Category: Filsafat

  • Manusia Saling Menghargai

    Bertemu

    Bertemu. Siapa bertemu siapa? Di mana? Kapan? Untuk apa?  Manusia bertemu atas empat dasar. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu, keinginan, dorongan untuk memperjuangkan dan memperoleh serta menikmati sesuatu yang baik, benar dan bagus.

    Nalar, semua perangkat pengalaman dan pengetahuan yang dikerahkan untuk menemukan, merumuskan dan menyepakati lalu melaksanakan hal yang baik dan berguna untuk manusia.

    Naluri, dorongan dalam diri makhluk yang namanya manusia, kita ini untuk hidup bersama secara damai, adil dan beradab.

    Nurani, kesadaran kita manusia akan adanya PENCIPTA alam semesta termasuk diri kita manusia yang dari-NYA kita berasal dan kepada DIA kita menuju.

    Bertemu atas dasar Nafsu saja, pasti ada kemauan untuk saling menggerogoti dan merampas milik sesama. Bertemu atas dasar Nalar saja, pasti akan terjadi saling memperdaya, tipu-menipu. Bertemu atas dasar Naluri saja, pasti terjadi rasa pilih kasih saling mencemooh dan saling mengkhianati satu sama lain. Bertemu atas dasa Nurani saja, pasti akan ada perlombaan cari siapa paling suci dan paling dekat dengan TUHAN sambil merendahkan satu sama lain.

    Bertemu itu satu kegiatan luhur manusia dengan manusia yang mengungkapkan secara jujur dan tulus apa yang dikehendaki (Nafsu), sambil menguraikan pengalaman dan pengetahuan yang benar (Nalar), untuk tercapainya kesejahteraan bersama (Naluri) dalam terang iman akan adanya TUHAN Pemilik alam semesta (Nurani).

    Bertemu harus atas dasar empat unsur dalam diri manusia ini yang dibentangkan dengan jelas maksud an tujuannya. Bertemu yang benar itu adalah pertemuan antara manusia dengan manusia yang pasti diberkati oleh TUHAN Sang Pemilik dan Penguasa alam semesta.

    Bertemu itu memang kewajiban dari setiap kita manusia.  Kewajiban itu datang dari TUHAN sendiri yang mengamanatkan sejak awal alam semesta ini ada dan diadakan untuk kita manusia. Bertemu untuk berunding tentang pembinasaan alam di manusia ini ada, laknat, apalagi berkomplot untuk pembantaian manusia oleh manusia, khianat. Bertemu harus dan wajib untuk tata alam dan rawat insan. Kita ada untuk bertemu hati dengan hati. Hati itu tidak ada warna. Hati itu bening. Kalau ada warna, maka itu bertemu untuk yang kabur semakin kabur dan tindakan apa pun yang dirancang dan dilaksanakan, takabur.

    Bertemu itu tidak hanya manusia dengan manusia yang bertemu. Bertemu itu manusia dengan manusia sama-sama bertemu TUHAN. Itulah pertemuan, apa pun saja namanya, tetap TUHAN itu inti. Entah mau diakui adanya TUHAN atau tidak, bertemu tanpa TUHAN dijadikan sentral, maka pertemuan itu akan melenceng arahnya ke kepentingan sesaat yang sesat. Setiap manusia yang bertemu harus berdoa dan didoakan agar nafsunya tesalur secara terukur, nalarnya terarah seara benar, nalurinya terjalin secara tepat dalam nurani yang terarah secara ikhlas kepada TUHAN, SANG PENCIPTA.

    1. Tamu

    Tamu. Kita menerima tamu, anggota G20. Sembilan belas rombongan akan berdatangan menyambangi Negara kita. Tujuan utama: sidang. Setiap tamu jaga martabat diri, datang dengan tulus pulang dengan mulus. Jarang ada tamu datang dengan akal bulus.Tamu biasa lihat keliling, jalan keliling, salami tuan rumah, kagumi apa saja yang terasa baru dan aneh. Tamu biasa membanding-banding, di tempat asalnya begini, di tempat bertamu begini. Suasana lain, orang-orang lain,  suka-cita, rasa baru berbunga-bunga.

    Tamu dijamu dengan berbagai atraksi. Harga diRi kita tuan rumah dipertaruhkan. Pengamanan di mana-mana, super ketat. Tamu celaka, kita bahaya. Nama hancur. Tamu jual tampang, kita jaga gengsi. Semua serba baik dipertontonkan baik oleh kita tuan rumah maupun oleh tamu yang bedatangan. Suasana persaudaraan penuh tawa dan mesra tersajikan selama tamu berada di Indonesia. Keaslian yang baik kita tampilkan, keaslian keriput kita sembunyikan. Inilah adat kebiasaan di mana-mana.

    Hasil apa yang bakal kita peroleh dari pertemuan G20 nanti? Banyak. Utamanya, empat hasil yang akan dibawa pulang oleh para tamu.

    Pertama: bendawi. Berkaitan dengan benda, materi. Kepentingan pemenuhan kerjasama menata dan mengolah lingkungan, benda-benda, dibahas dan diadakan berbagai pendekatan dan ditanda-tangani bermacam-macam MoU (Memory of Understanding). Ini  terjadi karena setiap manusia, termasuk setiap tamu dan kita tuan rumah, ada Nafsu, dorongan untuk semakin menghasilkan dan menikmati barang-barang olahan hasil dari masing-masing negara. Wajar. Saling membantu, saling menguntungkan.

    Kedua: ilmiah. Istilah alih-teknologi diharapkan terjadi secara lebih intensif lewat saling mengundang nantinya untuk bertukar ilmu dan teknologi baru yang tidak lebih merusak alam yang sudah mulai rusak. Iptek yang menyelamatkan bukan mencelakakan. Ini peran Nalar.

    Ketiga: kekerabatan. Terjalin kekerabatan atas dasar sesama manusia yang harus saling membahagiakan. Tidak boleh terbersit secuil pun rasa saling mencurigai dan saling bermusuhan. Inilah Naluri yang murni dari setiap pribadi kita manusia. Mau damai, mau aman.

    Keempat: kerohanian. Tamu-tamu harap pulang dengan suatu keheningan bathin karena melihat dan mengalami contoh bagaimana kita orang Indonesia mengasihi sesama dan mengabdi TUHAN, SANG PENCIPTA. Kegiatan Ibadah dan rumah-rumah Ibadat harap memancarkan sinar ilahi yang terpantul dari hati yang putih. Inilah karya Nurani.

    Jadi empat hasil yang diharapkan ini bersandar pada empat unsur dalam diri manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani yang TUHAN tempatkan dalam diri setiap manusia  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tamu-tamu silahkan datang. Tangan kami terbuka, hati kami lapang. Kita saling merangkul, enyahkan curiga ganti dengan ceria. TUHAN mau hal itu yang terjadi dalam pertemuan G20.

    1. Ikatan

    Ikatan.  Kita manusia ini terikat-satukan oleh tiga ikatan yang erat-terpadu . Ikatan Darah, Daerah, Darma. Tiga – D (3-D). Kalau ada ikatan ‘G20’ yang terikat dalam satu kelompok Uni Eropa dan 19 Negara, maka ‘3-D’ itu adalah ikatan semua umat manusia, lalu, kini dan nanti.

    Ikatan Darah. Siapa di antara manusia yang mengaku berdarah lain dari sesama manusia yang lain? Kita berasal dari Darah manusia pertama yang diciptakan TUHAN dan kita ini adalah turunan yang terikat oleh Darah yang satu dan sama itu.

    Ikatan Daerah. Daerah tidak terbatas pada pulau atau Negara. Daerah itu bumi ini. Kita semua terikat dalam bumi hunian kita sebagai satu noktah kecil di tata alam semesta.

    Ikatan Darma. Darma itu bakti, karya, kerja. Kita semua terikat dalam satu Darma berbeda corak. Petani berdarma di sawah dan ladang, peternak berdarma di ladang dan kandang, nelayan berdarma di danau dan laut. Semua jenis darma itu terikat satu sama lain karena semua manusia yang terbagi-bagi dalam semua darma itu saling melengkapi saling memberi nafkah.

    Ikatan Negara-negara dalam ‘G20’ sejatinya mengeja-wantahkan tiga ikatan dasar ini, Darah+Daerah+Darma. Bertemu di mana, kapan bertemu, ke-dua-puluh kelompok ini tetap bersandar pada Darah, Daerah dan Darma. Yang dibahas itu-itu juga. Darah jangan ditumpahkan dengan amarah. Daerah jangan dicaplok seenak batok. Darma jangan dilaksanakan sesuka-hati. Supaya tiga ikatan ini dilaksanakan secara adil dan damai, patutlah ‘G20’ bertemu dan syukur Daerah di Indonesia jadi tempat bertemu para pencinta damai.

    Kita manusia ini ada empat unsur dalam diri kita: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat ‘N’ ini ditaruh dalam diri kita oleh PENCIPTA. Bukan diadakan oleh diri kita sendiri. Kita tinggal menumbuh-kembangkan dan mendaya-gunakan untuk hidup dengan sentausa.

    Nafsu ada untuk mencari, memperoleh dan menikmati hasil Darma yang dihasilkan oleh sesama yang se-Darah dan tinggal di Daerah yang sama, bumi ini.

    Nalar adalah kemampuan untuk mengalami dan mempelajari segala seluk-beluk diri kita dan alam semesta untuk digunakan secara baik dan benar.

    Naluri adalah dorongan untuk kita sama kita bertemu, bekerja sesuai minat dan bakat dalam Darma yang berbeda dan saling melengkapi. Itu demi kebersamaan kita manusia agar sama-sama ada, sama-sama hidup.

    Nurani itu kesadaran, bisikan, ada dalam relung diri setiap kita yang menyuarakan mana yang baik mana yang jahat agar kita semakin dekat pada DIA, PENCIPTA kita dalam kebersamaan dengan sesama.

    Ikatan Darah, Daerah dan Darma terwujud-nyatakan dalam kebersamaan kita, biar jauh terpisah oleh waktu dan tempat di bumi yang satu dan sama ini. TUHAN senang kita bertemu, bersatu dan berkarya agar Darah yang luhur itu tetap mengalir dalam nadi setiap insan dengan tenteram, agar Daerah yang kita diami ini tetap terjaga dan tertata rapih, agar Darma yang kita laksanakan menghasilkan buah berlimpah-limpah.

     

     

     

     

     

     

  • Bertemu pakai Naluri dan Nurani

    1. Naluri

    Naluri.  Dalam diri kita manusia ada empat unsur yang merupakan satu kesatuan: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Naluri ini yang mendorong Nafsu untuk mencari, memperoleh dan menikmati apa yang diinginkan oleh kita manusia. Naluri juga berperan dalam menggugah Nalar untuk berpikir dan memutuskan sesuatu itu benar, baik dan berguna atau tidak bagi kehidupan. Naluri mendorong manusia untuk mendengar bisikan Nurani, apakah tindakan kita itu baik atau buruk.

    Peran Naluri sangat menentukan dalam tindakan menghargai sesama, menolong sesama, hidup bersama sesama mulai  keluarga sampai masyarakat luas.

    Manusia berkelompok, itu dorongan Naluri. Ada kelompok yang terbentuk dan menamakan diri ‘G20’, yang terdiri dari Uni Eropa dan 19 Negara lain di dunia ini. Kelompok G20 ini akan berkumpul di Indonesia pada tahun 2022. Naluri mendorong anggota-anggota G20 untuk berdatangan ke Indonesia sesuai jadwal dan tempat yang sudah disepakati. Untuk apa berkumpul? Pasti bukan untuk sekedar hura-hura. Pertemuan penting karena menyangkut nasib sesama manusia sesuai Naluri untuk hidup berkumpul dan bekerjasama meningkatkan kesejahteraan sesama baik yang termasuk dalam anggota G20 maupun yang berada di luar perkumpulan ini.

    Naluri manusia mendorong setiap manusia untuk hidup aman, adil dan damai. Ini motivasi dasar dari pertemuan G20. Kalau berkumpul untuk berkomplot merencanakan kejahatan, itu berarti melawan hakikat Naluri. Naluri manusia mendorong ke arah yang positif, memperbaiki yang rusak, meningkatkan yang sudah baik menjadi lebih baik.

    Dari kodratnya, kita manusia ini mempunyai Naluri untuk mendekati yang tulus, menjauhi yang bulus. Manusia dengan manusia bertemu. Bertemu merancang yang baik, saling mendekati dan tidak saling menjauhi. Apa yang ada di yang satu dibagikan kepada yang lain. Berbagi rasa, berbagi harta. Itu tanda manusia hidup mengikuti Naluri yang murni. G20 diharapkan berbicara untuk berbagi kebaikan antara sesama sambil memperhatikan yang di luar G20. Tidak mungkin G20 akan sejahtera sendiri tanpa sesama yang ada di luar G20. Hidup ini sama-sama bekerjasama untuk kebaikan bersama.

    Naluri untuk berkumpul itu satu tanda bahwa manusia saling menghargai dan saling membutuhkan untuk sama-sama mengupayakan kesejahteraan. Sesuai dorongan Naluri yang wajar, manusia dengan manusia saling kasih-mengasihi dengan tindakan nyata dan itulah yang dikehendaki oleh TUHAN, PENCIPTA kita. Permusuhan, itu bukan hasil Naluri yang sehat.

    Perdamaian, itulah harapan murni dari setiap orang yang mempunyai dorongan Naluri sesuai kehendak Sang PENCIPTA.

    Pertemuan G20 pasti menghasilkan segala yang diharapkan oleh semua manusia di dalam dan di luar G20, menata kehidupan di bumi ini untuk semakin bersaudara mengelola dan menikmati hasil bumi secara bersama dalam suasana aman, adil dan damai. TUHAN mau yang itu. G20, selamat bersidang.

    1. Nurani

    Nurani. Setiap manusia mempunyai Nurani. Nurani itu bahagian tak terpisahkan dari ketiga unsur yang lain, Nafsu + Nalar + Naluri. (4N, Kwadran Bele, 2011).  Empat unsur ini menentukan kepribadian manusia sebagai  pribadi utuh. Nafsu bergerak menikmati sesuatu, langsung ada gemanya dalam Nurani. Nalar memikirkan sesuatu, Nurani pun bergetar memberi penilaian, baik atau tidak. Naluri mendorong seseorang untuk bertemu orang lain, Nurani terus membisikkan hal-hal yang berkaitan dengan orang itu, baik atau tidak.

    Nurani menjadi ukuran untuk perilaku manusia, baik atau jahat. Manusia-manusia, kita-kita ini,  mempunyai Nurani, dan Nurani itulah yang menilai kita bertemu sesama, dengan tujuan baik atau tidak. Pertemuan besar seperti ‘G20’ adalah pertemuan antara pribadi-pribadi yang mempunyai Nurani sama seperti kita yang lain. Bedanya, mereka-mereka mewakili kita karena posisi mereka berada pada tingkat pemimpin yang mengendalikan nasib jutaan orang. Bayangkan, kalau mereka mempunyai Nurani yang kabur, maka pertemuan itu akan kabur dan tidak jelas tujuannya lalu apa yang disepakati pun pasti akan mencelakakan diri mereka dan semua kita yang lain.

    Nurani dengan Nurani yang bertemu, entah pertemuan terbatas atau pertemuan besar seperti pertemuan ‘G20’ yang beranggotakan Uni Eropa dan sembilan belas negara yang lain, termasuk Indonesia. Pertemuan G20 yang akan diadakan di Indonesia ini sangat penting karena ada Negara-negara kaya harta dan adi-daya seperti Amerika Serikat dan Rusia. Harta tanpa Nurani, hampa. Kuasa tanpa Nurani, nestapa. Senjata untuk membunuh, sadis. Semua itu apa pun jenisnya, melawan bisikan Nurani. Bayangkan, seorang ayah, anaknya umur sepuluh tahun, mengasah pisau dapur setajam-tajamnya. Waktu ditanya, untuk apa? Mau tikam saudaranya. Ayah itu diam saja? Malah ayah mendukung dengan memberi pisau lain yang lebih tajam. Inilah yang sedang terjadi di dunia kita sekarang ini. Dukung mendukung dalam kejahatan. Nurani dibutakan.

    Hidup abaikan Nurani. Ini pangkal celaka. Dalam Nurani, setiap kita sadar bahwa diri dan sesama itu manusia ciptaan TUHAN, dari TUHAN kembali ke TUHAN. Sampai hati membenci sesama, menyusahkan sesama, membinasahkan sesama? Nurani semakin tumpul dan tidak lagi diperhatikan sehingga Nafsu semakin liar, serakah kumpul malah rampas harta. Nalar menjalar tanpa kendali, pikir dan ciptakan senjata pemusnah. Naluri jadi duri bagi sesama, tikam kawan, tusuk lawan. Di sini letaknya kekacauan dalam skala kecil dan besar.

    G20 silahkan bersidang. Mata dunia tertuju ke Indonesia tempat terselenggaranya Pertemuan dahsyat ini. Pakai Nurani?

     

     

     

  • Pesan Filsafat untuk Negara-negara G-20

    Sekapur sirih

    G-20. Group of Twenty, 20 Negara Anggota G-20 akan bersidang di Indonesia, Bali, tanggal 15-16 November 2022. Satu kehormatan luar biasa untuk Indonesia sebagai tuan rumah. Motto pertemuan ini, ‘Recover together, Recover stronger’, ‘Pulih bersama, Pulih menguat’. Pemulihan ke dalam dan ke luar baik dalam kelompok G-20 maupun di luarnya. Masyarakat sedunia harus menghayati dan melaksanakan isi motto ini, sama-sama memulihkan diri dalam segala bidang kehidupan dan terus berkelanjutan pemulihan itu dari saat ke saat. Semua orang harus berperan.

    Sebagai warga negara Indonesia, penulis menyodorkan pesan moral ini dalam bentuk suguhan ‘sirih-pinang’ tanda menjamu dengan segenap hati para tamu yang datang. Selamat datang, selamat bersidang. Pesan-pesan ini sudah sempat dimuat di Kompasiana, Juli-Agustus 2022 dan disajikan dalam buku kecil ini untuk mudah disimak oleh pembaca di Indonesia dan bagi para tamu, boleh dijadikan oleh-oleh.

    Limpah terimakasih untuk Kompasiana dan Penerbit yang memberi peluang untuk penyebaran pesan-pesan singkat ini. Tuhan memberkati semua pihak.

    Kupang, September 2022

    Anton Bele

    1. Sama

    Sama. Sama baru bisa bertemu. Kalau tidak sama, mana bisa bertemu. Sama dalam hal apa? Namanya kita manusia ini, sama. Semua itu manusia. Kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, sama-sama manusia. Tempat berbeda, status sosial berbeda, tapi sama. Kita manusia ini sama dalam Nafsu. Semua mau makan dan makan. Kita punya Nalar ini sama. Mampu berpikir dan mengalami. Beda di tingkat luas dan dalamnya pengetahuan. Semua manusia ada Naluri yang sama untuk bergaul dan saling mengenal. Dalam Nurani setiap manusia sama-sama merasa bahwa dirinya sama dengan diri-diri yang lain karena berasal dari DIA, TUHAN dan akan kembali kepada DIA. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kesadaran akan adanya kenyataan bahwa sama dalam hal yang sangat mendasar, sama-sama ciptaan TUHAN inilah yang mendorong manusia dengan manusia untuk bertemu. Duduk itu sama, hanya lain duduk di kursi lain duduk di lantai. Tidur itu sama, bedanya ada yang di kasur ada yang di dapur. Waktu bertemu, setiap manusia itu sama dalam  berpikir, berpendapat dan bersuara.  Bedanya hanya dalam cara dan gaya.

    Sama di bumi, sama di angkasa. Terkadang kita manusia ini kurang sadar bahwa sama-sama menghuni bumi yang sama. Berampas batas, berebut laut, padahal tanah yang berbatas, laut yang berombak itu sama kita diami sama kita arungi. Kita sama dalam status penumpang bis yang sama-sama berangkat ke tujuan yang sama. Aneh, dalam bis yang sesak dan sempit masih sikut-menyikut. Perjalanan jadi tidak nyaman.

    Pertemuan dua puluh kesatuan, Uni Eropa dan sembilan belas negara yang menamakan diri ‘G-20’ adalah pertemuan bermartabat antara manusia-manusia yang sama  rasa dan sama  arah. Dua puluh kumpulan manusia ini sama-sama pikir dan buat yang baik untuk diri dalam kelompok sambil sama-sama pikir dan buat yang baik untuk kelomp0k yang lain yang sama-sama huni bumi yang sama ini.

    Sama dalam niat dan sama dalam semangat untuk maju dan nikmati sama-sama apa yang ada di belahan bumi ini yang jadi bahagian dari semesta semesta yang sama. Inilah motivasi luhur dari yang namanya Negara-negara yang berkumpul dalam ‘G-20’. Dalam kesadaran akan rasa senasib-sepenanggungan setiap kita manusia ini tidak diperkenankan untuk betemu dan  berkumpul untuk bergumul. Bumi ini bukan arena tinju. Adu jot0s itu tidak manusiawi. Otot ada dalam kendali otak untuk saling merangkul bukan saling mencekik.

    Beda tempat tinggal tapi sama-sama satu keluarga. Saudaraku di Rusia, saudariku di Afrika, pamanku di Amerika, tantaku di Eropa, dalam status apa pun saja, kita sama-sama tinggal di rumah yang sama, rumah bumi ini. Tanam apa saja hias halaman kita. Tabur apa saja penuhi sawah-ladang kita. Sama-sama kita siangi, sama-sama kita tuai. Salahnya di mana sehingga ada yang tanam sendiri tuai sendiri, makan sendiri kenyang sendiri. Perbaiki yang salah ini dan benarkan arah agar kita sama-sama bergandeng tangan bersatu hati dalam dekapan DIA, SANG PENCIPTA kita.

    2.Nafsu

    Nafsu. Dorongan dalam diri manusia adalah Nafsu yang berkaitan langsung dengan benda-benda sekitar. Itulah Nafsu dalam arti yang sebenarnya..  Dorongan untuk kontak fisik dengan sesama manusia juga termasuk dalam peran unsur Nafsu dalam diri manusia. Nafsu itu baik sejauh diarahkan untuk hal yang baik. Gagasan terbentuknya kelompok ‘G20’ yang tahun  2022 ini akan bertemu di Indonesia termasuk hasil nyata dari Nafsu. Nafsu itu unsur dalam diri manusia yang erat kaitannya dengan Nalar, Naluri dan Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu untuk bertemu itu baik sekali sejauh motivasinya murni, bertemu untuk berbicara, bersepakat untuk buat hal-hal yang baik, benar dan berguna bagi kehidupan manusia. Nafsu yang positif itu terwujud dalam pemikiran yang jernih (Nalar), pergaulan yang sehat (Naluri) dan tindakan penuh kasih dan sayang (Nurani).

    Bumi ini dihuni, ditata dan dinikmati karena ada Nafsu dalam diri manusia. Pertanian, Peternakan, Perikanan adalah kegiatan nyata dari dorongan Nafsu. Pertanian yang baik itu tidak merambah hutan sesuka-hati. Pertanian yang sehat itu tidak menggunakan pupuk buatan  dari bahan kimia yang merusak lingkungan sekitar. Peternakan yang baik itu membiakkan ternak secara tepat tanpa penggemukan secara paksa dengan pemberian makanan kimia. Perikanan yang tepat itu menangkap ikan dan binatang laut tanpa merusak biota laut. Semua kegiatan ini hasil Nafsu dalam diri manusia. Nafsu yang tidak terkendali tampak dalam keserakahan manusia yang merusak tanah, laut dan udara dengan pengotoran yang membahayakan. Usaha tambang apa pun termasuk dalam dorongan Nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kalau pertambangan tidak terkendali, maka kita gali lubang untuk diri sendiri.

    Pencegahan keserakahan Nafsu tak terkendali inilah yang harus menjadi bahan pembicaraan dalam pertemuan ‘G20’. Bumi ini ada unuk manusia. Bumi tidak boleh dikuras secara kasar dengan Nafsu yang tak terkontrol. Penggarapan tanah secara liar, pengotoran laut, pencemaran udara termasuk dalam pelampiasan Nafsu manusia yang tidak memakai Nalar yang benar, melawan Naluri untuk hidup bersama sesama dengan tenang, menodai Nurani dengan tindakan melawan kasih pada sesama dan sembah bakti pada TUHAN.

    Pertemuan ‘G20’ adalah  hasil dorongan Nafsu yang sehat. Dalam pertemuan akbar ini diharapkan Nafsu para anggota ‘G20’ untuk mengelola alam diserasikan dengan moral, santun hidup bersama memelihara alam ciptaan TUHAN. Para  anggota ‘G20’ menjadi teladan bagi seluruh penduduk dunia dalam cara menyalurkan Nafsu secara terkendali, terukur dan teratur. Itulah yang diidamkan oleh kita semua manusia dan diberkati oleh TUHAN SANG PEMILIK alam semesta.

    1. Nalar

    Nalar. Kemampuan yang menjadi unsur kedua dalam diri manusia, adalah Nalar. TUHAN beri kita Nalar guna mengkaji dan mempertimbangkan segala sesuatu dari sisi benar, baik dan bagus untuk kehidupan manusia.

    Nalar ini  mengendalikan  Nafsu, menuntun Naluri dan menenangkan Nurani. Kerjasama empat unsur dalam diri manusia ini menghasilkan hidup diri kita manusia ini seimbang, serasi, aman dan tenteram. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia dengan manusia bertemu dalam kendali Nalar. Kelompok ‘G20’ yang sudah terkelompok dan bertemu, memakai Nalar dalam merancang acara pertemuan agar dengan Nalar berbicara teratur dan terarah ke tujuan yang baik, benar dan bagus. Bertemu lalu bertengkar, tanda Nalar kurang dipakai secara tepat.

    Dengan Nalar para delegasi ‘G20’ yang bertemu membagi pengetahuan dan pengalaman untuk membangun dunia ini secara tepat penuh manfaat.

    Nalar kalau disalah-gunakan akan terjadi tipu-menipu di antara kita manusia. Yang benar dipersalahkan, yang salah dibenarkan. Itulah penyalah-gunaan Nalar.

    Nalar yang benar tidak kikir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Terbuka untuk dikritik dan dikoreksi.

    Dalam pertemuan ‘G20’ harap itu yang terjadi, membentangkan seluas-luasnya kebenaran untuk dimanfaatkan dan mengoreksi kesalahan dengan santun agar persaudaraan tidak tercoreng. Katakan yang benar itu benar, salah itu salah. Itulah perilaku pelaku pembangunan yang memakai Nalar secara benar.

    Nalar itu berasal dari TUHAN, sumber kebenaran. Dengan Nalar kita manusia ini menata alam secara benar. Pembodohan secara sengaja lewat Nalar, merusak alam mencelakan manusia.

    Hasil Nalar yang nyata, salah satunya penemuan dan penggunaan tenaga nuklir.

    Kalau hasil yang satu ini disalah-gunakan, terjadilah malapetaka yang dahsyat yang sama tidak kita harapkan. Kehati-hatian penggunaan produk Nalar sangat dituntut untuk tujuan luhur demi keamanan umat manusia.

    TUHAN mengamanatkan kepada kita manusia untuk memelihara dan menata dunia demi kehidupan kita, bukan merusak dan membunuh diri sendiri.

     

     

     

     

    1. Naluri

    Naluri.  Dalam diri kita manusia ada empat unsur yang merupakan satu kesatuan: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Naluri ini yang mendorong Nafsu untuk mencari, memperoleh dan menikmati apa yang diinginkan oleh

  • Kwadran Bele dalam Filsafat Manusia

    Pribadi Manusia terdiri dari empat unsur (4 N) yaitu: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani. Empat unsur ini kalau digambarkan dalam bentuk satu lingkaran dibagi atas empat bagian yang sama, maka akan terlihat, satu ‘kwadran’ dengan isinya 4 N. Ini yang disebut ‘Kwadran Bele’, hasil temuan saya, Anton Bele, sebagai hasil penelitian saya selama enam tahun, 2005-2011 dalam rangka penulisan disertasi untuk program doktor Studi Pembangunan di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Temuan ini dinyatakan sebagai temuan khusus dalam bidang filsafat manusia dan disahkan sebagai satu hak kekayaan intelektual atas nama Anton Bele pada tahun 2017 dengan memperoleh Surat Keputusan tentang Hak Kekayaan Itelektual dari Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonsesia, yang berlaku selama saya hidup dan tujuh puluh tahun sesudah saya meninggal dunia.

    Begini uraiannya.

    Nafsu adalah unsur dalam diri manusia berupa dorongan, keinginan  yang menyebabkan manusia itu bisa hidup melalui persatuan dengan benda-benda di sekitarnya. Tubuh manusia itu sendiri adalah gumpalan nafsu, hasil dari makan, minum, istirahat, tidur, bergerak. Nafsu itu netral. Nafsu membuat manusia itu berkeinginan untuk hidup dan berkembang-biak, berketurunan.

    Nalar adalah unsur dalam diri manusia yang memampukan manusia untuk mempelajari, mengetahui, mengalami, memilih dan memilah apa yang ada di sekitarnya dan memakai temuan atau pengalaman itu untuk memenuhi Nafsu.

    Naluri adalah unsur dalam diri manusia yang membuat manusia itu selalu terdorong untuk hidup bersama manusia lain sambil mencari keamanan bagi diri dan sesama.

    Nurani adalah unsur dalam diri manusia yang membuat manusia itu menimbang segala perilakunya, baik atau buruk.

    Empat N (Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani) menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam diri manusia dan itulah kepribadian yang utuh, unik. Sesudah kematian, Empat N ini tetap ada dalam keabadian di hadapan Sang Pencipta. Dengan rumusan 4-N ini saya mengoreksi rumusan ‘Manusia itu terdiri dari jiwa dan badan’, dualistis. Dalam pandangan dualistis ini, sudah umum diterima, jasmani-rohani, ilahi-duniawi, jiwa-badan. Lazim diterima, badan fana, jiwa abadi.  Pribadi manusia itu terdiri dari 4-N. Ini ciptaan Pencipta. Dari kodratnya, manusia itu diwajibkan untuk ‘mengasihi Pencipta itu dengan segenap Nafsu (kekuatan), segenap Nalar (akal budi), segenap Naluri (jiwa/semangat kebersamaan) dan dengan segenap Nurani (hati). Dan setiap manusia diwajibkan oleh Sang Pencipta untuk mengasihi sesama manusia atas cara yang sama, dengan segenap 4-N (Kwadran Bele).

    Kesimpulan

    Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari secara berimbang. Contoh: Makan karena ada Nafsu makan. Harus pakai Nalar, dalam arti pakai pengetahuan bahwa makanan itu tidak berbahaya bagi kehidupan diri si-pemakan. Secara Naluri, makan itu ingat sesama, jangan rakus, ingat diri. Makan pakai Nurani, yaitu makan hasil usaha sendiri yang halal. Dengan mewujud-nyatakan 4-N ini, setiap orang mewujudkan amanat Sang Pencipta sesuai ajaran Agama yang dianut. Maka tidak dibenarkan seseorang:  dengan Nafsu hidupnya menyusahkan orang lain. Dengan Nalarnya menipu sesama. Dengan Nalurinya menyingkirkan orang lain. Dengan Nuraninya membenci sesama.

    Perilaku manusia itu diukur dengan ‘Kwadran Bele’, berarti: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani harus seimbang.

  • Sumpah dari Sudut Filsafat

     

    Manusia bersumpah dalam hal yang sangat penting  di hadapan sesama dan Tuhan untuk melaksanakan isi sumpah itu. Ada rumusan sumpah, ada cara sumpah. Ada cara mengangkat jari, ada cara meletakkan tangan di atas Kitab Suci. Saksi biasa didatangkan pemuka agama. Ini sumpah jabatan. Ada juga sumpah janji antara orang atau kelompok. Ada sumpah serapah, itu kutukan penuh amarah, mengundang bala ke atas orang yang dibenci.

    Di kalangan masyarakat suku Buna’ di pulau Timor, masih ada dua macam sumpah, sumpah minum darah dan sumpah makan tanah.

    Sumpah minum darah sudah tidak dilaksanakan lagi, tapi tahun 50-an penulis sebagai anak kecil, masih saksikan. Ketua adat dari dua suku yang berbeda, masing-masing mengiris jari telunjuk kanan dengan sembilu, kulit bambu suling, meneteskan beberapa tetes darah itu ke dalam satu tempurung kelapa, semacam alat minum yang biasa dipakai di rumah-rumah, dalam tempurung itu sudah ada sopi, minuman keras, lalu diminum bergantian, dengan ucapan, siapa yang melanggar isi sumpah ini, dia dan turunannya akan mendapat celaka bahkan kematian. Sumpah makan tanah biasa dibuat oleh seseorang untuk membela diri,

    ‘Saya makan tanah ini,’ (sambil mengambil sejemput debu) dan menaruhnya dalam mulutnya sendiri, ‘kalau benar apa yang kamu tuduhkan kepada saya’ (misalnya mencuri), ‘saya akan mati’. Semua yang hadir mengiakan dan percaya bahwa orang ini jujur, tidak berbuat hal jelek yang dituduhkan kepadanya.

    Sumpah, apa pun maksud dan caranya, sebenarnya suatu tindakan penuh kepercayaan pada diri dan orang lain di hadapan Tuhan, bahwa diri yang bersumpah itu mau setia, taat, jujur dalam melaksanakan isi sumpah. Mau. Berarti akan. Berapa banyak pelanggaran yang terjadi di masyarakat terhadap sumpah yang dibuat orang? Isi sumpah, jelas. Ada tanda, jelas. Ada saksi. Dan yang paling tinggi, mengundang Tuhan untuk menjadi saksi.

    Kita bertanya, kalau di Indonesia ini begitu banyak sumpah itu ditaati, maka tidak ada lagi kasak-kusuk tentang penyalah-gunaan jabatan dan uang. Sumpah itu sebenarnya muncul dari NAFSU seseorang untuk memegang jabatan secara sah dan benar. NALAR orang yang bersumpah itu jelas sudah mempertimbangkan segala konsekwensi dari isi sumpah itu.

    NALURI yang mengangkat sumpah sadar bahwa tanggung-jawab terhadap masyarakat yang dilayani, ada di pundaknya. NURANI orang yang bersumpah itu memohon Tuhan untuk membantunya dalam melaksanakan isi sumpah itu. (Bdk. 4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Sumpah itu perpaduan antara NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI dalam diri seorang yang tampil gagah perkasa di hadapan banyak orang dan di hadapan Tuhan untuk menjadi pribadi pengabdi masyarakat. Sumpah tradisional suku Buna’ dan sumpah modern zaman ini, maknanya sama. Mengendalikan NAFSU, menjernihkan NALAR, melapangkan NALURI, menenteramkan NURANI.

  • Nepotisme dari Sudut Filsafat

     

    Orang Yunani punya kata, ‘nepote’ berarti, ‘ponakan’. Dari kata inilah muncul istilah ‘nepotisme’ yang mempunyai arti yang negatif, yaitu: seorang yang berwenang, menentukan para sanak keluarganya untuk jabatan di sekitarnya supaya dia aman untuk berbuat sesuka hati.

    Semua bentuk NAFSU terhimpun dalam perilaku yang satu ini, mempertahankan kekuasaan karena semua orang sekitarnya itu adalah keluarganya, mulai dari anak, adik-kakak, ponakan, ipar dan ipar punya ipar, pokoknya ada hubungan keluarga, diberi jabatan, kalau jabatan masih kurang, diciptakan jabatan baru. Semua pejabat adalah lingkaran kekuasaan yang melindungi diri ‘sang pejabat puncak’. Ini NAFSU kuasa.

    Lalu dari segi NALAR, kurang diperhitungkan karena orang-orang dekat itu punya ‘otak’ atau tidak, duduk, jadi pejabat. Ada bisikan NALAR, dia ini kurang mampu, pengetahuan kurang, pengalaman apa lagi, lebih kurang lagi. Tidak apa. Pokoknya keluarga. NALURI berontak juga karena ada serangan dari berbagai pihak yang bukan keluarga, tetapi bisikan NALURI itu ditekan habis-habisan, yang penting kamu lain saya tidak percaya, hanya keluarga dekat saja yang saya percaya, mau apa? Ini  bisikan NALURI dalam apa yang disebut nepotisme.

    Muncullah NURANI dengan bisikan, orang lain yang lebih mampu untuk jabatan ini juga sama-sama ada hak dan TUHAN tidak berkenan dengan menyingkirkan sesama yang pantas menduduki jabatan ini. Bisikan NURANI ini langsung diberangus, diam, masalah kuasa ini bukan urusan NURANI, urusan rohani itu urusan TUHAN dalam diri para pemimpin Agama, saya bukan orang Agama.

    Empat unsur ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI kurang atau malah tidak dipakai dalam seorang yang mabuk kuasa dan tetap mau berkuasa, gila harta dan tetap mau bergelimang harta. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Inilah badai pergolakan bathin seorang yang berlagak sok kuasa. Kalau kuasa dikejar, maka dengan sendirinya harta dikeruk lewat jalur keluarga. Kalau ini urusan pribadi, tidak ada soal, tapi urusan umum, kepentingan umum dipakai untuk kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Lengkaplah ‘trio’ yang disingkat namanya dengan tiga huruf, ‘KKN’, Korupsi, Kolusi, Nepotisme.

    Yang namanya kejujuran, keadilan, kedamaian, tidak ada dalam benak orang-orang yang getol dengan sistim KKN. Upaya-upaya pemberantasan KKN di seluruh dunia, termasuk di Negara kita Indonesia, terus digalakkan, tetapi kalau diri pribadi kita-kita ini tidak sadar akan keutuhan ‘4N’, percuma. Masih ada harapan. Harap Negara kita segera berubah, bersih dari KKN.

     

     

  • Kolusi dari Sudut Filsafat

     

    Orang Latin punya bahasa, ‘ludere’ artinya bermain, ‘lusus’ artinya permainan. Kalau lebih dari satu orang bermain, maka ditambah kata ‘co-‘ maka jadilah bermain bersama, ‘coludere’, permainan bersama, ‘colusi’. Kata ini maknanya bagus, bermain, bergembira.

    Tapi kalau dikaitan dengan sahabatnya, ‘korupsi’ maka bermain menjadi bermain dalam arti yang sangat buruk, mempermainkan orang atau barang orang. Akibatnya merugikan orang lain.

    Secara filsafat, ‘kolusi’ ini dapat ditinjau dari ‘4N’ (Kwadran Bele, 2011). NAFSU seseorang bersama beberapa orang biasa-biasa saja, mencari rezeki. Cari barang, cari uang, cari kesempatan untuk memenuhi kebutuhan yang muncul dari NAFSU.

    Di sebuah kantor milik pemerintah, ada anggaran untuk pengadaan alat-alat, seperti laptop, dan berbagai alat tulis. Anggaran ratusan juta. Seorang kepala bagian umum dipercayakan untuk memesan dan membeli barang-barang ini.

    Bermainlah sang kepala ini dengan beberapa orang di kantor dan orang-orang pedagang barang kantoran itu dan ada kwitansi asli dan palsu. Harga seratus ribu ditulis dua ratus ribu.

    Begitu banyak item dipermainkan harga atas cara ini yang dikenal ‘mark-up’, menaikkan harga suka-suka. Permainan seperti inilah yang dinamakan ‘kolusi’.

    Uang dicuri beramai-ramai maka ‘korupsi’ terjadi, sehingga dua saudara kandung ini menjadi hasil NAFSU orang-orang di kantor itu yang berakibat pada kerugian kantor puluhan juta rupiah. Keinginan di luar batas itu disebut NAFSU yang tidak teratur, salah jalan, salah arah.

    Kalau NAFSU sudah menggebu-gebu, NALAR pun dibujuk untuk cari akal supaya curi uang ini tidak kentara. NALAR setuju saja karena lihat keuntungan yang diperoleh, banyak, biar pun di luar kewajaran.

    NALURI memberontak, ‘Eh, jangan, rugikan orang lain, rugikan kantor’, dijawab, ‘Hei, pusing apa, kantor ini uang banyak. Kita ambil sedikit saja’. Suara NALURI dipasung.

    Sementara itu NURANI berbisik, ‘Aih, ini sudah tidak benar lagi, salahi aturan, tipu kantor, dan aih, TUHAN pasti lihat.’ NURANI dibujuk dengan kata-kata manis, ‘Hanya kali ini saja, ini memang salah, tapi besok lusa tidak lagi’. Tahu-tahu, karena sudah kebiasaan, bisikan NURANI dibungkam dan rentetan kolusi demi kolusi berjalan terus.

    Jadi kolusi itu permainan bersama untuk menipu dan mencuri barang orang lain, uang orang lain. NAFSU mendorong, NALAR menyetujui, NALURI mendiamkan dan NURANI memaafkan.

    Akibat dari kolusi biasanya NAFSU semakin tidak teratur, NALAR menjadi gelap, NALURI berontak terselubung, NURANI hingar-bingar. Pribadi menjadi tidak seimbang karena 4 N sudah dipermainkan oleh diri untuk mempermainkan orang lain.

     

     

  • Korupsi dari Sudut Filsafat

     

    Kata korupsi sudah sangat biasa di Indonesia ini sehingga banyak orang tidak lagi ambil pusing tentang arti dan asal-usul kata ini. Anak SD pun mengerti korupsi itu gelapkan uang pemerintah dan kalau ditangkap, masuk penjara.

    Dari sudut filsafat, korupsi dipelajari secara mendalam, maka secara sederhana dimengerti sebagai tindakan manusia tertentu yang menyalah-gunakan wewenangnya untuk memakai uang atau barang milik orang lain untuk memperkaya diri.

    Kata korupsi ini berasal dari kata bahasa Latin, ‘rumpere’, artinya: memecahkan, merusakkan, mendobrak. Pemecahan, perusakan, pendobrakan, ‘ruptio’. Pemecah, perusak, pendobrak, manusianya disebut ‘ruptor’. Itu kalau seorang diri.

    Kalau bersama orang lain, maka kata Latin, menambah, ‘co-‘ sehingga kata itu menjadi ‘corrumpere’ artinya: memecahkan, merusakkan atau mendobrak secara bersama-sama.  Tindakan itu sendiri disebut ‘corruptio’ (Th. Verhoeven, ‘Kamus Latin-Indonesia, Nusa Indah, Ende, 1969).

    Dari sudut filsafat saya memakai cara ini, penelusuran berdasarkan ‘Kwadran Bele, 2011, 4 N: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI.  Orang atau orang-orang yang mempunyai NAFSU memiliki uang, hal biasa dan baik. Itu haknya, hak mereka. Tapi NAFSU memiliki uang atau barang yang bukan haknya, pasti tidak bisa diterima oleh siapa pun.

    Kalau sudah ada dorongan NAFSU untuk menguasai milik orang lain, di luar haknya, misalnya kontraktor bangun jembatan umum dengan anggaran 100 juta dan haknya sebagai keuntungan, 10 %, berarti dapat uang 10 juta tetapi karena NAFSU begitu besar maka dia cubit 5 juta lagi sehingga menjadi 15 juta, maka inilah yang disebut korupsi, ambil hak masyarakat dan pemerintah, 5 juta di luar haknya.

    Untuk korupsi 5 juta ini, kontraktor itu ‘main otak’, sampai uang 5 juta masuk ke kantongnya tanpa diketahui oleh pemilik anggaran, masyarakat dan pemerintah. ‘Main otak’ inilah masuk karya NALAR.

    Dalam kasus korupsi, biasanya beberapa orang sama-sama ‘main otak’ dan semua dapat bahagian. NALAR dari orang-orang ini sudah rusak, dan merusak secara bersama-sama tanpa merasa bahwa tindakan itu sama saja dengan mencuri.

    Bayangkan, jembatan yang harus dibangun dengan anggaran sekian, karena sudah dicuri maka campuran semen dibuat kurang kuat, besi yang dipakai dari mutu yang kurang, akibatnya jembatan yang seharusnya bertahan misalnya 40 tahun, baru dipakai 20 tahun, sudah rusak. Ini merugikan sesama pemakai jembatan, masyarakat dan pemerintah.

    NALURI orang-orang ini sudah tumpul, masyarakat dirugikan atau tidak, tidak diperhitungkan. Ada kontraktor yang mendapat keuntungan cukup besar, dan pada acara ‘amal’, orang lain yang hadir menyumbangkan seratus ribu rupiah, dia dengan bangganya menyumbangkan satu juta.

    Semua yang hadir berdecak kagum atas kemurah-hatian sang kontraktor. NURANI orang ini sengaja diberangus oleh dirinya sendiri sambil menghibur diri, yang penting saya dapat nama.

    Uang halal atau tidak, bukan urusan mereka. Saya dan kawan-kawan sendiri saja yang tahu, apalagi TUHAN, itu urusan rohani. Proyek yah proyek, TUHAN tidak ada urusan. Ini menandakan NURANI orang-orang ini sudah buta.

    Jadi ‘korupsi’ itu pembungkaman bisikan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Segala bisikan yang baik dan benar dari empat unsur dalam diri manusia ini tidak diindahkan.

    Yah, wajar kalau Negara memberikan kesempatan orang-orang ini untuk memurnikan bisikan empat unsur ini selama beberapa waktu di penjara. Sayang, jangan sampai hal ini terjadi lagi. Negara kita harus bebas dari korupsi.

  • Emansipasi Laki-Laki Suku Buna’ di Pedalaman Pulau Timor

     

    Emansipasi perempuan masih sering terdengar dalam kaitan dengan persamaan hak perempuan dengan laki-laki dalam berbagai sektor kehidupan. Tetapi emansipasi laki-laki, apa mungkin? Apa yang diperjuangkan oleh kaum laki-laki di kalangan suku Buna’ di Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur -NTT?

    Suku Buna’ ini hidup di pedalaman Pulau Timor, sampai sekarang, tahun 2020, diperkirakan masih sekitar 100.000 orang anggota suku Buna’.

    Kelompok ini tersebar di dua wilayah yang bersambungan, wilayah pertama, di Negara Timor Leste, sekitar 70.000 orang dan kelompok yang di wilayah kedua, ada di Timor bahagian Republik Indonesia.

    Mereka kira-kira berjumlah 30.000 orang yang menghuni dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Prov. NTT.

    Suku Buna’ berbahasa Buna’ dan mempunyai adat kebiasaan yang khas suku Buna’ termasuk sistim kekerabatan. Dalam masyarakat Buna’ dikenal dua macam ‘suku rumah’, suku ‘Malu’ dan suku ‘Aibaa’.

    Seorang laki-laki mengambil isteri dari suku A dan si isteri menjadi anggota suku dari laki-laki, suku B. Suku A, asal dari perempuan, disebut ‘Malu’, pemberi wanita. Suku B, suku dari si suami, disebut ‘Aibaa’, penerima wanita. Sistim perkawinan ini disebut, ‘Momen’, artinya, ‘Yang Utama’, patut dihormati.

    Si suami menjadi ‘Momen Mone’, laki-laki yang diutamakan dalam suku karena mendatangkan ‘Momen Pana’, seorang perempuan yang diutamakan di dalam suku si Suami. Semua anak-anak menjadi anggota suku Bapa, suku B. Mama mereka dari suku A, hanya dikenal sebagai suku asal, tapi baik mama maupun anak-anak sudah meninggalkan suku mereka, suku A, dan menjadi anggota suku B, suku Bapa.

    Sistim perkawinan ini sangat mahal dari segi materi, karena suku perempuan, yaitu suku A, memberikan beberapa bidang kebun dari suku mereka sebagai tempat usaha untuk hidup dari anak perempuan mereka yang sudah berpindah menjadi anggota suku B. Harta berupa uang emas dan perak diberikan kepada si anak perempuan yang telah berpindah suku, dari suku A ke suku B.

    Jalinan antara suku A (suku asal perempuan) dan suku  B (suku laki-laki) sangat erat karena hubungan darah ini. Suku B, suku suami membalas bidang-bidang kebun yang diberikan oleh suku A, (suku perempuan) dengan sejumlah hewan, kerbau, sapi dan kuda.

    Kalau dirupiahkan, dua belah pihak bisa mengeluarkan uang ratusan juta rupiah. Di sinilah letak kemahalan sistim ‘momen’ ini. Sejak tahun 1950an, sistim ‘Momen’ ini sudah tidak dipraktekkan lagi, kini hanya tinggal sejarah.

    Sistim perkawinan baru berlaku di kalangan suku Buna’ sekarang ini, ‘Ton terel’, bahasa Buna’, artinya: ‘Kawin Ikut’ atau ‘kawin masuk’, laki-laki tetap di suku asalnya, perempuan pun tetap di suku asalnya. Tidak ada perpindahan suku.

    Laki-laki datang, kawin dan tinggal di rumah suku isteri. Ada uang mahar, ‘belis’ dari pihak suku laki-laki ke pihak suku perempuan. Kalau dirupiahkan, hanya sekitar puluhan juta rupiah.

    Isteri tidak berpindah tempat tinggal, tetap di sukunya. Laki-laki yang datang dan diterima sebagai ‘mane pou’ (laki-laki baru) yang oleh saudara-saudari si isteri dihargai sebagai ipar dan orang tua si isteri menerima laki-laki ini sebagai ‘anak mantu’.

    Masalah muncul di sini, laki-laki tidak ada hak atas anak-anak, karena anak-anak ini anggota suku mamanya. Yang berhak urus anak-anak adalah paman mereka, saudara laki-laki dari si isteri. Sedangkan si suami, mempunyai tanggungan untuk mengurus para ponakannya di sukunya sendiri.

    Kalau si-ister meninggal dunia, laki-laki kembali ke tengah kaum keluarga di sukunya, dengan pakaian di badan. Kebun yang diusahakan bersama isiteri, tidak menjadi haknya karena tetap milik suku isteri. Anak-anak kandungnya dipelihara oleh keluarga isteri yang sudah almarhumah.

    Di sinilah letak perjuangan kaum laki-laki suku Buna’, mau ber-emansipasi, tuntut haknya, bagaimana bisa terlepas dari ikatan adat yang tidak mengakui haknya sebagai bapak kandung atas anak-anaknya.

    Sistim ini masih berlaku sampai sekarang. Akibat sosialnya, ialah, banyak laki-laki dari suku Buna’ memilih untuk kawin dengan perempuan yang bukan suku Buna’ supaya ada hak milik atas kebun yang diusahakan dan ada hak atas anak-anak kandung. Perkembangn zaman yang akan menentukan.

     

     

  • Obat dari Sudut Pandang Filsafat

     

    Manusia tidak bisa hidup tanpa obat. Bayi yang baru lahir digosok dengan minyak, obat untuk kulit. Bayi dimandikan  dengan air hangat dicampur dengan air daun-daunan tertentu. Ini obat menurut kebiasaan di masing-masing tempat di kalangan suku yang berbeda-beda. Obat itu satu kebutuhan dalam hidup manusia, untuk mencegah atau mengobati penyakit. Manusia akrab dengan penyakit sejak bayi sampai tua, maka dengan sendirinya manusia akrab dengan obat mulai bayi sampai usia senja.

    Apa sebenarnya obat itu? Obat hanya pelengkap bila sakit? Tidak, obat itu kebutuhan. Tubuh manusia pada saatnya mengalami kemunduran di sana-sini. Kemunduran inilah yang disebut sakit. Obat memulihkan kemunduran ini.

    Manusia mempunyai dorongan untuk bertumbuh (Nafsu) dan kalau mengalami gangguan, maka dibutuhkan obat melalui pengetahuan dan pengalaman (Nalar) dan dibutuhkan sesama manusia (Naluri) untuk memberi obat yang diketahui ada di dalam alam ini yang diyakini diciptakan oleh Pencipta (Nurani). (Bdk. 4 N: Kwadran Bele, 2011, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI).

    Obat itu diramu, ada yang obat kimia ada yang non kimia. Yang dari bahan kimia juga berasal dari alam dan tidak ada obat yang ada dan diadakan dari bahan di luar alam. Obat selalu dikaitkan dengan sakit. Kalau sakit minum obat. Obat dikaitkan pula dengan dukun, dokter. Mereka ini yang tahu dan berpengalaman dalam hal obat-obatan.

    Obat untuk orang sakit, dan orang sakit dipertentangkan dengan orang sehat. Ada dua kemungkinan, atau sehat atau sakit. Sakit itu kurang atau tidak sehat. Obat untuk orang yang kurang atau tidak sehat. Seluruh bagian tubuh manusia ini bisa mengalami kurang sehat atau sakit, dan untuk segala macam sakit itu ada obatnya.

    Manusia tidak dapat melepaskan diri dari obat karena manusia tidak mungkin sehat terus. Pasti akan mengalami sakit dan di situlah obat berperanan. Sampai sekarang, pada umumnya obat itu dikenal sebagai ramuan benda alami yang diramu sekian untuk mengatasi sakit ini dan itu.

    Padahal obat itu bukan hanya ramuan yang tampak dalam bentuk fisik, benda. Bukan. Obat itu adalah perasaan, non fisik, ditampilkan dalam ramuan rupa-rupa dan kemasan rupa-rupa, padat, cair, uap. Itu semua hanya penampilan sangat kecil dari obat yang sesungguhnya, yaitu rasa, perasaan.

    Sehat pun perasaan, sakit pun perasaan. Perasaan ini tampil dalam bahagian tubuh manusia sehingga dirasa sakit atau sehat. Sehat dibutuhkan obat yaitu sari makanan yang dikelompokkan dengan nama vitamin. Sakit pun dibutuhkan obat berupa pengganti atau tambahan pada bahagian tubuh yang mengalami kemunduran.

    Obat itu perasaan untuk memulihkan perasaan yang menimbulkan kemesraan. Rasa itu yang harus dirawat terus-menerus. Rasa itu muncul dari 4 N dan kembali ke 4N. Hidup manusia itu adalah gerak rasa dari pribadi kembali ke pribadi sendiri. Gerak rasa inilah yang membutuhkan obat dan kalau obat hanya dimengerti sebagai ramuan saja, maka manusia yang sakit tidak akan sembuh.

    Dia jauh dari kemesraan, itulah sakit yang sesungguhnya. Sembuh itu bukan semata karena obat ramuan, tapi sentuhan rasa antar sesama dalam hubungan segitiga antara ‘saya – sesama – DIA’. Hubungan yang mesra antara kita (saya-sesama-DIA) itulah yang disebut sehat. Itu terganggu, sakit. DIA itu TUHAN.