Blog

  • Sibuk terus

    Sibuk terus. Semua manusia sibuk terus. Tidak ada manusia yang tidak sibuk. Sibuk tanda hidup. Kesibukan adalah kehidupan. NAFSU kita mendorong diri kita untuk sibuk terus cari makan-minum dan apa saja yang kita butuhkan.  Tentu yang baik, benar dan bagus. NALAR mendorong kita untuk sibuk terus berpikir dan berpikir cari kebenaran.  NALURI mengajak kita untuk terus sibuk berada dekat sesama, mulai dari keluarga sampai masyarakat luas.   NURANI mendorong kita untuk sibuk terus mencari ketenangan. Inilah kerjasama empat unsur dalam diri kita manusia yang menyebabkan kita sibuk terus. Tidur saja pun bahagian dari kesibukan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sibuk terus. Apa yang dicari? Apa hasilnya? Tidak pernah ada yang cari celaka. Sibuk terus cari celaka. Tidak mungkin. Jadi? Sibuk terus cari sebaliknya, selamat. Cari selamat. Selamat dari apa? Selamat dari celaka. Celaka apa? Lalu-lintas? Yah. Lalu-lintas kehidupan. Kita hidup ini lalu-lalang, lalu-lintas  ke sana-sini karena cari dan cari. Itu yang membuat kita sibuk terus. Lalu-lintas saja ada rambu-rambu. Lebih lagi hidup. Sibuk jaga dan ikut aturan hidup itu.

    Sibuk terus. Kalau sibuk tanpa arah, tidak biasa. Satu arah, yah. Tetap sibuk terus dengan arah yang satu, tertentu, tepat, cepat dan tetap. Orang sibuk tidak suka berlambat-lambat. Itulah tanda hidup. Hidup itu tetap. Hidup yang sibuk tidak berarti ada hidup yang tidak sibuk. Sibuk sekali, itu pun keterlaluan. Sekarang saya tidak sibuk. Itu bohong. Duduk pun sibuk. Sibuk duduk.

    Sibuk terus. Kembali lagi ke pertanyaan, cari apa? Cari empat hal: senang, gembira, puas dan bahagia. Ini empat tingkat tujuan dari sibuk. Empat tingkat ini boleh dilihat juga sebagai empat sisi atau empat bahagian satu keutuhan. Satu kesatuan. Empat hal ini tidak ada sementara tidak ada kekal. Dengan terciptanya diri kita oleh SANG PENCIPTA, empat hal ini sudah ada bersamaan dengan empat unsur dalam diri kita yang ulang-ulang ditulis: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI.

    Sibuk terus. Ini membuat setiap diri kita dan bersama diri-diri yang lain senang, gembira, puas dan bahagia yang sudah ada terus ada dan berkembang sampai tiba pada puncaknya. Di mana? Yah, di haribaan PENCIPTA kita.

  • Mencari terus

    Mencari terus. Kalau mencari terus, kapan penemuannya? Apa yang dicari terus? Kita manusia ini tetap bergerak karena terus mencari. Mencari berarti ada yang dicari karena yang dicari itu tersembunyi. Sesudah didapat, ada lagi yang tersembunyi dan kita lagi-lagi tergerak terus untuk mencari dan mencari.

    Mencari terus. Sebenarnya ini dorongan yang wajar dari NAFSU. Tidak pernah terpuaskan. Mencari terus karena kita tergerak oleh NALAR. Sudah tahu, masih mau tahu lagi. Sudah alami, masih mau alami lagi. NALURI kita turut tergerak untuk menemui dan mengajak sesama untuk turut mencari. Sendiri mencari dan mengajak sesama untuk mencari. NURANI kita menjadi tenang dan damai karena hasil mencari sudah menemukan yang dicari lalu mencari lagi. Empat unsur dalam diri kita ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI terpadu mencari apa yang sudah didapat lalu tergerak terus untuk mencari lagi dan lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mencari terus. Cari, dapat. Cari, dapat. Dapat dan berhenti cari berarti hidup terhenti. Karena hidup itu mencari. Mencari apa? Di sini letak persoalannya, cari apa? Cari siapa? Cari empat hal, empat keadaan. Keadaan senang, gembira, puas dan bahagia. Atau dibendakan, kesenangan, kegembiraan, kepuasan, kebahagiaan. Inilah empat hal, empat keadaan  yang dicari dan terus dicari dalam hidup ini. Lalu kapan ditemukan sampai kita berhenti mencari? Pasti akan ada akhir dari upaya mencari ini. Kapan? Itu, saat tubuh ini terlepas dari kungkungan waktu dan tempat. Itu yang disebut kematian. Saat itu kita berhenti mencari. Lalu apa yang kita dapatkan?

    Mencari terus. Akan ada akhirnya, karena yang dicari akhirnya ditemukan. Di mana? Tidak di mana-mana. Kapan? Tidak ada waktunya. Lalu? Berhenti mencari itu sewaktu kita berdekapan karena didekap oleh DIA, TUHAN, Yang menciptakan kita dan merindukan kita sampai kita mendapatkan-NYA dan DIA mendapatkan kita.

    Hidup ini terarah ke sana. Di sanalah, pada saat itulah akan terjadi: senang abadi, gembira abadi, puas abadi dan bahagia abadi. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI tidak mencari lagi karena sudah mendapatkan apa yang dicari, terutama SIAPA Yang dicari itu sudah ditemukan, TUHAN.

  • Belajar terus

    Belajar terus. Kita ada NAFSU untuk mencari dan menemukan yang baru. Hal ini membuat kita hidup dan terus hidup. Kita ada NALAR untuk terus mengetahui dan mengalami hal-hal yang baru. Pengetahuan dan pengalaman baru membuat kita tetap gembira dan lupa akan penderitaan dan keluh-kesah. Kita ada NALURI untuk selalu menemui orang yang kita cintai dan mau mengulangi pertemuan itu sebagai penyegaran dalam hidup. NURANI kita selalu mendorong kita untuk menjadi pribadi yang tenang dan penuh kedamaian bathin.

    Belajar terus. Kita belajar. Apa yang dipelajari? Segala hal. Ada yang mengajar. Setiap saat itu adalah kesempatan untuk belajar. Hidup ini sebenarnya rentetan dari belajar ke belajar. Inilah yang kita sebut dengan istilah belajar terus. Hasil dari belajar terus itu ada empat sesuai dengan empat unsur yang ada dalam diri kita sebagai perangkat kepribadian kita. Karena belajar terus, NAFSU terpenuhi dan kita senang. Belajar terus membuat NALAR kita semakin cerdas dan itu membuat kita gembira. Karena belajar terus, NALURI kita terpenuhi dengan perjumpaan yang  membuat kita puas. Belajar terus membuat NURANI kita menimba ketenangan dan itu yang namanya bahagia. Senang, gembira, puas dan bahagia adalah empat unsur yang menyatu dalam diri kita menjadi utuh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Belajar terus. Bukan hasilnya tapi kesibukan itulah yang membuat kita hidup penuh gairah. Tanpa belajar atau malah berhenti belajar sama artinya berhenti hidup. Tidak mungkin hidup tanpa belajar. Belajar itu bukan sekedar menghimpun hal-hal dari luar tetapi menyalurkan isi dari diri dengan NAFSU yang teratur, NALAR yang segar, NALURI yang tegar dan NURANI yang tenang.

    Belajar terus. Hidup kita menjadi gersang kalau lalai belajar. Belajar itu bukan soal ilmu pengetahuan. Belajar itu soal irama hidup seiring dengan denyut jantung. Belajar itu meniti titian menuju jari-jari yang melambai siap menyentuh dan mengelus pipi kita yang sedang diliputi peluh kepayahan dalam berjalan. Jari-jari siapa? Siapa lagi kalau itu bukan jari-jari dari tangan yang mencipta kita, TUHAN.

  • Kaul Kemurnian

    Kaul Kemurnian

    Kaul Kemurnian. Sering juga disebut kaul keperawanan atau kaul kesucian. Janji untuk tidak kawin. Hidup wadat. Orang yang hidup membiara dalam Gereja Katolik wajib mengikrarkan kaul kemurnian ini. Konsekuensinya, hidup tidak kawin. Dalam hidup sehari-hari, seorang yang berkaul kemurnian, hidup seorang diri tanpa ada pasangan kawin. Di satu pihak dirinya tidak terikat oleh pasangan, entah itu suami atau isteri. Di pihak lain, dirinya bebas untuk mengabdikan diri untuk sesama tanpa ikatan atau halangan keluarga.

    Kaul kemurnian. Berdasarkan filsafat kepribadian, (4N, Kwadran Bele, 2011), kaul kemurnian ini dapat direnungkan sebagai berikut. Kita manusia dianugerahi TUHAN empat unsur, terdiri dari 4N: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Empat unsur ini harus dikembangkan secara serentak dalam arah yang ditentukan oleh TUHAN, baik, benar dan bagus.

    Kaul kemurnian. NAFSU itu dorongan, keinginan untuk segala hal yang baik, benar dan berguna bagi keberlanjutan hidup setiap orang. Dorongan untuk hidup berkeluarga termasuk dalam NAFSU ini dalam arti yang positif. Tiap pribadi bebas untuk menyalurkan NAFSU ini atau tidak. Lewat janji untuk hidup murni, tidak kawin, pribadi yang berkaul kemurnian itu memilih dan memutuskan untuk hidup sendirian tanpa ada pasangan sebagai suami atau isteri.

    Kaul kemurnian. NALAR yang ada di dalam diri pribadi manusia yang berkaul diarahkan untuk mempertimbangkan secara matang, hidup bersama dengan sesama dengan keputusan tanpa ikatan perkawinan. Ini hanya bisa dicerna oleh NALAR dengan pertimbangan supra-NALAR. Campur tangan dari TUHAN.

    Kaul kemurnian. NALURI yang ada di dalam diri setiap kita manusia, mendorong diri kita untuk hidup bersama orang lain. Dorongan ke arah hidup bersama sesama dalam ikatan perkawinan adalah hal yang sangat wajar dan kodrati. Dalam kaul kemurnian, dorongan untuk kawin inilah yang sengaja, dengan tahu dan mau, pribadi itu menyatakan tidak, sehingga ia bebas dalam bekerja untuk sesama dan berbakti kepada TUHAN.

    Kaul kemurnian. NURANI yang ada dalam diri manusia diberi TUHAN untuk meresapkan kemurnian yang paling murni yang hanya ada dalam DIRI TUHAN. Kemurnian inilah yang dihayati dan dijalani oleh setiap orang yang mengikrarkan kaul kemurnian.

    Kaul kemurnian. Hal yang murni dijalani dalam hidup dengan penuh kesadaran oleh yang berkaul untuk memberikan kesaksian kepada sesama bahwa keempat unsur yang ada dalam diri manusia dapat menghantar manusia kepada TUHAN sumber kemurnian itu sendiri. NAFSU dimurnikan lewat  kebebasan dari ikatan perkawinan. NALAR dimurnikan dengan pikiran dan pengalaman serta keyakinan akan adanya hidup tanpa harus diikat dalam ikatan perkawinan. NALURI dimurnikan dengan kesadaran bahwa keakraban antara sesama manusia dapat dijalani tanpa harus lewat perkawinan.  NURANI dimurnikan dengan kesadaran bahwa melayani sesama dan mengabdi TUHAN itu lebih terarah dengan bebas tanpa ikatan perkawinan.

    Kaul kemurnian. Janji yang satu ini mengaktifkan empat unsur dalam diri manusia secara murni dengan mengikatkan empat unsur itu pada TUHAN. Panggilan dan pilihan dari TUHAN kepada diri orang  yang mengikrarkan kaul kemurnian itu menjadi contoh teladan yang nyata bahwa hidup sesudah hidup di dunia ini adalah hidup seperti itu, murni, tidak kawin dan dikawinkan. Itu hidup seperti Malaikat. Ini benar. Soal Iman. Terserah pada tiap diri kita, percaya atau tidak. TUHAN lihat kita.

     

  • Kaul Kemiskinan

    Kaul Kemiskinan. Janji untuk hidup miskin. Aneh. Umumnya orang cari kekayaan. Ada yang janji untuk miskin. Dalam Gereja Katolik ada tradisi bahwa kaul kemiskinan itu dipadukan dengan dua kaul yang lain, kemurnian dan ketaatan. Tiga kaul. Orang-orang yang berkaul itu disebut biarawan atau biarawati. Kehidupan mereka disebut hidup membiara yang terikat erat dengan sesama lain yang berkaul. Mereka ada ratusan ribu di dunia sekarang ini, laki-laki dan perempuan. Mereka hidup dalam kebersamaan, penghasilan mereka dikumpulkan untuk kepentingan bersama. Tidak ada harta pribadi. Ini yang disebut kemiskinan demi kehidupan bersama.

    Kaul kemiskinan. Dari segi akal sehat, kaul atau janji yang satu ini bisa dianalisa dengan teori ‘4N, Kwadran Bele, 2011.

    Kita manusia ini diberi anugerah oleh TUHAN,  empat unsur, disingkat ‘4N’: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Ini dilukiskan dalam satu segi empat dibagi empat maka disebut ‘Kwadran’ dan dikaitkan dengan yang merumuskan, Anton Bele, maka disebut ‘Kwadran Bele’ dirumuskan pada tahun 2011 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, sehingga sebagai pertanggungan-jawaban ilmiah, selalu ditulis, ‘4N, Kwadran Bele, 2011’.

    Kaul kemiskinan. NAFSU untuk kaya, itu biasa. NAFSU untuk miskin? Ini di luar dari biasa. Tapi miskin dalam arti melepaskan diri dari ikatan pada harta demi tujuan yang lebih luhur, berbagi dengan sesama untuk bekerja bersama mewartakan dan memberi kesaksian tentang Sabda TUHAN untuk hidup saling mengasihi, mengapa tidak? Tujuan yang luhur inilah menjadi dasar untuk hidup miskin, mengalihkan NAFSU cari harta menjadi NAFSU mengabdikan harta perolehan pribadi dalam kebersamaan.

    Kaul kemiskinan. NALAR untuk berupaya memperoleh uang, menghimpun modal kerja, wajar. Sejauh harta yang diperoleh itu atas cara yang wajar dan jujur. Berdasarkan pertimbangan NALAR dari orang yang berkaul, hidup miskin dalam arti menyerahkan harta yang diperoleh diabdikan untuk kepentingan yang lebih luas dan luhur, maka kaul ini menjadi sangat bernilai tinggi dan abadi.

    Kaul kemiskinan. NALURI untuk hidup kaya, biasa. Tapi NALURI diarahkan untuk membagi harta yang diperoleh bagi orang lain dalam rasa persaudaraan menimbulkan rasa puas yang luar biasa. Ini yang lebih berkenan pada TUHAN Pemberi NALURI itu.

    Kaul kemiskinan. NURANI untuk hidup tenang, damai dan bahagia itu ditempatkan TUHAN dalam diri manusia untuk sadar bahwa hidup terikat pada tempat dan waktu di dunia ini merupakan jembatan ke hidup yang kekal, penuh kedamaian dan kebahagiaan. Demi hidup yang abadi tanpa terikat lagi pada waktu dan tempat, seseorang mengikrarkan kaul untuk hidup miskin, harus dimengerti sebagai panggilan dan pilihan dari TUHAN sendiri.

    Kaul kemiskinan. Kaul yang satu ini salah satu segi dari segi tiga, kemurnian –  ketaatan – kemiskinan. Benar apa yang sampai sekarang dianggap sebagai satu kebenaran umum, hidup di dunia ini sementara, mati tidak bawa apa-apa. Kalimat ini sederhana, tapi benar karena kita alami setiap hari. TUHAN Sang Pemilik diri kita, berkenan dengan hidup miskin demi tujuan yang lebih luhur, lepas dari harta dan lekat pada TUHAN.

  • Kaul Ketaatan

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat. Dalam tradisi Gereja Katolik, ada orang-orang tertentu, laki-laki dan perempuan mengikrarkan kaul entah sementara atau untuk seumur hidup, kaul atau janji untuk tiga hal: kesucian, ketaatan dan kemiskinan. Mereka ini tergabung dalam kelompok yang disebut biarawan atau biarawati. Kelompok ini hidup tidak kawin seumur hidup. Tujuannya satu. Abdikan diri semata-mata untuk urusan rohani.

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat kepada atasan dalam komunitas yang ia pilih. Sesuai bakat yang dimiliki, seseorang yang berkaul itu hidup mengabdikan bakat dan kemampuannya untuk kehidupan rohani diri dan sesama di mana dia ditugaskan. Ke mana pun saja diutus, ia taat untuk pergi. Inilah yang disebut kaul ketaatan. Dalam dinas ketentaraan, kelompok orang berkaul ini ibarat pasukan gerak cepat yang siap sedia sewaktu-waktu taat pada perintah atasan untuk laksanakan tugas yang diberikan.

    Kaul ketaatan. Janji itu diucapkan di hadapan pembesar serikat dan pembesar Gereja dengan alasan dasar, laksanakan panggilan dan kehendak TUHAN. Inilah dasar paling mendasar sehingga orang itu merasa terpanggil oleh TUHAN sendiri untuk melaksanakan tugas-tugas melayani sesama dalam mengejar kebahagiaan. Ini satu bentuk pola hidup yang dipilih dan seumur hidup menempatkan diri di bawah perintah atasan.

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat ini kalau ditinjau dari sudut pandang filsafat kepribadian, ‘Kwadran Bele’, bisa dipilah atas dasar empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Empat unsur ini diberikan oleh TUHAN kepada setiap pribadi manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pribadi yang berkaul ketaatan, biarawan atau biarawati, tetap ada NAFSU dalam arti positif. NAFSU berupa dorongan untuk hidup dalam bentuk dorongan untuk makan-minum, mencari kesenangan, mengejar nama besar dan menjaga nama baik. NAFSU ini diperjuangkan dan dihayati dalam ketaatan kepada pertimbangan dan keputusan atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NALAR dalam dirinya. Semua daya NALAR dikerahkan secara baik dan benar untuk kepentingan sesama dalam ketaatan pada perintah atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NALURI dalam dirinya untuk bergaul dengan sesama, baik dalam biara maupun di luar biara. Dorongan Naluri ini diatur sesuai dengan pertimbangan dan keputusan atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NURANI dalam dirinya untuk menyadari adanya TUHAN Pengasih dan Penyayang Yang selenggarakan hidup diri pribadi orang itu  dan sesama. Taat dalam mengikuti keputusan atasan dalam biara berdasarkan pertimbangan NURANI merupakan pelaksanaan kaul ketaatan.

    Kalau dorongan dari empat unsur dalam diri pribadi orang yang berkaul itu dilaksanakan dengan penuh kesadaran akan makna tujuan mulia, melaksanakan kehendak TUHAN dalam melaksanakan perintah atasan, maka kaul ketaatan yang diikrarkan itu membuahkan kesenangan, hasil NAFSU, kegembiraan hasil NALAR, kepuasan hasil NALURI dan kebahagiaan hasil NURANI.

    Perpaduan empat unsur dalam diri manusia inilah yang disebut keseimbangan, kematangan, kedewasaan dan tanggung-jawab. Taat demi TUHAN

  • Tentu

    Tentu. Penentu.  Penentuan.  Ketentuan. Sudah tentu. Belum tentu. Hidup ini penuh dengan belum tentu. Kalau hidup ini penuh dengan sudah tentu, maka hilanglah gairah untuk hidup. NAFSU ditempatkan dalam diri kita manusia oleh PENCIPTA untuk mengejar dan mencapai tentu yang belum tentu. NALAR adalah unsur dalam diri kita yang bergelut dengan segala yang belum tentu untuk menjadi tentu. NALURI itu dorongan untuk mewujudkan bersama sesama agar yang belum tentu itu menjadi tentu.  NURANI jadi penentu yang belum tentu itu menjadi tentu dan hasilnya tentu tenang dan damai. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tentu. Tentu itu adalah saat sekarang ini. Yang lalu itu sudah tentu. Yang akan datang itu belum tentu. Sekarang inilah yang tentu itu menjadi tentu sebagai kesinambungan dari yang sudah tentu menyongsong yang belum tentu. Inilah dinamika hidup. Timbul pertanyaan, siapa penentu itu. Apa isi ketentuan itu. Tentu jawabannya sudah tentu, bukan diri kita ini, tetapi, Penentu yang tidak ditentukan lagi dan yang menentukan ketentuan yang sudah tentu. Itulah TUHAN, SANG PENENTU. Kita hidup dari tentu ke tentu ini mengisi ketentuan dari SANG PENENTU.

    Tentu. Hidup kita menjadi sulit, kabur dan terombang-ambing kalau kita berada di luar dari ketentuan dari SANG PENENTU. Setiap kita boleh menentukan apa saja. Dan itu pasti belum tentu dan tidak tentu.  Untuk menentukan apa yang akan terjadi haruslah kita selaraskan dengan ketentuan dari SANG PENENTU.  Di luar itu tentu terjadi hal yang tentu kita semua tidak harapkan, malapetaka.

    Tentu. Sudah jelas bahwa kita tentu senang karena keinginan NAFSU terpenuhi. Kegalauan NALAR terurai, gembira.  Kerinduan NALURI tercapai, puas.  Harapan NURANI terpenuhi, bahagia. Empat keadaan ini: Senang + Gembira + Puas + Bahagia menjadi satu kesatuan yang tentu membuat kita hidup penuh gairah. Ini ketentuan dari SANG PENENTU Yang menentukan setiap kita Senang + Gembira + Puas + Bahagia abadi dalam keabadian hidup yang sudah ditentukan sejak kita ada dan berada dalam ketentuan SANG PENENTU, TUHAN.

  • Jual Obat

    Jual obat. Tukang jual obat. Ungkapan ini ejekan. Senang kalau obat laku. Heran bahwa ada orang yang mau beli. Hidup ini jual obat.  Tipu. Baku tipu sana baku tipu sini. Tertipu itu barang biasa. Orang lain tertipu sendiri juga tertipu. Hasil jual obat. Obat yang dijual, khasiatnya sedikit, bungkusnya yang hebat. Pembeli tertarik dengan kemasannya bukan isinya. Tidak perduli dengan isinya. Hiburan sesaat. Tawaran menggiurkan. Terbuai belaian bujuk rayu. Hanyut. Itulah hidup. Kajian filsafat tentang jual obat ini, mudah. Pakai ‘Kwadran Bele’, 4N.

    Jual obat. Ini dorongan NAFSU untuk didengar dan mendengar. Pihak penjual obat, ingin didengar. Tambah bumbu di sana-sini supaya mengelabui pendengar. Pihak pembeli obat, ingin mendengar. Biar sadar bahwa ini lebih banyak bohongnya dari pada benarnya. Ada pertimbangan NALAR. Penjual pilih kata-kata yang tepat untuk mempengaruhi pembeli. Pembeli saring yang didengar. Akhirnya timbang sana timbang sini, dan putuskan, beli. Obat laku. NALURI bekerja keras. Penjual mulut berbusa-busa suarakan kata-kata bertuah, pembeli terkagum-kagum percaya gaung tong kosong. Saling menyapa dan terjadi transaksi, jual-beli bertamengkan bohongan saling menolong. NURANI dua belah pihak tercenung merenung resap udara damai sejahtera padahal hampa. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jual obat. Sering dari mimbar-mimbar kudus pun terdengar jual obat. Sendiri tidak menghayati, suruh orang mendengar dan laksanakan. Dari panggung-panggung politik, apa lagi. Jual obat paling hebat. Laku keras. Meja-meja pertemuan ditata. Rapat. Perdamaian. Padahal hanya di mulut dan di kertas. Ini bukti nyata hidup jual obat. Obat yang sedianya menyembuhkan, malah mematikan.

    Jual obat. Sejak adanya manusia sampai sekarang, saya, anda, dia, kita, sibuk jual obat. Kadang-kadang laku, lebih sering tidak laku. Dunia ini kacau-balau karena kita semua terlalu banyak jual-beli obat.

    TUHAN tetap dengar dan lihat dan terus tegur,  kadang-kadang jewer kita untuk kurangi jual obat.

     

     

     

  • Hening dan Bening

    Hening dan bening. Dua kata yang erat berkaitan satu sama lain. Hening ya bening. Bening ya hening. Kita manusia ini mau yang itu: hening dan bening. Kalau ada suasana bising, lari, cari hening. Kalau buram, kusam, gosok supaya bening. Hening dan bening menjadi prasyarat untuk terjadinya suasana teduh, tenang, aman dan damai.

    Kita ada NAFSU untuk senantiasa cari suasana hening. Kita ada NALAR untuk atur supaya keadaan bening dan tembus pandang. Kita ada NALURI untuk ajak sesama supaya sekitar itu tetap hening dan bening, tidak kacau-balau. Kita ada  NURANI yang tampung rasa teduh dalam situasi yang hening dan bening. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hening dan bening. Saya, anda, dia, kita, sering sendiri ciptakan suasana gaduh. Pikiran kacau, suara parau, gurau hilang dan hati galau. Ini semua karena hilang itu yang hening dan lenyap yang namanya bening. Kita manusia ini hanya bisa hidup dalam suasana yang hening dan dalam alam yang bening. Rusuh dan keruh itu menghancurkan diri kita. Resah, risau, kisruh adalah bahagian dari yang namanya rusak yang merusak hidup kita. Itu ulah kita manusia sendiri. Tidak boleh hal ini terjadi.

    Hening dan bening. Itu dari TUHAN, Pencipta kita. Setiap kita harus upayakan suasana yang hening. Peredaran darah kita jadi lancar dalam tubuh yang hening. Syaraf otak jadi lentur dalam alam yang hening itu. Tidak kusut. Pikiran kita kusut karena kita sendiri yang membuat suasana di dalam diri dan sekitar kita keruh dan kisruh. Gerak hidup kita harus mengikuti irama yang teratur, bangun pada waktunya, bekerja dan beristirahat secara teratur. Makan dan minum secukupnya sesuai kebutuhan, menyapa sesama secara santun. Beribadah sesuai ajaran dan tradisi agama yang kita anut. Ini semua menjadi sumber suasana yang hening dan bening.

    Hening dan bening. Suasana hidup jadi aman dan damai kalau diri hening dan bathin bening. Kegaduhan dihindari, kerusuhan dicegah. Tiap manusia adalah sesama yang sama-sama mengupayakan suasana hidup yang hening dan bening. TUHAN menghendaki adanya suasana yang hening dan bening. Hidup sesudah hidup di dunia ini suasananya hening abadi dan bening abadi. Ke sana kita menuju.

     

     

     

  • Warta-berita

    Warta-berita. Ada warta. Ada berita. Begitu banyak warta, begitu banyak berita sehingga digabung menjadi warta-berita. Warta-berita itu rupa-rupa. Ada gembira, ada duka. Ada benar, ada salah. Ada jujur, ada bohong. Ada lambat, ada cepat. Dengan adanya teknologi baru, manusia dapat menyebar warta-berita begitu cepat sehingga warta-berita dari sudut Afrika dapat diterima dalam sekejap oleh saya di Kupang, sudut Indonesia.

    Kalau dipakai perhitungan saat ini, sekitar delapan milyar manusia menghuni bumi dan sekitar tujuh milyar yang sudah mampu menyebar warta berita, maka dalam sekejap tujuh milyar warta-berita tersebar, belum lagi satu menit, satu hari, satu minggu bahkan satu tahun, maka triliunan warta-berita berseliweran di seantero bumi antara umat manusia.

    Warta-berita. Kita manusia hidup di dalam arus dan gelombang warta-berita. Kita sendiri yang wartakan, beritakan, sebarkan warta-berita. Kita manusia suka dengar, suka serukan, suka kirim dan suka terima warta-berita. Ini karena apa? Karena dalam diri kita manusia ada empat unsur ini: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    NAFSU menggebu-gebu untuk segera menyebarkan warta-berita kepada sesama. Yang mengirim dan yang menerima sama-sama senang atau susah saat terima warta-berita itu. Ini adalah dorongan NAFSU dalam diri kita. NALAR kita siap olah warta-berita  untuk disebarkan dan siap pula mencerna isi warta-berita yang dikirim atau diterima. NALURI kita tenang sesudah menyebarkan warta-berita dan merasa puas kalau warta-berita sudah tersebar dan ditanggapi. NURANI kita tenang dan damai sewaktu  warta-berita yang dikirim menenangkan sesama atau sebaliknya warta-berita yang diterima membawa kesejukan dan ketenteraman.

    Warta-berita. Aneh kalau ada di antara kita yang suka karang-karang warta-berita yang simpang siur penuh kebohongan, bermuatan iri dan dengki. Tidaklah heran kalau kita yang hidup sekarang sering dibuat cemas dan bingung karena warta-berita yang disebarkan sarat dengan muatan penuh tipu muslihat, saling menjebak dan saling menjatuhkan. Akibatnya kegaduhan yang terjadi dan bukan keteduhan. Kapan penyelewengan arah dan tujuan warta-berita ini berakhir?

    Warta-berita. Tujuan warta-berita hanya satu. Damai. Yang damai semakin damai. Karena, kita manusia diciptakan oleh TUHAN dalam damai, hidup damai menuju damai abadi dalam kebersamaan dengan DIA, TUHAN, SANG-DAMAI.