Blog

  • Filsafat Agama

     

    ‘Hai, semua ini filsafat habis’. Ini ungkapan teman yang kaget dengan apa-apa filsafat. Semua filsafat. Yah, agama itu ada filsafatnya, dalam arti berpikir secara mendalam tentang Agama. Langsung buat pembedaan, ada Agama dan dalam Agama ini ada dua kelompok: Penganut Agama dan Penghayat Agama. Agama itu percaya pada Yang Maha Tinggi. Ada penganut Agama ini, Agama itu. Agama mana pun saja, ada penganut dan jumlah penganut itu banyak atau sedikit tergantung dari penyebarannya.

    Setiap Agama ada Penghayat. Inilah kelompok yang menghayati isi ajaran, tradisi sesuai petunjuk orang-orang yang bewenang dalam Agama itu. Biasanya pertengkaran tentang Agama itu disebabkan oleh para penganut. Penghayat tidak bertengkar.  Karena para penganut ini ada dalam ranah NAFSU. Bertengkar karena uang, gedung, jumlah penganut, jumlah penghasilan, jumlah sumbangan. Ini masuk ranah NAFSU yang erat bertalian dengan hal-hal bendawi, materi.

    Ada penganut yang pamer kehebatannya dalam menguraikan ajaran Agama. Biasanya suka serang ajaran Agama lain. Ini masuk dalam ranah NALAR. Silahkan kotbah di sana-sini. Bisa dinilai, pengkotbah ini ‘penganut’ atau ‘penghayat’. Ada penganut Agama yang bangga dengan jumlah. Mayoritas – minoritas.

    Di Eropa, mayoritas Kristen. Di Timur Tengah mayoritas Islam. Di Indonesia, mayoritas Islam. Kalau hitung jumlah penganut, ukur kepentingan kelompok, maka pertengkaran tak terhindarkan. Ini ranah NALURI. Kemudian penganut Agama ini saling menilai ke dalam dan ke luar, siapa lebih rajin, siapa lebih tekun praktekkan ajaran Agama, ini masuk ranah NURANI.

    Berdasarkan teori 4 N (Kwadran Bele, 2011), Filsafat Agama itu membawa seseorang untuk berpikir, saya ini penganut dan penghayat atau penganut saja, penghayat saja. NAFSU mendorong manusia untuk menganut dan menghayati Agama dengan penampilan lahiriah, berlaku seturut ajaran, tradisi dan pimpinan Agama. Bangun rumah ibadat, taat beribadah dan beramal. Ini kelihatan, dan setiap kita ingin hal-hal ini diketahui dan dilihat orang lain. Ini baik sejauh tidak sampai pamer.

    NALAR kita mendorong untuk mengetahui dan memahami Agama yang kita anut dan hayati. NALURI kita mendorong diri kita untuk tetap erat bersatu dengan sesama penganut dan penghayat Agama yang sama dan menghormati penganut dan penghayat Agama yang lain. Ini yang namanya rukun beragama. NURANI kita menyadarkan kita bahwa semua orang yang menganut dan menghayati Agamanya, terarah kepada tujuan yang sama, YANG MAHA TINGGI.

    Yang Maha Tinggi itu mendapat Sapaan Nama, cara Ibadah, rumusan Ajaran yang berbeda-beda dalam setiap Agama berdasarkan ‘Ajaran’, ‘Tradisi’ dan ‘Wewenang’ masing-masing Agama itu.

    Dalam Agama ada Ajaran. Tertulis dalam Kitab Suci masing-masing. Ada tradisi. Ini sesuai zaman dan tempat. Ada pimpinan yang harus ditaati. Diri manusia secara pribadi, bebas untuk anut dan hayati Agama mana saja. Ini kebebasan mutlak dari manusia. Tidak boleh ada paksaan.

    Ada orang yang terlahir dari orang tua dalam Agama tertentu. Yah, mengapa ini dipersoalkan. Persoalan muncul kalau manusia itu bertindak sebagai Penganut saja dan bukan Penghayat Agama. Menganut Agama dan tipis dalam menghayati, maka benih cemburu, suka menilai orang lain, suka mencampuri urusan orang lain, tumbuh subur dalam diri orang atau kelompok yang tipis penghayatannya terhadap Agama yang dianutnya.

    Dari sudut Filsafat Agama ini, terserah pada diri kita masing-masing, pilih,  saya lebih kuat rasa sebagai Penganut saja atau Penghayat saja dari Agama saya. Yang benar ialah: “Penganut dan Penghayat menjadi satu dalam diri saya”. Posisi inilah yang ditampilkan dalam hidup bersama sesama dan sama-sama mengangkat hati menundukkan kepala di Hadapan Yang Maha Tinggi.

     

     

  • Filsafat Manusia

     

    Wah ini apa lagi. Filsafat manusia. Manusia berpikir tentang Manusia. Apa? Berpikir tentang manusia? Tubuhnya? Jiwanya? Asal-usulnya? Hidupnya? Tidak! Manusia berpikir tentang manusia seutuhnya. Total. Mana mungkin. Manusia berpikir tentang manusia secara menyeluruh, utuh. Itu bagaimana?  Manusia berpikir sedalam-dalamnya tentang diri manusia itu sendiri. Mulai dari mana saja boleh. Mulai dari makan. Baik. Manusia makan. Itu satu kegiatan. Berarti harus ada makanan. Yah. Harus cari makanan. Yah. Cari dengan beli atau langsung kerja. Yah, bisa dua-duanya. Beli daging tanam jagung. Bisa. Tanam jagung harus tahu caranya. Memang demikian.

    Tidak sendirian, manusia bersama orang lain. Yah, mana ada manusia sendirian di dunia ini yang atur diri seutuhnya. Dalam dongeng mungkin. Manusia harap hujan. Benar. Hujan datang, senang. Hujan lama tidak turun? Gelisah. Akhirnya doa minta hujan. Ah, doa? Doa kepada siapa? Roh-roh? Leluhur? Ada banyak ceritera, doa kepada Yang Maha Tinggi.

    Hanya dalam beberapa belas kalimat di atas, kita sudah berfilsafat tentang manusia. Pikir rupa-rupa yang baik,  benar, dan bagus tentang manusia oleh manusia sudah masuk dalam filsafat manusia. Filsafat manusia itu tidak aneh-aneh. Lihat anak yang baru dilahirkan. Ini manusia. Dia hasil perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan.

    Dengan lahirnya anak ini laki-laki berubah status dari perjaka ke ayah dan perempuan dari gadis menjadi ibu. Bayi ini tidak berdaya kalau tidak dirawat oleh ibunya. Heran, ibunya ada air susu. Ayahnya ada tenaga untuk melindungi dan mencari nafkah supaya bayi dan ibunya bisa hidup. Hidup yang ada dalam diri Ayah dan Ibu dilanjutkan dalam diri bayi. Bayi ini bertumbuh, kanak-kanak, remaja, dewasa. Nanti dia juga kawin, kalau laki-laki cari perempuan, kalau perempuan berpasangan dengan laki-laki. Ada adat di kebanyakan suku, laki-laki melamar perempuan untuk kawin bukan sebaliknya. Pokoknya dalam diri manusia ada dorongan untuk kawin.

    Manusia berpasang-pasang saling melengkapi untuk sama-sama hidup. Hanya hidup saja? Hidup macam apa? Hidup saling menolong. Kalau itu saja bisa, gampang sekali, habis tolong, pergi. Hidup saling menghargai? Oh kalau harga jatuh, buang. Hidup saling menghormati? Wah, kalau tidak hormat lagi, cerai. Ada ketentuan yang umum, manusia itu berpasang-pasang dalam ikatan perkawinan atas dasar kasih. Ah, kasih itu apa? Ada istilah, kasih sayang. Inikah? Apa pun istilahnya, pokoknya dua orang itu saling menerima seutuhnya dan punya keturunan, berkembang dan berkembang. Lalu buat apa?

    Manusia ada untuk melanjutkan keberadaannya dengan ada bersama yang lain. Manusia ada ini karena diadakan oleh Yang Maha Ada maka dia harus mempersembahkan adanya itu kepada Yang Maha Ada itu dalam karya memelihara diri,  sesama dan alam sekitar. Hasilnya? Bahagia mulai di  dunia  ini sampai di keabadian.

  • Filsafat Alam

     

    Berpikir tentang alam. Itulah filsafat alam. Alam itu segala yang ada ini. Kita manusia juga termasuk alam. Kita dalam alam dan kita adalah alam. Dalam alam ini hanya kita manusia saja yang dapat berpikir tentang alam, termasuk berpikir tentang diri kita manusia sendiri. Pikir tentang alam itu mulai dari alam ini berawal kapan, siapa yang buat alam ini dan apa tujuan dari adanya alam ini. Awas, jangan pusing.

    Memang pikiran seperti inilah yang orang sering enggan berfilsafat atau berpikir yang dalam-dalam. Filsafat itu memang pemikiran yang dalam. Yah, apa gunanya ada pikiran kalau hanya pikir yang dangkal-dangkal saja, mendatar, biasa-biasa. Harus sering pikir yang dalam. Itulah filsafat. Itu butuh ketenangan. Tidak bisa pikir dalam-dalam sementara lari-lari di lapangan. Tidak bisa pikir yang mendalam sementara mengantuk. Itu namanya mengelamun, mengkhayal.

    Alam ada sejak kapan? Banyak dugaan, ribuan tahun, jutaan tahun lalu. Boleh duga kapan saja, tapi yang nyata ialah alam ini ada. Siapa yang buat atau ada dengan sendirinya? Putar otak, kalau suda buntu, buat saja kesimpulan, alam ini ada yang buat. Kalau buat berarti pakai bahan. Bahan itu dari mana dan siapa yang buat bahan itu? Ini makin mendalam. Pikir harus ada ujungnya. Jangan gantung saja.

    Ujung itulah  kesimpulan, dan kesimpulan itulah kebenaran, dan kebenaran itu tidak mutlak karena kemudian orang lain pikir lagi dan temukan kebenaran yang lebih benar. Untuk sementara, buat satu kesimpulan, pakailah istilah cipta yang artinya, buat sesuatu dari tiada menjadi ada, dan yang adakan itu tidak diadakan. Dia itu sebut saja, pencipta. Di situ pikiran buntu, dan harus menyerah. Dalam penyerahan itu kita manusia katakan, ini di luar kemampuan pikiran saya, maka saya percaya saja.

    Kesimpulan sementara dan pegang kesimpulan ini, alam itu diciptakan oleh pencipta dan karena alam ini begitu luas, hebat, raksasa, maka penciptanya itu pasti jauh lebih hebat maka kita pakai istilah, Maha Pencipta. Di sini pikiran buntu, dan percaya, entah menengadah atau menunduk, itulah yang namanya ‘sembah sujud’, menyatakan diri kita manusia ada dari Yang Maha Ada dan kepada Dia kita sembah sujud dan bersyukur karena ciptakan alam tempat kita manusia ada.

    Alam diciptakan oleh Pencipta itu untuk kepentingan manusia. Ada alam raya, ada alam kecil. Alam kecil itulah diri kita yang kalau dibandingkan dengan alam sekitar, diri kita ini hanya setitik kecil saja yang bergerak memakai alam untuk melanjutkan kehidupan diri dan sesama. Berati kita ini bukan pemilik alam. Kita hanya ada di dalam alam dan memanfaatkan alam.

    Kita tidak ada hak untuk memiliki alam dan memakainya sesuka hati. Alam itu ada hukumnya sendiri yang harus kita patuhi. Dalam alam ada matahari, bulan, bintang. Kita punya pikiran yang ada dan tenaga terbatas sehingga yang jauh tinggi iu kita katakan langit dan yang kita injak ini bumi. Antara langit dan bumi itu ada udara. Dan hasil pikiran kita manusia yang begitu gemas untuk mengetahui, diketahuilah bahwa bumi ini ternyata satu bola kecil di antara bola-bola raksasa. Pernah ada pikiran bahwa bumi kita ini lapangan yang rata yang ada pinggirnya. Kemudian ada pikiran yang dibuktikan kebenarannya bahwa bumi ini bulat, bukan lempengan.

    Alam ini tidak boleh dilawan. Dikuasai sejauh ada manfaat untuk manusia. Bukit-bukit bisa digali untuk dapat batu-batuan atau barang lain seperti kapur untuk semen. Dataran bisa dibor untuk dapat minyak. Ini semua boleh sejauh manusia mampu. Tapi awas, manusia sudah juga berpikir dan tahu bahwa bukit-bukit itu digundulkan semua, hutan habis, air tidak ada, nanti ada padang pasir yang membuat manusia tidak bisa tinggal lagi di sana. Ini semua namanya hukum alam, dipelihara dan dimanfaatkan, boleh, dirusak dan dihancurkan, tidak boleh.

    Filsafat tentang alam ini menyadarkan kita untuk ada di dalam, jaga alam dan manfaatkan alam sejauh ada kebutuhan bagi kita manusia untuk hidup. Alam tidak boleh dipermainkan nanti dia mempermainkan kita. Alam tidak boleh dirusak nanti dia merusak kita. Alam ini ada untuk kita. Sujudlah kepada Yang Maha Ada yang telah adakan alam ini.

  • Filsafat Pembangunan

     

    Pembangunan yah pembangunan. Bangun jalan, jembatan dan gedung. Ada filsafat? Buang waktu. Bangun yah bangun. Untuk apa filsafat. Apa kaitannya? Ungkapan seperti inilah yang membuat pembangunan itu asal pembangunan, tanpa dasar yang kokoh. Bangun apa, siapa yang membangun, untuk siapa, di mana, kapan, berapa anggaran, gunanya apa, dan semua pertanyaan ini adalah permukaan dari pembangunan. Ini bukan dasar.

    Dasarnya di mana? Filsafat. Hah, apa lagi? Jadi kami yang di Dinas PU (Pembangunan Umum) ini harus studi filsafat? Kami ini kontraktor. Harus studi filsafat. Saya ini Sarjana Teknik. Harus studi filsafat dan bergelar Sarjana Filsafat? Makin bingung dan makin berbelit pertanyaan tentang Filsafat Pembangunan.

    Pembangunan. Bangun. Jembatan bangun? Rumah bangun? Jalan bangun? Tidak. Yang bangun itu manusia. Manusia itulah pembangun. Karya manusia itulah yang namanya pembangunan. Untuk terjun ke filsafat pembangunan penulis sodorkan teori ‘Kwadran Bele’ (2011), 4 N. Berdasarkan teori ini manusia itu pribadi yang terdiri dari empat unsur: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani.

    Dalam diagram, satu bujur sangkar dibagi empat dan tiap bidang itu berisi: bidang pertama, Nafsu, kedua Nalar, ketiga Naluri dan keempat Nurani. Empat bidang ini sama besar, berarti ada keseimbangan. Kalau salah satu bidang terlalu besar, maka tiga bidang yang lain tergeser ukurannya dan empat bidang itu tidak seimbang lagi. Ini teori untuk mengukur pembangunan apa saja. Pembangunan itu harus sesuai Nafsu yang wajar, Nalar yang benar, Naluri yang sehat dan Nurani yang tulus.

    Bangun satu jembatan, dana 100 milyar. Jembatan itu memang sangat dibutuhkan. Ini masuk bidang Nafsu. Ada ahli-ahli yang merancang. Ini bidang Nalar. Ada banyak pihak terlibat, termasuk masyarakat yang membutuhkan. Semua harus dipuaskan. Ini bidang Naluri. Ada pertimbangan dapat untung  yang wajar. Ini bidang Nurani.

    Bidang pertama, NAFSU. Jembatan itu dibutuhkan. Tapi terlalu panjang dan terlalu mahal. Dana tidak cukup, tapi karena benar-benar dibutuhkan, bangun saja dengan dana pinjaman. Ini Nafsu besar. Gali lubang tutup lubang. Baik kalau hutang itu dapa dilunasi pada waktunya. Kalau tidak? Mencelakakan diri. NALAR.

    Para ahli dari berbagai disiplin Ilmu berkumpul membuat analisa. Ini membutuhkan keahlian dan pengalaman yang benar-benar teruji. Salah hitung, jembatan ambruk. NALURI. Para kontraktor belomba untuk menang tender. Pemerintah dekati masyarakat, pembebasan tanah. Para pedagang, semen, besi, kayu, aspal bermunculan menawarkan jasa. Masyarakat penuh harap jembatan segera selesai.

    Keterlibatan manusia-manusia ini masuk dalam Naluri untuk berkontak antara sesama  manusia. NURANI. Pemerintah jujur tidak menipu masyarakat. Kontraktor kerja sesuai rencana. Ada hasil, semua pihak puas. Tidak ada saling tipu, tidak ada mark-up harga dan lahan yang dibebaskan diberi harga yang wajar. Waktu peresmian, gunting pita,  ada pesta. Gembira karena sudah memenuhi 4 N. Berbagai pihak pidato dan ada doa. TUHAN dilibatkan untuk jadi SAKSI.

    Empat unsur ini, 4N,  terpadu dalam diri masing-masing pribadi, kelompok  yang terlibat dalam pembangunan, itulah yang dinamakan filsafat pembangunan. Manusia yang membangun. Membangun demi kesejahteraan. Salah satu unsur itu tidak terpenuhi maka pembangunan itu tidak layak disebut pembangunan tetapi pengrusakan, penghancuran. Bangun yah benar-benar bangun, bukan tidur atau kubur. Bangun membuat segar. Pembangunan membuat manusia bugar, jasmani-rohani.

     

     

  • Filsafat Yunani

     

    Orang Yunani itu pintar sekali. Kalau bicara tentang Filsafat, harus mulai dari Yunani. Ini yang salah dan sama sekali salah. Pendapat ini membuat banyak orang menjauhi filsafat karena pikir harus tahu siapa itu Socrates, Aristoteles dan lain-lain. Yunani itu tempat. Pikiran-pikiran itu dicatat dan tersebar dari sana. Bukan berarti orang Yunani itu palling pintar dan kita semua harus belajar di sana atau dari sana.

    Ada Filsafat Tiongkok, ada Filsafat India, Fisafat Barat, Filsafat Timur. Itu menunjuk tempat pikiran orang-orang yang ada di sana dan tertulis lalu tersebar. Jangan ikat diri dengan tempat. Ada Filsafat Kuno, Fisafat Abad Pertengahan, Filsafat Modern. Itu pembahagian menurut waktu. Ada Filsafat Alam, Filsafat Manusia, Filsafat tentang Tuhan. Itu pembahagian menurut tema, tentang apa orang berpikir secara mendalam.

    Ada Filsafat Skolastik, Liberalisme, Eksistensialisme, Neo-Liberalisme. Itu aliran. Pendewaan Filsafat berdasarkan tempat, waktu, tema dan aliran ini yang memporak-porandakan pengertian tentang filsafat sehingga hanya orang tertentu saja yang dianggap tahu filsafat dan berfilsafat. Padahal kita semua tahu filsafat dan berfilsafat.

    Jujul di atas, Filsafat Yunani mempersempit filsafat. Langsung membuat bulu kuduk berdiri, binatang apa lagi ini. Itu hanya merek, cap. Beras Memberamo, Beras cap Jeruk. Itu merek dan tidak berarti beras lain tidak baik atau bukan beras.

    Filsafat diartikan dengan Ilmu memang jadi asing dan menjadikan orang takut. Kalau dikatakan, saya pikir begini, maka orang akan arahkan perhatian, dia pikir apa. Ini filsafat. Pikir.

    Kalau makan nasi lalu sementara makan nasi itu pikir tentang kandungan zat-zat yang ada dalam nasi, bagaimana nasi itu terjadi dan bagaimana nasi akan diolah dalam perut, dan pikir dan pikir terus tentang nasi, kapan nikmatnya nasi dinikmati.

    Dan kalau nasi diasingkan sekian rupa maka orang enggan makan nasi, sebab rumus dan syaratnya terlalu banyak. Demikian pula dengan filsafat. Terlalu banyak cap dikenakan pada filsafat sampai filsafat menjadi asing dan ganjil.

    Filsafat itu proses berpikir dan hasil berpikir. Anak umur tiga tahun. Sudah bisa ungkapkan beberapa kata. Tiba-tiba pada malam hari di depan rumah mereka dia bertanya pada bapaknya, ‘Pak itu bintang. Bisa ambil?’ Itu filsafat.

    Bocah ini berpikir. Bapaknya berpikir. Pikiran ini harus dirumuskan dalam kata-kata yang dia kuasai. Harus ada pengalaman, pengetahuan. Harus ada bahasa. Ini semua mata rantai filsafat. Jangan merasa asing dan mengasingkan filsafat. Jangan mendewakan filsafat.

    Saya berfilsafat. Itu berarti saya berpikir dan ajak orang lain berpikir. Hasilnya ada pendapat. Pendapat itu salah atau benar. Pendapat saya ini untuk apa saya kemukakan. Kepada siapa saya kemukakan. Kapan harus saya kemukakan. Di mana saya boleh kemukakan. Dalam bahasa apa saya kemukakan.

    Ini filsafat. Lepaskan itu pikiran tentang pikiran ini pikiran siapa dan dari mana. Ini membelit diri dengan hal-hal yang tidak perlu. Berpiir yah berpikir. Bekata yah berkata. Cari yang benar, baik dan berguna. Itu filsafat.

    Jangan tunggu orang Yunani datang ajar kita. Jangan agung-agungkan orang Barat. Saya berfilsafat. Saya pikir yang benar. Saya bicara yang benar. Ini baru namanya saya manusia yang berpikir, berpendapat dan berbuat benar. Itulah filsafat.

     

     

  • Firasat

     

     

    Sering kita dengar dan pakai kata ini, firasat. Ada rasa, dugaan, perkiraan tentang apa yang akan terjadi. Baik atau buruk. Sesudah terjadi langsung berceritera, memang, saya sudah ada firasat. Biasanya hal buruk yang menimpa itu yang diungkapkan melalui ceritera tentang firasat. Celaka dengan kendaraan di jalan. Entah sendiri atau kerabat dekat berujar, memang saya sudah ada firasat jelek tadi pagi. Kejadian dikaitkan dengan perasaan di waktu lalu.

    Nafsu kita selalu berkontak dengan alam nyata. Nalar kita mengetahui dan mengalami yang sudah dan sedang terjadi. Nalar juga menduga apa yang akan terjadi. Di sini letak firasat. Naluri kita selalu mengharapkan yang baik. Kalau yang buruk menimpa kita langsung cari jawabnya pada firasat. Nurani kita terguncang oleh peristiwa jelek yang menimpa diri kita dan Nurani bertanya, salah apa? Ini peran 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri +Nurani yang membuat diri kita hidup melangkah maju ke arah yang baik dan lebih baik lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Firasat itu meneguhkan atau meruntuhkan? Hidup itu tahan banting. Penuh tantangan. Dalam hadapi tantangan, kalau diteguhkan, baik. Kalau diruntuhkan semangat juang, jangan. Istilah firasat boleh tetap dipakai, karena sulit dihilangkan. Sudah berurat-akar dalam hidup kita bermasyarakat. Pakailah kata firasat dalam arti yang positif. ‘Tadi pagi saya ada firasat buruk’. Ungkapan ini meruntuhkan diri. Kalau tertimpa mala-petaka yang tak terduga, tanyalah Nafsu, ini salah keinginan? Tanya Nalar, mengapa saya tidak ikut larangan? Tanya Naluri, mengapa saya tidak ikuti nasihat orang untuk tidak berbuat hal itu? Tanya Nurani, mengapa saya tidak waspada menghadapi situasi ini?

    Kita hidup tidak dituntun oleh firasat. Hidup kita dituntun oleh DIA, SANG PEMBERI HIDUP. Di luar DIA, tidak ada siapa pun, apa pun yang mengatur hidup kita ini. Unsur-unsur dalam diri kita, ‘4N’ itu anugerah dari YANG MAHA BIJAK untuk kita hidup penuh bijak bukan penuh firasat.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Bantu

     

    Bantu. Bantu sesama, biasa. Saling membantu, bantu-membantu. Satu bantu yang lain. Satu kekurangan ini, yang lain  kelebihan itu. Bantu yang berkekurangan. Hidup ini bantu-membantu. Tidak ada satu manusia pun yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau sudah dibantu, wajib membantu orang lain.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati berbagai kebutuhan. Ini perlu bantuan orang lain. Kita manusia tidak tahu segala sesuatu. Harus ada orang lain bantu kita untuk mengetahui dan mengalami hal-hal baru. Ini karya Nalar. Saling membantu itu wajar dan wajib. Ini peran Naluri. Sesudah membantu dan dibantu, kita ada rasa tenang, terimakasih, damai. Ini peran Nurani. Empat unsur ini, ‘4N’ merupakan bahagian tak terpisahkan dalam diri kita manusia untuk hidup membantu dan dibantu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia saling membantu. Alam sekitar ada, diadakan oleh PENCIPTA untuk membantu kita manusia supaya bisa hidup. Hidup ini tidak melayang begitu saja. Harus ada tempat. Rumah, ladang, langit, udara, ada untuk membantu kita supaya kita hidup. Kita bertindak bodoh kalau tidak memakai bantuan ini. Lebih bodoh lagi kalau menyalah-gunakan malah merusak bantuan ini.

    Bantu-membantu, itu wajib. Saling membantu. Itu yang bahasa kerennya, saling mengasihi. Orang sakit, dibantu. Yang sehat bantu yang sakit. Orang miskin, dibantu. Yang kaya bantu yang miskin. Beri bantuan. Yang membantu ada kemampuan untuk membantu. Yang dibantu membutuhkan bantuan karena kekurangan. Orang Eropa ada gandum, bantu kita di Asia dengan gandum yang jadi terigu dan roti. Kita di Asia bantu mereka dengan padi yang jadi beras dan nasi. Alam dengan segala keterbatasannya memaksa kita untuk saling membantu.

    Nafsu kita adalah dorongan untuk menikmati apa yang ada di sekitar kita. Tidak boleh nikmati sendiri, harus bantu orang lain. Nalar adalah daya untuk mengetahui cara mengolah kebutuhan. Tidak boleh kikir dengan pengetahuan dan pengalaman. Saling mengajar dan saling melatih. Ini bantu-membantu. Bantu sesama agar hidup sama-sama, makin hari makin makmur. Ini karya Naluri. Aneh kalau tidak bantu sesama dan biarkan sesama itu hidup susah. Bantu sesama itu membuat hati senang dan tenang. Ini karya Nurani.

    Bantu itu Perintah dari DIA, PENCIPTA kita supaya kita hidup saling membantu. Dengan itu kita tidak keburu Nafsu, tidak keblinger Nalar, tidak  kelabakan Naluri dan tidak kebablasan  Nurani.

     

     

     

  • Filsafat

     

    Dengar kata filsafat saja langsung dahi berkerinyut, wah, itu omong di awang-awang, kita tidak mengerti. Inilah kesan tentang filsafat. Padahal semua manusia itu berfilsafat tiap saat. Segala ucapan itu hasil filsafat. Tiap kata yang ke luar dari mulut itu adalah filsafat.

    Kata itu kalau lisan, gabungan bunyi yang mempunyai arti, kalau ditulis, terdiri dari tanda-tanda yang disebut huruf. Kalau dalam sistem telegraf, titik-tidik dan garis-garis itulah kata-kata, kalau untuk orang bisu tuli, gerak-gerak itulah kata-kata dan ini hasil dari pemikiran tentang susunan bunyi, tanda atau isyarat yang mempunyai arti yang diungkapkan oleh seseorang dan dimengerti oleh orang lain, inilah yang dinamakan filsafat.

    Filsafat itu secara umum dimengerti sebagai kegiatan manusia yang mencari dan  mencintai kebenaran. Siapa di dunia ini yang tidak mencintai kebenaran? Jadi setiap orang yang mencintai kebenaran, dia itu berfilsafat. Sebagai ilmu, memang filsafat itu mempunyai disiplin sendiri. Orang berjualan sayur di pasar, itulah ekonomi. Jadi manusia itu manusia ekonom.

    Hitung uang, pakai uang, beli barang. Itu ekonomi. Ahli ekonomi studi ekonomi dengan segala rumus-rumus dan teorinya. Tetapi untuk beli sayur di pasar, tidak perlu mendapat ijazah sarjana ekonomi. Begitu pun fisafat. Untuk berpikir dan berbicara benar tidak perlu ahli filsafat sebagai ilmu. Ungkapan umum bahwa filsafat itu ilmu gaib, sulit, angan-angan, itu tuduhan yang tidak berdasar.

    Filsafat itu berpikir secara mendalam tentang segala yang ada dan mungkin ada, itu benar. Tapi itu bukan berarti yang berfilsafat itu hanya orang yang studi filsafat dan mendapat gelar kesarjanaan di bidang filsafat. Anjing itu binatang. Tiga kata ini saja sudah filsafat.

    Mengapa binatang dalam bentuk itu disebut anjing bukan kucing, ini hasil filsafat, pemikiran yang dalam tentang pengelompokan binatang atas jenis tertentu dan memberi nama yang khusus supaya bisa dikenal oleh manusia.

    Mengapa tidak dikatakan, ‘Anjing itu pohon’? Langsung orang yang mengucapkan itu disebut bodoh malah gila. Harus dibantah, ‘Anjing bukan pohon, karena anjing bergerak dan bisa berpindah, sedang pohon tidak bergerak dan berpindah’. Kalau ada percakapan seperti ini, biar hanya beberapa  kalimat, itu sudah filsafat

    Filsafat itu membutuhkn karya nalar. Orang berpikir sama dengan orang berfilsafat. Hasil pikiran itu hasil filsafat. Umumnya orang begitu mengagungkan filsafat sampai filsafat itu begitu terasing dari dunia pembicaraan harian. Filsafat itu cari kebenaran, cinta  kebenaran.

    Jadi filsafat itu bukan milik segelintir orang. Filsafat itu hasil budaya manusia di tempat tertentu, pada waktu tertentu. Setiap manusia itu befilsafat sehingga jangan selalu berpatokan, ‘Menurut ini, menurut itu, menurut dan menurut’. Sendiri punya pikiran itulah filsafat dari diri dan untuk diri.

    Pikiran orang lain boleh dikutip tetapi tidak boleh menjadi tolok ukur untuk berpikir sendiri. Kalau ‘menurut’ terus, kapan ‘menurut saya?’ Pendirian itu harus muncul dari diri berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang khas diri saya. Itulah filsafat. Ayoh, jangan lagi tuduh filsafat itu aneh.

     

     

  • Pikir dari Segi Filsafat

     

    “Pikir pendek. Pikir panjang. Pikir dalam-dalam. Pikir tenang-tenang. Pikir baik-baik. Pikir dulu baru buat. Kau pikir atau tidak? Kau punya pikiran di mana? Pikir ulang-ulang. Kau punya pikiran itu kotor sekali. Kau pikir saya ini apa? Kau punya pikiran itu bagik sekai.” Boleh ditambah puluhan kutipan berkaitan dengan pikir dan pikiran.

    Ini semua kutipan ungkapan harian tentang ‘Pikir’. Hanya manusia saja yang berpikir. Manusia itu makhluk berpikir. Kalau dipakai ‘Kwadran Bele’ (2011) sebagai titik tolak, maka: Pikir itu adalah kegiatan yang muncul dari Nafsu, Nalar, Naluri dan Nurani (4N). Nafsu, bahagian pertama dalam dri manusia  mendorong manusia berpikir untuk buat dan dapat apa-apa. Nalar menyambut dengan beri pertimbangan dari segi pengetahuan dan pengalaman tentang apa yang sedang dipikirkan. Naluri mengingatkan tentang adanya orang lain yang juga ada bersama dalam alur pikir yang sama. Nurani langsung beraksi dengan beri pertimbangan tentang baik-buruknya isi pikiran itu. Empat unsur dalam diri manusia ini bekerja serentak.

    Umumnya orang berpikir manusia berpikir pakai otak. Pusat pikiran itu ada di otak. Bahagian fisik manusia ini dipilah-pilah, pikir pakai otak, rasa dengan hati, sayang dengan jantung, rasa dengan panca indra. Penulis tawarkan pemahaman baru. Apa pun saja aktifitas manusia, digerakkan oleh empat faktor atau bahagian atau empat unsur dari pribadi manusia: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Fisik manusia, mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki bergerak serentak untuk satu kegiatan. Kuku dan rambut pun ikut berpikir. Ini hasil dari saya pikir.

    Pikir yang tidak dikontrol mulai dari Nafsu, Nalar, Naluri sampai Nurani, akan menjadi kacau. Pikir tentang harta dan kuasa, itulah Nafsu. Ini baik. Tapi tidak dikendali oleh Nalar, Naluri dan Nurani, maka Nafsu untuk harta dan kuasa itu merajalela dalam diri manusia dan orang itu akan tabrak sana tabrak sini, pokoknya ada harta dan dapat kuasa. Tindakan tercela yang disebut KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) muncul dari Nafsu untuk memperoleh harta dan kuasa yang tidak terkontrol oleh tiga N yang lain.

    Pikir itu diarahkan untuk hal-hal yang baik, benar dan berguna, untuk diri dan sesama. Ini ungkapan filsafat tentang ‘pikir’.  Pikir lalu buat sesuai Nalar. Ini yang disebut masuk akal. Pikir, lalu buat sambil pertenggangkan sesama. Ini karya Naluri. Ingat orang lain. Pikir, buat dan renungkan, akibat dari tindakan itu. Ini peranan Nurani. Kalau tindakan itu baik, benar dan berguna bagi diri dan sessama, Nurani akan tenang, senang dan dorong tambah lagi untuk ulang terus-menerus.

    Berdasarkan 4 N ini pribadi manusia itu harus ber-Nafsu untuk yang baik, ber-Nalar untuk timbang benar salah, ber-Naluri untuk lihat berguna atau tidak bagi diri dan sesama, ber-Nurani untuk diterima oleh diri dan sesama, terutama oleh SANG PENCIPTA.

     

     

  • Ada di Dalam Ada

     

    Filsafat itu artinya cinta pengetahuan, cinta kebijaksanaan. Setiap orang itu berfilsafat, artinya: setiap orang yang berakal sehat cinta pengetahuan. Arti umum dari berfilsafat ialah: berpikir sedalam-dalamnya tentang segala yang ada dan mungkin ada. Kita manusia ini ada di dalam ada. Semua yang ada ini berawal dari yang Maha Ada. Ini sudah menjadi kebenaran umum yang diterima umum. Diri saya ada karena ada yang sudah ada lebih dahulu.

    Orang tua sudah ada baru saya ada. Seterusnya pasti ada manusia yang pertama baru ada manusia yang lain, sampai diri saya ada. Itu yang dimaksud dengan ada di dalam ada. Tidak ada di luar yang ada. Ada kita ini saling bergantung pada yang dahulu ada dan sekarang ada. Kemudian ada lagi yang ada dari kita yang ada. Saling mengadakan. Ada perguliran dari yang ada ke yang ada. Perguliran ke samping berarti yang ada ini sama-sama mengada. Perguliran ke bawah berarti yang ada sekarang melanjutkan adanya ada yang lain. Perguliran ke atas berarti yang ada ini berkembang menjadi ada yang lain yang lebih lain dari yang ada sekarang.

    Kita ini ada di dalam ada maka tidak diperkenankan untuk saling meniadakan. Tindakan menghilangkan sesama yang ada sebenarnya sia-sia karena yang ada ini tetap ada. Manusia, tidak bisa ditiadakan. Secara jasmani dia ditiadakan, tetapi dia tetap ada dalam seluruh keutuhan dirinya dalam bentuk yang lain yang tak tertangkap oleh indra. Adanya manusia mulai dari yang pertama sampai sekarang kita-kita yang ada ini tetap saling berkaitan satu sama lain dalam status ada di dalam ada. Mau percaya atau tidak, terserah, tetapi yang pasti adalah kita yang ada dan yang sudah pernah ada dan yang akan ada bergantung pada yang ada dan Dia itu tidak diadakan. Ada ungkapan yang sudah umum, Dia itu tidak ada awal, tidak ada akhir. Secara bathiniah disadari oleh kita yang ada bahwa yang ada dan tidak diadakan, yang awal dari segala yang ada ini diketahui sebagai yang Maha Ada. Di dalam Dia Yang Maha Ada inilah kita sekarang ini ada. Ada kita ini diatur oleh Dia.

    Dalam diri kita yang ada ini tanpa kemauan kita, sudah diletakkan suatu kesadaran tentang adanya Yang Maha Ada itu yang dari zaman ke zaman, dari tempat ke tempat disapa dengan berbagai sapaan, TUHAN, GOD, GOTT, DEUS, THEOS, ALLAH dan ribuan sapaan sesuai dengan adanya ribuan budaya. Ada satu kesadaran yang diletakkan dalam diri kita untuk menjaga, menghormati dan melanjutkan adanya ada yang lain. Ada yang lain itu mulai  dari ada yang tak bernyawa seperti batu, ada yang punya daya tumbuh seperti tumbuhan, ada yang punya naluri seperti binatang, ada yang berakal budi seperti kita manusia diharuskan untuk saling mengadakan. Khusus untuk kita yang berakal-budi diwajibkan untuk saling mengadakan dalam bentuk memelihara dan memanfaatkan segala yang ada di sekitar kita secara bertanggung-jawab dengan pertimbangan bahwa segala ada lain yang bukan manusia itu diadakan untuk kepentingan adanya manusia.

    Kita ada untuk saling mengadakan dalam arti melanjutkan, menyempurnakan yang ada menjadi ada lebih banyak dan ada lebih bermutu. Kita ada dalam ada dan diadakan oleh Yang Maha Ada.