Category: Filsafat

  • Filsafat Alam

     

    Berpikir tentang alam. Itulah filsafat alam. Alam itu segala yang ada ini. Kita manusia juga termasuk alam. Kita dalam alam dan kita adalah alam. Dalam alam ini hanya kita manusia saja yang dapat berpikir tentang alam, termasuk berpikir tentang diri kita manusia sendiri. Pikir tentang alam itu mulai dari alam ini berawal kapan, siapa yang buat alam ini dan apa tujuan dari adanya alam ini. Awas, jangan pusing.

    Memang pikiran seperti inilah yang orang sering enggan berfilsafat atau berpikir yang dalam-dalam. Filsafat itu memang pemikiran yang dalam. Yah, apa gunanya ada pikiran kalau hanya pikir yang dangkal-dangkal saja, mendatar, biasa-biasa. Harus sering pikir yang dalam. Itulah filsafat. Itu butuh ketenangan. Tidak bisa pikir dalam-dalam sementara lari-lari di lapangan. Tidak bisa pikir yang mendalam sementara mengantuk. Itu namanya mengelamun, mengkhayal.

    Alam ada sejak kapan? Banyak dugaan, ribuan tahun, jutaan tahun lalu. Boleh duga kapan saja, tapi yang nyata ialah alam ini ada. Siapa yang buat atau ada dengan sendirinya? Putar otak, kalau suda buntu, buat saja kesimpulan, alam ini ada yang buat. Kalau buat berarti pakai bahan. Bahan itu dari mana dan siapa yang buat bahan itu? Ini makin mendalam. Pikir harus ada ujungnya. Jangan gantung saja.

    Ujung itulah  kesimpulan, dan kesimpulan itulah kebenaran, dan kebenaran itu tidak mutlak karena kemudian orang lain pikir lagi dan temukan kebenaran yang lebih benar. Untuk sementara, buat satu kesimpulan, pakailah istilah cipta yang artinya, buat sesuatu dari tiada menjadi ada, dan yang adakan itu tidak diadakan. Dia itu sebut saja, pencipta. Di situ pikiran buntu, dan harus menyerah. Dalam penyerahan itu kita manusia katakan, ini di luar kemampuan pikiran saya, maka saya percaya saja.

    Kesimpulan sementara dan pegang kesimpulan ini, alam itu diciptakan oleh pencipta dan karena alam ini begitu luas, hebat, raksasa, maka penciptanya itu pasti jauh lebih hebat maka kita pakai istilah, Maha Pencipta. Di sini pikiran buntu, dan percaya, entah menengadah atau menunduk, itulah yang namanya ‘sembah sujud’, menyatakan diri kita manusia ada dari Yang Maha Ada dan kepada Dia kita sembah sujud dan bersyukur karena ciptakan alam tempat kita manusia ada.

    Alam diciptakan oleh Pencipta itu untuk kepentingan manusia. Ada alam raya, ada alam kecil. Alam kecil itulah diri kita yang kalau dibandingkan dengan alam sekitar, diri kita ini hanya setitik kecil saja yang bergerak memakai alam untuk melanjutkan kehidupan diri dan sesama. Berati kita ini bukan pemilik alam. Kita hanya ada di dalam alam dan memanfaatkan alam.

    Kita tidak ada hak untuk memiliki alam dan memakainya sesuka hati. Alam itu ada hukumnya sendiri yang harus kita patuhi. Dalam alam ada matahari, bulan, bintang. Kita punya pikiran yang ada dan tenaga terbatas sehingga yang jauh tinggi iu kita katakan langit dan yang kita injak ini bumi. Antara langit dan bumi itu ada udara. Dan hasil pikiran kita manusia yang begitu gemas untuk mengetahui, diketahuilah bahwa bumi ini ternyata satu bola kecil di antara bola-bola raksasa. Pernah ada pikiran bahwa bumi kita ini lapangan yang rata yang ada pinggirnya. Kemudian ada pikiran yang dibuktikan kebenarannya bahwa bumi ini bulat, bukan lempengan.

    Alam ini tidak boleh dilawan. Dikuasai sejauh ada manfaat untuk manusia. Bukit-bukit bisa digali untuk dapat batu-batuan atau barang lain seperti kapur untuk semen. Dataran bisa dibor untuk dapat minyak. Ini semua boleh sejauh manusia mampu. Tapi awas, manusia sudah juga berpikir dan tahu bahwa bukit-bukit itu digundulkan semua, hutan habis, air tidak ada, nanti ada padang pasir yang membuat manusia tidak bisa tinggal lagi di sana. Ini semua namanya hukum alam, dipelihara dan dimanfaatkan, boleh, dirusak dan dihancurkan, tidak boleh.

    Filsafat tentang alam ini menyadarkan kita untuk ada di dalam, jaga alam dan manfaatkan alam sejauh ada kebutuhan bagi kita manusia untuk hidup. Alam tidak boleh dipermainkan nanti dia mempermainkan kita. Alam tidak boleh dirusak nanti dia merusak kita. Alam ini ada untuk kita. Sujudlah kepada Yang Maha Ada yang telah adakan alam ini.

  • Filsafat Yunani

     

    Orang Yunani itu pintar sekali. Kalau bicara tentang Filsafat, harus mulai dari Yunani. Ini yang salah dan sama sekali salah. Pendapat ini membuat banyak orang menjauhi filsafat karena pikir harus tahu siapa itu Socrates, Aristoteles dan lain-lain. Yunani itu tempat. Pikiran-pikiran itu dicatat dan tersebar dari sana. Bukan berarti orang Yunani itu palling pintar dan kita semua harus belajar di sana atau dari sana.

    Ada Filsafat Tiongkok, ada Filsafat India, Fisafat Barat, Filsafat Timur. Itu menunjuk tempat pikiran orang-orang yang ada di sana dan tertulis lalu tersebar. Jangan ikat diri dengan tempat. Ada Filsafat Kuno, Fisafat Abad Pertengahan, Filsafat Modern. Itu pembahagian menurut waktu. Ada Filsafat Alam, Filsafat Manusia, Filsafat tentang Tuhan. Itu pembahagian menurut tema, tentang apa orang berpikir secara mendalam.

    Ada Filsafat Skolastik, Liberalisme, Eksistensialisme, Neo-Liberalisme. Itu aliran. Pendewaan Filsafat berdasarkan tempat, waktu, tema dan aliran ini yang memporak-porandakan pengertian tentang filsafat sehingga hanya orang tertentu saja yang dianggap tahu filsafat dan berfilsafat. Padahal kita semua tahu filsafat dan berfilsafat.

    Jujul di atas, Filsafat Yunani mempersempit filsafat. Langsung membuat bulu kuduk berdiri, binatang apa lagi ini. Itu hanya merek, cap. Beras Memberamo, Beras cap Jeruk. Itu merek dan tidak berarti beras lain tidak baik atau bukan beras.

    Filsafat diartikan dengan Ilmu memang jadi asing dan menjadikan orang takut. Kalau dikatakan, saya pikir begini, maka orang akan arahkan perhatian, dia pikir apa. Ini filsafat. Pikir.

    Kalau makan nasi lalu sementara makan nasi itu pikir tentang kandungan zat-zat yang ada dalam nasi, bagaimana nasi itu terjadi dan bagaimana nasi akan diolah dalam perut, dan pikir dan pikir terus tentang nasi, kapan nikmatnya nasi dinikmati.

    Dan kalau nasi diasingkan sekian rupa maka orang enggan makan nasi, sebab rumus dan syaratnya terlalu banyak. Demikian pula dengan filsafat. Terlalu banyak cap dikenakan pada filsafat sampai filsafat menjadi asing dan ganjil.

    Filsafat itu proses berpikir dan hasil berpikir. Anak umur tiga tahun. Sudah bisa ungkapkan beberapa kata. Tiba-tiba pada malam hari di depan rumah mereka dia bertanya pada bapaknya, ‘Pak itu bintang. Bisa ambil?’ Itu filsafat.

    Bocah ini berpikir. Bapaknya berpikir. Pikiran ini harus dirumuskan dalam kata-kata yang dia kuasai. Harus ada pengalaman, pengetahuan. Harus ada bahasa. Ini semua mata rantai filsafat. Jangan merasa asing dan mengasingkan filsafat. Jangan mendewakan filsafat.

    Saya berfilsafat. Itu berarti saya berpikir dan ajak orang lain berpikir. Hasilnya ada pendapat. Pendapat itu salah atau benar. Pendapat saya ini untuk apa saya kemukakan. Kepada siapa saya kemukakan. Kapan harus saya kemukakan. Di mana saya boleh kemukakan. Dalam bahasa apa saya kemukakan.

    Ini filsafat. Lepaskan itu pikiran tentang pikiran ini pikiran siapa dan dari mana. Ini membelit diri dengan hal-hal yang tidak perlu. Berpiir yah berpikir. Bekata yah berkata. Cari yang benar, baik dan berguna. Itu filsafat.

    Jangan tunggu orang Yunani datang ajar kita. Jangan agung-agungkan orang Barat. Saya berfilsafat. Saya pikir yang benar. Saya bicara yang benar. Ini baru namanya saya manusia yang berpikir, berpendapat dan berbuat benar. Itulah filsafat.

     

     

  • Bantu

     

    Bantu. Bantu sesama, biasa. Saling membantu, bantu-membantu. Satu bantu yang lain. Satu kekurangan ini, yang lain  kelebihan itu. Bantu yang berkekurangan. Hidup ini bantu-membantu. Tidak ada satu manusia pun yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau sudah dibantu, wajib membantu orang lain.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati berbagai kebutuhan. Ini perlu bantuan orang lain. Kita manusia tidak tahu segala sesuatu. Harus ada orang lain bantu kita untuk mengetahui dan mengalami hal-hal baru. Ini karya Nalar. Saling membantu itu wajar dan wajib. Ini peran Naluri. Sesudah membantu dan dibantu, kita ada rasa tenang, terimakasih, damai. Ini peran Nurani. Empat unsur ini, ‘4N’ merupakan bahagian tak terpisahkan dalam diri kita manusia untuk hidup membantu dan dibantu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia saling membantu. Alam sekitar ada, diadakan oleh PENCIPTA untuk membantu kita manusia supaya bisa hidup. Hidup ini tidak melayang begitu saja. Harus ada tempat. Rumah, ladang, langit, udara, ada untuk membantu kita supaya kita hidup. Kita bertindak bodoh kalau tidak memakai bantuan ini. Lebih bodoh lagi kalau menyalah-gunakan malah merusak bantuan ini.

    Bantu-membantu, itu wajib. Saling membantu. Itu yang bahasa kerennya, saling mengasihi. Orang sakit, dibantu. Yang sehat bantu yang sakit. Orang miskin, dibantu. Yang kaya bantu yang miskin. Beri bantuan. Yang membantu ada kemampuan untuk membantu. Yang dibantu membutuhkan bantuan karena kekurangan. Orang Eropa ada gandum, bantu kita di Asia dengan gandum yang jadi terigu dan roti. Kita di Asia bantu mereka dengan padi yang jadi beras dan nasi. Alam dengan segala keterbatasannya memaksa kita untuk saling membantu.

    Nafsu kita adalah dorongan untuk menikmati apa yang ada di sekitar kita. Tidak boleh nikmati sendiri, harus bantu orang lain. Nalar adalah daya untuk mengetahui cara mengolah kebutuhan. Tidak boleh kikir dengan pengetahuan dan pengalaman. Saling mengajar dan saling melatih. Ini bantu-membantu. Bantu sesama agar hidup sama-sama, makin hari makin makmur. Ini karya Naluri. Aneh kalau tidak bantu sesama dan biarkan sesama itu hidup susah. Bantu sesama itu membuat hati senang dan tenang. Ini karya Nurani.

    Bantu itu Perintah dari DIA, PENCIPTA kita supaya kita hidup saling membantu. Dengan itu kita tidak keburu Nafsu, tidak keblinger Nalar, tidak  kelabakan Naluri dan tidak kebablasan  Nurani.

     

     

     

  • Filsafat

     

    Dengar kata filsafat saja langsung dahi berkerinyut, wah, itu omong di awang-awang, kita tidak mengerti. Inilah kesan tentang filsafat. Padahal semua manusia itu berfilsafat tiap saat. Segala ucapan itu hasil filsafat. Tiap kata yang ke luar dari mulut itu adalah filsafat.

    Kata itu kalau lisan, gabungan bunyi yang mempunyai arti, kalau ditulis, terdiri dari tanda-tanda yang disebut huruf. Kalau dalam sistem telegraf, titik-tidik dan garis-garis itulah kata-kata, kalau untuk orang bisu tuli, gerak-gerak itulah kata-kata dan ini hasil dari pemikiran tentang susunan bunyi, tanda atau isyarat yang mempunyai arti yang diungkapkan oleh seseorang dan dimengerti oleh orang lain, inilah yang dinamakan filsafat.

    Filsafat itu secara umum dimengerti sebagai kegiatan manusia yang mencari dan  mencintai kebenaran. Siapa di dunia ini yang tidak mencintai kebenaran? Jadi setiap orang yang mencintai kebenaran, dia itu berfilsafat. Sebagai ilmu, memang filsafat itu mempunyai disiplin sendiri. Orang berjualan sayur di pasar, itulah ekonomi. Jadi manusia itu manusia ekonom.

    Hitung uang, pakai uang, beli barang. Itu ekonomi. Ahli ekonomi studi ekonomi dengan segala rumus-rumus dan teorinya. Tetapi untuk beli sayur di pasar, tidak perlu mendapat ijazah sarjana ekonomi. Begitu pun fisafat. Untuk berpikir dan berbicara benar tidak perlu ahli filsafat sebagai ilmu. Ungkapan umum bahwa filsafat itu ilmu gaib, sulit, angan-angan, itu tuduhan yang tidak berdasar.

    Filsafat itu berpikir secara mendalam tentang segala yang ada dan mungkin ada, itu benar. Tapi itu bukan berarti yang berfilsafat itu hanya orang yang studi filsafat dan mendapat gelar kesarjanaan di bidang filsafat. Anjing itu binatang. Tiga kata ini saja sudah filsafat.

    Mengapa binatang dalam bentuk itu disebut anjing bukan kucing, ini hasil filsafat, pemikiran yang dalam tentang pengelompokan binatang atas jenis tertentu dan memberi nama yang khusus supaya bisa dikenal oleh manusia.

    Mengapa tidak dikatakan, ‘Anjing itu pohon’? Langsung orang yang mengucapkan itu disebut bodoh malah gila. Harus dibantah, ‘Anjing bukan pohon, karena anjing bergerak dan bisa berpindah, sedang pohon tidak bergerak dan berpindah’. Kalau ada percakapan seperti ini, biar hanya beberapa  kalimat, itu sudah filsafat

    Filsafat itu membutuhkn karya nalar. Orang berpikir sama dengan orang berfilsafat. Hasil pikiran itu hasil filsafat. Umumnya orang begitu mengagungkan filsafat sampai filsafat itu begitu terasing dari dunia pembicaraan harian. Filsafat itu cari kebenaran, cinta  kebenaran.

    Jadi filsafat itu bukan milik segelintir orang. Filsafat itu hasil budaya manusia di tempat tertentu, pada waktu tertentu. Setiap manusia itu befilsafat sehingga jangan selalu berpatokan, ‘Menurut ini, menurut itu, menurut dan menurut’. Sendiri punya pikiran itulah filsafat dari diri dan untuk diri.

    Pikiran orang lain boleh dikutip tetapi tidak boleh menjadi tolok ukur untuk berpikir sendiri. Kalau ‘menurut’ terus, kapan ‘menurut saya?’ Pendirian itu harus muncul dari diri berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang khas diri saya. Itulah filsafat. Ayoh, jangan lagi tuduh filsafat itu aneh.

     

     

  • Pikir dari Segi Filsafat

     

    “Pikir pendek. Pikir panjang. Pikir dalam-dalam. Pikir tenang-tenang. Pikir baik-baik. Pikir dulu baru buat. Kau pikir atau tidak? Kau punya pikiran di mana? Pikir ulang-ulang. Kau punya pikiran itu kotor sekali. Kau pikir saya ini apa? Kau punya pikiran itu bagik sekai.” Boleh ditambah puluhan kutipan berkaitan dengan pikir dan pikiran.

    Ini semua kutipan ungkapan harian tentang ‘Pikir’. Hanya manusia saja yang berpikir. Manusia itu makhluk berpikir. Kalau dipakai ‘Kwadran Bele’ (2011) sebagai titik tolak, maka: Pikir itu adalah kegiatan yang muncul dari Nafsu, Nalar, Naluri dan Nurani (4N). Nafsu, bahagian pertama dalam dri manusia  mendorong manusia berpikir untuk buat dan dapat apa-apa. Nalar menyambut dengan beri pertimbangan dari segi pengetahuan dan pengalaman tentang apa yang sedang dipikirkan. Naluri mengingatkan tentang adanya orang lain yang juga ada bersama dalam alur pikir yang sama. Nurani langsung beraksi dengan beri pertimbangan tentang baik-buruknya isi pikiran itu. Empat unsur dalam diri manusia ini bekerja serentak.

    Umumnya orang berpikir manusia berpikir pakai otak. Pusat pikiran itu ada di otak. Bahagian fisik manusia ini dipilah-pilah, pikir pakai otak, rasa dengan hati, sayang dengan jantung, rasa dengan panca indra. Penulis tawarkan pemahaman baru. Apa pun saja aktifitas manusia, digerakkan oleh empat faktor atau bahagian atau empat unsur dari pribadi manusia: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Fisik manusia, mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki bergerak serentak untuk satu kegiatan. Kuku dan rambut pun ikut berpikir. Ini hasil dari saya pikir.

    Pikir yang tidak dikontrol mulai dari Nafsu, Nalar, Naluri sampai Nurani, akan menjadi kacau. Pikir tentang harta dan kuasa, itulah Nafsu. Ini baik. Tapi tidak dikendali oleh Nalar, Naluri dan Nurani, maka Nafsu untuk harta dan kuasa itu merajalela dalam diri manusia dan orang itu akan tabrak sana tabrak sini, pokoknya ada harta dan dapat kuasa. Tindakan tercela yang disebut KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) muncul dari Nafsu untuk memperoleh harta dan kuasa yang tidak terkontrol oleh tiga N yang lain.

    Pikir itu diarahkan untuk hal-hal yang baik, benar dan berguna, untuk diri dan sesama. Ini ungkapan filsafat tentang ‘pikir’.  Pikir lalu buat sesuai Nalar. Ini yang disebut masuk akal. Pikir, lalu buat sambil pertenggangkan sesama. Ini karya Naluri. Ingat orang lain. Pikir, buat dan renungkan, akibat dari tindakan itu. Ini peranan Nurani. Kalau tindakan itu baik, benar dan berguna bagi diri dan sessama, Nurani akan tenang, senang dan dorong tambah lagi untuk ulang terus-menerus.

    Berdasarkan 4 N ini pribadi manusia itu harus ber-Nafsu untuk yang baik, ber-Nalar untuk timbang benar salah, ber-Naluri untuk lihat berguna atau tidak bagi diri dan sesama, ber-Nurani untuk diterima oleh diri dan sesama, terutama oleh SANG PENCIPTA.

     

     

  • Ada di Dalam Ada

     

    Filsafat itu artinya cinta pengetahuan, cinta kebijaksanaan. Setiap orang itu berfilsafat, artinya: setiap orang yang berakal sehat cinta pengetahuan. Arti umum dari berfilsafat ialah: berpikir sedalam-dalamnya tentang segala yang ada dan mungkin ada. Kita manusia ini ada di dalam ada. Semua yang ada ini berawal dari yang Maha Ada. Ini sudah menjadi kebenaran umum yang diterima umum. Diri saya ada karena ada yang sudah ada lebih dahulu.

    Orang tua sudah ada baru saya ada. Seterusnya pasti ada manusia yang pertama baru ada manusia yang lain, sampai diri saya ada. Itu yang dimaksud dengan ada di dalam ada. Tidak ada di luar yang ada. Ada kita ini saling bergantung pada yang dahulu ada dan sekarang ada. Kemudian ada lagi yang ada dari kita yang ada. Saling mengadakan. Ada perguliran dari yang ada ke yang ada. Perguliran ke samping berarti yang ada ini sama-sama mengada. Perguliran ke bawah berarti yang ada sekarang melanjutkan adanya ada yang lain. Perguliran ke atas berarti yang ada ini berkembang menjadi ada yang lain yang lebih lain dari yang ada sekarang.

    Kita ini ada di dalam ada maka tidak diperkenankan untuk saling meniadakan. Tindakan menghilangkan sesama yang ada sebenarnya sia-sia karena yang ada ini tetap ada. Manusia, tidak bisa ditiadakan. Secara jasmani dia ditiadakan, tetapi dia tetap ada dalam seluruh keutuhan dirinya dalam bentuk yang lain yang tak tertangkap oleh indra. Adanya manusia mulai dari yang pertama sampai sekarang kita-kita yang ada ini tetap saling berkaitan satu sama lain dalam status ada di dalam ada. Mau percaya atau tidak, terserah, tetapi yang pasti adalah kita yang ada dan yang sudah pernah ada dan yang akan ada bergantung pada yang ada dan Dia itu tidak diadakan. Ada ungkapan yang sudah umum, Dia itu tidak ada awal, tidak ada akhir. Secara bathiniah disadari oleh kita yang ada bahwa yang ada dan tidak diadakan, yang awal dari segala yang ada ini diketahui sebagai yang Maha Ada. Di dalam Dia Yang Maha Ada inilah kita sekarang ini ada. Ada kita ini diatur oleh Dia.

    Dalam diri kita yang ada ini tanpa kemauan kita, sudah diletakkan suatu kesadaran tentang adanya Yang Maha Ada itu yang dari zaman ke zaman, dari tempat ke tempat disapa dengan berbagai sapaan, TUHAN, GOD, GOTT, DEUS, THEOS, ALLAH dan ribuan sapaan sesuai dengan adanya ribuan budaya. Ada satu kesadaran yang diletakkan dalam diri kita untuk menjaga, menghormati dan melanjutkan adanya ada yang lain. Ada yang lain itu mulai  dari ada yang tak bernyawa seperti batu, ada yang punya daya tumbuh seperti tumbuhan, ada yang punya naluri seperti binatang, ada yang berakal budi seperti kita manusia diharuskan untuk saling mengadakan. Khusus untuk kita yang berakal-budi diwajibkan untuk saling mengadakan dalam bentuk memelihara dan memanfaatkan segala yang ada di sekitar kita secara bertanggung-jawab dengan pertimbangan bahwa segala ada lain yang bukan manusia itu diadakan untuk kepentingan adanya manusia.

    Kita ada untuk saling mengadakan dalam arti melanjutkan, menyempurnakan yang ada menjadi ada lebih banyak dan ada lebih bermutu. Kita ada dalam ada dan diadakan oleh Yang Maha Ada.

  • Agama “Hot Esen”

    Ini bukan Agama baru. Agama ‘Hot Esen’ adalah Agama asli dari suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor. Masyarakat asli ‘Buna’ di Timor mempunyai kepercayaan asli, percaya pada ‘Hot Esen’, bahasa Buna’, artinya: HOT = Matahari, ESEN = di atas. Ini gelar untuk Yang Maha Tinggi. Sekarang, tahun 2020, tercatat sekitar 100.000 orang di pedalaman pulau Timor itu suku Buna’ yang berbahasa Buna’. Mereka ini sejak tahun 1880-an, sudah didatangi misionaris Belanda dan Jerman yang menjadikan mereka Kristen Katolik. Suku Buna’ ini sekarang rata-rata 99% katolik.
    Dari kalangan suku Buna’ ini ada puluhan orang yang terpanggil menjadi Imam, Bruder dan Suster dalam Gereja Katolik. Sebelum leluhur mereka menganut agama Kristen Katolik, sudah ada agama atau kepercayaan asli mereka kepada HOT ESEN sebagai Wujud Tertinggi yang berdiam di Langit lapisan yang ketujuh, paling atas. Wujud HOT ESEN ini, pribadi yang ‘Bermata Satu dan Bertelinga Satu’. Dialah Yang menciptakan alam semesta dan manusia. Dia Maha-mengetahui, ber-Telinga Satu, dan Maha-melihat, ber-Mata Satu. Angka Satu itu lambang kesempurnaan, ke-esa-an, ke-tunggal-an.
    Falsafah hidup suku Buna’ dikaitkan dengan adanya ‘Hot Esen’ yang mengatur segala gerak alam semesta dan seluruh nasib hidup manusia. Manusia lahir karena Dia, dan mati, kembali ke Dia. Sesama manusia tidak boleh saling menyusahkan karena sama-sama berasal dari Dia. Segala tindakan kejahatan dibalas oleh Dia dengan hukuman tinggal dalam kegelapan abadi. Sistim kepercayaan orang Buna’ itu tiga lapis. Lapis pertama, ialah: percaya akan adanya leluhur. Mereka percaya leluhur ini tinggal di satu kampung besar yang aman dan damai. Semua orang yang meninggal dihantar secara adat dengam upacara kenduri dan diterima oleh para leluhur ini. Kepada leluhur sering diadakan upacara sajian berupa sirih-pinang dan makanan supaya leluhur jangan melupakan segala kebutuhan bagi para cucu yang masih hidup di dunia. Lapis kedua, yang lebih tinggi, orang Buna’ percaya akan adanya roh-roh. Ada roh baik dan ada roh jahat. Roh baik itu disuruh oleh HOT ESEN untuk menjaga manusia dan alam semesta. Roh-roh baik ini tinggal di antara manusia, di bukit-bukit, hutan-hutan dan sumber-sumber air. Tempat-tempat keramat itu adalah tempat tinggal roh-roh baik. Kepada roh-roh baik ini disajikan irisan daging matang dan nasi dalam anyaman. Kebun dan hewan juga dijaga oleh roh-roh baik ini. Sedangkan roh-roh yang jahat selalu berkeliaran ke sana -sini mengganggu manusia dan merusak alam. Kepada roh-roh jahat ini disajikan daging mentah dan beras, dihambur ke segala penjuru mata angin sambil berseru, kamu, roh-roh jahat, terima sajian ini dan pergi jauh-jauh dari kami. Pada lapis ketiga, yang paling tinggi, orang Buna’ percaya adanya Yang Maha Tinggi, HOT ESEN. Atas dasar inilah kepercayaan orang Buna’ itu disebut agama HOT ESEN. Kepada HOT ESEN, dalam sajian, tempat yang berupa anyaman yang indah, kosong, karena HOT ESEN tidak membutuhkan apa-apa, hanya persembahan niat yang baik.
    Waktu para misionaris katolik datang ke antara suku Buna’, seratusa an tahun lalu, kepercayaan orang Buna’ ini dimodifikasi dengan ajaran: leluhur itu ada, dan yang baik itulah yang dalam gereja Katolik disebut Santa atau Santu. Roh-roh itu dalam Agama Kristen Katolik dikenal Malaekat itu roh yang baik, dan iblis atau setan itu adalah roh-roh yang jahat. HOT ESEN itu tampakkan Diri dalam Rupa Manusia, Yesus Kristus. Untuk peralihan kepercayaan ini, setiap orang harus dibaptis dalam “Nama Bapak, dan Putera dan Roh Kudus”. Atas dasar ajaran inilah para leluhur orang Buna’ menjadi katolik sampai semua turunan sekarang ini. Kenyataan yang ada, orang-orang Buna’ ini sudah katolik, tapi upacara menghormati leluhur, roh-roh baik dan THOT ESEN tetap dipraktekkan sehingga mereka bukan dicap sebagai orang kafir yang membuat sinkretisme, tetapi diyakinkan akan adanya kepercayaan itu dimurnikan secara Katolik. Agama HOT ESEN itu ada, dan tetap hidup dalam masyarakat suku Buna’ di Timor.

  • Buna’ Bahasa yang Sangat  Sederhana

     

     

    Di pedalaman pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) ada satu suku, yaitu suku Buna’ yang menghuni wilayah Negara Timor Leste dan wilayah Republik Indonesia.

    Suku Buna’ menghuni wilayah perbatasan antara dua Negara ini dan jumlahnya saat ini, 2020, diperkirakan sebanyak 100.000 jiwa, sekitar 60.000 jiwa menghuni wilayah Timor Leste sedangkan sekitar 40.000 jiwa berada di wilayah Timor Indonesia. Suku Buna’ ini berbahasa Buna’. Di Timor Indonesia, suku Buna’ menghuni dua Kecamatan, Lamaknen dan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu.

    Bahasa Buna’ ini mempunyai keunikan yaitu: tiap huruf hidup adalah satu kata. Di sinilah letak kesederhanaan Bahasa Buna’.

    Huruf ‘A’ berarti ‘nasi’, ‘makanan’. Huruf A juga kata kerja, makan. Jadi kalau kalimat ‘makan nasi’, dalam bahasa Buna’, ‘a a’. Cuma dua huruf.

    Kalimat ‘Saya makan nasi’ dalam bahasa Buna’ menjadi ‘Neto a a’.

    Susunannya pola Subyek – Obyek – Predikat. ‘Neto’ = saya; ‘a’ = nasi; ‘a’ = makan.

    Kalimat “Kita makan nasi” = ‘i a a’. Tiga huruf, ‘i’ = kita. Jadi huruf hidup pertama, ‘a’ = makanan, nasi (kata benda); ‘a’ = makan (kata kerja).

    Huruf hidup kedua adalah: ‘i’ = kita, gigit (kata kerja).

    Kalimat bahasa Buna’, ‘Neto i’ artinya: Saya gigit. Bahasa Buna’ “I i” = Kita gigit. ‘Anjing gigit kita’ = ‘Zab i i’. Kalau diterjemahkan lurus: Anjing kita gigit.

    Huruf hidup yang ketiga adalah: ‘U’ = rumput; hidup (kata kerja).

    Kalimat ‘Kita hidup’ = ‘I u’. Kalimat ‘Saya hidup’ = ‘Neto u’.  Huruf hidup yang keempat:’e’ artinya ‘garam’. Kalimat ‘Makan garam’ = ‘e a’. “Kita makan garam” = ‘ I e a”. (I = kita; e = garam; a = makan).

    Huruf hidup yang kelima adalah: ‘O’ = ‘udang’. Arti kedua, ‘pada engkau’. Kalau huruf ‘O’ ini diberi tekanan maka artinya, ‘pinggang’. Kalimat ‘Udang hidup’ = ‘O u’. Kalimat ‘Udang gigit kita’ = ‘O i i’.

    Jadi lima huruf hidup ini: a, i, e, o, u, masing-masing mempunyai arti satu kata. Contoh kalimat bahasa Buna’: I u e a o gia. Artinya: Kita yang hidup makan garam dan udang. Ini huruf-huruf hidup. Kata-kata lain terdiri hanya dari dua huruf.

    Contoh:’ il’ = air. ‘En’ = manusia. ‘pu’ = pinang. ‘in’ = bawang. ‘mo’ = laut. ‘su’ = susu. Kalimat: Kita minum air = ‘I il a’.

    Kalimat: Orang minum air = ‘En il a’. Kalimat: Saya makan pinang = ‘Neto pu a’.

    Ini contoh betapa sederhananya bahasa Buna’ ini. Kata-kata yang tediri dari tiga huruf saja juga begitu banyak. Contoh: Matahari = ‘hot’. Bulan = ‘hul’. Kebun = ‘mar’. Rumah = ‘deu’. Padi = ‘ipi’.

    Dengan ditulisnya artikel ini, saya sebagai penulis dan sebagai pemakai bahasa Buna’ menyodorkan informasi kepada pembaca yang lain untuk mencari dan membanding-banding dengan bahasa daerah lain di Indonesia atau di luar Indonesia.

    Saya belum berani menyatakan bahwa bahasa Buna’ paling sederhana karena belum pernah membuat perbandingan dengan bahasa lain.

    Pernyataan saya hanya bersifat penggarambaran saja, bahwa bahasa Buna’ ini sangat sederhana karena setiap huruf hidup itu ada arti.

    Ada satu kebiasaan, anak-anak suku Buna’ ini kalau berbahasa Indonesia di tingkat kelas satu atau dua SD, sering menyulitkan guru karena mereka terpengaruh oleh bahasa daerah mereka, bahasa Buna’ sehingga sering berkata, “Saya nasi makan” atau “Saya air minum”. Susunan terbalik. Baru pada kelas lebih tinggi mereka dapat menyesuaikan diri dengan tata bahasa Indonesia.

    Lewat tulisan ini saya mengundang para ahli bahasa untuk membuat penelitian tentang bahasa Buna’ karena sampai sekarang belum ada orang yang seara khusus membuat penelitian tentang bahasa Buna’ dalam perbandingan dengan bahasa lain.

  • “Filsafat” dari Sudut Pandang Filsafat

     

    Filsafat itu tidak main-main. Jangan main-main dengan filsafat. Di Kompasiana itu seorang bernama Anton Bele sementara menulis segala macam tentang filsafat. Apa-apa filsafat, apa-apa filsafat. Ini pelecehan tentang filsafat. Nanti orang bilang filsafat itu murahan, gampangan. Padahal filsafat itu ilmu yang paling tinggi, sukar, dalam dan luas. Jadi jangan baca apalagi percaya tentang tulisan-tulisan yang tidak bermutu, bilang filsafat. Filsafat macam apa itu.

    Apakah dari Timor di sudut sana bisa muncul pikiran-pikiran yang masuk dalam dunia filsafat?

    Di Indonesia secara keseluruhan saja belum ada orang yang berani bicara dan tulis tentang filsafat yang dikutip orang di luar negeri. Jadi cukup, jangan bawa-bawa filsafat ke ruang yang bukan bidangnya untuk bicara filsafat. Kalau penulis dari Timor itu bilang dia berfilsafat, dia dari aliran mana, Plato, Neo-platonisme, Skolastik, Kantianisme, Eksistensialisme, atau, -isme – isme yang mana? Cukup. Berhenti ikuti orang yang tidak tahu filsafat dan ngoceh tentang filsafat.

    Filsafat itu sukar. Deretan kalimat-kalimat di atas sangat wajar dan masuk akal karena memang demikianlah anggapan banyak orang tentang filsafat sampai sekarang ini. Hanya menurut saya, pandangan macam itu masuk akal yang kurang akal. Pakailah akal sehat untuk bicara filsafat, jangan pakai akal yang bakal gagal cerna filsafat. Ini namanya bela diri.

    Yah, supaya jelas dengan apa yang dimaksud dengan filsafat dalam arti yang sebenarnya. Filsafat itu kalau mau dipakai terus kata ‘Filsafat’ ini, artinya ‘cinta kebijaksanaan’ dan istilah ini sudah muncul di Yunani lima ratus tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.500 tahun lalu.

    Ha, kebijaksanaan itu muncul dari sana? Kapan sampai ke kita di Indonesia ini, kapan bisa sampai ke Timor, ke Papua, ke Samoa? Jangan sampai kebijaksanaan itu terdampar hanya di India dan Tiongkok. Di Eropa lebih tersebar dan mengakar, jadi mau tahu fisafat harus ke Eropa, lalu Amerika. Pikiran semacam inilah yang membelit diri dengan arti dan makna fisafat yang sesungguhnya. Kalau kebijaksanaan itu terbendung di perpustakaan-perpustakaan, di universitas-universitas dan di dalam batok botak yang lupa makan dan tidur sampai omong pun terbatuk-batuk karena kelebihan kebijaksanaan, maka memang ada harus filsafat itu barang antik.

    Filsafat itu ‘cinta kebijaksanaan’ maka semua manusia itu diciptakan oleh Pencipta untuk cinta dan hidup dari kebijaksanaan. NAFSU dalam diri manusia itu mendorong untuk makan pakai mulut. Ini bijaksana. Manusia punya NAFSU yang mendorong dirinya untuk makan, cari aman, cari hidup. Ini kebijaksanaan. NALAR manusia langsung tunjuk di mana bisa dapat makanan, di mana tempat yang aman. Ini bijaksana.

    NALURI manusia ajak manusia untuk berteman, beristeri, bersuami, berketurunan. Ini bijaksana. NURANI manusia menuntun manusia untuk berpikir yang bijak, berkata yang bijak, berbuat yang bijak. Ini yang namanya kebijaksanaan, mau apa lagi? Untuk cinta yang namanya kebijaksanaan itu apakah harus sekolah di universitas ternama di Roma, Paris, London? Tidak.

    Di sudut mana pun di dunia ini manusiaa berfilsafat. Itu ditulis atau tidak, bukan soal. Namanya dikenal atau tidak bukan soal. Pikirannya dikutip atau tidak bukan soal. Kebijaksanaan tetap kebijaksanaan yang melekat dalam tiap manusia atas perpaduan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4N, Kwadran Bele, 2011). Tidak ada satu orang pun, satu bangsa pun yang memonopoli kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu milik umat manusia. Jadi kita semua bisa dan harus berfilsafat. Semua tulisan di Kompasiana, sejauh masuk akal, bijak, itu Filsafat biarpun tidak jelas-jelas dinyatakan ‘Ini Filsafat’.

    Sumber KEBIJAKSANAAN itu DIA YANG MAHABIJAKSANA, DIA tidak kikir untuk bagi-bagi kebijakasanaan itu untuk dicerna dan dihayati oleh siapa pun di mana pun dan kapan pun, namanya Manusia, dia itu bijaksana dan harus pakai kebijaksanaan dan cinta kebijaksanaan itu. Itulah Filsafat.

     

     

  • Mulai

     

    Mulai. Mulai pikir, mulai tulis, mulai baca, mulai kirim. Ini proses munculnya artikel di ‘Kompasiana’. Mulai sesuatu disusul dengan mulai yang lain. Tidak mungkin mulai pikir dan pikir terus. Tidak mungkin mulai tulis dan tulis terus. Sebenarnya hidup ini mulai dengan mulai dan terus mulai.

    Sambung-menyambung dari mulai ke mulai. Kapan berakhir? Seseorang hidup delapan puluh tahun lalu meninggal. Secara sederhana disebut mengakhiri hidup di dunia. Lalu apa? Yah, mulai hidup yang baru. Itu ada dalam kepercayaan kita bahwa hidup manusia ini tidak berakhir dengan kematian tetapi berlanjut terus dalam hidup di keabadian.

    Nafsu kita manusia ini maunya mulai yang baru dan baru terus. Nalar kita mau tahu dan alami yang baru. Bosan dengan yang itu-itu saja. Naluri kita mau bertemu sobat baru, rekan baru, kegiatan baru yang melibatkan sesama. Nurani kita tenang dengan hal baru disusul dengan ketenangan baru. Mulai tenang, mulai damai. Itulah hidup, mulai dari awal dan tidak ada akhir. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup kita menjadi hambar kalau tidak mulai lagi dengan hal yang baru. Hari mulai malam lalu berlangsung sampai tiba pagi hari. Detik lama berlalu dan mulai dengan detik baru. Mulai menit baru, jam baru, hari baru, minggu baru, bulan baru dan tahun baru. Itulah rentetan mulai dan mulai.

    Dengan empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani kita manusia mulai menapaki hidup ini dengan mulai dan mulai. Kalau sudah mulai pikir, selanjutnya mulai buat, disusul dengan mulai cari tahu yang baru dan mulai renung yang baru.

    Nafas pun berganti dengan mulai hembus disusul mulai hirup udara baru. Tarikan nafas disusul dengan hembusan nafas dan ini mulai disusul mulai.

    TUHAN Pencipta kita yang mulai segala sesuatu ini termasuk hidup dalam diri kita pun dimulai oleh TUHAN. Mulai hidup dan terus hidup. Mulai hidup sehat. Mulai sakit. Mulai sembuh. Mulai silih berganti dari mulai ke mulai. Maunya TUHAN itu kita mulai yang baru secara baik, benar dan bagus. (3-B).

    Mulai baik disusul dengan mulai buruk. Ini yang tidak dikehendaki oleh TUHAN. Kecenderungan dalam diri kita memang ada untuk mulai yang baik dan benar itu terus. Tetapi selalu ada godaan untuk mulai yang baik diganti dengan mulai yang buruk. Paling ngeri kalau mulai yang buruk disusul dengan yang buruk lagi sehingga diri kita dari buruk ke buruk sampai pada tingkat jahat.

    Kalau sudah mulai baik, yah, harus disusul dengan mulai lagi baik yang lain. Selang seling baik dan buruk, buruk dan baik inilah yang menjadikan diri kita manusia hidup sengsara. Kalau mau senang, mulai nikmati yang baik. Kalau mau gembira, mulai pikir yang baik. Kalau mau puas, mulai bergaul secara baik dengan sesama. Kalau mau bahagia, mulai  sandar pada yang baik terutama pada YANG MAHA BAIK.