Blog

  • Sebarkan Kebaikan

    Sebarkan kebaikan. Ini kewajiban setiap orang. Mulai di dalam keluarga sampai ke masyarakat luas, tiap orang mempunyai kewajiban untuk sebarkan kebaikan.

    Di era digital ini kewajiban sebarkan kebaikan sangat mudah. Kebaikan itu muncul dari empat sumber: pikiran, perkataan, perbuatan dan pekerjaan. Pikiran baik mendorong diri kita berkata baik, berbuat baik, bekerja baik.

    Keempat sumber kebaikan ini menampilkan diri kita sebagai seorang baik. Inilah kebaikan. Dan ini yang harus disebarkan setiap saat dengan sadar, tahu dan mau. Manusia baik sebarkan yang baik.

    Sebarkan kebaikan. Masyarakat manusia jadi baik karena kebaikan disebarkan oleh setiap orang yang baik.

    Anak kecil pun pasti baik kalau selalu dapat kebaikan yang disebarkan oleh orang tua dan masyarakat sekitar. Mulai dari usia kanak-kanak setiap orang diharuskan sebarkan kebaikan.

    Diri harus baik untuk sebarkan kebaikan dan membuat diri orang lain jadi orang baik. Dari sudut filsafat, sebarkan kebaikan ini mudah dipikirkan, dipahami dan dilaksanakan.

    Sebarkan kebaikan. Manusia terdiri dari empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. NAFSU kita membuat diri kita  inginkan segala hal yang baik. Senang kalau hal yang baik itu diperoleh dan dinikmati.

    NALAR kita selalu terarah kepada hal yang baik. Mengetahui yang baik dan mengalami yang baik adalah karya NALAR kita. NALURI kita mendorong diri kita untuk mencari dan hidup bersama orang baik.

    Warga Nusa Tenggara Timur Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    Recommended by
    NURANI kita merindukan hadirnya orang baik dan berbuat baik untuk diri kita dan hasilnya ada ketenangan, kebahagiaan. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita yang menyebabkan diri kita jadi orang baik dan siap sebarkan kebaikan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sebarkan kebaikan. Segala upaya dan sarana yang ada di dunia ini tersedia untuk penyebaran kebaikan. Teknologi informasi dalam berbagai bentuk paling mutakhir pun sebenarnya tersedia dan siap digunakan untuk sebarkan kebaikan. Sebarkan keburukan, kejahatan, tidak boleh terjadi di antara kita manusia.

    TUHAN, Pencipta kita, adalah Sumber Kebaikan dan menciptakan diri kita manusia baik adanya untuk tetap baik sampai bersatu dengan DIRI-NYA YANG Maha Baik. Kita harus hidup baik untuk sebarkan kebaikan. Ini tugas kita selama kita hidup di dunia ini.

     

     

  • Santun Beragama

    Santun beragama. Ada orang yang memakai istilah ‘Moderasi Beragama’. Istilah asing, ‘moderasi’. Ini dari bahasa Latin ‘moderari’ artinya: mengatur, menata. Dari kata ‘moderari’ ini lahir kata lain, ‘moderator’, orang yang mengatur, ‘modus’ keteraturan. Kalau istilah ‘moderasi beragama’, untuk mudahnya dikatakan saja, ‘santun beragama’. Kalau dipakai ungkapan ‘santun beragama’, maka empat hal muncul dari sudut filsafat kepribadian manusia. (‘4N, Kwadran Bele, 2011.)

    Kita manusia ini diberi Pencipta kita empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Santun beragama adalah pemunculan ‘4N’ ini dalam hidup beragama.

    NAFSU beragama tampak dalam hal-hal bendawi seperti mendirikan rumah-rumah ibadat, beribadat, busana ibadat, tempat ibadat, waktu beribadat, doa dan lagu ibadat.

    Semua ini dipenuhi oleh manusia karena ada dorongan untuk senang dengan tempat, suasana dan cara beragama. Dalam hal ini perlu kesantunan, yaitu tidak menggembar-gemborkan agama sendiri sambil menghina orang yang berlainan agama.

    Inilah yang namanya santun beragama sesuai NAFSU yang teratur, terukur dan tersalur secara wajar baik di antara sesama yang beragama sama maupun di antara sesama yang berlainan agama.

    NALAR beragama terwujud dalam beragama sesuai daya pikir dan pengalaman yang diwariskan dalam ajaran dan tradisi agama yang dianut.

    Berpikir sesuai agama yang dianut, bertindak sesuai tradisi yang diwariskan secara santun, dalam arti diri gembira dan orang lain pun gembira mendapat pengetahuan serta pengalaman tentang agama sendiri dan agama sesama. Terima ajaran dan tradisi  itu secara santun.

    NALURI beragama adalah dorongan untuk tiap orang bersama orang lain untuk melaksanakan kewajiban agama sendiri dan menghargai orang lain yang berbeda agama. Malah di mana perlu, membantu sesama dari agama lain untuk dia atau mereka beragama dengan tenteram. Hasil yang dicapai adalah puas, rasa puas dalam beragama.

    Warga Nusa Tenggara Timur Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    Recommended by
    NURANI beragama muncul dalam keteduhan bathin yang dialami pada saat menjalankan kewajiban agama sendiri atau saat menyaksikan orang lain menjalankan kewajiban agamanya. Kedamaian, ketenangan, suka-cita, kebahagiaan yang dirasakan dalam hati adalah hasil pelaksanaan kewajiban beragama yang merupakan buah dari sikap santun beragama.

    Santun beragama itu hasinya: Senang + Gembira + Puas + Bahagia. Senang karena dorongan NAFSU beragama terpenuhi secara santun. Gembira karena pencaharian NALAR beragama tercapai secara santun. Puas karena  kerinduan NALURI beragama terjadi dalam kebersamaan dengan sesama. Bahagia karena hasrat NURANI beragama tercipta dalam diri yang terpancar secara santun dalam keteduhan dan kesakralan praktek keagamaan.

    Santun beragama itu wajib hukumnya karena TUHAN Pencipta kita yang kita puja-puji dalam agama mana pun di mana pun kapan pun, menghendaki setiap kita manusia untuk beragama secara santun supaya senang, gembira, puas dan bahagia di dunia yang kelihatan ini maupun di dunia yang tidak kelihatan nanti. Santun beragama itu tidak sukar. Harus beragama dengan santun.

     

     

     

     

  • Turut Serta

    Turut serta. Ini bisa ada dua kemungkinan. Turut serta dalam hal yang baik, atau turut serta dalam hal yang kurang baik. Kita manusia ini ada dalam diri kita empat unsur itu: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Artikel ini muncul dalam situasi konkrit yang sedang saya alami saat ini.

    Turut serta. Ada kawan akrab saya yang sudah banyak berbuat baik bagi diri saya, sedang mengalami masalah. Entah benar atau tidak, saya cuma mengikutinya lewat media sosial. Begitu banyak komentar miring tentang kawan saya ini yang terhitung orang terpandang dalam masyarakat. Komentar positif sedikit sekali. Itu pun kalau muncul, langsung ditanggapi dengan nada sangat sinis, dicap penjilat, pengekor, kelompok komplotan jahat. Begitu banyak orang turut serta dalam hujatan terhadap kawan saya ini.

    Turut serta. Waktu artikel ini saya tulis, saya turut serta dalam kelompok kecil yang membela kawan saya yang sedang terpojok ini. Saya tidak turut serta memojokkan. Kalau hukum orang Yahudi dahulu pada abad-abad sebelum dan sesudah Masehi, tercatat, orang yang bersalah berat dihukum rajam dengan batu di pintu gerbang kota sampai orang itu mati tertimbun bebatuan yang terlontar dari semua warga kota. Kawan saya sedang dirajam. Saya tidak turut serta merajam. Karena tidak sampai hati.

    Turut serta. Tiap kita manusia ini, saya, anda, dia, kita, sama-sama turut serta merajam atau tidak merajam sesama dalam kasus apa saja. Saya turut serta dalam orang-orang yang tidak merajam teman saya. Di pihak lain, banyak orang yang turut serta merajam teman saya. Yang netral, tidak ada. Kalau ada yang mengetahui ulah kawan saya ini dan tidak berbuat apa-apa, itu omong kosong. Tidak berkomentar pun sudah turut serta dalam tidak menghukum. Hanya ada dua kemungkinan. Turut serta menghukum atau tidak menghukum.

    Turut serta. Mengapa saya tidak turut serta dalam mencerca dan mempersalahkan teman saya ini? Ada dua alasan mendasar. Pertama, dia, teman saya dan saya kenal baik diri dan latar-belakangnya serta posisi darurat yang sedang dia hadapi. Dia sudah dan sedang dirajam. NAFSU untuk turut serta menghukum, tidak muncul. NALAR saya beri pertimbangan untuk pikir dan pikir bahwa hari ini dia, besok atau lusa, diri saya pun bisa saja terjerumus pada masalah yang sama. NALURI saya membuat diri saya tidak tega turut serta menghukum karena teman saya sedikit banyak sudah pernah berjasa untuk saya. NURANI saya berbisik untuk menolong atas bermacam cara dan tidak boleh turut serta menghukum. Alasan kedua: kita manusia ini bukan malaikat. Pernah dan akan pernah jatuh dalam kesalahan entah besar atau kecil. Diri saya pun tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang sudah pernah saya lakukan dan kemungkinan besar di hari-hari nanti, tertimpa malapetaka dalam bentuk yang lain.

    Turut serta. Sebaiknya kita manusia ini turut serta berpikir yang baik bersama-sama, berkata yang santun serentak, berbuat yang luhur secara bergotong-royong dan beramal secara ikhlas terhadap sesama di hadirat Yang MAHA-AGUNG. Ini tidak berat. Turut serta berbuat yang baik, manfaatnya baik berlipat-ganda. Itulah tujuan kita hidup di dunia ini.

    Sakit Lutut dan Sendi akan Hilang jika Anda Lakukan Ini Setiap Pagi
    Recommended by

     

    EDIT HAPUS

    Lihat Filsafat Selengkapnya
    BERI NILAI
    Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
    AKTUAL
    BERMANFAAT
    INSPIRATIF
    MENARIK
    MENGHIBUR
    UNIK
    Belum ada penilaian.
    Jadilah yang pertama untuk
    memberikan penilaian!
    BERI KOMENTAR

    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    KIRIM
    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
    VIDEO PILIHAN
    TAG
    humaniora

    filsafat
    TANGGAPI DENGAN ARTIKEL
    RESPONS : 0
    KONTEN SPONSOR

     

    Turunkan 18 Kg dengan Konsumsi sebelum Tidur selama Seminggu

    Membersihkan Pembuluh Darah Anda dari Kolesterol & Sumbatan Darah

    Rambut Pasti Tumbuh Lebat! Tak Peduli Seberapa Parah Botak

    Warga Kupang Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    Diabetes Reda dan Pankreas Pulih jika Anda Lakukan Sekali Sehari

    The Craziest Game Of 2023!
    Artikel Terkait
    Siapa yang Menderita Diabetes Baca Segera sebelum Dihapus
    PR
    Warga Nusa Tenggara Timur Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    PR
    Konflik Etnis Tionghoa dan Pribumi di Surakarta (1972-1998)
    Banyak Pasien Diabetes Indonesia Nyesal Tak Cepat Tau Ini
    PR
    ACR Juarai Ganesha Bridge Open Tournament 2023
    Diabetes Hilang 100% jika Pankreas Pulih, dengan Makan Ini
    PR
    Recommended by

    Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
    Daftar

    POPULERREKOMENDASI

    1
    Bantai Man United 7-0, Liverpool Era Baru Telah Lahir
    Dani Ramdani
    Dibaca 637
    2
    Luis Diaz dan Diogo Jota, Kolaborasi Epic Tangkis Tekel Serangan Ganas Rivalnya!
    M ERIK IBRAHIM
    Dibaca 502
    3
    ACR Juarai Ganesha Bridge Open Tournament 2023
    Bert Toar Polii (Bertje)
    Dibaca 431
    4
    Sekolah Mulai Jam 5 Pagi?
    Roselina Tjiptadinata
    Dibaca 311
    5
    Liverpool Remukkan MU 7-0, Menikmati Ketajaman Trisula The Reds
    Adian Saputra
    Dibaca 309
    Selengkapnya
    NILAI TERTINGGI

    Sekolah Mulai Jam 5 Pagi?
    Roselina Tjiptadinata

    Pinjol dan Paylater Singkirkan Dominasi Bisnis Kartu Kredit
    Irwan Rinaldi Sikumbang

    Liverpool Menang dan “Biang Kekalahan” Manchester United
    AKIHensa

    Rotasi Jobdesc Itu Bukan Punishment
    Sigit Eka Pribadi

    Kalau Dulu Para Presiden adalah Pembaca, Apakah Presiden Berikutnya adalah Penulis?
    INDRIAN SAFKA FAUZI (Aa Rian)
    TERBARU

    Hasil Survei IPK & IKM Rupbasan Purbalingga Periode Februari 2023
    RUPBASAN PURBALINGGA
    0

    KKN XXI.A.3 UAD MENYULAP EMBER CAT MENJADI TEMPAT SAMPAH YANG BERMANFAAT
    muhammad rifky
    0

    Koperasi Konsumen IKA Alumni SMKN 1 Metro Adakan Grand Launching IKAFlorist
    Arroyyan Dwi Andini
    0

    The Wonder: Florence Pugh Memukau dalam Kisah yang Menarik tentang Iman dan Skeptisisme
    Chandra Kesuma
    0

    Rencana tinggal rencana
    Ulfa Yulianingsih
    0
    ARTIKEL UTAMA

    “Call Me Chihiro”, Sisi Lain Kehidupan Mantan Pekerja Seks
    Rd.
    177

    Siswa Finlandia Sekolah Jam 9 Pagi dan Mereka Lebih Sukses
    Masykur Mahmud
    499

    Cultuurstelsel, di Balik Alasan Belanda Memilih Tebu dan Kopi Bukan Sagu atau Padi
    Dodik Suprayogi
    212

    ChatGPT Bisa Membuat Artikel Jadi Lebih Bagus
    Budi Susilo
    860

    Bantai Man United 7-0, Liverpool Era Baru Telah Lahir
    Dani Ramdani
    637

    TENTANG KOMPASIANA
    PROFIL
    PERFORMA & STATISTIK
    TIM

    JARINGAN
    KGMEDIA.ID
    SYARAT DAN KETENTUAN
    DEFINISI
    KETENTUAN LAYANAN
    KETENTUAN KONTEN
    PENGGUNAAN DAN HAK CIPTA
    SANGGAHAN DAN PELAPORAN KONTEN
    KETENTUAN PERUBAHAN
    UNDANG-UNDANG ITE
    PRIVACY POLICY
    FAQ KOMPASIANA
    KONTEN
    TEKNIS DAN GANGGUAN
    TIPS DAN TUTORIAL
    BISNIS DAN KERJA SAMA
    BANTUAN
    KONTAK KAMI
    Gedung Kompas Gramedia Palmerah Barat Unit II Lantai 6, Jl. Palmerah Barat No. 29-37, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10270
    6221 536 99 200
    6221 5360678
    kompasiana@kompasiana.com
    Untuk Pengajuan Iklan Dan Kerja Sama Bisa Menghubungi:
    kerjasama@kompasiana.com
    © 2018 KOMPASIANA.COM. A SUBSIDIARY OF KG MEDIA. ALL RIGHTS RESERVED
    0
    0
    X CLOSE

     

    Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Turut serta”, Klik untuk baca:
    https://www.kompasiana.com/belanto/64058585cf40870df91e7e22/turut-serta

    Kreator: Anton Bele

     

    Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

    Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

  • Orang Kota

    Orang Kota. Orang yang tinggal di kota menamakan diri Orang Kota. Berbagai kemudahan ada di kota. Ini yang menyebabkan orang suka tinggal di kota dan menjadi Orang Kota. Satu hal yang khas dari Orang Kota ialah suka menghitung. Hidup penuh perhitungan. Hitung waktu, hitung uang, hitung jasa, hitung jarak, hitung untung, hitung rugi sampai hitung detak jantung. Air dihitung pakai meteran. Listrik dihitung pakai pulsa.  Salah hitung, hidup susah. Hidup itu  jadinya hitungan dari saat ke saat, siang malam hitung terus sampai terkadang tidak tahu hitung lagi apa yang mau dihitung. Itulah Orang Kota.

    Orang Kota. Saya yang dari kecil sampai umur belasan tahun tinggal di desa, sekarang tinggal di kota jadi Orang Kota. Ternyata, kita manusia ini, tinggal di kota jadi Orang Kota, tidak ada bedanya dengan orang yang tinggal di kampung, di desa, yang dijuluki orang kampung, orang desa.

    Orang Kota. NAFSU yang dimiliki Orang Kota ternyata ditantang begitu hebat oleh tawaran begitu banyak untuk dipuaskan. NALAR Orang Kota dijejali dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman sampai ketimbunan hal baru dan tidak heran kalau begitu banyak Orang Kota hidup dalam kebingunan. NALURI Orang Kota begitu digosok dan digesek dengan padatnya manusia yang hidup berhimpitan sampai rasa menjadi tebal dan kebal terhadap jeritan sesama di sampingnya dan dianggap hal biasa bahwa seorang yang lain mengunyah hamburger dan yang lain mengorek kerak nasi. NURANI Orang Kota sudah membatu dengan ceramah agama dan dendang lagu ibadah indah sehingga TUHAN begitu jauh sampai mulai bertanya TUHAN itu ada atau tidak. Empat unsur dalam diri manusia yang namanya Orang Kota, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sudah berfungsi jauh ngelantur dari yang seharusnya sehingga manusia tidak kenal lagi siapa sesamanya karena semua manusia itu dilihat dari segi hitung-menghitung sesuai ukuran yang diciptakan oleh Orang Kota. Manusia jadi sebatas angka. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Orang Kota. Bangga jadi Orang Kota? Boleh. Sejauh tidak melihat sesama dengan hitungan angka. Apalagi kalau melihat TUHAN hanya sebatas angka rupiah yang disisipkan di celah tutupan kotak derma. Jadilah Orang Kota yang lihat sesama sebagai sesama dan imani TUHAN sebagai PENGUASA alam semesta. Itu baru namanya Orang Kota.

     

     

     

     

     

  • Kota Buah

    Kota Buah. Ini maksudnya buah sungguhan. Kota yang menghasilkan buah. Buah apa saja yang bisa dimakan oleh penduduk kota. Kota apa saja, entah itu kota kecil atau kota besar, pokoknya kota. Entah ibu kota negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, pokoknya kota. Kota yang dihuni oleh penduduk yang menamakan diri penduduk kota dipertentangkan dengan penduduk desa. Penduduk, yah penduduk, manusia yang menghuni entah itu desa atau kota.

    Kota Buah. Kota yang penduduknya  menghasilkan buah untuk dimakan. Dari sudut filsafat, sederhana sekali memahami makna Kota Buah. Kota penghasil buah. Kita manusia ada dalam diri kita, empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kota Buah. Kita manusia ada nafsu makan. Setiap manusia ada NAFSU, termasuk nafsu makan. Makanya dia hidup. Tidak makan, mati. Mengapa di kota tidak ditanam pohon buah-buahan untuk dimakan? Di Indonesia ini, pohon buah-buahan apa pun saja dapat hidup. Sudah terpola dalam pikiran kita, kota itu bukan kebun. Buah-buahan di kebun. Kota itu tempat orang buat rumah, restoran, toko, kantor, sekolah, teater. Bangunan-bangunan ini cukup dihiasi dengan pohon pelindung yang rindang. Mengapa tidak ditanam nangka, mangga, sawo, rambutan, jeruk? Eh, jorok. Merusak pemandangan. Di sinilah letaknya persepsi yang salah. Pohon buah-buahan dianggap tidak layak untuk menghiasi kota.

    Kota Buah. Kita manusia ada NALAR. Dengan NALAR kita berpikir, mengetahui dan mengalami hal-hal yang paling berguna untuk kehidupan kita. Kota bukan hanya tempat tumbuhnya gedung-gedung ber-ac. Pohon buah-buahan pun berhak untuk tumbuh di kota. Ini perlu kecerdasan NALAR manusia di kota itu. Bayangkan, semua macam pohon buah-buahan itu menghasilkan buah-buah ranum sesuai musimnya. Apakah ini mengotorkan kota? NALAR kita harus diasah untuk memahami makna dan manfaat Kota Buah.

    Kota Buah. Kita manusia ada NALURI. Kota kalau dihiasi dengan pohon buah-buahan, setiap penghuni kota akan menjaga dan menikmati buah-buah itu secara bersama sesuai kebutuhan masing-masing. Supaya adil, setiap jengkal tanah di kota itu dibagi kepada penduduk kota untuk ditanami pohon buah-buahan. Siapa yang tanam, dia yang petik hasilnya. Ini perlu rasa tanggung-jawab yang harus ada dalam diri setiap penduduk kota. Mana pohon yang ditanam oleh petugas dari Dinas tertentu, mana yang ditanam oleh orang per orang dari keluarga sesuai pengaturan lahan umum yang dikapling oleh Ketua RT (Rukun Tetangga). Kalau di halaman rumah, itu urusan keluarga. Tapi tanah milik umum, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk ditanami pohon buah-buahan. Ini karya NALURI untuk menanam, memetik dan menikmati hasil karya dalam rasa hidup bersama.

    Kota Buah. Kita manusia ada NURANI untuk menyukuri karunia TUHAN Yang menciptakan kita manusia lalu menghuni kota dan desa. Di kota, tumbuhkan pohon buah-buahan. Salah? Tidak biasa. Siapa yang bilang tidak biasa? Itu karena kita manusia ini sudah mencabut diri dari akar kita bahwa kita ini hidup dari bertani dan beternak serta menangkap hasil laut. Kebiasaan yang baik ini diteruskan di kota, apa salahnya? Ada tambak dalam kota. Bisa. Kalau begitu bisa sekali ada tanaman pohon buah-buahan dalam kota. Kalau beternak, soal lain lagi. Itu masalah gangguan suara dan kotoran. Tapi kalau tanaman pohon buah-buahn, mengganggu? Tidak.

    Kota Buah. Mari kita semua berpikir ulang. Sesuai filsafat pembangunan, ‘Kwadran Bele’, menanam pohon buah-buahan dan menjadikan kota itu Kota Buah, tidak janggal. Tinggal kita mulai. TUHAN senang melihat insan ciptaan-Nya ramai-ramai memetik buah-buahan dalam kota yang biar bising di siang hari tapi sejuk dan indah dengan gemerlapan cahaya listrik warna-warni di malam hari. Kota Buah. Tinggal pahami dan nikmati.

  • Makankah?

    Makankah? Ini pertanyaan dari Ayah saya, Fetor Asa, pada tahun 1986. Nama baptis Ayah, Petrus, sehingga sering dipanggil Bapa Petrus Asa. Ayah, seorang tokoh masyarakat di desa Henes, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT. Pada waktu itu Ayah berusia 85 tahun.  Saya dan Isteri saya, Mama Yudith Salassa dengan tiga orang anak, Grace 9 tahun, Ina 6 tahun, Isto, bungsu, 1 tahun. Kami tinggal di kota kecil Atambua, Ibukota Kabupaten Belu di pedalaman Pulau Timor. Saya dan Isteri hidup dengan pekerjaan sebagai Guru Agama, bekerja di Keuskupan Atambua, siang mengajar Agama Katolik di Sekolah, sore dan malam hari mengajar umat biasa di kelompok-kelompok dalam kota. Kami mengajak Ayah yang sudah menduda 8 tahun untuk sesekali ke kota dan tinggal bersama kami. Ayah, seorang petani tulen, buta aksara, tidak betah tinggal dengan kami sehingga hanya seminggu atau dua minggu lalu dihantar kembali ke desa Henes dan menikmati keseharian di sana bersama sesama orang desa. Aman dan tenteram.

    Makankah? Ini pertanyaan Ayah kepada Isteri saya yang sedang sibuk mengurus bunga-bunga dalam pot-pot di sekitar rumah tinggal kami. Ayah bertanya dalam bahasa Buna’, bahasa daerah kami. Isteri saya tidak mengerti tetapi karena penasaran, bertanya kepada saya dan saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ayah memberi komentar, ‘Grace punya Mama ini, buat repot diri. Bekin kotor tangan, buat capai diri, angkut pupuk, ganti tanah, siram air. Itu bunga-bunga, ada yang batangnya berduri, tidak takut luka? Itu bunga-bunga,  makankah?”

    Makankah? Ayah berdiri di area pertanian, dunia di mana semua tanaman ditanam untuk dimakan hasilnya. Mama Yudith berdiri di area keindahan, bunga-bunga ditanam, dirawat untuk memenuhi selera keindahan.

    Makankah? Ini pertanyaan mendasar untuk urusan perut. Kita manusia ada empat unsur dalam diri setiap pribadi: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). TUHAN memberi empat unsur ini agar kita hidup dan mengupayakan hidup. NAFSU mendorong manusia untuk bertani, beternak supaya ada makanan untuk dimakan dan hidup. Ini yang dipikirkan oleh Ayah saya.  NAFSU juga mendorong manusia untuk menikmati  keindahan, kesenian. Bunga-bunga termasuk kebutuhan NAFSU untuk dipenuhi. Manusia ada upaya untuk bertani, beternak dan membuat alam sekitar indah dan segar. Itu lewat bunga-bunga yang dirawat oleh Mama Yudith. Ini karya NALAR. Dari segi kebersamaan, NALURI menyadarkan kita untuk saling melengkapi. Ayah saya sebagai petani, menghasilkan makanan, Isteri saya menyajikan keindahan tempat hunian. NURANI kita menyadarkan kita untuk hidup sambil bersyukur kepada TUHAN Pencipta diri kita manusia dan segala yang ada demi kita manusia bisa hidup dari hari ke hari.

    Makankah? Yah, makan. Itu hasil pertanian.  Bunga-bunga itu perlu? Yah, perlu untuk pandangan mata dan rasa indah. Hidup ini senang, indah. Itu disiapkan oleh TUHAN untuk kita. Nikmati hidup. Syukuri hidup.

    Sakit Lutut dan Sendi akan Hilang jika Anda Lakukan Ini Setiap Pagi
    Recommended by

    EDIT HAPUS

    Lihat Filsafat Selengkapnya
    BERI NILAI
    Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
    AKTUAL
    BERMANFAAT
    INSPIRATIF
    MENARIK
    MENGHIBUR
    UNIK
    Belum ada penilaian.
    Jadilah yang pertama untuk

     

    Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Makankah?”, Klik untuk baca:
    https://www.kompasiana.com/belanto/640189b408a8b503c561fcf2/makankah

    Kreator: Anton Bele

     

    Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

    Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

  • Kota Tani

    Kota Tani. Apakah tidak keliru? Biasanya, Kampung Tani, ada. Tapi Kota Tani? Artinya orang-orang tani punya kota? Kota yah kota, dihuni oleh orang-orang kota. Masa’ kota dihuni oleh orang-orang tani. Kontradiksi. Berdasarkan penghuni, bisa dilihat sebagai kontradiksi. Tetapi berdasarkan kehidupan, benar, kota itu tetap dihuni oleh orang-orang yang hidup dari hasil tani. Maka Kota Tani itu benar sekali. Kota di mana orang-orang yang menjadi penghuni itu hidupi diri dengan hasil pertanian, entah didatangkan dari luar kota itu atau dihasilkan di dalam kota atau di sekitar kota. Wajarlah ada nama Kota Tani.

    Kita manusia ini dikaruniai TUHAN, empat unsur, NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Di mana pun saja kita manusia ini berada, tinggal, kita tetap manusia yang ada perut untuk diisi dengan hasil tanaman yang biasa ditumbuhkan oleh orang yang disebut petani dan usahanya disebut pertanian. Kita manusia ini hidup dan dihidupi oleh tiga orang: Petani, Peternak, Nelayan. Petani hasilkan bahan makanan dari tanaman. Peternak hasilkan bahan makanan dari ternak. Nelayan hasilkan makanan dari berbagai binatang yang hidup di laut.

    Kita manusia ada NAFSU untuk bekerja dan makan supaya hidup. Maka kita pasti hidup dari tiga orang itu. Kita yang tinggal di kota pun harus jadi petani-peternak-nelayan sesuai keadaan alam di mana kota itu ada. Bisa langsung di dalam kota atau di sekitar kota. Inilah yang dimaksud dengan Kota Tani yang tanam berbagai tanaman yang menghasilkan makanan. Mulai dari sayur sampai buah-buahan seperti jeruk, nangka, mangga, pisang dan jambu. Dalam jumlah terbatas, semua tanaman dapat ditanam di dalam kota.

    Kita manusia ada NALAR untuk hasilkan dan peroleh makanan supaya perut terisi. Maka pengetahuan dan pengalaman tentang makanan mendorong kita untuk hasilkan makanan itu di dalam, di sekitar dan di luar kota. Layak setiap kota disebut Kota Tani sejauh orang-orang yang menghuni kota itu menghasilkan langsung bahan makanan sesuai daya NALAR untuk mengusahakan tanaman, ternak atau ikan di dalam kota itu. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipakai untuk tumbuhkan tanaman di dalam kota.

    Kita manusia ada NALURI untuk hidup dan menghidupi diri dan sesama. Harus dan wajar kita sendiri-sendiri atau bersama menghasilkan makanan di dalam kota. Tanam tanaman apa saja yang bisa dimakan di dalam kota, maka langsung kota itu bisa disebut Kota Tani.

    Kita manusia ada NURANI untuk hidup damai dan tenang dengan perut terisi, kenyang dengan makanan apa saja, terutama hasil tanaman. Ini sebagai hasil kesadaran akan adanya PENCIPTA, TUHAN Yang menyelenggarakan segala sesuatu termasuk tanaman demi kita manusia  untuk hidup berbakti bagi sesama dalam lindungan TUHAN.

    Kota Tani dihuni oleh orang-orang, siapa pun dia yang hidup dari hasil tani, ternak dan nelayan. Layak bahwa setiap kota disebut Kota Tani. Itulah kota yang dihuni oleh setiap orang di kota itu yang berupaya menjadikan kota tempat menumbuhkan tanaman pertanian sesuai keadaan lahan yang tersedia.

  • Bakat dan Minat

    Bakat dan Minat. Dua hal yang ada dalam diri manusia. Duanya beda. Bakat diberi langsung oleh PENCIPTA kepada setiap diri manusia. Minat disiapkan PENCIPTA di luar diri pribadi manusia untuk diambil dan dipadukan dengan bakat yang sudah ada. Bakat terberi. Minat terjadi. Bakat tumbuh. Minat tambah. Bakat sudah ada di dalam diri manusia. Bakat siap ditumbuh-kembangkan. Minat ada di luar diri manusia. Minat siap ditambah-kembangkan. Bakat tidak bisa dipertukarkan. Minat bisa digonta-ganti.

    Bakat. Dalam diri kita manusia ada empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N. Kwadran Bele, 2011). Bakat itu benih yang sudah ada dalam diri manusia dan ditumbuhkan oleh NAFSU untuk memenuhi keinginan. Dicari cara,  tempat dan waktu yang tepat oleh NALAR supaya bakat itu tumbuh. NALURI merangkai dan merangkul sesama untuk semakin berkembangnya bakat. NURANI memberi arah agar bakat itu tumbuh mekar secara baik dan benar.

    Minat. NAFSU mendorong minat untuk suka yang ini dan besok yang itu. NALAR menetapkan minat untuk tertarik pada yang ini hari ini dan besok yang sana sesuai keadaan waktu dan tempat. NALURI menyingkirkan atau menekuni minat yang satu ini dari pada yang lain itu. NURANI siap terima minat itu sejauh itu baik dan benar.

    Bakat matematika. Minat hari ini di hitung angka. Besok ditambah dengan minat untuk mengukur bentuk bangunan. Minat ini dikembangkan lagi pada mengukir patung dengan ukuran yang tepat sesuai ukuran manusia. Minat itu cabang-cabang yang dicangkokkan pada bakat. Bakat itu rupa-rupa. Minat lebih rupa-rupa lagi. Batas terbatas. Minat tidak terbatas. Bakat tidak bebas untuk dikembangkan. Minat bebas untuk dipangkas atau dicangkokkan pada bakat.

    Bakat dan minat menyatu dalam diri pribadi kita manusia sejauh itu saling melengkapi demi tujuan akhir hidup kita: bahagia. TUHAN menghendaki yang itu, bakat ditumbuhkan dan minat ditambahkan agar hidup kita mekar ibarat kembang mawar yang harum mewangi di taman dunia ini dan selanjutnya di taman abadi.

  • Dibagi Empat

    Dibagi empat. Pribadi manusia dibagi empat atas empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Pribadi manusia  yang sempurna itu kalau dihitung dalam persentase, maka NAFSU 25 % + NALAR 25 % + NALURI 25 % + NURAN I 25 %. Jumlah 100 %. Ini ditetapkan oleh TUHAN dalam diri  kita setiap manusia. Dalam  hidup ini setiap pribadi manusia harus upayakan agar empat unsur ini ditampilkan secara seimbang. Kalau salah satu unsur ditampilkan lewat batas, maka pribadi itu menjadi tidak seimbang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau NAFSU terlalu ditekankan, antara 30 sampai 40 % atau lebih, maka pribadi itu akan dikenal dengan manusia NAFSU dalam arti yang negatif. Pribadi seperti ini biasa menginginkan hal-hal yang lewat batas, sering di luar aturan. Misalnya makan berlebihan, akibatnya kegemukan. Tidur berlebihan, jadilah pemalas. Kuasa berlebihan, diktator.

    Kalau NALAR terlalu ditekankan, sampai 30 atau 40 %,  maka pribadi ini utamakan pengetahuan, ilmu, sampai tidak pusing dengan sesama, malah mudah anggap TUHAN tidak ada.

    Kalau NALURI terlalu ditekankan, maka pribadi ini cenderung sukuis, kurang menghargai orang dari suku lain atau kelompok lain. Dia selalu membedakan, orang saya dan orang lain.

    Kalau NURANI terlalu ditekankan, maka pribadi ini terlihat sok alim, tampil saleh,  anggap orang lain jahat, hanya sendirilah yang suci. Padahal tindakan benci-membenci jadi santapan harian.

    Dibagi empat. Maksudnya sederhana. Kalau bidang yang satu berlebihan ditekankan, segera disadari bahwa itu salah dan dikembalikan kepada porsinya, 25 %. Memang harus diakui, kita manusia ini selalu tergoda dan terjerumus ke dalam salah satu kesalahan, mengutamakan salah satu bidang sehingga kurang atau tidak seimbang.

    Dibagi empat. Itu berarti tidak dipisah-pisahkan, melainkan diakui dan ditampilkan dalam perilaku harian empat unsur ini secara berimbang. NAFSU diupayakan sewajarnya,  NALAR dicurahkan sejujurnya, NALURI diamalkan seikhlasnya, NURANI diresapkan sesungguhnya. Ini yang dikehendaki TUHAN, PENCIPTA kita dari setiap kita manusia ciptaan-NYA.

  • Dekat

    Dekat. Pepo, cucu saya sangat dekat dengan saya, Opa-nya. Saya sedang sibuk kirim dan terima pesan lewat wa (AhatsApp) di hp (hand-phone) saya. Pepo minta. Dengan berat hati saya kasih hp ke Pepo yang baru empat tahun, sekolah TK. Pikiran saya menerawang jauh. Kalau seandainya seorang anak tetangga atau keluarga dekat yang minta pinjam hp saya karena menganggap saya sebagai seorang Opa yang ramah, maka dengan senang hati akan saya berikan hp itu tanpa banyak pikir.

    Sekarang kembali ke Pepo. Dia paling dekat dengan saya, secara fisik dan psikis, hibur saya, sering juga ganggu saya. Tapi kalau dia jauh bersama mamanya, saya merasa kehilangan. Maunya Pepo dekat terus. Kalau pagi-pagi Pepo ke sekolah, saya kehilangan sepanjang siang. Kalau pulang, saya jadi girang, penuh gairah untuk hidup, lupa sudah lansia, umur 76 tahun. Itulah Pepo dan Opa-nya, Anton. Kami dua sangat, sangat dekat.

    Dekat. Lawannya, jauh.

    NAFSU dikenal dan mengenal begitu menggebu-gebu sehingga sering kita lupa waktu. Main hp berjam-jam. Orang-orang dekat diabaikan. Kontak dengan orang-orang jauh di benua lain diutamakan.

    NALAR begitu cerah membayangkan kota Roma, kota Amsterdam yang pernah saya kunjungi semasa masih muda. Lupa dan abai untuk duduk berdekatan dengan Isteri, Anak – Cucu. Merasa harus dan hebat kontak dengan orang-orang di Jakarta dan Makassar.

    NALURI ada bersama itu menjadi lain, sayang yang jauh, asing dengan yang dekat. Aneh, cari popularitas dari orang jauh sementara orang dekat tidak digubris.

    NURANI sering ditipu dengan sembahyang agungkan TUHAN, sementara diri tidak ambil pusing dengan Isteri yang sedang pusing pikir uang untuk beli beras. Inilah galau dalam hidup.

    Empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ada untuk membuat diri kita sadar, yang dekat yah dekat, yang jauh yah jauh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Dekat. Memperhatikan yang jauh tidak boleh digeser dengan mengabaikan yang dekat. Harus seimbang. Yang dekat tetap disayangi sambil tidak melupakan yang jauh. Jangan kita girang di jauh dan garang di dekat. Saya tidak kenyang dengan pizza di Milano dan buang jagung di Kupang. Jagung itu dekat. Pizza itu jauh. Dua-duanya ada. Hidup dengan yang dekat bukan dengan yang jauh.

    Dekat yah dekat. Jauh yah jauh. Ternyata, TUHAN, PENCIPTA kita  itu dekat, malah satu dengan diri saya, anda, dia, kita. Dekap DIA, dalam doa dan ibadah. DIA balik mendekap kita. Saya, anda, dia, kita saling mendekap, karena kita itu dekat, malah satu.