Category: Filsafat

  • Ingat

     

     

    Ingat. Setiap kata ada filsafatnya. Kata ‘ingat’. Ada tiga makna. Pertama, ingat, karya nalar menampilkan kembali peristiwa yang sudah lewat. Lawannya, lupa. Kedua, ingat, karya naluri, libatkan sesama baik yang jauh mau pun yang dekat. Ketiga, ingat, pengawasan, hati-hati. Buat yang baik. Hindari yang buruk. Itu karya nurani. Nafsu yang ingin apa saja, diberi isyarat, ingat pengalaman, pengetahuan lalu nikmati. Nafsu diingatkan untuk pikir sesama, perhatikan sesama. Nafsu diingatkan untuk tingkatkan yang baik, tinggalkan yang buruk. Inilah kerjasama ‘4N’, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani, yang ada dalam diri manusia untuk hidup manusiawi. Ingat.

    ‘Ingat’ menurunkan kata-kata: ingat-ingat, ingatan, peringatan, daya ingat, ingat diri, ingat sesama, kurang ingat, hilang ingatan. Filsafat kata ‘ingat’ makin meluas dan makin mendalam. Saya, anda, dia, kita ini hidup dari ‘ingat’ ke ‘ingat’. Setiap gerak-gerik kita itu penjabaran dari ‘ingat’. Bayangkan kalau kita ‘hilang ingatan’. Atau ‘kurang ingat’ sesama.

    ‘Ingat’ dengan segala seluk-beluknya itu yang merangkai hidup kita dari saat ke saat dan menyatukan kita dengan sesama kita manusia dan kita dengan PENCIPTA kita. Kalau Nafsu kita ingin merampas milik sesama, langsung Nalar mengingatkan, ‘Awas, ingat, itu tidak baik’. Naluri kita memberi peringatan, ‘Ingat, dia itu saudaramu!’ Nurani kita memuji diri kita, kalau ingat orang lain.  ‘Syukur, engkau ingat sesama karena sesama itu sama-sama manusia, Ciptaan TUHAN’. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    ‘Ingat’ itu membuat harta yang terpendam dalam diri kita jadi harta bersama lewat nafsu kenikmatan yang wajar. Sama-sama senang. Ingat pengetahuan dan pengalaman yang indah kalau dibagi maka sesama akan gembira. Saling ingat sesama membuat diri kita puas. Ingat yang baik dan buat baik membuat diri kita bahagia. Inilah hasil dari ‘ingat’. Senang, gembira, puas, bahagia.

    Karena itulah setiap kita tetap ingat untuk buat baik terhadap sesama di hadapan TUHAN, kapan pun, di mana pun kita berada.

     

     

  • Pelihara

     

    Pelihara. Pelihara badan. Itu untuk diri. Pelihara anak. Pelihara hewan. Pelihara tanaman.

    Hidup itu rentetan pelihara ke pelihara. Kita manusia pelihara diri. Nafsu kita ada itu untuk pelihara diri mulai dari makan, minum, pakaian sampai ke perumahan. Ini semua ada dan dibuat oleh kita manusia dalam rangka pelihara diri. Nalar kita ada untuk mengetahui dan mengalami cara pelihara diri, pelihara sesama, pelihara hewan, pelihara tumbuhan, pelihara alam. Naluri kita ada untuk saling pelihara antara kita sesama manusia. Nurani kita ada untuk sadarkan diri kita bahwa saya, anda, dia, kita dipelihara oleh SANG PEMELIHARA, PENCIPTA kita.

    Kegiatan pelihara-memelihara itu terjadi sebagai kerjasama antara Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ada kebiasaan suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor, setiap rumah harus pelihara hewan di rumah. Mulai dari ayam, kucing, kambing, babi sampai kepada kerbau, sapi, kuda. Untuk apa pelihara hewan? Pertama sebagai pelindung. Kedua sebagai penolong. Ketiga sebagai pembantu. Keempat sebaga penambah penghasilan.

    Fugsi pertama, pelindung.  Itu yang paling penting. Kalau pemiliknya terkena penyakit atau bahaya apa pun saja, ada keyakinan bahwa hewan peliharaan yang pertama-tama menjadi korban. Malapetaka itu menimpa hewan peliharaan baru menimpa tuannya.

    Fungsi kedua sebagai pelindung. Ini terlihat jelas pada anjing peliharaan. Kalau ada orang asing, terlebih pencuri, anjing akan menggonggong, menyerang musuh dan melindungi tuannya.

    Fungsi ketiga sebagai pembantu. Ini terlihat pada peran kuda yang menjadi kuda beban dan kuda tunggangan.

    Fungsi keempat sebagai usaha menambah penghasilan keluarga. Babi dan kambing dapat dijual untuk mendapat tambahan penghasilan.

    Pelihara berarti jaga dan atur supaya hidup. Kalau sebaliknya, apa? Merusak, jadi perusak. Kata-kata seperti merusak, membasmih, membunuh adalah lawan dari pelihara.

    TUHAN pelihara kita. Lalu kita? Saling pelihara.

  • Hadiah

     

    Hadiah. Ada pemberi, ada penerima. Isi hadiah itu apa? Tergantung dari pemberi hadiah. Penerima terima saja. Terimakasih. Atas dasar apa pemberi hadiah memberi hadiah kepada penerima hadiah? Hadiah itu biasanya sesuatu yang berharga, bernilai. Hadiah mewakili diri pemberi. Harga diri pemberi terungkap dalam hadiah. Hadiah menghargai penerima. Pemberi dan penerima disatukan dalam hadiah. Pemberi menghargai. Penerima dihargai. Saling menghargai. Ini dinyatakan dalam hadiah, pemberian cuma-cuma, gratis dari pemberi kepada penerima.

    Nafsu untuk menghargai dan dihargai ada dalam hadiah. Hasilnya, senang. Saling menyenangkan antara pemberi dan penerima hadiah. Nalar bekerja di dalam pemberi hadiah untuk memilih yang cocok sesuai pengalaman dan pengetahuan dari pemberi dan penerima. Hasilnya, gembira. Saling menggembirakan.  Nalar dalam diri pemberi dan penerima bertemu, gayung bersambut. Hasilnya, puas. Saling memuaskan. Nurani dalam diri pemberi dan penerima hadiah dipenuhi rasa tenang, damai dan bahagia. Hasilnya, bahagia. Saling membahagiakan.  Inilah kerjasama secara terpadu antara ‘4N’, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini saling memberi hadiah antara saya, anda, dia dan kita. Kita hidup saling menyenangkan (Nafsu), saling menggembirakan (Nalar), saling memuaskan (Naluri), saling membahagiakan (Nurani). Tidak boleh saling menyusahkan, hasil ulah Nafsu yang tidak terukur. Tidak boleh saling membingungkan, hasil Nalar yang diputar-balikkan. Tidak boleh saling meresahkan, hasil Naluri yang tidak terkendali. Tidak boleh saling mencelakakan, hasil Nurani yang tidak jernih.

    TUHAN, PENCIPTA kita adalah PEMBERI UTAMA semua hadiah yang kita hayati sampai saat ini, kenikmatan (Nafsu), kebijakan (Nalar), keakraban (Naluri), kebahagiaan (Nurani). Inilah hidup dan tujuan hidup.

     

     

     

     

     

  • Ampun

     

    Ampun. Salah dimaafkan. Dosa diampuni. Sering kita minta ampun pada sesama. Seorang anak dipukul oleh mamanya. Terdengar suara lirih tangisan si anak, ‘Mama, ampun, ampuuun’. Mama jatuh hati dan anak terbebas dari pukulan. Maaf untuk kesalahan kecil, ampun untuk kesalahan besar. Kata ampun terlontar dari mulut pemohon dan dijawab oleh pemberi ampun dengan memberi ampun. Dua belah pihak terbebas dengan kata ini, ampun. Hubungan yang retak terpulih oleh ampun. Mengampuni dan diampuni.

    Ampun, ungkapan penuh rasa sesal yang ditujukan kepada Tuhan. Mohon ampun. Kalau sudah berdosa. Pantas kalau ada ungkapan keagamaan, Tuhan Maha Pengampun. Nafsu yang tidak teratur menyebabkan seorang jatuh dalam dosa. Nalar yang kabur membuat orang tidak lagi mampu melihat mana salah mana benar. Naluri yang sudah dilabur rasa iri dan benci membuat pribadi dengan pribadi yang lain saling menerkam. Nurani yang keruh mengaburkan segala yang murni jadi buram. Inilah dosa.

    Hanya satu kata yang dapat menghapus coreng moreng ini dari diri manusia, ampun. Kata ampun sangat ampuh. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani jadi teduh, tenang dan damai karena mohon ampun dan dapat ampun dari DIA MAHA PENGAMPUN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu jalan tertatih oleh kerakusan. Itulah dosa. Nalar jadi kabur oleh tipu-muslihat. Itulah dosa. Naluri jadi tumpul terhadap derita sesama. Itulah dosa. Nurani tercemar oleh iri dan dengki. Itulah dosa. Semua ini dapat kembali pulih kalau Nafsu  lurus, Nalar tulus, Naluri halus, Nurani kudus. Ini semua bisa terjadi lewat mohon ampun dan dapat ampun.

    Hidup kita tidak tertindih beban dosa kalau ampun diminta oleh kita dan ampun diberi oleh DIA, PENCIPTA kita, MAHA PENGAMPUN.

     

  • Ganggu

     

    Ganggu. Hidup ini hilang hidupnya kalau tidak ada yang ganggu. Jadi ganggu itu perlu. Ada yang mengganggu ada yang terganggu. Saling mengganggu. Itulah hidup. Mana ada orang yang sama sekali bebas dari gangguan. Semua manusia selalu mengganggu dan diganggu. Balas membalas. Bayi mengganggu mamanya. Mama mengganggu bayi untuk bangun dari tidur lelap kelamaan. Guru mengganggu siswa-siswi dengan berbagai tugas belajar. Siswa-siswi mengganggu guru dengan berbagai pertanyaan untuk dijawab.

    Di pedalaman Pulau Timor, suku Buna’ biasanya membunyikan segala macam bunyi-bunyian kalau ada gempa bumi. Mereka percaya bahwa getaran gempa itu adalah  gangguan dari roh penjaga manusia yang mau mengetahui manusia masih ada atau tidak di tempat masing-masing. Bunyi-bunyian adalah tanda jawaban kepada roh bahwa manusia masih ada dan tidak tidur, tetap berjaga.

    Nafsu manusia maunya semua serba enak, nyaman. Nalar manusia maunya semua jelas, serba gamblang. Naluri manusia maunya tenang, serba aman. Nurani manusia maunya teduh dan damai serba bahagia. Inilah harapan empat unsur dalam diri manusia, saya, anda, dia, kita. Perpaduan dalam diri manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani menginginkan pribadi manusia tidak mau diganggu, tetap tenang-tenang saja. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ganggu itu baik atau buruk tergantung dari tujuan pengganggu. Iblis, sumber segala keburukan, pasti mengganggu dengan tujuan untuk mengganggu manusia ke arah yang jahat seperti mengeluh, mengutuk, mengamuk dan menghancurkan alam atau sesama.

    TUHAN, mengganggu manusia untuk sadar bahwa dirinya itu baik dan mengusahakan yang baik untuk diri dan sesama di dalam alam ini. Gigi tumbuh pada bayi dan menimbulkan rasa sakit, itu bukan ganggu dengan tujuan menyakitkan, tetapi ganggu gusi bayi supaya di sana tumbuh gigi untuk menggigit dan mengunyah makanan.

    Ganggu dalam hal ini pertumbuhan. Sering kita manusia melihat pertumbuhan dan perubahan itu sebagai gangguan. Padahal itu adalah pertumbuhan, perkembangan, perbaikan, penyempurnaan dari yang baik ke arah yang lebih baik.

    TUHAN sumber segala yang baik itulah yang memberikan kita manusia kebebasan untuk mengupayakan kesempurnaan dan semakin sempurna sampai kepada sempurna yang kekal. Tahap demi tahap menuju kesempurnaan inilah yang kita sangka gangguan. Bukan, itu bukan gangguan tapi sapaan, pemeliharaan terhadap kita manusia dari DIA, Yang Mahabaik.

     

     

     

  • Tepat

     

    Tepat. Satu kata yang sering kita ucap tapi sering kita langgar. Tepat bisa menyangkut waktu, tempat, sasaran. Tepat waktu, biar sering terlambat dengan berbagai alasan. Tempat yang tepat sesuai keadaan biar sering bergeser sedikit-sedikit.

    Sasaran yang tepat, biar sering melenceng. Kita manusia ada Nafsu untuk memenuhi dan menikmati saat yang tepat, tempat yang tepat dan tujuan yang tepat.

    Kita ada Nalar untuk memikirkan semuanya itu dengan matang. Naluri kita menuntun untuk tepat dan tepati semua rencana yang baik bagi diri dan sesama. Nurani kita tenang karena tepat sesuai keinginan Nafsu, pertimbangan Nalar dan dorongan Naluri. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Patokan jelas, tepat itu dari TUHAN. Kurang atau tidak tepat itu dari kita manusia. Waktu, tempat, sasaran dari hidup ini sudah tepat dan tetap. Tidak mungkin ada kekeliruan waktu, tempat dan sasaran dalam hidup kita yang berasal dari TUHAN. Tujuan dari Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani kita itu jelas, tepat, tetap. Itu sudah Rencana dan Penyelenggaraan TUHAN.

    Filsafat itu harus ada dasar yang kokoh dan itu dalam kesadaran akan adanya TUHAN. Pada TUHAN ada kebenaran mutlak. Filsafat itu cinta kebenaran. Lalu kebenaran itu apa?

    Masalah filosofis sampai sekarang ini muncul karena ada pendapat bahwa filsafat itu harus berdasarkan akal sehat, segala yang dapat dicerna akal. Inilah dasar keangkuhan manusia yang muncul dari pemisahan antara ‘Theologi’, Pengetahuan tentang Tuhan, dan ‘Filsafat’, pengetahuan sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu yang dapat dimengerti dengan kekuatan akal. Mana mungkin mau menyelami adanya TUHAN dengan kekuatan akal.

    Tepat itu hanya ada pada Tuhan. Kita manusia ini selalu melenceng ke sana-sini. Nafsu bercabang, tidak tepat, Nalar melayang, banyak kekeliruan, Naluri timpang, bergaul pilih-pilih, Nurani keruh, kurang ingat TUHAN.

    Tepat itulah gerak hidup saya, anda, dia, kita. Tetapkan waktu yang tepat. Tempat sudah tepat, jangan disesali. Sasaran tetap yang sama, kebahagiaan abadi. Itu semua hanya ada pada TUHAN.

     

     

     

  • Polos

     

    Polos. Kata ini tepat untuk perilaku kita manusia yang pikir, omong, perbuatan sejalan. Ada teman saya pernah sindir saya waktu saya Anggota DPR-D Provinsi NTT tahun 2014-2019. Kawan ini dengan polos bicara, “Pak Anton, saya tidak percaya yang Pak omong. Sebab orang politik ini pikir lain, omong lain, buat lain”. Saya lihat kawan itu, dengar ungkapannya, saya pikir lalu renungkan, kawan ini benar. Karena saya tidak mungkin bentangkan semua yang saya pikirkan lalu omong dan buat.

    Dalam hidup ini setiap kita ada Nafsu. Tidak mungkin seluruh Nafsu dalam bentuk keinginan itu saya bentangkan kepada setiap orang. Kepada yang satu saya ungkapkan kepada yang lain saya sembunyikan. Ini tidak polos. Kenapa? Karena kita manusia ada Nalar untuk mengolah dorongan Nafsu itu sesuai keadaan tempat dan waktu. Lalu itu apa hubungannya dengan polos dan tidak polos?

    Ada kaitan erat antara Nafsu, Nalar dan Naluri. Dengan Naluri saya dibatasi oleh kehadiran sesama manusia. Pertenggangkan orang lain. Ini Naluri yang membuat diri seseorang bisa polos sekarang dan sebentar tidak polos lagi. Dalam diri kita ada Nurani yang membuat diri kita sering pikir lain, omong lain, buat lain. Contoh, saya ada Nafsu untuk cari tambah uang karena butuh.

    Nalar bilang, bisa, asal halal. Naluri bilang, hati-hati orang yang janji beri uang itu bohong. Jangan percaya. Nurani saya langsung berbisik, tenang. Biar uang kurang, puaslah dengan apa yang ada. Tenanglah saya. Semua ini tidak mungkin saya uraikan kepada setiap orang. Dalam segala hal kita manusia tidak mungkin hidup polos dalam arti buka-bukaan segala yang ada pada diri kita yang namanya polos. Harus ada selubungnya. Inilah kerjasama 4N, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dalam diri kita. (Kwadran Bele, 2011).

    Polos itu harus. Tapi polos dalam arti yang baik, benar dan berguna bagi diri dan sesama.

    Inilah hidup polos yang dituntut dari setiap diri kita, saya, anda, dia, kita. Siapa yang tuntut?

    DIA, PENCIPTA kita.

     

     

     

  • Pesta

     

    Pesta. Ada musik, ada tarian, ada tawa-ria. Hiasan rupa-rupa. Ada yang memestakan, ada yang dipestakan. Berpesta, suasana pesta. Hidangan berlimpah. Makanan dan minuman tersaji. Setiap orang sesuka hati mencicipi hidangan sesuai selera. Nafsu manusia terarah kepada hal yang senang-senang seperti ini.

    Maunya pesta terus, siang-malam. Nalar manusia mendorong untuk memikirkan dan mencari pesta di mana dan kapan saja. Naluri manusia terpuaskan oleh hadirnya sesama dalam pesta. Nurani manusia merasa bahagia karena suasana ramah, tenang dan damai dalam pesta. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini pesta. Setiap orang ada dan nikmati pesta. Siapa tuan pesta dan siapa undangan? Setiap pribadi manusia itu tuan pesta sekaligus undangan sebagai peserta dalam pesta yang sedang berlangsung. Ruang pesta adalah seluruh alam semesta ini. Heran kalau ada orang yang merusakkan ruang pesta serta memorak-porandakan hiasan yang ada di dalamnya. Heran juga bahwa ada orang yang berkelahi di ruang pesta. Itulah hidup yang adalah pesta.

    Dalam pesta ini tidak boleh ada mabuk-mabukan. Yang biasa disebut mati, meninggal dunia, sebenarnya pindah ruang. Tetap pesta yang sama. Hanya bedanya, di ruang dalam itu segalanya kekal. Bunga tidak layu lagi, daun tidak lagi gugur.  Terik matahari tidak menyengat dan dinginnya salju tidak menusuk. Yang namanya capai, sakit, susah, lenyap. Hidup yang sekarang ini persiapan ke arah  hidup yang baru itu, abadi.

    Nafsu kita diberi oleh Pencipta untuk menikmati pesta sepuas-puasnya tanpa lewat batas. Nalar kita diberi oleh Dia untuk mengalami dan memahami makna pesta. Naluri diberi untuk menikmati pesta dalam kebersamaan, bukan sendiri-sendiri atau saling gontok-gontokan. Nurani diberi untuk meresap makna pesta dalam keheningan yang penuh damai.

    Pesta itu hidup, hidup itu pesta. Alangkah indahnya hidup ini kalau saya, anda, dia, kita merayakannya dengan gembira. Tidak ada susah? Tidak ada sakit? Yang namanya susah, sakit itu sebenarnya ibarat dalam pesta, kita angkat meja, atur kursi, kerja yang melelahkan, yang masak di dapur asap masuk di mata. Itu bukan siksaan, bukan kutukan.

    Hidup ini pesta. Mari kita rayakan.

     

     

  • Lain

     

    Lain. Hidup ini semakin hidup karena ada yang lain. Lain dalam apa saja. Tempat, waktu, keadaan. Tidak pernah kita manusia ini puas dengan yang sama terus. Maunya lain terus. Hari ini lain dari kemarin dan pasti lain dari esok. Tidak pernah hari yang sama terus. Itu mati. Namanya hidup, harus lain terus, dari lain ke lain.

    Ini karena kita ada Nafsu yang ingin nikmati yang lain dari yang biasa. Sejauh ingin yang lain itu dalam batas-batas yang wajar, maka Nafsu kita berjalan di jalan yang benar. Kita ada Nalar untuk pikir dan cari yang lain dari yang sekarang. Kita suka pengalaman lain, pengetahuan lain. Ini karya Nalar yang cerdas. Kita ada Naluri untuk bergaul secara lain dan berjumpa dengan orang lain. Sejauh ada yang lain di sekitar kita dalam saling memperkaya penuh rasa persaudaraan, maka yang lain itu jadi kegembiraan bukan kegelisahan. Kita ada Nurani untuk menerima yang lain untuk menambah rasa aman dan damai. Dari aman ke lebih aman. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lain dalam menu makanan. Ini peran Nafsu. Lain dalam pengalaman. Ini peran Nalar. Lain dalam persaudaraan. Ini peran Naluri. Lain dalam damai. Ini peran Nurani. Lain di sini selalu harus dalam arti yang baik, benar dan bagus. Kalau lain dalam arti yang negatif, maka itu yang tidak diizinkan oleh DIA, PENCIPTA kita. Lain dalam mengomsumsi makanan yang lain yang beracun berarti salah dalam Nafsu. Lain dalam mengetahui lalu terlibat hal tipu-menipu, itu peran Nalar yang tidak benar. Lain dalam mencari teman lain yang mencelakakan, pasti itu peran Naluri yang salah arah. Lain dalam arti isi bathin dengan benci dan dendam, itu berarti Nurani sedang kabur. Lain dari sekarang ke arah lain yang lebih baik. Itulah hidup dalam arti yang sebenarnya.

    Hidup ini dari lain ke yang lain. Seluruh kita tearah ke hidup yang lain sebagai keberlanjutan dari yang fana ke yang baka.

     

     

     

  • Bantu

     

    Bantu. Bantu sesama, biasa. Saling membantu, bantu-membantu. Satu bantu yang lain. Satu kekurangan ini, yang lain  kelebihan itu. Bantu yang berkekurangan. Hidup ini bantu-membantu. Tidak ada satu manusia pun yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau sudah dibantu, wajib membantu orang lain.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati berbagai kebutuhan. Ini perlu bantuan orang lain. Kita manusia tidak tahu segala sesuatu. Harus ada orang lain bantu kita untuk mengetahui dan mengalami hal-hal baru. Ini karya Nalar. Saling membantu itu wajar dan wajib. Ini peran Naluri. Sesudah membantu dan dibantu, kita ada rasa tenang, terimakasih, damai. Ini peran Nurani. Empat unsur ini, ‘4N’ merupakan bahagian tak terpisahkan dalam diri kita manusia untuk hidup membantu dan dibantu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia saling membantu. Alam sekitar ada, diadakan oleh PENCIPTA untuk membantu kita manusia supaya bisa hidup. Hidup ini tidak melayang begitu saja. Harus ada tempat. Rumah, ladang, langit, udara, ada untuk membantu kita supaya kita hidup. Kita bertindak bodoh kalau tidak memakai bantuan ini. Lebih bodoh lagi kalau menyalah-gunakan malah merusak bantuan ini.

    Bantu-membantu, itu wajib. Saling membantu. Itu yang bahasa kerennya, saling mengasihi. Orang sakit, dibantu. Yang sehat bantu yang sakit. Orang miskin, dibantu. Yang kaya bantu yang miskin. Beri bantuan. Yang membantu ada kemampuan untuk membantu. Yang dibantu membutuhkan bantuan karena kekurangan. Orang Eropa ada gandum, bantu kita di Asia dengan gandum yang jadi terigu dan roti. Kita di Asia bantu mereka dengan padi yang jadi beras dan nasi. Alam dengan segala keterbatasannya memaksa kita untuk saling membantu.

    Nafsu kita adalah dorongan untuk menikmati apa yang ada di sekitar kita. Tidak boleh nikmati sendiri, harus bantu orang lain. Nalar adalah daya untuk mengetahui cara mengolah kebutuhan. Tidak boleh kikir dengan pengetahuan dan pengalaman. Saling mengajar dan saling melatih. Ini bantu-membantu. Bantu sesama agar hidup sama-sama, makin hari makin makmur. Ini karya Naluri. Aneh kalau tidak bantu sesama dan biarkan sesama itu hidup susah. Bantu sesama itu membuat hati senang dan tenang. Ini karya Nurani.

    Bantu itu Perintah dari DIA, PENCIPTA kita supaya kita hidup saling membantu. Dengan itu kita tidak keburu Nafsu, tidak keblinger Nalar, tidak  kelabakan Naluri dan tidak kebablasan  Nurani.