalah dan tidak layak di hadapan TUHAN. Doa syukur mulai terungkap kalau permohonan sudah terkabul dan ini erat kaitannya dengan doa permohonan.

    Tiga tingkat doa, mohon, tobat dan syukur, sangat baik dan pada tempatnya kalau dimahkotai dengan doa pujian. Seharusnya doa pujian itu yang pertama dan utama. Di setiap agama, ada ajaran dan tradisi untuk membiasakan diri kita memuji dan terus memuji TUHAN, SANG PENCIPTA. Mohon, tobat dan syukur sebagai pelengkap. Hidup ini adalah pujian pada TUHAN.