Blog

  • Hidup Jujur (8)

     

    Alam. Alam ini kurnia TUHAN untuk kita manusia. Kita boleh pakai. Tapi harus jaga. Tidak boleh pakai seenaknya apa lagi merusak.

    Nafsu utk pakai dan nikmati apa pun saja di alam ini diberi oleh TUHAN. Kita diberi Nalar untuk pelajari dan alami segala sesuatu dalam alam ini. Itu untuk hidup. Naluri kita diberi TUHAN  untuk ingat bahwa di dunia, bahagian dari alam ini, kita tidak sendirian. Ada orang lain. Bersama orang lain, kita pakai dan nikmati apa yang ada dalam alam ini. Pakai alam, boleh. Pelihara alam, wajib. Nurani kita ada untuk sadar bahwa alam ini berasal dari TUHAN. Inilah mata rantai kegiatan antara 4 N dalam diri kita manusia berhadapan dengan alam. (4N,Kwadran Bele, 2011).

    Kita tidak boleh seenaknya memakai dan menikmati apa saja dalam alam ini. Merusak alam, salah. Memelihara alam, benar dan baik. Itu Perintah TUHAN. Sering kita manusia ini mengganggap alam sekitar  sebagai  benda yang boleh kita pakai sesuka hati kita. Hewan pun bahagian dari alam sekitar kita. Hewan kecil besar itu ada sesuai hukum alam ciptaan Tuhan untuk kita manusia. Kita diberi kuasa untuk memanfaatkan alam, tumbuhan dan hewan dengan penuh tanggung jawab. Kita pelihara alam dan alam akan pelihara kita. Kita merusak alam dan alam akan mencelakakan kita.

    Kita manusia adalah bahagian dari alam ini. Jujur dalam bertindak terhadap alam artinya menghargai keberadaan alam apa adanya. Tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya sejauh itu tidak mengganggu, dibiarkan hidup. Tumbuhan yang tumbuh dan mengganggu seperti rumputan di sela-sela tanaman jagung, rumputnya dicabut, jagungnya dipelihara. Ini tidak termasuk dalam tindakan merusak alam. Menata alam termasuk dalam upaya mengatur supaya alam itu bermanfaat untuk kita.

    Tuhan Sang Pencipta sudah mengatur alam untuk kita manusia manfaatkan sesuai kebutuhan kita. Kita manusia secara bersama memanfaatkan alam tanpa saling mengganggu antara kita manusia sendiri. Inilah tanda kejujuran kita manusia, mana hak kita dan mana hak sesama kita. Sama-sama hidup dalam alam dengan penuh rasa cinta alam sebagai anugerah Tuhan yang kita terima dengan penuh rasa syukur.

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (7)

     

    Milik orang. Ada posting di wa group, ‘Telah ditemukan sebuah dompet. Silahkan hubungi saya, di nomor ini …’. Pemilik menghubungi dan bertemu dengan si penemu dompet. Keduanya bertemu dan sesudah menerima dompet, pemilik berterimakasih dan mengambil uang dua puluh ribu rupiah, memberikan kepada si penemu. Langsung si penemu mengatakan, ‘Terimakasih. Saya cuma menemukan dan tidak sampai hati menerima uang anda. Cukup doa saja untuk saya. Besok lusa mungkin saya juga kehiangan, dan pasti ada orang lain akan menolong saya’.

    Milik orang. Waktu menemukan, Nafsu si penemu berbisik, untung. Ambil saja. Itu milikmu. Nalar berkata, pemilik pasti sedang cari. Naluri berseru, benar, pemiliknya sedang gelisah, segera ambil dan cari jalan untuk serahkan. Nurani berkata, benar. Itu barang milik orang, berikan kepada pemilik. Ini kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Gejolak dalam diri manusia akibat gerakan empat N ini yang disebut pergolakan bathin.

    Milik orang. Tetap milik orang. Di kantor, seorang Kepala Kantor menerima dari Pemerintah uang satu Milliar rupiah untuk bangun jembatan. Uang ini milik orang. Milik rakyat. Tidak boleh si Kepala ambil biar hanya satu dua juta rupiah. Uang itu harus utuh untuk pembangunan jembatan. Kalau ambil di luar tujuan ini, disebut Korupsi. (Korupsi, dari kata Latin, ‘co-rumpere‘, artinya: Menghancurkan atau merusak bersama). Si Kepala runding dengan Bendahara supaya seratus juta dipakai untuk mereka berdua, tidak untuk bangun jembatan. Ini yang namanya Kolusi. (Kolusi, dari kata Latin, ‘co-ludere‘, artinya: Bermain bersama dalam arti negatif, mengambil uang milik umum untuk diri sendiri). Sudah disengaja, Kepala angkat Bendahara itu keluarganya sendiri. Mudah mengatur dan menjaga rahasia. Ini yang namanya, Nepotisme.  (Nepos, kata Latin, artinya, cucu atau ponakan. Nepotisme, istilah untuk menyatakan tindakan pilih keluarga atau orang dekat untuk mudah berunding, saling mengajak, ambil seratus juta dari milik umum).

    Milik orang. Tindakan Korupsi + Kolusi + Nepotisme yang disingkat KKN adalah tindakan tidak terpuji, malahan dianggap satu kejahatan, mengambil milik orang secara tidak sah dan tidak benar. Dalam hidup bernegara, kalau tindakan ini ketahuan, pelakunya dituduh sebagai ‘Koruptor’ dan tempatnya di penjara, Lembaga Pemasyarakatan, selama beberapa tahun. Kasihan.

    Milik orang. Entah barang itu nilainya hanya beberaoa ribu rupiah atau jutaan, tetap milik orang, tidak boleh diambil tanpa sepengetahuan si pemilik. Nafsu memiiki dikendali, Nalar untuk memiliki didengar, Naluri memiliki dipertimbangkan, Nurani memiliki disaring supaya milik orang, milik orang, milik saya, milik saya. TUHAN berkenan dengan sikap ini.

     

     

     

  • Hidup Jujur (6)

     

    Harga diri. Tidak ada manusia yang tidak ada harga. Harga diri yang utuh, terdiri dari empat unsur: Nafsu+ Nalar+ Naluri + Nurani. Empat unsur ini yang ditampilkan dalam hidup sehari-hari sehingga tampak, diri ada harga atau tidak.

    Kita ada Nafsu untuk tampilkan diri sebagai pribadi yang ada harga. Berpakaian yang pantas, itu tanda ada harga diri. Ibarat etalase, tampilkan isinya, emas. Emas tidak pernah dipamerkan dalam tong sampah. Nafsu kita ada untuk tampilkan diri dengan makan yang baik biar tidak enak, tinggal di rumah yang layak, biar tidak mewah. Ini yang disebut Nafsu yang terukur dan terbatas dalam penampilan diri seseorang yang mempunyai harga diri.

    Kita ada Nalar untuk tampilkan diri sebagai seorang yang ada harga agar didengar dan diakui. Harga diri. Kalau Nalar kurang dipakai maka harga diri terlalu dipamerkan secara berlebihan dan kita akan dianggap angkuh.

    Kita ada Naluri untuk jaga harga diri itu dengan sikap sopan-santun. Hargai sesama supaya diri pun dihargai. Tiap orang itu ada harga diri sehingga tiap orang ingin dihargai. Melecehkan harga diri orang lain sama saja dengan turunkan harga diri sendiri.

    Kita ada Nurani untuk sadar bahwa setiap orang itu ada harga diri karena dihargai oleh Pencipta sebagai ciptaan yang bermartabat. Empat perpaduan inilah yang disebut, empat N, sumber harga diri. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ada kekeliruan besar yang sering dibuat oleh kita manusia ini dalam bentuk khusus, KKN. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Kita ada Nafsu sekian tidak terkendali sampai harga diri kita dicemarkan sampai ke tingkat yang paling rendah. Nafsu tidak dikendali oleh Nalar, Naluri dan Nurani sehingga kita cenderung untuk tampilkan diri sebagai manusia super. Anggap diri paling pintar, Nalar salah arah. Anggap diri paling hebat dalam masyarakat sambil merendahkan orang lain. Ini Naluri yang sudah dibengkokkan. Kita anggap diri paling suci. Ini dorongan Nafsu untuk tampilkan diri sebagai manusia yang paling berharga di atas semua orang. Inilah dosa kesombongan.

    Kita dihargai TUHAN, maka kita pun harus menghargai TUHAN dalam Iman, Ibadat dan  karya.  Menghargai sesama tanda kita ada harga diri dan ini yang dikehendaki oleh TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (5)

     

    Hibur. Hibur diri, hibur sesama, saling menghibur. Hiburan. Dalam hidup ini hiburan itu sangat penting. Tidak mungkin hidup tanpa hiburan. Hiburan itu apa? Muka berungut jadi berseri. Hati gulana jadi gembira. Tadinya tersudut lalu tertawa. Itu hasil hiburan. Dalam hidup ini ada urutan kebutuhan. Sandang (1), Pangan(2), Papan(3), Pendidikan (4), Kesehatan, (5) Hiburan (6). Urutan ini sudah lazim, tidak perlu dipertanyakan lagi. Cukup diketahui dan dialami saja.

    Enam kebutuhan, saling melengkapi. Urutannya, 3-2-1. Tiga itu kebutuhan pokok, dua itu kebutuhan penting, satu itu kebutuhan perlu. Urutannya sudah begitu, tidak boleh dibolak-balik. Hidup ini sengsara karena kita sering suka utak-atik, bolak-balik urutan kebutuhan ini. Bayangkan, kalau hiburan diutamakan lalu pendidikan diabaikan. Jadi dungu. Kesehatan diutamakan tetapi makan-minum diabaikan. Tambah kurus dan kering. Pendidikan diutamakan abaikan papan atau perumahan. Gagal. Ini contoh tentang pentingnya urutan kebutuhan yang harus diupayakan oleh setiap manusia, pribadi dan kelompok.

    Nafsu manusia itu ada dan diberikan Pencipta kepada kita manusia untuk penuhi kebutuhan ini sesuai urutan dan paling akhir, hiburan. Tapi hiburan tidak boleh lewat batas. Nyanyi dan menari semalam suntuk sampai pagi dinihari, ini tidak sehat lagi.

    Nalar diberikan untuk pertimbangkan hiburan itu baik atau tidak, sehat atau tidak. Tidak boleh hiburan itu dibuat sampai bunuh diri. Narkoba adalah salah satu contoh hiburan bunuh diri. Ini karena Nalar disalah-arahkan.

    Naluri ada untuk cari hiburan, hibur diri dan sesama. Kalau hibur diri saja tanpa pedulikan sesama, ini namanya hiburan egois. Hiburan tidak boleh lawan Naluri, celakakan sesama.

    Nurani ada untuk saring hiburan itu santun atau tidak. Semua ini satu kesatuan, Nafsu cari hiburan, Nalar pertimbangkan hiburan, Naluri hidangkan hiburan, Nurani saring hiburan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jangan lalai hibur diri dan sesama. Hiburan yang baik, benar dan bagus, berkenan pada sesama dan TUHAN.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (4)

     

    KKN. Tiga huruf ini lagi ramai mengisi telinga, menghiasi berbagai media. Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Kita tahu, Korupsi itu dari kata Latin, ‘co-rumpere‘, menghancurkan bersama. Kolusi, dari kata Latin, ‘co-ludere‘, bermain bersama. Nepotisme, dari kata Latin juga , ‘nepos‘, cucu, ponakan.

    Istilah yang sedang ramai sekarang sebagai kejatahan itu mempunyai arti: Korupsi, penyalah-gunaan milik umum, entah barang atau uang untuk kepentingan sendiri sehingga disebut merusak, menghancurkan bersama. Kolusi: bermain dalam arti negatif, bermufakat untuk membuat tipuan dan menggelapkan milik umum.

    Nepotisme: mengutamakan keluarga, orang dekat untuk menduduki posisi tertentu, biar tidak cocok dan layak untuk posisi itu, demi melanggengkan tindakan mencuri barang atau uang milik umum.

    Orang-orang sederhana di kampung, petani-peternak mempunyai ungkapan, ‘Saya biar miskin, makan hasil tangan sendiri, sepuluh jari ini’. Tidak curi. Kalau curi dan kedapatan, sangat malu seumur hidup dan menimpa menimpa turunan. Orang Latin punya pepatah, ‘Res clamat dominum’, barang berteriak kepada tuannya.

    Kalau barang orang dicuri biar itu benda mati seperti uang, benda hidup, tanaman atau hewan, ‘berteriak’ mencari tuannya. Sang ‘pemilik’ baru yang tidak sah, akan menderita lahir bathin karena hak orang lain itu bergejolak dalam dirinya, mengganggu tubuh dan jiwa.

    Jujur. Ini kunci untuk tidak KKN. Jujur itu sederhana sekali: ada kecocokan antara pikiran, perkataan dan perbuatan dalam hal yang baik. Kalau salah satunya buruk, maka hasilnya jahat.

    Pikiran baik, perkataan dan perbuatan buruk, yah, buruk. Pikiran baik, perkataan jelek, perbuatan baik, tetap jelek. Pikiran baik, perkataan baik, perbuatan jelek, yah, jelek juga. Lebih fatal kalau tiga-tiganya jelek.

    Pikiran, perkataan, perbuatan kita manusia ini muncul dari empat unsur dalam diri kita. Empat unsur itu: Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. Kita manusia berupaya untuk memiliki dan menikmati barang atau hal apa pun, muncul karena ada dorongan dan keinginan dari Nafsu. Dalam diri kita ada Nalar yang siap beri pengetahuan dan pengalaman untuk memutuskan dorongan Nafsu itu boleh diikuti atau tidak.

    Kalau Nalar setuju karena baik, maka Naluri langsung beri pengawasan untuk ingat sesama. Jangan merugikan sesama, harus menguntungkan sesama. Hasil kerja Nafsu, Nalar dan Naluri inilah disetujui oleh Nurani kalau baik atau ditolak kalau jahat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Diri pribadi kita melawan Nurani, maka kita terjerumus dalam kekeliruan. Kalau diri pribadi kita terima dan laksanakan keinginan Nafsu secara teratur, pertimbangan oleh Nalar yang tepat, diterima oleh Naluri dengan gembira dan diresap oleh Nurani secara tenang, maka terjadilah perbuatan yang baik dan saleh. Kalau seluruh rentetan aksi itu penuh dengan kasak-kusuk, Nafsu menggelora,

    Nalar menggurita, Naluri menggerutu dan Nurani mengganjal, maka diri kita hidup tidak tenang, makan di cafe kerongkongan kering, berbusana gagah hati galau, tidur di kasur otak kabur.

    Jujur berarti ikut Nafsu secara teratur dan terukur. Terima pertimbangan Nalar yang benar. Laksanakan gerakan Naluri secara santun. Terapkan bisikan Nurani secara mantap. Inilah yang dikehendaki oleh PENCIPTA kita, hasilnya: Bahagia, baik di dunia maupun di Surga kelak.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (3)

     

    Nafsu ada dalam diri manusia untuk mencari ilmu dan menimba pengalaman. Ini yang disebut pendidikan. Nafsu juga ada untuk mencari upaya  hidup segar dan sehat. Ini termasuk kebutuhan untuk kesehatan. Pikiran sehat ada dalam tubuh yang sehat. Erat berkaitan. Pikiran sehat artinya Nafsu untuk mencari dan menimba ilmu dikendalikan sungguh-sungguh. Tubuh sehat artinya segala kebutuhan sandang, pangan, papan itu dipenuhi secukupnya, tidak sampai kekurangan dan tidak perlu kelebihan. Pas-pas. Ini yang disebut hidup wajar, hidup Jujur.

    Nafsu menekuni ilmu pengetahuan itu baik dan terpuji. Setiap manusia ingin tahu apa saja yang ia butuhkan. Ingin tahu ini muncul dari nafsu cari tahu. TUHAN beri Nafsu dalam bentuk dorongan dan kemampuan kepada kita manusia untuk mengetahui mana benar dan mana salah. Pengetahuan bisa diperoleh melalui pendidikan. Jadilah manusia pintar, cerdas, terdidik. Melalui pendidikan kita manusia mengetahui dan mengembangkan bahan-bahan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Ini karya Nalar. Kalau kebutuhan pokok ini terpenuhi dengan baik maka hidup kita akan sehat.

    Nafsu untuk pintar dan sehat harus diatur oleh Nalar. Tidak boleh pintar untuk memperdaya sesama. Tidak boleh sehat untuk mencelakakan orang lain. Kalau sudah pintar dan sehat, setiap kita harus gunakan untuk bantu orang lain. Ini karya Naluri. Kerjasama antara Nafsu, Nalar dan Naluri ini diteduhkan oleh Nurani. Hasilnya, hidup pintar dan sehat yang menjadikan setiap kita mempunyai karakter yang baik dan berguna untuk diri dan sesama. Ini yang dikehendaki oleh TUHAN, SANG PENCIPTA kita. (4N, Kwadran Bele, 2011)

    Nafsu untuk pintar dan sehat ini kalau diselewengkan maka manusia itu akan menjadi seorang penipu ulung, perusak kawakan. Tindakan memakai salah Nafsu untuk pintar dan sehat itu yang dikenal dengan istilah KKN, Korupsi-Kolusi-Nepotisme. Pengetahuan diselewengkan akibatnya orang salah menerapkan ilmu dengan tahu dan mau sehingga ada penderitaan di mana-mana. Sehat itu perlu tapi menjadi sehat untuk menyakiti sesama, sama sekali tidak diperkenankan.

    Nafsu menjadi cerdas dan sehat itu anugerah dari TUHAN untuk saling menyejahterahkan antara kita sesama manusia. Jadilah cerdas, jadilah sehat. Badan sehat, otak cerdas, pergaulan santun, hati tenteram. Itu kehendak TUHAN bagi kita manusia yang hidup di bumi ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (2)

     

    Nafsu. Itu keinginan, dorongan dalam diri kita manusia untuk menikmati apa saja. Dorongan dan keinginan paling pertama, mau nikmati tiga hal ini, sandang, pangan, papan. Sejak bayi, manusia diberi sandang supaya tidak kedinginan. Semakin besar, mulai pilih-pilih sandang model apa, warna apa. Ini wajar. Biasa disebut, sandang. Dorongan lain yaitu mau nikmati makanan dan minuman. Ini disebut pangan. Dorongan selanjutnya, mau aman dan nyaman dalam tempat khusus, kamar, rumah. Itu yang disebut  papan. Sudah lazim tiga dorongan dan kebutuhan ini disebut kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan. Untuk nikmati  ini semua, harus ada Nafsu. Nafsu dalam arti positif, keinginan yang wajar dan dorongan yang baik untuk miliki dan nikmati semua kebutuhan.

    Nafsu ada untuk menikmati berdasarkan dorongan ini  supaya kita manusia bisa hidup. Sandang tidak ada, bisa mati kedinginan. Pangan tidak ada, bisa mati kelaparan. Papan tidak ada,bisa mati keleleran. Supaya hidup, kita harus memperoleh tiga kebutuhan ini sebagai milik yang kita nikmati dengan bebas tanpa beban. Nafsu juga ada untuk menikmati hal-hal lain seperti pendidikan dan kesehatan. Nafsu juga ada untuk menikmati hiburan.

    Kita manusia membutuhkan jenis-jenis kebutuhan ini. Kebutuhan pokok, sandang, pangan dan papan. Kebutuhan penting, pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan perlu, hiburan. Jadi ada urutan: pokok, penting, perlu. Sering tiga macam kebutuhan ini dibolak-balik, kebutuhan ‘perlu’ diutamakan, kebutuhan ‘pokok’ diabaikan. Akibatnya, kesasar. Ada juga tindakan tidak terpuji, memperoleh dan meniktati kebutuhan dengan cara yang jahat: Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Hasilnya, ketidak-tenangan dalam bathin.

    Nafsu untuk memiliki dan menikmati apa saja, boleh dan harus. Tetapi harus diingat, Nafsu harus dikendali oleh Nalar, dibatasi oleh Naluri dan diteduhkan oleh Nurani. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Satu hal yang sangat-sangat penting, kita manusia ini boleh mengingini dan memiliki kebutuhan pokok, penting dan perlu, dengan cara yang jujur. JUJUR. Tidak lewat batas ikuti Nafsu, tidak tipu-tipu lawan Nalar, tidak egois lawan Naluri dan tidak munafik lawan Nurani. Kendali Nafsu, segarkan Nalar, pertimbangkan Naluri, perhatikan Nurani.  Inilah yang disebut karakter pribadi yang baik di hadapan sesama dan TUHAN. Hidup jujur yang ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (1)

     

     

    Akhir-akhir ini ramai orang bicara, dengar dan lihat praktek KKN. Korupsi,  Kolusi,  Nepotisme. Ini penyakit masyarakat. Ada penyebab ada akibat. Ada pelaku ada korban.

    Korupsi itu dari kata Latin, ‘co-rumpere’, menghancurkan  bersama. Contoh, menghancurkan ‘uang’. Apa itu? Uang itu untuk kepentingan umum, seratus juta. Dua orang, pejabat dan bendahara, bermain sehingga milik umum seratus juta itu hilang lima puluh juta. Mereka dua pakai untuk kepentingan diri. Ini contoh korupsi. Menghancurkan diri karena tidak jujur dan menghancurkan masyarakat karena kepentingan masyarakat tidak terpenuhi. Tidak jujur.

    Kolusi dari bahasa Latin juga, ‘co-ludere’, bermain bersama. Contoh di atas itu, sang pejabat bermain dalam arti curang dengan bendahara. Mereka dua bermain uang. Tipu orang. Sembunyi-sembunyi curi uang milik umum. Berusaha supaya orang lain tidak tahu. Tidak jujur.

    Nepotisme dari kata Latin juga, ‘nepos’, cucu, kemanakan. Pilih keluarga atau kerabat dalam menduduki jabatan, biar tidak mampu. Akibatnya pekerjaan tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Orang lain lebih mampu, tidak dipilih. Utamakan keluarga. Tidak jujur terhadap orang lain. Dalam kasus di atas, pejabat dan bendahara, berkeluarga. Atau kenalan dekat. Saling percaya untuk sembunyikan perbuatan mencuri.  Menggelapkan uang milik umum.

    Tiga kata ini harus dihindari karena sangat berbahaya. Korupsi, menghancurkan. Kolusi, mempermainkan. Nepotisme, mengutamakan diri atau keluarga sendiri.  Tiga kata ini adalah bibit penyakit yang menyakiti diri dan sesama. Tuhan tidak berkenan dengan orang yang memelihara penyakit ini lalu menyengsarakan diri dan sesama. Dengan hidup jujur, penyakit ini bisa dicegah.

    Penyakit ini jadi penyakit masyarakat. Ini terjadi karena Nafsu, keinginan tidak terkendali. Nalar yang benar tidak digunakan. Naluri yang baik diabaikan. Nurani yang tulus diinjak-injak. Empat unsur dalam diri manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani (4N), disalah-gunakan.

    TUHAN, PENCIPTA kita manusia menganugerahkan 4N ini kepada kita manusia untuk tujuan yang baik. Kita manusia harus wujudkan empat N ini untuk membangun diri, sesama dan alam sekitar. Kalau salah wujudkan maka terjadilah KKN. Hidup Jujur adalah hidup yang menampilkan 4N secara benar, baik dan bagus. Itu dinamakan karakter yang baik. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita harus hidup jujur. Pikir baik, berkata sopan, berbuat ikhlas, bergaul santun membuat hati tenteram. Hidup jujur.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Ganti

     

     

    Ganti berarti yang sudah ada berlalu dan datang yang baru. Yang sudah ada diambil dan diberi yang baru. Biasanya yang lama diganti dengan yang baru,  yang lebih baik. Kalau yang baik diganti dengan yang buruk, tanda tanya, mengapa. Ada kebiasaan, tahun lama diganti dengan tahun baru. Waktu berganti. Tempat berganti. Orang berganti. Yang mengganti dan yang diganti ada bersama dengan keadaan yang berbeda. Tidak sama lagi. Yang lama, lama. Yang baru, baru.

    Kita manusia ini ada Nafsu, suka yang baru terus. Pakaian lusuh diganti dengan yang baru. Ada Nalar untuk ketahui  dan alami yang baru. Rasa gembira muncul dari pengetahuan baru, pengalaman baru. Naluri kita suka pertemuan baru, sapa menyapa secara baru sehingga ada kebiasaan, selamat pagi sesudah malam, sesudah malam selamat pagi. Jam berganti jam, hari berganti hari, bulan, tahun, abad dan seterusnya. Silih berganti. Kalau untuk generasi manusia, ada peribahasa, ‘patah tumbuh, hilang berganti, mati satu  ganti seribu’. Ini kerja Naluri yang tidak puas dengan yang lama dan puas dengan yang baru. Nurani kita selalu rindu untuk bahagia dari saat ke saat. Cari damai dan terus damai ke arah bahagia. Ini karya Nurani.

    Ganti itu terjadi untuk memenuhi keinginan Nafsu cari senang, Nalar yang mendulang ilmu dapat pengetahuan dan beri kegembiraan. Naluri juga cari pergaulan baru untuk ada rasa puas. Nurani bergejolak untuk cari bahagia.

    Empat N dalam diri manusia mencari senang, gembira, puas dan bahagia. Senang sesaat, gembira bertahan  lama, puas bertahan lebih lama dan bahagia itu abadi. Ini ada anak tangga, senang pertama, gembira kedua, puas ketiga, keempat yang tertinggi, bahagia. Keempatnya sambung menyambung menjadi satu.

    Ganti berganti itu terjadi demi adanya empat hasil dari empat unsur dalam diri manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011). Siapa yang suka ganti-mengganti itu? TUHAN. DIA Yang mengganti dengan yang selalu baru untuk menyenangkan manusia, menggembirakan kita, memuaskan kita  dan membahagiakan kita ciptaanNya yang paling utama.

    Aneh kalau kita tidak syukuri pergantian demi pergantian, entah itu waktu, tempat atau keadaan. Hidup yang sementara ini akan diganti dengan hidup yang abadi. Itu dibuat oleh TUHAN.

     

     

     

     

     

     

  • Hasil

     

    Kalau usaha kita manusia berhasil, maka hal-hal ini yang terjadi. Kalau keinginan Nafsu tercapai, biasa kita ucap terimakasih. Kalau Nalar menambah pengetahuan baru, kita dapat ucapan, hebat. Kalau Naluri kita menemui yang kita rindu maka kita saling mgucapkan salam. Kalau Nurani kita mencapai satu situasi tenang dan damai, tercetuslah ucapan syukur tak terhingga. Terimakasih, hebat, salam, syukur adalah empat hasil,  hadiah yang kita peroleh lewat Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup itu mengejar hasil dan hasil itu adalah empat ini: terimakasih. Nikmati makanan biar hanya sedikit,  pemberi dan penerima saling mengucapkan terimakasih. Ini pemenuhan keinginan Nafsu. Kalau jerih payah Nalar tercapai dengan penemuan pengetahuan baru, ungkapan yang diperoleh ialah, hebat. Bertemu dengan sesama, hasil dorongan Naluri,  langsung terlontar ucapan salam. Nurani memperoleh ketenangan dan kedamaian, muncul dengan sendirinya rasa syukur.

    Kalau empat macam hasil ini tidak diperoleh, apa gunanya hidup. Sang PEMBERI hidup membuat manusia itu hidup dan menghasilkan setiap saat ungkapan terimakasih, pernyataan hebat, pemberian salam dan ppengucapan syukur.

    Hidup ini untuk itu. Tidak pernah orang mengucapkan terimakasih atas perampasan hak untuk memperoleh makan-minum. Yang merampas menyalah-gunakan Nafsu dan yang dirampas haknya terganggu harapan Nafsunya. Nalar kalau disalah-arahkan, maka terjadilah tipu-menipu. Kata hebat, acungan jempol tidak terjadi. Kecewa dan marah menimpa penipu dan tertipu. Naluri selalu mendorong untuk bertemu dan saling memberi salam. Pencuri dan perampok tidak pernah memberikan salam kepada sasarannya. Sumpah serapah yang akan terjadi antar sesama manusia. Nurani kalau diganggu, maka pengganggu dan yang diganggu sama-sama saling kutuk-mengutuk.

    Kalau hal-hal negatif ini yang terjadi, maka kacau-balaulah dunia ini. Dunia kehilangan terimakasih, yang hebat tidak muncul, salam tak terucap, syukur tak terungkap.

    Terimakasih, teman! Wah, hebat saudara! Aduh, salam saudaraku! Syukur, TUHAN. Inilah wajah dunia yang seharusnya terjadi, bukan sebaliknya, bermuram-durja. Ayoh, gembira ria dalam dan bersama sesama di bawah naungan TUHAN PENCIPTA kita.