Month: November 2022

  • APA dari Sudut Filsafat

     

    Kita manusia bertanya tentang segala sesuatu dengan pertanyaan, Apa? Manusia ini benda hidup  yang dilengkapi dengan 4 unsur: NAFSU, NALAR, NALURI, NURANI (Kwadran Bele,4N, 2011). Binatang juga benda hidup, tetapi tidak dilengkapi dengan empat usur seperti dalam diri manusia. Manusia dapat bertanya ‘Apa’ lewat empat unsur ini. Kalau NAFSU bertanya, maka NALAR, NALURI dan NURANI turut mendukung. Salah satu dari unsur ini bertanya, tiga yang lain mendukung, melengkapi dalam memberi jawaban. Tidak mungkin dua unsur sama-sama bertanya, atau tiga unsur sama-sama bertanya, atau lebih lagi, empat unsur serentak betanya, itu tidak mungkin. Inilah keterbatasan manusia dan dari kodratnya sudah demikian.

    NAFSU manusia bertanya tentang hubungan manusia dengan benda-benda yang kelihatan. Apa yang bisa dimakan, apa yang bisa diminum, apa yang bisa dipakai, apa yang bisa ditempati. Berdasarkan pertanyaan tentang benda-benda ini, NAFSU mendorong manusia untuk usahakan makanan supaya dimakan, usahakan pakaian supaya dipakai, usahakan tempat tinggal supaya didiami. Dalam menjawab pertanyaan yang dimunculkan oleh NAFSU ini NALAR membantu dengan jalan pikiran yang masuk akal, NALURI membantu dengan menyatakan bahwa ada orang lain yang bisa membantu dan NURANI membantu dengan membisikkan hal-hal yang baik dalam segala upaya itu.

    NALAR memunculkan pertanyaan, apa yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Untuk makan, selera harus ada, gigi harus baik, lambung dalam keadaan siap, jantung harus tetap pompa darah, semua mata rantai ini bergerak dengan pengertian, apa harus buat apa. Ini soal pengetahuan dan pengalaman yang ada di unsur NALAR.

    NALURI memunculkan pertanyaan apa yang bisa dibuat oleh orang lain yang dulu hidup dan sekarang hidup. Apa yang saya kerjakan ini baik atau tidak, beguna atau tidak untuk diri saya dan orang lain. Ini pertanyaan dari NALURI yang berkaitan dengan hidup dalam kebersamaan bersama orang lain.

    NURANI bertanya tentang apa yang dibuat ini dan dihasilkan nanti membawa kebahagiaan kepada diri dan sesama atau tidak. Kalau membawa kecelakaan, jangan.

    Apa yang ditanyakan oleh empat unsur dalam diri manusia ini, 4N, menjadi pertanyaan tentang kelangsungan hidup yang ada dalam diri manusia yang harus dijawab supaya manusia itu hidup. Kalau NAFSU diam saja, NALAR tidak berfungsi, NALURI tidak bergerak dan NURANI tidak berbisik dengan pertanyaan ‘apa’ yang menantang manusia untuk bergerak, maka manusia itu mati. Apa itu ada di depan manusia dan dalam jawaban atas ‘apa’ inilah yang membuat manusia itu bergerak, hidup. Hidup itu sendiri ditempatkan oleh PENCIPTA dalam diri manusia supaya manusia menjaga dan melanjutkan dalam dirinya sampai habis kemampuan yang PENCIPTA berikan dalam diri manusia itu.

     

  • Mereka dari sudut Filsafat

     

    Mereka itu apa? Jangan pusing dengan mereka. Mereka ada atau tidak, kita tidak rugi, tidak untung. Sebaiknya mereka jangan ada di muka bumi ini. Kalau mereka tidak ada, dunia akan tenang. Ini ungkapan kebencian paling sadis yang pernah terjadi, dan sampai sekarang masih terjadi baik dalam skala kecil maupun besar. Mereka berusaha hidup dan mempertahankan diri. Ini NAFSU. Segala macam ilmu dan teknologi dipakai untuk saling menghancurkan antara mereka dan di luar mereka. Ini NALAR. Terjadi blok, blok mereka dan kita. Ini NALURI. Mereka berdoa kepada TUHAN supaya musuh-musuh mereka musnah. Kita juga berdoa kepada TUHAN supaya mereka kena kutuk tujuh turunan. Ini NURANI. Dalam  kutipan di atas, 4 N (NAFSU + NALAR+ NALURI +NURANI, Kwadran Bele, 2011) dipakai secara salah, bertentangan dengan kehendak Pencipta.

    Aih, untung ada mereka, kalau tidak, kami sekeluarga sudah habis. Mereka yang ingatkan kami bahwa jembatan itu hampir runtuh. Kami tidak jadi lewat. Ada banjir dan jembatan hampir terhanyut. Ini ada kaitan dengan benda, jembatan dan kendaraan kami. Masuk ranah NAFSU. Untung ada yang kasih ingat dengan tanda daun-daun ditumpuk  sebelum jembatan, dan kami tanya, kenapa, dibilang, jembatan mulai goyang. Padahal kami punya sopir tancap gas supaya cepat lewat sementara hujan deras. Ini NALAR. Mereka tolong kami biar tidak kenal kami. Ini NALURI untuk saling menyelamatkan. Kami bersyukur, TUHAN, untung mereka ada dan beritahu kami. Kalau tidak, apa jadinya dengan kami, seluruh keluarga saya, isteri dan tiga anak, kami lima orang, satu keluarga tutup buku. Ini NURANI. Ini pengejawantahan dari 4N secara benar, baik dan berguna.

    Mereka itu tetap bahagian dari saya, engkau, dia, kami, kita, kamu. Ini satu kesatuan dalam nama yang berbeda, ada sama-sama, diadakan oleh DIA, Yang Maha Ada. Kita tinggal di Indonesia. Ada orang tinggal di Jepang. Mereka di Jepang bukan diadakan oleh kita. Kita juga tidak diadakan oleh mereka di Jepang. Kita manusia dengan manusia, tidak saling mengadakan. Kelahiran, keturunan itu dilihat dalam perspektif kita dan mereka. Kita orang tua, dan mereka, keturunan kita itu ada karena Kuasa dan Kasih dari DIA. Kita orang tua, mereka turunan kita. Jadi adanya mereka itu tergantung dari adanya kita yang sudah lebih dahulu ada dari mereka. Mereka dan kita ada bersama untuk hidup dan memuja DIA Sang Pemberi hidup.

  • Kamu dari Sudut Filsafat

     

    Kamu ada, saya ada. Kamu banyak orang, saya sendiri. Saya dengan kawan-kawan saya, cukup banyak juga, kami ada di sini, kamu ada di situ. Harap kamu jangan ganggu kami. Kami juga tidak ganggu kamu. Kamu itu orang-orang baik. Kamu di kampung, tanam apa-apa, panen dan jual untuk kami di kota. Untung ada kamu, kalau tidak, kami di kota bisa mati kelaparan. Kamu ada, kami ada, saling menguntungkan. Kamu dan kami sama-sama mau hidup. Ini ranah NAFSU. Kamu bisa panen bagus, rumah bagus, pakaian bagus karena kami punya kawan-kawan hasilkan barang-barang seperti traktor tangan untuk balik tanah di pegunungan, ada pabrik semen untuk bangunan, ada pabrik tekstil untuk buat pakaian. Kamu bergantung pada teknologi baru karena ada orang yang pikir dan buat bermacam-macam alat modern. O yah, kamu di kampung juga sekarang rata-rata sudah pakai hp. Luar biasa. Ini masuk bidang NALAR. Kamu di desa jangan cemas, katanya gagal panen. Tahun ini ada lagi kelaparan. Pemerintah sudah siap beras secukupnya. Ini masuk ranah NALURI, tidak tega ada manusia yang ditimpa bencana kelaparan dan mati kelaparan. Katanya kamu di desa sedang bangun rumah ibadat dan masih kurang dana. Ada orang-orang yang baik hati dan mau tolong kamu. Mereka akan datang mengunjungi kamu. Ini masuk ranah NURANI. Manusia ini ada jarak, saya di sini dan kamu di sana. Kamu baik, kamu berjasa, kamu bahagian dari saya, bahagian  dari kemanusiaan.

    Manusia dibeda-bedakan atas dasar kelompok, kami kamu, atas dasar tempat, kota desa, atas dasar waktu, dulu kini. Kamu tetap kamu dan tidak pernah bisa dileburkan jadi kami semua. Pembagian ini ada dan itulah pembedaan, bukan pemisahan. Satu mata rantai, rantai kemanusiaan. Kamu punya kelebihan-kelebihan dalam segala bidang. Kami juga. Kamu ada kekurangan di sana-sini. Kami juga. Maka kamu ada dalam hubungan dengan kami sehingga keberadaan kamu dan kami ini keberadaan saling menghidupkan, bukan saling mematikan. Kami tidak iri dengan kelebihan kamu. Kami tidak benci kamu. Begitu pun sebaliknya. Tidak boleh iri dengan kami. Tapi jangan kikir. Kalau kami susah, kamu ada, datanglah bantu kami. Kalau kamu susah, jangan cemas, kami ada.

    Kamu ada karena DIA. Kami juga ada karena DIA. Jadi kita sama-sama ada, kamu dan kami, kalau berhadapan dengan DIA, maka kamu dan kami menjadi kita. Dengan demikian, tidak ada tempat sama sekali untuk kamu dan kami saling menyusahkan. Apalagi saling membunuh, hal yang terburuk yang sering terjadi di bumi yang kecil ini. Kamu bahagian dari kami. Kami bahagian dari kamu. Kamu dan kami sama-sama bahagian dari Karya Penciptaan dari DIA, PENCIPTA kita.

     

     

  • Kami dari sudut Filsafat

     

    Kami harus pindah dari tempat ini. Tanah tidak subur lagi. Tanam apa-apa susah, tidak berhasil. Musim tidak menentu. Bagaimana dengan kamu? Tetap tinggal di sini? Ini adalah urusan nasib berkaitan dengan makanan.  Kebutuhan hidup jasmani (NAFSU).  Kami sudah pakai bermacam cara, pacul tanah, pakai pupuk, tidak berhasil. (NALAR). Ada bantuan dari Pemerintah, ada pihak LSM juga yang datang beri pendampingan kepada kami. Tanah tidak subur tambah hujan juga tidak turun. Usaha kami sia-sia. Urusan kebersamaan. (NALURI). Kami berdoa supaya hujan turun, tapi tetap saja sering gagal tanam, gagal tumbuh, gagal panen. Gagal semua. Tuhan tidak dengar kami punya doa. (NURANI).

    Kami adalah kesatuan manusia yang sama-sama memandang ke luar. Kami di sini, kamu di sana. Jangan ganggu kami. Kami mau aman. Pertahanan ke dalam sangat kuat. Selama kami ada dan kami bisa atur diri, kamu jangan campur tangan. Kami, kami. Kamu, kamu. Suka memisahkan diri. Kami dari dulu begini, mau apa? Tidak mau berubah. Menutup diri. Kami punya adat begini. Kamu yang dari luar jangan coba-coba bawa kamu punya kebiasaan ke sini. Merasa diri lebih dan sudah lengkap, tidak perlu lagi ada pengaruh dari luar. Kami cenderung menjadi kelompok yang tertutup dan mudah tersulut emosi yang terkadang tidak masuk akal. Terkadang ada kesalahan dalam perbuatan yang sungguh salah dan memalukan, sama-sama setuju membasmih kelompok lain, genosida. Ini persekongkolan jahat dari kelompok yang menamakan diri kami. Kami bisa baik, bisa jahat. Kami bisa jadi momok bagi kelompok di luar kami.

    Kami ini berkumpul dan bersatu karena satu asal, satu nasib dan satu tujuan. Ini unsur pemersatu kami. Asal-usul dilupakan, pecahlah kesatuan kami. Nasib sial terus, berpisah, masing-masing cari untung, kami hilang, tinggal kenangan. Yang sial sama sial berkumpul, jadilah kelompok kami kelompok sial. Yang mujur sama mujur berkumpul, jadilah kelompok kami yang sering menjadi kelompok kami yang egois, sukuis dan sadis, tolak keberadaan kami-kami yang ada dekat dan berdampingan dengan diri mereka. Kami menjadi kelompok eksklusif yang curiga pada kelopmpok lain.

    Kami ini sebenarnya ada untuk hal yang baik, aman dan bahagia. Keberadaan kami yang mempunyai NAFSU kebendaan tidak terkendali, NALAR yang waras tidak dipakai, NALURI bertahan atas dasar keangkuhan, NURANI tumpul tanpa memperhatikan nasib sesama dan tidak mematuhi Kehendak dari SANG PENCIPTA, kami seperti ini menjadi kelompok malapetaka untuk masyarakat. Kami yang ideal adalah kami yang menjadi penolong orang lain dengan berbagi pengalaman dan kekayaan sambil melihat bahwa orang lain itu sama-sama dari TUHAN menuju TUHAN.

     

     

  • Kita dari Sudut Filsafat

     

    Kita berarti saya dan orang lain, paling kurang dua orang, dan bergabung menjadi kita. Kita dua ini harus hidup lebih baik dari kemarin. Kita dua sebagai suami isteri, sudah hidup bersama lebih dari tiga puluh tahun. Kita dua urus diri. Kita dua dengan kita punya anak-anak, tiga orang, cari hidup. Gaji kita harus hemat untuk makan sehari-hari. Pakaian seadanya. Rumah kita ini masih baik. Ungkapan ini adalah ungkapan ‘kita’ dari segi NAFSU. Urusan benda, kebutuhan fisik. Sandang, pangan, papan. Kita dua sudah tua, yang penting anak-anak semua sudah tamat perguruan tinggi dan mereka bisa hiup sendiri. Ini urusan NALAR. Kita punya anak-anak ini belum ada yang mau kawin. Kita dua sudah saatnya untuk gendong cucu. Ini urusan NALURI, mau ada orang lain lagi yang memperbesar jumlah kita. Kita ini terdiri dari saya, saya, dan saya yang begitu erat bersatu dan bersama penuhi kebutuhan (NAFSU) dengan berpikir siang malam (NALAR) sambil bekerja sama dengan orang lain (NALURI) dengan cara yang halal dan jujur (NURANI). Inilah kita dari segi filsafat ‘Kwadran Bele’ 4 N.

    Kita jangan sibuk dengan urusan orang lain. Makan cukup tidak cukup, kita punya urusan, tidak ganggu orang lain. (NAFSU). Kita harus tiru tetangga kita itu, mereka tanam sayur dalam polybag. Kita harus belajar. (NALAR). Kita harus  hidup baik dengan orang lain supaya kalau kita kena susah, ada orang yang tolong kita (NALURI). Kita hidup tidak rampas orang lain punya hak, kita dengn kita punya, orang punya yah orang punya. (NURANI).

    Kita ke dalam hidup rukun. Kita tidak boleh cekcok karena uang dan utang.  Ke luar kita tetap jaga diri, tidak iri dengan orang lain karena orang laih lebih dari kita (NAFSU). Kita tidak boleh anggap orang lain itu bodoh. Mereka juga ada pendirian dan hargai pendirian mereka (NALAR). Kita tetap jaga hubungan baik antara kita dan jaga terus hubungan baik dengan orang lain (NALURI). Kita ini mau hidup berapa lama, di dunia ini hanya sementara (NURANI).

    Kita ada bersama orang lain. Urusan kemasyarakatan kita ke dalam bersama-sama jaga agar  tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain. Dalam urusan pengetahuan dan pengalaman, kita jangan kikir untuk berbagai pengetahuan. Kita hidup jangan kikir. Kita hidup jangan lupa TUHAN. Kita ada ini untuk saling mengingatkan bahwa ada sesama dan ada TUHAN. Bersama sesama kita hidup, bersama sesama menyembah Sang Khalik.

  • Dia dari sudut Filsafat

     

    Dia saya kenal baik. Dia itu orang kaya. Dia itu sehat sekali. Dia punya badan gemuk. Dia punya rumah bagus. Dia punya oto ada beberapa. Ini semua perkenalan saya dengan dia dari sudut NAFSU. Nafsu saya dan nafsu dia bertemu dalam hal-hal bendawi, tubuh fisik (gemuk), harta (rumah,oto). Dia itu orang pintar. Kamus berjalan. Pendapatnya brilian. Ini masuk wilayah NALAR. Dia orang yang banyak bergaul. Dia punya teman banyak sekali. Kalau dia ada di mana orang pasti senang. Ini penilaian dari sudut NALURI. Dia orang yang baik hati. Dia suka tolong orang. Dia tidak gampang marah. Kita marah dia, dia diam saja, malah dia hanya tertawa dan minta maaf balik sama kita. Ini penilaian dari sudut NURANI. Lengkaplah penilaian saya yang sangat positif tentang dia berdasarkan ‘Kwadran Bele’, 4 N (NAFSU, NALAR, NALURI, NURANI).

    Dia yang satu ini sombong sekali. Dia bangga dengan dia punya rumah, kebun ada berapa memang, dia ada peternakan, dia punya penghasilan limpah-limpah. Tidak ada orang di kota ini yang sama dengan dia. Ini penilaian yang negatif dari sudut NAFSU. Dia itu tahu semua. Kita omong apa sedikit langsung dia sambar, dia lebih tahu. Dia punya pendapat tidak boleh dilawan, dia akan marah dan kata kita semua ini bodoh. Ini penilaian tentang dia dari sudut NALAR. Jangan sebut dia, dia tidak pusing dengan orang lain, dengan kita-kita yang dekat ini saja dia tidak begaul. Ini dari sudut NALURI. Dia tidak pernah ada rasa salah, semua orang ini jahat, dia yang paling suci. Ini penilaian dari sudut NURANI. Penilaian yang sangat negatif. Benar atau tidak, itulah penilaian saya terhadap dia.

    Dia dan saya, ada jarak, dari segi materi (NAFSU), dari segi pengetahuan (NALAR), dari segi pergaulan (NALURI) dari segi perasaan (NURANI). Dia lain saya lain. Memang, tidak mungkin sama. Jarak ini ada dua macam. Jarak yang saya jaga supaya tetap jauh karena saya dengan dia tidak cocok. Di lain pihak ada dia yang lain, yang jarak itu saya jaga supaya tetap dekat karena kami dua seperti kuku dengan daging, tak terpisahkan.

    Hubungan antara dia ini dengan saya, dia itu dengan saya, dia, dia dan dia, namanya manusia, harus tetap ada jarak dalam arti yang positif, bahwa dia itu orang baik. Begitu pun hubungan saya dengan DIA YANG saya percaya PENCIPTA saya, harus tetap baik dan baik dari saat ke saat karena   DIA itu MAHA-BAIK.

  • “Engkau” dari sudut Filsafat

     

    Engkau ada dan saya ada. Engkau bisa saja saudara saya, teman saya, tetangga saya, suku saya. Engkau ada dekat saya. Engkau ada jauh dari saya. Itu soal jarak tempat. Engkau lebih tua  dari saya. Urusan usia. Engkau lebih gemuk dari saya. Urusan fisik.  Engkau lebih ganteng dari saya. Urusan penampilan. Ini semua urusan NAFSU, dorongan yang ada dalam diri saya dan engkau yang membuat engkau dan saya ada dalam  perbedaan. Karena perbedaan inilah maka saya bukan engkau dan engkau bukan saya.

    Engkau lebih pintar dari saya. Engkau punya pengalaman lebih luas dari saya. Ini urusan NALAR. Engkau dan saya punya Nalar yang orang lain sebut intelektual, kepandaian, kecerdasan, pengetahuan. Daya Nalar setiap oran itu beda. Engkau tidak sama dengan saya karena lingkungan berbeda, orang tuamu ada fasilitas untuk engkau kursus rupa-rupa sedangkan orang tua saya petani kecil di desa sehigga saya tidak dapat kesempatan sama banyak seperti engkau.

    Sejak kecil, engkau hidup dalam kelimpahan karena orang tuamu kaya. Keluargamu semua orang berada. Ini masuk dalam ranah atau bidang NALURI. Pergaulan, kedekatan, keakraban, lingkungan masyarakat masuk dalam bidang Naluri ini.

    Engkau banyak teman dan banyak oran suka engkau karena biarpun engkau anak orang berada, tetapi tidak sombong, tetap rendah hati dan suka tolong orang. Ini muncul dari NURANI.

    Engkau yah engkau, saya yah saya. Ada beda, ada jarak. Tapi engkau dan saya, sama-sama manusia. Di sinilah kita dua bertemu. Saya tidak boleh iri pada engkau. Saya tidak boleh marah engkau. Saya tidak boleh musuhi engkau. Saya tidak boleh susahkan engkau, apalagi sampai mau menyingkirkan  engkau dengan menghilangkan engkau punya nyawa.

    Di sinilah letaknya kewajiban untuk engkau dan aku sama-sama saling memperhatikan untuk hidup sama-sama (NAFSU), jalani kehidupan ini sesuai kemampuan otak kita masing-masing (NALAR) dan tetap saling menolong dalam keadaan apa pun (NALURI) dan engkau dan aku harus sama-sama saling mengasihi supaya senang, tenang, bahagia (NURANI).

    Hubungan antara engkau dan aku itu hubungan sejajar. Tidak ada atas bawah. Tidak saling menjajah. Karena apa? Karena kita dua, engkau dan aku sama-sama diadakan oleh DIA, TUHAN, Yang tidak pernah adakan kita dua untuk celaka, tetapi bahagia.

    108
  • Saya dari Sudut Filsafat

     

    Saya ada, engkau ada, dia ada. Saya dengan kerabat saya, kami. Saya dengan kerabat saya jadi satu, kita.  Engkau dengan kerabatmu, kamu. Dia dengan kerabatnya, mereka. Semua istilah ini: saya/aku, engkau, dia, kami, kita, kamu, mereka, pusatnya itu ada di saya. Saya ada dan bisa berkata saya, engkau, dia, kita, kami, kamu, mereka. Selain diri saya, orang lain itu ada dan saya akui mereka dengan ungkapan penunjuk kepada orang yang sama dengan saya. Ada persamaan, sama-sama manusia. Maka saya dengan orang lain itu saling menyapa. Tidak ada alasan untuk saling memusuhi.

    Saya lihat orang lain, butuh orang lain, ini NAFSU saya. Saya pelajari sifat orang lain, ketahui orang lain, kenal dia punya kemampuan, ini NALAR saya yang mengajar saya.

    Saya senang dengan orang lain, saya butuhkan bantuan orang lain, ini NALURI saya yang dorong saya. Saya sayang orang lain, biar dia musuhi saya juga saya berusaha damai dengan dia, saya tetap sayang dia karena dia itu orang baik, saya yang salah, saya minta maaf. Ini bisikan NURANI saya.

    Empat unsur dalam diri saya ini, NAFSU, NALAR, NALURI, NURANI, 4 N (‘Kwadran Bele’, 2011) adalah pemberian dari Pencipta kepada diri saya untuk ada sebagai manusia yang istimewa, unik, tidak ada duanya, dan bisa ada karena DIA, PENCIPTA, bisa ada karena ada orang lain, dia, engkau, kamu, mereka.  Tidak mungkin saya ada tanpa adanya orang lain.

    Bapa saya, dia. Mama saya, dia. Bapa dan Mamua, mereka. Om dan tanta, kamu itu saudara dan saudari dari Bapa dan Mama saya. Saya berhadapan dengan mereka semua, Bapa, Mama, Om, Tanta. Mereka semua ada peranan dalam adanya saya. Waktu saya lahir, katanya Om dan Tante juga hadir tolong Mama dan Bapa saya. Ini keluarga saya. Ada kakak saya, ada adik saya. Mereka semua saudara-saudari saya. Saya ada keluarga dekat, keluarga jauh. SAya ada teman sekolah, dulu dan sekarang ada teman kerja. Saya kenal tetangga, warga RT, RW, Kelurahan. Ada yang saya kenal, ada yang saya tidak kenal. Tapi saya dengan mereka disatukan dalam satu perkumpulan dari sudut pemerintahan, saya warga  RT, RW, Kelurahan sampai tingkat Negara dan Dunia. Dari sudut Agama, saya ada pemimpin agama dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi. Kepada mereka saya taat. Itulah saya. Dari sudut tempat tinggal, saya ada di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Negara Indonesia, Benua Asia, Dunia.

    Saya ada ini tidak atas kehendak saya sendiri. Saya tidak pernah pesan harus lahir dari Mama yang mana, di kota mana, pada waktu apa. Saya  ada dan terima adanya saya itu apa adanya. Tugas saya, akui diri sebagai saya dan akui orang lain sebagai dirinya yang sama dengan saya yang sama-sama manusia.

    Saya punya NAFSU untuk ada dengan segala daya untuk terus hidup, saya punya NALAR untuk pikir hari esok, saya punya NALURI untuk akrab dengan orang lain supaya aman dan dami, saya punya NURANI untuk mengasihi orang lain sebagaimana saya pun ingin dikasihi oleh orang lain supaya ada rasa bahagia. TUHAN tahu semua itu.

     

     

  • Sesama dari sudut Filsafat

     

    Sesama itu artinya sama-sama. Sesama binatang, sesama manusia. Seorang menganggap orang lain itu sama. Sama dalam arti apa? Kepintaran? Kuasa? Harta? Tidak. Sama bukan dalam arti fisik, bakat, atau status. Sama dalam arti nilai, hakikat, martabat. Dia manusia, saya manusia. Sama-sama darah merah. Ini ungkapan nekat, dangkal, tidak manusiawi. Binatang pun berdarah merah. Manusia sama bukan karena warna darah.

    Manusia sama karena sama-sama ada nilai yang sama, bayi sama nilainya dengan kakek. Perempuan sama nilainya dengan laki-laki. Nilai? Apa itu nilai? Ukuran? Harga? Tidak. Nilai itu hidup, kehidupan. Bayi dan kakek sama-sama hidup. Perempuan dan laki-laki sama-sama hidup. Maka bayi dan kakek adalah sesama. Perempuan dan laki-laki adalah sesama.

    Lalu hakikat. Apa lagi itu? Hakikat itu isi dari kehidupan. Saya manusia. Saya hidup. Dalam diri saya ada isi. Isi ini sama dengan isi dalam manusia lain. Dalam diri bayi, isinya sama dengan isi yang ada di dalam kakek. Isi yang ada dalam diri perempuan sama dengan isi yang ada dalam diri manusia laki-laki. Isi yang ada dalam diri orang kaya sama dengan isi yang ada dalam diri si gembel.

    Lalu martabat. Ah, apa lagi itu? Martabat itu jabatan? Bukan. Martabat itu urutan usia? Yang lebih tua martabatnya lebih tinggi dari yang lebih muda? Bukan. Martabat itu tingkat dalam urutan ciptaan. Batu itu benda yang paling rendah karena tidak ada kehidupan di dalamnnya. Batu benda mati.

    Tumbuhan lebih tinggi dari batu karena ada kehidupan, bisa tumbuh. Benda hidup.  Binatang lebih tinggi dari tumbuhan karena hidup, bisa berpindah dan ada perasaan yang umum dikenal dengan istilah ‘naluri’ atau ‘instink’. Manusia? Manusia itu benda mati yang punya kehidupan dan bisa bergerak, ada perasaan lalu ada akal, tambah lagi ada budi. Martabat ini dengan kata lain, harkat atau derajat. Manusia yang martabatnya paling tinggi.

    Nilai + Hakikat + Martabat ada dalam diri manusia secara sama, maka manusia dengan manusia yang lain disebut sesama, sama-sama. Kata Indonesia, sesama ini sangat tepat. Berdasarkan kesamaan inilah maka namanya manusia harus saling menghargai, saling menghormati, saling mengasihi. Dan tiga hal ini, ‘Nilai+Hakikat+Martabat’ ini manusia dapat dari mana? Bapa-mama? Leluhur? Itu turunan. Lalu turun dari mana? Itu asal-usul. Asal datang dari mana, usul datang dari mana? Jadi manusia ada dan itu berarti turun dari mana dan datang dari mana? Dari Yang Maha Ada. Dia Yang adakan, berarti Dia Yang ada hak atas manusia. Dan Dia inilah Yang tempatkan manusia di bumi ini dan sekali waktu akan kembali ke Dia.

     

     

  • Adat dari Sisi Filsafat

     

    Adat itu ada karena manusia hidup bersama. Tiap manusia ada NAFSU + NALAR + NALURI +  NURANI, 4 N (Kwadran Bele, 2011). NAFSU harus diatur, tidak bisa setiap orang ikut Nafsunya sendiri. Atur Nafsu itulah adat. NALAR itu berkembang dari orang ke orang, dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Pengetahuan dan pengalaman itu masuk wilayah Nalar dalam diri manusia. Hasil dari Nalar ini dibagikan dan dimanfaatkan secara bersama. Ini bahagian dari Adat.

    NALURI menuntut agar orang di sekitar saya itu menghargai diri saya. Begitu pun orang lain ingin saya menghargai mereka. Saling menghargai ini menjadi kebiasaan dan itulah Adat. NURANI menuntut adanya rasa kasih sayang terhadap sesama karena saya pun membutuhkan kasih sayang dari orang lain.

    Saling mengasihi ini muncul dari Nurani. Empat N ini terpadu dan secara serentak dimunculkan dan dipraktekkan dalam diri seorang, dalam keluarga, dalam hidup berkelompok yang kecil sampai kelompok yang besar, inilah adat, diperkuat lagi dengan istilah, adat-istiadat atau adat kebiasaan.

    Adat istiadat ini sesuai dengan keadaan alam sekitar, iklim dan mata pencaharian. Adat istiadat masyarakat nelayan di pantai berbeda dengan adat istiadat masyarakat petani di pegunungan. Adat orang desa lain dari adat orang kota. Ini situasi  tempat atau lingkungan. Adat juga sangat dipengaruhi oleh taraf pendidikan. Melalui pendidikan, manusia itu bergaul dan terbuka dengan kebiasaan orang di tempat lain.

    Sebagai contoh, seorang pria terpelajar di kota merasa sudah tampil modern dan sopan kalau berjas dan berdasi. Itu adat istiadat orang di Eropa. Tetapi karena dianggap itu busana orang terpelajar, bergengsi, maka ramai-ramailah orang di Indonesia pun berjas dan berdasi waktu acara resmi. Sementara itu pakain sarung atau kain tenun dianggap kuno atau kampungan.

    Adat kebiasaan itu diukur dengan akhlak. Akhlak atau perilaku itu mengikuti norma atau aturan yang berlaku di kalangan masyarakat di tempat dan waktu tertentu. Kalau perilaku seseorang di kalangan masyarakat tertentu lain dari yang lain, maka pribadi itu akan dicap tidak tahu adat atau melanggar adat. Atas dasar inilah setiap orang berperilaku sesuai dengan adat yang berlaku di masyarakat itu. Tidak bisa menjadi lain sendiri. Adat istiadat ini didasarkan pada dasar yang terdalam, ialah: ajaran dan tradisi agama. Setiap agama menegaskan bahwa aturan yang ada dalam agama itu berasal dari Tuhan. Maka siapa lagi yang mau membantah dasar dari segala dasar ini.

    Jadi dasar terdalam dari Adat adalah ajaran agama. Di atas ajaran agama inilah segala aturan berperilaku itu diletakkan. Masyarakat paling sederhana di pedalaman hutan belantara sekalipun mendasarkan adatnya pada ‘agama’ yaitu kepercayaan pada Yang Gaib. Aturan-aturan pergaulan antar manusia ditetapkan berdasarkan kepercayaan pada Yang Maha Tinggi ini. Sehingga kalau seseorang melanggar ketentuan Adat, maka pelaku itu dipersalahkan dua lapis: langgar adat dan langgar agama. Dia harus bertanggung jawab kepada masyarakat dan kepada Yang Maha Tinggi, Tuhan.