Blog

  • Mulut

     

     

    Mulut manis. Tukang jilat. Mulut kotor. Tukang maki. Mulut ember. Tukang gosip. Mulut bocor. Tukang bongkar rahasia. Mulut terkancing. Kalah berdebat. Mulut besar. Sombong. Mulut mati. Pendiam. Tutup mulut. Diam. Jaga mulut. Hati-hati. Jual mulut. Bohong. Ini semua kata-kata kiasan sekitar mulut. Betapa hebatnya mulut itu sampai memberi inspirasi untuk ungkapkan berbagai perilaku manusia.

    Nafsu manusia ada di mulut. Ungkapkan keinginan lewat mulut. Rasa enak di mulut. Nalar manusia terpancar lewat mulut dengan decak kagum atas kehebatan otak seseorang. Naluri manusia terungkap lewat mulut dengan ucapan salam dan maaf. Nurani manusia tersimpan dalam mulut yang membisu, khusuk dalam doa. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lewat mulut terdengar tawa ria. Lewat mulut terlontar sumpah serapah. Lewat mulut tertelan pahit getirnya hidup. Lewat mulut melambung puja dan puji kepada Sang MAHA PENYELENGGARA. Ini semua peran mulut. Bertengkar pakai mulut. Berkelakar lewat mulut. Bernafas lewat mulut. Berbagi rasa lewat mulut. Berbagi kasih lewat mulut. Mulut jadi corong pribadi manusia.

    Aneh, mulut dipakai untuk menghina sesama dan  menghujat TUHAN.  Mulut diciptakan oleh PENCIPTA untuk lantukan lagu-lagu syukur kepada DIA. Mulut itu ada untuk menghembuskan nafas belas kasih pada sesama. Mulut ada untuk tersenyum menyiram hati sesama dengan luapan ria. Mulut ada untuk menutup aib sesama dan mengungkap rasa sesal atas segala salah dan dosa. Semua ungkapan isi diri lewat mulut ini sering kurang disadari sehingga suka-suka memakai mulut menebar benci mengobar dengki.

    Kata-kata terucap lewat mulut. Kata-kata apa saja yang sebaiknya terlepas lewat mulut saya, anda, dia, kita? Renungkan sejenak. Kata-kata hiburan untuk sesama yang tercebur dalam duka lara? Atau kata-kata sindiran dan cemoohan yang memperparah luka duka hati sahabat?

    TUHAN, terpujilah DIKAU lewat mulut saya bersama sesama yang melambungkan isi nurani penuh kasih persaudaraan antara kami. Terimakasih TUHAN, DIKAU adakan mulut sebagai saluran menghirup rahmat dan menghembus damai. Lewat mulut, damailah kami manusia di bumi ini.

     

     

  • Gigi

     

     

    Gigi. Apa lagi? Ada filsafat tentang gigi? Yah, ada. Pikir sedalam-dalamnya tentang gigi, itulah filsafat gigi. Tunjuk gigi, menantang. Gigi asam, tahan amarah. Gigi ganti gigi, balas dendam. Gertak gigi, ancam. Kertak gigi, penderitaan. Mamah gigi, geram. Makan gigi, benci. Ada gigi, masih ada tenaga. Gigi ompong, tenaga habis.

    Heran, gigi yang dipakai untuk kunyah makanan dimuat dengan rupa-rupa ungkapan. Kita manusia ini ada Nafsu, keinginan untuk memperoleh dan menikmati segala sesuatu di sekitar kita. Lewat gigi, Nafsu ini diungkapkan kekurangannya, tunjuk gigi, gertak gigi, gigi ganti gigi. Ini Nafsu  tidak terkendali yang memakai gigi bukan untuk kunyah makanan tapi lumatkan sesama.

    Kita manusia ada Nalar untuk menjelajahi dunia pengalaman dan ilmu pengetahuan. Kalau ada gigi, artinya Nalar masih mampu menggerakkan diri kita untuk menimba ilmu dan menambah pengalaman. Kalau tidak ada gigi lagi, yah, berhenti di tempat, tinggal kemampuan mengelamun dan mengulang-ulang pengetahuan kuno dan pengalaman basi.

    Kita manusia ada Nurani untuk bergaul dengan sesama. Kalau berpegang pada gigi ganti gigi, wah, itulah yang orang Latin bilang, homo homini lupus, manusia jadi serigala untuk manusia. Merangkul sesama itu mengapa diganti dengan mencekik sesama? Ini yang namanya gigi asam. Lihat sesama seperti mangsa yang siap dikunyah dan dimusnahkan. Kunyah makanan, bukan hancurkan makanan. Beda. Naluri kita mendorong diri kita untuk menyalami sesama bukan menjauhi sesama.

    Kita manusia ada Nurani untuk menyayangi sesama,  mengasihi sesama tanpa pilih dan dengan itu memuji TUHAN PENCIPTA kita. Karya mengasihi ini tidak berat. Tapi lebih sering suka gigit sesama dengan gigi membuat sesama kertak gigi, kesakitan. TUHAN menciptakan kita untuk memakai gigi memperlancar pengolahan makanan sambil beryukur kepada TUHAN. Ini ada dalam Nurani.

    Perpaduan antara Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani dalam peran gigi inilah filsafat gigi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jadi gigi bukan sekedar hiasan atau alat untuk menyusahkan sesama tetapi untuk menyelamatkan, menyehatkan. menyejahterakan diri dan sesama. Itulah yang dikehendaki oleh TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

     

  • Lidah

     

     

    Lidah, wah, filsafat lidah. Tanpa lidah, kita bungkam. Lidah, anggota tubuh yang tersembunyi, tertutup rapat tapi dibuka dan dipajang untuk melukiskan berbagai perangai manusia.

    Lidah tak bertulang, suka berkelit. Silat lidah, bertengkar untuk tutup kesalahan.  Putar lidah, suka menipu. Jaga lidah, hati-hati dalam berbicara. Lidah kaku,  sulit berbicara dalam bahasa orang lain.

    Lidah bercabang, suka mengadu domba. Penyambung lidah, jadi perantara. Ujung lidah, menahan diri untuk tidak berbicara. Lidah kaku, kehabisan kata untuk berbicara.  Lidah tajam, suka menghardik sesama. Dengan lidah sebagai simbol, kita manusia mengungkapkan pribadi kita.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati apa saja yang ada di sekitar kita. Lidah dipakai untuk menyalurkan keinginan yang dimunculkan oleh Nafsu.

    Kalau suka memperoleh sesuatu dengan cara menipu, disebut lidah tak bertulang.  Kita ada Nalar untuk memecahkan persoalan hidup dan sering secara berbelit-belit malah menipu sesama. Putar lidah.

    Kita manusia ada Naluri untuk hidup bersaudara dengan sesama. Membela yang tak berdaya dan bertindak sebagai penyambung lidah. Kita ada Nurani untuk mewujudkan kedamaian dan keadilan. Kadang-kadang takut memperjuangkan kedamaian dan keadilan karena lidah kaku. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lidah dipakai untuk mengecap pahit manisnya makanan. Kalau lidah kehilangan rasa maka apa pun saja dilahap tanpa menghiraukan bahaya untuk diri dan membawa duka bagi sesama.

    Lidah dipakai untuk mejilat sesuatu yang ada di luar mulut untuk menguji enak tidaknya berbagai jenis makanan. Kalau ada yang enak lalu dijilat terus-menerus, maka kalau lewat batas, terjadilah kebiasaan, penjilat.

    Mencari untung dengan menjerumuskan sesama yang dipuji dan disanjung demi tujuan yang tidak luhur. Sahabat bisa sekarat. Atasan bisa terbelit berbagai kesulitan tanpa rasa karena kena jilatan dari teman penjilat.

    Lidah memampukan kita untuk menggumam kata-kata. Sumpah serapah atau sembah puji. Kemampuan ini hadiah dari PENCIPTA untuk kita manusia. Tujuan lidah sangat luhur, merasa enaknya hidup, mengucap salam dan melantunkan Puji Syukur kepada PENCIPTA. Ini tujuan pertama dan utama.

     

     

     

     

     

  • Mata

     

     

    Mata. Oh, mata. Ini anggota tubuh yang paling banyak digunakan untuk menampilkan pribadi diri kita manusia. Mata itu pendopo tubuh. Terbuka. Nafsu diundang oleh mata. Nalar beri ruang untuk mata. Naluri berkontak  lewat mata. Nurani saring pandangan mata. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mata jadi padanan banyak kata, beragam arti.

    Tanda mata. Cindra mata. Oleh-oleh. Biji mata. Kesayangan. Mata terbuka. Sadar. Mata tertutup. Kurang perhatian. Tutup mata. Kalap. Mata sayu. Murung. Mata keranjang. Gila seks.  Pasang mata. Tertarik.  Sebelah mata. Pilih-pilih. Mata duitan. Gila harta. Mata-mata. Pengintai. Pakai mata. Bijaksana. Kerdipkan mata. Beri isyarat. Main mata. Sekongkol. Mata hijau. Ingin milik orang. Mata sipit. Etnis Tionghoa. Mata biru. Etnis Eropa. Mata lebar. Heran. Mata terbelalak. Kagum. Mata gelap. Mengamuk. Mata terang. Mengerti.  Mata berkaca-kaca. Sedih. Air mata. Tangisan. Mata liar. Mata jalang. Nakal. Mata hati. Mata bathin. Kasih sayang.  Angkat mata. Sembah. Mata berbinar. Gembira. Cuci mata. Pelesir. Semata wayang. Anak tunggal.

    Ini semua menggambarkan perilaku manusia, tercampur aduk antara yang baik dan buruk.

    Mata juga dipakai untuk menggambarkan benda, alam, hal.

    Mata hari. Surya. Mata angin. Arah. Mata uang. Alat tukar. Mata kail. Alat penangkap. Mata cincin. Penghias. Mata sapi. Telur goreng. Mata kaki. Bahagian tubuh. Mata ikan. Luka. Mata acara. Urutan acara. Mata pelajaran. Hal yang diajar. Mata air. Sumur. Kaca mata. Alat bantu penglihatan. Mata pisau. Bahagian yang tajam.

    Empat puluh lima (45) ungkapan memakai kata mata. Betapa arif dan kaya bahasa kita. Sangat mendalam. Inilah filsafat tentang mata.

    Mata dipakai untuk mengawaskan, menyadarkan kita manusia agar  selalu berperilaku yang baik dan benar. Nafsu tidak boleh mengaburkan mata sendiri dan sesama. Nalar tidak boleh menutup mata terhadap kebenaran. Naluri tidak mengelabui mata sesama. Nurani tidak boleh tutup mata untuk sesama dan TUHAN. Ingat, TUHAN ada Mata dan lihat kita pakai mata secara benar dan baik atau tidak.

     

     

     

     

     

     

     

  • Tangan

     

    Tangan. Maksudnya kita manusia punya tangan, kiri-tangan, dua tangan ini. Kita berfilsafat tidak perlu jauh-jauh. Pikir sedalam-dalamnya tentang diri kita, anggota tubuh kita. Kita sudah bicara tentang gigi, mulut,  lidah, mata. Sekarang, tangan.

    Kita manusia ini luar biasa, bisa pikir tentang diri. Nafsu kita itu diberi TUHAN untuk atur diri, hidup, bertumbuh dan berketurunan. Tangan banyak berperan dalam hal ini, cari hidup, jaga hidup, kembangkan hidup. Ini dorongan Nafsu. Dalam diri kita ada Nalar untuk pikir dan temukan cara yang tepat atur tangan supaya tepat guna dan tepat sasaran. Naluri kita ada untuk arahkan tangan untuk buat segala yang baik demi diri dan sesama. Nurani kita ada untuk menegur kalau tangan salah dipakai dan memuji kalau tangan dipakai secara benar, baik dan bagus. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tangan. Tangan dingin. Bakat menyembuhkan orang. Tangan panas. Gagal terus. Tangan kanan. Sandaran sesama. Ringan tangan. Suka pukul, tidak boleh. Panjang tangan. Pencuri, pantang. Tangkap tangan. Kedapatan. Tangan jahil. Menyusahkan orang. Sembunyi tangan. Jahat. Kaki-tangan. Pesuruh, boleh asal untuk yang baik. Tangan kosong. Tidak bawa apa-apa. Tangan besi. Kasar, keras.  Ulurkan tangan. Tolong sesama. Gandeng tangan. Bersahabat. Tangan terbuka. Murah hati.  Bersudara. Lipat tangan. Bermalas-malas. Pangku tangan. Menganggur.  Cuci tangan. Cari luput. Tepuk tangan. Puas. Katup tangan. Kikir. Tadah tangan. Mengemis. Angkat tangan. Menyerah. Turun tangan. Beraksi. Lepas tangan. Membiarkan. Buah tangan. Keberhasilan. Tanda tangan. Tanggung-jawab.

    Tangan itu nyata, kita ada tangan, pakai tangan untuk apa saja. Asal untuk yang baik. Sebab TUHAN Yang beri tangan kepada kita, tetap menuntun kita dengan Tangan yang tak kelihatan tetapi terasakan. TUHAN mendekap kita dengan kedua Tangan bila kita ada dalam bahaya. TUHAN terima kita dengan kedua belah tangan bila kita menghadap DIA waktu akhiri hidup yang sementara ini.

    Tangan kita adalah tangan TUHAN. Tangan TUHAN adalah tangan kita. Tujuannya sama dan satu,  luhur.

     

     

     

     

     

     

     

  • Filosofi Kaki

     

    Kaki. Lupa saya? Abaikan saya? Bahas yang lain, lalu saya? Ini keluhan kaki. Oh maaf. Lebih lanjut kaki berkata, tanpa saya kamu bisa tegak, berdiri, berjalan, berlari? Lagi sekali, kaki, maaf. Waktu saya ketik artikel ini kaki saya seperti sungguh-sungguh berbicara dengan saya. Itulah filsafat, penuh simbol, penuh makna. Menggali makna terdalam dari segala sesuatu, baik yang ada dan mungkin ada, dan temukan kebenaran, itulah filsafat. Kali ini tentang kaki.

    Kaki. Kaki manusia, kaki binatang, kaki benda. Begitu penting kaki itu sehingga hidup manusia erat berkaitan dengan kaki. Ada tulang kaki, buku kaki, kuku kaki,  mata kaki, jari kaki, telapak kaki.

    Nafsu menggerakkan kaki kita untuk menjelajah dunia mencari dan menemukan apa yang diingini. Nalar kita mengarahkan kaki untuk menapaki lorong mana, cara mana  harus ditempuh. Naluri kita mendorong diri  kita untuk bergegas menemui kekasih di mana pun kapan pun dia berada. Kekasih kita sesama kita. Nurani kita membisikkan kepada kaki kita untuk jalan hati-hati menuju tempat yang benar dan tepat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kaki. Tumpuan kaki. Diharapkan. Tanam kaki. Beri harapan. Kaki tangan. Kelengkapan. Bekas kaki. Penjelajah. Kaki telanjang. Biasa-biasa. Kaki belalang. Ramping, cantik. Kaki meja, kaki kursi. Bisa tegak. Kaki bukit, kaki gunung. Awal pendakian. Kaki langit. Akhir perziarahan. Kaki gajah. Sakit. Kaki semutan. Kecapaian. Kaki lima. Lorong kehidupan. Kaki. Satu, dua, tiga. Ukuran sepanjang tapak kaki. Kaki seribu. Bersatu dalam berjalan. Kaki lurus. Kita manusia. Kaki kiri, kaki kanan. Lengkap. Kaki bengkok. Hewan. Kaki empat. Binatang. Kaki depan. Kaki belakang. Kokoh.

    Maha Agung dan Maha Bijaksana PENCIPTA kita yang beri kita kaki. Pakai seturut Kehendak DIA, bukan kehendak kita. Berjalan pakai kaki, tata alam. Nafsu.  Berlangkah pakai kaki, cari Ilmu. Nalar. Beranjak pakai kaki, rangkul sesama. Naluri. Bertekuk pakai kaki,  menyembah TUHAN. Nurani. Lengkap.

     

     

     

     

     

     

     

  • Telinga

     

     

    Telinga. Pasang  telinga. Pohon telinga. Daun telinga. Ada comelan: ‘Bagus, kupas tentang lidah, gigi, mulut, langsung ke kaki. Saya terlewati’.  ‘Aduh, maaf, telinga, kamu bukan terlewati tapi belum giliran. Sekarang giliran kamu,  telinga. Ternyata tembok juga ada telinga sehingga dengar semua apa yang kami omong’.

    Telinga. Kita manusia, tanpa telinga ibarat pohon tanpa daun. Telinga ada untuk dengar. Nafsu kita suka dengar apa saja, pasang telinga dan langsung telinga berdiri. Nalar kita mau dengar banyak pengalaman dan pengetahuan lewat telinga, hanya terkadang masuk lewat telinga kanan ke luar lewat telinga kiri. Naluri kita suka dengar ceritera suka-duka, sukses-gagal dari teman. Untuk dengar yang begitu-begitu, telinga berdiri. Nurani kita sering buka telinga lebar-lebar untuk hal-hal yang negatif sedang untuk hal-hal yang positif kita tutup telinga rapat-rapat.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jewer telinga, tarik telinga, cubit telinga sering terjadi dalam dunia pendidikan. Tidak boleh. Ini kekerasan.

    Telinga itu tempat hiasan tergantung, anting-anting, tempat gagang kaca mata dikaitkan. Serba guna.

    Telinga lambang diri pribadi manusia. Di kalangan suku Buna’, di pedalaman Pulau Timor, telinga itu mewakili diri pribadi manusia. Waktu masih ada perang antar suku, tahun 1800-san, musuh yang dikalahkan dipotong telinganya dan dibawa pulang oleh pemenang, dijemput di luar kampung, diarak,  lalu digantung di tiang induk di tengah kampung. Kemudian dipestakan dengan tarian ‘likurai’, tarian yang ditarikan oleh kaum perempuan dalam bentuk lingkaran, sambil memukul genderang kecil yang diapit di antara lengan kiri dan dipukul beriraman dengan kedua telapak tangan. Beberapa laki-laki menari dengan pedang terhunus sebagai tarian menang perang.

    Orang suku Buna’ ini juga ada kepercayaan, PENCIPTA DUNIA ini ‘ber-TELINGA satu, ber-MATA satu’ (Gepal kere’, Giral uen) artinya ketunggalan, tidak ada bandingnya karena DIA ada dengan sendirinya tanpa dijadikan oleh siapa pun. DIA itu maha mendengar, maha melihat, abadi.

    Telinga kita harus terpasang kepada SABDA dari TUHAN, bukan kepada yang lain-lain.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Rambut  

     

    Rambut. Ujung rambut. Hal kecil. Sehelai rambut. Ada arti. Rambut kepala. Pelindung. Kita manusia ditandai dengan rambut: rambut hitam, rambut pirang, rambut putih, rambut uban. Warna. Rambut ikal, rambut air, rambut lurus, rambut keriting. Bentuk. Pelihara rambut,  potong rambut, pangkas rambut, cukur rambut, sisir rambut, lepas rambut, konde rambut, ikat rambut,  minyaki rambut, rambut kotor, rambut kusut, rambut tumbuh, rambut subur . Rapih. Cuci rambut, bersihkan rambut,  tutup rambut, cat rambut, acak rambut, kepang rambut. Campur tangan.

    Kita manusia ada Nafsu untuk atur rambut sesuka hati kita. Ada Nalar untuk menata rambut. Lewat rambut asal suku dikenal, Naluri. Nurani kita membisikkan kepada kita untuk memuliakan TUHAN dengan berbagai cara: tutup rambut, cukur rambut, panjangkan rambut. Tanda serah diri kepada PENCIPTA. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ada Nafsu untuk tampil apik dengan atur rambut rupa-rupa, itu manusiawi. Asal tidak untuk sombong. Nalar kita menemukan berbagai upaya untuk tata rambut. Temukan cat khusus untuk merobah warna rambut, ada minyak rupa-rupa untuk menghaluskan dan mengharumkan rambut. Ini semua upaya manusia melalui Nalar yang mengetahui berbagai pengetahuan dan pengalaman tentang rambut.

    Naluri kita langsung menyadarkan diri kita tentang asal-usul diri, rambut hitam dari Asia, rambut pirang dari Eropa. Rambut keriting dari daerah panas, rambut lurus dari daerah dingin. Sering kita berbangga dengan rambut kita, tapi sering pula merasa diri rendah atau saling mengolok atas dasar rambut.

    Kita manusia sadar-sesadarnya bahwa rambut itu diciptakan oleh PENCIPTA dengan tujuan yang luhur, demi kesehatan kita, melindungi kulit dan batok kepala kita. Rambut saja dijaga oleh setiap pribadi, maka kita sesama manusia saling menghargai atas dasar rambut, bukan sebaliknya, saling mencemooh atau merusak rambut dengan berbagai penyesuaian yang mendatangkan bahaya.

    Ada seorang bapak menghitamkan rambut dengan cara mengecat lalu menderita karena zat kimia dari bahan cat. Akhirnya meninggal dunia, meninggalkan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Ini akibat mengutak-atik rambut terbawa arus Nafsu secara berlebihan, kurang memakai Nalar, menyusahkan keluarga secara Naluri dan dari segi Nurani,  merusak ciptaan TUHAN yang telah mengatur rambut pada waktunya untuk menjadi putih.

    Rambut menyadarkan kita untuk menjunjung langit menahan Nafsu, melindungi Nalar, merangkai Naluri dan menenangkan Nurani. TUHAN kita puji dan sembah dengan kepala tertutup rambut atau botak, tanpa rambut. Yang penting, mengharai dan mencintai sesama dan menyembah TUHAN. Itulah namanya bahagia, karena rambut.

     

     

  • AMBIL

     

    Ambil. Ambil itu selalu barang. Tidak mungkin manusia. Sering manusia disamakan dengan barang sehingga ada yang mengatakan, saya ambil dia sebagai isteri. Ini pelecehan. Pak Kepala ambil orang-orang dekat. Ini pun pelecehan. Yang ambil dan diambil sama-sama pada posisi saling melecehkan. Ambil itu terjadi pada si-pengambil dalam posisi berkuasa atas yang diambil. Sesuka hati, tanpa ada persetujuan dari yang diambil. Barang, tumbuhan, hewan ada pada posisi untuk diambil oleh siapa pun karena si-pengambil ada kebebasan sedangkan yang diambil tidak berada dalam posisi bebas.

    Kita manusia ada Nafsu, keinginan untuk ambil apa saja demi kebutuhan kita. Ini baik dan wajar.  Ambil secukupnya. Ambil lebih, rakus. Kita ada Nalar untuk timbang, apa yang diambil, di mana, kapan, untuk apa. Ambil seenaknya, bahayakan diri. Kita ada Naluri untuk ambil apa saja di sekitar kita sambil pertenggangkan sesama kita, mengganggu atau tidak. Ambil apa-apa sambil sikut sana sikut sini dianggap serakah. Kita ada Nurani yang membuat kita sadar bahwa apa saja yang kita ambil itu bukan milik kita, tapi milik Sang Pencipta, TUHAN. Ambil dengan penuh percaya dan penuh syukur. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ambil untung. Ini masuk ranah Nafsu. Wajar. Ambil untung berlipat-lipat, itu yang dilarang. Ambil cuti. Ini masuk Nalar. Cuti supaya segar, sehat.  Ambil peran. Ini masuk ranah Naluri. Ini yang diharapkan. Tidak pangku tangan lihat derita sesama. Ambil hati. Istilah bagus. Masuk ranah Nurani. Ambil hati baru tusuk dengan belati, pembunuhan. Ambil hati untuk sehati, saling mengasihi.

    Ambil asal ambil. Ini keterlaluan. Tidak timbang, tidak tenggang rasa.  Hidup ini kesempatan ambil apa saja untuk hidup. TUHAN PEMBERI hidup siapkan semua untuk kita. Ambil saja. Asal ambil secukupnya.

     

     

     

     

     

  • Awal dan Akhir

     

     

    Semua ciptaan kecuali kita manusia, ada awal dan akhir. Kita manusia, ada awal, tidak ada akhir. Ini jangan ditanya pembuktiannya. Tidak masuk dalam logika. Percaya saja. Kita manusia ada kecualian. Ada awal lalu berlangsung terus dan terus, itulah yang disebut kekal, abadi. Lalu siapa yang buat itu? Kita manusia sendiri punya mau? Tidak. PENCIPTA punya mau. Mengapa atau bagaimana, tanya DIA. Berhenti bertanya, sekarang terima dan jalani. Bertanya itu buang waktu, karena tidak ada jawaban yang masuk di akal tapi masuk di hati.

    Kita manusia ini diciptakan dengan kelengkapan, empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).  Ciptaan lain tidak diberi kurnia ini, binatang tidak, apa lagi tumbuhan. Dengan Nafsu kita mengingini segala yang baik untuk dinikmati. Keinginan, kerinduan, itulah Nafsu. Dengan Nalar, kita berusaha mengetahui dan mengalami apa pun saja yang ada dalam hidup kita ini. Dengan Naluri kita terdorong untuk berketurunan, berkerabat, bergaul antara sesama manusia. Dengan Nurani kita disadarkan untuk meyakini adanya PENCIPTA, Yang diberi gelar oleh kita dengan bermacam Nama dan Sapaan, seperti TUHAN, THEOS (Yunani), DEUS (Latin), GOD (Inggris), GOTT (Jerman). Pokoknya tiap suku bangsa ada sebutannya sendiri-sendiri tanda bahwa manusia ini percaya adanya DIA dan itu diletakkan di Nurani, disadari bersama lewat Naluri, dipahami lewat Nalar dan dinikmati lewat Nafsu.

    Empat N (4N) inilah yang abadi. Karena dengan Nafsu, kita mengingini kesenangan ada bersama DIA. Dengan Nalar, kita mengetahui dan mengalami  adanya kegembiraan ada bersama DIA. Dengan Naluri kita ada kepuasan ada bersama sesama dalam lindungan DIA. Dengan Nurani kita merasa bahagia menikmati belaian Kasih-NYA. Keterpaduan 4N dalam dirik kita inilah yang membuat diri kita manusia itu mengawali hidup dan melangsungkan hidup secara abadi dalam DIA dan bersama DIA tanpa ada akhir. Kekal. Abadi.

    Jadi awal itu kita alami. Akhir, kita tidak alami. Hidup itu yang ada dalam diri kita manusia, ada awal, tidak ada akhir. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani itu harta indah yang tidak boleh kita utak-atik dengan kesemberonoan dalam hidup. Nafsu buat kita senang. Nalar buat kita gembira. Naluri buat kita puas. Nurani buat kita bahagia. Empat hasil dari hidup ini: senang + gembia + puas + bahagia kita alami di dunia yang sementara ini dan akan kita akan alami terus dalam kekekalan, keabadian di Dunia sesudah dunia ini.