Category: Filsafat

  • Hasil

     

    Kalau usaha kita manusia berhasil, maka hal-hal ini yang terjadi. Kalau keinginan Nafsu tercapai, biasa kita ucap terimakasih. Kalau Nalar menambah pengetahuan baru, kita dapat ucapan, hebat. Kalau Naluri kita menemui yang kita rindu maka kita saling mgucapkan salam. Kalau Nurani kita mencapai satu situasi tenang dan damai, tercetuslah ucapan syukur tak terhingga. Terimakasih, hebat, salam, syukur adalah empat hasil,  hadiah yang kita peroleh lewat Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup itu mengejar hasil dan hasil itu adalah empat ini: terimakasih. Nikmati makanan biar hanya sedikit,  pemberi dan penerima saling mengucapkan terimakasih. Ini pemenuhan keinginan Nafsu. Kalau jerih payah Nalar tercapai dengan penemuan pengetahuan baru, ungkapan yang diperoleh ialah, hebat. Bertemu dengan sesama, hasil dorongan Naluri,  langsung terlontar ucapan salam. Nurani memperoleh ketenangan dan kedamaian, muncul dengan sendirinya rasa syukur.

    Kalau empat macam hasil ini tidak diperoleh, apa gunanya hidup. Sang PEMBERI hidup membuat manusia itu hidup dan menghasilkan setiap saat ungkapan terimakasih, pernyataan hebat, pemberian salam dan ppengucapan syukur.

    Hidup ini untuk itu. Tidak pernah orang mengucapkan terimakasih atas perampasan hak untuk memperoleh makan-minum. Yang merampas menyalah-gunakan Nafsu dan yang dirampas haknya terganggu harapan Nafsunya. Nalar kalau disalah-arahkan, maka terjadilah tipu-menipu. Kata hebat, acungan jempol tidak terjadi. Kecewa dan marah menimpa penipu dan tertipu. Naluri selalu mendorong untuk bertemu dan saling memberi salam. Pencuri dan perampok tidak pernah memberikan salam kepada sasarannya. Sumpah serapah yang akan terjadi antar sesama manusia. Nurani kalau diganggu, maka pengganggu dan yang diganggu sama-sama saling kutuk-mengutuk.

    Kalau hal-hal negatif ini yang terjadi, maka kacau-balaulah dunia ini. Dunia kehilangan terimakasih, yang hebat tidak muncul, salam tak terucap, syukur tak terungkap.

    Terimakasih, teman! Wah, hebat saudara! Aduh, salam saudaraku! Syukur, TUHAN. Inilah wajah dunia yang seharusnya terjadi, bukan sebaliknya, bermuram-durja. Ayoh, gembira ria dalam dan bersama sesama di bawah naungan TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

     

     

  • Balik

     

     

    Balik. Bolak-balik. Buang waktu dan tenaga. Jalan  satu kilometer  baru balik berarti jalan tiga kilometer. Pergi satu kilometer, balik satu kilometer, pergi lagi satu kilometer. Hidup ini sering begitu. Kelalaian, kesalahan sama dengan jalan balik.

    Bolak-balik. Hidup ini jalan dan berjalan. Kita sudah diberi jalan dan kemampuan untuk berjalan oleh PENCIPTA dan jalan ikut saja jalan itu.  Pasti sampai ke tujuan. Kita salah jalan, balik lagi ke jalan yang benar.

    Saling ajak ke arah yang salah, balik lagi. Ini yang sering disebut salah jalan atau sesat di jalan. Padahal jalan hidup ini lurus, mulus, rata, tidak berliku-liku. Kita sendiri yang buat lekak-lekuk.

    Aneh kalau TUHAN buat jalan bagi kita, kekasih ciptaan-Nya untuk jalan asal jalan, belok-belok untuk melelahkan, pasang arah yang salah agar tersesat. Tidak. Tidak mungkin TUHAN berbuat begitu. Lalu?

    Nafsu kita diberi TUHAN untuk selalu ingin berjalan di jalan yang lurus itu. Makan supaya kenyang, sehat, hidup. Makan liwat batas, inilah  jalan lewat arah yang salah. Sakit dan perawatan, itulah bolak-balik.

    Nalar kita diberi cerah secerah siang terang, tapi kita sengaja tutup mata, pilih pengetahuan dan pengalaman yang mengelirukan diri dan sesama. Salah arah.

    Naluri kita diberi TUHAN untuk jalan bersama sesama, bantu-membantu, tolong-menolong seumpama jadi ke arah tujuan hidup yang bermanfaat. Sering sendiri pilih sesama yang salah, saling mengajak ke arah yang salah, menyimpang jauh, kalau sadar baru balik.

    Nurani kita diberi TUHAN untuk menyadari bahwa jalan di jalan itu tidak sendirian, tetapi didampingi oleh begitu banyak penolong, roh-roh baik  yang juga disebut Malaikat. Kesadaran ini ada dalam Nurani.

    Tapi kalau Nurani tidak diindahkan lagi bisikannya, maka pasti jalan ke arah yang salah malah berlawanan dengan arah yang dituju.  (4N, Kwadran Bele 2011).

    Balik di jalan karena ‘4N’ ini tidak dimanfaatkan sesuai tujuannya. Bolak-balik. Keletihan yang dicari sendiri. Syukur kalau tidak tersesat. TUHAN, PENCIPTA kita sudah tetapkan jalan, atur arah, tuntun kita. Jalan tetap ke arah yang itu. TUHAN di sana.

     

     

     

  • Ikut

     

    Ikut, mengikuti, pengikut, ikutan, ikut-ikut, berikut. Inilah kekayaan bahasa Indonesia. Dari satu kata, ikut, bisa diturunkan kata-kata sampai enam kata yang mempunyai isi dan makna berbeda. Tahun baru 2022. Tahun berikut nanti 2023. Kita mengikuti saja aliran tahun yang disepakati masyarakat dunia, tahun Masehi, 2021, 2022 nanti 2023. Kita bisa ikut dengan sadar, bisa juga ikut-ikutan tanpa sadar. Ikut saja mau tidak mau. Tidak mungkin sendiri buat kalender baru, mau tetap 2021 atau lewat satu tahun, 2023. Ini tidak hanya sekedar permainan angka tetapi suatu ketentuan masyarakat manusia untuk membuat petak, batas dari bentangan waktu yang mulainya sudah jutaan tahun, tetapi kapan akan berakhir, tidak ada satu pun dari kita manusia yang tahu.

    Nafsu kita manusia menuntun kita untuk terjadinya kemauan sendiri. Nafsu berpakaian. Itu pun ada modenya dari waktu ke waktu. Tanpa sadar kita ikut dan kalau tidak mau dikatakan ketinggalan.

    Nalar kita memacu diri kita untuk berpikir dan terus berpikir dalam ikut arus apa pun saja yang terjadi di sekitar kita. Kalau tidak ikut bisa saja sendiri tertinggal atau terhanyut arus perubahan zaman.

    Naluri kita mau hidup bersama dengan orang lain maka mau tidak mau harus ikut kemauan sesama tanpa harus kehilangan jati diri.

    Nurani kita beri pertimbangan untuk ikut tapi tidak ikut-ikutan apa lagi ke arah yang jahat dan buruk di mata sesama terlebih di Mata TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini samudra kadang-kadang teduh kadang-kadang berombak. Hidup ini angin kadang-kadang betiup sepoi-sepoi basah kadang-kadang jadi puting beliung. Setiap diri kita ikut terbawa arus samudra dan ikut tiupan arah angin kehidupan. Tidak ada seorang pun yang tetap pada tempatnya tanpa ikut gelombang atau tiupan hidup ini.

    Hidup ini ibarat sekolah formal yang ada batas waktunya yang dibagi atas jam, hari, bulan, semester genap atau ganjil. Maju dan terus maju. Itulah yang ditandakan dengan pergantian tanun, tahun lama dan tahun baru. Nafsu kita mau kejar harta tapi kalau tidak ikut arus mengalirnya uang, percuma. Nalar diputar untuk mencari jalan supaya harta itu melekat pada diri kita menjadi milik. Naluri kita mengisyaratkan untuk dengan siapa bisa berjuang menghimpun harta itu. Nurani kita memegang kendali untuk kita tidak ikut-ikutan tanpa ada pertimbangan yang jelas sesuai norma manusia, apa lagi Norma dari TUHAN.

    Ikut pergantian tahun seperti dari tahun 2021 ke 2022  bukanlah ikut-ikutan, tapi ikut dengan penuh sadar untuk ada dan berada dalam arus waktu.

    Nafsu disesuaikan, Nalar diarahkan, Naluri dikerahkan dan Nurani disadarkan agar diri tidak tergilas oleh roda waktu. Ikut gerak gelombang samudra kehidupan. Ikut melayang tertiup angin kehidupan. Kita manusia diberi kompas di samudra luas untuk tidak kehilangan arah. Kita manusia diberi sayap untuk terbang di udara. Hanya perlu kewaspadaan, di samudra harus terapung dan di udara harus melayang. Tiap keadaan ada suasananya sendiri. Kita manusia diberi kemampuan untuk ikut apa pun saja sejauh itu baik dan berguna dan kita diawaskan untuk tidak ikut-ikutan arah arus yang akan menghempaskan diri kita di pantai karang garang lalu hancur jadi sampah.

    Kita manusia harus yakin bahwa PENCIPTA kita ada dan tetap berada bersama kita masing-masing untuk tetap ikut arah yang tepat.

     

     

     

  • Musim

     

    Musim itu penentu waktu. Suku Buna’ di pedalaman pulau Timor kenal dua musim, kemarau dan hujan. Ini umum di daerah tropis. Dalam bahasa Buna’, pan porat, musim kemarau, pan salan, musim hujan. Satu tahun dibagi atas dua musim ini saja. Hari, minggu, bulan, tidak ada. Bulan demi bulan dilewati saja sambil menanti musim hujan atau musim kemarau.

    Jam juga tidak ada. Hari dibagi dua. Pan le, siang dan pan ene, malam. Tidak ada jam. Sehari tidak  dihitung atas jam, tetapi hanya antara dua saat ini saja, tengah malam, ene wese, tengah hari, hot mugun ba’, matahari di atas ubun-ubun.  Hidup tidak diburu waktu tetapi memburu waktu. Hidup tidak dikuasai waktu tetapi waktu dikuasai manusia. Itulah salah satu pola hidup manusia, yang dihidupi oleh suku Buna’.

    Suku Buna’ ada istilah Nopil saya punya tenaga, saya punya kemauan, yang saya artikan dengan kata Nafsu.

    Suku Buna’ ada istilah Nawas, saya punya dahi, saya punya pikiran, yang saya artikan dengan kata Nalar.

    Suku Buna’ ada istilah Nezel, saya punya perut, tali pusar, keturunan, yang saya artikan dengan kata Naluri.

    Suku Buna’ ada istilah Nimil, saya punya hati, rasa sayang, yang saya artikan dengan kata Nurani.

    Empat kata bahasa Buna’ : Nopil, Nawas, Nezel, Nimil inilah cikal-bakal munculnya empat N dalam bahasa Indonesia: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani. Empat N ini dikaruniakan oleh TUHAN kepada manusia untuk menempuh hidup di dunia ini. Musim dilewati oleh Suku Buna’ dengan 4 N ini.

    Manusia dianggap utuh kalau menghidupi hidup ini dengan perpaduan 4N ini secara wajar, seimbang, bertanggung-jawab. Oleh suku Buna’, secara sadar, meyakini 4N ini sebagai bahagian atau unsur dalam diri manusia.

    Saya membuat penelitian dan permenungan selama enam tahun,  di kalangan suku Buna’, 2005-2011, tentang 4N ini sebagai pemenuhan tugas masa studi doktoral saya dalam studi pembangunan di Universitas Kristen Satya Wacana, UKSW,  Salatiga. Empat N ini saya lukiskan kesatuannya dalam diagram, satu segi empat dibagi empat atas empat bahagian yang sama, maka disebut ‘Kwadran Bele’ 2011.

    Oleh para pembimbing dan penguji diterima sebagai satu rumusan yang khas, maka selanjutnya dipakai istilah ‘Kwadran Bele’ atau dalam jurnal internasional di-Inggris-kan dengan istilah ‘Bele Quadrant’ yang terdiri dari empat unsur: desire (Nafsu), reason (Nalar), instinct (Naluri), conscience (Nurani).

     

     

     

     

     

  • Mulut

     

     

    Mulut manis. Tukang jilat. Mulut kotor. Tukang maki. Mulut ember. Tukang gosip. Mulut bocor. Tukang bongkar rahasia. Mulut terkancing. Kalah berdebat. Mulut besar. Sombong. Mulut mati. Pendiam. Tutup mulut. Diam. Jaga mulut. Hati-hati. Jual mulut. Bohong. Ini semua kata-kata kiasan sekitar mulut. Betapa hebatnya mulut itu sampai memberi inspirasi untuk ungkapkan berbagai perilaku manusia.

    Nafsu manusia ada di mulut. Ungkapkan keinginan lewat mulut. Rasa enak di mulut. Nalar manusia terpancar lewat mulut dengan decak kagum atas kehebatan otak seseorang. Naluri manusia terungkap lewat mulut dengan ucapan salam dan maaf. Nurani manusia tersimpan dalam mulut yang membisu, khusuk dalam doa. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lewat mulut terdengar tawa ria. Lewat mulut terlontar sumpah serapah. Lewat mulut tertelan pahit getirnya hidup. Lewat mulut melambung puja dan puji kepada Sang MAHA PENYELENGGARA. Ini semua peran mulut. Bertengkar pakai mulut. Berkelakar lewat mulut. Bernafas lewat mulut. Berbagi rasa lewat mulut. Berbagi kasih lewat mulut. Mulut jadi corong pribadi manusia.

    Aneh, mulut dipakai untuk menghina sesama dan  menghujat TUHAN.  Mulut diciptakan oleh PENCIPTA untuk lantukan lagu-lagu syukur kepada DIA. Mulut itu ada untuk menghembuskan nafas belas kasih pada sesama. Mulut ada untuk tersenyum menyiram hati sesama dengan luapan ria. Mulut ada untuk menutup aib sesama dan mengungkap rasa sesal atas segala salah dan dosa. Semua ungkapan isi diri lewat mulut ini sering kurang disadari sehingga suka-suka memakai mulut menebar benci mengobar dengki.

    Kata-kata terucap lewat mulut. Kata-kata apa saja yang sebaiknya terlepas lewat mulut saya, anda, dia, kita? Renungkan sejenak. Kata-kata hiburan untuk sesama yang tercebur dalam duka lara? Atau kata-kata sindiran dan cemoohan yang memperparah luka duka hati sahabat?

    TUHAN, terpujilah DIKAU lewat mulut saya bersama sesama yang melambungkan isi nurani penuh kasih persaudaraan antara kami. Terimakasih TUHAN, DIKAU adakan mulut sebagai saluran menghirup rahmat dan menghembus damai. Lewat mulut, damailah kami manusia di bumi ini.

     

     

  • Gigi

     

     

    Gigi. Apa lagi? Ada filsafat tentang gigi? Yah, ada. Pikir sedalam-dalamnya tentang gigi, itulah filsafat gigi. Tunjuk gigi, menantang. Gigi asam, tahan amarah. Gigi ganti gigi, balas dendam. Gertak gigi, ancam. Kertak gigi, penderitaan. Mamah gigi, geram. Makan gigi, benci. Ada gigi, masih ada tenaga. Gigi ompong, tenaga habis.

    Heran, gigi yang dipakai untuk kunyah makanan dimuat dengan rupa-rupa ungkapan. Kita manusia ini ada Nafsu, keinginan untuk memperoleh dan menikmati segala sesuatu di sekitar kita. Lewat gigi, Nafsu ini diungkapkan kekurangannya, tunjuk gigi, gertak gigi, gigi ganti gigi. Ini Nafsu  tidak terkendali yang memakai gigi bukan untuk kunyah makanan tapi lumatkan sesama.

    Kita manusia ada Nalar untuk menjelajahi dunia pengalaman dan ilmu pengetahuan. Kalau ada gigi, artinya Nalar masih mampu menggerakkan diri kita untuk menimba ilmu dan menambah pengalaman. Kalau tidak ada gigi lagi, yah, berhenti di tempat, tinggal kemampuan mengelamun dan mengulang-ulang pengetahuan kuno dan pengalaman basi.

    Kita manusia ada Nurani untuk bergaul dengan sesama. Kalau berpegang pada gigi ganti gigi, wah, itulah yang orang Latin bilang, homo homini lupus, manusia jadi serigala untuk manusia. Merangkul sesama itu mengapa diganti dengan mencekik sesama? Ini yang namanya gigi asam. Lihat sesama seperti mangsa yang siap dikunyah dan dimusnahkan. Kunyah makanan, bukan hancurkan makanan. Beda. Naluri kita mendorong diri kita untuk menyalami sesama bukan menjauhi sesama.

    Kita manusia ada Nurani untuk menyayangi sesama,  mengasihi sesama tanpa pilih dan dengan itu memuji TUHAN PENCIPTA kita. Karya mengasihi ini tidak berat. Tapi lebih sering suka gigit sesama dengan gigi membuat sesama kertak gigi, kesakitan. TUHAN menciptakan kita untuk memakai gigi memperlancar pengolahan makanan sambil beryukur kepada TUHAN. Ini ada dalam Nurani.

    Perpaduan antara Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani dalam peran gigi inilah filsafat gigi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jadi gigi bukan sekedar hiasan atau alat untuk menyusahkan sesama tetapi untuk menyelamatkan, menyehatkan. menyejahterakan diri dan sesama. Itulah yang dikehendaki oleh TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

     

  • Lidah

     

     

    Lidah, wah, filsafat lidah. Tanpa lidah, kita bungkam. Lidah, anggota tubuh yang tersembunyi, tertutup rapat tapi dibuka dan dipajang untuk melukiskan berbagai perangai manusia.

    Lidah tak bertulang, suka berkelit. Silat lidah, bertengkar untuk tutup kesalahan.  Putar lidah, suka menipu. Jaga lidah, hati-hati dalam berbicara. Lidah kaku,  sulit berbicara dalam bahasa orang lain.

    Lidah bercabang, suka mengadu domba. Penyambung lidah, jadi perantara. Ujung lidah, menahan diri untuk tidak berbicara. Lidah kaku, kehabisan kata untuk berbicara.  Lidah tajam, suka menghardik sesama. Dengan lidah sebagai simbol, kita manusia mengungkapkan pribadi kita.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati apa saja yang ada di sekitar kita. Lidah dipakai untuk menyalurkan keinginan yang dimunculkan oleh Nafsu.

    Kalau suka memperoleh sesuatu dengan cara menipu, disebut lidah tak bertulang.  Kita ada Nalar untuk memecahkan persoalan hidup dan sering secara berbelit-belit malah menipu sesama. Putar lidah.

    Kita manusia ada Naluri untuk hidup bersaudara dengan sesama. Membela yang tak berdaya dan bertindak sebagai penyambung lidah. Kita ada Nurani untuk mewujudkan kedamaian dan keadilan. Kadang-kadang takut memperjuangkan kedamaian dan keadilan karena lidah kaku. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lidah dipakai untuk mengecap pahit manisnya makanan. Kalau lidah kehilangan rasa maka apa pun saja dilahap tanpa menghiraukan bahaya untuk diri dan membawa duka bagi sesama.

    Lidah dipakai untuk mejilat sesuatu yang ada di luar mulut untuk menguji enak tidaknya berbagai jenis makanan. Kalau ada yang enak lalu dijilat terus-menerus, maka kalau lewat batas, terjadilah kebiasaan, penjilat.

    Mencari untung dengan menjerumuskan sesama yang dipuji dan disanjung demi tujuan yang tidak luhur. Sahabat bisa sekarat. Atasan bisa terbelit berbagai kesulitan tanpa rasa karena kena jilatan dari teman penjilat.

    Lidah memampukan kita untuk menggumam kata-kata. Sumpah serapah atau sembah puji. Kemampuan ini hadiah dari PENCIPTA untuk kita manusia. Tujuan lidah sangat luhur, merasa enaknya hidup, mengucap salam dan melantunkan Puji Syukur kepada PENCIPTA. Ini tujuan pertama dan utama.

     

     

     

     

     

  • Mata

     

     

    Mata. Oh, mata. Ini anggota tubuh yang paling banyak digunakan untuk menampilkan pribadi diri kita manusia. Mata itu pendopo tubuh. Terbuka. Nafsu diundang oleh mata. Nalar beri ruang untuk mata. Naluri berkontak  lewat mata. Nurani saring pandangan mata. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mata jadi padanan banyak kata, beragam arti.

    Tanda mata. Cindra mata. Oleh-oleh. Biji mata. Kesayangan. Mata terbuka. Sadar. Mata tertutup. Kurang perhatian. Tutup mata. Kalap. Mata sayu. Murung. Mata keranjang. Gila seks.  Pasang mata. Tertarik.  Sebelah mata. Pilih-pilih. Mata duitan. Gila harta. Mata-mata. Pengintai. Pakai mata. Bijaksana. Kerdipkan mata. Beri isyarat. Main mata. Sekongkol. Mata hijau. Ingin milik orang. Mata sipit. Etnis Tionghoa. Mata biru. Etnis Eropa. Mata lebar. Heran. Mata terbelalak. Kagum. Mata gelap. Mengamuk. Mata terang. Mengerti.  Mata berkaca-kaca. Sedih. Air mata. Tangisan. Mata liar. Mata jalang. Nakal. Mata hati. Mata bathin. Kasih sayang.  Angkat mata. Sembah. Mata berbinar. Gembira. Cuci mata. Pelesir. Semata wayang. Anak tunggal.

    Ini semua menggambarkan perilaku manusia, tercampur aduk antara yang baik dan buruk.

    Mata juga dipakai untuk menggambarkan benda, alam, hal.

    Mata hari. Surya. Mata angin. Arah. Mata uang. Alat tukar. Mata kail. Alat penangkap. Mata cincin. Penghias. Mata sapi. Telur goreng. Mata kaki. Bahagian tubuh. Mata ikan. Luka. Mata acara. Urutan acara. Mata pelajaran. Hal yang diajar. Mata air. Sumur. Kaca mata. Alat bantu penglihatan. Mata pisau. Bahagian yang tajam.

    Empat puluh lima (45) ungkapan memakai kata mata. Betapa arif dan kaya bahasa kita. Sangat mendalam. Inilah filsafat tentang mata.

    Mata dipakai untuk mengawaskan, menyadarkan kita manusia agar  selalu berperilaku yang baik dan benar. Nafsu tidak boleh mengaburkan mata sendiri dan sesama. Nalar tidak boleh menutup mata terhadap kebenaran. Naluri tidak mengelabui mata sesama. Nurani tidak boleh tutup mata untuk sesama dan TUHAN. Ingat, TUHAN ada Mata dan lihat kita pakai mata secara benar dan baik atau tidak.

     

     

     

     

     

     

     

  • Tangan

     

    Tangan. Maksudnya kita manusia punya tangan, kiri-tangan, dua tangan ini. Kita berfilsafat tidak perlu jauh-jauh. Pikir sedalam-dalamnya tentang diri kita, anggota tubuh kita. Kita sudah bicara tentang gigi, mulut,  lidah, mata. Sekarang, tangan.

    Kita manusia ini luar biasa, bisa pikir tentang diri. Nafsu kita itu diberi TUHAN untuk atur diri, hidup, bertumbuh dan berketurunan. Tangan banyak berperan dalam hal ini, cari hidup, jaga hidup, kembangkan hidup. Ini dorongan Nafsu. Dalam diri kita ada Nalar untuk pikir dan temukan cara yang tepat atur tangan supaya tepat guna dan tepat sasaran. Naluri kita ada untuk arahkan tangan untuk buat segala yang baik demi diri dan sesama. Nurani kita ada untuk menegur kalau tangan salah dipakai dan memuji kalau tangan dipakai secara benar, baik dan bagus. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tangan. Tangan dingin. Bakat menyembuhkan orang. Tangan panas. Gagal terus. Tangan kanan. Sandaran sesama. Ringan tangan. Suka pukul, tidak boleh. Panjang tangan. Pencuri, pantang. Tangkap tangan. Kedapatan. Tangan jahil. Menyusahkan orang. Sembunyi tangan. Jahat. Kaki-tangan. Pesuruh, boleh asal untuk yang baik. Tangan kosong. Tidak bawa apa-apa. Tangan besi. Kasar, keras.  Ulurkan tangan. Tolong sesama. Gandeng tangan. Bersahabat. Tangan terbuka. Murah hati.  Bersudara. Lipat tangan. Bermalas-malas. Pangku tangan. Menganggur.  Cuci tangan. Cari luput. Tepuk tangan. Puas. Katup tangan. Kikir. Tadah tangan. Mengemis. Angkat tangan. Menyerah. Turun tangan. Beraksi. Lepas tangan. Membiarkan. Buah tangan. Keberhasilan. Tanda tangan. Tanggung-jawab.

    Tangan itu nyata, kita ada tangan, pakai tangan untuk apa saja. Asal untuk yang baik. Sebab TUHAN Yang beri tangan kepada kita, tetap menuntun kita dengan Tangan yang tak kelihatan tetapi terasakan. TUHAN mendekap kita dengan kedua Tangan bila kita ada dalam bahaya. TUHAN terima kita dengan kedua belah tangan bila kita menghadap DIA waktu akhiri hidup yang sementara ini.

    Tangan kita adalah tangan TUHAN. Tangan TUHAN adalah tangan kita. Tujuannya sama dan satu,  luhur.

     

     

     

     

     

     

     

  • Filosofi Kaki

     

    Kaki. Lupa saya? Abaikan saya? Bahas yang lain, lalu saya? Ini keluhan kaki. Oh maaf. Lebih lanjut kaki berkata, tanpa saya kamu bisa tegak, berdiri, berjalan, berlari? Lagi sekali, kaki, maaf. Waktu saya ketik artikel ini kaki saya seperti sungguh-sungguh berbicara dengan saya. Itulah filsafat, penuh simbol, penuh makna. Menggali makna terdalam dari segala sesuatu, baik yang ada dan mungkin ada, dan temukan kebenaran, itulah filsafat. Kali ini tentang kaki.

    Kaki. Kaki manusia, kaki binatang, kaki benda. Begitu penting kaki itu sehingga hidup manusia erat berkaitan dengan kaki. Ada tulang kaki, buku kaki, kuku kaki,  mata kaki, jari kaki, telapak kaki.

    Nafsu menggerakkan kaki kita untuk menjelajah dunia mencari dan menemukan apa yang diingini. Nalar kita mengarahkan kaki untuk menapaki lorong mana, cara mana  harus ditempuh. Naluri kita mendorong diri  kita untuk bergegas menemui kekasih di mana pun kapan pun dia berada. Kekasih kita sesama kita. Nurani kita membisikkan kepada kaki kita untuk jalan hati-hati menuju tempat yang benar dan tepat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kaki. Tumpuan kaki. Diharapkan. Tanam kaki. Beri harapan. Kaki tangan. Kelengkapan. Bekas kaki. Penjelajah. Kaki telanjang. Biasa-biasa. Kaki belalang. Ramping, cantik. Kaki meja, kaki kursi. Bisa tegak. Kaki bukit, kaki gunung. Awal pendakian. Kaki langit. Akhir perziarahan. Kaki gajah. Sakit. Kaki semutan. Kecapaian. Kaki lima. Lorong kehidupan. Kaki. Satu, dua, tiga. Ukuran sepanjang tapak kaki. Kaki seribu. Bersatu dalam berjalan. Kaki lurus. Kita manusia. Kaki kiri, kaki kanan. Lengkap. Kaki bengkok. Hewan. Kaki empat. Binatang. Kaki depan. Kaki belakang. Kokoh.

    Maha Agung dan Maha Bijaksana PENCIPTA kita yang beri kita kaki. Pakai seturut Kehendak DIA, bukan kehendak kita. Berjalan pakai kaki, tata alam. Nafsu.  Berlangkah pakai kaki, cari Ilmu. Nalar. Beranjak pakai kaki, rangkul sesama. Naluri. Bertekuk pakai kaki,  menyembah TUHAN. Nurani. Lengkap.