Blog

  • Kita dari Sudut Filsafat

     

    Kita berarti saya dan orang lain, paling kurang dua orang, dan bergabung menjadi kita. Kita dua ini harus hidup lebih baik dari kemarin. Kita dua sebagai suami isteri, sudah hidup bersama lebih dari tiga puluh tahun. Kita dua urus diri. Kita dua dengan kita punya anak-anak, tiga orang, cari hidup. Gaji kita harus hemat untuk makan sehari-hari. Pakaian seadanya. Rumah kita ini masih baik. Ungkapan ini adalah ungkapan ‘kita’ dari segi NAFSU. Urusan benda, kebutuhan fisik. Sandang, pangan, papan. Kita dua sudah tua, yang penting anak-anak semua sudah tamat perguruan tinggi dan mereka bisa hiup sendiri. Ini urusan NALAR. Kita punya anak-anak ini belum ada yang mau kawin. Kita dua sudah saatnya untuk gendong cucu. Ini urusan NALURI, mau ada orang lain lagi yang memperbesar jumlah kita. Kita ini terdiri dari saya, saya, dan saya yang begitu erat bersatu dan bersama penuhi kebutuhan (NAFSU) dengan berpikir siang malam (NALAR) sambil bekerja sama dengan orang lain (NALURI) dengan cara yang halal dan jujur (NURANI). Inilah kita dari segi filsafat ‘Kwadran Bele’ 4 N.

    Kita jangan sibuk dengan urusan orang lain. Makan cukup tidak cukup, kita punya urusan, tidak ganggu orang lain. (NAFSU). Kita harus tiru tetangga kita itu, mereka tanam sayur dalam polybag. Kita harus belajar. (NALAR). Kita harus  hidup baik dengan orang lain supaya kalau kita kena susah, ada orang yang tolong kita (NALURI). Kita hidup tidak rampas orang lain punya hak, kita dengn kita punya, orang punya yah orang punya. (NURANI).

    Kita ke dalam hidup rukun. Kita tidak boleh cekcok karena uang dan utang.  Ke luar kita tetap jaga diri, tidak iri dengan orang lain karena orang laih lebih dari kita (NAFSU). Kita tidak boleh anggap orang lain itu bodoh. Mereka juga ada pendirian dan hargai pendirian mereka (NALAR). Kita tetap jaga hubungan baik antara kita dan jaga terus hubungan baik dengan orang lain (NALURI). Kita ini mau hidup berapa lama, di dunia ini hanya sementara (NURANI).

    Kita ada bersama orang lain. Urusan kemasyarakatan kita ke dalam bersama-sama jaga agar  tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain. Dalam urusan pengetahuan dan pengalaman, kita jangan kikir untuk berbagai pengetahuan. Kita hidup jangan kikir. Kita hidup jangan lupa TUHAN. Kita ada ini untuk saling mengingatkan bahwa ada sesama dan ada TUHAN. Bersama sesama kita hidup, bersama sesama menyembah Sang Khalik.

  • Dia dari sudut Filsafat

     

    Dia saya kenal baik. Dia itu orang kaya. Dia itu sehat sekali. Dia punya badan gemuk. Dia punya rumah bagus. Dia punya oto ada beberapa. Ini semua perkenalan saya dengan dia dari sudut NAFSU. Nafsu saya dan nafsu dia bertemu dalam hal-hal bendawi, tubuh fisik (gemuk), harta (rumah,oto). Dia itu orang pintar. Kamus berjalan. Pendapatnya brilian. Ini masuk wilayah NALAR. Dia orang yang banyak bergaul. Dia punya teman banyak sekali. Kalau dia ada di mana orang pasti senang. Ini penilaian dari sudut NALURI. Dia orang yang baik hati. Dia suka tolong orang. Dia tidak gampang marah. Kita marah dia, dia diam saja, malah dia hanya tertawa dan minta maaf balik sama kita. Ini penilaian dari sudut NURANI. Lengkaplah penilaian saya yang sangat positif tentang dia berdasarkan ‘Kwadran Bele’, 4 N (NAFSU, NALAR, NALURI, NURANI).

    Dia yang satu ini sombong sekali. Dia bangga dengan dia punya rumah, kebun ada berapa memang, dia ada peternakan, dia punya penghasilan limpah-limpah. Tidak ada orang di kota ini yang sama dengan dia. Ini penilaian yang negatif dari sudut NAFSU. Dia itu tahu semua. Kita omong apa sedikit langsung dia sambar, dia lebih tahu. Dia punya pendapat tidak boleh dilawan, dia akan marah dan kata kita semua ini bodoh. Ini penilaian tentang dia dari sudut NALAR. Jangan sebut dia, dia tidak pusing dengan orang lain, dengan kita-kita yang dekat ini saja dia tidak begaul. Ini dari sudut NALURI. Dia tidak pernah ada rasa salah, semua orang ini jahat, dia yang paling suci. Ini penilaian dari sudut NURANI. Penilaian yang sangat negatif. Benar atau tidak, itulah penilaian saya terhadap dia.

    Dia dan saya, ada jarak, dari segi materi (NAFSU), dari segi pengetahuan (NALAR), dari segi pergaulan (NALURI) dari segi perasaan (NURANI). Dia lain saya lain. Memang, tidak mungkin sama. Jarak ini ada dua macam. Jarak yang saya jaga supaya tetap jauh karena saya dengan dia tidak cocok. Di lain pihak ada dia yang lain, yang jarak itu saya jaga supaya tetap dekat karena kami dua seperti kuku dengan daging, tak terpisahkan.

    Hubungan antara dia ini dengan saya, dia itu dengan saya, dia, dia dan dia, namanya manusia, harus tetap ada jarak dalam arti yang positif, bahwa dia itu orang baik. Begitu pun hubungan saya dengan DIA YANG saya percaya PENCIPTA saya, harus tetap baik dan baik dari saat ke saat karena   DIA itu MAHA-BAIK.

  • “Engkau” dari sudut Filsafat

     

    Engkau ada dan saya ada. Engkau bisa saja saudara saya, teman saya, tetangga saya, suku saya. Engkau ada dekat saya. Engkau ada jauh dari saya. Itu soal jarak tempat. Engkau lebih tua  dari saya. Urusan usia. Engkau lebih gemuk dari saya. Urusan fisik.  Engkau lebih ganteng dari saya. Urusan penampilan. Ini semua urusan NAFSU, dorongan yang ada dalam diri saya dan engkau yang membuat engkau dan saya ada dalam  perbedaan. Karena perbedaan inilah maka saya bukan engkau dan engkau bukan saya.

    Engkau lebih pintar dari saya. Engkau punya pengalaman lebih luas dari saya. Ini urusan NALAR. Engkau dan saya punya Nalar yang orang lain sebut intelektual, kepandaian, kecerdasan, pengetahuan. Daya Nalar setiap oran itu beda. Engkau tidak sama dengan saya karena lingkungan berbeda, orang tuamu ada fasilitas untuk engkau kursus rupa-rupa sedangkan orang tua saya petani kecil di desa sehigga saya tidak dapat kesempatan sama banyak seperti engkau.

    Sejak kecil, engkau hidup dalam kelimpahan karena orang tuamu kaya. Keluargamu semua orang berada. Ini masuk dalam ranah atau bidang NALURI. Pergaulan, kedekatan, keakraban, lingkungan masyarakat masuk dalam bidang Naluri ini.

    Engkau banyak teman dan banyak oran suka engkau karena biarpun engkau anak orang berada, tetapi tidak sombong, tetap rendah hati dan suka tolong orang. Ini muncul dari NURANI.

    Engkau yah engkau, saya yah saya. Ada beda, ada jarak. Tapi engkau dan saya, sama-sama manusia. Di sinilah kita dua bertemu. Saya tidak boleh iri pada engkau. Saya tidak boleh marah engkau. Saya tidak boleh musuhi engkau. Saya tidak boleh susahkan engkau, apalagi sampai mau menyingkirkan  engkau dengan menghilangkan engkau punya nyawa.

    Di sinilah letaknya kewajiban untuk engkau dan aku sama-sama saling memperhatikan untuk hidup sama-sama (NAFSU), jalani kehidupan ini sesuai kemampuan otak kita masing-masing (NALAR) dan tetap saling menolong dalam keadaan apa pun (NALURI) dan engkau dan aku harus sama-sama saling mengasihi supaya senang, tenang, bahagia (NURANI).

    Hubungan antara engkau dan aku itu hubungan sejajar. Tidak ada atas bawah. Tidak saling menjajah. Karena apa? Karena kita dua, engkau dan aku sama-sama diadakan oleh DIA, TUHAN, Yang tidak pernah adakan kita dua untuk celaka, tetapi bahagia.

    108
  • Saya dari Sudut Filsafat

     

    Saya ada, engkau ada, dia ada. Saya dengan kerabat saya, kami. Saya dengan kerabat saya jadi satu, kita.  Engkau dengan kerabatmu, kamu. Dia dengan kerabatnya, mereka. Semua istilah ini: saya/aku, engkau, dia, kami, kita, kamu, mereka, pusatnya itu ada di saya. Saya ada dan bisa berkata saya, engkau, dia, kita, kami, kamu, mereka. Selain diri saya, orang lain itu ada dan saya akui mereka dengan ungkapan penunjuk kepada orang yang sama dengan saya. Ada persamaan, sama-sama manusia. Maka saya dengan orang lain itu saling menyapa. Tidak ada alasan untuk saling memusuhi.

    Saya lihat orang lain, butuh orang lain, ini NAFSU saya. Saya pelajari sifat orang lain, ketahui orang lain, kenal dia punya kemampuan, ini NALAR saya yang mengajar saya.

    Saya senang dengan orang lain, saya butuhkan bantuan orang lain, ini NALURI saya yang dorong saya. Saya sayang orang lain, biar dia musuhi saya juga saya berusaha damai dengan dia, saya tetap sayang dia karena dia itu orang baik, saya yang salah, saya minta maaf. Ini bisikan NURANI saya.

    Empat unsur dalam diri saya ini, NAFSU, NALAR, NALURI, NURANI, 4 N (‘Kwadran Bele’, 2011) adalah pemberian dari Pencipta kepada diri saya untuk ada sebagai manusia yang istimewa, unik, tidak ada duanya, dan bisa ada karena DIA, PENCIPTA, bisa ada karena ada orang lain, dia, engkau, kamu, mereka.  Tidak mungkin saya ada tanpa adanya orang lain.

    Bapa saya, dia. Mama saya, dia. Bapa dan Mamua, mereka. Om dan tanta, kamu itu saudara dan saudari dari Bapa dan Mama saya. Saya berhadapan dengan mereka semua, Bapa, Mama, Om, Tanta. Mereka semua ada peranan dalam adanya saya. Waktu saya lahir, katanya Om dan Tante juga hadir tolong Mama dan Bapa saya. Ini keluarga saya. Ada kakak saya, ada adik saya. Mereka semua saudara-saudari saya. Saya ada keluarga dekat, keluarga jauh. SAya ada teman sekolah, dulu dan sekarang ada teman kerja. Saya kenal tetangga, warga RT, RW, Kelurahan. Ada yang saya kenal, ada yang saya tidak kenal. Tapi saya dengan mereka disatukan dalam satu perkumpulan dari sudut pemerintahan, saya warga  RT, RW, Kelurahan sampai tingkat Negara dan Dunia. Dari sudut Agama, saya ada pemimpin agama dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi. Kepada mereka saya taat. Itulah saya. Dari sudut tempat tinggal, saya ada di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Negara Indonesia, Benua Asia, Dunia.

    Saya ada ini tidak atas kehendak saya sendiri. Saya tidak pernah pesan harus lahir dari Mama yang mana, di kota mana, pada waktu apa. Saya  ada dan terima adanya saya itu apa adanya. Tugas saya, akui diri sebagai saya dan akui orang lain sebagai dirinya yang sama dengan saya yang sama-sama manusia.

    Saya punya NAFSU untuk ada dengan segala daya untuk terus hidup, saya punya NALAR untuk pikir hari esok, saya punya NALURI untuk akrab dengan orang lain supaya aman dan dami, saya punya NURANI untuk mengasihi orang lain sebagaimana saya pun ingin dikasihi oleh orang lain supaya ada rasa bahagia. TUHAN tahu semua itu.

     

     

  • Sesama dari sudut Filsafat

     

    Sesama itu artinya sama-sama. Sesama binatang, sesama manusia. Seorang menganggap orang lain itu sama. Sama dalam arti apa? Kepintaran? Kuasa? Harta? Tidak. Sama bukan dalam arti fisik, bakat, atau status. Sama dalam arti nilai, hakikat, martabat. Dia manusia, saya manusia. Sama-sama darah merah. Ini ungkapan nekat, dangkal, tidak manusiawi. Binatang pun berdarah merah. Manusia sama bukan karena warna darah.

    Manusia sama karena sama-sama ada nilai yang sama, bayi sama nilainya dengan kakek. Perempuan sama nilainya dengan laki-laki. Nilai? Apa itu nilai? Ukuran? Harga? Tidak. Nilai itu hidup, kehidupan. Bayi dan kakek sama-sama hidup. Perempuan dan laki-laki sama-sama hidup. Maka bayi dan kakek adalah sesama. Perempuan dan laki-laki adalah sesama.

    Lalu hakikat. Apa lagi itu? Hakikat itu isi dari kehidupan. Saya manusia. Saya hidup. Dalam diri saya ada isi. Isi ini sama dengan isi dalam manusia lain. Dalam diri bayi, isinya sama dengan isi yang ada di dalam kakek. Isi yang ada dalam diri perempuan sama dengan isi yang ada dalam diri manusia laki-laki. Isi yang ada dalam diri orang kaya sama dengan isi yang ada dalam diri si gembel.

    Lalu martabat. Ah, apa lagi itu? Martabat itu jabatan? Bukan. Martabat itu urutan usia? Yang lebih tua martabatnya lebih tinggi dari yang lebih muda? Bukan. Martabat itu tingkat dalam urutan ciptaan. Batu itu benda yang paling rendah karena tidak ada kehidupan di dalamnnya. Batu benda mati.

    Tumbuhan lebih tinggi dari batu karena ada kehidupan, bisa tumbuh. Benda hidup.  Binatang lebih tinggi dari tumbuhan karena hidup, bisa berpindah dan ada perasaan yang umum dikenal dengan istilah ‘naluri’ atau ‘instink’. Manusia? Manusia itu benda mati yang punya kehidupan dan bisa bergerak, ada perasaan lalu ada akal, tambah lagi ada budi. Martabat ini dengan kata lain, harkat atau derajat. Manusia yang martabatnya paling tinggi.

    Nilai + Hakikat + Martabat ada dalam diri manusia secara sama, maka manusia dengan manusia yang lain disebut sesama, sama-sama. Kata Indonesia, sesama ini sangat tepat. Berdasarkan kesamaan inilah maka namanya manusia harus saling menghargai, saling menghormati, saling mengasihi. Dan tiga hal ini, ‘Nilai+Hakikat+Martabat’ ini manusia dapat dari mana? Bapa-mama? Leluhur? Itu turunan. Lalu turun dari mana? Itu asal-usul. Asal datang dari mana, usul datang dari mana? Jadi manusia ada dan itu berarti turun dari mana dan datang dari mana? Dari Yang Maha Ada. Dia Yang adakan, berarti Dia Yang ada hak atas manusia. Dan Dia inilah Yang tempatkan manusia di bumi ini dan sekali waktu akan kembali ke Dia.

     

     

  • Adat dari Sisi Filsafat

     

    Adat itu ada karena manusia hidup bersama. Tiap manusia ada NAFSU + NALAR + NALURI +  NURANI, 4 N (Kwadran Bele, 2011). NAFSU harus diatur, tidak bisa setiap orang ikut Nafsunya sendiri. Atur Nafsu itulah adat. NALAR itu berkembang dari orang ke orang, dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Pengetahuan dan pengalaman itu masuk wilayah Nalar dalam diri manusia. Hasil dari Nalar ini dibagikan dan dimanfaatkan secara bersama. Ini bahagian dari Adat.

    NALURI menuntut agar orang di sekitar saya itu menghargai diri saya. Begitu pun orang lain ingin saya menghargai mereka. Saling menghargai ini menjadi kebiasaan dan itulah Adat. NURANI menuntut adanya rasa kasih sayang terhadap sesama karena saya pun membutuhkan kasih sayang dari orang lain.

    Saling mengasihi ini muncul dari Nurani. Empat N ini terpadu dan secara serentak dimunculkan dan dipraktekkan dalam diri seorang, dalam keluarga, dalam hidup berkelompok yang kecil sampai kelompok yang besar, inilah adat, diperkuat lagi dengan istilah, adat-istiadat atau adat kebiasaan.

    Adat istiadat ini sesuai dengan keadaan alam sekitar, iklim dan mata pencaharian. Adat istiadat masyarakat nelayan di pantai berbeda dengan adat istiadat masyarakat petani di pegunungan. Adat orang desa lain dari adat orang kota. Ini situasi  tempat atau lingkungan. Adat juga sangat dipengaruhi oleh taraf pendidikan. Melalui pendidikan, manusia itu bergaul dan terbuka dengan kebiasaan orang di tempat lain.

    Sebagai contoh, seorang pria terpelajar di kota merasa sudah tampil modern dan sopan kalau berjas dan berdasi. Itu adat istiadat orang di Eropa. Tetapi karena dianggap itu busana orang terpelajar, bergengsi, maka ramai-ramailah orang di Indonesia pun berjas dan berdasi waktu acara resmi. Sementara itu pakain sarung atau kain tenun dianggap kuno atau kampungan.

    Adat kebiasaan itu diukur dengan akhlak. Akhlak atau perilaku itu mengikuti norma atau aturan yang berlaku di kalangan masyarakat di tempat dan waktu tertentu. Kalau perilaku seseorang di kalangan masyarakat tertentu lain dari yang lain, maka pribadi itu akan dicap tidak tahu adat atau melanggar adat. Atas dasar inilah setiap orang berperilaku sesuai dengan adat yang berlaku di masyarakat itu. Tidak bisa menjadi lain sendiri. Adat istiadat ini didasarkan pada dasar yang terdalam, ialah: ajaran dan tradisi agama. Setiap agama menegaskan bahwa aturan yang ada dalam agama itu berasal dari Tuhan. Maka siapa lagi yang mau membantah dasar dari segala dasar ini.

    Jadi dasar terdalam dari Adat adalah ajaran agama. Di atas ajaran agama inilah segala aturan berperilaku itu diletakkan. Masyarakat paling sederhana di pedalaman hutan belantara sekalipun mendasarkan adatnya pada ‘agama’ yaitu kepercayaan pada Yang Gaib. Aturan-aturan pergaulan antar manusia ditetapkan berdasarkan kepercayaan pada Yang Maha Tinggi ini. Sehingga kalau seseorang melanggar ketentuan Adat, maka pelaku itu dipersalahkan dua lapis: langgar adat dan langgar agama. Dia harus bertanggung jawab kepada masyarakat dan kepada Yang Maha Tinggi, Tuhan.

     

     

  • Filsafat Hati dan Jantung

     

    ‘Saya tidak sampai hati’. ‘Hati saya hancur’. ‘Hati saya gembira berbunga-bunga’. ‘Kamu itu tidak ada hati’.  Ini berbagai ungkapan yang memakai kata ‘hati’. Orang Inggris, ‘heart’ itu ada dua arti, ‘hati’ dan ‘jantung’. Kita di Indonesia membedakan, dua organ tubuh ini memang beda, dan sumber perasaan pun berbeda. ‘Hati’ dipakai untuk ungkapan perasaan ‘kasih sayang’, ‘Jantung’ dipakai untuk keakraban, kedekatan. ‘Jantung hati saya’, ‘Jantung saya berdebar’, ‘Si jantung hati’, ‘Kena di jantung’, ini semua ungkapan tentang perasaan kedekatan seseorang dengan orang lain. Kalau perasaan belas kasih, diungkapkan dengan ‘hati’.

    ‘Ini kena di hati saya’. Ungkapan ini gambaran NAFSU, yang sesuai dengan keinginan indrawi. ‘Hati saya tidak tenang’. Ini menyangkut hitung-hitungan, pengetahuan tentang suatu keadaan. Ini gambaran pergolakan NALAR. ‘Wah, sampai hati kamu’. Ini menyangkut nasib sesama yang diperlakukan tidak adil.

    Masuk dalam ranah NALURI. ‘Saya terima dengan segenap hati’. Ini menyangkut NURANI. Secara filsafat, hati itu mengungkapkan perasaan kasih sayang terhadap sesama. Setuju (NAFSU), sepikir (NALAR),  senasib (NALURI), sehati (NURANI). Semua ungkapan ini menyangkut diri pribadi kita yang tampil dalam keutuhan, sebagai orang yang baik, berbudi luhur, mempunyai harga diri, ada martabat sebagai manusia berakal budi, berhati nurani murni.

    Ungkapan yang lebih luhur ditujukan oleh kita manusia kepada Yang Maha Tinggi dengan  kata-kata, ‘Yang Mahabaik’, ‘Yang Maharahim’, ‘Pengasih Penyayang’. Sekarang ada pertanyaan filsafat, ‘Mengapa kita manusia tidak bertindak seperti Pencipta kita?’ Kebaikan, Kerahiman, Kasih sayang ditanamkan dalam diri kita manusia.

    Mengapa kita tawar-menawar dalam melanjutkan ini semua kepada sesama kita? Kalau kita konsekuen dengan filsafat ‘hati dan jantung’, maka sesama kita yang ada ‘hati dan jantung’ itu harus kita tempatkan sama tinggi sama rendah dengan diri kita. Tidak pernah boleh yang namanya kita manusia ini saling merendahkan, saling menciderai, apa lagi saling membunuh. Perang tanding antar kampung, perang dingin, perang panas, perang antar negara, perang dunia, tidak mungkin dan tidak boleh terjadi kalau filsafat ‘hati dan jantung’ ini dilaksanakan oleh setiap pribadi manusia, keluaga, kelompok, suku dan bangsa sedunia.

  • “MOT” Tempat Upacara Agama Asli Suku Buna di Timor

     

    Agama asli suku Buna’ di Pulau Timor itu adalah Agama ‘Hot Esen’. Sampai sekarang, tahun 2020, agama asli ini masih hidup dan dihayati oleh suku Buna’ yang beranggotakan sekitar seratus ribu orang. Mereka menghuni wilayah pedalaman Pulau Timor, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Masyarakat suku Buna’ ini 100 % penganut Agama Kristen Katolik. Leluhur mereka berkenalan dengan Agama Katolik sejak tahun 1880-an. Sampai tahun 1980, semua sekolah dari SD sampai SMP yang ada milik Gereja Katolik. Baru pada tahun 1980 ke atas  ada satu SMP Negeri dan sekarang sudah ada 2 SMP Negeri, 1 SMA Negeri dan 1 SMK Negeri. Tapi semua Guru dan Siswa/i beragama Katolik. Ini gambaran tentang situasi masyarakat suku Buna’.

    Di setiap kampung ada ‘Mot’, tempat upacara Agama Asli, Agama ‘Hot Esen’, yang percaya kepada ‘Hot Esen’, Matahari Yang Tinggi, gelar untuk ‘Yang Maha Tinggi’, Pencipta segala sesuatu. Di tengah kampung, ada susunan batu dalam bentuk lingkaran, garis tengah sekitar 50 meter. Bangunan ‘Mot’ ini dibuat lebih tinggi dari rumah-rumah yang dibangun dalam bentuk lingkaran sekitar ‘Mot’. Di tengah ‘Mot’ ini ada ‘Bosok’, susunan batu, tinggi sekitar 1 meter, garis tengah 2 meter dan di tengah ada tiang batu yang ditanam lambang leluhur. Tiang batu ini rata-rata berdiameter 20 cm dan tinggi 1 meter.

    Semua acara adat diadakan di ‘Mot’, dan persembahan diletakkan di ‘Bosok’. Di dalam pelataran ‘Mot ‘ biasa ada pohon beringin dan di batang beringin ini banyak digantung tanduk kerbau dan rahang babi dari hewan-hewan ini yang dikurbankan waktu upacara keagamaan. Upacara agama asli yang sampai sekarang dirayakan, ialah: 1. ‘An Gene’ (Upacara mohon berkat buka kebun baru), 2. ‘Paol Sau’ (Syukur panen jagung), 3.  ‘Hohon a’ (Syukur Panen Padi),

    1. ‘Barut sau’ (Syukur panen kemiri), 5. ‘Pu sau’ (Syukur panen pinang). Semua upacara ini berkaitan dengan pertanian. Persembahan terdiri dari hasil kebun dan hewan untuk dibunuh, hatinya dipersembahkan di ‘Bosok’, dagingnya dijadikan lauk perjamuan dan ada bahagian yang dibagi-bagikan berdasarkan suku rumah untuk dibawa pulang dan dimakan bersama sambil menghimpun anggota suku dan ketua suku memberikan petuah-petuah adat.

    Di  ‘Mot’ ada pemimpin ibadat, disebut ‘Makoan’. Dia ahli tutur adat dan ahli doa. Riwayat leluhur diungkapkan dan doa-doa kepada ‘Hot Esen’ didaraskan dalam bentuk syair yang dilagukan. Semua yang hadir menjawab dalam bentuk refrein, jawaban singkat sebagai tanda meng-amin-i apa yang diungkapkan oleh ‘Makoan’  kalimat demi kalimat. Bangunan ‘Mot’ ini pada hari-hari biasa tidak dipakai untuk berkumpul. Tempat ini dianggap sakral dan yang paling sakral yaitu ‘Bosok’ di tengah ‘Mot’.

    Inilah filsafat keagamaan orang suku ‘Buna’ yang percaya bahwa leluhur mereka ada di hadapan Yang Maha Tinggi di Tempat Yang Tinggi, Langit berlapis tujuh. Mereka percaya bahwa ‘Hot Esen’ itu TUHAN Yang ada di Surga dan leluhur mereka bersama para Santu dan Santa (Katolik) mempersembahkan doa-doa permohonan dan syukur mereka kepada TUHAN. Mereka-mereka ini pada hari Minggu merayakan Misa di gereja sebagai orang Katolik di bawah pimpinan Imam yang menjadi Pastor (Gembala) pimpinan Umat di Paroki.

  • Agama Dianut dan Dihayati

     

    Penganut dan penghayat Agama itu ada beda. Ini kesaksian saya sebagai penulis untuk menjelaskan dua istilah ini, penganut dan penghayat. Di KTP saya tertulis, Agama: Katholik. Saya penganut Agama Katholik tapi penghayat, dua Agama, Katholik dan Agama Asli, ‘Hot Esen’.

    Agama saya dua: Katolik dan ‘Hot Esen’. Ini soal penghayatan. Penganut, satu Agama. Di mana perbedaannya?

    Orang tua saya, bapa dan mama kandung, hidup di pedalaman Pulau Timor, dari Suku Buna’. Mereka percaya pada ‘Hot Esen’ sebagai Wujud Maha Tinggi. Bahasa Buna’, ‘Hot’ = Matahari; ‘Esen’ = Atas, di atas, di ketinggian. Saya dididik dalam kepercayaan ini, agama asli, ‘Hot Esen’ yang oleh para misionaris Katolik dicap ‘Kafir’, ‘Gintiu’ dari kata Latin, ‘Gentilis’ = orang asli. Orang tua menyekolahkan saya di sekolah katolik dan masuk ke Seminari, itu sekolah mulai dari tingkat SMP, calon Imam. Tahun 1959, saya masuk Seminari Menengah dan berharap jadi Imam.

    Orang tua saya, Bapa dan Mama yang sangat berpengaruh sebagai tokoh adat dan agama asli di kampung, Lakmaras  (sekarang masuk Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur).

    Pada tahun 1960, atas dasar saya sudah sekolah di Seminari, calon Imam, maka Imam yang adalah Pastor (Gembala) di Paroki Nualain yang meliputi kampung saya, mengajak orang tua saya untuk dibaptis menjadi katolik. Orang tua saya setuju dan dibaptislah mereka, Mama (almarhumah) mendapat nama Baptis, Agnes dan Ayah (almarhum) diberi nama Petrus. Mereka jadi serani, tidak ‘kafir’ lagi. Sampai meninggal dunia, tetap serani, dimakamkan secara katolik dan tetap diupacarakan juga sesuai agama asli, ‘Hot Esen’.

    Selama orang tua masih hidup, upacara agama asli tetap dilaksanakan oleh saya. Upacara agama Kristen Katolik juga tetap dilaksanakan. Sampai sekarang, tahun 2020, saya kembali ke kampung halaman saya, Lakmaras, upacara ‘adat’ tetap dilaksanakan.

    Di rumah adat ada tiang agung. Di kaki tiang agung ini ada batu ceper, di atasnya setiap saat, diletakkan persembahan, sirih-pinang, sejemput makanan masak, seiris daging matang kalau ada. Ini untuk para leluhur supaya mereka teruskan ke ‘Hot Esen’.

    Sekarang para ponakan dan cucu-cece saya sudah katolik, tapi upacara ‘adat’ tetap dilaksanakan. Kalau musim panen, jagung hasil pertama dipersembahkan secara adat di kampung, dan secara serani dibawa ke gereja dan diletakkan di kaki Altar. Kalau ziarah ke kubur, sirih pinang diletakkan di atas kubur (adat dan Agama ‘Hot Esen’), lilin juga dinyalakan di sana (Katolik). Ini dualisme? Sinkretisme? Tidak.

    Menghayati agama asli dan agama katolik itu satu kesatuan dalam diri pribadi saya. Menganut itu satu Agama, Katolik. Menghayati itu sangat pribadi. Iman kepada Yang Maha Tingi diperkuat, ada doa, persembahan dan perilaku diajarkan sama dalam Agama Asli dan Agama Katolik. Keduanya saling melengkapi dalam diri saya sebagai penghayat.

     

     

  • Filsafat Kerja

     

    Kerja itu kegiatan manusia. Hewan juga kerja, tapi itu gerakan otomatis. Manusia kerja  karena ada dorongan Nafsu, pertimbangan  Nalar, pengaruh Naluri dan bisikan Nurani.(Kwadran Bele – 4 N – 2011). Kerja itu kegiatan manusia setiap hari. Ada lima kegiatan sebagai bahagian dari kerja. Untuk diingat dengan mudah, kerja manusia itu diibaratkan dengan lima jari. Ibu jari, simbol kegiatan yang pertama, Sembahyang, sembahyang sendiri atau bersama. Jari telunjuk, simbol kegiatan kedua, Sabda. Petunjuk Tuhan.

    Baca, renungkan dan laksanakan Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci dan tidak tertulis dalam alam semesta. Kegiatan ketiga, ibu jari, yang paling tinggi, simbol dari Sujud atau Ibadat.  Kegiatan keempat, disimbolkan dengan jari manis, belajar. Belajar apa saja yang baik, benar dan bagus untuk kehidupan manusia. Dengan belajar manusia menjadi pintar dan trampil. Kegiatan yang kelima, disimbolkan dengan jari kelingking, Bekerja. Jadi kerja manusia yang terdiri  lima kegiatan ini disingkat: 3 S + 2 B, Sembahyang + Sabda + Sujud + Belajar + Bekerja.

    Kerja manusia ini setiap hari. Lewat kerja ini manusia hidup. Hidup yang bertanggung-jawab adalah kerja dan kerja itu melaksanakan  lima kegiatan ini.  Lima kegiatan ini sama nilainya dan saling melengkapi. Kalau dinilai dengan angka, maka lima kegiatan ini tiap-tiapnya mempunyai nilai 20 dan dikalikan lima, 100. Dasar manusia ini ada keterbatasan, maka tidak mungkin tiap hari dapat nilai 100. Ada kurang di sana-sini. Yang penting jaga supaya jangan sehari pun dapat nilai 50 atau di bawah itu. Harus 60 ke atas. Syukur-syukur kalau dapat nilai 90.

    NAFSU manusia itu ada untuk orang khusuk Sembahyang, taati Sabda, bersembah Sujud, tekun Belajar, rajin Bekerja.

    NALAR manusia itu memampukan manusia untuk pahami arti dan makna Sembahyang, simak isi Sabda, pahami seluk-beluk Sujud syukur, telusuri lika-liku ilmu dengan Belajar dan tekun tabah dalam Bekerja.

    NALURI mendorong manusia untuks sendiri atau bersama orang lain selalu Sembahyang, sama-sama hayati Sabda, sama-sama Sujud syukur, sama-sama Belajar dan gotong-royong  Bekerja (3 S + 2 B).

    NURANI membisikkan secara halus dalam relung hati manusia, hiburan karena Sembahyang, kekuatan karena Sabda, damai karena Sujud, mantap karena Belajar, tenteram karena Bekerja. Ini semua kait mengait sebagai hasil dari kerja.

    Ibarat segi-tiga, sisi kanan itu Sembahyang dan Sabda, puncaknya Sujud, sisi kiri itu Belajar dan Bekerja. Lima kegiatan ini harus serentak dilaksanakan dalam arti waktu yang berbeda tapi tidak boleh diabaikan salah satunya. Dalam hidup ini manusia mengejar kebahagiaan dengan kerja tulus dan kudus.