Blog

  • Emansipasi Laki-Laki Suku Buna’ di Pedalaman Pulau Timor

     

    Emansipasi perempuan masih sering terdengar dalam kaitan dengan persamaan hak perempuan dengan laki-laki dalam berbagai sektor kehidupan. Tetapi emansipasi laki-laki, apa mungkin? Apa yang diperjuangkan oleh kaum laki-laki di kalangan suku Buna’ di Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur -NTT?

    Suku Buna’ ini hidup di pedalaman Pulau Timor, sampai sekarang, tahun 2020, diperkirakan masih sekitar 100.000 orang anggota suku Buna’.

    Kelompok ini tersebar di dua wilayah yang bersambungan, wilayah pertama, di Negara Timor Leste, sekitar 70.000 orang dan kelompok yang di wilayah kedua, ada di Timor bahagian Republik Indonesia.

    Mereka kira-kira berjumlah 30.000 orang yang menghuni dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Prov. NTT.

    Suku Buna’ berbahasa Buna’ dan mempunyai adat kebiasaan yang khas suku Buna’ termasuk sistim kekerabatan. Dalam masyarakat Buna’ dikenal dua macam ‘suku rumah’, suku ‘Malu’ dan suku ‘Aibaa’.

    Seorang laki-laki mengambil isteri dari suku A dan si isteri menjadi anggota suku dari laki-laki, suku B. Suku A, asal dari perempuan, disebut ‘Malu’, pemberi wanita. Suku B, suku dari si suami, disebut ‘Aibaa’, penerima wanita. Sistim perkawinan ini disebut, ‘Momen’, artinya, ‘Yang Utama’, patut dihormati.

    Si suami menjadi ‘Momen Mone’, laki-laki yang diutamakan dalam suku karena mendatangkan ‘Momen Pana’, seorang perempuan yang diutamakan di dalam suku si Suami. Semua anak-anak menjadi anggota suku Bapa, suku B. Mama mereka dari suku A, hanya dikenal sebagai suku asal, tapi baik mama maupun anak-anak sudah meninggalkan suku mereka, suku A, dan menjadi anggota suku B, suku Bapa.

    Sistim perkawinan ini sangat mahal dari segi materi, karena suku perempuan, yaitu suku A, memberikan beberapa bidang kebun dari suku mereka sebagai tempat usaha untuk hidup dari anak perempuan mereka yang sudah berpindah menjadi anggota suku B. Harta berupa uang emas dan perak diberikan kepada si anak perempuan yang telah berpindah suku, dari suku A ke suku B.

    Jalinan antara suku A (suku asal perempuan) dan suku  B (suku laki-laki) sangat erat karena hubungan darah ini. Suku B, suku suami membalas bidang-bidang kebun yang diberikan oleh suku A, (suku perempuan) dengan sejumlah hewan, kerbau, sapi dan kuda.

    Kalau dirupiahkan, dua belah pihak bisa mengeluarkan uang ratusan juta rupiah. Di sinilah letak kemahalan sistim ‘momen’ ini. Sejak tahun 1950an, sistim ‘Momen’ ini sudah tidak dipraktekkan lagi, kini hanya tinggal sejarah.

    Sistim perkawinan baru berlaku di kalangan suku Buna’ sekarang ini, ‘Ton terel’, bahasa Buna’, artinya: ‘Kawin Ikut’ atau ‘kawin masuk’, laki-laki tetap di suku asalnya, perempuan pun tetap di suku asalnya. Tidak ada perpindahan suku.

    Laki-laki datang, kawin dan tinggal di rumah suku isteri. Ada uang mahar, ‘belis’ dari pihak suku laki-laki ke pihak suku perempuan. Kalau dirupiahkan, hanya sekitar puluhan juta rupiah.

    Isteri tidak berpindah tempat tinggal, tetap di sukunya. Laki-laki yang datang dan diterima sebagai ‘mane pou’ (laki-laki baru) yang oleh saudara-saudari si isteri dihargai sebagai ipar dan orang tua si isteri menerima laki-laki ini sebagai ‘anak mantu’.

    Masalah muncul di sini, laki-laki tidak ada hak atas anak-anak, karena anak-anak ini anggota suku mamanya. Yang berhak urus anak-anak adalah paman mereka, saudara laki-laki dari si isteri. Sedangkan si suami, mempunyai tanggungan untuk mengurus para ponakannya di sukunya sendiri.

    Kalau si-ister meninggal dunia, laki-laki kembali ke tengah kaum keluarga di sukunya, dengan pakaian di badan. Kebun yang diusahakan bersama isiteri, tidak menjadi haknya karena tetap milik suku isteri. Anak-anak kandungnya dipelihara oleh keluarga isteri yang sudah almarhumah.

    Di sinilah letak perjuangan kaum laki-laki suku Buna’, mau ber-emansipasi, tuntut haknya, bagaimana bisa terlepas dari ikatan adat yang tidak mengakui haknya sebagai bapak kandung atas anak-anaknya.

    Sistim ini masih berlaku sampai sekarang. Akibat sosialnya, ialah, banyak laki-laki dari suku Buna’ memilih untuk kawin dengan perempuan yang bukan suku Buna’ supaya ada hak milik atas kebun yang diusahakan dan ada hak atas anak-anak kandung. Perkembangn zaman yang akan menentukan.

     

     

  • Obat dari Sudut Pandang Filsafat

     

    Manusia tidak bisa hidup tanpa obat. Bayi yang baru lahir digosok dengan minyak, obat untuk kulit. Bayi dimandikan  dengan air hangat dicampur dengan air daun-daunan tertentu. Ini obat menurut kebiasaan di masing-masing tempat di kalangan suku yang berbeda-beda. Obat itu satu kebutuhan dalam hidup manusia, untuk mencegah atau mengobati penyakit. Manusia akrab dengan penyakit sejak bayi sampai tua, maka dengan sendirinya manusia akrab dengan obat mulai bayi sampai usia senja.

    Apa sebenarnya obat itu? Obat hanya pelengkap bila sakit? Tidak, obat itu kebutuhan. Tubuh manusia pada saatnya mengalami kemunduran di sana-sini. Kemunduran inilah yang disebut sakit. Obat memulihkan kemunduran ini.

    Manusia mempunyai dorongan untuk bertumbuh (Nafsu) dan kalau mengalami gangguan, maka dibutuhkan obat melalui pengetahuan dan pengalaman (Nalar) dan dibutuhkan sesama manusia (Naluri) untuk memberi obat yang diketahui ada di dalam alam ini yang diyakini diciptakan oleh Pencipta (Nurani). (Bdk. 4 N: Kwadran Bele, 2011, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI).

    Obat itu diramu, ada yang obat kimia ada yang non kimia. Yang dari bahan kimia juga berasal dari alam dan tidak ada obat yang ada dan diadakan dari bahan di luar alam. Obat selalu dikaitkan dengan sakit. Kalau sakit minum obat. Obat dikaitkan pula dengan dukun, dokter. Mereka ini yang tahu dan berpengalaman dalam hal obat-obatan.

    Obat untuk orang sakit, dan orang sakit dipertentangkan dengan orang sehat. Ada dua kemungkinan, atau sehat atau sakit. Sakit itu kurang atau tidak sehat. Obat untuk orang yang kurang atau tidak sehat. Seluruh bagian tubuh manusia ini bisa mengalami kurang sehat atau sakit, dan untuk segala macam sakit itu ada obatnya.

    Manusia tidak dapat melepaskan diri dari obat karena manusia tidak mungkin sehat terus. Pasti akan mengalami sakit dan di situlah obat berperanan. Sampai sekarang, pada umumnya obat itu dikenal sebagai ramuan benda alami yang diramu sekian untuk mengatasi sakit ini dan itu.

    Padahal obat itu bukan hanya ramuan yang tampak dalam bentuk fisik, benda. Bukan. Obat itu adalah perasaan, non fisik, ditampilkan dalam ramuan rupa-rupa dan kemasan rupa-rupa, padat, cair, uap. Itu semua hanya penampilan sangat kecil dari obat yang sesungguhnya, yaitu rasa, perasaan.

    Sehat pun perasaan, sakit pun perasaan. Perasaan ini tampil dalam bahagian tubuh manusia sehingga dirasa sakit atau sehat. Sehat dibutuhkan obat yaitu sari makanan yang dikelompokkan dengan nama vitamin. Sakit pun dibutuhkan obat berupa pengganti atau tambahan pada bahagian tubuh yang mengalami kemunduran.

    Obat itu perasaan untuk memulihkan perasaan yang menimbulkan kemesraan. Rasa itu yang harus dirawat terus-menerus. Rasa itu muncul dari 4 N dan kembali ke 4N. Hidup manusia itu adalah gerak rasa dari pribadi kembali ke pribadi sendiri. Gerak rasa inilah yang membutuhkan obat dan kalau obat hanya dimengerti sebagai ramuan saja, maka manusia yang sakit tidak akan sembuh.

    Dia jauh dari kemesraan, itulah sakit yang sesungguhnya. Sembuh itu bukan semata karena obat ramuan, tapi sentuhan rasa antar sesama dalam hubungan segitiga antara ‘saya – sesama – DIA’. Hubungan yang mesra antara kita (saya-sesama-DIA) itulah yang disebut sehat. Itu terganggu, sakit. DIA itu TUHAN.

     

     

  • Pendapat dan pendirian

    Pendapat dan pendirian. Keduanya erat berkaitan, tak terpisahkan tapi sangat berbeda satu dengan yang lain. Pendapat itu lebih berkaitan dengan Nalar. Pendirian itu lebih berkaitan dengan Naluri. Nalar beri segala macam pertimbangan dan lahirlah pendapat. Naluri mengarahkan diri kita manusia dan muncullah pendirian. Nurani beri arahan untuk buat keputusan tentang pendapat agar pendirian itu baik atau tidak. Dari pendapat dan pendirian Nafsu seseorang tergerak untuk terpenuhinya keinginan atas segala daya upaya. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita tentang pendapat dan pendirian. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pendapat tidak wajib menjadi pendirian. Pendirian belum tentu sejalan dengan pendapat. Pendapat masih melayang-layang, bisa berubah-ubah sesuai waktu dan keadaan. Pendapat yang salah bisa terjadi karena bahan pengalaman dan pengetahuan tidak mencukupi. Pendapat belum keputusan. Pendirian sudah keputusan. Berarti pendirian itu bisa terjadi sebagai hasil satu atau berbagai pendapat baik dari diri maupun dari sesama yang lain. Pendapat diramu sekian sampai jadi pendirian. Pendirian salah atau benar tergantung dari pendapat yang diolah dari berbagai sumber. Pendapat benar pasti pendirian benar. Pendapat salah kalau tidak diikuti maka pendirian masih benar.

    Pribadi kita manusia mempunyai harga diri bukan dari pendapat tapi dari pendirian. Pendapat bisa diumbar ke sana-sini tapi pendirian tidak bisa diuar-uarkan. Adu pendapat, boleh dan biasa. Adu pendirian, tidak. Dalam pendapat bisa sepakat. Tapi pendirian tidak bisa disepakati. Tiap-tiap orang dengan pendiriannya sendiri-sendiri sambil mengambil pendapat orang lain. Pendirian orang lain tidak dapat diambil alih. Pendapat dapat diambil jadi pendapat sendiri. Pendirian sudah khas melekat pada diri seseorang dan hanya dapat dirobah oleh orang itu sendiri. Pendapat dapat dipaksakan. Pendirian tidak bisa dipaksakan.

    Pendapat dapat menjadi pendapat pribadi dan pendapat umum. Pendirian tidak dapat dijadikan pendirian umum karena pendirian itu sangat memribadi. Menjadi ciri khas pribadi. Pendapat dapat diungkapkan dengan berbagai cara. Pendirian hanya dapat ditampilkan dengan perpaduan Nafsu + Nalar  + Naluri + Nurani sehingga tiap langkah dalam hidup kita manusia adalah penampilan pendirian dan bukan penampilan pendapat.

    Tuhan Pencipta kita tidak mengukur kita berdasarkan pendapat kita tetapi berdasarkan pendirian kita yang muncul dalam perilaku kita.

    Siap

     

    Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Pendapat dan Pendirian”, Klik untuk baca:
    https://www.kompasiana.com/belanto/6385ae356e14f1390132e482/pendapat-dan-pendirian

    Kreator: Anton Bele

     

    Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.

    Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

  • Semangat dari sudut Filsafat

     

    Semangat itu menggebu-gebu karena Nafsu. Semangat melayang-layang karena Nalar. Semangat berlalu-lalang karena Naluri. Semangat teduh tenang karena Nurani. Semangat itu yang membuat manusia hidup, bergairah karena Nafsu, bergelora karena Nalar, berkelakar karena Naluri, bertafakur karena Nurani. Semangat itu tampilan 4 N (NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI, 4 N, Kwadran Bele 2011), empat unsur dalam diri manusia. Bayangkan manusia kalau kurang bersemangat. Jadi loyo karena kurang dorongan Nafsu, jadi layu karena kurang daya Nalar, jadi lunglai karena terberangus Naluri, jadi lemas karena kacau Nurani.

    Semangat membuat wajah manusia berseri-seri (Nafsu). Semangat membuat manusia mata berbinar-binar (Nalar). Semangat membuat manusia bersorak-ria (Naluri). Semangat membuat manusia merunduk alim (Nurani). Semangat tidur membuat manusia tidur nyenyak. (Nafsu). Semangat berpikir membuat manusia mengutak-atik segala teori tanpa henti. (Nalar). Semangat bergaul membuat manusia mondar-mandir menemui sesama kawan dan lawan. (Naluri). Semangat menyepi membuat manusia bersembah sujud di tempat ziarah. (Nurani).

    Semangat harus utuh terpadu antara 4 N. Kalau salah satu N itu melampaui tiga N yang lain, maka manusia itu menjadi tidak seimbang. Contoh: Semangat makan. Ini baik. Tapi karena begitu besar semangat makan sampai makan segala macam makanan yang enak, makan tidak pakai waktu, berarti Nalar tidak dipakai, tidak ingat orang lain sama artinya Naluri sudah tumpul dan semangat makan begitu hebat sampai hidupnya sendiri tidak dipedulikan sama artinya tidak peduli dengan Tuhan Sang Pemberi hidup, yang berarti Nuraninya membatu. Ini contoh yang miring. Sebaliknya, semangat harus dijaga, diatur, dsalurkan berdasarkan empat unsur dalam diri manusia, 4 N.

    Semangat itu harus membawa manfaat bagi diri manusia itu sendiri, sesama dan alam sekitar, lingkungan hidup. Semangat tidak boleh disalurkan untuk menghancurkan diri, sesama dan lingkungan. Ini amanat SANG PENCIPTA. Semangat menulis. Ini bagus sekali. Tapi harus ingat, tulis apa yang baik, tulis apa yang benar dan tulis apa yang berguna. Semangat menulis dipakai untuk membohongi orang lain, membusukkan nama orang, mengendorkan semangat orang untuk mengabdi Pencipta, maka semangat model apa itu? Semangat seperti itu harus segera dipadamkan. Semangat harus menyala untuk menampilkan diri demi kebahagiaan diri dan sesama di hadapan Sang Pemberi Selamat.

  • Arif dari Sudut Filsafat

     

    Arif bijaksana. Setiap manusia itu arif, setiap manusia itu bijaksana. Bahwa kadang-kadang berpikir bodoh, berkata bodoh, berbuat bodoh, itu satu kelalaian, bukan pada dasarnya manusia itu bodoh.

    Pada dasarnya manusia itu dari kodratnya  arif. Manusia sudah dilengkapi dari kodratnya oleh Pencipta, kearifan, ini masuk dalam unsur NALAR, bahagian tak terpisahkan dari tiga unsur yang lain, NAFSU, NALURI, NURANI (Kwadran Bele, 2011, 4 N).

    Ada pelecehan, kearifan lokal. Memangnya ada kearifan regional, nasional dan internasional? Kearifan ada tingkat-tingkat semacam itu? Tidak benar. Kearifan yah kearifan, manusia yang arif, dan namanya manusia, entah di hutan, di desa, di kota metropolitan, sama, dia arif sesuai zamannya, sesuai lingkungannya.

    Seorang ilmuwan hebat, profesor,  yang bisa dikatakan sangat arif, bisa mati di hutan belantara, sedangkan penduduk asli di hutan itu bisa bertahan hidup, karena profesor arif di kota, di laboratorium tapi belum tentu dia arif di hutan.

    Orang yang biasa hidup di hutan tahu apa yang harus dimakan, daun-daunan apa, buah-buahan apa, dan dia arif untuk lindungi tubuhnya dari serangan nyamuk dengan lumpur atau lumuran kunyahan dedaunan tertentu.

    Ini bukan kearifan hutan, kearifan lokal, tapi kearifan, yah kearifan. Dia biar di hutan, dia arif dan dia hidup. Profesor di hutan kehilangan arifnya dan mati. Ibarat ikan, hidup di air mati di darat.

    Jangan banggakan diri arif sambil merendahkan orang lain kurang arif, tidak arif. Manusia arif sesuai pertumbuhan usia, keadaan lingkungan dan kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

    Manusia ada dalam dirinya, bahagian yang disebut NAFSU. Dalam Nafsu inilah terletak dorongan untuk hidup dan supaya hidup ada dorongan untuk makan, minum, lindungi diri dengan pakaian dan perumahan. Ini perlu arif. Manusia itu arif dalam membedakan jenis tanaman mana beracun mana tidak beracun dan dapat dimakan. Ini yang namanya arif sesuai Nafsu.

    Dalam diri manusia ada Nafsu untuk berketurunan. Biar hidup di hutan sekalipun sebagai ‘manusia hutan’, yang oleh ilmuwan di bidang Anthropologi disebut ‘manusia primitif’, manusia ini ada kearifan dalam menyalurkan Nafsunya untuk kawin, meneruskan keturunan.

    Cara mereka kawin, menyalurkan Nafsu seks, ini kearifan yang tidak perlu dipelajari melalui kursus tentang seksologi. Nafsu itu dengan sendirnya terarah secara arif karena sudah ada dalam diri manusia itu ada bahagian yang lain, NALAR.

    Dalam bahagian Nalar ini manusia itu arif untuk menimba pengalaman dan pengetahuan. Nafsu mencari makanan diatur oleh Nalar sehingga di hutan dia bertahan hidup, ikan ditangkap di sungai, keladi digali di hutan, burung ditangkap dengan jerat.

    Nafsu dan Nalar berpadu menuntun manusia untuk masuk wilayah NALURI di bahagian mana manusia itu disadarkan tentang hak milik, menghargai sesama, melindungi diri dan sesama serta lingkungan di mana dia tinggal.

    Lalu manusia itu mengalami hal-hal yang di luar kuasanya, penyakit dan kematian serta gejala alam seperti panas dan dingin, hujan dan kering.

    Di sinilah muncul peranan NURANI, ada kesadaran tentang sesuatu, atau pribadi yang lebih kuat dari dirinya dan rasa hormat, sembah sujud muncul dari Nurani yang percaya ada kekuatan-kekuatan gaib yang berasal dari roh-roh baik dan roh-roh jahat. Dan muncul lagi satu kearifan bahwa semua kekuatan gaib itu pasti dikuasai oleh satu Yang MAHA-GAIB.

    Ini peranan NURANI dalam diri manusia. Perpaduan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ini yang membuat manusia itu arif, siapa pun dia, di mana pun dan kapan pun dia ada dan hidup.

  • Cipta dari Sudut Filsafat

     

     

    Cipta itu mengadakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Komponis ciptakan lagu baru. Teman saya mendapat hak cipta atas karya tulisnya. Manusia mencipta sesuatu dan itu sah-sah saja dalam arti mengadakan sesuatu yang tidak ada sebelumnya menjadi ada, meskipun sudah ada kemiripan dengan apa yang dia ciptakan itu sebenarnya sudah ada dalam bentuk yang hampir sama.

    Jadi bukan mencipta, tetapi menggubah, mengarang, merangkai, dari hal-hal yang sudah ada menjadi satu rangkaian baru, dan itulah yang dikatakan mencipta. Lagu ciptaan baru juga sebenarnya gubahan dari nada-nada yang sudah ada disusun baru sehingga disebut lagu ciptaan baru, dan penggubahnya disebut pencipta.

    Hanya manusia bisa mencipta dalam arti hal yang lama dirangkai menjadi hal yang baru. Rumah gaya baru ciptaan arsitek yang dapat hak cipta atas cara barunya yang belum pernah dibuat oleh arsitek-arsitek terdahulu.

    Karena itu disebut ini ciptaan dia. Gambar baru, patung baru, lagu baru, mesin baru. Ini hal-hal yang menyangkut benda-benda sebagai pemenuhan NAFSU manusia.

    Karena ada dorongan dalam diri manusia yang disebut NAFSU, maka manusia tidak henti-hentinya membuat hal-hal yang baru sesuai selera. Manusia mencipta atas dasar NAFSU. Manusia juga mempunyai unsur dalam dirinya, NALAR.

    Unsur ini menggerakkan manusia untuk tidak puas dengan apa yang ada sehingga berpikir dan berpikir, mencoba dan mencoba sampai ada hal yang baru. Yang baru itu disebut ciptaan baru dan mendapat hak cipta, hasil NALAR. Pergaulan manusia mendorong NALURI dalam diri manusia untuk menciptakan suasana baru, mode pakaian baru, cara menolong yang baru. Ini hasil NALURI.

    Dalam diri manusia ada NURANI yang mendorong manusia untuk berkontak dengan YANG ILAHI atas cara yang baru, maka diciptakanlah doa baru, lagu baru, gaya ibadat baru, gaya berkotbah baru. Ini hasil dorongan NURANI. Perpaduan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI, 4 N, (Kwadran Bele, 2011), mendorong manusia untuk menghasilkan karya cipta baru. Hal yang sebelumnya tidak ada dalam arti hal lama menjadi hal baru. Ini ciptaan manusia.

    Hanya TUHAN dapat mencipta dari tidak ada menjadi ada. Alam semesta termasuk diri kita manusia, adalah hasil karya cipta Allah sehingga kita menjadi diri sebagai ciptaan dari PENCIPTA.

    Dalam diri kita manusia ini ALLAH menciptakan bahagian-bahagian yang menyatu dan bahagian-bahagian itulah yang dapat dibedakan atas empat bahagian, 4N. Manusia diberi kuasa oleh PENCIPTA sendiri untuk turut mengembangkan, memelihara dan melanjutkan ciptaan yang sudah ada.

    Hidup ini mencipta. Manusia pencipta dari yang ada menjadi ada yang baru. Hak cipta itu ada pada manusia karena diberi kuasa oleh PENCIPTA. Manusia ciptakan menu makanan yang baru yang lebih enak. Boleh. Pada awal kebudayaan, manusia pakai cawat, berkembang dengan ciptaan peralatan baru, ada pakaian baru dengan gaya baru. Ini turut mencipta bersama PENCIPTA, TUHAN.

    Daya cipta, karya cipta, diperkenankan oleh ALLAH untuk keberlangsungan hidup manusia dari yang baik menjadi lebih baik. Tidak diperkenankan menciptakan hal-hal atau barang-barang yang merusak diri manusia, sesama, dan alam sekitar. Itu bukan mencipta, tetapi merusak.

    Kemampuan mencipta itu diberikan PENCIPTA kepada ciptaannya yaitu manusia ini untuk mengembangkan yang sudah ada ke arah yang lebih baik dan berguna untuk diri manusia itu sendiri. Kemampuan mencipta yang disalah-gunakan untuk merusak ciptaan yang ada merupakan kejahatan manusia melawan SANG PENCIPTA.

    Kita manusia diciptakan untuk turut mencipta bersama PENCIPTA dalam arti bertanggung-jawab untuk memelihara diri, sesama dan alam semesta menjadi lebih baik dan terus baik sampai akhir dari segalanya ini tiba, dan itu kapan, kita manusia tidak tahu, hanya PENCIPTA itu Sendiri yang tahu karena DIA MAHA-PENYELENGGARA  dan MAHA-TAHU.

  • Jalan dari Sudut Filsafat

     

    Jalan ini dari mana ke mana? Ini benda. Ini mau jalan ke mana? Ini kegiatan. Hidup manusia erat kaitannya dengan jalan. Di dalam rumah sendiri pun ada jalan. Dari ruangan ke ruangan, ada jalan. Bergerak dari ruangan ke ruangan, jalan. Jalan juga berarti cara. Untuk atasi masalah ini kita harus cari jalan sama-sama. Ini cara, upaya. Jalan juga artinya niat. Memang kamu sudah salah jalan. Jalan juga menyangkut perilaku. Maaf, jalan yang saya ikuti tidak benar. Pagi ini saya mau jalan keliling kompleks perumahan, cari keringat. Ini NAFSU, keinginan, menapaki jalan, menggerakkan badan, cari sehat. Saya harus cari jalan yang tepat untuk mendapat hasil yang tepat. Matematika. Ini NALAR.

    Untuk menaikkan taraf hidup masyarakat ini harus ada jalan ke luar. Ini NALURI. Memang sampai sekarang engkau susah terus karena jalan yang kau tempuh, salah. Ini NURANI. Jadi jalan dilihat dari benda yang dilalui masuk ranah NAFSU. Jalan dilihat dari rumusan matematik, jalan berpikir, NALAR. Jalan dilihat dari upaya kemasyarakatan, NALURI. Jalan dari arah hidup seseorang, NURANI. Ini secara sederhana berfilsafat tentang ‘jalan’ memakai rumus ‘Kwadran Bele 2011’, 4 N: NAFSU + NALAR+ NALURI + NURANI.

    Hidup itu jalan. Jalan itu hidup. Ada gerak jalan, ada jalan gerak, memulai satu upaya untuk melaksanakan sesuatu. Jalan itu arah. Jalan dari atau menuju. Jalan itu bukan tujuan, tapi arah ke tujuan itu. Jalan hanya menghantar. Berhenti di jalan, hanya sementara. Hanya orang gila yang tinggal di jalan. Hanya orang aneh yang berkeliaran di jalan tanpa arah, dan dijuluki orang jalanan. Jalan ada kecil, ada besar. Yang kecil disebut lorong, yang besar disebut jalan raya.

    Ada jalan potong, pintas. Ada jalan bengkok, berliku-liku, ada jalan lurus. Ada jalan mulus ada jalan berkelikir. Ada jalan kotor ada jalan bersih. Ada jalan benar ada jalan salah. Ada jalan-jalan, santai, ada jalan sungguh-sungguh. Ada jalan tertatih-tatih ada jalan tegap. Ada jalan cepat, ada jalan lambat. Ada jalan maju, ada jalan mundur.

    Ada saatnya jalan, ada saatnya berhenti. Manusia di jalan saja, liar. Manusia tidak jalan, di rumah saja, malas. Banyak berjalan, banyak pengalaman. Jalan jadi milik, ini saya punya jalan, kami punya jalan, bukan kamu punya. Buka jalan, tutup jalan. Jalan umum, jalan khusus. Jalan masuk, jalan ke luar. Manusia menyatu dengan jalan, ini jalan saya yang buat, saya biasa ikut jalan ini.

    Dari segi NAFSU, jalan itu kegiatan manusia mengupayakan hidup. Jalan yang dibuat, entah kasar atau mulus, milik umum atau pribadi, masuk ranah NAFSU manusia, hasil jerih lelah. Jalan tegap atau tertatih-tatih, adalah pancaran NAFSU untuk bergerak dalam memenuhi keinginan badani. Ini NAFSU. Memeras otak, mencari jalan, ini karya NALAR. Mencari jalan menyelamatkan kelompok pendaki gunung yang tersesat di jalan, masuk ranah NALURI. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Ini ukuran NALURI.

    Tunjuk jalan untuk berhenti jalan ke tempat maksiat, ini masuk wilayah NURANI. Jalan harus dijadikan bahagian hidup manusia berdasarkan garis 4N, secara terpadu, terarah, terukur dan terpuji. Mencari jalan rupa-rupa untuk mencuri uang rakyat, tidak terpuji, jalan yang hina. Cari jalan yang halal untuk dapat uang, ini jalan yang terpuji, bermartabat.

    Orang-orang Kristen akrab dengan kutipan dalam Alkitab, Yesus berkata kepada Rasulnya, Tomas, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Ini menyangkut gerak NURANI, meliputi NAFSU, NALAR dan NALURI. Keempatnya terpadu jadi satu dalam jalan hidup manusia dari hidup jasmani ke hidup ilahi, dari hidup fana ke hidup baka.

     

  • Desa dari Sudut Filsafat

     

    Desa itu tempat, kesatuan kelompok, suku, budaya, ekonomi, politik, agama. Desa lain dari kelurahan. Desa itu orangnya saling kenal, akrab, hidup saling tolong menolong. Desa dipertentangkan dengan kota. Desa dianggap kolot, kota dianggap modern. Suasana desa itu sepi, tidak hiruk pikuk, susah sama susah, senang sama senang.

    Ada pesta, tidak ada undangan. Dari mulut ke mulut, langsung orang berdatangan, tidak ada tamu, semua merasakan sebagai tuan rumah. Saat makan, semua makan, sama-sama, tidak ada perbedaan. Wilayah desa sama luas dengan kebun-kebun orang desa itu. Batas kebun sampai di mana, batas desa sampai ke situ.

    Penduduk desa bertambah, hanya oleh kelahiran. Jarang ada pertambahan penduduk karena perpindahan. Kalau ada orang baru yang datang, pasti dia ada hubungan keluarga dengan warga desa, dan kalau mau menetap, harus ada kaitan dengan warga desa, tidak mungkin ada orang baru tetap baru dan terasing dari kekerabatan desa. Di desa semua orang sedesa itu bersatu dalam mencari nafkah, bertani dan beternak, mendirikan rumah.

    Inilah aspek NAFSU dari desa sebagai himpunan manusia-manusia yang tidak sekedar tinggal, tapi merasa senasib sepenanggungan. Kearifan lokal di desa itu merupakan NALAR desa yang terkadang membeku dan bertahan sulit menerima perkembangan. NALURI orang-orang desa itu halus, langsung merasakan susah dengan yang susah, senang dengan yang senang.

    NURANI orang desa itu langsung tergerak melawan kejahatan, mengucil pengacau, mengutamakan ketenteraman, keadilan dan  kedamaian. Empat faktor kepribadian manusia secara pribadi menyatu menjadi satu pribadi besar, namanya ‘orang desa’ dengan ciri khas masing-masing desa. Kekhasan desa ini berakar pada unsur NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4N) yang terpancar dalam hidup sehari-hari atas dasar kedekatan fisik (NAFSU), kesamaan kesepakatan (NALAR), keterkaitan darah (NALURI) dan kedalaman iman (NURANI). (4N, Kwadran Bele, 2011). Sulit sekali orang desa meninggalkan desanya. Biar merantau bertahun-tahun tetap ada kerinduan pulang ke desa.

    Desa bukan hanya kesatuan wilayah, tetapi kekhasan wajah. Di desa ada hati manusia. Desa bertahan hidup bukan karena kolot, tetapi karena 4N itu terpateri  dengan tanah, kebun, sumur dan sungai yang ada di desa. Orang desa hidup dan mati di desa itu. Tidak heran kalau seorang yang mengungsi ke kota, meninggalkan wasiat untuk jenazahnya dibawa kembali ke desa dan jasadnya tetap menyatu dengan tanah desanya. Desa itu suci. Tidak rela dinodai dengan dosa egoisme kota. Keangkuhan manusia modern diharamkan di desa. Desa itu murni. Kalau ada warga yang suka putar balik, langsung diketahui dan terkucil dari pergaulan. Mengapa dunia ini tidak jadi satu desa besar?

     

     

  • Salam dari Sudut Filsafat

     

    Salam setiap saat berseliweran di dunia ini dalam hitungan angka milyaran. Penduduk dunia yang diperkirakan sudah mencapai 7 milyar ini kalau separuhnya saja saling memberi salam, maka tiga setengah milyar salam beredar, lisan atau tertulis. Manusia saling memberi salam. Ibarat semut kalau berpapasan saling mencium, manusia saling bersalaman setiap kali bertemu entah secara langsung atau tidak langsung.

    Media apa pun saja dipakai oleh manusia untuk saling memberi salam. Salam dalam berbagai bahasa, kata-kata dan isyarat. Kebiasaan saling memberi salam ini seusia manusia itu sendiri. Salam itu bukan hal baru. Ada salam adat, salam sosial, salam bisnis, salam politik, salam agama. Ada juga salam basa-basi, sekedar salam.

    Pengalaman saya, sejak usia lima tahun, 1952, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), saya sudah mengenal dan melakukan salam dalam bahasa Latin yang sangat membekas sampai saat ini.

    Salam itu salam agama, bunyinya, “Dominus vobiscum”, itu sapaan dari Pastor waktu liturgi Ekaristi atau Misa, dijawab oleh kami, umat, “Et cum spiritu tuo”. Artinya, “Tuhan sertamu”, dijawab, “Dan beserta rohmu”. Memang dalam upacara agama jadi Tuhan langsung dilibatkan.

    Salam setiap hari muncul dalam diri seorang ditujukan kepada orang lain, karena ada dorongan NAFSU, keinginan untuk memberi dan menerima perhatian. Kedua insan itu saling memberi perhatian dan menjalin hubungan dengan kata atau isyarat yang bermakna salam.

    Salam berdasarkan NAFSU ini bisa tiga macam: salam tulus, salam bulus atau salam basa-basi. Salam tulus itu sangat bermakna manusiawi. Salam bulus itu pernah tercatat dalam sejarah umat manusia ini, yaitu salam Yudas untuk Yesus, Guru dan Tuhan. Salam basa-basi itu hanya sekedarnya saja.

    Ada dorongan NALAR dari seseorang untuk memberi salam kepada orang lain karena keduanya bertemu di dunia ilmu pengetahuan. Dorongan NALURI memaksa seseorang memberi salam, mungkin karena yang disalami itu lebih tua usianya. Ada salam yang muncul karena bisikan NURANI, itulah salam keagamaan yang melibatkan Tuhan.

    Dunia akan jadi sunyi sepi kalau tidak ada lagi ucapan salam. Dan itu tidak mungkin. Tetap salam itu memenuhi ruang angkasa dan relung hati. Salam itu ungkapan diri manusia yang berasal dari perpaduan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Salam yang utuh, tulus dan luhur itu salam yang muncul dari keutuhan diri manusia dalam unsur 4 N ini (Kwadran Bele, 2011). Salam yang tulus dan luhur ini memberi semangat baru, semangat juang dan semangat untuk hidup seutuhnya sebagai manusia dengan manusia dan manusia dengan TUHAN.

     

  • Jujur dari Sudut Filsafat

     

    Jujur itu satu kata yang langka akhir-akhir ini. Karena tindakannya pun langka. Anak jujur, orang tua jujur, suami jujur, isteri jujur, masyarakat jujur, pemerintah jujur. Ini idealnya. Kenyataannya lain. Antara kenyataan, pikiran, omongan, perbuatan sejalan, itulah kejujuran. Kenyataan itu masuk ranah NAFSU. Pikiran itu masuk wilayah NALAR. Omongan itu wilayah NALURI. Perbuatan itu sudah masuk wilayah NURANI. Jadi jujur itu ada kesesuaian antara 4 N, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (Kwadran Bele, 2011).

    Contoh: Makan. Saya mau makan, NAFSU. Makan apa, pilih, NALAR. Makan sendiri atau bersama orang lain, makan saya punya makanan bukan orang lain punya,  NALURI. Makan dengan tenang dang senang, sambil bersyukur pada Tuhan. NURANI. Ini yang namanya makan dengan jujur.

    Makan kenyang,  senang, tenang. Ada keselarasan antara barang, makanan dengan diri saya yang nikmati sesuai Nafsu saya, Nalar saya, Naluri saya dan Nurani saya. Ini ukuran jujur itu apa. Jujur itu sederhana sekali, makan yah makan. Ini contoh sangat sederhana tentang apa itu jujur.

    Manusia jujur. Gampang hidup bersama orang lain. Otaknya tidak miring. Omong apa adanya. Perasaannya tenang. Tidak gelisah. Tidak susah. Disusahkan? Bisa dan biasa. Menyusahkan? Tidak.

    Manusia jujur tidak menjadi orang yang berbahaya bagi orang lain. Perut sudah kenyang yah, kenyang, jangan isi lagi. Tapi karena lihat makanan enak yang lain, tambah terus. Ini tidak jujur pada diri sendiri, akibatnya perut sakit karena kelebihan isi. Ini yang namanya NAFSU ada dan tidak dikendali oleh NALAR.

    Seharusnya NALAR memberi peringatan untuk cukup dan berhenti makan. Ini tidak jujur dengan NALAR. Lalu sementara makan berlebihan padahal ada orang lain kekurangan, malah tidak ada apa-apa untuk dimakan. Orang yang makan berlebihan ini tidak jujur terhadap sesama. Ini menciderai NALURI. Apalagi kalau yang dimakan itu hasil curian hak orang lain.

    Heran, ada orang yang bisa berfoya-foya dengan makan apa saja yang paling enak dan paling mahal padahal duit yang dia pakai untuk beli makanan yang luks itu duit orang lain yang dia ambil secara paksa atau secara sembunyi-sembunyi.

    Secara NALURI, ini yang dikatakan tidak jujur terhadap masyarakat. Lebih ngeri lagi, hati orang itu tetap tenang malah ucap syukur lagi kepada Tuhan atas rezeki yang diperoleh. Rezeki? Curi dikatakan rezeki? Ini soal NURANI. Tidak jujur terhadap YANG di ATAS.

    Jujur itu teratur dalam NAFSU. Terukur dalam NALAR. Tersalur dalam NALURI. Terlebur dalam NURANI. Ada kepuasan dalam NAFSU. Ada kelegaan dalam NALAR. Ada kelegaan dalam NALURI. Ada keheningan dalam NURANI.

    Alangkah indahnya hidup ini kalau setiap orng jujur pada diri dan sesama dan itulah yang dikehendaki oleh YANG MAHA TINGGI.