Blog

  • Agama “Hot Esen”

    Ini bukan Agama baru. Agama ‘Hot Esen’ adalah Agama asli dari suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor. Masyarakat asli ‘Buna’ di Timor mempunyai kepercayaan asli, percaya pada ‘Hot Esen’, bahasa Buna’, artinya: HOT = Matahari, ESEN = di atas. Ini gelar untuk Yang Maha Tinggi. Sekarang, tahun 2020, tercatat sekitar 100.000 orang di pedalaman pulau Timor itu suku Buna’ yang berbahasa Buna’. Mereka ini sejak tahun 1880-an, sudah didatangi misionaris Belanda dan Jerman yang menjadikan mereka Kristen Katolik. Suku Buna’ ini sekarang rata-rata 99% katolik.
    Dari kalangan suku Buna’ ini ada puluhan orang yang terpanggil menjadi Imam, Bruder dan Suster dalam Gereja Katolik. Sebelum leluhur mereka menganut agama Kristen Katolik, sudah ada agama atau kepercayaan asli mereka kepada HOT ESEN sebagai Wujud Tertinggi yang berdiam di Langit lapisan yang ketujuh, paling atas. Wujud HOT ESEN ini, pribadi yang ‘Bermata Satu dan Bertelinga Satu’. Dialah Yang menciptakan alam semesta dan manusia. Dia Maha-mengetahui, ber-Telinga Satu, dan Maha-melihat, ber-Mata Satu. Angka Satu itu lambang kesempurnaan, ke-esa-an, ke-tunggal-an.
    Falsafah hidup suku Buna’ dikaitkan dengan adanya ‘Hot Esen’ yang mengatur segala gerak alam semesta dan seluruh nasib hidup manusia. Manusia lahir karena Dia, dan mati, kembali ke Dia. Sesama manusia tidak boleh saling menyusahkan karena sama-sama berasal dari Dia. Segala tindakan kejahatan dibalas oleh Dia dengan hukuman tinggal dalam kegelapan abadi. Sistim kepercayaan orang Buna’ itu tiga lapis. Lapis pertama, ialah: percaya akan adanya leluhur. Mereka percaya leluhur ini tinggal di satu kampung besar yang aman dan damai. Semua orang yang meninggal dihantar secara adat dengam upacara kenduri dan diterima oleh para leluhur ini. Kepada leluhur sering diadakan upacara sajian berupa sirih-pinang dan makanan supaya leluhur jangan melupakan segala kebutuhan bagi para cucu yang masih hidup di dunia. Lapis kedua, yang lebih tinggi, orang Buna’ percaya akan adanya roh-roh. Ada roh baik dan ada roh jahat. Roh baik itu disuruh oleh HOT ESEN untuk menjaga manusia dan alam semesta. Roh-roh baik ini tinggal di antara manusia, di bukit-bukit, hutan-hutan dan sumber-sumber air. Tempat-tempat keramat itu adalah tempat tinggal roh-roh baik. Kepada roh-roh baik ini disajikan irisan daging matang dan nasi dalam anyaman. Kebun dan hewan juga dijaga oleh roh-roh baik ini. Sedangkan roh-roh yang jahat selalu berkeliaran ke sana -sini mengganggu manusia dan merusak alam. Kepada roh-roh jahat ini disajikan daging mentah dan beras, dihambur ke segala penjuru mata angin sambil berseru, kamu, roh-roh jahat, terima sajian ini dan pergi jauh-jauh dari kami. Pada lapis ketiga, yang paling tinggi, orang Buna’ percaya adanya Yang Maha Tinggi, HOT ESEN. Atas dasar inilah kepercayaan orang Buna’ itu disebut agama HOT ESEN. Kepada HOT ESEN, dalam sajian, tempat yang berupa anyaman yang indah, kosong, karena HOT ESEN tidak membutuhkan apa-apa, hanya persembahan niat yang baik.
    Waktu para misionaris katolik datang ke antara suku Buna’, seratusa an tahun lalu, kepercayaan orang Buna’ ini dimodifikasi dengan ajaran: leluhur itu ada, dan yang baik itulah yang dalam gereja Katolik disebut Santa atau Santu. Roh-roh itu dalam Agama Kristen Katolik dikenal Malaekat itu roh yang baik, dan iblis atau setan itu adalah roh-roh yang jahat. HOT ESEN itu tampakkan Diri dalam Rupa Manusia, Yesus Kristus. Untuk peralihan kepercayaan ini, setiap orang harus dibaptis dalam “Nama Bapak, dan Putera dan Roh Kudus”. Atas dasar ajaran inilah para leluhur orang Buna’ menjadi katolik sampai semua turunan sekarang ini. Kenyataan yang ada, orang-orang Buna’ ini sudah katolik, tapi upacara menghormati leluhur, roh-roh baik dan THOT ESEN tetap dipraktekkan sehingga mereka bukan dicap sebagai orang kafir yang membuat sinkretisme, tetapi diyakinkan akan adanya kepercayaan itu dimurnikan secara Katolik. Agama HOT ESEN itu ada, dan tetap hidup dalam masyarakat suku Buna’ di Timor.

  • Buna’ Bahasa yang Sangat  Sederhana

     

     

    Di pedalaman pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) ada satu suku, yaitu suku Buna’ yang menghuni wilayah Negara Timor Leste dan wilayah Republik Indonesia.

    Suku Buna’ menghuni wilayah perbatasan antara dua Negara ini dan jumlahnya saat ini, 2020, diperkirakan sebanyak 100.000 jiwa, sekitar 60.000 jiwa menghuni wilayah Timor Leste sedangkan sekitar 40.000 jiwa berada di wilayah Timor Indonesia. Suku Buna’ ini berbahasa Buna’. Di Timor Indonesia, suku Buna’ menghuni dua Kecamatan, Lamaknen dan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu.

    Bahasa Buna’ ini mempunyai keunikan yaitu: tiap huruf hidup adalah satu kata. Di sinilah letak kesederhanaan Bahasa Buna’.

    Huruf ‘A’ berarti ‘nasi’, ‘makanan’. Huruf A juga kata kerja, makan. Jadi kalau kalimat ‘makan nasi’, dalam bahasa Buna’, ‘a a’. Cuma dua huruf.

    Kalimat ‘Saya makan nasi’ dalam bahasa Buna’ menjadi ‘Neto a a’.

    Susunannya pola Subyek – Obyek – Predikat. ‘Neto’ = saya; ‘a’ = nasi; ‘a’ = makan.

    Kalimat “Kita makan nasi” = ‘i a a’. Tiga huruf, ‘i’ = kita. Jadi huruf hidup pertama, ‘a’ = makanan, nasi (kata benda); ‘a’ = makan (kata kerja).

    Huruf hidup kedua adalah: ‘i’ = kita, gigit (kata kerja).

    Kalimat bahasa Buna’, ‘Neto i’ artinya: Saya gigit. Bahasa Buna’ “I i” = Kita gigit. ‘Anjing gigit kita’ = ‘Zab i i’. Kalau diterjemahkan lurus: Anjing kita gigit.

    Huruf hidup yang ketiga adalah: ‘U’ = rumput; hidup (kata kerja).

    Kalimat ‘Kita hidup’ = ‘I u’. Kalimat ‘Saya hidup’ = ‘Neto u’.  Huruf hidup yang keempat:’e’ artinya ‘garam’. Kalimat ‘Makan garam’ = ‘e a’. “Kita makan garam” = ‘ I e a”. (I = kita; e = garam; a = makan).

    Huruf hidup yang kelima adalah: ‘O’ = ‘udang’. Arti kedua, ‘pada engkau’. Kalau huruf ‘O’ ini diberi tekanan maka artinya, ‘pinggang’. Kalimat ‘Udang hidup’ = ‘O u’. Kalimat ‘Udang gigit kita’ = ‘O i i’.

    Jadi lima huruf hidup ini: a, i, e, o, u, masing-masing mempunyai arti satu kata. Contoh kalimat bahasa Buna’: I u e a o gia. Artinya: Kita yang hidup makan garam dan udang. Ini huruf-huruf hidup. Kata-kata lain terdiri hanya dari dua huruf.

    Contoh:’ il’ = air. ‘En’ = manusia. ‘pu’ = pinang. ‘in’ = bawang. ‘mo’ = laut. ‘su’ = susu. Kalimat: Kita minum air = ‘I il a’.

    Kalimat: Orang minum air = ‘En il a’. Kalimat: Saya makan pinang = ‘Neto pu a’.

    Ini contoh betapa sederhananya bahasa Buna’ ini. Kata-kata yang tediri dari tiga huruf saja juga begitu banyak. Contoh: Matahari = ‘hot’. Bulan = ‘hul’. Kebun = ‘mar’. Rumah = ‘deu’. Padi = ‘ipi’.

    Dengan ditulisnya artikel ini, saya sebagai penulis dan sebagai pemakai bahasa Buna’ menyodorkan informasi kepada pembaca yang lain untuk mencari dan membanding-banding dengan bahasa daerah lain di Indonesia atau di luar Indonesia.

    Saya belum berani menyatakan bahwa bahasa Buna’ paling sederhana karena belum pernah membuat perbandingan dengan bahasa lain.

    Pernyataan saya hanya bersifat penggarambaran saja, bahwa bahasa Buna’ ini sangat sederhana karena setiap huruf hidup itu ada arti.

    Ada satu kebiasaan, anak-anak suku Buna’ ini kalau berbahasa Indonesia di tingkat kelas satu atau dua SD, sering menyulitkan guru karena mereka terpengaruh oleh bahasa daerah mereka, bahasa Buna’ sehingga sering berkata, “Saya nasi makan” atau “Saya air minum”. Susunan terbalik. Baru pada kelas lebih tinggi mereka dapat menyesuaikan diri dengan tata bahasa Indonesia.

    Lewat tulisan ini saya mengundang para ahli bahasa untuk membuat penelitian tentang bahasa Buna’ karena sampai sekarang belum ada orang yang seara khusus membuat penelitian tentang bahasa Buna’ dalam perbandingan dengan bahasa lain.

  • “Filsafat” dari Sudut Pandang Filsafat

     

    Filsafat itu tidak main-main. Jangan main-main dengan filsafat. Di Kompasiana itu seorang bernama Anton Bele sementara menulis segala macam tentang filsafat. Apa-apa filsafat, apa-apa filsafat. Ini pelecehan tentang filsafat. Nanti orang bilang filsafat itu murahan, gampangan. Padahal filsafat itu ilmu yang paling tinggi, sukar, dalam dan luas. Jadi jangan baca apalagi percaya tentang tulisan-tulisan yang tidak bermutu, bilang filsafat. Filsafat macam apa itu.

    Apakah dari Timor di sudut sana bisa muncul pikiran-pikiran yang masuk dalam dunia filsafat?

    Di Indonesia secara keseluruhan saja belum ada orang yang berani bicara dan tulis tentang filsafat yang dikutip orang di luar negeri. Jadi cukup, jangan bawa-bawa filsafat ke ruang yang bukan bidangnya untuk bicara filsafat. Kalau penulis dari Timor itu bilang dia berfilsafat, dia dari aliran mana, Plato, Neo-platonisme, Skolastik, Kantianisme, Eksistensialisme, atau, -isme – isme yang mana? Cukup. Berhenti ikuti orang yang tidak tahu filsafat dan ngoceh tentang filsafat.

    Filsafat itu sukar. Deretan kalimat-kalimat di atas sangat wajar dan masuk akal karena memang demikianlah anggapan banyak orang tentang filsafat sampai sekarang ini. Hanya menurut saya, pandangan macam itu masuk akal yang kurang akal. Pakailah akal sehat untuk bicara filsafat, jangan pakai akal yang bakal gagal cerna filsafat. Ini namanya bela diri.

    Yah, supaya jelas dengan apa yang dimaksud dengan filsafat dalam arti yang sebenarnya. Filsafat itu kalau mau dipakai terus kata ‘Filsafat’ ini, artinya ‘cinta kebijaksanaan’ dan istilah ini sudah muncul di Yunani lima ratus tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.500 tahun lalu.

    Ha, kebijaksanaan itu muncul dari sana? Kapan sampai ke kita di Indonesia ini, kapan bisa sampai ke Timor, ke Papua, ke Samoa? Jangan sampai kebijaksanaan itu terdampar hanya di India dan Tiongkok. Di Eropa lebih tersebar dan mengakar, jadi mau tahu fisafat harus ke Eropa, lalu Amerika. Pikiran semacam inilah yang membelit diri dengan arti dan makna fisafat yang sesungguhnya. Kalau kebijaksanaan itu terbendung di perpustakaan-perpustakaan, di universitas-universitas dan di dalam batok botak yang lupa makan dan tidur sampai omong pun terbatuk-batuk karena kelebihan kebijaksanaan, maka memang ada harus filsafat itu barang antik.

    Filsafat itu ‘cinta kebijaksanaan’ maka semua manusia itu diciptakan oleh Pencipta untuk cinta dan hidup dari kebijaksanaan. NAFSU dalam diri manusia itu mendorong untuk makan pakai mulut. Ini bijaksana. Manusia punya NAFSU yang mendorong dirinya untuk makan, cari aman, cari hidup. Ini kebijaksanaan. NALAR manusia langsung tunjuk di mana bisa dapat makanan, di mana tempat yang aman. Ini bijaksana.

    NALURI manusia ajak manusia untuk berteman, beristeri, bersuami, berketurunan. Ini bijaksana. NURANI manusia menuntun manusia untuk berpikir yang bijak, berkata yang bijak, berbuat yang bijak. Ini yang namanya kebijaksanaan, mau apa lagi? Untuk cinta yang namanya kebijaksanaan itu apakah harus sekolah di universitas ternama di Roma, Paris, London? Tidak.

    Di sudut mana pun di dunia ini manusiaa berfilsafat. Itu ditulis atau tidak, bukan soal. Namanya dikenal atau tidak bukan soal. Pikirannya dikutip atau tidak bukan soal. Kebijaksanaan tetap kebijaksanaan yang melekat dalam tiap manusia atas perpaduan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4N, Kwadran Bele, 2011). Tidak ada satu orang pun, satu bangsa pun yang memonopoli kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu milik umat manusia. Jadi kita semua bisa dan harus berfilsafat. Semua tulisan di Kompasiana, sejauh masuk akal, bijak, itu Filsafat biarpun tidak jelas-jelas dinyatakan ‘Ini Filsafat’.

    Sumber KEBIJAKSANAAN itu DIA YANG MAHABIJAKSANA, DIA tidak kikir untuk bagi-bagi kebijakasanaan itu untuk dicerna dan dihayati oleh siapa pun di mana pun dan kapan pun, namanya Manusia, dia itu bijaksana dan harus pakai kebijaksanaan dan cinta kebijaksanaan itu. Itulah Filsafat.

     

     

  • Mulai

     

    Mulai. Mulai pikir, mulai tulis, mulai baca, mulai kirim. Ini proses munculnya artikel di ‘Kompasiana’. Mulai sesuatu disusul dengan mulai yang lain. Tidak mungkin mulai pikir dan pikir terus. Tidak mungkin mulai tulis dan tulis terus. Sebenarnya hidup ini mulai dengan mulai dan terus mulai.

    Sambung-menyambung dari mulai ke mulai. Kapan berakhir? Seseorang hidup delapan puluh tahun lalu meninggal. Secara sederhana disebut mengakhiri hidup di dunia. Lalu apa? Yah, mulai hidup yang baru. Itu ada dalam kepercayaan kita bahwa hidup manusia ini tidak berakhir dengan kematian tetapi berlanjut terus dalam hidup di keabadian.

    Nafsu kita manusia ini maunya mulai yang baru dan baru terus. Nalar kita mau tahu dan alami yang baru. Bosan dengan yang itu-itu saja. Naluri kita mau bertemu sobat baru, rekan baru, kegiatan baru yang melibatkan sesama. Nurani kita tenang dengan hal baru disusul dengan ketenangan baru. Mulai tenang, mulai damai. Itulah hidup, mulai dari awal dan tidak ada akhir. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup kita menjadi hambar kalau tidak mulai lagi dengan hal yang baru. Hari mulai malam lalu berlangsung sampai tiba pagi hari. Detik lama berlalu dan mulai dengan detik baru. Mulai menit baru, jam baru, hari baru, minggu baru, bulan baru dan tahun baru. Itulah rentetan mulai dan mulai.

    Dengan empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani kita manusia mulai menapaki hidup ini dengan mulai dan mulai. Kalau sudah mulai pikir, selanjutnya mulai buat, disusul dengan mulai cari tahu yang baru dan mulai renung yang baru.

    Nafas pun berganti dengan mulai hembus disusul mulai hirup udara baru. Tarikan nafas disusul dengan hembusan nafas dan ini mulai disusul mulai.

    TUHAN Pencipta kita yang mulai segala sesuatu ini termasuk hidup dalam diri kita pun dimulai oleh TUHAN. Mulai hidup dan terus hidup. Mulai hidup sehat. Mulai sakit. Mulai sembuh. Mulai silih berganti dari mulai ke mulai. Maunya TUHAN itu kita mulai yang baru secara baik, benar dan bagus. (3-B).

    Mulai baik disusul dengan mulai buruk. Ini yang tidak dikehendaki oleh TUHAN. Kecenderungan dalam diri kita memang ada untuk mulai yang baik dan benar itu terus. Tetapi selalu ada godaan untuk mulai yang baik diganti dengan mulai yang buruk. Paling ngeri kalau mulai yang buruk disusul dengan yang buruk lagi sehingga diri kita dari buruk ke buruk sampai pada tingkat jahat.

    Kalau sudah mulai baik, yah, harus disusul dengan mulai lagi baik yang lain. Selang seling baik dan buruk, buruk dan baik inilah yang menjadikan diri kita manusia hidup sengsara. Kalau mau senang, mulai nikmati yang baik. Kalau mau gembira, mulai pikir yang baik. Kalau mau puas, mulai bergaul secara baik dengan sesama. Kalau mau bahagia, mulai  sandar pada yang baik terutama pada YANG MAHA BAIK.

     

     

     

     

  • Ingat

     

     

    Ingat. Setiap kata ada filsafatnya. Kata ‘ingat’. Ada tiga makna. Pertama, ingat, karya nalar menampilkan kembali peristiwa yang sudah lewat. Lawannya, lupa. Kedua, ingat, karya naluri, libatkan sesama baik yang jauh mau pun yang dekat. Ketiga, ingat, pengawasan, hati-hati. Buat yang baik. Hindari yang buruk. Itu karya nurani. Nafsu yang ingin apa saja, diberi isyarat, ingat pengalaman, pengetahuan lalu nikmati. Nafsu diingatkan untuk pikir sesama, perhatikan sesama. Nafsu diingatkan untuk tingkatkan yang baik, tinggalkan yang buruk. Inilah kerjasama ‘4N’, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani, yang ada dalam diri manusia untuk hidup manusiawi. Ingat.

    ‘Ingat’ menurunkan kata-kata: ingat-ingat, ingatan, peringatan, daya ingat, ingat diri, ingat sesama, kurang ingat, hilang ingatan. Filsafat kata ‘ingat’ makin meluas dan makin mendalam. Saya, anda, dia, kita ini hidup dari ‘ingat’ ke ‘ingat’. Setiap gerak-gerik kita itu penjabaran dari ‘ingat’. Bayangkan kalau kita ‘hilang ingatan’. Atau ‘kurang ingat’ sesama.

    ‘Ingat’ dengan segala seluk-beluknya itu yang merangkai hidup kita dari saat ke saat dan menyatukan kita dengan sesama kita manusia dan kita dengan PENCIPTA kita. Kalau Nafsu kita ingin merampas milik sesama, langsung Nalar mengingatkan, ‘Awas, ingat, itu tidak baik’. Naluri kita memberi peringatan, ‘Ingat, dia itu saudaramu!’ Nurani kita memuji diri kita, kalau ingat orang lain.  ‘Syukur, engkau ingat sesama karena sesama itu sama-sama manusia, Ciptaan TUHAN’. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    ‘Ingat’ itu membuat harta yang terpendam dalam diri kita jadi harta bersama lewat nafsu kenikmatan yang wajar. Sama-sama senang. Ingat pengetahuan dan pengalaman yang indah kalau dibagi maka sesama akan gembira. Saling ingat sesama membuat diri kita puas. Ingat yang baik dan buat baik membuat diri kita bahagia. Inilah hasil dari ‘ingat’. Senang, gembira, puas, bahagia.

    Karena itulah setiap kita tetap ingat untuk buat baik terhadap sesama di hadapan TUHAN, kapan pun, di mana pun kita berada.

     

     

  • Mengerti

     

    Mengerti. Kata mengerti itu terjadi melalui satu proses yang panjang dan berbelit. Tidak sesedarhana seperti yang biasa kita mengerti. Mengerti apa? Isi pengertian itu apa? Filsafat itu dasarnya pada mengerti yang menghasilkan pengertian. Kalau tidak mengerti maka apa pun saja yang dikatakan, membuat orang tidak mengerti dan yang berkata maupun yang mendengarkan sama-sama tidak mengerti. Hasilnya, manusia menjadi pribadi-pribadi yang bingung, hidup tanpa arah. Kacau balau. Manusia hidup dengan tenang itu karena mengerti apa itu hidup dan untuk apa hidup.

    Nafsu manusia ada, diberikan oleh Pencipta untuk makan makanan yang bisa dimakan. Buat apa yang bisa dibuat dan untuk apa dibuat lalu cara membuat dan untuk apa dibuat. Ini adalah rangkaian pengertian yang muncul dari nafsu. Nalar ada untuk mengerti semua pengalaman dan pengetahuan sempat dialami oleh manusia. Inilah pengertian hasil dari karya nalar. Sesama manusia saling mengerti entah melalui ungkapan apa pun saja, gerak, isyarat atau kata-kata. Ini karya naluri. Hal baik atau buruk dimengerti sebagai karya nurani yang menghasilkan ketenangan, kedamaian dalam bathin. Perpaduan karya Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani menghasilkan pengertian yang bisa dimengerti oleh diri seseorang dan sesama dan terjalinlah saling pengertian yang saling menghidupkan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mengerti membuat manusia mengerti diri dan mengerti hidup. Mengerti muncul dari keinginan. Nafsu. Mengerti hasil usaha Nalar untuk mengetahi dan mengalami segala hal. Mengerti hasil dorongan Naluri untuk mampu hidup bersama dalam suasana saling pengertian. Mengerti hasil kendali dari Nurani yang membuat manusia itu sadar akan arti baik dan buruk dari segala macam ulah manusia.

    Mengerti itu ketrampilan. Mengerti itu tuntutan hidup. Mengerti itu tujuan hidup. Hidup itu mengerti dan mengerti itu hidup. TUHAN Pencipta kita maha mengerti keadaan kita manusia. Kita dituntut untuk mengerti Kehendak DIA Yang mengerti bahwa kita, ciptaan-Nya terbatas oleh segala keterbatasan. Ini harus dimengerti oleh kita manusia bahwa kita tidak dapat mengerti segala-galanya oleh karena itu dalam hidup ini kita harus berusaha untuk mengerti hidup tanpa henti.

  • Pelihara

     

    Pelihara. Pelihara badan. Itu untuk diri. Pelihara anak. Pelihara hewan. Pelihara tanaman.

    Hidup itu rentetan pelihara ke pelihara. Kita manusia pelihara diri. Nafsu kita ada itu untuk pelihara diri mulai dari makan, minum, pakaian sampai ke perumahan. Ini semua ada dan dibuat oleh kita manusia dalam rangka pelihara diri. Nalar kita ada untuk mengetahui dan mengalami cara pelihara diri, pelihara sesama, pelihara hewan, pelihara tumbuhan, pelihara alam. Naluri kita ada untuk saling pelihara antara kita sesama manusia. Nurani kita ada untuk sadarkan diri kita bahwa saya, anda, dia, kita dipelihara oleh SANG PEMELIHARA, PENCIPTA kita.

    Kegiatan pelihara-memelihara itu terjadi sebagai kerjasama antara Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ada kebiasaan suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor, setiap rumah harus pelihara hewan di rumah. Mulai dari ayam, kucing, kambing, babi sampai kepada kerbau, sapi, kuda. Untuk apa pelihara hewan? Pertama sebagai pelindung. Kedua sebagai penolong. Ketiga sebagai pembantu. Keempat sebaga penambah penghasilan.

    Fugsi pertama, pelindung.  Itu yang paling penting. Kalau pemiliknya terkena penyakit atau bahaya apa pun saja, ada keyakinan bahwa hewan peliharaan yang pertama-tama menjadi korban. Malapetaka itu menimpa hewan peliharaan baru menimpa tuannya.

    Fungsi kedua sebagai pelindung. Ini terlihat jelas pada anjing peliharaan. Kalau ada orang asing, terlebih pencuri, anjing akan menggonggong, menyerang musuh dan melindungi tuannya.

    Fungsi ketiga sebagai pembantu. Ini terlihat pada peran kuda yang menjadi kuda beban dan kuda tunggangan.

    Fungsi keempat sebagai usaha menambah penghasilan keluarga. Babi dan kambing dapat dijual untuk mendapat tambahan penghasilan.

    Pelihara berarti jaga dan atur supaya hidup. Kalau sebaliknya, apa? Merusak, jadi perusak. Kata-kata seperti merusak, membasmih, membunuh adalah lawan dari pelihara.

    TUHAN pelihara kita. Lalu kita? Saling pelihara.

  • Hadiah

     

    Hadiah. Ada pemberi, ada penerima. Isi hadiah itu apa? Tergantung dari pemberi hadiah. Penerima terima saja. Terimakasih. Atas dasar apa pemberi hadiah memberi hadiah kepada penerima hadiah? Hadiah itu biasanya sesuatu yang berharga, bernilai. Hadiah mewakili diri pemberi. Harga diri pemberi terungkap dalam hadiah. Hadiah menghargai penerima. Pemberi dan penerima disatukan dalam hadiah. Pemberi menghargai. Penerima dihargai. Saling menghargai. Ini dinyatakan dalam hadiah, pemberian cuma-cuma, gratis dari pemberi kepada penerima.

    Nafsu untuk menghargai dan dihargai ada dalam hadiah. Hasilnya, senang. Saling menyenangkan antara pemberi dan penerima hadiah. Nalar bekerja di dalam pemberi hadiah untuk memilih yang cocok sesuai pengalaman dan pengetahuan dari pemberi dan penerima. Hasilnya, gembira. Saling menggembirakan.  Nalar dalam diri pemberi dan penerima bertemu, gayung bersambut. Hasilnya, puas. Saling memuaskan. Nurani dalam diri pemberi dan penerima hadiah dipenuhi rasa tenang, damai dan bahagia. Hasilnya, bahagia. Saling membahagiakan.  Inilah kerjasama secara terpadu antara ‘4N’, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini saling memberi hadiah antara saya, anda, dia dan kita. Kita hidup saling menyenangkan (Nafsu), saling menggembirakan (Nalar), saling memuaskan (Naluri), saling membahagiakan (Nurani). Tidak boleh saling menyusahkan, hasil ulah Nafsu yang tidak terukur. Tidak boleh saling membingungkan, hasil Nalar yang diputar-balikkan. Tidak boleh saling meresahkan, hasil Naluri yang tidak terkendali. Tidak boleh saling mencelakakan, hasil Nurani yang tidak jernih.

    TUHAN, PENCIPTA kita adalah PEMBERI UTAMA semua hadiah yang kita hayati sampai saat ini, kenikmatan (Nafsu), kebijakan (Nalar), keakraban (Naluri), kebahagiaan (Nurani). Inilah hidup dan tujuan hidup.

     

     

     

     

     

  • Maaf

     

    Maaf. Tanpa maaf, umat manusia sudah lama punah. Maaf itu bukan sekedar kata. Sering terucap, ‘Maaf lahir bathin’. Ungkapan ini sarat makna. Maaf lahir, menyangkut unsur Nafsu dalam diri kita manusia. Timbang untuk minta maaf dan memberi maaf terlahir dari Nalar kita manusia. Maaf diminta dan maaf diberi adalah tindakan Naluri yang ingin hidup aman dengan sesama. Maaf bathin, ini ungkapan terdalam dan terindah dalam sikap kita, saya, anda, dia dan kita. Maaf secara bathin itu ibarat air jernih yang sejuk di lubuk yang dalam. Jadi maaf itu terlahir oleh rentetan tindakan dari Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tiada maaf bagimu. Ungkapan ini sangat berbahaya dan membahayakan bagi diri yang mengungkapkan dan bagi orang yang ditujui. Tiada maaf itu berakhir pada sikap memusuhi sampai membunuh sesama. Ini yang tidak boleh terjadi. Harus diakui bahwa secara kodrati kita manusia ini berada di antara dua kutub magnit, kutub kejahatan dan kutub kebaikan, kutub benci dan kutub kasih. Tarik menarik antara dua kutub ini sangat kuat dan setiap saat kita manusia oleh salah satu dari kutub ini, entah yang baik atau yang jahat.

    Maaf adalah obat penyembuh luka antara yang melukai dan dilukai. Kita kalau sudah terseret oleh arus magnit kutub kejahatan, pasti ada pihak yang dicederai. Segera minta maaf supaya  diberi maaf. Permohonan maaf dari yang mencederai. Pemberian maaf oleh pihak yang dicederai. Mohon maaf karena  bersalah. Beri maaf dari  yang sudah disakiti.

    Siapa yang paling disakiti dalam hidup ini? DIA, PEMBERI hidup.

     

  • Ampun

     

    Ampun. Salah dimaafkan. Dosa diampuni. Sering kita minta ampun pada sesama. Seorang anak dipukul oleh mamanya. Terdengar suara lirih tangisan si anak, ‘Mama, ampun, ampuuun’. Mama jatuh hati dan anak terbebas dari pukulan. Maaf untuk kesalahan kecil, ampun untuk kesalahan besar. Kata ampun terlontar dari mulut pemohon dan dijawab oleh pemberi ampun dengan memberi ampun. Dua belah pihak terbebas dengan kata ini, ampun. Hubungan yang retak terpulih oleh ampun. Mengampuni dan diampuni.

    Ampun, ungkapan penuh rasa sesal yang ditujukan kepada Tuhan. Mohon ampun. Kalau sudah berdosa. Pantas kalau ada ungkapan keagamaan, Tuhan Maha Pengampun. Nafsu yang tidak teratur menyebabkan seorang jatuh dalam dosa. Nalar yang kabur membuat orang tidak lagi mampu melihat mana salah mana benar. Naluri yang sudah dilabur rasa iri dan benci membuat pribadi dengan pribadi yang lain saling menerkam. Nurani yang keruh mengaburkan segala yang murni jadi buram. Inilah dosa.

    Hanya satu kata yang dapat menghapus coreng moreng ini dari diri manusia, ampun. Kata ampun sangat ampuh. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani jadi teduh, tenang dan damai karena mohon ampun dan dapat ampun dari DIA MAHA PENGAMPUN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu jalan tertatih oleh kerakusan. Itulah dosa. Nalar jadi kabur oleh tipu-muslihat. Itulah dosa. Naluri jadi tumpul terhadap derita sesama. Itulah dosa. Nurani tercemar oleh iri dan dengki. Itulah dosa. Semua ini dapat kembali pulih kalau Nafsu  lurus, Nalar tulus, Naluri halus, Nurani kudus. Ini semua bisa terjadi lewat mohon ampun dan dapat ampun.

    Hidup kita tidak tertindih beban dosa kalau ampun diminta oleh kita dan ampun diberi oleh DIA, PENCIPTA kita, MAHA PENGAMPUN.