Blog

  • Murah-meriah

    Murah-meriah. Sudah murah, meriah lagi. Dua kata yang sangat menarik dan menghibur. Memang kalau diumumkan jual barang murah, mana orang tidak tertarik? Murah berarti penjual itu sedang bermurah hati dan pembeli pun merasa tidak terlalu banyak mengeruk isi kantongnya. Bertemulah dua niat, penjual dan pembeli sama-sama puas. Sama-sama tidak merasa dirugikan, malah diuntungkan. Ada dua pihak, pemilik barang dan pembeli barang. Hanya ada keterikatan, penjual memilih dan memajang barang-barang yang ada harga dan harga itulah yang diturunkan, dari mahal ke murah. Pembeli harus berupaya  untuk membawa sejumlah uang guna memilih dan membeli barang yang dipajang itu karena ada harga, bukan sampah, bukan barang rongsokan, ada transaksi, jual-beli.

    Murah-meriah. Meriah inilah daya tarik yang paling besar. Penjual itu memang luar biasa. Untuk menarik pembeli, ada acara, suasana meriah, pesta, musik, tari-tarian, jamuan, tegur-sapa, berbagai penjelasan yang penuh makna untuk pengunjung yang adalah pembeli. Meriahnya di situ. Pengunjung berjejal, berpakaian warna-warni, tidak kenal batas usia, status sosial, siapa pun saja dia, di arena pemajangan barang ini, ada yang menggendong bayi, ada yang tua renta, wajah cantik-jelek, tampang gagah-pincang, tidak ada soal. Semua sama.

    Murah-meriah. Ada NAFSU menjual dan membeli, ada NALAR untuk mempertimbangkan, ada NALURI untuk berjumpa, ada NURANI untuk tenang. Setiap pengunjung itu yang pergi-datang sama-sama mempunyai empat unsur ini dalam dirinya untuk dipuaskan, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Murah-meriah. Ternyata, barang yang dijajakan, dipajang itu, alam ini serta segala isinya. Pemiliknya, SANG PENCIPTA. Pengunjung, kita ini, setiap manusia. Alam ini ada nilai. Kita manusia harus sadar untuk menghargai setiap apa pun saja yang ada dalam alam ini. Karena Pmiliknya, yang adalah PEMCINTPA, tidak mungkin mengadakan sesuatu tanpa arah dan maksud. Dan kita manusialah yang diberi kemampuan untuk menjaga, menikmati dan menghaturkan syukur setiap saat, karena kita sedang ada di arena murah-meriah.

  • Cerdas cermat

    Cerdas-cermat. Dua kata ini sudah menjadi kata majemuk. Tindakan manusia yang cerdas dibutuhkan cermat. Sebaliknya, kalau cermat, harus cerdas. Hasilnya? Senang karena keinginan NAFSU terpenuhi. Gembira karena upaya NALAR tercapai. Puas karena dorongan NALURI tercapai. Bahagia karena harapan NURANI terjadi. Di sinilah letaknya peranan empat unsur dalam diri manusia: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI  serentak terpenuhi karena tindakan cerdas yang cermat dan cermat yang cerdas. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup manusia ini seharusnya cerdas dan cermat dari saat ke saat. Tidak cermat berarti semberono. Tidak cerdas berarti ceroboh. Sayang kalau saya, anda, dia, kita hidup semberono dan ceroboh. Suasana baik dalam diri kita maupun di luar diri kita akan senang, gembira, puas dan bahagia kalau kita hidup cerdas dan cermat. Itulah yang dikehendaki TUHAN Pencipta kita. Tidak ada satu manusia pun yang diciptakan tidak cerdas dan tidak cermat. Mana mungkin SANG PENCIPTA menciptakan bagi dirinya pribadi yang siap celaka dan celakakan diri serta sesama karena diciptakan untuk semberono dan ceroboh.

    Hidup kita ini terkadang ricuh, resah dan gelisah hanya kurang atau malah tidak cermat dan cerdas. Udara bersih tersedia secara cuma-cuma,gratis. Kita kotorkan. Tubuh kita sudah diatur untuk tumbuh kembang sampai matang, dewasa dan pada waktunya tua dan berhenti secara wajar. Kita sudah diberi NAFSU untuk makan sesuka hati dengan memakai  NALAR untuk mengukur dan NALURI untuk menakar serta NURANI untuk menyukuri. Itu baru soal makan. Belum lagi soal pakaian dan perumahan serta berbagai kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, hiburan. Itu semua tersedia untuk kita, putera-puteri kesayangan SANG PENCIPTA.

    Segeralah setiap kita untuk hidup cerdas dan cermat setiap saat. Cerdas maju, cermat melangkah. Hari demi hari menjadi cerah penuh tawa dan ria yang diselingi tangis dan derita pada saat-saat tertentu sebagai gelombang panca-roba alamiah. Ibarat gigi berganti melalui sakit. Proses alamiah. Bukan sakit karena disakiti. Kita dengan cermat dan cerdas hidupi hidup bergerak dari PEMBERI hidup kembali kepada DIA.

  • Buat apa?

    Buat apa? Siapa tanya pada siapa? Pada diri dan sesama. Tiap saat diri kita tanya pada diri kita sendiri, buat apa? Setiap langkah dalam hidup ini adalah jawaban atas pertanyaan ini: buat apa? Hidup adalah buat sesuatu. Rentetan buat apa itulah yang menjadi kelengkapan dari hidup setiap kita. Waktu dan tempat tersedia bagi kita untuk menjawab pertanyaan ini. Dua kata menjadi satu pertanyaan. Buat dan apa. Sederhana sekali. Buat. Apa? Yah, apa saja! Ternyata apa itu ada dalam diri kita, bukan di luar diri kita.

    NAFSU menunjukkan segala macam apa yang ada dan mungkin ada untuk dibuat.

    NALAR membentangkan segala cara untuk melaksanakan apa itu yang ditanyakan.

    NALURI mengajak siapa saja yang dikenal untuk bersama membuat apa saja yang berguna bagi diri dan sesama.

    NURANI memuji kalau apa yang dilaksanakan itu baik dan menegur kalau salah pilih dan salah buat.

    Empat unsur dalam diri kita manusia inilah yang mengusik kita untuk bertanya buat apa dan mendorong kita untuk segera buat apa saja sesuai kemampuan dan kebutuhan kita. (4N, Kwadran Bele, 2011). Waktu kita berhenti bertanya buat apa, maka pada saat itulah kita berhenti hidup di dunia ini.

    Buat apa? Itu pertanyaan jangan ditujukan kepada orang lain, apa lagi kepada TUHAN. Tujukan pada diri. Yang buat adalah diri kita. Tanggung-jawab ada pada diri kita. Pada saatnya, kita akan beri pertanggungan-jawab terakhir kepada DIA, TUHAN.

  • Sedang

    Sedang yang dimaksud di sini, sementara. Dia sedang duduk. Saya sedang menulis. Hidup ini dari sedang ke sedang dan menjadi satu untaian sedang yang dilanjutkan dengan sedang abadi. Kalau sedang duduk lalu tidur. Maka yang terjadi ialah orang itu sedang tidur. Kata sedang dipakai terus dengan pengertian, keadaan tertentu berlangsung sesudah keadaan yang lain. Sedang tidur lalu sedang bangun disusul dengan sedang mandi dan seterusnya. Maka benar bahwa hidup ini untaian sedang.

    Sedang hidup di dunia. Itu kalau ada pembicaraan antara yang di dunia dengan yang di luar dunia. Pembicaraan seperti itu tidak ada. Yang ada, kita-kita yang sedang hidup inilah yang menyadari bahwa diri kita sedang berada di dalam dunia ini dengan segala keterbatasan waktu dan tempat.

    Sedang berada dalam satu situasi tertentu sebenarnya diatur oleh NAFSU kita. Mau makan lalu makan, maka dikatakan sedang makan.

    NALAR kita memahami bahwa diri kita sedang berada dalam situasi tertentu dan pasti cepat atau lambat akan beralih ke situasi yang lain sehingga diri kita dikatakan sedang ini atau itu.

    NALURI kita tetap menyadarkan diri kita bahwa kita sedang berada sendiri atau bersama orang lain sehingga diri kita harus disesuaikan dengan keadaan yang sedang dialami. Tidak mungkin seorang yang sedang duduk sendirian berbicara tentang apa saja tanpa ada yang mendengar. Pasti yang sedang berbicara sendirian itu dianggap gila.

    NURANI kita menenangkan kita karena kita sedang mengalami suasana tenang dan gembira. Di sini jelas empat unsur dalam diri kita: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sedang bekerja sama dalam situasi tertentu meninggalkan situasi lama masuk ke situasi baru.

    TUHAN sedang terus memelihara kita. Kita sedang berada dalam lindungan TUHAN. TUHAN Pencipta kita tidak pernah membiarkan kita berada di luar jangkauan perhatian-Nya. Di sinilah muncul soal: kita tidak bisa berbuat sesuka-hati di luar Kehendak TUHAN.

    Kita bebas untuk berbuat apa saja sesuai atau tidak sesuai dengan Kehendak DIA, TUHAN. Yang jelas, DIA sedang menuntun dan mengawasi kita terus. Kita sedang hidup dan hidup dalam rangkulan HIDUP itu sendiri, TUHAN.

    Kita berharap agar kita akhiri hidup kita di dunia ini dalam keadaan sedang berada di jalan yang benar sesuai Kehendak DIA.

  • Pantas

    Pantas itu cocok antara diri dengan keadaan yang dimaksud. Pantas jadi guru. Pantas untuk diteladani. Lawannya, ganjil, janggal, tidak pantas. Diri pribadi kita harus pantas untuk sesuatu di luar diri kita sesuai empat unsur yang ada dalam diri kita.

    Nafsu seseorang mau jadi bupati. Pantas kalau ada pendidikan dan pengalaman untuk itu. Pantas kalau ada banyak orang yang memilih sesuai peraturan yang ada dalam proses pemilihan kepala daerah.

    Nalar menyimpan dan mengolah segala hasil pendidikan dan pengalaman  untuk menjadi bupati.

    Naluri begitu terarah untuk menjadi bupati. Ada jasa bagi para pemilih dan ada simpati dari para pemilih. Maka dari segi Naluri, pantas jadi bupati.

    Nurani  membawa ketenangan bathin untuk menjadi bupati. Pantas jadi bupati dan dengan posisi ini diri tenang dan senang berbakti bagi daerah dan rakyat yang dipimpin. Pantas jadi bupati. Ini contoh konkrit tentang istilah pantas. Ada kerjasama antara empat unsur dalam diri manusia untuk diri itu pantas menjadi sesuatu, dalam hal ini menjadi bupati.   (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pantas masuk surga. Ini kalimat biasa, dan sering dianggap terlalu kudus. Surga itu keadaan bahagia abadi bersama TUHAN sumber kebahagiaan. Manusia pantas untuk masuk dalam keadaan ini kalau dirinya sesuai dengan persyaratan yang ada. Syarat untuk mengalami surga itu ialah diri dalam keadaan kudus, suci dari dosa. Berarti tidak berdosa. Atau pun kalau sudah berdosa, sudah dihapus oleh TUHAN karena diri manusia itu bertobat. Dari tidak pantas menjadi pantas.

    Pantas jadi pemimpin. Syarat-syarat tentang seorang pemimpin itu sudah ada berdasarkan peraturan atau kesepakatan dari masyarakat. Pantas itu tidak bisa dipaksakan dari luar diri. Pantas itu ada dan muncul dari dalam diri manusia. Segala kemungkinan yang ada di luar manusia itu tersedia sesuai arah dan maksud kemungkinan itu. Malapetaka muncul untuk diri kalau sudah tidak pantas lalu dipantaskan untuk posisi tertentu. Ada keluh kesah dari banyak orang, dia tidak pantas. Diri pun terbelit dengan rasa kesal dan sebal. Ini terjadi karena ada ketidak-cocokan antara diri orang itu dengan persyaratan yang ada tentang posisi tertentu.

    Pantas tidak bisa dipantas-pantaskan. Pantas itu harus dengan sendirinya muncul dari diri pribadi sesuai NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang khas dalam diri setiap kita. TUHAN hadiahkan kemungkinan  itu dalam diri kita untuk kita pantas jadi ini dan itu.

    Kita berjuang dan TUHAN mengabulkan dengan pantas untuk kita dapat  bahagia abadi. Puji TUHAN.

     

  • Kenyang

    Kenyang itu lawannya lapar. Saya kenyang karena Nafsu makan terpenuhi dengan adanya makanan yang saya makan. Nalar saya juga bekerja, pilih dan putuskan makanan apa yang layak saya makan. Naluri saya beraksi dengan memanfaatkan jasa semua orang untuk mendapat makanan sampai terhidang dan saya makan. Nurani saya mengiyakan dengan perasaan tenang, damai karena sudah kenyang. Empat unsur dalam diri saya bekerja serentak dalam proses mencari (Nafsu) menemukan (Nalar) menikmati (Nalar) menyukuri (Nurani) makanan yang saya makan sampai terjadi, saya kenyang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini kelansungan peristiwa dari kenyang ke kenyang. Kita manusia diberi anugerah kehidupan oleh SANG PENCIPTA untuk kenyang melalui upaya yang diberi oleh TUHAN dalam alam untuk dikuasai dengan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Dalam upaya untuk kenyang, saya, anda, dia, kita, tidak diperkenankan untuk kenyang sendiri sambil membiarkan sesama kelaparan. Kenyang itu dambaan setiap kita. Membiarkan sesama kelaparan, salah. Menyebabkan sesama kelaparan, lebih salah lagi. Merampas milik sesama sampai sendiri kenyang dan sesama yang kehilangan itu terdampar dalam malapetaka kelaparan, salah di atas salah. Itulah tragedi dalam kehidupan ini yang sering terjadi, yang satu kekenyangan dan yang satu kelaparan.

    Kenyang itu hak setiap orang. TUHAN mengadakan segala sesuatu untuk kita setiap orang kenyang sesuai keadaan masing-masing orang. Merusak alam termasuk menghalangi kekenyangan. Memelihara alam sekitar adalah upaya terpuji sesuai kehendak SANG PENCIPTA untuk kita manusia memperoleh secukupnya makanan untuk tetap kenyang, tidak kelaparan. Sesama ada untuk sama-sama menggiatkan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI demi kepentingan bersama untuk kenyang. Kenyang sebatas ukuran perut. Kenyang berlebihan, salah. Kenyang dengan hasil curian, merusak diri. Kenyang dengan hasil keringat sendiri, membahagiakan. Akhiri hidup di dunia ini dengan kenyang secara jujur dan kita akan tiba pada keadaan kenyang abadi. Itu di dalam TUHAN.

  • Nelayan

    Nelayan, Petani, Peternak, itu tiga manusia yang memberi makan kepada semua manusia di dunia ini. Nelayan siap ikan. Petani siap nasi. Peternak siap daging. Lengkaplah menu harian untuk manusia. Nelayan itu cari ikan atau ikan cari nelayan, tidak ada yang tahu persis. Keduanya baku cari. Ini kearifan yang sulit diselami.

    Nelayan ada Nafsu untuk cari dan tangkap ikan. Laut adalah medan hidup nelayan. Nelayan dan laut itu satu. Nelayan tak mungkin tanpa laut. Laut pun tak bisa dipisahkan dari neayan. Laut tenang, nelayan senang. Laut bergelora, nelayan galau. Ikan jadi pemersatu antara laut dan nelayan. Berjenis-jenis binatang laut akrab dengn nelayan. Nelayan mengenal begitu banyak biota laut sesuai alam laut, tropis, sub-tropis atau kutub.

    Nelayan ada Nalar untuk duga gelagat laut. Di mana dan kapan ikan bergurau menanti datangnya nelayan, sudah ada dalam peta Nalar nelayan. Dugaan nelayan jarang meleset. Sepertinya ikan dan nelayan sudah ikat janji untuk bertemu. Berbagai alat disiapkan nelayan dan ikan menyerah untuk ditangkap. Ini semua karya Nalar si nelayan.

    Nelayan ada Naluri untuk menyapa dan disapa oleh berbagai jenis penghuni laut. Begitu akrabnya nelayan dengan ikan-ikan sampai ikan-ikan kalau ditangkap, menggelepar menyapa nelayan sambil memercikkan sejuknya air laut ke pipi nelayan dan menjabat tangan nelayan dengan sirip dan ekor yang dikebas sesuai irama deburan ombak memecah di pantai.

    Nelayan ada Nurani untuk mendekap ikan yang menggelepar dan membisikkan suara sendu dari bathin untuk membujuk sang ikan tenang dan lelap dalam perahu yang sedang didayung. Nelayan menatap langit dan berseru kepada Sang Pencipta mohon selamat tiba di pantai sambil bersyukur bahwa sejumlah ikan sudah siap untuk disantap.

    Empat unsur dalam dalam diri pribadi sang nelayan, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI, menyatu berpadu dengan laut dan penghuni laut. (4N, Kwadran Bele, 2011). Itulah nelayan, kembaran petani dan peternak, kembar tiga, pencari dan pemberi nafkah untuk diri dan sesama dalam alam ciptaan TUHAN.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Peternak

    Peternak. Kawannya, Petani dan Nelayan. Tiga orang ini yang cari makan untuk diri dan sesama. Semua manusia, kita,  dapat makan dari tiga orang ini. Peternak itu akrab dengan padang dan ternak. Petani akrab dengan tanah dan tanaman. Nelayan akrab dengan laut dan ikan. Tiga orang ini hidup tanpa banyak omong. Mereka menyatu dengan tanaman, ternak dan ikan.

    Nafsu mendapat rezeki mendorong peternak untuk sayang ternak, kecil besar sesuai keadaan alam tempat huniannya. Nalar peternak luar biasa cerlang, karena dia tahu setiap perilaku ternak yang ia sayangi. Naluri peternak membuat dirinya akrab dengan ternak sebagai sahabat sampai ia sapa dengan nama. Nurani peternak tergerak untuk memohon pada Sang Pencipta supaya ternaknya aman dan setiap saat ia syukuri rezeki yang ia peroleh dari ternak yang dipeliharanya. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Empat unsur ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI secara sangat sederhana ada dalam tiap diri ternak. Nafsu hidup mendorong ternak untuk melolong mencari peternak, tuannya, bila ia lapar atau celaka. Nalar ternak bekerja untuk mengikuti peternak ke mana dirinya diarahkan untuk memperoleh pakan. Naluri ternak mendorong hewan ternak untuk taat pada perintah tuannya. Nurani ternak membuat diri ternak terbaring nyenyak dalam kandang tuan pemiliknya.

    Empat unsur itu ada secara penuh dalam diri manusia, sang peternak. Pencipta, TUHAN, menaruh empat unsur kepribadian ini dalam diri kita setiap manusia, termasuk peternak untuk berkontak dengan hewan ternaknya. Kalau terhadap ternak, hewan, manusia, kita-kita ini, masih atur, Nafsu, masih hitung, Nalar, masih pelihara, Naluri, masih sayang, Nurani, mengapa kita dengan kita, sesama manusia, tidak salurkan empat unsur ini secara benar antar kita?

     

  • Ramah dan Marah

    Ramah dan Marah. Dua kata yang terdiri dari lima huruf yang sama. Tukar tempat. Artinya jadi lain sama sekali. Ini satu keunikan bahasa kita, bahasa Indonesia. Nafsu disalurkan dengan dua cara, ramah atau marah. Nalar mengolah maksud dan tujuan dua kata ini, ramah atau marah untuk apa? Naluri tergerak oleh dua pilihan, marah atau ramah. Hasilnya beda, marah ada musuh. Ramah, ada kawan. Nurani langsung bisik, untuk apa marah, untuk apa ramah? Jangan marah. Ini perintah dari Nurani.

    Kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia ini mengolah dua kata menjadi kesibukan tersendiri dalam diri kita. Marah membuat seluruh tubuh kita terbawa terpaan sumpah dan serapah. Ramah meneduhkan diri kita dalam keheningan yang bening penuh kesejukan.

    Ramah dan marah tidak tercampur. Saat ramah, yah, ramah. Wajah menjadi lembut selembut kapas. Pipi memerah laksana delima. Sesama sekitar turut teduh dan tenang. Saat marah, yah, marah. Tidak pernah serentak marah dan ramah. Tidak mungkin. Lebih sering ramah dan kurang marah membuat diri kita manusia jadi jinak dan mudah dielus. Yang mengelus terbius rasa manisnya hidup. Yang terelus terhanyut oleh sejuknya air telaga teduh kehidupan.

    Saat marah, suara jadi parau, dada terasa sesak, rambut pun ikut berdiri seperti duri landak. Insan yang marah jadi buas, mata menyala, bibir gemetar kaki terhentak siap menerjang. Aneh. Manusia makhluk mulia lenyap kemuliaannya kalau sedang marah.

    Empat unsur dalam diri kita manusia:NAFSU +  NALAR + NALURI  + NURANI harus dikendali sekian sehingga yang muncul itu, ramah. (4 N, Kwadran Bele, 2011).  Kalau empatnya seimbang, maka pasti ramah yang muncul. Kalau salah satunya terlanjur terjulur terlalu keluar, pastilah marah yang menggelegar.

    Tuhan Pencipta kita mau yang seimbang antara empat unsur itu sehingga yang nampak, ramah dari saat ke saat sampai pada akhir hayat pun di wajah tetap tersungging senyum dan terpancar aroma ramah.

  • Serap dan Resap

    Serap dan resap. Dua kata yang sederhana kaya makna. Serap itu tindakan. Resap juga tindakan. Tanah serap air. Air meresap ke tanah.

    Saya serap ilmu. Ilmu meresap dalam diri saya. Lebih dahulu serap baru resap. Tanah serap air yang meresap. Saya meresapkan ilmu yang saya serap. Serap resap. Itu urutan tindakannya. Tidak terbalik, resap serap. Serap apa yang diresap. Bukan resap  apa yang diserap. Saya serap baru resap. Mengapa dua kata ini dibolak-balik sekian sampai begitu merepotkan?

    Nafsu manusia serap sekian banyak keinginan. Nalar manusia serap begitu banyak pengetahuan dan pengalaman. Naluri manusia serap manis-pahitnya pergaulan. Nurani manusia serap damai dan galaunya rasa. Semuanya itu meresap dalam diri kita manusia. Terlebur menyatu menjadi diri yang bertumbuh dari saat ke saat. Inilah urutan tindakan serap ke resap yang membuat diri kita manusia tak pernah berhenti bergerak sampai nafas terakhir terhembus. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia tidak mungkin  resap segala sesuatu dari luar dirinya tanpa lebih dahulu ia serap. Kita resap dalam diri kita apa yang kita serap. Tak pernah mungkin kita serap apa yang tidak kita resap. Serap membutuhkan kegiatan. Resap dengan sendirinya terjadi tanpa diatur. Serap diatur. Resap tidak. Di sinilah letaknya akibat baik atau buruk dari penampilan diri kita sebagai hasil dari apa yang kita serap lalu meresap tanpa kita kendali lagi.

    Serap membutuhkan kehendak bebas. Bisa pilih apa yang mau diserap. Resap tidak lagi dapat dikontrol. Dengan sendirinya apa yang kita serap itu meresap dalam diri kita. Nafsu kalau resap yang baik maka dalam diri kita akan menyerap hal yang baik dan membuat diri kita orang baik. Nalar kalau resap pengetahuan dan pengalaman yang baik maka dalam diri kita akan menyerap segala yang baik itu. Naluri kita kalau meresapkan tawa-ria maka seluruh diri kita terbawa terbang oleh tawa-ria yang terserap. Nurani kita pun turut meresap segala kebaikan yang selanjutnya terserap sebagai harta yang baik dan menampilkan diri kita sebagai orang baik.

    Kita hidup ini meresap kehidupan yang dicurahkan Pencipta ke dalam tubuh yang terbentuk sejak jadinya diri kita dalam rahim sang ibu yang bersatu dengan sang ayah. Kehidupan yang kita resap itulah yang terserap dalam diri kita sejak awal sampai akhir hidup kita. Waktu dalam rahim ibu, kita meresap apa yang sang ibu resap. Dan itu terserap. Itulah yang kita namakan warisan atau pembawaan. Pembawaan adalah serapan dari apa yang kita serap dari segala yang terserap dalam diri ibu yang sudah serap dari luar dirinya. Diri kita adalah hasil serapan buah perpaduan antara benih ayah dan ibu.  Maka yang kita serap itu perpaduan ini. Dalam rahim ibu kita pun sudah diberi kemampuan untuk serap segala yang disalurkan Pencipta lewat ibu dan ayah kita dan semuanya ini meresap dalam diri kita.

    Kita hidup ini serap kebaikan Pencipta yang kita sebut Rahmat. Rahmat itu teresap dalam diri kita. Nikmati yang baik hasil resapan dari Nafsu yang merepas yang baik. Pikiran yang baik hasil Nalar yang menyerap yang benar. Keakraban adalah hasil Naluri yang menyerap pergaulan dengan sesama yang baik. Rasa tenteram dan damai hasil Nurani yang menyerap segala yang tenteram dan damai.

    Hidup ini serap dan resap Rahmat dari Pencipta.