Blog

  • Hidup Jujur (5)

     

    Hibur. Hibur diri, hibur sesama, saling menghibur. Hiburan. Dalam hidup ini hiburan itu sangat penting. Tidak mungkin hidup tanpa hiburan. Hiburan itu apa? Muka berungut jadi berseri. Hati gulana jadi gembira. Tadinya tersudut lalu tertawa. Itu hasil hiburan. Dalam hidup ini ada urutan kebutuhan. Sandang (1), Pangan(2), Papan(3), Pendidikan (4), Kesehatan, (5) Hiburan (6). Urutan ini sudah lazim, tidak perlu dipertanyakan lagi. Cukup diketahui dan dialami saja.

    Enam kebutuhan, saling melengkapi. Urutannya, 3-2-1. Tiga itu kebutuhan pokok, dua itu kebutuhan penting, satu itu kebutuhan perlu. Urutannya sudah begitu, tidak boleh dibolak-balik. Hidup ini sengsara karena kita sering suka utak-atik, bolak-balik urutan kebutuhan ini. Bayangkan, kalau hiburan diutamakan lalu pendidikan diabaikan. Jadi dungu. Kesehatan diutamakan tetapi makan-minum diabaikan. Tambah kurus dan kering. Pendidikan diutamakan abaikan papan atau perumahan. Gagal. Ini contoh tentang pentingnya urutan kebutuhan yang harus diupayakan oleh setiap manusia, pribadi dan kelompok.

    Nafsu manusia itu ada dan diberikan Pencipta kepada kita manusia untuk penuhi kebutuhan ini sesuai urutan dan paling akhir, hiburan. Tapi hiburan tidak boleh lewat batas. Nyanyi dan menari semalam suntuk sampai pagi dinihari, ini tidak sehat lagi.

    Nalar diberikan untuk pertimbangkan hiburan itu baik atau tidak, sehat atau tidak. Tidak boleh hiburan itu dibuat sampai bunuh diri. Narkoba adalah salah satu contoh hiburan bunuh diri. Ini karena Nalar disalah-arahkan.

    Naluri ada untuk cari hiburan, hibur diri dan sesama. Kalau hibur diri saja tanpa pedulikan sesama, ini namanya hiburan egois. Hiburan tidak boleh lawan Naluri, celakakan sesama.

    Nurani ada untuk saring hiburan itu santun atau tidak. Semua ini satu kesatuan, Nafsu cari hiburan, Nalar pertimbangkan hiburan, Naluri hidangkan hiburan, Nurani saring hiburan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jangan lalai hibur diri dan sesama. Hiburan yang baik, benar dan bagus, berkenan pada sesama dan TUHAN.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (4)

     

    KKN. Tiga huruf ini lagi ramai mengisi telinga, menghiasi berbagai media. Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Kita tahu, Korupsi itu dari kata Latin, ‘co-rumpere‘, menghancurkan bersama. Kolusi, dari kata Latin, ‘co-ludere‘, bermain bersama. Nepotisme, dari kata Latin juga , ‘nepos‘, cucu, ponakan.

    Istilah yang sedang ramai sekarang sebagai kejatahan itu mempunyai arti: Korupsi, penyalah-gunaan milik umum, entah barang atau uang untuk kepentingan sendiri sehingga disebut merusak, menghancurkan bersama. Kolusi: bermain dalam arti negatif, bermufakat untuk membuat tipuan dan menggelapkan milik umum.

    Nepotisme: mengutamakan keluarga, orang dekat untuk menduduki posisi tertentu, biar tidak cocok dan layak untuk posisi itu, demi melanggengkan tindakan mencuri barang atau uang milik umum.

    Orang-orang sederhana di kampung, petani-peternak mempunyai ungkapan, ‘Saya biar miskin, makan hasil tangan sendiri, sepuluh jari ini’. Tidak curi. Kalau curi dan kedapatan, sangat malu seumur hidup dan menimpa menimpa turunan. Orang Latin punya pepatah, ‘Res clamat dominum’, barang berteriak kepada tuannya.

    Kalau barang orang dicuri biar itu benda mati seperti uang, benda hidup, tanaman atau hewan, ‘berteriak’ mencari tuannya. Sang ‘pemilik’ baru yang tidak sah, akan menderita lahir bathin karena hak orang lain itu bergejolak dalam dirinya, mengganggu tubuh dan jiwa.

    Jujur. Ini kunci untuk tidak KKN. Jujur itu sederhana sekali: ada kecocokan antara pikiran, perkataan dan perbuatan dalam hal yang baik. Kalau salah satunya buruk, maka hasilnya jahat.

    Pikiran baik, perkataan dan perbuatan buruk, yah, buruk. Pikiran baik, perkataan jelek, perbuatan baik, tetap jelek. Pikiran baik, perkataan baik, perbuatan jelek, yah, jelek juga. Lebih fatal kalau tiga-tiganya jelek.

    Pikiran, perkataan, perbuatan kita manusia ini muncul dari empat unsur dalam diri kita. Empat unsur itu: Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. Kita manusia berupaya untuk memiliki dan menikmati barang atau hal apa pun, muncul karena ada dorongan dan keinginan dari Nafsu. Dalam diri kita ada Nalar yang siap beri pengetahuan dan pengalaman untuk memutuskan dorongan Nafsu itu boleh diikuti atau tidak.

    Kalau Nalar setuju karena baik, maka Naluri langsung beri pengawasan untuk ingat sesama. Jangan merugikan sesama, harus menguntungkan sesama. Hasil kerja Nafsu, Nalar dan Naluri inilah disetujui oleh Nurani kalau baik atau ditolak kalau jahat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Diri pribadi kita melawan Nurani, maka kita terjerumus dalam kekeliruan. Kalau diri pribadi kita terima dan laksanakan keinginan Nafsu secara teratur, pertimbangan oleh Nalar yang tepat, diterima oleh Naluri dengan gembira dan diresap oleh Nurani secara tenang, maka terjadilah perbuatan yang baik dan saleh. Kalau seluruh rentetan aksi itu penuh dengan kasak-kusuk, Nafsu menggelora,

    Nalar menggurita, Naluri menggerutu dan Nurani mengganjal, maka diri kita hidup tidak tenang, makan di cafe kerongkongan kering, berbusana gagah hati galau, tidur di kasur otak kabur.

    Jujur berarti ikut Nafsu secara teratur dan terukur. Terima pertimbangan Nalar yang benar. Laksanakan gerakan Naluri secara santun. Terapkan bisikan Nurani secara mantap. Inilah yang dikehendaki oleh PENCIPTA kita, hasilnya: Bahagia, baik di dunia maupun di Surga kelak.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (3)

     

    Nafsu ada dalam diri manusia untuk mencari ilmu dan menimba pengalaman. Ini yang disebut pendidikan. Nafsu juga ada untuk mencari upaya  hidup segar dan sehat. Ini termasuk kebutuhan untuk kesehatan. Pikiran sehat ada dalam tubuh yang sehat. Erat berkaitan. Pikiran sehat artinya Nafsu untuk mencari dan menimba ilmu dikendalikan sungguh-sungguh. Tubuh sehat artinya segala kebutuhan sandang, pangan, papan itu dipenuhi secukupnya, tidak sampai kekurangan dan tidak perlu kelebihan. Pas-pas. Ini yang disebut hidup wajar, hidup Jujur.

    Nafsu menekuni ilmu pengetahuan itu baik dan terpuji. Setiap manusia ingin tahu apa saja yang ia butuhkan. Ingin tahu ini muncul dari nafsu cari tahu. TUHAN beri Nafsu dalam bentuk dorongan dan kemampuan kepada kita manusia untuk mengetahui mana benar dan mana salah. Pengetahuan bisa diperoleh melalui pendidikan. Jadilah manusia pintar, cerdas, terdidik. Melalui pendidikan kita manusia mengetahui dan mengembangkan bahan-bahan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Ini karya Nalar. Kalau kebutuhan pokok ini terpenuhi dengan baik maka hidup kita akan sehat.

    Nafsu untuk pintar dan sehat harus diatur oleh Nalar. Tidak boleh pintar untuk memperdaya sesama. Tidak boleh sehat untuk mencelakakan orang lain. Kalau sudah pintar dan sehat, setiap kita harus gunakan untuk bantu orang lain. Ini karya Naluri. Kerjasama antara Nafsu, Nalar dan Naluri ini diteduhkan oleh Nurani. Hasilnya, hidup pintar dan sehat yang menjadikan setiap kita mempunyai karakter yang baik dan berguna untuk diri dan sesama. Ini yang dikehendaki oleh TUHAN, SANG PENCIPTA kita. (4N, Kwadran Bele, 2011)

    Nafsu untuk pintar dan sehat ini kalau diselewengkan maka manusia itu akan menjadi seorang penipu ulung, perusak kawakan. Tindakan memakai salah Nafsu untuk pintar dan sehat itu yang dikenal dengan istilah KKN, Korupsi-Kolusi-Nepotisme. Pengetahuan diselewengkan akibatnya orang salah menerapkan ilmu dengan tahu dan mau sehingga ada penderitaan di mana-mana. Sehat itu perlu tapi menjadi sehat untuk menyakiti sesama, sama sekali tidak diperkenankan.

    Nafsu menjadi cerdas dan sehat itu anugerah dari TUHAN untuk saling menyejahterahkan antara kita sesama manusia. Jadilah cerdas, jadilah sehat. Badan sehat, otak cerdas, pergaulan santun, hati tenteram. Itu kehendak TUHAN bagi kita manusia yang hidup di bumi ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (2)

     

    Nafsu. Itu keinginan, dorongan dalam diri kita manusia untuk menikmati apa saja. Dorongan dan keinginan paling pertama, mau nikmati tiga hal ini, sandang, pangan, papan. Sejak bayi, manusia diberi sandang supaya tidak kedinginan. Semakin besar, mulai pilih-pilih sandang model apa, warna apa. Ini wajar. Biasa disebut, sandang. Dorongan lain yaitu mau nikmati makanan dan minuman. Ini disebut pangan. Dorongan selanjutnya, mau aman dan nyaman dalam tempat khusus, kamar, rumah. Itu yang disebut  papan. Sudah lazim tiga dorongan dan kebutuhan ini disebut kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan. Untuk nikmati  ini semua, harus ada Nafsu. Nafsu dalam arti positif, keinginan yang wajar dan dorongan yang baik untuk miliki dan nikmati semua kebutuhan.

    Nafsu ada untuk menikmati berdasarkan dorongan ini  supaya kita manusia bisa hidup. Sandang tidak ada, bisa mati kedinginan. Pangan tidak ada, bisa mati kelaparan. Papan tidak ada,bisa mati keleleran. Supaya hidup, kita harus memperoleh tiga kebutuhan ini sebagai milik yang kita nikmati dengan bebas tanpa beban. Nafsu juga ada untuk menikmati hal-hal lain seperti pendidikan dan kesehatan. Nafsu juga ada untuk menikmati hiburan.

    Kita manusia membutuhkan jenis-jenis kebutuhan ini. Kebutuhan pokok, sandang, pangan dan papan. Kebutuhan penting, pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan perlu, hiburan. Jadi ada urutan: pokok, penting, perlu. Sering tiga macam kebutuhan ini dibolak-balik, kebutuhan ‘perlu’ diutamakan, kebutuhan ‘pokok’ diabaikan. Akibatnya, kesasar. Ada juga tindakan tidak terpuji, memperoleh dan meniktati kebutuhan dengan cara yang jahat: Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Hasilnya, ketidak-tenangan dalam bathin.

    Nafsu untuk memiliki dan menikmati apa saja, boleh dan harus. Tetapi harus diingat, Nafsu harus dikendali oleh Nalar, dibatasi oleh Naluri dan diteduhkan oleh Nurani. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Satu hal yang sangat-sangat penting, kita manusia ini boleh mengingini dan memiliki kebutuhan pokok, penting dan perlu, dengan cara yang jujur. JUJUR. Tidak lewat batas ikuti Nafsu, tidak tipu-tipu lawan Nalar, tidak egois lawan Naluri dan tidak munafik lawan Nurani. Kendali Nafsu, segarkan Nalar, pertimbangkan Naluri, perhatikan Nurani.  Inilah yang disebut karakter pribadi yang baik di hadapan sesama dan TUHAN. Hidup jujur yang ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (1)

     

     

    Akhir-akhir ini ramai orang bicara, dengar dan lihat praktek KKN. Korupsi,  Kolusi,  Nepotisme. Ini penyakit masyarakat. Ada penyebab ada akibat. Ada pelaku ada korban.

    Korupsi itu dari kata Latin, ‘co-rumpere’, menghancurkan  bersama. Contoh, menghancurkan ‘uang’. Apa itu? Uang itu untuk kepentingan umum, seratus juta. Dua orang, pejabat dan bendahara, bermain sehingga milik umum seratus juta itu hilang lima puluh juta. Mereka dua pakai untuk kepentingan diri. Ini contoh korupsi. Menghancurkan diri karena tidak jujur dan menghancurkan masyarakat karena kepentingan masyarakat tidak terpenuhi. Tidak jujur.

    Kolusi dari bahasa Latin juga, ‘co-ludere’, bermain bersama. Contoh di atas itu, sang pejabat bermain dalam arti curang dengan bendahara. Mereka dua bermain uang. Tipu orang. Sembunyi-sembunyi curi uang milik umum. Berusaha supaya orang lain tidak tahu. Tidak jujur.

    Nepotisme dari kata Latin juga, ‘nepos’, cucu, kemanakan. Pilih keluarga atau kerabat dalam menduduki jabatan, biar tidak mampu. Akibatnya pekerjaan tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Orang lain lebih mampu, tidak dipilih. Utamakan keluarga. Tidak jujur terhadap orang lain. Dalam kasus di atas, pejabat dan bendahara, berkeluarga. Atau kenalan dekat. Saling percaya untuk sembunyikan perbuatan mencuri.  Menggelapkan uang milik umum.

    Tiga kata ini harus dihindari karena sangat berbahaya. Korupsi, menghancurkan. Kolusi, mempermainkan. Nepotisme, mengutamakan diri atau keluarga sendiri.  Tiga kata ini adalah bibit penyakit yang menyakiti diri dan sesama. Tuhan tidak berkenan dengan orang yang memelihara penyakit ini lalu menyengsarakan diri dan sesama. Dengan hidup jujur, penyakit ini bisa dicegah.

    Penyakit ini jadi penyakit masyarakat. Ini terjadi karena Nafsu, keinginan tidak terkendali. Nalar yang benar tidak digunakan. Naluri yang baik diabaikan. Nurani yang tulus diinjak-injak. Empat unsur dalam diri manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani (4N), disalah-gunakan.

    TUHAN, PENCIPTA kita manusia menganugerahkan 4N ini kepada kita manusia untuk tujuan yang baik. Kita manusia harus wujudkan empat N ini untuk membangun diri, sesama dan alam sekitar. Kalau salah wujudkan maka terjadilah KKN. Hidup Jujur adalah hidup yang menampilkan 4N secara benar, baik dan bagus. Itu dinamakan karakter yang baik. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita harus hidup jujur. Pikir baik, berkata sopan, berbuat ikhlas, bergaul santun membuat hati tenteram. Hidup jujur.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Ganti

     

     

    Ganti berarti yang sudah ada berlalu dan datang yang baru. Yang sudah ada diambil dan diberi yang baru. Biasanya yang lama diganti dengan yang baru,  yang lebih baik. Kalau yang baik diganti dengan yang buruk, tanda tanya, mengapa. Ada kebiasaan, tahun lama diganti dengan tahun baru. Waktu berganti. Tempat berganti. Orang berganti. Yang mengganti dan yang diganti ada bersama dengan keadaan yang berbeda. Tidak sama lagi. Yang lama, lama. Yang baru, baru.

    Kita manusia ini ada Nafsu, suka yang baru terus. Pakaian lusuh diganti dengan yang baru. Ada Nalar untuk ketahui  dan alami yang baru. Rasa gembira muncul dari pengetahuan baru, pengalaman baru. Naluri kita suka pertemuan baru, sapa menyapa secara baru sehingga ada kebiasaan, selamat pagi sesudah malam, sesudah malam selamat pagi. Jam berganti jam, hari berganti hari, bulan, tahun, abad dan seterusnya. Silih berganti. Kalau untuk generasi manusia, ada peribahasa, ‘patah tumbuh, hilang berganti, mati satu  ganti seribu’. Ini kerja Naluri yang tidak puas dengan yang lama dan puas dengan yang baru. Nurani kita selalu rindu untuk bahagia dari saat ke saat. Cari damai dan terus damai ke arah bahagia. Ini karya Nurani.

    Ganti itu terjadi untuk memenuhi keinginan Nafsu cari senang, Nalar yang mendulang ilmu dapat pengetahuan dan beri kegembiraan. Naluri juga cari pergaulan baru untuk ada rasa puas. Nurani bergejolak untuk cari bahagia.

    Empat N dalam diri manusia mencari senang, gembira, puas dan bahagia. Senang sesaat, gembira bertahan  lama, puas bertahan lebih lama dan bahagia itu abadi. Ini ada anak tangga, senang pertama, gembira kedua, puas ketiga, keempat yang tertinggi, bahagia. Keempatnya sambung menyambung menjadi satu.

    Ganti berganti itu terjadi demi adanya empat hasil dari empat unsur dalam diri manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011). Siapa yang suka ganti-mengganti itu? TUHAN. DIA Yang mengganti dengan yang selalu baru untuk menyenangkan manusia, menggembirakan kita, memuaskan kita  dan membahagiakan kita ciptaanNya yang paling utama.

    Aneh kalau kita tidak syukuri pergantian demi pergantian, entah itu waktu, tempat atau keadaan. Hidup yang sementara ini akan diganti dengan hidup yang abadi. Itu dibuat oleh TUHAN.

     

     

     

     

     

     

  • Hasil

     

    Kalau usaha kita manusia berhasil, maka hal-hal ini yang terjadi. Kalau keinginan Nafsu tercapai, biasa kita ucap terimakasih. Kalau Nalar menambah pengetahuan baru, kita dapat ucapan, hebat. Kalau Naluri kita menemui yang kita rindu maka kita saling mgucapkan salam. Kalau Nurani kita mencapai satu situasi tenang dan damai, tercetuslah ucapan syukur tak terhingga. Terimakasih, hebat, salam, syukur adalah empat hasil,  hadiah yang kita peroleh lewat Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup itu mengejar hasil dan hasil itu adalah empat ini: terimakasih. Nikmati makanan biar hanya sedikit,  pemberi dan penerima saling mengucapkan terimakasih. Ini pemenuhan keinginan Nafsu. Kalau jerih payah Nalar tercapai dengan penemuan pengetahuan baru, ungkapan yang diperoleh ialah, hebat. Bertemu dengan sesama, hasil dorongan Naluri,  langsung terlontar ucapan salam. Nurani memperoleh ketenangan dan kedamaian, muncul dengan sendirinya rasa syukur.

    Kalau empat macam hasil ini tidak diperoleh, apa gunanya hidup. Sang PEMBERI hidup membuat manusia itu hidup dan menghasilkan setiap saat ungkapan terimakasih, pernyataan hebat, pemberian salam dan ppengucapan syukur.

    Hidup ini untuk itu. Tidak pernah orang mengucapkan terimakasih atas perampasan hak untuk memperoleh makan-minum. Yang merampas menyalah-gunakan Nafsu dan yang dirampas haknya terganggu harapan Nafsunya. Nalar kalau disalah-arahkan, maka terjadilah tipu-menipu. Kata hebat, acungan jempol tidak terjadi. Kecewa dan marah menimpa penipu dan tertipu. Naluri selalu mendorong untuk bertemu dan saling memberi salam. Pencuri dan perampok tidak pernah memberikan salam kepada sasarannya. Sumpah serapah yang akan terjadi antar sesama manusia. Nurani kalau diganggu, maka pengganggu dan yang diganggu sama-sama saling kutuk-mengutuk.

    Kalau hal-hal negatif ini yang terjadi, maka kacau-balaulah dunia ini. Dunia kehilangan terimakasih, yang hebat tidak muncul, salam tak terucap, syukur tak terungkap.

    Terimakasih, teman! Wah, hebat saudara! Aduh, salam saudaraku! Syukur, TUHAN. Inilah wajah dunia yang seharusnya terjadi, bukan sebaliknya, bermuram-durja. Ayoh, gembira ria dalam dan bersama sesama di bawah naungan TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

     

     

  • Balik

     

     

    Balik. Bolak-balik. Buang waktu dan tenaga. Jalan  satu kilometer  baru balik berarti jalan tiga kilometer. Pergi satu kilometer, balik satu kilometer, pergi lagi satu kilometer. Hidup ini sering begitu. Kelalaian, kesalahan sama dengan jalan balik.

    Bolak-balik. Hidup ini jalan dan berjalan. Kita sudah diberi jalan dan kemampuan untuk berjalan oleh PENCIPTA dan jalan ikut saja jalan itu.  Pasti sampai ke tujuan. Kita salah jalan, balik lagi ke jalan yang benar.

    Saling ajak ke arah yang salah, balik lagi. Ini yang sering disebut salah jalan atau sesat di jalan. Padahal jalan hidup ini lurus, mulus, rata, tidak berliku-liku. Kita sendiri yang buat lekak-lekuk.

    Aneh kalau TUHAN buat jalan bagi kita, kekasih ciptaan-Nya untuk jalan asal jalan, belok-belok untuk melelahkan, pasang arah yang salah agar tersesat. Tidak. Tidak mungkin TUHAN berbuat begitu. Lalu?

    Nafsu kita diberi TUHAN untuk selalu ingin berjalan di jalan yang lurus itu. Makan supaya kenyang, sehat, hidup. Makan liwat batas, inilah  jalan lewat arah yang salah. Sakit dan perawatan, itulah bolak-balik.

    Nalar kita diberi cerah secerah siang terang, tapi kita sengaja tutup mata, pilih pengetahuan dan pengalaman yang mengelirukan diri dan sesama. Salah arah.

    Naluri kita diberi TUHAN untuk jalan bersama sesama, bantu-membantu, tolong-menolong seumpama jadi ke arah tujuan hidup yang bermanfaat. Sering sendiri pilih sesama yang salah, saling mengajak ke arah yang salah, menyimpang jauh, kalau sadar baru balik.

    Nurani kita diberi TUHAN untuk menyadari bahwa jalan di jalan itu tidak sendirian, tetapi didampingi oleh begitu banyak penolong, roh-roh baik  yang juga disebut Malaikat. Kesadaran ini ada dalam Nurani.

    Tapi kalau Nurani tidak diindahkan lagi bisikannya, maka pasti jalan ke arah yang salah malah berlawanan dengan arah yang dituju.  (4N, Kwadran Bele 2011).

    Balik di jalan karena ‘4N’ ini tidak dimanfaatkan sesuai tujuannya. Bolak-balik. Keletihan yang dicari sendiri. Syukur kalau tidak tersesat. TUHAN, PENCIPTA kita sudah tetapkan jalan, atur arah, tuntun kita. Jalan tetap ke arah yang itu. TUHAN di sana.

     

     

     

  • Ikut

     

    Ikut, mengikuti, pengikut, ikutan, ikut-ikut, berikut. Inilah kekayaan bahasa Indonesia. Dari satu kata, ikut, bisa diturunkan kata-kata sampai enam kata yang mempunyai isi dan makna berbeda. Tahun baru 2022. Tahun berikut nanti 2023. Kita mengikuti saja aliran tahun yang disepakati masyarakat dunia, tahun Masehi, 2021, 2022 nanti 2023. Kita bisa ikut dengan sadar, bisa juga ikut-ikutan tanpa sadar. Ikut saja mau tidak mau. Tidak mungkin sendiri buat kalender baru, mau tetap 2021 atau lewat satu tahun, 2023. Ini tidak hanya sekedar permainan angka tetapi suatu ketentuan masyarakat manusia untuk membuat petak, batas dari bentangan waktu yang mulainya sudah jutaan tahun, tetapi kapan akan berakhir, tidak ada satu pun dari kita manusia yang tahu.

    Nafsu kita manusia menuntun kita untuk terjadinya kemauan sendiri. Nafsu berpakaian. Itu pun ada modenya dari waktu ke waktu. Tanpa sadar kita ikut dan kalau tidak mau dikatakan ketinggalan.

    Nalar kita memacu diri kita untuk berpikir dan terus berpikir dalam ikut arus apa pun saja yang terjadi di sekitar kita. Kalau tidak ikut bisa saja sendiri tertinggal atau terhanyut arus perubahan zaman.

    Naluri kita mau hidup bersama dengan orang lain maka mau tidak mau harus ikut kemauan sesama tanpa harus kehilangan jati diri.

    Nurani kita beri pertimbangan untuk ikut tapi tidak ikut-ikutan apa lagi ke arah yang jahat dan buruk di mata sesama terlebih di Mata TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini samudra kadang-kadang teduh kadang-kadang berombak. Hidup ini angin kadang-kadang betiup sepoi-sepoi basah kadang-kadang jadi puting beliung. Setiap diri kita ikut terbawa arus samudra dan ikut tiupan arah angin kehidupan. Tidak ada seorang pun yang tetap pada tempatnya tanpa ikut gelombang atau tiupan hidup ini.

    Hidup ini ibarat sekolah formal yang ada batas waktunya yang dibagi atas jam, hari, bulan, semester genap atau ganjil. Maju dan terus maju. Itulah yang ditandakan dengan pergantian tanun, tahun lama dan tahun baru. Nafsu kita mau kejar harta tapi kalau tidak ikut arus mengalirnya uang, percuma. Nalar diputar untuk mencari jalan supaya harta itu melekat pada diri kita menjadi milik. Naluri kita mengisyaratkan untuk dengan siapa bisa berjuang menghimpun harta itu. Nurani kita memegang kendali untuk kita tidak ikut-ikutan tanpa ada pertimbangan yang jelas sesuai norma manusia, apa lagi Norma dari TUHAN.

    Ikut pergantian tahun seperti dari tahun 2021 ke 2022  bukanlah ikut-ikutan, tapi ikut dengan penuh sadar untuk ada dan berada dalam arus waktu.

    Nafsu disesuaikan, Nalar diarahkan, Naluri dikerahkan dan Nurani disadarkan agar diri tidak tergilas oleh roda waktu. Ikut gerak gelombang samudra kehidupan. Ikut melayang tertiup angin kehidupan. Kita manusia diberi kompas di samudra luas untuk tidak kehilangan arah. Kita manusia diberi sayap untuk terbang di udara. Hanya perlu kewaspadaan, di samudra harus terapung dan di udara harus melayang. Tiap keadaan ada suasananya sendiri. Kita manusia diberi kemampuan untuk ikut apa pun saja sejauh itu baik dan berguna dan kita diawaskan untuk tidak ikut-ikutan arah arus yang akan menghempaskan diri kita di pantai karang garang lalu hancur jadi sampah.

    Kita manusia harus yakin bahwa PENCIPTA kita ada dan tetap berada bersama kita masing-masing untuk tetap ikut arah yang tepat.

     

     

     

  • Musim

     

    Musim itu penentu waktu. Suku Buna’ di pedalaman pulau Timor kenal dua musim, kemarau dan hujan. Ini umum di daerah tropis. Dalam bahasa Buna’, pan porat, musim kemarau, pan salan, musim hujan. Satu tahun dibagi atas dua musim ini saja. Hari, minggu, bulan, tidak ada. Bulan demi bulan dilewati saja sambil menanti musim hujan atau musim kemarau.

    Jam juga tidak ada. Hari dibagi dua. Pan le, siang dan pan ene, malam. Tidak ada jam. Sehari tidak  dihitung atas jam, tetapi hanya antara dua saat ini saja, tengah malam, ene wese, tengah hari, hot mugun ba’, matahari di atas ubun-ubun.  Hidup tidak diburu waktu tetapi memburu waktu. Hidup tidak dikuasai waktu tetapi waktu dikuasai manusia. Itulah salah satu pola hidup manusia, yang dihidupi oleh suku Buna’.

    Suku Buna’ ada istilah Nopil saya punya tenaga, saya punya kemauan, yang saya artikan dengan kata Nafsu.

    Suku Buna’ ada istilah Nawas, saya punya dahi, saya punya pikiran, yang saya artikan dengan kata Nalar.

    Suku Buna’ ada istilah Nezel, saya punya perut, tali pusar, keturunan, yang saya artikan dengan kata Naluri.

    Suku Buna’ ada istilah Nimil, saya punya hati, rasa sayang, yang saya artikan dengan kata Nurani.

    Empat kata bahasa Buna’ : Nopil, Nawas, Nezel, Nimil inilah cikal-bakal munculnya empat N dalam bahasa Indonesia: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani. Empat N ini dikaruniakan oleh TUHAN kepada manusia untuk menempuh hidup di dunia ini. Musim dilewati oleh Suku Buna’ dengan 4 N ini.

    Manusia dianggap utuh kalau menghidupi hidup ini dengan perpaduan 4N ini secara wajar, seimbang, bertanggung-jawab. Oleh suku Buna’, secara sadar, meyakini 4N ini sebagai bahagian atau unsur dalam diri manusia.

    Saya membuat penelitian dan permenungan selama enam tahun,  di kalangan suku Buna’, 2005-2011, tentang 4N ini sebagai pemenuhan tugas masa studi doktoral saya dalam studi pembangunan di Universitas Kristen Satya Wacana, UKSW,  Salatiga. Empat N ini saya lukiskan kesatuannya dalam diagram, satu segi empat dibagi empat atas empat bahagian yang sama, maka disebut ‘Kwadran Bele’ 2011.

    Oleh para pembimbing dan penguji diterima sebagai satu rumusan yang khas, maka selanjutnya dipakai istilah ‘Kwadran Bele’ atau dalam jurnal internasional di-Inggris-kan dengan istilah ‘Bele Quadrant’ yang terdiri dari empat unsur: desire (Nafsu), reason (Nalar), instinct (Naluri), conscience (Nurani).