Category: Filsafat

  • Tolong

     

    Tolong. Sering kita pakai istilah ini. Tolong saya dulu. Saya tolong dia. Tolong menolong. Yang meminta tolong merendahkan diri. Yang menolong merasa hebat.

    Tolong selalu berkaitan dengan belas kasihan. Yang meminta tolong  mengharapkan belas kasih. Yang menolong melimpahkan belas kasih. Ada rasa kasihan dalam diri penolong kepada yang ditolong. Kasihan!

    Nafsu kita mendorong kita untuk mengharapkan sesuatu yang sulit diperoleh. Minta tolong. Nalar kita sulit memecahkan satu persoalan. Minta tolong. Naluri kita mengingatkan kita akan adanya bahaya. Minta tolong. Nurani kita sedang kacau. Minta tolong. Ini keterkaitan anatara empat unsur, 4N dalam diri kita, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. Seseorang yang tak berdaya, minta tolong. Orang yang diminta tolong tergerak empat Unsur dalam dirinya dan cepat tanggap, menolong sesama yang minta tolong. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tolong! Ungkapan orang yang tak berdaya. Di sini letaknya kesalahan pemahaman tentang istilah tolong. Setiap diri manusia, ada hak dan kewajiban untuk tolong diri karena penolong satu-satunya adalah TUHAN. DIA-lah PENOLONG. Bukan manusia. Manusia dengan manusia ada kewajiban dan hak untuk bantu-membantu. Ada dalam posisi sederajat. Tolong itu terjadi antara dua pihak yang tidak sederajat. Manusia dengan manusia, sama derajat, sama martabat. Mana mungkin satu merasa diri hampa dan yang lain merasa diri hebat untuk menjadi penolong. Ini merampas posisi TUHAN. Hanya TUHAN-lah yang mempunyai kuasa untuk menolong. Kita sama-sama manusia tidak ada kuasa untuk tolong. Bantu, yah. Tapi tolong, tidak.

    Tolong itu dari yang kelimpahan ke yang ketiadaan. Kita manusia, tidak ada yang kelimpahan, apa pun saja, dan tidak ada yang ketiadaan, kekosongan dalam hal apa pun saja. Setiap kita ada dalam keterbatasan dalam segala hal dan tidak benar kalau anggap diri bisa menjadi penolong. Saya, anda, dia, kita sama-sama dalam posisi ada dan apa yang ada dalam diri kita inilah yang dipakai untuk bantu sesama. Bukan tolong sesama. Sikap suka tolong mengganggap sesama rendah dan menganggap diri tinggi. Ini tidak benar.

    Mari kita sama-sama memohon setiap saat, apa saja dari PENOLONG, TUHAN, PENCIPTA kita.

     

     

     

     

  • Jangan

     

    Jangan. Kalau kata ini tidak ada, kita semua manusia sudah celaka. Musnah. Punah. Sekarang kita masih ada turunan demi turunan karena ada kata ini, ‘jangan’. Heran, ada dua kata ini berdampingan, ‘jangan’ dan ‘harus’. Harus itu perintah, jangan itu larang. Perintah dan larangan ada untuk ditaati oleh kita. Larang dan suruh ibarat dua sisi  dari satu mata uang. Kalau larang terus tanpa perintah, maka sengsaralah hidup ini. Kalau suruh dan suruh terus, maka apakah kita manusia ini pesuruh?

    Nafsu kita bergerak antara dua kutub ini, jangan dan harus. Jangan terus, jadi pembangkang, karena lawan. Harus terus, kurus, karena beban. Nalar kita sadar akan makna jangan dan harus. Tidak ada jalan tengah. Atau-atau. Jangan atau harus. Naluri kita terkendali oleh jangan dan harus ini. Kalau lalai, jadi serigala bagi sesama. Nurani kita meresapkan sari pati dari jangan dan harus. Ampas dibuang, sari disimpan. Itulah peran Nurani.

    Empat N, Nafsu + Nalar +  Naluri +  Nurani adalah empat unsur  yang diletakkan TUHAN dalam diri kita masing-masing agar ikut dua kata ini, ‘jangan’ dan ‘harus’. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jangan ribut. Harus tenang. Ini larangan dan suruhan guru kepada siswa-siswi dalam kelas. Apa tujuannya? Supaya belajar dan kerja tugas dengan tenang.  Nanti dalam ujian, bisa lulus. Larang bukan rotan, suruh bukan beban. Ini demi keberhasilan siswa-siswi.

    Dalam hidup, siapa yang larang dan suruh kita? TUHAN. Ini bukan filsafat yang dikira hanya permainan otak. Filsafat itu menyeluruh, menyangkut ‘4N’, pikir sedalam-dalamnya tentang makna dan tujuan dari ‘4N’. Jadi dengan filsafat tentang dua kata ini, ‘larang’ dan ‘suruh’, hidup kita jadi penuh makna.

     

     

     

     

     

     

  • Firasat.

    Firasat. Sering kita dengar dan pakai kata ini, firasat. Ada rasa, dugaan, perkiraan tentang apa yang akan terjadi. Baik atau buruk. Sesudah terjadi langsung berceritera, memang, saya sudah ada firasat. Biasanya hal buruk yang menimpa itu yang diungkapkan melalui ceritera tentang firasat. Celaka dengan kendaraan di jalan. Entah sendiri atau kerabat dekat berujar, memang saya sudah ada firasat jelek tadi pagi. Kejadian dikaitkan dengan perasaan di waktu lalu.

    Nafsu kita selalu berkontak dengan alam nyata. Nalar kita mengetahui dan mengalami yang sudah dan sedang terjadi. Nalar juga menduga apa yang akan terjadi. Di sini letak firasat. Naluri kita selalu mengharapkan yang baik. Kalau yang buruk menimpa kita langsung cari jawabnya pada firasat. Nurani kita terguncang oleh peristiwa jelek yang menimpa diri kita dan Nurani bertanya, salah apa? Ini peran 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri +Nurani yang membuat diri kita hidup melangkah maju ke arah yang baik dan lebih baik lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Firasat itu meneguhkan atau meruntuhkan? Hidup itu tahan banting. Penuh tantangan. Dalam hadapi tantangan, kalau diteguhkan, baik. Kalau diruntuhkan semangat juang, jangan. Istilah firasat boleh tetap dipakai, karena sulit dihilangkan. Sudah berurat-akar dalam hidup kita bermasyarakat. Pakailah kata firasat dalam arti yang positif. ‘Tadi pagi saya ada firasat buruk’. Ungkapan ini meruntuhkan diri. Kalau tertimpa mala-petaka yang tak terduga, tanyalah Nafsu, ini salah keinginan? Tanya Nalar, mengapa saya tidak ikut larangan? Tanya Naluri, mengapa saya tidak ikuti nasihat orang untuk tidak berbuat hal itu? Tanya Nurani, mengapa saya tidak waspada menghadapi situasi ini?

    Kita hidup tidak dituntun oleh firasat. Hidup kita dituntun oleh DIA, SANG PEMBERI HIDUP. Di luar DIA, tidak ada siapa pun, apa pun yang mengatur hidup kita ini. Unsur-unsur dalam diri kita, ‘4N’ itu anugerah dari YANG MAHA BIJAK untuk kita hidup penuh bijak bukan penuh firasat.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (16)

     

    Nalar kita jelas-jelas menunjukkan mana milik kita, mana milik orang lain. Praktek KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) terjadi salah satunya karena faktor ini, tidak menghargai milik orang lain. Dalam diri kita manusia ini ada Karunia dari TUHAN, kebebasan. Bebas untuk memilih, mana baik, mana buruk, mana benar, mana salah.

    KKN terjadi karena Nalar kita mendorong untuk pilih hal yang salah, menganggap milik orang lain itu milik sendiri, tidak menghargai orang lain dan milik orang lain itu. KKN itu dibuat oleh siapa pun saja di dunia ini. Anak-anak dan remaja pun bisa buat KKN.

    Dalam hal yang berbeda-beda. Kejahatannya sama. Tidak hanya orang dewasa, tidak hanya pejabat, guru, Anggota TNI/POLRI,  Dokter, Pemimpin Agama pun bisa praktekkan KKN. Ini karena Nalar diarahkan salah, tidak diarahkan ke hal yang benar, tapi ke hal yang salah.

    Nalar sudah memberikan yang salah, ditambah oleh dorongan Nafsu yang tak terkendali, Naluri pun ikut-ikutan, tidak berdayalah Nurani. Diri pribadi terombang-ambing, tercabik-cabik. Lengkaplah perbuatan yang tercelah, KKN. Milik orang lain dianggap milik sendiri secara tidak wajar dan tidak sah.

    Nafsu mengatakan, pakai saja sepuas-puasnya. Kebebasan yang ada dalam diri kita dipaksa untuk tidak bebas lagi memilih yang baik, yang salah itulah yang dipilih. Nafsu setuju, Nalar buta, Naluri angkat tangan, Nurani menangis. Inilah model mala-petaka dalam pribadi kita kalau ber-KKN.

    Hancurlah diri kita karena KKN, menguasai milik orang lain tanpa menghargai orang lain. Terjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam merusak harga diri melalui Nafsu yang sudah di luar alur. Nalar semakin kabur dan hancur harga diri.

    Naluri ada dalam keadaan terkejar-kejar oleh milik orang lain yang sementara dikuasai secara tidak wajar dan pemilik yang sedang resah dan risau mencari dan menanti barangnya yang hilang. Nurani gelisah tanpa arah mengembara dalam belantara yang gulita. Itulah pengaruh KKN yang tidak menghargai milik orang lain.

    Belum terlambat. Nalar harus segera dicuci-bersih dan diarahkan untuk berpikir dan berpendapat yan benar. Nafsu segera diberitahu untuk hentikan dorongan untuk memiliki barang orang di luar hak sendiri.

    Naluri segera disadarkan untuk mengembalikan hak dan milik orang lain  dan Nurani segera disadarkan dengan rasa sesal sempurna di hadapan sesama dan TUHAN. Kalau sudah terlanjur buat KKN, tunggu nasib. Kalau belum, baru terdorong, lari, hindari praktek KKN. Milik orang tetap milik orang. Puas dengan milik sendiri.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (15)

     

    Nalar kita manusia menyadarkan diri kita tentang adanya sesama. Diri kita bukan seorang diri tapi ada bersama diri-diri yang lain. Kalau sesama tidak dihargai sama artinya tidak menghargai diri sendiri. Saling menghargai, wajib hukumnya. Ini Perintah dari TUHAN PENCIPTA kita. Kita manusia sama-sama perlu makanan. Ini muncul dari Nafsu. Nalar kita menjelaskan, jenis tumbuhan atau hewan mana yang dapat dimakan. Makan harus diusahakan, tidak sendiri-sendiri tetapi harus bersama-sama. Ini karya Naluri. Sesama manusia harus tetap saling menghargai mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Ini perintah Nurani. Dalam hal cari makan ini tidak boleh ada tipu-menipu.

    Nalar mencerahkan kita manusia untuk bertindak benar dalam memperjuangkan kebutuhan manusia. Tidak boleh ikut Nafsu yang negatif, suka berfoya-foya. Dalam memenuhi kebutuhan manusia, kita diingatkan oleh Naluri untuk tetap memperhatikan kepentingan sesama. Tidak boleh kepentingan bersama itu diciderai. Nurani memberikan kita petunjuk untuk tetap menaati peraturan yang baik sesuai Perintah TUHAN untuk saling mengasihi. Tidak boleh Nurani dicemari.

    Tindakan KKN, Korupsi-Kolusi-Nepotisme sebagai kejahatan kemanusiaan, muncul dari penyalah-gunaan empat unsur dalam diri pribadi manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani secara bersamaan. Nalar bermain dan dipermainkan oleh diri kita untuk membuat penyimpangan-penyimpangan dalam mengurus milik bersama, milik rakyat. Nalar beri pertimbangan yang salah, diputar-balikkan untuk kepentingan diri dan orang-orang dekat sambil merugikan orang lain. Seorang kepala di bahagian Pemerintahan, ada tugas melayani kepentingan masyarakat. Uang yang terkumpul dari rakyat, tidak kembalikan kepada rakyat, tetapi dipakai untuk memperkaya diri. Ini hasil Nalar yang penuh dengan dusta dalam diri kepala yang bersangkutan. Inilah yang disebut KKN.

    Nalar itu bersih, lurus, jernih, bijak. Semua sifat Nalar ini tidak diindahkan oleh seseorang atau sekelompok orang yang nekat melakukan tindakan kejahatan yang namanya KKN. Kepentingan orang lain diabaikan. Ini kejahatan terhadap sesama manusia, melawan Naluri. Aneh bahwa orang yang melakukan KKN, tidak menghargai sesama,  merasa tenang di hati, padahal itu penipuan terhadap diri sendiri dan terhadap sesama, terlebih terhadap TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

  • Hidup Jujur (14)

     

    Nalar itu cermin untuk lihat diri kita apa adanya. Di cermin kita tidak bisa tipu diri. Itulah Nalar. Lewat cermin kita lihat diri, bentuk roman muka, busana dan bisa juga seluruh badan kita. Penampilan diri inilah yang kita namakan diri dengan segala embel-embel yang menempel pada diri kita. Ada banyak barang berharga melekat pada diri kita, arloji, kacamata, ada yang gigi mas, baju rupa-rupa model. Ini semua berharga, tetapi tidak dapat dibandingkan dengan harga diri.

    Nalar menyadarkan diri kita akan harga diri dan menampilkan kepada sesama manusia bahwa diri kita ada harga. Harga diri muncul dari perpaduan empat unsur dalam diri kita: Nafsu mendorong, Nalar mengarahkan, Naluri membimbing, Nurani menampung. Dalam hal yang positif, Nalar menjadi patokan untuk penampilan diri kita sebagai orang yang rendah hati dan suka membagi pengetahuan dan pengalaman kepada sesama dengan suka hati.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar bisa membawa kita kepada sikap yang negatif, angkuh, suka memperdaya sesama, dan menghancurkan alam dan sesama dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Akar dari tindakan KKN itu bisa berawal dari Nalar yang kurang jernih. Dorongan dari Nafsu untuk memperoleh sesuatu secara tidak halal diterima oleh Nalar lalu mengajak orang lain, sesuai Naluri dan terjadilah tindakan KKN. Nurani akan memberontak tetapi tidak diindahkan oleh diri kita pribadi maka kejahatan KKN yang meruntuhkan harga diri terjadi.

    Nalar menipu kita, kita tipu diri dengan Nalar bahwa tindakan tipu-menipu itu tidak diketahui oleh orang lain, jadi aman. Nalar semakin keruh ibarat air kotor penuh lumpur. Nalar semakin dikaburkan baik oleh dorongan Nafsu yang tidak teratur maupun oleh Naluri yang sudah dibohongi dengan cara mengelabui mata sesama. Nurani kita menjadi gelap dan diri kita hilang harga diri. Celakanya kalau diketahui oleh orang lain, rasa malu akan menimpa diri kita dan menular ke orang-orang yang dekat. Harga diri jatuh.

    Nalar harus dijaga sungguh-sungguh untuk menyadari bahwa tindakan KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme itu tindakan jahat, mencuri uang atau barang orang lain secara terselubung. Ini sungguh-sungguh meruntuhkan harga diri di mata masyarakat, terutama di hadapan TUHAN, PENCIPTA kita.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (13)

     

    Nalar mengajar kita untuk mencari dan menikmati hiburan yang baik, benar dan bagus. (3B). Dalam Nalar kita ada perbendaharaan ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang segala macam hiburan yang ada di sekitar kita.

    Nafsu kita mendorong untuk menikmati alam pegunungan. Bagus. Hiburan itu kebutuhan yang perlu untuk kesegaran diri kita. Kalau kebutuhan pokok itu terdiri dari sandang , pangan dan papan, maka untuk memenuhi kebutuhan penting, pendidikan dan kesehatan, kita butuh kebutuhan yang perlu yaitu hiburan.

    Nafsu cari hiburan, Nalar beri pengetahuan tentang hiburan yang benar, Naluri dorong kita untuk cari hiburan yang bermanfaat bagi diri dan sesama, dan Nurani langsung mebisikkan hiburan mana yang baik dan santun. Ini kerjasama antara empat usur dalam diri kita manusia: 4N, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar menuntun kita untuk menikmati hiburan yang baik, benar dan bagus. Tetapi sering terjadi kita manusia ini didorong untuk cari hiburan yang tidak pantas di luar batas. Ada yang mencari hiburan dengan biaya yang tidak sedikit.  Kalau biaya itu terjangkau oleh penghasilan sendiri, masih bisa diterima.

    Kalau cari hiburan dengan memakai uang milik orang lain, namanya pencuri. Kalau milik umum, misalnya milik rakyat untuk pembangunan, ini yang termasuk pencuri khusus yang dinamakan koruptor, suka korupsi. Kalau korupsi, biasanya lewat kolusi dan bersama orang-orang dekat sehingga disebut nepotisme.

    Nalar mengiyakan kebutuhan manusia sebagai kebutuhan yang perlu dinikmati. Ada kesegaran tercipta lewat hiburan. Hiburan ada banyak macam. Mulai hiburan secara fisik seperti olah raga sampai kepada hiburan otak seperti bermain catur atau mengisi teka-teki silang. Hiburan itu perlu dinikmati untuk mengatasi kejenuhan dalam bekerja.

    Nalar mengemukakan dengan jelas segala pengetahuan dan pengalaman orang-orang dari berbagai tempat dan berbagai tradisi tentang jenis-jenis hiburan. Manusia tergerak untuk saling mengunjung karena adanya hiburan ini. Nafsu untuk mengalami sesuatu yang baru dan segar adalah wajar  untuk menghibur diri dan sesama.

    Naluri mendorong manusia untuk menikmati hiburan secara bersama, tidak sendiri-sendiri. Nurani meneguhkan manusia dalam hal mencari dan menikmati hiburan yang pantas dan layak di hadapan sesama, terutama di hadapan TUHAN.

     

     

  • Hidup Jujur (12)

     

    Nalar mengarahkan kita manusia untuk mengupayakan pendidikan dan kesehatan sebagai kebutuhan yang penting. Tanpa pendidikan, kita manusia bisa keliru atau salah dalam menempuh pendidikan sehingga keputusan yang kita ambil tidak benar.

    Melalui pendidikan kita tahu dan alami bahwa cara bercocok tanam itu harus sesuai alam. Hasil yang kita peroleh kita makan secukupnya supaya kita sehat. Ini karya Nalar.

    Pendidikan dan kesehatan erat berkaitan. Melalui pendidikan, kita manusia jadi tahu dan trampil. Melalui pengetahuan tentang kesehatan, kita manusia jadi sehat dan kuat.

    Nalar membuat pengetahuan kita semakin luas dan dalam. Nalar membuat kita manusia mengupayakan segala hal baik dan benar yang harus dijalani supaya sehat dan kuat.

    Pantas orang Romawi kuno di abad-abad awal sesudah Masehi mempunyai ungkapan dalam bahasa Latin, ‘Mens sana in corpore sano‘, artinya: ‘Pikiran yang sehat ada dalam tubuh yang sehat’. Nalar itu menjaring keinginan Nafsu, menggiring keinginan Naluri dan Nurani menyaring semua hasil dari kerjasam antara Nafsu, Nalar dan Naluri. Tujuan Nalar itu satu, membuat manusia ini arif-bijaksana dalam mengambil keputusan untuk hidup yang baik dan layak. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar membuat diri kita manusia sadar akan perlunya Nafsu yang teratur dan terukur dalam mengupayakan kebutuhan penting: pendidikan dan kesehatan. Kalau cerdas dan sehat, harus diabdikan untuk sesama melalui Naluri dan memperoleh kedamaian melalui Nurani.

    Ada orang yang cerdas sekali dan sehat sekali, hasil pendidikan dan kesehatan. Sayang, dia memakai kecerdasan dan kesehatan itu untuk menipu diri dan sesama lalu memakai uang milik umum untuk kepentingan diri sendiri. Ini yang namanya Korupsi.

    Perbuatan tipu-menipu itu dijalankan bersama dengan beberapa orang yang sama-sama cerdas. Ini kolusi. Orang-orang dekat itu adalah kerabat dan sanak-saudara. Ini Nepotisme. KKN. Ini yang membuat Nurani tidak tenang, gelisah dan resah.

    Nalar mengingatkan kita untuk memakai kecerdasan, ketrampilan, pengalaman dn ken kesehtan yang baik untuk kebaikan diri dan sesama. TUHAN memberkati perbuatan yang baik ini, melawan KKN.

     

     

     

  • Hidup Jujur (11)

     

    Nalar. Kita manusia diberi Nalar untuk berpikir supaya mengetahui dan mengalami apa yang benar dan baik untuk hidup kita. Nalar itu menuntun kita untuk belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang sudah ada. Dengan Nalar kita manusia yakin apa yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah.

    Nalar menghantar kita untuk mengetahui dan mengalami manfaat kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan. Tiga kebutuhan ini diingini oleh Nafsu, mau makan, mau minum, mau pakai, mau tinggal di tempat yang layak. Ini dibutuhkan oleh kita manusia dan kebutuhan ini didorong oleh Nafsu. Langsung Nalar beri penjelasan, apa yang layak dipakai, layak dimakan, layak dijadikan tempat tinggal. Ini kerja Nalar.

    Nalar ini diarahkan kepada Naluri. Kita manusia hidup tidak sendirian. Semua kebutuhan pokok itu tidak bisa dipenuhi oleh diri kita seorang diri. Harus ada  bantuan orang lain. Kesadaran tentang adanya orang lain ini karya Naluri. Ingat orang lain, butuh orang lain. Hal ini diberitahu oleh Nalar kepada Naluri. Nurani akan beri kepastian yang menenteramkan apabila keputusan ini baik dan bagus untuk diri dans sesama di hadirat TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar mengarahkan dan menyadarkan kita bahwa ada aturan, baik aturan dari alam maupun aturan dari manusia. Kesadaran ini ada  dalam Nurani. Maka Nalar mempunyai peran untuk menyadarkan kita manusia bahwa semua kebutuhan pokok yang diingini oleh Nafsu  itu harus diupayakan, boleh dinikmati sambil ingat orang lain, Naluri, sambil taat pada aturan  yang sudah ada dalam alam, disepakati manusia atas dasar Perintah dari TUHAN, PENCIPTA kita.

    Praktek KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme  itu adalah penyakit dalam masyarakat yang tidak memakai Nalar secara benar dalam mengupayakan dan menikamti kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan.  Korupsi, merusak diri, sesama dan alam dengan cara kolusi, yaitu bermain curang dan ingat diri serta keluarga secara berlebihan, nepotisme. Ini tidak boleh karena tidak dikehendaki oleh sesama, terutama oleh TUHAN.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (10)

     

    Nalar. Ini karunia TUHAN kepada kita manusia untuk berpikir dan berpendapat benar, baik dan bagus. Dengan Nalar kita manusia dapat menyambung hidup atas dasar kebenaran.

    Kalau Nalar disalah-arahkan maka yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar. Pemutar-balikan kebenaran ini biasanya dilakukan secara tahu dan mau, secara sadar dengan tujuan yang tidak baik.

    Di sini letaknya awal kebiasaan buruk  dalam masyarakat, tindakan KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Tindakan yang sangat merugikan banyak orang.

    Nalar, kurnia Tuhan kepada kita manusia yang seharusnya diarahkan untuk mencari kebenaran dan menjadi pengalaman yang baik, bgus dan berguna. Ini berkaitan dengan keinginan Nafsu yang baik dan benar. Nafsu mendorong setiap orang dewasa untuk berketurunan. Di sini Nalar mengarahkan pribadi entah laki-laki atau perempuan untuk memilih dan memutuskan, siapa yang pantas dan patut untuk menjadi pasangan hidup.

    Nafsu menginginkan, Nalar memilih dan memutuskan. Naluri memberikan jalan untuk menjalin pergaulan yang sehat dengan sesama untuk menjadi pasangan dan menjalin keakraban dengan seluruh kaum keluarga dua belah pihak, laki-laki dan perempuan. Nurani bekerja dengan memberikan pertimbangan untuk mengikuti kehendak Tuhan, menghargai dan mencintai sesama.

    Inilah kerjasama antara 4N dalam diri manusia: Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Nalar memberikan kesadaran kepada manusia bahwa hidup berpasangan itu harus sesuai usia yang dewasa, berpikiran dewasa.

    Tidak boleh menjalin hubungan sebagai suami-isteri sebelum usia dewasa. Kematangan untuk hidup berpasangan itu biasanya sesudah mencapai usia dewasa, paling kurang sesudah usia delapan belas tahun.

    Nalar diberikan Tuhan kepada kita untuk menghargai sesama sebagaimana diri sendiri ingin dihargai. Memilih teman hidup dalam ikatan perkawinan adalah perwujudan penghargaan kepada sesama. Nalar itu menuntun manusia untuk tidak menipu diri dan sesama. Tipu-menipu itu penyimpangan dari karya Nalar yang benar.

    Nafsu menginginkan teman hidup yang sesuai dengan keinginan pribadi. Ketertarikan fisik merupakan hal yang lumrah untuk mengarahkan Nalar supaya mempertimbangkan keadaan diri pasangan yang akan dipilih.

    Dalam pengambilan keputusan, banyak pribadi manusia yang lain dilibatkan. Ini karya Naluri. Hidup tidak sendirian. Nurani menenangkan diri kita kalau pilihan itu tepat dan kedua belah pihak saling menerima.

    Nalar ada untuk digunakan memenuhi keinginan Nafsu sesuai Naluri dan Nurani secara benar, sesuai cita-rasa manusiawi dan kehendak Ilahi. Kehidupan manusia yang berpasang-pasang di dunia ini tidak boleh dirusak dan dirasuk oleh tindakan merusak (Korupsi), tindakan persengkongkolan jahat (Kolusi) dan tindakan pilih kasih sambil mengabaikan adanya orang lain (Nepotisme).

    Nalar menjadi sarana pembelajaran untuk kita manusia agar menghindari perbuatan tercela, merusak, menipu dan membenci.

    Nalar mengarahkan kita untuk hidup bersama secara akrab penuh persaudaraan dan bersama hidup bersujud kepada TUHAN, Pencipta kita.