Blog

  • Rumah dari Sudut Filsafat

     

    Rumah itu tempat manusia tinggal. Mulai dari bentuk yang paling sederhana dalam bentuk gua sampai bangunan beton yang mahal, tetap namanya rumah kalau itu dibuat oleh manusia untuk tempat tinggal. Rumah dengan manusia itu jadi satu. Rumah menjadi perluasan diri manusia dalam bentuk ruangan dan kebanggaan dalam bentuk bangunan.

    Rumah termasuk barang yang memenuhi NAFSU manusia untuk memiliki. Rumah itu hasil upaya NALAR manusia dalam bentuk bangunan dari bermacam-macam bahan yang dibangun menjadi bangunan sesuai tempat dan iklim. Rumah tempat kita manusia berkumpul dan berlindung memenuhi kebutuhan NALURI untuk aman dan tenang. Rumah menampilkan rasa bathin manusia sesuai NURANI yang terdalam untuk menyatakan syukur kepada Pencipta.

    Filsafat rumah ini bertolak dari ‘4N’ (Kwadran Bele, 2011), di mana rumah itu besar atau kecil, mahal atau murahan, kuat atau rapuh menampilkan unsur dasar manusia yang berkaitan dengan NAFSU. Manusia menampilkan keahliannya dalam membangun rumah, dan inilah hasil NALAR yang membentuk rumah itu dalam berbagai gaya, datar atau lancip, satu atau puluhan malah ratusan tingkat. Ini semua hasil ‘pecah otak’ manusia.

    Rumah juga menandakan gengsi pemiliknya. Ini NALURI. Manusia berlomba-lomba membangun rumah tidak hanya tempat belindung saja, tetapi penampilan kepada sesama di sekitar bahwa dirinya, seisi keluarganya, kelompok orang kaya. Kaya miskin manusia diukur dari rumah. Pantas kalau orang berlomba-lomba untuk dirikan rumah dengan rupa-rupa gaya. Rumah juga menampung manusia dalam gejolak bathinnya, dalam kerinduan menemukan keheningan. Ini NURANI manusia yang terpendam dalam rumah yang ia bangun.

    Rumah itu mengikat manusia untuk tidak jauh dari dirinya. Daya tarik rumah pada pemiliknya, atau sebaliknya, pemilik rumah begitu terikat dengan rumahnya karena 4N ini. Nafsunya terpenuhi di rumah, Nalarnya terpateri di rumah, Nalurinya terpaut di rumah, Nuraninya terpendam dalam rumah. Manusia tinggal di rumahnya karena empat keterikatan ini dan manusia-manusia lain bertandang ke rumah sesamanya karena 4N ini.

    Rumah menjadi berarti sejauh menampilkan 4N dari pemiliknya. Kalau rumah sudah tua dan ditinggalkan, keterikatan dengan pemiliknya masih tetap ada sebab waktu yang pernah terlewatkan oleh pemiliknya di rumah itu menandakan jejak yang tak terhapuskan. Atas dasar inilah manusia yang hidup dan menempati rumah bekas hunian sering mengalami keanehan karena kuatnya aura mantan pemilik sebelumnya. Ini bukan ilusi kalau ada ungkapan ‘rumah hantu’  yang dikenakan pada rumah tua yang lama tidak ditinggali.

    Rumah yah rumah, tumpukan benda-benda. Benar kalau dilihat dari materi melulu. Tapi rumah adalah perluasan dari diri manusia. Atas dasar inilah manusia di mana-mana mendirikan rumah tempat ibadah dan menyatakan, ‘Ini rumah Tuhan’.

     

  • Kawan dari Sudut Filsasat

     

    Dua manusia berkawan, itu sangat biasa. Seorang mempunyai kawan lebih dari satu, banyak. Itu juga biasa. Kawan itu mulai dari masa kecil sampai masa tua, tetap saja ada, kawan sesama jenis atau berlainan jenis, manusia itu hidup berkawan dan itu hal biasa. Awal dari hubungan kawan dengan kawan ini, rupa-rupa. Kawan dapat berawal dari 3 D: Darah, Daerah, Dinas. Berdasakan ‘Darah’ maka kawan itu sesuku. Berdasarkan ‘Daerah; maka kawan itu sedaerah. Berdasarkan ‘Dinas’,  maka kawan itu se-profesi. Manusia dapat dipertemukan atas tiga dasar ini dan jalinan perkenalan itu menjadi kawan atau sahabat, tidak lagi hanya sebatas kenalan.

    Kawan dengan kawan bertemu dan terjalin hubungan yang erat atas dasar pertemuan empat unsur dasar dalam diri masing-masing. Ada kemauan yang sama. Ini NAFSU. Ada pendapat yang sama. Ini NALAR. Ada kepentingan yang sama. Ini NALURI. Ada perasaan yang sama. Ini NURANI. Kemauan dalam NAFSU itu apa saja? Itu kemauan menyangkut hal-hal lahiriah, seperti sandang, pangan, papan. Persamaan dalam urusan ini membuat dua manusia saling mendekati dan terjalinlah semangat untuk hidup sebagai kawan. Dari sisi NALAR, ada dua orang yang selalu saling mencari untuk curah pendapat. Kedua orang ini menjadi kawan karena masalah pengetahuan, saling mengisi. Dari sisi NALURI ada dua orang yang mempunyai kepentingan yang sama yaitu kepentingan untuk meraih sukses, misalnya  dalam satu dunia usaha. Perlu ada orang kepercayaan yang dapat saling membantu. Kedekatan atas dasar kepentingan ini membuat dua orang atau lebih itu kawan. Dari sisi NURANI, dua orang merasa tertarik dan terlibat dalam urusan menolong orang yang susah. Keduanya merasa puas dengan karya amal-kasih ini. Hal ini menunjukkan keterpautan NURANI.

    Kawan akan tetap kawan sejauh unsur 4 N (NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI, Kwadran Bele, 2011) menjadi daya tarik atas dasar yang seimbang, murni dan ikhlas. Kalau satu pribadi mau memperalat pribadi yang lain, 4 N itu tidak seimbang lagi, tidak murni dan tidak ikhlas lagi. Yang namanya kawan, pasti akan jadi lawan. Kawan dengan kawan lebih mengutamakan 4 N itu atas dasar cita-cita untuk saling membahagiakan. Semangat ingat kawan, berkorban untuk kawan, mengutamakan kepentingan kawan menjadi faktor yang lebih mengeratkan ikatan antara pribadi-pribadi ini sebagai kawan sejati. Kawan itu berusaha untuk membahagiakan kawan, bukan membahayakan kawan.

    Hidup sebagai kawan itu akan berakhir dan berubah menjadi lawan kalau NAFSU tidak teratur lagi, bila salah satunya atau dua-duanya ingat diri dan saling memperalat. Kawan menjadi lawan juga kalau NALAR dari kedua belah pihak begitu saling berlomba untuk siapa lebih pintar. Juga kalau NALURI yang salah arah di mana kawan memperbudak kawan, pasti cepat atau lambat, kawan menjadi lawan. Banyak  kawan kehilangan kawan karena semangat mencurigai kawan sebagai orang jahat dan dirinya yang paling suci. Ini faktor NURANI.

    Kawan sejati itu menerima orang lain sebagai kawan karena TUHAN menjadi PEMERSATU diri mereka selama hidup yang singkat di dunia ini.

     

     

  • Dewasa dari sudut Filsafat

     

    Dewasa itu ukuran untuk manusia. Dewasa fisik (NAFSU). Dewasa mental (NALAR). Dewasa bergaul (NALURI). Dewasa bermenung (NURANI). Empat unsur terpadu dalam ukuran dewasa, matang,  baru manusia itu dinyatakan dewasa. (4 N, Kwadran Bele 2011).

    Dewasa artinya bisa bertanggung-jawab atas apa yang dipkirkan, dikatakan dan dilakukan. NAFSU dewasa membuat seseorang itu memiliki barang secara bertanggung-jawab. Seorang memiliki alat tulis. Memakai alat tulis itu untuk menulis hal-hal positif yang tidak merugikan diri dan sesama, berarti NAFSU memiliki alat tulis dan NAFSU mengungkapkan diri itu dewasa dan diharigai orang lain.

    NALAR yang dewasa membuat seseorang itu memakai alat tulis untuk mencatat hal-hal yang benar dan berguna untuk diri dan sesama. NALURI yang dewasa membuat seseorang itu memakai alat tulis dan menulis dan menyebarkan berita yang baik kepada sesama. NURANI yang dewasa membuat seseorang itu mencatat hal-hal yang membahagiakan dalam permenungan tentang ulah-laku di waktu yang lalu.

    Dewasa itu ukuran yang dituntut dari setiap manusia dengan bertambahnya usia dari tahun ke tahun. Seseorang yang  mengumbar NAFSU seks, ketertarikan antara sesama berlainan jenis kelamin, dianggap tidak dewasa.

    Dewasa dalam NAFSU seks membuat seseorang menyalurkan dorongan seks secara wajar mengikuti semua norma yang berlaku. Secara NALAR dalam kondisi dewasa, seseorang menimbang dengan seksama pasangannya untuk hidup bersama dalam satu ikatan perkawinan.

    NALURI yang dewasa membuat pasangan suami isteri bertanggung-jawab untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi orang yang berguna untuk diri dan masyarakat. NURANI yang dewasa mendorong ayah dan ibu itu membiasakan anak-anaknya untuk menghormati diri mereka sebagai orang tua dan mengajar anak-anak untuk berbakti kepada TUHAN sebagai asal-usul kehidupan.

    Dewasa dalam NAFSU, NALAR, NALURI dan NURANI membuat kita manusia-manusia ini hidup saling menolong (NAFSU) saling mengingatkan (NALAR) saling menelamatkan (NALURI) saling mengasihi (NURANI). Kumpulan manusia yang dewasa dalam arti yang sesungguhnya membuat masyarakat itu aman dan damai.

    Masyarakat yang tidak dewasa terlihat dari gejala banyaknya kejahatan yang terjadi. Masyarakat yang dewasa terlihat dari minimnya kejahatan. TUHAN menempatkan kita di dunia ini untuk saling memperlakukan secara dewasa dan memanfaatkan alam ini secara dewasa pula.

     

     

  • Lahir dari Sudut Filsafat

     

    Lahir itu peristiwa dalam hidup setiap manusia. Manusia lahir dari seorang ibu. Ibu itu lahir dari ibunya. Kalau ditelusuri lebih lanjut ke belakang, pasti dari ibu ke ibu sampai ke ibu yang pertama, dan ibu yang pertama ini dari mana? Buntulah penelusuran pemikiran kita.

    Dari sudut filsafat, ada jalan ke luar, NALAR buntu, NURANI bekerja. Di NURANI inilah ada jawabannya, manusia pertama pasti lahir dari Sang Pemberi Hidup. Titik. Empat unsur dalam diri manusia, 4 N (Kwadran Bele, 2011) menyadarkan kita manusia bahwa manusia itu lahir tidak semata-mata atas kuasanya sendiri.

    Setiap kita yang sedang berpikir tentang lahir, mengalami bahwa saya pernah lahir. Engkau, dia, kita, kami, kamu, mereka pernah lahir sehingga ada.

    Adanya manusia melalui peristiwa lahir. Tidak ada satu manusia pun yang langsung ada seperti patung yang diukir. Hanya manusia yang lahir melalui satu proses yang khusus: NAFSU untuk kawin ada dalam diri dua manusia, laki-laki dan perempuan.

    Dua manusia ini ada NALAR untuk merencanakan dan melaksanakan seluruh proses terjadinya satu manusia baru lahir. Ini peristiwa penting dan peristiwa mulia yang terjadi atas karya dari Sang Pencipta.

    Pantas sekali setiap orang mensyukuri hari lahirnya sebagai hari ulang tahun setiap tahun dan setiap orang menjalani hidupnya dengan suatu kesadaran bahwa dari tahun ke tahun, umur bertambah dihitung dari tahun pertama kelahiran.

    Lahir itu disadari sebagai awal dari adanya mansia di tengah orang lain. Inilah kesadaran berdasarkan NALURI. Kita manusia alami sendiri pernah lahir dan melihat manusia baru lahir hari ini dan kemarin. Manusia bertambah melalui peristiwa kelahiran. NALURI kita menyuarakan kepada kita manusia bahwa kita tidak sendirian. Ada manusia baru lagi yang lahir. Besok akan ada lagi yang lahir. Lahir dan terus lahir.

    Jumlah manusia bertambah melalui proses lahir ini. Berbagai upaya secara pribadi dan bersama dari manusia diusahakan untuk terjadinya proses lahir ini secara baik dan selamat.

    Obat-obatan hasil ilmu kedokteran berkembang untuk menjaga dan menjamin satu manusia lahir dengan selamat. Ini mata rantai upaya manusia terdorong oleh NALURI kemanusiaan untuk menambah jumlah manusia. Lahir itu peristiwa yang menjadi tanggung-jawab semua manusia yang lahir terdahulu.

    Sangat wajar bahwa seorang Ibu begitu gelisah campur rindu untuk menanti kapan anaknya lahir. Dia tahu anaknya yang ada dalam kandungan akan lahir nanti selamat atau tidak, baik bayi dan dirinya. Ini kecemasan antara selamat atau tidak selamat.

    Dalam NURANI terucap doa demi doa, permohonan kepada Sumber Kehidupan untuk jaga kehidupan dari diri si ibu dan si anak yang akan segera lahir. Jadi empat unsur dalam diri manusia ini serentak kerja menanti anak yang akan lahir dan serentak bersorak menerima manusia baru yang lahir ke tengah sesama di dalam dunia.

  • Asal-usul dari Sudut Filsafat

     

    Ini pertanyaan tentang asal-usul kita manusia. Dari mana mau ke mana? Garis melingkar atau lurus? Garis turun atau naik? Dari awal ke akhir? Dari mana ke mana? Inilah pertanyaan abadi. Asal usul kita manusia dari mana? Lahir mati, lahir mati, terus silih berganti, dari turunan ke turunan. Dari mana? Berbagai suku bangsa menelusuri asal-usul mereka dengan menyusun silsilah, akhirnya buntu pada generasi tertentu karena sudah tidak ada lagi informasi tertulis atau lisan tentang generasi yang paling tua.

    Yah, kalau begitu, di mana dan kapan manusia pertama? Berbagai tradisi membuat ceritera tentang asal usul manusia pertama. Agama-agama pun mempunyai ceritera tersendiri tentang asal usul manusia pertama.

    Sampai sekarang semua Agama di dunia ini akhirnya sama pendapat bahwa manusia itu berasal dari dewa-dewi, dan dewa-dewi itu dari dewa-dewi yang lebih tinggi, lebih tinggi, sampai agama-agama monotheis mempunyai ajaran, manusia berasal dari Yang Maha Tinggi, dan menuju kepada Yang Maha Tinggi yang Tunggal, Esa, dan dikenal dengan berbagai Nama dan gelar, dari Dia kembali ke Dia.

    Inilah pendapat terakhir tentang asal usul manusia dan tujuan manusia. Kita manusia saling membingungkan dengan pendapat bahwa manusia itu hanya di bumi ini saja. Ada yang bependapat manusia seperti kita ini ada di planet yang lain juga hanya dalam bentuk yang lain sesuai kondisi planet itu.

    Sekarang dalam artikel ini penulis membatasi diri hanya pada kita-kita ini di bumi ini. Bumi kita kalau dilihat dari tata surya, memang hanya senoktah kecil saja. Tetapi ada dan itulah keadaan kita. Kita dari mana? Asal usul ragawi kita dihitung jutaan tahun lalu di tempat tertentu di bumi ini. Ini semua perkiraan, dugaan, tidak ada kepastian. Akhirnya ada kesepakatan sampai sekarang ini, yang paling gampang,  manusia berasal dari Tuhan. Titik. Entah jalan melingkar atau garis lurus, turun atau naik, pendapat umum sekarang  ini manusia dari Tuhan kembali ke Tuhan.

    Penulis menganut pendapat ini, manusia berasal dari Tuhan kembali ke Tuhan. Tuhan tempatkan manusia di dunia ini dan berkembang biak. Lahir, dewasa, tua dan mati. Sudah ber- milliar-milliar manusia mendahului kita-kita yang hidup pada zaman ini. Mereka dari Tuhan kembali ke Tuhan. Kita juga.

    Sekarang kita jangan berpayah-payah untuk telusuri asal-usul kita secara ilmiah. Percuma, karena tidak akan terjawab pertanyaan ini, dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju. Kita harus mempunyai satu pegangan, kita manusia berasal dari Tuhan Yang Satu dan akan kembali kepada Dia. Karena itu, kita jangan saling menohok, saling mendengki. Jalan yang paling benar, kita sama-sama yakin satu asal-usul, sama tujuan, dari Dia  ke Dia.

     

  • “Siapa” dari Sudut Filsafat

     

    Biasa kita tanya, siapa, kalau kita belum kenal orangnya. Siapa, tanya orang. Apa, tanya barang. Ini apa, siapa punya? Dua pertanyaan, apa tentang barang dan siapa tentang orang.

    Siapa ditujukan kepada orang, tentang fisik, menyangkut bidang NAFSU, tentang pengetahuan menyangkut NALAR, tentang pergaulan menyangkut NALURI, tentang perasaan menyangkut NURANI. Siapa mau dikenal bidang apanya? Dia kaya, miskin? Ini bidang NAFSU.

    Dia pintar, bodoh? Ini bidang NALAR. Dia peramah atau pemarah? Ini bidang NALURI. Dia baik atau jahat? Ini bidang NURANI. Pertanyaan ‘siapa’ itu bukan hanya tentang nama saja, asal usul saja atau kepintaran saja. Kenal siapa kenal orangnya, kenal dirinya malah  pribadinya, dan pribadi itulah yang terdiri dari empat unsur yang saya namakan,  ‘4 N’ : NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (Kwadran Bele, 2011).

    Siapa itu kita kenal hanya kekayaannya, kekuasaannya, itu kita hanya kenal bidang NAFSU saja. Nanti kita dengan dia akan bertemu dan bertransaksi di bidang NAFSU melulu, omong harta dan kuasa saja. Perkenalan dengan ‘siapa’ ini tidak bertahan lama, karena harta ludes, perkenalan putus, kuasa usai, hubungan selesai.

    Kalau siapa itu dikenal hanya melalui kepintaran, ketrampilan, ini masuk bidang NALAR. Ini akibatnya bisa dua: kita bertemu dengan orang yang angkuh, pamer kepintaran, atau orang yang rendah hati, suka berbagi ilmu dan pengalaman. Kalau kita berkenalan dengan orang atas dasar NALURI saja, bisa terjadi kita sedang berkawan dengan orang yang sifat sosialnya tinggi, suka tolong orang lain.

    Ini bisa dua kemungkinan, karena dasarnya orang ini benar-benar suka menolong, atau seseorang yang sedang cari popularitas murahan, bagi harta, murah senyum demi cari pengaruh. Kalau kita kenal siapa itu orangnya yang sangat santun, rajin beribadah, berarti seorang yang  kita kenal ini ternyata ada di bidang NURANI.

    Orang ini yang kita tanya dulu, cari kenal, siapa dia, ternyata orang yang sangat kuat NURANI-nya. Ini bisa ada dua kemungkinan, NURANI-nya benar-benar halus dan tulus, bisa juga seorang yang pura-pura suci, alim di permukaan culas di dalam hati.

    Siapa itu dikenal harus utuh, 4 N. Kita yang mau kenal siapa itu harus punya 4 N yang wajar, seimbang. Pergaulan antara kita manusia ini dengan sesama manusia menjadi lemah, pincang, kacau,  karena berkenalan dan bergaul secara tidak utuh 4 N.

    Keutuhan 4 N inilah yang menjadikan kita manusia itu pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh manusiawi berhadapan dengan YANG ILAHI. SIAPA YANG ILAHI itu? Dari DIA kita datang, kepada DIA kita pulang. DIA itulah yang berikan kita manusia ini secara cuma-cuma 4 N untuk kita kembangkan, gunakan dan arahkan kepada DIRI-NYA.

     

  • APA dari Sudut Filsafat

     

    Kita manusia bertanya tentang segala sesuatu dengan pertanyaan, Apa? Manusia ini benda hidup  yang dilengkapi dengan 4 unsur: NAFSU, NALAR, NALURI, NURANI (Kwadran Bele,4N, 2011). Binatang juga benda hidup, tetapi tidak dilengkapi dengan empat usur seperti dalam diri manusia. Manusia dapat bertanya ‘Apa’ lewat empat unsur ini. Kalau NAFSU bertanya, maka NALAR, NALURI dan NURANI turut mendukung. Salah satu dari unsur ini bertanya, tiga yang lain mendukung, melengkapi dalam memberi jawaban. Tidak mungkin dua unsur sama-sama bertanya, atau tiga unsur sama-sama bertanya, atau lebih lagi, empat unsur serentak betanya, itu tidak mungkin. Inilah keterbatasan manusia dan dari kodratnya sudah demikian.

    NAFSU manusia bertanya tentang hubungan manusia dengan benda-benda yang kelihatan. Apa yang bisa dimakan, apa yang bisa diminum, apa yang bisa dipakai, apa yang bisa ditempati. Berdasarkan pertanyaan tentang benda-benda ini, NAFSU mendorong manusia untuk usahakan makanan supaya dimakan, usahakan pakaian supaya dipakai, usahakan tempat tinggal supaya didiami. Dalam menjawab pertanyaan yang dimunculkan oleh NAFSU ini NALAR membantu dengan jalan pikiran yang masuk akal, NALURI membantu dengan menyatakan bahwa ada orang lain yang bisa membantu dan NURANI membantu dengan membisikkan hal-hal yang baik dalam segala upaya itu.

    NALAR memunculkan pertanyaan, apa yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Untuk makan, selera harus ada, gigi harus baik, lambung dalam keadaan siap, jantung harus tetap pompa darah, semua mata rantai ini bergerak dengan pengertian, apa harus buat apa. Ini soal pengetahuan dan pengalaman yang ada di unsur NALAR.

    NALURI memunculkan pertanyaan apa yang bisa dibuat oleh orang lain yang dulu hidup dan sekarang hidup. Apa yang saya kerjakan ini baik atau tidak, beguna atau tidak untuk diri saya dan orang lain. Ini pertanyaan dari NALURI yang berkaitan dengan hidup dalam kebersamaan bersama orang lain.

    NURANI bertanya tentang apa yang dibuat ini dan dihasilkan nanti membawa kebahagiaan kepada diri dan sesama atau tidak. Kalau membawa kecelakaan, jangan.

    Apa yang ditanyakan oleh empat unsur dalam diri manusia ini, 4N, menjadi pertanyaan tentang kelangsungan hidup yang ada dalam diri manusia yang harus dijawab supaya manusia itu hidup. Kalau NAFSU diam saja, NALAR tidak berfungsi, NALURI tidak bergerak dan NURANI tidak berbisik dengan pertanyaan ‘apa’ yang menantang manusia untuk bergerak, maka manusia itu mati. Apa itu ada di depan manusia dan dalam jawaban atas ‘apa’ inilah yang membuat manusia itu bergerak, hidup. Hidup itu sendiri ditempatkan oleh PENCIPTA dalam diri manusia supaya manusia menjaga dan melanjutkan dalam dirinya sampai habis kemampuan yang PENCIPTA berikan dalam diri manusia itu.

     

  • Mereka dari sudut Filsafat

     

    Mereka itu apa? Jangan pusing dengan mereka. Mereka ada atau tidak, kita tidak rugi, tidak untung. Sebaiknya mereka jangan ada di muka bumi ini. Kalau mereka tidak ada, dunia akan tenang. Ini ungkapan kebencian paling sadis yang pernah terjadi, dan sampai sekarang masih terjadi baik dalam skala kecil maupun besar. Mereka berusaha hidup dan mempertahankan diri. Ini NAFSU. Segala macam ilmu dan teknologi dipakai untuk saling menghancurkan antara mereka dan di luar mereka. Ini NALAR. Terjadi blok, blok mereka dan kita. Ini NALURI. Mereka berdoa kepada TUHAN supaya musuh-musuh mereka musnah. Kita juga berdoa kepada TUHAN supaya mereka kena kutuk tujuh turunan. Ini NURANI. Dalam  kutipan di atas, 4 N (NAFSU + NALAR+ NALURI +NURANI, Kwadran Bele, 2011) dipakai secara salah, bertentangan dengan kehendak Pencipta.

    Aih, untung ada mereka, kalau tidak, kami sekeluarga sudah habis. Mereka yang ingatkan kami bahwa jembatan itu hampir runtuh. Kami tidak jadi lewat. Ada banjir dan jembatan hampir terhanyut. Ini ada kaitan dengan benda, jembatan dan kendaraan kami. Masuk ranah NAFSU. Untung ada yang kasih ingat dengan tanda daun-daun ditumpuk  sebelum jembatan, dan kami tanya, kenapa, dibilang, jembatan mulai goyang. Padahal kami punya sopir tancap gas supaya cepat lewat sementara hujan deras. Ini NALAR. Mereka tolong kami biar tidak kenal kami. Ini NALURI untuk saling menyelamatkan. Kami bersyukur, TUHAN, untung mereka ada dan beritahu kami. Kalau tidak, apa jadinya dengan kami, seluruh keluarga saya, isteri dan tiga anak, kami lima orang, satu keluarga tutup buku. Ini NURANI. Ini pengejawantahan dari 4N secara benar, baik dan berguna.

    Mereka itu tetap bahagian dari saya, engkau, dia, kami, kita, kamu. Ini satu kesatuan dalam nama yang berbeda, ada sama-sama, diadakan oleh DIA, Yang Maha Ada. Kita tinggal di Indonesia. Ada orang tinggal di Jepang. Mereka di Jepang bukan diadakan oleh kita. Kita juga tidak diadakan oleh mereka di Jepang. Kita manusia dengan manusia, tidak saling mengadakan. Kelahiran, keturunan itu dilihat dalam perspektif kita dan mereka. Kita orang tua, dan mereka, keturunan kita itu ada karena Kuasa dan Kasih dari DIA. Kita orang tua, mereka turunan kita. Jadi adanya mereka itu tergantung dari adanya kita yang sudah lebih dahulu ada dari mereka. Mereka dan kita ada bersama untuk hidup dan memuja DIA Sang Pemberi hidup.

  • Kamu dari Sudut Filsafat

     

    Kamu ada, saya ada. Kamu banyak orang, saya sendiri. Saya dengan kawan-kawan saya, cukup banyak juga, kami ada di sini, kamu ada di situ. Harap kamu jangan ganggu kami. Kami juga tidak ganggu kamu. Kamu itu orang-orang baik. Kamu di kampung, tanam apa-apa, panen dan jual untuk kami di kota. Untung ada kamu, kalau tidak, kami di kota bisa mati kelaparan. Kamu ada, kami ada, saling menguntungkan. Kamu dan kami sama-sama mau hidup. Ini ranah NAFSU. Kamu bisa panen bagus, rumah bagus, pakaian bagus karena kami punya kawan-kawan hasilkan barang-barang seperti traktor tangan untuk balik tanah di pegunungan, ada pabrik semen untuk bangunan, ada pabrik tekstil untuk buat pakaian. Kamu bergantung pada teknologi baru karena ada orang yang pikir dan buat bermacam-macam alat modern. O yah, kamu di kampung juga sekarang rata-rata sudah pakai hp. Luar biasa. Ini masuk bidang NALAR. Kamu di desa jangan cemas, katanya gagal panen. Tahun ini ada lagi kelaparan. Pemerintah sudah siap beras secukupnya. Ini masuk ranah NALURI, tidak tega ada manusia yang ditimpa bencana kelaparan dan mati kelaparan. Katanya kamu di desa sedang bangun rumah ibadat dan masih kurang dana. Ada orang-orang yang baik hati dan mau tolong kamu. Mereka akan datang mengunjungi kamu. Ini masuk ranah NURANI. Manusia ini ada jarak, saya di sini dan kamu di sana. Kamu baik, kamu berjasa, kamu bahagian dari saya, bahagian  dari kemanusiaan.

    Manusia dibeda-bedakan atas dasar kelompok, kami kamu, atas dasar tempat, kota desa, atas dasar waktu, dulu kini. Kamu tetap kamu dan tidak pernah bisa dileburkan jadi kami semua. Pembagian ini ada dan itulah pembedaan, bukan pemisahan. Satu mata rantai, rantai kemanusiaan. Kamu punya kelebihan-kelebihan dalam segala bidang. Kami juga. Kamu ada kekurangan di sana-sini. Kami juga. Maka kamu ada dalam hubungan dengan kami sehingga keberadaan kamu dan kami ini keberadaan saling menghidupkan, bukan saling mematikan. Kami tidak iri dengan kelebihan kamu. Kami tidak benci kamu. Begitu pun sebaliknya. Tidak boleh iri dengan kami. Tapi jangan kikir. Kalau kami susah, kamu ada, datanglah bantu kami. Kalau kamu susah, jangan cemas, kami ada.

    Kamu ada karena DIA. Kami juga ada karena DIA. Jadi kita sama-sama ada, kamu dan kami, kalau berhadapan dengan DIA, maka kamu dan kami menjadi kita. Dengan demikian, tidak ada tempat sama sekali untuk kamu dan kami saling menyusahkan. Apalagi saling membunuh, hal yang terburuk yang sering terjadi di bumi yang kecil ini. Kamu bahagian dari kami. Kami bahagian dari kamu. Kamu dan kami sama-sama bahagian dari Karya Penciptaan dari DIA, PENCIPTA kita.

     

     

  • Kami dari sudut Filsafat

     

    Kami harus pindah dari tempat ini. Tanah tidak subur lagi. Tanam apa-apa susah, tidak berhasil. Musim tidak menentu. Bagaimana dengan kamu? Tetap tinggal di sini? Ini adalah urusan nasib berkaitan dengan makanan.  Kebutuhan hidup jasmani (NAFSU).  Kami sudah pakai bermacam cara, pacul tanah, pakai pupuk, tidak berhasil. (NALAR). Ada bantuan dari Pemerintah, ada pihak LSM juga yang datang beri pendampingan kepada kami. Tanah tidak subur tambah hujan juga tidak turun. Usaha kami sia-sia. Urusan kebersamaan. (NALURI). Kami berdoa supaya hujan turun, tapi tetap saja sering gagal tanam, gagal tumbuh, gagal panen. Gagal semua. Tuhan tidak dengar kami punya doa. (NURANI).

    Kami adalah kesatuan manusia yang sama-sama memandang ke luar. Kami di sini, kamu di sana. Jangan ganggu kami. Kami mau aman. Pertahanan ke dalam sangat kuat. Selama kami ada dan kami bisa atur diri, kamu jangan campur tangan. Kami, kami. Kamu, kamu. Suka memisahkan diri. Kami dari dulu begini, mau apa? Tidak mau berubah. Menutup diri. Kami punya adat begini. Kamu yang dari luar jangan coba-coba bawa kamu punya kebiasaan ke sini. Merasa diri lebih dan sudah lengkap, tidak perlu lagi ada pengaruh dari luar. Kami cenderung menjadi kelompok yang tertutup dan mudah tersulut emosi yang terkadang tidak masuk akal. Terkadang ada kesalahan dalam perbuatan yang sungguh salah dan memalukan, sama-sama setuju membasmih kelompok lain, genosida. Ini persekongkolan jahat dari kelompok yang menamakan diri kami. Kami bisa baik, bisa jahat. Kami bisa jadi momok bagi kelompok di luar kami.

    Kami ini berkumpul dan bersatu karena satu asal, satu nasib dan satu tujuan. Ini unsur pemersatu kami. Asal-usul dilupakan, pecahlah kesatuan kami. Nasib sial terus, berpisah, masing-masing cari untung, kami hilang, tinggal kenangan. Yang sial sama sial berkumpul, jadilah kelompok kami kelompok sial. Yang mujur sama mujur berkumpul, jadilah kelompok kami yang sering menjadi kelompok kami yang egois, sukuis dan sadis, tolak keberadaan kami-kami yang ada dekat dan berdampingan dengan diri mereka. Kami menjadi kelompok eksklusif yang curiga pada kelopmpok lain.

    Kami ini sebenarnya ada untuk hal yang baik, aman dan bahagia. Keberadaan kami yang mempunyai NAFSU kebendaan tidak terkendali, NALAR yang waras tidak dipakai, NALURI bertahan atas dasar keangkuhan, NURANI tumpul tanpa memperhatikan nasib sesama dan tidak mematuhi Kehendak dari SANG PENCIPTA, kami seperti ini menjadi kelompok malapetaka untuk masyarakat. Kami yang ideal adalah kami yang menjadi penolong orang lain dengan berbagi pengalaman dan kekayaan sambil melihat bahwa orang lain itu sama-sama dari TUHAN menuju TUHAN.