Blog

  • Hidup Jujur (15)

     

    Nalar kita manusia menyadarkan diri kita tentang adanya sesama. Diri kita bukan seorang diri tapi ada bersama diri-diri yang lain. Kalau sesama tidak dihargai sama artinya tidak menghargai diri sendiri. Saling menghargai, wajib hukumnya. Ini Perintah dari TUHAN PENCIPTA kita. Kita manusia sama-sama perlu makanan. Ini muncul dari Nafsu. Nalar kita menjelaskan, jenis tumbuhan atau hewan mana yang dapat dimakan. Makan harus diusahakan, tidak sendiri-sendiri tetapi harus bersama-sama. Ini karya Naluri. Sesama manusia harus tetap saling menghargai mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Ini perintah Nurani. Dalam hal cari makan ini tidak boleh ada tipu-menipu.

    Nalar mencerahkan kita manusia untuk bertindak benar dalam memperjuangkan kebutuhan manusia. Tidak boleh ikut Nafsu yang negatif, suka berfoya-foya. Dalam memenuhi kebutuhan manusia, kita diingatkan oleh Naluri untuk tetap memperhatikan kepentingan sesama. Tidak boleh kepentingan bersama itu diciderai. Nurani memberikan kita petunjuk untuk tetap menaati peraturan yang baik sesuai Perintah TUHAN untuk saling mengasihi. Tidak boleh Nurani dicemari.

    Tindakan KKN, Korupsi-Kolusi-Nepotisme sebagai kejahatan kemanusiaan, muncul dari penyalah-gunaan empat unsur dalam diri pribadi manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani secara bersamaan. Nalar bermain dan dipermainkan oleh diri kita untuk membuat penyimpangan-penyimpangan dalam mengurus milik bersama, milik rakyat. Nalar beri pertimbangan yang salah, diputar-balikkan untuk kepentingan diri dan orang-orang dekat sambil merugikan orang lain. Seorang kepala di bahagian Pemerintahan, ada tugas melayani kepentingan masyarakat. Uang yang terkumpul dari rakyat, tidak kembalikan kepada rakyat, tetapi dipakai untuk memperkaya diri. Ini hasil Nalar yang penuh dengan dusta dalam diri kepala yang bersangkutan. Inilah yang disebut KKN.

    Nalar itu bersih, lurus, jernih, bijak. Semua sifat Nalar ini tidak diindahkan oleh seseorang atau sekelompok orang yang nekat melakukan tindakan kejahatan yang namanya KKN. Kepentingan orang lain diabaikan. Ini kejahatan terhadap sesama manusia, melawan Naluri. Aneh bahwa orang yang melakukan KKN, tidak menghargai sesama,  merasa tenang di hati, padahal itu penipuan terhadap diri sendiri dan terhadap sesama, terlebih terhadap TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

  • Hidup Jujur (14)

     

    Nalar itu cermin untuk lihat diri kita apa adanya. Di cermin kita tidak bisa tipu diri. Itulah Nalar. Lewat cermin kita lihat diri, bentuk roman muka, busana dan bisa juga seluruh badan kita. Penampilan diri inilah yang kita namakan diri dengan segala embel-embel yang menempel pada diri kita. Ada banyak barang berharga melekat pada diri kita, arloji, kacamata, ada yang gigi mas, baju rupa-rupa model. Ini semua berharga, tetapi tidak dapat dibandingkan dengan harga diri.

    Nalar menyadarkan diri kita akan harga diri dan menampilkan kepada sesama manusia bahwa diri kita ada harga. Harga diri muncul dari perpaduan empat unsur dalam diri kita: Nafsu mendorong, Nalar mengarahkan, Naluri membimbing, Nurani menampung. Dalam hal yang positif, Nalar menjadi patokan untuk penampilan diri kita sebagai orang yang rendah hati dan suka membagi pengetahuan dan pengalaman kepada sesama dengan suka hati.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar bisa membawa kita kepada sikap yang negatif, angkuh, suka memperdaya sesama, dan menghancurkan alam dan sesama dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Akar dari tindakan KKN itu bisa berawal dari Nalar yang kurang jernih. Dorongan dari Nafsu untuk memperoleh sesuatu secara tidak halal diterima oleh Nalar lalu mengajak orang lain, sesuai Naluri dan terjadilah tindakan KKN. Nurani akan memberontak tetapi tidak diindahkan oleh diri kita pribadi maka kejahatan KKN yang meruntuhkan harga diri terjadi.

    Nalar menipu kita, kita tipu diri dengan Nalar bahwa tindakan tipu-menipu itu tidak diketahui oleh orang lain, jadi aman. Nalar semakin keruh ibarat air kotor penuh lumpur. Nalar semakin dikaburkan baik oleh dorongan Nafsu yang tidak teratur maupun oleh Naluri yang sudah dibohongi dengan cara mengelabui mata sesama. Nurani kita menjadi gelap dan diri kita hilang harga diri. Celakanya kalau diketahui oleh orang lain, rasa malu akan menimpa diri kita dan menular ke orang-orang yang dekat. Harga diri jatuh.

    Nalar harus dijaga sungguh-sungguh untuk menyadari bahwa tindakan KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme itu tindakan jahat, mencuri uang atau barang orang lain secara terselubung. Ini sungguh-sungguh meruntuhkan harga diri di mata masyarakat, terutama di hadapan TUHAN, PENCIPTA kita.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (13)

     

    Nalar mengajar kita untuk mencari dan menikmati hiburan yang baik, benar dan bagus. (3B). Dalam Nalar kita ada perbendaharaan ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang segala macam hiburan yang ada di sekitar kita.

    Nafsu kita mendorong untuk menikmati alam pegunungan. Bagus. Hiburan itu kebutuhan yang perlu untuk kesegaran diri kita. Kalau kebutuhan pokok itu terdiri dari sandang , pangan dan papan, maka untuk memenuhi kebutuhan penting, pendidikan dan kesehatan, kita butuh kebutuhan yang perlu yaitu hiburan.

    Nafsu cari hiburan, Nalar beri pengetahuan tentang hiburan yang benar, Naluri dorong kita untuk cari hiburan yang bermanfaat bagi diri dan sesama, dan Nurani langsung mebisikkan hiburan mana yang baik dan santun. Ini kerjasama antara empat usur dalam diri kita manusia: 4N, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar menuntun kita untuk menikmati hiburan yang baik, benar dan bagus. Tetapi sering terjadi kita manusia ini didorong untuk cari hiburan yang tidak pantas di luar batas. Ada yang mencari hiburan dengan biaya yang tidak sedikit.  Kalau biaya itu terjangkau oleh penghasilan sendiri, masih bisa diterima.

    Kalau cari hiburan dengan memakai uang milik orang lain, namanya pencuri. Kalau milik umum, misalnya milik rakyat untuk pembangunan, ini yang termasuk pencuri khusus yang dinamakan koruptor, suka korupsi. Kalau korupsi, biasanya lewat kolusi dan bersama orang-orang dekat sehingga disebut nepotisme.

    Nalar mengiyakan kebutuhan manusia sebagai kebutuhan yang perlu dinikmati. Ada kesegaran tercipta lewat hiburan. Hiburan ada banyak macam. Mulai hiburan secara fisik seperti olah raga sampai kepada hiburan otak seperti bermain catur atau mengisi teka-teki silang. Hiburan itu perlu dinikmati untuk mengatasi kejenuhan dalam bekerja.

    Nalar mengemukakan dengan jelas segala pengetahuan dan pengalaman orang-orang dari berbagai tempat dan berbagai tradisi tentang jenis-jenis hiburan. Manusia tergerak untuk saling mengunjung karena adanya hiburan ini. Nafsu untuk mengalami sesuatu yang baru dan segar adalah wajar  untuk menghibur diri dan sesama.

    Naluri mendorong manusia untuk menikmati hiburan secara bersama, tidak sendiri-sendiri. Nurani meneguhkan manusia dalam hal mencari dan menikmati hiburan yang pantas dan layak di hadapan sesama, terutama di hadapan TUHAN.

     

     

  • Hidup Jujur (12)

     

    Nalar mengarahkan kita manusia untuk mengupayakan pendidikan dan kesehatan sebagai kebutuhan yang penting. Tanpa pendidikan, kita manusia bisa keliru atau salah dalam menempuh pendidikan sehingga keputusan yang kita ambil tidak benar.

    Melalui pendidikan kita tahu dan alami bahwa cara bercocok tanam itu harus sesuai alam. Hasil yang kita peroleh kita makan secukupnya supaya kita sehat. Ini karya Nalar.

    Pendidikan dan kesehatan erat berkaitan. Melalui pendidikan, kita manusia jadi tahu dan trampil. Melalui pengetahuan tentang kesehatan, kita manusia jadi sehat dan kuat.

    Nalar membuat pengetahuan kita semakin luas dan dalam. Nalar membuat kita manusia mengupayakan segala hal baik dan benar yang harus dijalani supaya sehat dan kuat.

    Pantas orang Romawi kuno di abad-abad awal sesudah Masehi mempunyai ungkapan dalam bahasa Latin, ‘Mens sana in corpore sano‘, artinya: ‘Pikiran yang sehat ada dalam tubuh yang sehat’. Nalar itu menjaring keinginan Nafsu, menggiring keinginan Naluri dan Nurani menyaring semua hasil dari kerjasam antara Nafsu, Nalar dan Naluri. Tujuan Nalar itu satu, membuat manusia ini arif-bijaksana dalam mengambil keputusan untuk hidup yang baik dan layak. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar membuat diri kita manusia sadar akan perlunya Nafsu yang teratur dan terukur dalam mengupayakan kebutuhan penting: pendidikan dan kesehatan. Kalau cerdas dan sehat, harus diabdikan untuk sesama melalui Naluri dan memperoleh kedamaian melalui Nurani.

    Ada orang yang cerdas sekali dan sehat sekali, hasil pendidikan dan kesehatan. Sayang, dia memakai kecerdasan dan kesehatan itu untuk menipu diri dan sesama lalu memakai uang milik umum untuk kepentingan diri sendiri. Ini yang namanya Korupsi.

    Perbuatan tipu-menipu itu dijalankan bersama dengan beberapa orang yang sama-sama cerdas. Ini kolusi. Orang-orang dekat itu adalah kerabat dan sanak-saudara. Ini Nepotisme. KKN. Ini yang membuat Nurani tidak tenang, gelisah dan resah.

    Nalar mengingatkan kita untuk memakai kecerdasan, ketrampilan, pengalaman dn ken kesehtan yang baik untuk kebaikan diri dan sesama. TUHAN memberkati perbuatan yang baik ini, melawan KKN.

     

     

     

  • Hidup Jujur (11)

     

    Nalar. Kita manusia diberi Nalar untuk berpikir supaya mengetahui dan mengalami apa yang benar dan baik untuk hidup kita. Nalar itu menuntun kita untuk belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang sudah ada. Dengan Nalar kita manusia yakin apa yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah.

    Nalar menghantar kita untuk mengetahui dan mengalami manfaat kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan. Tiga kebutuhan ini diingini oleh Nafsu, mau makan, mau minum, mau pakai, mau tinggal di tempat yang layak. Ini dibutuhkan oleh kita manusia dan kebutuhan ini didorong oleh Nafsu. Langsung Nalar beri penjelasan, apa yang layak dipakai, layak dimakan, layak dijadikan tempat tinggal. Ini kerja Nalar.

    Nalar ini diarahkan kepada Naluri. Kita manusia hidup tidak sendirian. Semua kebutuhan pokok itu tidak bisa dipenuhi oleh diri kita seorang diri. Harus ada  bantuan orang lain. Kesadaran tentang adanya orang lain ini karya Naluri. Ingat orang lain, butuh orang lain. Hal ini diberitahu oleh Nalar kepada Naluri. Nurani akan beri kepastian yang menenteramkan apabila keputusan ini baik dan bagus untuk diri dans sesama di hadirat TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar mengarahkan dan menyadarkan kita bahwa ada aturan, baik aturan dari alam maupun aturan dari manusia. Kesadaran ini ada  dalam Nurani. Maka Nalar mempunyai peran untuk menyadarkan kita manusia bahwa semua kebutuhan pokok yang diingini oleh Nafsu  itu harus diupayakan, boleh dinikmati sambil ingat orang lain, Naluri, sambil taat pada aturan  yang sudah ada dalam alam, disepakati manusia atas dasar Perintah dari TUHAN, PENCIPTA kita.

    Praktek KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme  itu adalah penyakit dalam masyarakat yang tidak memakai Nalar secara benar dalam mengupayakan dan menikamti kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan.  Korupsi, merusak diri, sesama dan alam dengan cara kolusi, yaitu bermain curang dan ingat diri serta keluarga secara berlebihan, nepotisme. Ini tidak boleh karena tidak dikehendaki oleh sesama, terutama oleh TUHAN.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (10)

     

    Nalar. Ini karunia TUHAN kepada kita manusia untuk berpikir dan berpendapat benar, baik dan bagus. Dengan Nalar kita manusia dapat menyambung hidup atas dasar kebenaran.

    Kalau Nalar disalah-arahkan maka yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar. Pemutar-balikan kebenaran ini biasanya dilakukan secara tahu dan mau, secara sadar dengan tujuan yang tidak baik.

    Di sini letaknya awal kebiasaan buruk  dalam masyarakat, tindakan KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Tindakan yang sangat merugikan banyak orang.

    Nalar, kurnia Tuhan kepada kita manusia yang seharusnya diarahkan untuk mencari kebenaran dan menjadi pengalaman yang baik, bgus dan berguna. Ini berkaitan dengan keinginan Nafsu yang baik dan benar. Nafsu mendorong setiap orang dewasa untuk berketurunan. Di sini Nalar mengarahkan pribadi entah laki-laki atau perempuan untuk memilih dan memutuskan, siapa yang pantas dan patut untuk menjadi pasangan hidup.

    Nafsu menginginkan, Nalar memilih dan memutuskan. Naluri memberikan jalan untuk menjalin pergaulan yang sehat dengan sesama untuk menjadi pasangan dan menjalin keakraban dengan seluruh kaum keluarga dua belah pihak, laki-laki dan perempuan. Nurani bekerja dengan memberikan pertimbangan untuk mengikuti kehendak Tuhan, menghargai dan mencintai sesama.

    Inilah kerjasama antara 4N dalam diri manusia: Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Nalar memberikan kesadaran kepada manusia bahwa hidup berpasangan itu harus sesuai usia yang dewasa, berpikiran dewasa.

    Tidak boleh menjalin hubungan sebagai suami-isteri sebelum usia dewasa. Kematangan untuk hidup berpasangan itu biasanya sesudah mencapai usia dewasa, paling kurang sesudah usia delapan belas tahun.

    Nalar diberikan Tuhan kepada kita untuk menghargai sesama sebagaimana diri sendiri ingin dihargai. Memilih teman hidup dalam ikatan perkawinan adalah perwujudan penghargaan kepada sesama. Nalar itu menuntun manusia untuk tidak menipu diri dan sesama. Tipu-menipu itu penyimpangan dari karya Nalar yang benar.

    Nafsu menginginkan teman hidup yang sesuai dengan keinginan pribadi. Ketertarikan fisik merupakan hal yang lumrah untuk mengarahkan Nalar supaya mempertimbangkan keadaan diri pasangan yang akan dipilih.

    Dalam pengambilan keputusan, banyak pribadi manusia yang lain dilibatkan. Ini karya Naluri. Hidup tidak sendirian. Nurani menenangkan diri kita kalau pilihan itu tepat dan kedua belah pihak saling menerima.

    Nalar ada untuk digunakan memenuhi keinginan Nafsu sesuai Naluri dan Nurani secara benar, sesuai cita-rasa manusiawi dan kehendak Ilahi. Kehidupan manusia yang berpasang-pasang di dunia ini tidak boleh dirusak dan dirasuk oleh tindakan merusak (Korupsi), tindakan persengkongkolan jahat (Kolusi) dan tindakan pilih kasih sambil mengabaikan adanya orang lain (Nepotisme).

    Nalar menjadi sarana pembelajaran untuk kita manusia agar menghindari perbuatan tercela, merusak, menipu dan membenci.

    Nalar mengarahkan kita untuk hidup bersama secara akrab penuh persaudaraan dan bersama hidup bersujud kepada TUHAN, Pencipta kita.

     

     

  • Hidup Jujur (9)

     

    Syukur. Nafsu terpuaskan, syukur. Lapar, lalu makan. Syukur ada makanan. Uang tidak ada. Tiba-tiba kawan lama beri uang. Syukur. Nafsu kita ini suka semua. Suka ini suka itu. Mau ini mau itu. Nalar keras berputar untuk penuhi keinginan Nafsu. Nalar melayang ke sana-sini mencari siapa dapat membantu.

    Nurani merenung dan meresapkan sambil merasa heran bahwa keinginan Nafsu bisa terpenuhi tanpa dicari. Syukur. Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani mengarahkan diri kita manusia untuk menggantungkan harapan pada TUHAN lalu menyadarkan diri kita untuk bersyukur pada DIA, TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Syukur. Itu karena Nafsu terpenuhi secara baik. Kalau keinginan Nafsu itu terpenuhi dengan cara yang buruk, maka  syukur tidak pada tempatnya diungkapkan. Tidak boleh seseorang mendapat sejumlah uang hasil tipu muslihat lalu disyukuri. Itu hasil KKN, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

    Kita manusia ini ada yang suka cari gampang, jalan pintas. Nafsu menggebu-gebu untuk peroleh harta lalu cara apa pun saja ditempuh. Nalar dipacu untuk cari akal biar bengkak-bengkok. Naluri diajak untuk cari siapa pun saja yang bisa diajak untuk sama-sama curi. Cari dan curi.

    Nurani dikelabui bahwa hasil yang diperoleh itu wajar padahal hasil tipu-muslihat. Kerja KKN itu model yang begini ini. Akibatnya, kalau ditangkap, maka semua orang yan dirugikan akan mengucap syukur bahwa si pecundang telah diringkus.

    Syukur. Kita harus syukur berulang-ulang karena tidak telalu banyak yan terlibat dalam KKN. Satu dua orang, tapi mala-petaka yang ditimbulkan cukup parah. Contoh, Nafsu beberapa orang untuk mendapat keuntungan berlimpah secara gampang, membeli lahan berhektar-hektar. Runding sana-sini, tipu sana, bohong sini, susun rencana buka perkebunan kelapa sawit. Lahan dibersihkan, belukar dibakar, asap membubung, udara dikotori. Alam dirusak habis-habisan. Ini hasil KKN. Apa yang mau disyukuri?

    Syukur. Masih ada orang-orang yang punya Nafsu terkendali, Nalar teratur, Naluri terkekang, Nurani terpercaya. Sesama senang, TUHAN berkenan.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (8)

     

    Alam. Alam ini kurnia TUHAN untuk kita manusia. Kita boleh pakai. Tapi harus jaga. Tidak boleh pakai seenaknya apa lagi merusak.

    Nafsu utk pakai dan nikmati apa pun saja di alam ini diberi oleh TUHAN. Kita diberi Nalar untuk pelajari dan alami segala sesuatu dalam alam ini. Itu untuk hidup. Naluri kita diberi TUHAN  untuk ingat bahwa di dunia, bahagian dari alam ini, kita tidak sendirian. Ada orang lain. Bersama orang lain, kita pakai dan nikmati apa yang ada dalam alam ini. Pakai alam, boleh. Pelihara alam, wajib. Nurani kita ada untuk sadar bahwa alam ini berasal dari TUHAN. Inilah mata rantai kegiatan antara 4 N dalam diri kita manusia berhadapan dengan alam. (4N,Kwadran Bele, 2011).

    Kita tidak boleh seenaknya memakai dan menikmati apa saja dalam alam ini. Merusak alam, salah. Memelihara alam, benar dan baik. Itu Perintah TUHAN. Sering kita manusia ini mengganggap alam sekitar  sebagai  benda yang boleh kita pakai sesuka hati kita. Hewan pun bahagian dari alam sekitar kita. Hewan kecil besar itu ada sesuai hukum alam ciptaan Tuhan untuk kita manusia. Kita diberi kuasa untuk memanfaatkan alam, tumbuhan dan hewan dengan penuh tanggung jawab. Kita pelihara alam dan alam akan pelihara kita. Kita merusak alam dan alam akan mencelakakan kita.

    Kita manusia adalah bahagian dari alam ini. Jujur dalam bertindak terhadap alam artinya menghargai keberadaan alam apa adanya. Tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya sejauh itu tidak mengganggu, dibiarkan hidup. Tumbuhan yang tumbuh dan mengganggu seperti rumputan di sela-sela tanaman jagung, rumputnya dicabut, jagungnya dipelihara. Ini tidak termasuk dalam tindakan merusak alam. Menata alam termasuk dalam upaya mengatur supaya alam itu bermanfaat untuk kita.

    Tuhan Sang Pencipta sudah mengatur alam untuk kita manusia manfaatkan sesuai kebutuhan kita. Kita manusia secara bersama memanfaatkan alam tanpa saling mengganggu antara kita manusia sendiri. Inilah tanda kejujuran kita manusia, mana hak kita dan mana hak sesama kita. Sama-sama hidup dalam alam dengan penuh rasa cinta alam sebagai anugerah Tuhan yang kita terima dengan penuh rasa syukur.

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (7)

     

    Milik orang. Ada posting di wa group, ‘Telah ditemukan sebuah dompet. Silahkan hubungi saya, di nomor ini …’. Pemilik menghubungi dan bertemu dengan si penemu dompet. Keduanya bertemu dan sesudah menerima dompet, pemilik berterimakasih dan mengambil uang dua puluh ribu rupiah, memberikan kepada si penemu. Langsung si penemu mengatakan, ‘Terimakasih. Saya cuma menemukan dan tidak sampai hati menerima uang anda. Cukup doa saja untuk saya. Besok lusa mungkin saya juga kehiangan, dan pasti ada orang lain akan menolong saya’.

    Milik orang. Waktu menemukan, Nafsu si penemu berbisik, untung. Ambil saja. Itu milikmu. Nalar berkata, pemilik pasti sedang cari. Naluri berseru, benar, pemiliknya sedang gelisah, segera ambil dan cari jalan untuk serahkan. Nurani berkata, benar. Itu barang milik orang, berikan kepada pemilik. Ini kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Gejolak dalam diri manusia akibat gerakan empat N ini yang disebut pergolakan bathin.

    Milik orang. Tetap milik orang. Di kantor, seorang Kepala Kantor menerima dari Pemerintah uang satu Milliar rupiah untuk bangun jembatan. Uang ini milik orang. Milik rakyat. Tidak boleh si Kepala ambil biar hanya satu dua juta rupiah. Uang itu harus utuh untuk pembangunan jembatan. Kalau ambil di luar tujuan ini, disebut Korupsi. (Korupsi, dari kata Latin, ‘co-rumpere‘, artinya: Menghancurkan atau merusak bersama). Si Kepala runding dengan Bendahara supaya seratus juta dipakai untuk mereka berdua, tidak untuk bangun jembatan. Ini yang namanya Kolusi. (Kolusi, dari kata Latin, ‘co-ludere‘, artinya: Bermain bersama dalam arti negatif, mengambil uang milik umum untuk diri sendiri). Sudah disengaja, Kepala angkat Bendahara itu keluarganya sendiri. Mudah mengatur dan menjaga rahasia. Ini yang namanya, Nepotisme.  (Nepos, kata Latin, artinya, cucu atau ponakan. Nepotisme, istilah untuk menyatakan tindakan pilih keluarga atau orang dekat untuk mudah berunding, saling mengajak, ambil seratus juta dari milik umum).

    Milik orang. Tindakan Korupsi + Kolusi + Nepotisme yang disingkat KKN adalah tindakan tidak terpuji, malahan dianggap satu kejahatan, mengambil milik orang secara tidak sah dan tidak benar. Dalam hidup bernegara, kalau tindakan ini ketahuan, pelakunya dituduh sebagai ‘Koruptor’ dan tempatnya di penjara, Lembaga Pemasyarakatan, selama beberapa tahun. Kasihan.

    Milik orang. Entah barang itu nilainya hanya beberaoa ribu rupiah atau jutaan, tetap milik orang, tidak boleh diambil tanpa sepengetahuan si pemilik. Nafsu memiiki dikendali, Nalar untuk memiliki didengar, Naluri memiliki dipertimbangkan, Nurani memiliki disaring supaya milik orang, milik orang, milik saya, milik saya. TUHAN berkenan dengan sikap ini.

     

     

     

  • Hidup Jujur (6)

     

    Harga diri. Tidak ada manusia yang tidak ada harga. Harga diri yang utuh, terdiri dari empat unsur: Nafsu+ Nalar+ Naluri + Nurani. Empat unsur ini yang ditampilkan dalam hidup sehari-hari sehingga tampak, diri ada harga atau tidak.

    Kita ada Nafsu untuk tampilkan diri sebagai pribadi yang ada harga. Berpakaian yang pantas, itu tanda ada harga diri. Ibarat etalase, tampilkan isinya, emas. Emas tidak pernah dipamerkan dalam tong sampah. Nafsu kita ada untuk tampilkan diri dengan makan yang baik biar tidak enak, tinggal di rumah yang layak, biar tidak mewah. Ini yang disebut Nafsu yang terukur dan terbatas dalam penampilan diri seseorang yang mempunyai harga diri.

    Kita ada Nalar untuk tampilkan diri sebagai seorang yang ada harga agar didengar dan diakui. Harga diri. Kalau Nalar kurang dipakai maka harga diri terlalu dipamerkan secara berlebihan dan kita akan dianggap angkuh.

    Kita ada Naluri untuk jaga harga diri itu dengan sikap sopan-santun. Hargai sesama supaya diri pun dihargai. Tiap orang itu ada harga diri sehingga tiap orang ingin dihargai. Melecehkan harga diri orang lain sama saja dengan turunkan harga diri sendiri.

    Kita ada Nurani untuk sadar bahwa setiap orang itu ada harga diri karena dihargai oleh Pencipta sebagai ciptaan yang bermartabat. Empat perpaduan inilah yang disebut, empat N, sumber harga diri. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ada kekeliruan besar yang sering dibuat oleh kita manusia ini dalam bentuk khusus, KKN. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Kita ada Nafsu sekian tidak terkendali sampai harga diri kita dicemarkan sampai ke tingkat yang paling rendah. Nafsu tidak dikendali oleh Nalar, Naluri dan Nurani sehingga kita cenderung untuk tampilkan diri sebagai manusia super. Anggap diri paling pintar, Nalar salah arah. Anggap diri paling hebat dalam masyarakat sambil merendahkan orang lain. Ini Naluri yang sudah dibengkokkan. Kita anggap diri paling suci. Ini dorongan Nafsu untuk tampilkan diri sebagai manusia yang paling berharga di atas semua orang. Inilah dosa kesombongan.

    Kita dihargai TUHAN, maka kita pun harus menghargai TUHAN dalam Iman, Ibadat dan  karya.  Menghargai sesama tanda kita ada harga diri dan ini yang dikehendaki oleh TUHAN PENCIPTA kita.