Month: November 2022

  • Jalan dari Sudut Filsafat

     

    Jalan ini dari mana ke mana? Ini benda. Ini mau jalan ke mana? Ini kegiatan. Hidup manusia erat kaitannya dengan jalan. Di dalam rumah sendiri pun ada jalan. Dari ruangan ke ruangan, ada jalan. Bergerak dari ruangan ke ruangan, jalan. Jalan juga berarti cara. Untuk atasi masalah ini kita harus cari jalan sama-sama. Ini cara, upaya. Jalan juga artinya niat. Memang kamu sudah salah jalan. Jalan juga menyangkut perilaku. Maaf, jalan yang saya ikuti tidak benar. Pagi ini saya mau jalan keliling kompleks perumahan, cari keringat. Ini NAFSU, keinginan, menapaki jalan, menggerakkan badan, cari sehat. Saya harus cari jalan yang tepat untuk mendapat hasil yang tepat. Matematika. Ini NALAR.

    Untuk menaikkan taraf hidup masyarakat ini harus ada jalan ke luar. Ini NALURI. Memang sampai sekarang engkau susah terus karena jalan yang kau tempuh, salah. Ini NURANI. Jadi jalan dilihat dari benda yang dilalui masuk ranah NAFSU. Jalan dilihat dari rumusan matematik, jalan berpikir, NALAR. Jalan dilihat dari upaya kemasyarakatan, NALURI. Jalan dari arah hidup seseorang, NURANI. Ini secara sederhana berfilsafat tentang ‘jalan’ memakai rumus ‘Kwadran Bele 2011’, 4 N: NAFSU + NALAR+ NALURI + NURANI.

    Hidup itu jalan. Jalan itu hidup. Ada gerak jalan, ada jalan gerak, memulai satu upaya untuk melaksanakan sesuatu. Jalan itu arah. Jalan dari atau menuju. Jalan itu bukan tujuan, tapi arah ke tujuan itu. Jalan hanya menghantar. Berhenti di jalan, hanya sementara. Hanya orang gila yang tinggal di jalan. Hanya orang aneh yang berkeliaran di jalan tanpa arah, dan dijuluki orang jalanan. Jalan ada kecil, ada besar. Yang kecil disebut lorong, yang besar disebut jalan raya.

    Ada jalan potong, pintas. Ada jalan bengkok, berliku-liku, ada jalan lurus. Ada jalan mulus ada jalan berkelikir. Ada jalan kotor ada jalan bersih. Ada jalan benar ada jalan salah. Ada jalan-jalan, santai, ada jalan sungguh-sungguh. Ada jalan tertatih-tatih ada jalan tegap. Ada jalan cepat, ada jalan lambat. Ada jalan maju, ada jalan mundur.

    Ada saatnya jalan, ada saatnya berhenti. Manusia di jalan saja, liar. Manusia tidak jalan, di rumah saja, malas. Banyak berjalan, banyak pengalaman. Jalan jadi milik, ini saya punya jalan, kami punya jalan, bukan kamu punya. Buka jalan, tutup jalan. Jalan umum, jalan khusus. Jalan masuk, jalan ke luar. Manusia menyatu dengan jalan, ini jalan saya yang buat, saya biasa ikut jalan ini.

    Dari segi NAFSU, jalan itu kegiatan manusia mengupayakan hidup. Jalan yang dibuat, entah kasar atau mulus, milik umum atau pribadi, masuk ranah NAFSU manusia, hasil jerih lelah. Jalan tegap atau tertatih-tatih, adalah pancaran NAFSU untuk bergerak dalam memenuhi keinginan badani. Ini NAFSU. Memeras otak, mencari jalan, ini karya NALAR. Mencari jalan menyelamatkan kelompok pendaki gunung yang tersesat di jalan, masuk ranah NALURI. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Ini ukuran NALURI.

    Tunjuk jalan untuk berhenti jalan ke tempat maksiat, ini masuk wilayah NURANI. Jalan harus dijadikan bahagian hidup manusia berdasarkan garis 4N, secara terpadu, terarah, terukur dan terpuji. Mencari jalan rupa-rupa untuk mencuri uang rakyat, tidak terpuji, jalan yang hina. Cari jalan yang halal untuk dapat uang, ini jalan yang terpuji, bermartabat.

    Orang-orang Kristen akrab dengan kutipan dalam Alkitab, Yesus berkata kepada Rasulnya, Tomas, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Ini menyangkut gerak NURANI, meliputi NAFSU, NALAR dan NALURI. Keempatnya terpadu jadi satu dalam jalan hidup manusia dari hidup jasmani ke hidup ilahi, dari hidup fana ke hidup baka.

     

  • Desa dari Sudut Filsafat

     

    Desa itu tempat, kesatuan kelompok, suku, budaya, ekonomi, politik, agama. Desa lain dari kelurahan. Desa itu orangnya saling kenal, akrab, hidup saling tolong menolong. Desa dipertentangkan dengan kota. Desa dianggap kolot, kota dianggap modern. Suasana desa itu sepi, tidak hiruk pikuk, susah sama susah, senang sama senang.

    Ada pesta, tidak ada undangan. Dari mulut ke mulut, langsung orang berdatangan, tidak ada tamu, semua merasakan sebagai tuan rumah. Saat makan, semua makan, sama-sama, tidak ada perbedaan. Wilayah desa sama luas dengan kebun-kebun orang desa itu. Batas kebun sampai di mana, batas desa sampai ke situ.

    Penduduk desa bertambah, hanya oleh kelahiran. Jarang ada pertambahan penduduk karena perpindahan. Kalau ada orang baru yang datang, pasti dia ada hubungan keluarga dengan warga desa, dan kalau mau menetap, harus ada kaitan dengan warga desa, tidak mungkin ada orang baru tetap baru dan terasing dari kekerabatan desa. Di desa semua orang sedesa itu bersatu dalam mencari nafkah, bertani dan beternak, mendirikan rumah.

    Inilah aspek NAFSU dari desa sebagai himpunan manusia-manusia yang tidak sekedar tinggal, tapi merasa senasib sepenanggungan. Kearifan lokal di desa itu merupakan NALAR desa yang terkadang membeku dan bertahan sulit menerima perkembangan. NALURI orang-orang desa itu halus, langsung merasakan susah dengan yang susah, senang dengan yang senang.

    NURANI orang desa itu langsung tergerak melawan kejahatan, mengucil pengacau, mengutamakan ketenteraman, keadilan dan  kedamaian. Empat faktor kepribadian manusia secara pribadi menyatu menjadi satu pribadi besar, namanya ‘orang desa’ dengan ciri khas masing-masing desa. Kekhasan desa ini berakar pada unsur NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4N) yang terpancar dalam hidup sehari-hari atas dasar kedekatan fisik (NAFSU), kesamaan kesepakatan (NALAR), keterkaitan darah (NALURI) dan kedalaman iman (NURANI). (4N, Kwadran Bele, 2011). Sulit sekali orang desa meninggalkan desanya. Biar merantau bertahun-tahun tetap ada kerinduan pulang ke desa.

    Desa bukan hanya kesatuan wilayah, tetapi kekhasan wajah. Di desa ada hati manusia. Desa bertahan hidup bukan karena kolot, tetapi karena 4N itu terpateri  dengan tanah, kebun, sumur dan sungai yang ada di desa. Orang desa hidup dan mati di desa itu. Tidak heran kalau seorang yang mengungsi ke kota, meninggalkan wasiat untuk jenazahnya dibawa kembali ke desa dan jasadnya tetap menyatu dengan tanah desanya. Desa itu suci. Tidak rela dinodai dengan dosa egoisme kota. Keangkuhan manusia modern diharamkan di desa. Desa itu murni. Kalau ada warga yang suka putar balik, langsung diketahui dan terkucil dari pergaulan. Mengapa dunia ini tidak jadi satu desa besar?

     

     

  • Salam dari Sudut Filsafat

     

    Salam setiap saat berseliweran di dunia ini dalam hitungan angka milyaran. Penduduk dunia yang diperkirakan sudah mencapai 7 milyar ini kalau separuhnya saja saling memberi salam, maka tiga setengah milyar salam beredar, lisan atau tertulis. Manusia saling memberi salam. Ibarat semut kalau berpapasan saling mencium, manusia saling bersalaman setiap kali bertemu entah secara langsung atau tidak langsung.

    Media apa pun saja dipakai oleh manusia untuk saling memberi salam. Salam dalam berbagai bahasa, kata-kata dan isyarat. Kebiasaan saling memberi salam ini seusia manusia itu sendiri. Salam itu bukan hal baru. Ada salam adat, salam sosial, salam bisnis, salam politik, salam agama. Ada juga salam basa-basi, sekedar salam.

    Pengalaman saya, sejak usia lima tahun, 1952, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), saya sudah mengenal dan melakukan salam dalam bahasa Latin yang sangat membekas sampai saat ini.

    Salam itu salam agama, bunyinya, “Dominus vobiscum”, itu sapaan dari Pastor waktu liturgi Ekaristi atau Misa, dijawab oleh kami, umat, “Et cum spiritu tuo”. Artinya, “Tuhan sertamu”, dijawab, “Dan beserta rohmu”. Memang dalam upacara agama jadi Tuhan langsung dilibatkan.

    Salam setiap hari muncul dalam diri seorang ditujukan kepada orang lain, karena ada dorongan NAFSU, keinginan untuk memberi dan menerima perhatian. Kedua insan itu saling memberi perhatian dan menjalin hubungan dengan kata atau isyarat yang bermakna salam.

    Salam berdasarkan NAFSU ini bisa tiga macam: salam tulus, salam bulus atau salam basa-basi. Salam tulus itu sangat bermakna manusiawi. Salam bulus itu pernah tercatat dalam sejarah umat manusia ini, yaitu salam Yudas untuk Yesus, Guru dan Tuhan. Salam basa-basi itu hanya sekedarnya saja.

    Ada dorongan NALAR dari seseorang untuk memberi salam kepada orang lain karena keduanya bertemu di dunia ilmu pengetahuan. Dorongan NALURI memaksa seseorang memberi salam, mungkin karena yang disalami itu lebih tua usianya. Ada salam yang muncul karena bisikan NURANI, itulah salam keagamaan yang melibatkan Tuhan.

    Dunia akan jadi sunyi sepi kalau tidak ada lagi ucapan salam. Dan itu tidak mungkin. Tetap salam itu memenuhi ruang angkasa dan relung hati. Salam itu ungkapan diri manusia yang berasal dari perpaduan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Salam yang utuh, tulus dan luhur itu salam yang muncul dari keutuhan diri manusia dalam unsur 4 N ini (Kwadran Bele, 2011). Salam yang tulus dan luhur ini memberi semangat baru, semangat juang dan semangat untuk hidup seutuhnya sebagai manusia dengan manusia dan manusia dengan TUHAN.

     

  • Jujur dari Sudut Filsafat

     

    Jujur itu satu kata yang langka akhir-akhir ini. Karena tindakannya pun langka. Anak jujur, orang tua jujur, suami jujur, isteri jujur, masyarakat jujur, pemerintah jujur. Ini idealnya. Kenyataannya lain. Antara kenyataan, pikiran, omongan, perbuatan sejalan, itulah kejujuran. Kenyataan itu masuk ranah NAFSU. Pikiran itu masuk wilayah NALAR. Omongan itu wilayah NALURI. Perbuatan itu sudah masuk wilayah NURANI. Jadi jujur itu ada kesesuaian antara 4 N, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (Kwadran Bele, 2011).

    Contoh: Makan. Saya mau makan, NAFSU. Makan apa, pilih, NALAR. Makan sendiri atau bersama orang lain, makan saya punya makanan bukan orang lain punya,  NALURI. Makan dengan tenang dang senang, sambil bersyukur pada Tuhan. NURANI. Ini yang namanya makan dengan jujur.

    Makan kenyang,  senang, tenang. Ada keselarasan antara barang, makanan dengan diri saya yang nikmati sesuai Nafsu saya, Nalar saya, Naluri saya dan Nurani saya. Ini ukuran jujur itu apa. Jujur itu sederhana sekali, makan yah makan. Ini contoh sangat sederhana tentang apa itu jujur.

    Manusia jujur. Gampang hidup bersama orang lain. Otaknya tidak miring. Omong apa adanya. Perasaannya tenang. Tidak gelisah. Tidak susah. Disusahkan? Bisa dan biasa. Menyusahkan? Tidak.

    Manusia jujur tidak menjadi orang yang berbahaya bagi orang lain. Perut sudah kenyang yah, kenyang, jangan isi lagi. Tapi karena lihat makanan enak yang lain, tambah terus. Ini tidak jujur pada diri sendiri, akibatnya perut sakit karena kelebihan isi. Ini yang namanya NAFSU ada dan tidak dikendali oleh NALAR.

    Seharusnya NALAR memberi peringatan untuk cukup dan berhenti makan. Ini tidak jujur dengan NALAR. Lalu sementara makan berlebihan padahal ada orang lain kekurangan, malah tidak ada apa-apa untuk dimakan. Orang yang makan berlebihan ini tidak jujur terhadap sesama. Ini menciderai NALURI. Apalagi kalau yang dimakan itu hasil curian hak orang lain.

    Heran, ada orang yang bisa berfoya-foya dengan makan apa saja yang paling enak dan paling mahal padahal duit yang dia pakai untuk beli makanan yang luks itu duit orang lain yang dia ambil secara paksa atau secara sembunyi-sembunyi.

    Secara NALURI, ini yang dikatakan tidak jujur terhadap masyarakat. Lebih ngeri lagi, hati orang itu tetap tenang malah ucap syukur lagi kepada Tuhan atas rezeki yang diperoleh. Rezeki? Curi dikatakan rezeki? Ini soal NURANI. Tidak jujur terhadap YANG di ATAS.

    Jujur itu teratur dalam NAFSU. Terukur dalam NALAR. Tersalur dalam NALURI. Terlebur dalam NURANI. Ada kepuasan dalam NAFSU. Ada kelegaan dalam NALAR. Ada kelegaan dalam NALURI. Ada keheningan dalam NURANI.

    Alangkah indahnya hidup ini kalau setiap orng jujur pada diri dan sesama dan itulah yang dikehendaki oleh YANG MAHA TINGGI.

     

     

  • Rumah dari Sudut Filsafat

     

    Rumah itu tempat manusia tinggal. Mulai dari bentuk yang paling sederhana dalam bentuk gua sampai bangunan beton yang mahal, tetap namanya rumah kalau itu dibuat oleh manusia untuk tempat tinggal. Rumah dengan manusia itu jadi satu. Rumah menjadi perluasan diri manusia dalam bentuk ruangan dan kebanggaan dalam bentuk bangunan.

    Rumah termasuk barang yang memenuhi NAFSU manusia untuk memiliki. Rumah itu hasil upaya NALAR manusia dalam bentuk bangunan dari bermacam-macam bahan yang dibangun menjadi bangunan sesuai tempat dan iklim. Rumah tempat kita manusia berkumpul dan berlindung memenuhi kebutuhan NALURI untuk aman dan tenang. Rumah menampilkan rasa bathin manusia sesuai NURANI yang terdalam untuk menyatakan syukur kepada Pencipta.

    Filsafat rumah ini bertolak dari ‘4N’ (Kwadran Bele, 2011), di mana rumah itu besar atau kecil, mahal atau murahan, kuat atau rapuh menampilkan unsur dasar manusia yang berkaitan dengan NAFSU. Manusia menampilkan keahliannya dalam membangun rumah, dan inilah hasil NALAR yang membentuk rumah itu dalam berbagai gaya, datar atau lancip, satu atau puluhan malah ratusan tingkat. Ini semua hasil ‘pecah otak’ manusia.

    Rumah juga menandakan gengsi pemiliknya. Ini NALURI. Manusia berlomba-lomba membangun rumah tidak hanya tempat belindung saja, tetapi penampilan kepada sesama di sekitar bahwa dirinya, seisi keluarganya, kelompok orang kaya. Kaya miskin manusia diukur dari rumah. Pantas kalau orang berlomba-lomba untuk dirikan rumah dengan rupa-rupa gaya. Rumah juga menampung manusia dalam gejolak bathinnya, dalam kerinduan menemukan keheningan. Ini NURANI manusia yang terpendam dalam rumah yang ia bangun.

    Rumah itu mengikat manusia untuk tidak jauh dari dirinya. Daya tarik rumah pada pemiliknya, atau sebaliknya, pemilik rumah begitu terikat dengan rumahnya karena 4N ini. Nafsunya terpenuhi di rumah, Nalarnya terpateri di rumah, Nalurinya terpaut di rumah, Nuraninya terpendam dalam rumah. Manusia tinggal di rumahnya karena empat keterikatan ini dan manusia-manusia lain bertandang ke rumah sesamanya karena 4N ini.

    Rumah menjadi berarti sejauh menampilkan 4N dari pemiliknya. Kalau rumah sudah tua dan ditinggalkan, keterikatan dengan pemiliknya masih tetap ada sebab waktu yang pernah terlewatkan oleh pemiliknya di rumah itu menandakan jejak yang tak terhapuskan. Atas dasar inilah manusia yang hidup dan menempati rumah bekas hunian sering mengalami keanehan karena kuatnya aura mantan pemilik sebelumnya. Ini bukan ilusi kalau ada ungkapan ‘rumah hantu’  yang dikenakan pada rumah tua yang lama tidak ditinggali.

    Rumah yah rumah, tumpukan benda-benda. Benar kalau dilihat dari materi melulu. Tapi rumah adalah perluasan dari diri manusia. Atas dasar inilah manusia di mana-mana mendirikan rumah tempat ibadah dan menyatakan, ‘Ini rumah Tuhan’.

     

  • Kawan dari Sudut Filsasat

     

    Dua manusia berkawan, itu sangat biasa. Seorang mempunyai kawan lebih dari satu, banyak. Itu juga biasa. Kawan itu mulai dari masa kecil sampai masa tua, tetap saja ada, kawan sesama jenis atau berlainan jenis, manusia itu hidup berkawan dan itu hal biasa. Awal dari hubungan kawan dengan kawan ini, rupa-rupa. Kawan dapat berawal dari 3 D: Darah, Daerah, Dinas. Berdasakan ‘Darah’ maka kawan itu sesuku. Berdasarkan ‘Daerah; maka kawan itu sedaerah. Berdasarkan ‘Dinas’,  maka kawan itu se-profesi. Manusia dapat dipertemukan atas tiga dasar ini dan jalinan perkenalan itu menjadi kawan atau sahabat, tidak lagi hanya sebatas kenalan.

    Kawan dengan kawan bertemu dan terjalin hubungan yang erat atas dasar pertemuan empat unsur dasar dalam diri masing-masing. Ada kemauan yang sama. Ini NAFSU. Ada pendapat yang sama. Ini NALAR. Ada kepentingan yang sama. Ini NALURI. Ada perasaan yang sama. Ini NURANI. Kemauan dalam NAFSU itu apa saja? Itu kemauan menyangkut hal-hal lahiriah, seperti sandang, pangan, papan. Persamaan dalam urusan ini membuat dua manusia saling mendekati dan terjalinlah semangat untuk hidup sebagai kawan. Dari sisi NALAR, ada dua orang yang selalu saling mencari untuk curah pendapat. Kedua orang ini menjadi kawan karena masalah pengetahuan, saling mengisi. Dari sisi NALURI ada dua orang yang mempunyai kepentingan yang sama yaitu kepentingan untuk meraih sukses, misalnya  dalam satu dunia usaha. Perlu ada orang kepercayaan yang dapat saling membantu. Kedekatan atas dasar kepentingan ini membuat dua orang atau lebih itu kawan. Dari sisi NURANI, dua orang merasa tertarik dan terlibat dalam urusan menolong orang yang susah. Keduanya merasa puas dengan karya amal-kasih ini. Hal ini menunjukkan keterpautan NURANI.

    Kawan akan tetap kawan sejauh unsur 4 N (NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI, Kwadran Bele, 2011) menjadi daya tarik atas dasar yang seimbang, murni dan ikhlas. Kalau satu pribadi mau memperalat pribadi yang lain, 4 N itu tidak seimbang lagi, tidak murni dan tidak ikhlas lagi. Yang namanya kawan, pasti akan jadi lawan. Kawan dengan kawan lebih mengutamakan 4 N itu atas dasar cita-cita untuk saling membahagiakan. Semangat ingat kawan, berkorban untuk kawan, mengutamakan kepentingan kawan menjadi faktor yang lebih mengeratkan ikatan antara pribadi-pribadi ini sebagai kawan sejati. Kawan itu berusaha untuk membahagiakan kawan, bukan membahayakan kawan.

    Hidup sebagai kawan itu akan berakhir dan berubah menjadi lawan kalau NAFSU tidak teratur lagi, bila salah satunya atau dua-duanya ingat diri dan saling memperalat. Kawan menjadi lawan juga kalau NALAR dari kedua belah pihak begitu saling berlomba untuk siapa lebih pintar. Juga kalau NALURI yang salah arah di mana kawan memperbudak kawan, pasti cepat atau lambat, kawan menjadi lawan. Banyak  kawan kehilangan kawan karena semangat mencurigai kawan sebagai orang jahat dan dirinya yang paling suci. Ini faktor NURANI.

    Kawan sejati itu menerima orang lain sebagai kawan karena TUHAN menjadi PEMERSATU diri mereka selama hidup yang singkat di dunia ini.

     

     

  • Dewasa dari sudut Filsafat

     

    Dewasa itu ukuran untuk manusia. Dewasa fisik (NAFSU). Dewasa mental (NALAR). Dewasa bergaul (NALURI). Dewasa bermenung (NURANI). Empat unsur terpadu dalam ukuran dewasa, matang,  baru manusia itu dinyatakan dewasa. (4 N, Kwadran Bele 2011).

    Dewasa artinya bisa bertanggung-jawab atas apa yang dipkirkan, dikatakan dan dilakukan. NAFSU dewasa membuat seseorang itu memiliki barang secara bertanggung-jawab. Seorang memiliki alat tulis. Memakai alat tulis itu untuk menulis hal-hal positif yang tidak merugikan diri dan sesama, berarti NAFSU memiliki alat tulis dan NAFSU mengungkapkan diri itu dewasa dan diharigai orang lain.

    NALAR yang dewasa membuat seseorang itu memakai alat tulis untuk mencatat hal-hal yang benar dan berguna untuk diri dan sesama. NALURI yang dewasa membuat seseorang itu memakai alat tulis dan menulis dan menyebarkan berita yang baik kepada sesama. NURANI yang dewasa membuat seseorang itu mencatat hal-hal yang membahagiakan dalam permenungan tentang ulah-laku di waktu yang lalu.

    Dewasa itu ukuran yang dituntut dari setiap manusia dengan bertambahnya usia dari tahun ke tahun. Seseorang yang  mengumbar NAFSU seks, ketertarikan antara sesama berlainan jenis kelamin, dianggap tidak dewasa.

    Dewasa dalam NAFSU seks membuat seseorang menyalurkan dorongan seks secara wajar mengikuti semua norma yang berlaku. Secara NALAR dalam kondisi dewasa, seseorang menimbang dengan seksama pasangannya untuk hidup bersama dalam satu ikatan perkawinan.

    NALURI yang dewasa membuat pasangan suami isteri bertanggung-jawab untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi orang yang berguna untuk diri dan masyarakat. NURANI yang dewasa mendorong ayah dan ibu itu membiasakan anak-anaknya untuk menghormati diri mereka sebagai orang tua dan mengajar anak-anak untuk berbakti kepada TUHAN sebagai asal-usul kehidupan.

    Dewasa dalam NAFSU, NALAR, NALURI dan NURANI membuat kita manusia-manusia ini hidup saling menolong (NAFSU) saling mengingatkan (NALAR) saling menelamatkan (NALURI) saling mengasihi (NURANI). Kumpulan manusia yang dewasa dalam arti yang sesungguhnya membuat masyarakat itu aman dan damai.

    Masyarakat yang tidak dewasa terlihat dari gejala banyaknya kejahatan yang terjadi. Masyarakat yang dewasa terlihat dari minimnya kejahatan. TUHAN menempatkan kita di dunia ini untuk saling memperlakukan secara dewasa dan memanfaatkan alam ini secara dewasa pula.

     

     

  • Lahir dari Sudut Filsafat

     

    Lahir itu peristiwa dalam hidup setiap manusia. Manusia lahir dari seorang ibu. Ibu itu lahir dari ibunya. Kalau ditelusuri lebih lanjut ke belakang, pasti dari ibu ke ibu sampai ke ibu yang pertama, dan ibu yang pertama ini dari mana? Buntulah penelusuran pemikiran kita.

    Dari sudut filsafat, ada jalan ke luar, NALAR buntu, NURANI bekerja. Di NURANI inilah ada jawabannya, manusia pertama pasti lahir dari Sang Pemberi Hidup. Titik. Empat unsur dalam diri manusia, 4 N (Kwadran Bele, 2011) menyadarkan kita manusia bahwa manusia itu lahir tidak semata-mata atas kuasanya sendiri.

    Setiap kita yang sedang berpikir tentang lahir, mengalami bahwa saya pernah lahir. Engkau, dia, kita, kami, kamu, mereka pernah lahir sehingga ada.

    Adanya manusia melalui peristiwa lahir. Tidak ada satu manusia pun yang langsung ada seperti patung yang diukir. Hanya manusia yang lahir melalui satu proses yang khusus: NAFSU untuk kawin ada dalam diri dua manusia, laki-laki dan perempuan.

    Dua manusia ini ada NALAR untuk merencanakan dan melaksanakan seluruh proses terjadinya satu manusia baru lahir. Ini peristiwa penting dan peristiwa mulia yang terjadi atas karya dari Sang Pencipta.

    Pantas sekali setiap orang mensyukuri hari lahirnya sebagai hari ulang tahun setiap tahun dan setiap orang menjalani hidupnya dengan suatu kesadaran bahwa dari tahun ke tahun, umur bertambah dihitung dari tahun pertama kelahiran.

    Lahir itu disadari sebagai awal dari adanya mansia di tengah orang lain. Inilah kesadaran berdasarkan NALURI. Kita manusia alami sendiri pernah lahir dan melihat manusia baru lahir hari ini dan kemarin. Manusia bertambah melalui peristiwa kelahiran. NALURI kita menyuarakan kepada kita manusia bahwa kita tidak sendirian. Ada manusia baru lagi yang lahir. Besok akan ada lagi yang lahir. Lahir dan terus lahir.

    Jumlah manusia bertambah melalui proses lahir ini. Berbagai upaya secara pribadi dan bersama dari manusia diusahakan untuk terjadinya proses lahir ini secara baik dan selamat.

    Obat-obatan hasil ilmu kedokteran berkembang untuk menjaga dan menjamin satu manusia lahir dengan selamat. Ini mata rantai upaya manusia terdorong oleh NALURI kemanusiaan untuk menambah jumlah manusia. Lahir itu peristiwa yang menjadi tanggung-jawab semua manusia yang lahir terdahulu.

    Sangat wajar bahwa seorang Ibu begitu gelisah campur rindu untuk menanti kapan anaknya lahir. Dia tahu anaknya yang ada dalam kandungan akan lahir nanti selamat atau tidak, baik bayi dan dirinya. Ini kecemasan antara selamat atau tidak selamat.

    Dalam NURANI terucap doa demi doa, permohonan kepada Sumber Kehidupan untuk jaga kehidupan dari diri si ibu dan si anak yang akan segera lahir. Jadi empat unsur dalam diri manusia ini serentak kerja menanti anak yang akan lahir dan serentak bersorak menerima manusia baru yang lahir ke tengah sesama di dalam dunia.

  • Asal-usul dari Sudut Filsafat

     

    Ini pertanyaan tentang asal-usul kita manusia. Dari mana mau ke mana? Garis melingkar atau lurus? Garis turun atau naik? Dari awal ke akhir? Dari mana ke mana? Inilah pertanyaan abadi. Asal usul kita manusia dari mana? Lahir mati, lahir mati, terus silih berganti, dari turunan ke turunan. Dari mana? Berbagai suku bangsa menelusuri asal-usul mereka dengan menyusun silsilah, akhirnya buntu pada generasi tertentu karena sudah tidak ada lagi informasi tertulis atau lisan tentang generasi yang paling tua.

    Yah, kalau begitu, di mana dan kapan manusia pertama? Berbagai tradisi membuat ceritera tentang asal usul manusia pertama. Agama-agama pun mempunyai ceritera tersendiri tentang asal usul manusia pertama.

    Sampai sekarang semua Agama di dunia ini akhirnya sama pendapat bahwa manusia itu berasal dari dewa-dewi, dan dewa-dewi itu dari dewa-dewi yang lebih tinggi, lebih tinggi, sampai agama-agama monotheis mempunyai ajaran, manusia berasal dari Yang Maha Tinggi, dan menuju kepada Yang Maha Tinggi yang Tunggal, Esa, dan dikenal dengan berbagai Nama dan gelar, dari Dia kembali ke Dia.

    Inilah pendapat terakhir tentang asal usul manusia dan tujuan manusia. Kita manusia saling membingungkan dengan pendapat bahwa manusia itu hanya di bumi ini saja. Ada yang bependapat manusia seperti kita ini ada di planet yang lain juga hanya dalam bentuk yang lain sesuai kondisi planet itu.

    Sekarang dalam artikel ini penulis membatasi diri hanya pada kita-kita ini di bumi ini. Bumi kita kalau dilihat dari tata surya, memang hanya senoktah kecil saja. Tetapi ada dan itulah keadaan kita. Kita dari mana? Asal usul ragawi kita dihitung jutaan tahun lalu di tempat tertentu di bumi ini. Ini semua perkiraan, dugaan, tidak ada kepastian. Akhirnya ada kesepakatan sampai sekarang ini, yang paling gampang,  manusia berasal dari Tuhan. Titik. Entah jalan melingkar atau garis lurus, turun atau naik, pendapat umum sekarang  ini manusia dari Tuhan kembali ke Tuhan.

    Penulis menganut pendapat ini, manusia berasal dari Tuhan kembali ke Tuhan. Tuhan tempatkan manusia di dunia ini dan berkembang biak. Lahir, dewasa, tua dan mati. Sudah ber- milliar-milliar manusia mendahului kita-kita yang hidup pada zaman ini. Mereka dari Tuhan kembali ke Tuhan. Kita juga.

    Sekarang kita jangan berpayah-payah untuk telusuri asal-usul kita secara ilmiah. Percuma, karena tidak akan terjawab pertanyaan ini, dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju. Kita harus mempunyai satu pegangan, kita manusia berasal dari Tuhan Yang Satu dan akan kembali kepada Dia. Karena itu, kita jangan saling menohok, saling mendengki. Jalan yang paling benar, kita sama-sama yakin satu asal-usul, sama tujuan, dari Dia  ke Dia.

     

  • “Siapa” dari Sudut Filsafat

     

    Biasa kita tanya, siapa, kalau kita belum kenal orangnya. Siapa, tanya orang. Apa, tanya barang. Ini apa, siapa punya? Dua pertanyaan, apa tentang barang dan siapa tentang orang.

    Siapa ditujukan kepada orang, tentang fisik, menyangkut bidang NAFSU, tentang pengetahuan menyangkut NALAR, tentang pergaulan menyangkut NALURI, tentang perasaan menyangkut NURANI. Siapa mau dikenal bidang apanya? Dia kaya, miskin? Ini bidang NAFSU.

    Dia pintar, bodoh? Ini bidang NALAR. Dia peramah atau pemarah? Ini bidang NALURI. Dia baik atau jahat? Ini bidang NURANI. Pertanyaan ‘siapa’ itu bukan hanya tentang nama saja, asal usul saja atau kepintaran saja. Kenal siapa kenal orangnya, kenal dirinya malah  pribadinya, dan pribadi itulah yang terdiri dari empat unsur yang saya namakan,  ‘4 N’ : NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (Kwadran Bele, 2011).

    Siapa itu kita kenal hanya kekayaannya, kekuasaannya, itu kita hanya kenal bidang NAFSU saja. Nanti kita dengan dia akan bertemu dan bertransaksi di bidang NAFSU melulu, omong harta dan kuasa saja. Perkenalan dengan ‘siapa’ ini tidak bertahan lama, karena harta ludes, perkenalan putus, kuasa usai, hubungan selesai.

    Kalau siapa itu dikenal hanya melalui kepintaran, ketrampilan, ini masuk bidang NALAR. Ini akibatnya bisa dua: kita bertemu dengan orang yang angkuh, pamer kepintaran, atau orang yang rendah hati, suka berbagi ilmu dan pengalaman. Kalau kita berkenalan dengan orang atas dasar NALURI saja, bisa terjadi kita sedang berkawan dengan orang yang sifat sosialnya tinggi, suka tolong orang lain.

    Ini bisa dua kemungkinan, karena dasarnya orang ini benar-benar suka menolong, atau seseorang yang sedang cari popularitas murahan, bagi harta, murah senyum demi cari pengaruh. Kalau kita kenal siapa itu orangnya yang sangat santun, rajin beribadah, berarti seorang yang  kita kenal ini ternyata ada di bidang NURANI.

    Orang ini yang kita tanya dulu, cari kenal, siapa dia, ternyata orang yang sangat kuat NURANI-nya. Ini bisa ada dua kemungkinan, NURANI-nya benar-benar halus dan tulus, bisa juga seorang yang pura-pura suci, alim di permukaan culas di dalam hati.

    Siapa itu dikenal harus utuh, 4 N. Kita yang mau kenal siapa itu harus punya 4 N yang wajar, seimbang. Pergaulan antara kita manusia ini dengan sesama manusia menjadi lemah, pincang, kacau,  karena berkenalan dan bergaul secara tidak utuh 4 N.

    Keutuhan 4 N inilah yang menjadikan kita manusia itu pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh manusiawi berhadapan dengan YANG ILAHI. SIAPA YANG ILAHI itu? Dari DIA kita datang, kepada DIA kita pulang. DIA itulah yang berikan kita manusia ini secara cuma-cuma 4 N untuk kita kembangkan, gunakan dan arahkan kepada DIRI-NYA.