Month: November 2022

  • Filsafat Hati dan Jantung

     

    ‘Saya tidak sampai hati’. ‘Hati saya hancur’. ‘Hati saya gembira berbunga-bunga’. ‘Kamu itu tidak ada hati’.  Ini berbagai ungkapan yang memakai kata ‘hati’. Orang Inggris, ‘heart’ itu ada dua arti, ‘hati’ dan ‘jantung’. Kita di Indonesia membedakan, dua organ tubuh ini memang beda, dan sumber perasaan pun berbeda. ‘Hati’ dipakai untuk ungkapan perasaan ‘kasih sayang’, ‘Jantung’ dipakai untuk keakraban, kedekatan. ‘Jantung hati saya’, ‘Jantung saya berdebar’, ‘Si jantung hati’, ‘Kena di jantung’, ini semua ungkapan tentang perasaan kedekatan seseorang dengan orang lain. Kalau perasaan belas kasih, diungkapkan dengan ‘hati’.

    ‘Ini kena di hati saya’. Ungkapan ini gambaran NAFSU, yang sesuai dengan keinginan indrawi. ‘Hati saya tidak tenang’. Ini menyangkut hitung-hitungan, pengetahuan tentang suatu keadaan. Ini gambaran pergolakan NALAR. ‘Wah, sampai hati kamu’. Ini menyangkut nasib sesama yang diperlakukan tidak adil.

    Masuk dalam ranah NALURI. ‘Saya terima dengan segenap hati’. Ini menyangkut NURANI. Secara filsafat, hati itu mengungkapkan perasaan kasih sayang terhadap sesama. Setuju (NAFSU), sepikir (NALAR),  senasib (NALURI), sehati (NURANI). Semua ungkapan ini menyangkut diri pribadi kita yang tampil dalam keutuhan, sebagai orang yang baik, berbudi luhur, mempunyai harga diri, ada martabat sebagai manusia berakal budi, berhati nurani murni.

    Ungkapan yang lebih luhur ditujukan oleh kita manusia kepada Yang Maha Tinggi dengan  kata-kata, ‘Yang Mahabaik’, ‘Yang Maharahim’, ‘Pengasih Penyayang’. Sekarang ada pertanyaan filsafat, ‘Mengapa kita manusia tidak bertindak seperti Pencipta kita?’ Kebaikan, Kerahiman, Kasih sayang ditanamkan dalam diri kita manusia.

    Mengapa kita tawar-menawar dalam melanjutkan ini semua kepada sesama kita? Kalau kita konsekuen dengan filsafat ‘hati dan jantung’, maka sesama kita yang ada ‘hati dan jantung’ itu harus kita tempatkan sama tinggi sama rendah dengan diri kita. Tidak pernah boleh yang namanya kita manusia ini saling merendahkan, saling menciderai, apa lagi saling membunuh. Perang tanding antar kampung, perang dingin, perang panas, perang antar negara, perang dunia, tidak mungkin dan tidak boleh terjadi kalau filsafat ‘hati dan jantung’ ini dilaksanakan oleh setiap pribadi manusia, keluaga, kelompok, suku dan bangsa sedunia.

  • “MOT” Tempat Upacara Agama Asli Suku Buna di Timor

     

    Agama asli suku Buna’ di Pulau Timor itu adalah Agama ‘Hot Esen’. Sampai sekarang, tahun 2020, agama asli ini masih hidup dan dihayati oleh suku Buna’ yang beranggotakan sekitar seratus ribu orang. Mereka menghuni wilayah pedalaman Pulau Timor, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Masyarakat suku Buna’ ini 100 % penganut Agama Kristen Katolik. Leluhur mereka berkenalan dengan Agama Katolik sejak tahun 1880-an. Sampai tahun 1980, semua sekolah dari SD sampai SMP yang ada milik Gereja Katolik. Baru pada tahun 1980 ke atas  ada satu SMP Negeri dan sekarang sudah ada 2 SMP Negeri, 1 SMA Negeri dan 1 SMK Negeri. Tapi semua Guru dan Siswa/i beragama Katolik. Ini gambaran tentang situasi masyarakat suku Buna’.

    Di setiap kampung ada ‘Mot’, tempat upacara Agama Asli, Agama ‘Hot Esen’, yang percaya kepada ‘Hot Esen’, Matahari Yang Tinggi, gelar untuk ‘Yang Maha Tinggi’, Pencipta segala sesuatu. Di tengah kampung, ada susunan batu dalam bentuk lingkaran, garis tengah sekitar 50 meter. Bangunan ‘Mot’ ini dibuat lebih tinggi dari rumah-rumah yang dibangun dalam bentuk lingkaran sekitar ‘Mot’. Di tengah ‘Mot’ ini ada ‘Bosok’, susunan batu, tinggi sekitar 1 meter, garis tengah 2 meter dan di tengah ada tiang batu yang ditanam lambang leluhur. Tiang batu ini rata-rata berdiameter 20 cm dan tinggi 1 meter.

    Semua acara adat diadakan di ‘Mot’, dan persembahan diletakkan di ‘Bosok’. Di dalam pelataran ‘Mot ‘ biasa ada pohon beringin dan di batang beringin ini banyak digantung tanduk kerbau dan rahang babi dari hewan-hewan ini yang dikurbankan waktu upacara keagamaan. Upacara agama asli yang sampai sekarang dirayakan, ialah: 1. ‘An Gene’ (Upacara mohon berkat buka kebun baru), 2. ‘Paol Sau’ (Syukur panen jagung), 3.  ‘Hohon a’ (Syukur Panen Padi),

    1. ‘Barut sau’ (Syukur panen kemiri), 5. ‘Pu sau’ (Syukur panen pinang). Semua upacara ini berkaitan dengan pertanian. Persembahan terdiri dari hasil kebun dan hewan untuk dibunuh, hatinya dipersembahkan di ‘Bosok’, dagingnya dijadikan lauk perjamuan dan ada bahagian yang dibagi-bagikan berdasarkan suku rumah untuk dibawa pulang dan dimakan bersama sambil menghimpun anggota suku dan ketua suku memberikan petuah-petuah adat.

    Di  ‘Mot’ ada pemimpin ibadat, disebut ‘Makoan’. Dia ahli tutur adat dan ahli doa. Riwayat leluhur diungkapkan dan doa-doa kepada ‘Hot Esen’ didaraskan dalam bentuk syair yang dilagukan. Semua yang hadir menjawab dalam bentuk refrein, jawaban singkat sebagai tanda meng-amin-i apa yang diungkapkan oleh ‘Makoan’  kalimat demi kalimat. Bangunan ‘Mot’ ini pada hari-hari biasa tidak dipakai untuk berkumpul. Tempat ini dianggap sakral dan yang paling sakral yaitu ‘Bosok’ di tengah ‘Mot’.

    Inilah filsafat keagamaan orang suku ‘Buna’ yang percaya bahwa leluhur mereka ada di hadapan Yang Maha Tinggi di Tempat Yang Tinggi, Langit berlapis tujuh. Mereka percaya bahwa ‘Hot Esen’ itu TUHAN Yang ada di Surga dan leluhur mereka bersama para Santu dan Santa (Katolik) mempersembahkan doa-doa permohonan dan syukur mereka kepada TUHAN. Mereka-mereka ini pada hari Minggu merayakan Misa di gereja sebagai orang Katolik di bawah pimpinan Imam yang menjadi Pastor (Gembala) pimpinan Umat di Paroki.

  • Agama Dianut dan Dihayati

     

    Penganut dan penghayat Agama itu ada beda. Ini kesaksian saya sebagai penulis untuk menjelaskan dua istilah ini, penganut dan penghayat. Di KTP saya tertulis, Agama: Katholik. Saya penganut Agama Katholik tapi penghayat, dua Agama, Katholik dan Agama Asli, ‘Hot Esen’.

    Agama saya dua: Katolik dan ‘Hot Esen’. Ini soal penghayatan. Penganut, satu Agama. Di mana perbedaannya?

    Orang tua saya, bapa dan mama kandung, hidup di pedalaman Pulau Timor, dari Suku Buna’. Mereka percaya pada ‘Hot Esen’ sebagai Wujud Maha Tinggi. Bahasa Buna’, ‘Hot’ = Matahari; ‘Esen’ = Atas, di atas, di ketinggian. Saya dididik dalam kepercayaan ini, agama asli, ‘Hot Esen’ yang oleh para misionaris Katolik dicap ‘Kafir’, ‘Gintiu’ dari kata Latin, ‘Gentilis’ = orang asli. Orang tua menyekolahkan saya di sekolah katolik dan masuk ke Seminari, itu sekolah mulai dari tingkat SMP, calon Imam. Tahun 1959, saya masuk Seminari Menengah dan berharap jadi Imam.

    Orang tua saya, Bapa dan Mama yang sangat berpengaruh sebagai tokoh adat dan agama asli di kampung, Lakmaras  (sekarang masuk Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur).

    Pada tahun 1960, atas dasar saya sudah sekolah di Seminari, calon Imam, maka Imam yang adalah Pastor (Gembala) di Paroki Nualain yang meliputi kampung saya, mengajak orang tua saya untuk dibaptis menjadi katolik. Orang tua saya setuju dan dibaptislah mereka, Mama (almarhumah) mendapat nama Baptis, Agnes dan Ayah (almarhum) diberi nama Petrus. Mereka jadi serani, tidak ‘kafir’ lagi. Sampai meninggal dunia, tetap serani, dimakamkan secara katolik dan tetap diupacarakan juga sesuai agama asli, ‘Hot Esen’.

    Selama orang tua masih hidup, upacara agama asli tetap dilaksanakan oleh saya. Upacara agama Kristen Katolik juga tetap dilaksanakan. Sampai sekarang, tahun 2020, saya kembali ke kampung halaman saya, Lakmaras, upacara ‘adat’ tetap dilaksanakan.

    Di rumah adat ada tiang agung. Di kaki tiang agung ini ada batu ceper, di atasnya setiap saat, diletakkan persembahan, sirih-pinang, sejemput makanan masak, seiris daging matang kalau ada. Ini untuk para leluhur supaya mereka teruskan ke ‘Hot Esen’.

    Sekarang para ponakan dan cucu-cece saya sudah katolik, tapi upacara ‘adat’ tetap dilaksanakan. Kalau musim panen, jagung hasil pertama dipersembahkan secara adat di kampung, dan secara serani dibawa ke gereja dan diletakkan di kaki Altar. Kalau ziarah ke kubur, sirih pinang diletakkan di atas kubur (adat dan Agama ‘Hot Esen’), lilin juga dinyalakan di sana (Katolik). Ini dualisme? Sinkretisme? Tidak.

    Menghayati agama asli dan agama katolik itu satu kesatuan dalam diri pribadi saya. Menganut itu satu Agama, Katolik. Menghayati itu sangat pribadi. Iman kepada Yang Maha Tingi diperkuat, ada doa, persembahan dan perilaku diajarkan sama dalam Agama Asli dan Agama Katolik. Keduanya saling melengkapi dalam diri saya sebagai penghayat.

     

     

  • Filsafat Kerja

     

    Kerja itu kegiatan manusia. Hewan juga kerja, tapi itu gerakan otomatis. Manusia kerja  karena ada dorongan Nafsu, pertimbangan  Nalar, pengaruh Naluri dan bisikan Nurani.(Kwadran Bele – 4 N – 2011). Kerja itu kegiatan manusia setiap hari. Ada lima kegiatan sebagai bahagian dari kerja. Untuk diingat dengan mudah, kerja manusia itu diibaratkan dengan lima jari. Ibu jari, simbol kegiatan yang pertama, Sembahyang, sembahyang sendiri atau bersama. Jari telunjuk, simbol kegiatan kedua, Sabda. Petunjuk Tuhan.

    Baca, renungkan dan laksanakan Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci dan tidak tertulis dalam alam semesta. Kegiatan ketiga, ibu jari, yang paling tinggi, simbol dari Sujud atau Ibadat.  Kegiatan keempat, disimbolkan dengan jari manis, belajar. Belajar apa saja yang baik, benar dan bagus untuk kehidupan manusia. Dengan belajar manusia menjadi pintar dan trampil. Kegiatan yang kelima, disimbolkan dengan jari kelingking, Bekerja. Jadi kerja manusia yang terdiri  lima kegiatan ini disingkat: 3 S + 2 B, Sembahyang + Sabda + Sujud + Belajar + Bekerja.

    Kerja manusia ini setiap hari. Lewat kerja ini manusia hidup. Hidup yang bertanggung-jawab adalah kerja dan kerja itu melaksanakan  lima kegiatan ini.  Lima kegiatan ini sama nilainya dan saling melengkapi. Kalau dinilai dengan angka, maka lima kegiatan ini tiap-tiapnya mempunyai nilai 20 dan dikalikan lima, 100. Dasar manusia ini ada keterbatasan, maka tidak mungkin tiap hari dapat nilai 100. Ada kurang di sana-sini. Yang penting jaga supaya jangan sehari pun dapat nilai 50 atau di bawah itu. Harus 60 ke atas. Syukur-syukur kalau dapat nilai 90.

    NAFSU manusia itu ada untuk orang khusuk Sembahyang, taati Sabda, bersembah Sujud, tekun Belajar, rajin Bekerja.

    NALAR manusia itu memampukan manusia untuk pahami arti dan makna Sembahyang, simak isi Sabda, pahami seluk-beluk Sujud syukur, telusuri lika-liku ilmu dengan Belajar dan tekun tabah dalam Bekerja.

    NALURI mendorong manusia untuks sendiri atau bersama orang lain selalu Sembahyang, sama-sama hayati Sabda, sama-sama Sujud syukur, sama-sama Belajar dan gotong-royong  Bekerja (3 S + 2 B).

    NURANI membisikkan secara halus dalam relung hati manusia, hiburan karena Sembahyang, kekuatan karena Sabda, damai karena Sujud, mantap karena Belajar, tenteram karena Bekerja. Ini semua kait mengait sebagai hasil dari kerja.

    Ibarat segi-tiga, sisi kanan itu Sembahyang dan Sabda, puncaknya Sujud, sisi kiri itu Belajar dan Bekerja. Lima kegiatan ini harus serentak dilaksanakan dalam arti waktu yang berbeda tapi tidak boleh diabaikan salah satunya. Dalam hidup ini manusia mengejar kebahagiaan dengan kerja tulus dan kudus.

     

     

  • Filsafat Agama

     

    ‘Hai, semua ini filsafat habis’. Ini ungkapan teman yang kaget dengan apa-apa filsafat. Semua filsafat. Yah, agama itu ada filsafatnya, dalam arti berpikir secara mendalam tentang Agama. Langsung buat pembedaan, ada Agama dan dalam Agama ini ada dua kelompok: Penganut Agama dan Penghayat Agama. Agama itu percaya pada Yang Maha Tinggi. Ada penganut Agama ini, Agama itu. Agama mana pun saja, ada penganut dan jumlah penganut itu banyak atau sedikit tergantung dari penyebarannya.

    Setiap Agama ada Penghayat. Inilah kelompok yang menghayati isi ajaran, tradisi sesuai petunjuk orang-orang yang bewenang dalam Agama itu. Biasanya pertengkaran tentang Agama itu disebabkan oleh para penganut. Penghayat tidak bertengkar.  Karena para penganut ini ada dalam ranah NAFSU. Bertengkar karena uang, gedung, jumlah penganut, jumlah penghasilan, jumlah sumbangan. Ini masuk ranah NAFSU yang erat bertalian dengan hal-hal bendawi, materi.

    Ada penganut yang pamer kehebatannya dalam menguraikan ajaran Agama. Biasanya suka serang ajaran Agama lain. Ini masuk dalam ranah NALAR. Silahkan kotbah di sana-sini. Bisa dinilai, pengkotbah ini ‘penganut’ atau ‘penghayat’. Ada penganut Agama yang bangga dengan jumlah. Mayoritas – minoritas.

    Di Eropa, mayoritas Kristen. Di Timur Tengah mayoritas Islam. Di Indonesia, mayoritas Islam. Kalau hitung jumlah penganut, ukur kepentingan kelompok, maka pertengkaran tak terhindarkan. Ini ranah NALURI. Kemudian penganut Agama ini saling menilai ke dalam dan ke luar, siapa lebih rajin, siapa lebih tekun praktekkan ajaran Agama, ini masuk ranah NURANI.

    Berdasarkan teori 4 N (Kwadran Bele, 2011), Filsafat Agama itu membawa seseorang untuk berpikir, saya ini penganut dan penghayat atau penganut saja, penghayat saja. NAFSU mendorong manusia untuk menganut dan menghayati Agama dengan penampilan lahiriah, berlaku seturut ajaran, tradisi dan pimpinan Agama. Bangun rumah ibadat, taat beribadah dan beramal. Ini kelihatan, dan setiap kita ingin hal-hal ini diketahui dan dilihat orang lain. Ini baik sejauh tidak sampai pamer.

    NALAR kita mendorong untuk mengetahui dan memahami Agama yang kita anut dan hayati. NALURI kita mendorong diri kita untuk tetap erat bersatu dengan sesama penganut dan penghayat Agama yang sama dan menghormati penganut dan penghayat Agama yang lain. Ini yang namanya rukun beragama. NURANI kita menyadarkan kita bahwa semua orang yang menganut dan menghayati Agamanya, terarah kepada tujuan yang sama, YANG MAHA TINGGI.

    Yang Maha Tinggi itu mendapat Sapaan Nama, cara Ibadah, rumusan Ajaran yang berbeda-beda dalam setiap Agama berdasarkan ‘Ajaran’, ‘Tradisi’ dan ‘Wewenang’ masing-masing Agama itu.

    Dalam Agama ada Ajaran. Tertulis dalam Kitab Suci masing-masing. Ada tradisi. Ini sesuai zaman dan tempat. Ada pimpinan yang harus ditaati. Diri manusia secara pribadi, bebas untuk anut dan hayati Agama mana saja. Ini kebebasan mutlak dari manusia. Tidak boleh ada paksaan.

    Ada orang yang terlahir dari orang tua dalam Agama tertentu. Yah, mengapa ini dipersoalkan. Persoalan muncul kalau manusia itu bertindak sebagai Penganut saja dan bukan Penghayat Agama. Menganut Agama dan tipis dalam menghayati, maka benih cemburu, suka menilai orang lain, suka mencampuri urusan orang lain, tumbuh subur dalam diri orang atau kelompok yang tipis penghayatannya terhadap Agama yang dianutnya.

    Dari sudut Filsafat Agama ini, terserah pada diri kita masing-masing, pilih,  saya lebih kuat rasa sebagai Penganut saja atau Penghayat saja dari Agama saya. Yang benar ialah: “Penganut dan Penghayat menjadi satu dalam diri saya”. Posisi inilah yang ditampilkan dalam hidup bersama sesama dan sama-sama mengangkat hati menundukkan kepala di Hadapan Yang Maha Tinggi.

     

     

  • Filsafat Manusia

     

    Wah ini apa lagi. Filsafat manusia. Manusia berpikir tentang Manusia. Apa? Berpikir tentang manusia? Tubuhnya? Jiwanya? Asal-usulnya? Hidupnya? Tidak! Manusia berpikir tentang manusia seutuhnya. Total. Mana mungkin. Manusia berpikir tentang manusia secara menyeluruh, utuh. Itu bagaimana?  Manusia berpikir sedalam-dalamnya tentang diri manusia itu sendiri. Mulai dari mana saja boleh. Mulai dari makan. Baik. Manusia makan. Itu satu kegiatan. Berarti harus ada makanan. Yah. Harus cari makanan. Yah. Cari dengan beli atau langsung kerja. Yah, bisa dua-duanya. Beli daging tanam jagung. Bisa. Tanam jagung harus tahu caranya. Memang demikian.

    Tidak sendirian, manusia bersama orang lain. Yah, mana ada manusia sendirian di dunia ini yang atur diri seutuhnya. Dalam dongeng mungkin. Manusia harap hujan. Benar. Hujan datang, senang. Hujan lama tidak turun? Gelisah. Akhirnya doa minta hujan. Ah, doa? Doa kepada siapa? Roh-roh? Leluhur? Ada banyak ceritera, doa kepada Yang Maha Tinggi.

    Hanya dalam beberapa belas kalimat di atas, kita sudah berfilsafat tentang manusia. Pikir rupa-rupa yang baik,  benar, dan bagus tentang manusia oleh manusia sudah masuk dalam filsafat manusia. Filsafat manusia itu tidak aneh-aneh. Lihat anak yang baru dilahirkan. Ini manusia. Dia hasil perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan.

    Dengan lahirnya anak ini laki-laki berubah status dari perjaka ke ayah dan perempuan dari gadis menjadi ibu. Bayi ini tidak berdaya kalau tidak dirawat oleh ibunya. Heran, ibunya ada air susu. Ayahnya ada tenaga untuk melindungi dan mencari nafkah supaya bayi dan ibunya bisa hidup. Hidup yang ada dalam diri Ayah dan Ibu dilanjutkan dalam diri bayi. Bayi ini bertumbuh, kanak-kanak, remaja, dewasa. Nanti dia juga kawin, kalau laki-laki cari perempuan, kalau perempuan berpasangan dengan laki-laki. Ada adat di kebanyakan suku, laki-laki melamar perempuan untuk kawin bukan sebaliknya. Pokoknya dalam diri manusia ada dorongan untuk kawin.

    Manusia berpasang-pasang saling melengkapi untuk sama-sama hidup. Hanya hidup saja? Hidup macam apa? Hidup saling menolong. Kalau itu saja bisa, gampang sekali, habis tolong, pergi. Hidup saling menghargai? Oh kalau harga jatuh, buang. Hidup saling menghormati? Wah, kalau tidak hormat lagi, cerai. Ada ketentuan yang umum, manusia itu berpasang-pasang dalam ikatan perkawinan atas dasar kasih. Ah, kasih itu apa? Ada istilah, kasih sayang. Inikah? Apa pun istilahnya, pokoknya dua orang itu saling menerima seutuhnya dan punya keturunan, berkembang dan berkembang. Lalu buat apa?

    Manusia ada untuk melanjutkan keberadaannya dengan ada bersama yang lain. Manusia ada ini karena diadakan oleh Yang Maha Ada maka dia harus mempersembahkan adanya itu kepada Yang Maha Ada itu dalam karya memelihara diri,  sesama dan alam sekitar. Hasilnya? Bahagia mulai di  dunia  ini sampai di keabadian.

  • Filsafat Alam

     

    Berpikir tentang alam. Itulah filsafat alam. Alam itu segala yang ada ini. Kita manusia juga termasuk alam. Kita dalam alam dan kita adalah alam. Dalam alam ini hanya kita manusia saja yang dapat berpikir tentang alam, termasuk berpikir tentang diri kita manusia sendiri. Pikir tentang alam itu mulai dari alam ini berawal kapan, siapa yang buat alam ini dan apa tujuan dari adanya alam ini. Awas, jangan pusing.

    Memang pikiran seperti inilah yang orang sering enggan berfilsafat atau berpikir yang dalam-dalam. Filsafat itu memang pemikiran yang dalam. Yah, apa gunanya ada pikiran kalau hanya pikir yang dangkal-dangkal saja, mendatar, biasa-biasa. Harus sering pikir yang dalam. Itulah filsafat. Itu butuh ketenangan. Tidak bisa pikir dalam-dalam sementara lari-lari di lapangan. Tidak bisa pikir yang mendalam sementara mengantuk. Itu namanya mengelamun, mengkhayal.

    Alam ada sejak kapan? Banyak dugaan, ribuan tahun, jutaan tahun lalu. Boleh duga kapan saja, tapi yang nyata ialah alam ini ada. Siapa yang buat atau ada dengan sendirinya? Putar otak, kalau suda buntu, buat saja kesimpulan, alam ini ada yang buat. Kalau buat berarti pakai bahan. Bahan itu dari mana dan siapa yang buat bahan itu? Ini makin mendalam. Pikir harus ada ujungnya. Jangan gantung saja.

    Ujung itulah  kesimpulan, dan kesimpulan itulah kebenaran, dan kebenaran itu tidak mutlak karena kemudian orang lain pikir lagi dan temukan kebenaran yang lebih benar. Untuk sementara, buat satu kesimpulan, pakailah istilah cipta yang artinya, buat sesuatu dari tiada menjadi ada, dan yang adakan itu tidak diadakan. Dia itu sebut saja, pencipta. Di situ pikiran buntu, dan harus menyerah. Dalam penyerahan itu kita manusia katakan, ini di luar kemampuan pikiran saya, maka saya percaya saja.

    Kesimpulan sementara dan pegang kesimpulan ini, alam itu diciptakan oleh pencipta dan karena alam ini begitu luas, hebat, raksasa, maka penciptanya itu pasti jauh lebih hebat maka kita pakai istilah, Maha Pencipta. Di sini pikiran buntu, dan percaya, entah menengadah atau menunduk, itulah yang namanya ‘sembah sujud’, menyatakan diri kita manusia ada dari Yang Maha Ada dan kepada Dia kita sembah sujud dan bersyukur karena ciptakan alam tempat kita manusia ada.

    Alam diciptakan oleh Pencipta itu untuk kepentingan manusia. Ada alam raya, ada alam kecil. Alam kecil itulah diri kita yang kalau dibandingkan dengan alam sekitar, diri kita ini hanya setitik kecil saja yang bergerak memakai alam untuk melanjutkan kehidupan diri dan sesama. Berati kita ini bukan pemilik alam. Kita hanya ada di dalam alam dan memanfaatkan alam.

    Kita tidak ada hak untuk memiliki alam dan memakainya sesuka hati. Alam itu ada hukumnya sendiri yang harus kita patuhi. Dalam alam ada matahari, bulan, bintang. Kita punya pikiran yang ada dan tenaga terbatas sehingga yang jauh tinggi iu kita katakan langit dan yang kita injak ini bumi. Antara langit dan bumi itu ada udara. Dan hasil pikiran kita manusia yang begitu gemas untuk mengetahui, diketahuilah bahwa bumi ini ternyata satu bola kecil di antara bola-bola raksasa. Pernah ada pikiran bahwa bumi kita ini lapangan yang rata yang ada pinggirnya. Kemudian ada pikiran yang dibuktikan kebenarannya bahwa bumi ini bulat, bukan lempengan.

    Alam ini tidak boleh dilawan. Dikuasai sejauh ada manfaat untuk manusia. Bukit-bukit bisa digali untuk dapat batu-batuan atau barang lain seperti kapur untuk semen. Dataran bisa dibor untuk dapat minyak. Ini semua boleh sejauh manusia mampu. Tapi awas, manusia sudah juga berpikir dan tahu bahwa bukit-bukit itu digundulkan semua, hutan habis, air tidak ada, nanti ada padang pasir yang membuat manusia tidak bisa tinggal lagi di sana. Ini semua namanya hukum alam, dipelihara dan dimanfaatkan, boleh, dirusak dan dihancurkan, tidak boleh.

    Filsafat tentang alam ini menyadarkan kita untuk ada di dalam, jaga alam dan manfaatkan alam sejauh ada kebutuhan bagi kita manusia untuk hidup. Alam tidak boleh dipermainkan nanti dia mempermainkan kita. Alam tidak boleh dirusak nanti dia merusak kita. Alam ini ada untuk kita. Sujudlah kepada Yang Maha Ada yang telah adakan alam ini.

  • Filsafat Pembangunan

     

    Pembangunan yah pembangunan. Bangun jalan, jembatan dan gedung. Ada filsafat? Buang waktu. Bangun yah bangun. Untuk apa filsafat. Apa kaitannya? Ungkapan seperti inilah yang membuat pembangunan itu asal pembangunan, tanpa dasar yang kokoh. Bangun apa, siapa yang membangun, untuk siapa, di mana, kapan, berapa anggaran, gunanya apa, dan semua pertanyaan ini adalah permukaan dari pembangunan. Ini bukan dasar.

    Dasarnya di mana? Filsafat. Hah, apa lagi? Jadi kami yang di Dinas PU (Pembangunan Umum) ini harus studi filsafat? Kami ini kontraktor. Harus studi filsafat. Saya ini Sarjana Teknik. Harus studi filsafat dan bergelar Sarjana Filsafat? Makin bingung dan makin berbelit pertanyaan tentang Filsafat Pembangunan.

    Pembangunan. Bangun. Jembatan bangun? Rumah bangun? Jalan bangun? Tidak. Yang bangun itu manusia. Manusia itulah pembangun. Karya manusia itulah yang namanya pembangunan. Untuk terjun ke filsafat pembangunan penulis sodorkan teori ‘Kwadran Bele’ (2011), 4 N. Berdasarkan teori ini manusia itu pribadi yang terdiri dari empat unsur: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani.

    Dalam diagram, satu bujur sangkar dibagi empat dan tiap bidang itu berisi: bidang pertama, Nafsu, kedua Nalar, ketiga Naluri dan keempat Nurani. Empat bidang ini sama besar, berarti ada keseimbangan. Kalau salah satu bidang terlalu besar, maka tiga bidang yang lain tergeser ukurannya dan empat bidang itu tidak seimbang lagi. Ini teori untuk mengukur pembangunan apa saja. Pembangunan itu harus sesuai Nafsu yang wajar, Nalar yang benar, Naluri yang sehat dan Nurani yang tulus.

    Bangun satu jembatan, dana 100 milyar. Jembatan itu memang sangat dibutuhkan. Ini masuk bidang Nafsu. Ada ahli-ahli yang merancang. Ini bidang Nalar. Ada banyak pihak terlibat, termasuk masyarakat yang membutuhkan. Semua harus dipuaskan. Ini bidang Naluri. Ada pertimbangan dapat untung  yang wajar. Ini bidang Nurani.

    Bidang pertama, NAFSU. Jembatan itu dibutuhkan. Tapi terlalu panjang dan terlalu mahal. Dana tidak cukup, tapi karena benar-benar dibutuhkan, bangun saja dengan dana pinjaman. Ini Nafsu besar. Gali lubang tutup lubang. Baik kalau hutang itu dapa dilunasi pada waktunya. Kalau tidak? Mencelakakan diri. NALAR.

    Para ahli dari berbagai disiplin Ilmu berkumpul membuat analisa. Ini membutuhkan keahlian dan pengalaman yang benar-benar teruji. Salah hitung, jembatan ambruk. NALURI. Para kontraktor belomba untuk menang tender. Pemerintah dekati masyarakat, pembebasan tanah. Para pedagang, semen, besi, kayu, aspal bermunculan menawarkan jasa. Masyarakat penuh harap jembatan segera selesai.

    Keterlibatan manusia-manusia ini masuk dalam Naluri untuk berkontak antara sesama  manusia. NURANI. Pemerintah jujur tidak menipu masyarakat. Kontraktor kerja sesuai rencana. Ada hasil, semua pihak puas. Tidak ada saling tipu, tidak ada mark-up harga dan lahan yang dibebaskan diberi harga yang wajar. Waktu peresmian, gunting pita,  ada pesta. Gembira karena sudah memenuhi 4 N. Berbagai pihak pidato dan ada doa. TUHAN dilibatkan untuk jadi SAKSI.

    Empat unsur ini, 4N,  terpadu dalam diri masing-masing pribadi, kelompok  yang terlibat dalam pembangunan, itulah yang dinamakan filsafat pembangunan. Manusia yang membangun. Membangun demi kesejahteraan. Salah satu unsur itu tidak terpenuhi maka pembangunan itu tidak layak disebut pembangunan tetapi pengrusakan, penghancuran. Bangun yah benar-benar bangun, bukan tidur atau kubur. Bangun membuat segar. Pembangunan membuat manusia bugar, jasmani-rohani.

     

     

  • Filsafat Yunani

     

    Orang Yunani itu pintar sekali. Kalau bicara tentang Filsafat, harus mulai dari Yunani. Ini yang salah dan sama sekali salah. Pendapat ini membuat banyak orang menjauhi filsafat karena pikir harus tahu siapa itu Socrates, Aristoteles dan lain-lain. Yunani itu tempat. Pikiran-pikiran itu dicatat dan tersebar dari sana. Bukan berarti orang Yunani itu palling pintar dan kita semua harus belajar di sana atau dari sana.

    Ada Filsafat Tiongkok, ada Filsafat India, Fisafat Barat, Filsafat Timur. Itu menunjuk tempat pikiran orang-orang yang ada di sana dan tertulis lalu tersebar. Jangan ikat diri dengan tempat. Ada Filsafat Kuno, Fisafat Abad Pertengahan, Filsafat Modern. Itu pembahagian menurut waktu. Ada Filsafat Alam, Filsafat Manusia, Filsafat tentang Tuhan. Itu pembahagian menurut tema, tentang apa orang berpikir secara mendalam.

    Ada Filsafat Skolastik, Liberalisme, Eksistensialisme, Neo-Liberalisme. Itu aliran. Pendewaan Filsafat berdasarkan tempat, waktu, tema dan aliran ini yang memporak-porandakan pengertian tentang filsafat sehingga hanya orang tertentu saja yang dianggap tahu filsafat dan berfilsafat. Padahal kita semua tahu filsafat dan berfilsafat.

    Jujul di atas, Filsafat Yunani mempersempit filsafat. Langsung membuat bulu kuduk berdiri, binatang apa lagi ini. Itu hanya merek, cap. Beras Memberamo, Beras cap Jeruk. Itu merek dan tidak berarti beras lain tidak baik atau bukan beras.

    Filsafat diartikan dengan Ilmu memang jadi asing dan menjadikan orang takut. Kalau dikatakan, saya pikir begini, maka orang akan arahkan perhatian, dia pikir apa. Ini filsafat. Pikir.

    Kalau makan nasi lalu sementara makan nasi itu pikir tentang kandungan zat-zat yang ada dalam nasi, bagaimana nasi itu terjadi dan bagaimana nasi akan diolah dalam perut, dan pikir dan pikir terus tentang nasi, kapan nikmatnya nasi dinikmati.

    Dan kalau nasi diasingkan sekian rupa maka orang enggan makan nasi, sebab rumus dan syaratnya terlalu banyak. Demikian pula dengan filsafat. Terlalu banyak cap dikenakan pada filsafat sampai filsafat menjadi asing dan ganjil.

    Filsafat itu proses berpikir dan hasil berpikir. Anak umur tiga tahun. Sudah bisa ungkapkan beberapa kata. Tiba-tiba pada malam hari di depan rumah mereka dia bertanya pada bapaknya, ‘Pak itu bintang. Bisa ambil?’ Itu filsafat.

    Bocah ini berpikir. Bapaknya berpikir. Pikiran ini harus dirumuskan dalam kata-kata yang dia kuasai. Harus ada pengalaman, pengetahuan. Harus ada bahasa. Ini semua mata rantai filsafat. Jangan merasa asing dan mengasingkan filsafat. Jangan mendewakan filsafat.

    Saya berfilsafat. Itu berarti saya berpikir dan ajak orang lain berpikir. Hasilnya ada pendapat. Pendapat itu salah atau benar. Pendapat saya ini untuk apa saya kemukakan. Kepada siapa saya kemukakan. Kapan harus saya kemukakan. Di mana saya boleh kemukakan. Dalam bahasa apa saya kemukakan.

    Ini filsafat. Lepaskan itu pikiran tentang pikiran ini pikiran siapa dan dari mana. Ini membelit diri dengan hal-hal yang tidak perlu. Berpiir yah berpikir. Bekata yah berkata. Cari yang benar, baik dan berguna. Itu filsafat.

    Jangan tunggu orang Yunani datang ajar kita. Jangan agung-agungkan orang Barat. Saya berfilsafat. Saya pikir yang benar. Saya bicara yang benar. Ini baru namanya saya manusia yang berpikir, berpendapat dan berbuat benar. Itulah filsafat.

     

     

  • Firasat

     

     

    Sering kita dengar dan pakai kata ini, firasat. Ada rasa, dugaan, perkiraan tentang apa yang akan terjadi. Baik atau buruk. Sesudah terjadi langsung berceritera, memang, saya sudah ada firasat. Biasanya hal buruk yang menimpa itu yang diungkapkan melalui ceritera tentang firasat. Celaka dengan kendaraan di jalan. Entah sendiri atau kerabat dekat berujar, memang saya sudah ada firasat jelek tadi pagi. Kejadian dikaitkan dengan perasaan di waktu lalu.

    Nafsu kita selalu berkontak dengan alam nyata. Nalar kita mengetahui dan mengalami yang sudah dan sedang terjadi. Nalar juga menduga apa yang akan terjadi. Di sini letak firasat. Naluri kita selalu mengharapkan yang baik. Kalau yang buruk menimpa kita langsung cari jawabnya pada firasat. Nurani kita terguncang oleh peristiwa jelek yang menimpa diri kita dan Nurani bertanya, salah apa? Ini peran 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri +Nurani yang membuat diri kita hidup melangkah maju ke arah yang baik dan lebih baik lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Firasat itu meneguhkan atau meruntuhkan? Hidup itu tahan banting. Penuh tantangan. Dalam hadapi tantangan, kalau diteguhkan, baik. Kalau diruntuhkan semangat juang, jangan. Istilah firasat boleh tetap dipakai, karena sulit dihilangkan. Sudah berurat-akar dalam hidup kita bermasyarakat. Pakailah kata firasat dalam arti yang positif. ‘Tadi pagi saya ada firasat buruk’. Ungkapan ini meruntuhkan diri. Kalau tertimpa mala-petaka yang tak terduga, tanyalah Nafsu, ini salah keinginan? Tanya Nalar, mengapa saya tidak ikut larangan? Tanya Naluri, mengapa saya tidak ikuti nasihat orang untuk tidak berbuat hal itu? Tanya Nurani, mengapa saya tidak waspada menghadapi situasi ini?

    Kita hidup tidak dituntun oleh firasat. Hidup kita dituntun oleh DIA, SANG PEMBERI HIDUP. Di luar DIA, tidak ada siapa pun, apa pun yang mengatur hidup kita ini. Unsur-unsur dalam diri kita, ‘4N’ itu anugerah dari YANG MAHA BIJAK untuk kita hidup penuh bijak bukan penuh firasat.