Blog

  • Ganggu

     

    Ganggu. Hidup ini hilang hidupnya kalau tidak ada yang ganggu. Jadi ganggu itu perlu. Ada yang mengganggu ada yang terganggu. Saling mengganggu. Itulah hidup. Mana ada orang yang sama sekali bebas dari gangguan. Semua manusia selalu mengganggu dan diganggu. Balas membalas. Bayi mengganggu mamanya. Mama mengganggu bayi untuk bangun dari tidur lelap kelamaan. Guru mengganggu siswa-siswi dengan berbagai tugas belajar. Siswa-siswi mengganggu guru dengan berbagai pertanyaan untuk dijawab.

    Di pedalaman Pulau Timor, suku Buna’ biasanya membunyikan segala macam bunyi-bunyian kalau ada gempa bumi. Mereka percaya bahwa getaran gempa itu adalah  gangguan dari roh penjaga manusia yang mau mengetahui manusia masih ada atau tidak di tempat masing-masing. Bunyi-bunyian adalah tanda jawaban kepada roh bahwa manusia masih ada dan tidak tidur, tetap berjaga.

    Nafsu manusia maunya semua serba enak, nyaman. Nalar manusia maunya semua jelas, serba gamblang. Naluri manusia maunya tenang, serba aman. Nurani manusia maunya teduh dan damai serba bahagia. Inilah harapan empat unsur dalam diri manusia, saya, anda, dia, kita. Perpaduan dalam diri manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani menginginkan pribadi manusia tidak mau diganggu, tetap tenang-tenang saja. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ganggu itu baik atau buruk tergantung dari tujuan pengganggu. Iblis, sumber segala keburukan, pasti mengganggu dengan tujuan untuk mengganggu manusia ke arah yang jahat seperti mengeluh, mengutuk, mengamuk dan menghancurkan alam atau sesama.

    TUHAN, mengganggu manusia untuk sadar bahwa dirinya itu baik dan mengusahakan yang baik untuk diri dan sesama di dalam alam ini. Gigi tumbuh pada bayi dan menimbulkan rasa sakit, itu bukan ganggu dengan tujuan menyakitkan, tetapi ganggu gusi bayi supaya di sana tumbuh gigi untuk menggigit dan mengunyah makanan.

    Ganggu dalam hal ini pertumbuhan. Sering kita manusia melihat pertumbuhan dan perubahan itu sebagai gangguan. Padahal itu adalah pertumbuhan, perkembangan, perbaikan, penyempurnaan dari yang baik ke arah yang lebih baik.

    TUHAN sumber segala yang baik itulah yang memberikan kita manusia kebebasan untuk mengupayakan kesempurnaan dan semakin sempurna sampai kepada sempurna yang kekal. Tahap demi tahap menuju kesempurnaan inilah yang kita sangka gangguan. Bukan, itu bukan gangguan tapi sapaan, pemeliharaan terhadap kita manusia dari DIA, Yang Mahabaik.

     

     

     

  • Tepat

     

    Tepat. Satu kata yang sering kita ucap tapi sering kita langgar. Tepat bisa menyangkut waktu, tempat, sasaran. Tepat waktu, biar sering terlambat dengan berbagai alasan. Tempat yang tepat sesuai keadaan biar sering bergeser sedikit-sedikit.

    Sasaran yang tepat, biar sering melenceng. Kita manusia ada Nafsu untuk memenuhi dan menikmati saat yang tepat, tempat yang tepat dan tujuan yang tepat.

    Kita ada Nalar untuk memikirkan semuanya itu dengan matang. Naluri kita menuntun untuk tepat dan tepati semua rencana yang baik bagi diri dan sesama. Nurani kita tenang karena tepat sesuai keinginan Nafsu, pertimbangan Nalar dan dorongan Naluri. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Patokan jelas, tepat itu dari TUHAN. Kurang atau tidak tepat itu dari kita manusia. Waktu, tempat, sasaran dari hidup ini sudah tepat dan tetap. Tidak mungkin ada kekeliruan waktu, tempat dan sasaran dalam hidup kita yang berasal dari TUHAN. Tujuan dari Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani kita itu jelas, tepat, tetap. Itu sudah Rencana dan Penyelenggaraan TUHAN.

    Filsafat itu harus ada dasar yang kokoh dan itu dalam kesadaran akan adanya TUHAN. Pada TUHAN ada kebenaran mutlak. Filsafat itu cinta kebenaran. Lalu kebenaran itu apa?

    Masalah filosofis sampai sekarang ini muncul karena ada pendapat bahwa filsafat itu harus berdasarkan akal sehat, segala yang dapat dicerna akal. Inilah dasar keangkuhan manusia yang muncul dari pemisahan antara ‘Theologi’, Pengetahuan tentang Tuhan, dan ‘Filsafat’, pengetahuan sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu yang dapat dimengerti dengan kekuatan akal. Mana mungkin mau menyelami adanya TUHAN dengan kekuatan akal.

    Tepat itu hanya ada pada Tuhan. Kita manusia ini selalu melenceng ke sana-sini. Nafsu bercabang, tidak tepat, Nalar melayang, banyak kekeliruan, Naluri timpang, bergaul pilih-pilih, Nurani keruh, kurang ingat TUHAN.

    Tepat itulah gerak hidup saya, anda, dia, kita. Tetapkan waktu yang tepat. Tempat sudah tepat, jangan disesali. Sasaran tetap yang sama, kebahagiaan abadi. Itu semua hanya ada pada TUHAN.

     

     

     

  • Polos

     

    Polos. Kata ini tepat untuk perilaku kita manusia yang pikir, omong, perbuatan sejalan. Ada teman saya pernah sindir saya waktu saya Anggota DPR-D Provinsi NTT tahun 2014-2019. Kawan ini dengan polos bicara, “Pak Anton, saya tidak percaya yang Pak omong. Sebab orang politik ini pikir lain, omong lain, buat lain”. Saya lihat kawan itu, dengar ungkapannya, saya pikir lalu renungkan, kawan ini benar. Karena saya tidak mungkin bentangkan semua yang saya pikirkan lalu omong dan buat.

    Dalam hidup ini setiap kita ada Nafsu. Tidak mungkin seluruh Nafsu dalam bentuk keinginan itu saya bentangkan kepada setiap orang. Kepada yang satu saya ungkapkan kepada yang lain saya sembunyikan. Ini tidak polos. Kenapa? Karena kita manusia ada Nalar untuk mengolah dorongan Nafsu itu sesuai keadaan tempat dan waktu. Lalu itu apa hubungannya dengan polos dan tidak polos?

    Ada kaitan erat antara Nafsu, Nalar dan Naluri. Dengan Naluri saya dibatasi oleh kehadiran sesama manusia. Pertenggangkan orang lain. Ini Naluri yang membuat diri seseorang bisa polos sekarang dan sebentar tidak polos lagi. Dalam diri kita ada Nurani yang membuat diri kita sering pikir lain, omong lain, buat lain. Contoh, saya ada Nafsu untuk cari tambah uang karena butuh.

    Nalar bilang, bisa, asal halal. Naluri bilang, hati-hati orang yang janji beri uang itu bohong. Jangan percaya. Nurani saya langsung berbisik, tenang. Biar uang kurang, puaslah dengan apa yang ada. Tenanglah saya. Semua ini tidak mungkin saya uraikan kepada setiap orang. Dalam segala hal kita manusia tidak mungkin hidup polos dalam arti buka-bukaan segala yang ada pada diri kita yang namanya polos. Harus ada selubungnya. Inilah kerjasama 4N, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dalam diri kita. (Kwadran Bele, 2011).

    Polos itu harus. Tapi polos dalam arti yang baik, benar dan berguna bagi diri dan sesama.

    Inilah hidup polos yang dituntut dari setiap diri kita, saya, anda, dia, kita. Siapa yang tuntut?

    DIA, PENCIPTA kita.

     

     

     

  • Pesta

     

    Pesta. Ada musik, ada tarian, ada tawa-ria. Hiasan rupa-rupa. Ada yang memestakan, ada yang dipestakan. Berpesta, suasana pesta. Hidangan berlimpah. Makanan dan minuman tersaji. Setiap orang sesuka hati mencicipi hidangan sesuai selera. Nafsu manusia terarah kepada hal yang senang-senang seperti ini.

    Maunya pesta terus, siang-malam. Nalar manusia mendorong untuk memikirkan dan mencari pesta di mana dan kapan saja. Naluri manusia terpuaskan oleh hadirnya sesama dalam pesta. Nurani manusia merasa bahagia karena suasana ramah, tenang dan damai dalam pesta. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini pesta. Setiap orang ada dan nikmati pesta. Siapa tuan pesta dan siapa undangan? Setiap pribadi manusia itu tuan pesta sekaligus undangan sebagai peserta dalam pesta yang sedang berlangsung. Ruang pesta adalah seluruh alam semesta ini. Heran kalau ada orang yang merusakkan ruang pesta serta memorak-porandakan hiasan yang ada di dalamnya. Heran juga bahwa ada orang yang berkelahi di ruang pesta. Itulah hidup yang adalah pesta.

    Dalam pesta ini tidak boleh ada mabuk-mabukan. Yang biasa disebut mati, meninggal dunia, sebenarnya pindah ruang. Tetap pesta yang sama. Hanya bedanya, di ruang dalam itu segalanya kekal. Bunga tidak layu lagi, daun tidak lagi gugur.  Terik matahari tidak menyengat dan dinginnya salju tidak menusuk. Yang namanya capai, sakit, susah, lenyap. Hidup yang sekarang ini persiapan ke arah  hidup yang baru itu, abadi.

    Nafsu kita diberi oleh Pencipta untuk menikmati pesta sepuas-puasnya tanpa lewat batas. Nalar kita diberi oleh Dia untuk mengalami dan memahami makna pesta. Naluri diberi untuk menikmati pesta dalam kebersamaan, bukan sendiri-sendiri atau saling gontok-gontokan. Nurani diberi untuk meresap makna pesta dalam keheningan yang penuh damai.

    Pesta itu hidup, hidup itu pesta. Alangkah indahnya hidup ini kalau saya, anda, dia, kita merayakannya dengan gembira. Tidak ada susah? Tidak ada sakit? Yang namanya susah, sakit itu sebenarnya ibarat dalam pesta, kita angkat meja, atur kursi, kerja yang melelahkan, yang masak di dapur asap masuk di mata. Itu bukan siksaan, bukan kutukan.

    Hidup ini pesta. Mari kita rayakan.

     

     

  • Lain

     

    Lain. Hidup ini semakin hidup karena ada yang lain. Lain dalam apa saja. Tempat, waktu, keadaan. Tidak pernah kita manusia ini puas dengan yang sama terus. Maunya lain terus. Hari ini lain dari kemarin dan pasti lain dari esok. Tidak pernah hari yang sama terus. Itu mati. Namanya hidup, harus lain terus, dari lain ke lain.

    Ini karena kita ada Nafsu yang ingin nikmati yang lain dari yang biasa. Sejauh ingin yang lain itu dalam batas-batas yang wajar, maka Nafsu kita berjalan di jalan yang benar. Kita ada Nalar untuk pikir dan cari yang lain dari yang sekarang. Kita suka pengalaman lain, pengetahuan lain. Ini karya Nalar yang cerdas. Kita ada Naluri untuk bergaul secara lain dan berjumpa dengan orang lain. Sejauh ada yang lain di sekitar kita dalam saling memperkaya penuh rasa persaudaraan, maka yang lain itu jadi kegembiraan bukan kegelisahan. Kita ada Nurani untuk menerima yang lain untuk menambah rasa aman dan damai. Dari aman ke lebih aman. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lain dalam menu makanan. Ini peran Nafsu. Lain dalam pengalaman. Ini peran Nalar. Lain dalam persaudaraan. Ini peran Naluri. Lain dalam damai. Ini peran Nurani. Lain di sini selalu harus dalam arti yang baik, benar dan bagus. Kalau lain dalam arti yang negatif, maka itu yang tidak diizinkan oleh DIA, PENCIPTA kita. Lain dalam mengomsumsi makanan yang lain yang beracun berarti salah dalam Nafsu. Lain dalam mengetahui lalu terlibat hal tipu-menipu, itu peran Nalar yang tidak benar. Lain dalam mencari teman lain yang mencelakakan, pasti itu peran Naluri yang salah arah. Lain dalam arti isi bathin dengan benci dan dendam, itu berarti Nurani sedang kabur. Lain dari sekarang ke arah lain yang lebih baik. Itulah hidup dalam arti yang sebenarnya.

    Hidup ini dari lain ke yang lain. Seluruh kita tearah ke hidup yang lain sebagai keberlanjutan dari yang fana ke yang baka.

     

     

     

  • Bantu

     

    Bantu. Bantu sesama, biasa. Saling membantu, bantu-membantu. Satu bantu yang lain. Satu kekurangan ini, yang lain  kelebihan itu. Bantu yang berkekurangan. Hidup ini bantu-membantu. Tidak ada satu manusia pun yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau sudah dibantu, wajib membantu orang lain.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati berbagai kebutuhan. Ini perlu bantuan orang lain. Kita manusia tidak tahu segala sesuatu. Harus ada orang lain bantu kita untuk mengetahui dan mengalami hal-hal baru. Ini karya Nalar. Saling membantu itu wajar dan wajib. Ini peran Naluri. Sesudah membantu dan dibantu, kita ada rasa tenang, terimakasih, damai. Ini peran Nurani. Empat unsur ini, ‘4N’ merupakan bahagian tak terpisahkan dalam diri kita manusia untuk hidup membantu dan dibantu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia saling membantu. Alam sekitar ada, diadakan oleh PENCIPTA untuk membantu kita manusia supaya bisa hidup. Hidup ini tidak melayang begitu saja. Harus ada tempat. Rumah, ladang, langit, udara, ada untuk membantu kita supaya kita hidup. Kita bertindak bodoh kalau tidak memakai bantuan ini. Lebih bodoh lagi kalau menyalah-gunakan malah merusak bantuan ini.

    Bantu-membantu, itu wajib. Saling membantu. Itu yang bahasa kerennya, saling mengasihi. Orang sakit, dibantu. Yang sehat bantu yang sakit. Orang miskin, dibantu. Yang kaya bantu yang miskin. Beri bantuan. Yang membantu ada kemampuan untuk membantu. Yang dibantu membutuhkan bantuan karena kekurangan. Orang Eropa ada gandum, bantu kita di Asia dengan gandum yang jadi terigu dan roti. Kita di Asia bantu mereka dengan padi yang jadi beras dan nasi. Alam dengan segala keterbatasannya memaksa kita untuk saling membantu.

    Nafsu kita adalah dorongan untuk menikmati apa yang ada di sekitar kita. Tidak boleh nikmati sendiri, harus bantu orang lain. Nalar adalah daya untuk mengetahui cara mengolah kebutuhan. Tidak boleh kikir dengan pengetahuan dan pengalaman. Saling mengajar dan saling melatih. Ini bantu-membantu. Bantu sesama agar hidup sama-sama, makin hari makin makmur. Ini karya Naluri. Aneh kalau tidak bantu sesama dan biarkan sesama itu hidup susah. Bantu sesama itu membuat hati senang dan tenang. Ini karya Nurani.

    Bantu itu Perintah dari DIA, PENCIPTA kita supaya kita hidup saling membantu. Dengan itu kita tidak keburu Nafsu, tidak keblinger Nalar, tidak  kelabakan Naluri dan tidak kebablasan  Nurani.

     

     

     

  • Tolong

     

    Tolong. Sering kita pakai istilah ini. Tolong saya dulu. Saya tolong dia. Tolong menolong. Yang meminta tolong merendahkan diri. Yang menolong merasa hebat.

    Tolong selalu berkaitan dengan belas kasihan. Yang meminta tolong  mengharapkan belas kasih. Yang menolong melimpahkan belas kasih. Ada rasa kasihan dalam diri penolong kepada yang ditolong. Kasihan!

    Nafsu kita mendorong kita untuk mengharapkan sesuatu yang sulit diperoleh. Minta tolong. Nalar kita sulit memecahkan satu persoalan. Minta tolong. Naluri kita mengingatkan kita akan adanya bahaya. Minta tolong. Nurani kita sedang kacau. Minta tolong. Ini keterkaitan anatara empat unsur, 4N dalam diri kita, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. Seseorang yang tak berdaya, minta tolong. Orang yang diminta tolong tergerak empat Unsur dalam dirinya dan cepat tanggap, menolong sesama yang minta tolong. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tolong! Ungkapan orang yang tak berdaya. Di sini letaknya kesalahan pemahaman tentang istilah tolong. Setiap diri manusia, ada hak dan kewajiban untuk tolong diri karena penolong satu-satunya adalah TUHAN. DIA-lah PENOLONG. Bukan manusia. Manusia dengan manusia ada kewajiban dan hak untuk bantu-membantu. Ada dalam posisi sederajat. Tolong itu terjadi antara dua pihak yang tidak sederajat. Manusia dengan manusia, sama derajat, sama martabat. Mana mungkin satu merasa diri hampa dan yang lain merasa diri hebat untuk menjadi penolong. Ini merampas posisi TUHAN. Hanya TUHAN-lah yang mempunyai kuasa untuk menolong. Kita sama-sama manusia tidak ada kuasa untuk tolong. Bantu, yah. Tapi tolong, tidak.

    Tolong itu dari yang kelimpahan ke yang ketiadaan. Kita manusia, tidak ada yang kelimpahan, apa pun saja, dan tidak ada yang ketiadaan, kekosongan dalam hal apa pun saja. Setiap kita ada dalam keterbatasan dalam segala hal dan tidak benar kalau anggap diri bisa menjadi penolong. Saya, anda, dia, kita sama-sama dalam posisi ada dan apa yang ada dalam diri kita inilah yang dipakai untuk bantu sesama. Bukan tolong sesama. Sikap suka tolong mengganggap sesama rendah dan menganggap diri tinggi. Ini tidak benar.

    Mari kita sama-sama memohon setiap saat, apa saja dari PENOLONG, TUHAN, PENCIPTA kita.

     

     

     

     

  • Jangan

     

    Jangan. Kalau kata ini tidak ada, kita semua manusia sudah celaka. Musnah. Punah. Sekarang kita masih ada turunan demi turunan karena ada kata ini, ‘jangan’. Heran, ada dua kata ini berdampingan, ‘jangan’ dan ‘harus’. Harus itu perintah, jangan itu larang. Perintah dan larangan ada untuk ditaati oleh kita. Larang dan suruh ibarat dua sisi  dari satu mata uang. Kalau larang terus tanpa perintah, maka sengsaralah hidup ini. Kalau suruh dan suruh terus, maka apakah kita manusia ini pesuruh?

    Nafsu kita bergerak antara dua kutub ini, jangan dan harus. Jangan terus, jadi pembangkang, karena lawan. Harus terus, kurus, karena beban. Nalar kita sadar akan makna jangan dan harus. Tidak ada jalan tengah. Atau-atau. Jangan atau harus. Naluri kita terkendali oleh jangan dan harus ini. Kalau lalai, jadi serigala bagi sesama. Nurani kita meresapkan sari pati dari jangan dan harus. Ampas dibuang, sari disimpan. Itulah peran Nurani.

    Empat N, Nafsu + Nalar +  Naluri +  Nurani adalah empat unsur  yang diletakkan TUHAN dalam diri kita masing-masing agar ikut dua kata ini, ‘jangan’ dan ‘harus’. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jangan ribut. Harus tenang. Ini larangan dan suruhan guru kepada siswa-siswi dalam kelas. Apa tujuannya? Supaya belajar dan kerja tugas dengan tenang.  Nanti dalam ujian, bisa lulus. Larang bukan rotan, suruh bukan beban. Ini demi keberhasilan siswa-siswi.

    Dalam hidup, siapa yang larang dan suruh kita? TUHAN. Ini bukan filsafat yang dikira hanya permainan otak. Filsafat itu menyeluruh, menyangkut ‘4N’, pikir sedalam-dalamnya tentang makna dan tujuan dari ‘4N’. Jadi dengan filsafat tentang dua kata ini, ‘larang’ dan ‘suruh’, hidup kita jadi penuh makna.

     

     

     

     

     

     

  • Firasat.

    Firasat. Sering kita dengar dan pakai kata ini, firasat. Ada rasa, dugaan, perkiraan tentang apa yang akan terjadi. Baik atau buruk. Sesudah terjadi langsung berceritera, memang, saya sudah ada firasat. Biasanya hal buruk yang menimpa itu yang diungkapkan melalui ceritera tentang firasat. Celaka dengan kendaraan di jalan. Entah sendiri atau kerabat dekat berujar, memang saya sudah ada firasat jelek tadi pagi. Kejadian dikaitkan dengan perasaan di waktu lalu.

    Nafsu kita selalu berkontak dengan alam nyata. Nalar kita mengetahui dan mengalami yang sudah dan sedang terjadi. Nalar juga menduga apa yang akan terjadi. Di sini letak firasat. Naluri kita selalu mengharapkan yang baik. Kalau yang buruk menimpa kita langsung cari jawabnya pada firasat. Nurani kita terguncang oleh peristiwa jelek yang menimpa diri kita dan Nurani bertanya, salah apa? Ini peran 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri +Nurani yang membuat diri kita hidup melangkah maju ke arah yang baik dan lebih baik lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Firasat itu meneguhkan atau meruntuhkan? Hidup itu tahan banting. Penuh tantangan. Dalam hadapi tantangan, kalau diteguhkan, baik. Kalau diruntuhkan semangat juang, jangan. Istilah firasat boleh tetap dipakai, karena sulit dihilangkan. Sudah berurat-akar dalam hidup kita bermasyarakat. Pakailah kata firasat dalam arti yang positif. ‘Tadi pagi saya ada firasat buruk’. Ungkapan ini meruntuhkan diri. Kalau tertimpa mala-petaka yang tak terduga, tanyalah Nafsu, ini salah keinginan? Tanya Nalar, mengapa saya tidak ikut larangan? Tanya Naluri, mengapa saya tidak ikuti nasihat orang untuk tidak berbuat hal itu? Tanya Nurani, mengapa saya tidak waspada menghadapi situasi ini?

    Kita hidup tidak dituntun oleh firasat. Hidup kita dituntun oleh DIA, SANG PEMBERI HIDUP. Di luar DIA, tidak ada siapa pun, apa pun yang mengatur hidup kita ini. Unsur-unsur dalam diri kita, ‘4N’ itu anugerah dari YANG MAHA BIJAK untuk kita hidup penuh bijak bukan penuh firasat.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (16)

     

    Nalar kita jelas-jelas menunjukkan mana milik kita, mana milik orang lain. Praktek KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) terjadi salah satunya karena faktor ini, tidak menghargai milik orang lain. Dalam diri kita manusia ini ada Karunia dari TUHAN, kebebasan. Bebas untuk memilih, mana baik, mana buruk, mana benar, mana salah.

    KKN terjadi karena Nalar kita mendorong untuk pilih hal yang salah, menganggap milik orang lain itu milik sendiri, tidak menghargai orang lain dan milik orang lain itu. KKN itu dibuat oleh siapa pun saja di dunia ini. Anak-anak dan remaja pun bisa buat KKN.

    Dalam hal yang berbeda-beda. Kejahatannya sama. Tidak hanya orang dewasa, tidak hanya pejabat, guru, Anggota TNI/POLRI,  Dokter, Pemimpin Agama pun bisa praktekkan KKN. Ini karena Nalar diarahkan salah, tidak diarahkan ke hal yang benar, tapi ke hal yang salah.

    Nalar sudah memberikan yang salah, ditambah oleh dorongan Nafsu yang tak terkendali, Naluri pun ikut-ikutan, tidak berdayalah Nurani. Diri pribadi terombang-ambing, tercabik-cabik. Lengkaplah perbuatan yang tercelah, KKN. Milik orang lain dianggap milik sendiri secara tidak wajar dan tidak sah.

    Nafsu mengatakan, pakai saja sepuas-puasnya. Kebebasan yang ada dalam diri kita dipaksa untuk tidak bebas lagi memilih yang baik, yang salah itulah yang dipilih. Nafsu setuju, Nalar buta, Naluri angkat tangan, Nurani menangis. Inilah model mala-petaka dalam pribadi kita kalau ber-KKN.

    Hancurlah diri kita karena KKN, menguasai milik orang lain tanpa menghargai orang lain. Terjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam merusak harga diri melalui Nafsu yang sudah di luar alur. Nalar semakin kabur dan hancur harga diri.

    Naluri ada dalam keadaan terkejar-kejar oleh milik orang lain yang sementara dikuasai secara tidak wajar dan pemilik yang sedang resah dan risau mencari dan menanti barangnya yang hilang. Nurani gelisah tanpa arah mengembara dalam belantara yang gulita. Itulah pengaruh KKN yang tidak menghargai milik orang lain.

    Belum terlambat. Nalar harus segera dicuci-bersih dan diarahkan untuk berpikir dan berpendapat yan benar. Nafsu segera diberitahu untuk hentikan dorongan untuk memiliki barang orang di luar hak sendiri.

    Naluri segera disadarkan untuk mengembalikan hak dan milik orang lain  dan Nurani segera disadarkan dengan rasa sesal sempurna di hadapan sesama dan TUHAN. Kalau sudah terlanjur buat KKN, tunggu nasib. Kalau belum, baru terdorong, lari, hindari praktek KKN. Milik orang tetap milik orang. Puas dengan milik sendiri.