Category: Filsafat

  • Yakin Yang Baik

    Yakin yang baik. Kalau tidak yakin yang baik, jangan maju. Sebaliknya, kalau yakin bahwa itu baik, mengapa ragu-ragu? Hidup tidak ragu-ragu itu karena yakin bahwa semua yang ada di depan itu baik. Semua di depan itu baik. Kenapa? Karena disiapkan oleh YANG MAHA BAIK. Mana mungkin YANG MAHA BAIK pasang ranjau untuk kita yang IA sayangi. Jadi hidup penuh keyakinan bahwa yang di depan itu baik, yakin yang baik ada di depan.

    Lalu sering ada yang tidak baik itu dari mana?

    NAFSU kita ingin yang baik saja. Hanya sering lewat  batas  sehingga yang baik jadi tidak baik lagi. Mau dapat uang. Jalan pintas. Rampas orang lain punya hak. Ini namanya yakin yang baik pada hal tidak baik.

    NALAR kita ini diberi TUHAN untuk yakin bahwa begitu banyak ha baik ada di depan kita. TUHAN sedia semua itu baik adanya. Kita keliru pilih yang tidak baik. Tipu sesama itu tidak baik. Tapi atur, main otak, perdaya sesama. Ini yang namanya pakai salah NALAR.  Akibatnya, yang baik jadi tidak baik.

    Kita ada NALURI yang selalu suka menikmati yang baik. Ajak sesama untuk yakin yang baik dan nikmati yang baik, yah, itu yang namanya yakin yang baik. Ajak sesama yang terdekat atau yang jauh untuk hal yang tidak baik, dengan sendirinya yang terjadi, yang tidak baik itu. Ini bertentangan dengan kehendak dan rencana TUHAN YANG MAHA BAIK. Jadi sering terjadi yang tidak baik itu bukan dari orang lain, apa lagi dari TUHAN.

    NURANI kita selalu arahkan kita untuk yakin akan hal yang baik sehingga pikir, bicara dan buat yang baik saja. Tapi kalau arahan dari NURANI ini tidak diindahkan, dengan sendirinya yang tidak baik yang terjadi. Ini salah siapa? Diri kita sendiri. Jangan tuduh orang lain. Orang rencanakan yang tidak baik, kalau kita tidak ikut dan serahkan diri, maka kita luput dari yang tidak baik.

    Seluruh proses yakin yang baik ini adalah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Yakin yang baik ada di depan kita. Itulah hidup. SANG PEMBERI hidup mau yang baik saja untuk setiap kita ciptaan-NYA. Yakin, hakul-yakin.

  • Hati Bersih

    Hati bersih. Lawannya hati kotor. Tiap manusia menyadari hatinya bersih atau kotor. Bersih seluruhnya, tidak mungkin. Kotor seluruhnya, juga tidak mungkin. Yang pasti, selama manusia hidup di dunia ini, hatinya pasti kotor. Lalu kapan bersihnya? Bersih itu sesaat sewaktu dibersihkan lalu kotor lagi. Jadi pada dasarnya hati manusia itu kotor? Tidak. Pada dasarnya hati manusia itu bersih. Lalu bagaimana sampai jadi kotor sehingga harus terus dibersihkan?

    Manusia ada empat unsur dalam dirinya, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat unsur ini diberikan oleh Sang Pencipta, TUHAN,dari awal kehidupan setiap manusia. Kalau ada orang yang tidak percaya tentang pemberian TUHAN ini, maka dipersilahkan untuk berhenti membaca sampai di sini saja karena uraian filsafat seterusnya bertitik tolak dari adanya empat unsur, hadiah TUHAN ini yang diberikan kepada setiap manusia. Saya sebagai penulis artikel ini, mempunyai pendapat dan pendirian tak tergoyahkan tentang empat unsur hadiah TUHAN ini sebagai dasar penilaian kepribadian kita manusia.

    Hati bersih itu karena dibersihkan. NAFSU kita selalu ingin penuhi segala kebutuhan yang kita mau. Ini baik dan wajar. NALAR ikut mengolah keinginan NAFSU. Sementara itu NALURI kita sadarkan diri kita untuk hargai keberadaan sesama. NURANI kita siap awaskan untuk penuhi keinginan NAFSU sesuai pertimbangan NALAR dan kepentingan sesama yang diingatkan oleh NALURI, secara baik dan benar. Sebab TUHAN Yang menciptakan kita ini Sumber Kebaikan dan Kebenaran. Semua tindakan kita harus baik dan benar.

    NAFSU yang berlebihan, NALAR yang menyimpang, NALURI yang bingung,   NURANI yang kabur membuat hati kita yang bersih jadi kotor. Tidak baik lagi dan tidak benar lagi. Akibatnya, marah, iri, dengki, takabur, terjadi sebagai penampilan hati yang tidak bersih.

    Sebaliknya hati yang bersih akan tergambar pada wajah yang bugar,  otak yang segar, langkah yang tegar dan bathin yang binar.

    Bayangkan kalau kita semua manusia ini punya hati bersih.

  • Isi Otak

    Isi otak. Apa yang ada dalam otak, itulah isinya. Bisa juga kegiatan, isi apa-apa dalam otak. Dengan demikian otak ada isi dan isi otak menjadi kekayaan setiap pribadi manusia. Tidak ada satu otak pun yang tidak ada isinya. Setiap otak ada isi. Sekarang saya ketik huruf-huruf yang jadi kata lalu kalimat dan jadi uraian filsafat ini hasil dari otak yang ada isi dan isi otak yang dipancarkan. Isi otak semakin dikeluarkan semakin ada yang masuk dan semakin berisi.

    Otak saya sekarang penuh dengan uraian filsafat tentang empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita manusia ada NAFSU, unsur pertama yang mendorong kita untuk isi otak dan isi otak diaduk untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh NAFSU. Dalam otak ada isinya yang berputar oleh dorongan NALAR. Berbagai pengalaman dan pengetahuan tersimpan dalam otak dan menjadi bahagian dari isi otak. Isi otak ini tidak pernah berkurang. Terus bertambah dari saat ke saat. Ini hasil dari NALURI yang mendorong kita manusia untuk bergaul dengan sesama dan terus menambah isi dalam otak. Isi otak kita diolah oleh NURANI yang menapis sampai ada hasil yang nampak dalam dua kemungkinan, baik atau buruk.

    Isi otak kita kalau tidak dibagi kepada sesama, maka ibarat air dalam bak tampungan, akan membuat bak itu kotor dan berlumut. Isi otak harus dibagi agar ibarat bak air terus dikuras dan terus bersih dan isinya segar. Membagi isi otak tidak mungkin membuat otak kita kosong, kehabisan isinya. Semakin dibagi semakin berisi otak kita itu.

    Isi otak itu campur aduk antara yang yang baik dan yang buruk. Setiap pribadi mengisi otaknya dengan berbagai cara dan bahan yang dimasukkan pun tergantung pada tiap diri kita. Masukkan yang buruk, isi otak kita jadi buruk, kotor. Masukkan yang baik, isi otak kita jadi baik, jernih.

    Tiap pribadi kita diciptakan oleh TUHAN, Sang Pencipta dengan otak yang sudah ada isi sejak awal kehidupan. Isi ini yang berkembang karena terus dikembangkan lalu menjadi pusaka diri kita yang ditampilkan dalam setiap detak jantung kita untuk menapaki hidup ini langkah demi langkah.

    TUHAN Pencipta kita tetap menuntun kita untuk isi dan pakai isi otak kita dengan baik dan benar demi kedamaian dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia ini maupun sesudah terlepas bebas ke dalam hidup tanpa batas.

     

     

     

     

     

     

     

  • Saling Mendoakan

    Saling mendoakan. Kita manusia saling mendoakan. Kalimat ini sering diungkapkan dan dilakukan. Tapi juga sering diabaikan. Manusia sebagai pribadi dan kelompok sangat sering saling mendoakan. Saling mendoakan ini tidak bisa dibatasi dengan tempat dan waktu.

    Tinggal pertanyaan, doa kepada siapa? Tiap-tiap orang berdoa sesuai agama dan kepercayaannya. Ini yang sering terdengar dalam ungkapan harian. Agama? Kepercayaan? Agama itu tata ajaran dan aturan yang dianut sekelompok orang. Kepercayaan itu ada dalam diri setiap orang, tidak terbatas lagi pada agama. Kepercayaan lebih umum.  Tanpa lewat jalur agama pun orang percaya dan ungkapkan kepercayaannya. Keduanya, agama dan kepercayaan. Agama, dari mana, dari siapa? Kepercayaan, kepada siapa?

    Saling mendoakan. Itu oleh sesama untuk sesama dan arahnya kepada yang sama dan satu, TUHAN. Saling mendoakan ini berawal dari Nafsu yang ada dalam diri manusia untuk menikmati hal yang baik dan menyenangkan dalam hidup. Nalar dalam diri manusia bergulat untuk menemukan pengetahuan dan pengalaman yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai keberhasilan itu. Naluri langsung bekerja untuk menemukan dan membagikan hal yang baik itu kepada sesama. Hasilnya, sama-sama menikmati kenyamanan dalam hidup bersama. Nurani memuji si pendoa bahwa doanya dikabulkan oleh Sang Pemilik segala sesuatu, TUHAN. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Saling mendoakan itu kewajiban. Tidak saling mendoakan, kelalaian. Saling mendoakan mendorong setiap manusia berbuat baik terhadap sesama. Tidak masuk akal kalau saling mendoakan berbarengan dengan saling menciderai. Mulai dari dalam keluarga, setiap anggota keluarga saling mendoakan. Bukan sesewaktu, tetapi setiap saat.

    Saling mendoakan itu harus menjadi bunyi di bibir setiap mulut. Saling mendoakan itu menjadi denyut nadi setiap insan. Kalau ini yang terjadi, yang seharusnya terjadi, maka kita manusia akan tumbuh hijau subur seperti rerumputan di padang yang menghijau, tumbuh tanpa saling menindih.

    Saling mendoakan. Pekerjaan yang satu ini tidak membutuhkan tenaga luar biasa. Hanya dibutuhkan kesadaran dan kehendak. Dan itulah yang dikehendaki oleh TUHAN, PENCIPTA kita.

  • Pakai Otak

    Pakai otak. Ini bisa positif bisa negatif. Positif kalau pakai otak untuk cari kebenaran dan pakai kebenaran untuk tujuan yang baik. Negatif kalau sandarkan diri pada otak dan pakai otak untuk berdalih memperdaya sesama. Pakai otak itu ungkapan harian untuk sadarkan diri dan sesama dalam hidup mencari kenyamanan dan keamanan.

    NAFSU manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak, mengupayakan terjadinya kenyamanan dan keamanan.  Cari nasi dan makan kalau lapar. Abaikan dulu rapat, istirahat dan makan. NALAR manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak, menggali dan menemukan jalan yang tepat untuk hidup nyaman dan aman.

    NALURI manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak, mencari bantuan sesama supaya sama-sama nyaman dan aman. NURANI manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak menemukan keadaan yang nyaman dan aman tidak hanya dalam dunia yang kelihatan, tetapi dalam dunia yang tidak kelihatan, kuasa TUHAN. Ini kerjasama empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI yang menyadarkan diri manusia untuk secara utuh pakai otak menempuh hidup ini secara utuh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pakai otak itu biasa. Tidak pakai otak, tidak biasa. Otak ada secara nyata dalam bentuk gumpalan sumsum yang tersimpan dan terlindungi oleh batok kepala manusia. Otak dalam arti yang luas, segala upaya manusia mengerahkan empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI untuk hidup nyaman dan aman. Nyaman, segala kebutuhan terpenuhi. Aman, tidak ada gangguan, tidak mengganggu dan diganggu.

    Pakai otak itu perintah dari Sang Pencipta, TUHAN. Tidak pakai otak atau kurang pakai otak sama artinya melawan Kehendak TUHAN. Kelaparan dan kemiskinan adalah keadaan tidak cukup bahan untuk dimakan dan tidak cukup bahan untuk dimanfaatkan. Ini terjadi karena kurang atau tidak pakai otak.

    Pakai otak hasilnya kebutuhan tercukupi dan terjadilah hidup yang nyaman dan aman. Berarti, kalau ada manusia-manusia, entah pribadi atau kelompok, hidup kurang atau tidak aman dan nyaman, pasti itu karena kurang atau tidak pakai otak. Malah lebih buruk lagi, pakai otak untuk yang sebaliknya dari seharusnya, yaitu: tidak pakai otak untuk tujuan yang baik, tetapi pakai otak untuk mencelakakan diri dan sesama. TUHAN beri otak tetap untuk yang baik, hidup nyaman dan aman.

     

     

     

  • Cuci Otak

    Cuci otak. Ungkapan ini cukup mengerikan. Sering dikaitkan dengan aksi teror, orang ditangkap dan dijadikan alat untuk tujuan jahat.  Hal-hal jahat dipaksakan masuk ke otak orang menggantikan hal-hal baik. Cuci otak. Otak yang ada  dipakai untuk merusak otak yang lain.

    Cuci otak. Ungkapan ini jarang dipakai dalam arti yang baik. Selalu dikaitkan dengan upaya jahat untuk menyebarkan kejahatan. Cuci otak ringan yaitu upaya terencana lewat pendidikan mulai dari anak-anak sampai ke orang dewasa untuk memahami hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Malah sampai ke hal-hal yang paling mengerikan, yaitu: menyangkali adanya TUHAN. Inilah ulah manusia cuci otak sesama bukan untuk tujuan pembersihan tetapi pengotoran sampai pengaburan dan penggelapan yang membuat seseorang atau sekelompok orang takabur, salah memakai otak ke arah pembinasaan sesama oleh sesama.

    Cuci otak. Ada dua pihak. Yang menyuci dan yang dicuci. Yang menyuci memakai otaknya untuk merusak otak orang lain. Yang dicuci menyerahkan otaknya untuk dicuci demi tujuan yang jahat. Dua pihak berada pada posisi yang salah, malah jahat karena akibat dari cuci otak seperti ini, sudah ada dalam sejarah umat manusia, betapa banyak malapetaka yang muncul karena hal yang sangat sederhana ini, cuci otak.

    Cuci otak berawal dari NAFSU manusia untuk bersorak di atas derita dan petaka sesama. NALAR manusia mencari segala upaya mencuci otak manusia sekian rupa agar dapat menemukan dan menggunakan segala macam  cara dan alat untuk mencelakakan sesama. NALURI manusia yang seharusnya tertuju kepada kebaikan diri dan sesama, diputar-balikkan lewat cuci otak untuk menghalalkan tindakan merusak dan mematikan diri dan sesama itu baik dan luhur. NURANI manusia dibutakan lewat cuci otak untuk melihat yang gelap itu terang dan yang hitam itu putih. Dunia kasih dijungkir-balikkan menjadi dunia iri dan dengki. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Cuci otak model begini harap tidak terjadi lagi di belahan bumi ini di mana pun dan kapan pun. TUHAN Pencipta diri kita manusia yang dilengkapi dengan bahagian tubuh yang kita kenal dengan istilah otak, tidak tega melihat otak hasil karya-Nya diutak-atik dengan tindakan cuci-mencuci sampai hilang tujuannya, mewujudkan Damai dan Kasih.

     

     

     

     

  • Otak Encer

    Otak encer.  Pintar. Encer, cair, mengalir. Senang kalau anak otak encer. Encer atau tidak, penilaian manusia. Setiap manusia itu punya otak encer. Encer artinya mampu mencari dan mendapat jalan untuk kelangsungan hidup. Orang yang dilihat sebagai orang gila pun otaknya encer. Dia bisa hidup dan tetap hidup karena otaknya encer. Otak encer itu ada tingkat-tingkatnya. Tapi yang namanya otak, setiap pribadi manusia itu otaknya encer. Ini dipahami berdasarkan Pencipta manusia, TUHAN. Tidak mungkin manusia diciptakan dengan otak tidak encer dan hidup kesasar di dunia ini.

    Dalam diri manusia ada NAFSU untuk memperoleh segala kemungkinan supaya hidup penuh semarak dari saat ke saat. Ini membutuhkan otak yang encer. Hanya otak encer yang mengatur NALAR untuk belajar dari pengalaman dan memperoleh pengetahuan baru supaya hidup semakin hari semakin mekar ibarat kembang di padang subur. Manusia ada NALURI untuk kenal-mengenal antara satu sama lain supaya sama-sama hidup dan sama-sama ceria. Ini hanya mungkin kalau otak itu encer. Hasil dari otak encer itulah manusia mengalami ketenteraman dalam NURANI. Empat unsur dalam diri manusia ini, NAFSU yang mendorong, NALAR yang mencerahkan,  NALURI yang menggembirakan, membuat manusia mengalami kedamaian dalam NURANI sebagai tujuan hidup dari hari ke hari. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Otak encer itu hadiah langsung dari Pencipta. Tiap orang otaknya encer. Encer semakin encer melalui pendidikan dan pelatihan sesuai bakat dan minat tiap orang. Pengembangan otak untuk semakin encer adalah kewajiban dari setiap orang dan itu menjadi hak yang tidak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun. Hidup kita manusia ini entah dalam keluarga atau masyarakat luas menjadi indah dan penuh keceriaan karena otak-otak encer menyumbangkan serpihan keindahan pada setiap sisi hidup di dunia ini.

    Menghambat encernya otak atau menyalah-arahkan hasil encernya otak adalah ulah salah dari manusia yang salah olah aliran encernya otak. Pencipta kita, TUHAN, senang dan puas karena tujuan Ciptaan-Nya tercapai lewat pengembangan dan pemanfaatan otak yang encer oleh setiap manusia selama diberi kesempatan untuk menata diri dan alam sekitar lewat kegiatan otak-otak yang encer.

  • Otak Dingin

    Otak dingin. Dingin ada kaitan dengan damai. Otak dingin terpancar di wajah yang ramah, tangan yang terentang tenang. Ini yang diharapkan terjadi setiap saat dalam diri manusia dan antara sesama manusia di dunia. Otak dingin tidak berkaitan dengan suhu. Otak dingin ada kaitan dengan penampilan seluruh diri pribadi manusia. Otak dingin menyejukkan diri dan sesama. Otak dingin mempengaruhi tangan yang dingin. Apa saja yang disentuh, entah itu manusia atau alam sekitar, jadi dingin seolah ditetesi embun pagi hari.

    Dalam diri kita manusia ini ada NAFSU yang menginginkan kesejukan. Naungan yang teduh di tengah teriknya matahari dicari oleh dorongan NAFSU kita untuk menghirup segarnya udara. Hidup yang segar itu kerinduan setiap kita yang muncul dari NAFSU yang menggelora dalam dada. Otak yang dingin saling menyejukkan antara sesama dan terpercik pada alam sekitar.

    Dalam diri kita ada NALAR yang senantiasa mengupayakan agar diri kita berada dalam suasana yang sejuk oleh dinginnya otak. NALAR yang sejuk mengarungi samudera yang teduh.

    Kita ada  NALURI untuk berpikir yang damai bagi diri dan sesama dan itu terucap dalam kata penuh irama puitis dan terukir lewat karya agung memahat arca manusia bak dewata. Inilah hidup  tuntunan NALURI lewat otak yang dingin.

    Manusia ada NURANI yang disiapkan oleh Sang Pencipta untuk setiap kita agar otak yang dingin mengalirkan sejuknya hidup lewat seluruh pembuluh hidup menghidupi setiap sel dalam diri kita.

    Empat unsur dalam diri kita manusia ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI bekerjasama mengeja-wantahkan arus hidup dari otak yang dingin. TUHAN Pencipta kita sudah atur yang ini, otak dingin untuk sejukkan hidup. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mengapa kita mau memanas-manasi diri dan sesama dengan iri dan dengki?

    Lihat, TUHAN tersenyum melihat kita saling merangkul dengan otak dingin dalam teduhnya rindang relung langit lazuardi.

  • Manusia Cinta Damai

    Damai

    Damai. Kata ini sudah basi. Cuma penghias bibir. Damai di mulut, benci di hati. Puji di depan, cemooh di belakang. Siapa pun kita, namanya manusia, ingin damai, hidup damai, dengan diri dan semua orang. Ini yang asli, asasi. Karena kita manusia memang berasal dari Sumber DAMAI dan sedang kembali ke Sumber DAMAI itu dengan damai. Nafsu kita diberi TUHAN untuk nikmati damai. Nalar kita hadiah dari TUHAN untuk pikir damai. Naluri kita itu diadakan untuk cari damai. Nurani kita diberi TUHAN untuk cinta damai. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Damai. Ini tujuan utama pertemuan ‘G20’. Bicara dagang, bicara sosial, bicara politik, bicara hutan, bicara pangan, semua dalam suasana damai untuk hidup damai. Kalau diri penuh damai dengan sendirinya lingkungan, baik manusia maupun alam, terisi damai terpancar sinar damai. Duduk damai, berdiri damai, kerja damai, makan damai, tidur damai. Apa yang sebenarnya kita manusia cari? Negara-negara ‘G20’ untuk apa bertemu buang waktu buang tenaga dan dana, datang bersidang, untuk apa? Untuk damai. Kalau demikian kata damai tidak lagi basi hasil basa-basi.

    Damai. :Pikir damai, omong damai, buat damai, hidup damai. Kalau sudah damai, untuk apa lagi itu pesawat tanpa awak intip sana intip sini cari markas musuh padahal tidak ada musuh. Roket-roket pembawa bom, dilebur jadi traktor pembajak sawah. Kapal selam pembawa torpedo dijadikan kapal wisata selam. Senapan otomatis diracik ulang jadi besi penggantung jemuran. Peluru tajam dicopot bahan peledaknya dijadikan peluit wasit liga sepak bola. Apa salahnya, apa sulitnya tinggalkan segala macam senjata pembumuh diganti dengan pisau roti?

    Para anggota ‘G20’, pikirlah hal-hal yang menjurus ke damai dan singkirkan jurang permusuhan dan buang itu meriam, peluru kendali ke jurang dalam terkubur di sana. Jet tempur dijadikan kendaraan angkasa mainan anak-anak terjun payung terbang melayang. Ini bukan igauan di siang bolong, ini bukan ramalan si pembohong. Ini pasti jadi kenyataan asal hati dipadati damai dan damai dari hari ke hari.

    Datang sidang runding damai, jadikan ‘G20’ pendekar damai, bawa damai, tebar damai, hidup damai.

    Lihat, TUHAN tersenyum!

    Air

    Air. Pakai air. Hemat air. Ambil air. Tampung air. Cari air. Bagi air. Jaga air.

    Ini semua kegiatan manusia dalam kaitan dengan air. Bumi tanpa air, air tanpa bumi, tidak ada.  Kenyataan, bumi tampung air, air tertampung di bumi. Satu kesatuan. Dua kenyataan, ada air, ada bumi. Air bahagian dari bumi, bumi bahagian dari air. Menyatu. Manusia ada di bumi yang ada air, air ada di bumi bersama manusia. Tak dapat dibayangkan bumi tanpa air yang ada manusia. Sebaliknya, tak dapat dibayangkan air ada di bumi yang tidak ada manusia. Tiga komponen: bumi, air, manusia. Ketiganya,  sama-sama ada dan saling mengada, saling memelihara. Aktor utama adalah manusia, kita ini. Perilaku manusia menentukan keberlangsungan adanya bumi, air dan diri manusia itu sendiri.

    Nafsu minum dalam diri manusia mendorong manusia untuk berperilaku yang wajar terhadap air yang ada di bumi. Nalar manusia mengupayakan segala daya agar ada terjaga air di bumi. Naluri manusia saling mengajak antara sesama manusia agar memakai air secara terukur supaya sama-sama dapat air secukupnya. Nurani manusia menyadarkan manusia untuk menyukuri bahwa ada bumi dan air yang saling menampung agar dapat dinikmati manusia. Empat unsur dalam diri manusia, ini: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani membuat diri manusia itu sadar-sesadar-sadarnya bahwa manusia menghuni bumi yang ada air atas penyelenggaraan di luar kemampuan diri manusia, dan yang menyelenggarakan itu adalah TUHAN, PENYELENGGARA segala sesuatu yang baik dalam keberadaan segala yan ada. Pengada itu adalah Sang Maha Ada yang Ada dan tidak diadakan.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Perhatian kita tertuju pada air. Air ada di mana-mana, tetapi belum tentu di mana-mana ada air. Inilah hal krusial bagi manusia. Semua manusia yang dulu pernah ada, sekarang ada dan yang akan ada bergantung pada air yang ada di bumi ini. Bumi ini tempat tampung air. Kalau bumi rusak, air tidak tertampung dengan baik. Kalau air tidak ditampung dengan baik, bumi sendiri akan retak dan proses hancurnya bumi cepat atau lambat, akan terjadi. Ini alamiah. Manusia penanggung-jawab pertama dan utama untuk tetap adanya keberlangsungan bumi tempat air ditampung dan air ada dalam jumlah yang cukup untuk manusia.

    Tragedi besar akan terjadi kalau air jadi langka atau bumi sebagai tempat tampungan air itu rusak lalu manusia kekurangan air.

    Manusia bertangggung jawab agar bumi utuh dan air cukup. Pengrusakan bumi sama artinya dengan peretakan wadah penampung air. Hanya orang gila saja yang menampung air dalam ember bocor. Nafsu ada mau pakai air tapi nalar tidak dipakai untuk cukupkan air. Naluri ada untuk bagi dan pakai air sama rata tapi sementara itu bertengkar menumpahkan air di gelas yang ada di tangan sesama. Nurani cemas dan timbul belas kasihan terhadap saudaranya yang merintih kehausan sementara dirinya minum dan mandi dalam kolam kelimpahan air. Inilah ulah manusia, kita-kita ini, yang serakah tinggal di bumi yang satu, yang sama-sama butuhkan air yang TUHAN adakan.

    Kita manusia, siapa pun saja, pikul tanggung jawab untuk tersedianya air secukupnya agar setiap kerongkongan tidak kering kerontang. Air yang ada diatur bersama untuk kepentingan bersama. Mulai dari keluarga, tetangga sampai ke tingkat perkumpulan kita manusia di bumi ini sama-sama sadar, butuh air dan atur air. Air yang ada tidak dibuang sesuka hati. Air yang tertampung tidak dikotori dengan limbah apa pun saja.

    Apakah kita perlu malaikat turun dari surga untuk bantu menata bumi, menjaga air bagi kita manusia?

    Tanggung-jawab paling besar ada di pundak para pemimpin, orang-orang hebat yang ada kuasa dan ada uang untuk tersedianya air bagi setiap mulut  insan di bumi ini. Semua pemimpin itu dalam kelompok kecil atau kelompok besar, kalau berkumpul, jangan hanya bicara dagang dan perang, pabrik dan produk. Lupa bicara air? Konyol. Silahkan sewa hotel berbintang lima, rapat di aula berhiaskan berlian, tapi kalau lupa bicara air, maka pertemuan itu ibarat manusia-manusia buta mata dan buntu otak yang tidak peduli pada orang-orang kecil yang kehausan  berjingkat ayun gayung reot minta diisi air pembasah lidah yang layu.

    TUHAN, lindungi dan tuntun para abdi-Mu, siapa pun saja dia, yang berkumpul pada saat-saat khusus dan istimewa di tempat mewah,  agar hati dan budi mereka terbuka untuk bicara segala hal di bumi dan angkasa. Semoga mereka tidak lupa bicara AIR.

    TUHAN

    TUHAN. Ditulis dengan Huruf Besar. Berarti TUHAN yah, TUHAN. TUHAN yang pusat percakapan dalam artikel ini. Tulis tentang TUHAN. Tabu? Pantang? Tidak boleh? Dilarang? Dosa? Tidak. Sangat-sangat pantas dan layak untuk pikir, bicara, tulis malah serukan  Nama TUHAN !!! Mengapa? Karena TUHAN-lah asal segala sesuatu tanpa kecuali, DIA-lah Pencipta dan Pemilik alam semesta dengan segala isinya. TUHAN-lah Pencipta diri kita manusia, termasuk penulis artikel ini, Anton Bele bersama Tim Kompasiana, semua Sahabat Kompasioner dan semua-semua, siapa pun dia. Lalu Bapa-Ibu pemimpin ‘G20’, Uni Eropa dan sembilan belas Negara, termasuk Indonesia, di mana posisi mereka? Mereka pun sama, sama dengan kita semua,  sesama kita yang sama-sama hidup sesaat menghuni bumi ini yang tidak kuasai bumi ini, semesta ini, selain TUHAN.

    Ah, orang-orang yang harus disebut Tokoh-tokoh terhormat, Pemimpin-pemimpin hebat, disinggung dalam artikel ini berkaitan dengan pertemuan ‘G20’, apa urusannya  dengan TUHAN sehingga Nama TUHAN dibawa-bawa dalam artikel ini? Mereka Pemimpin Negara-negara, pemimpin rakyat, bukan  Pemimpin Agama. Apa urusannya dengan TUHAN? Di sinilah letak persoalan masyarakat manusia, kita-kita yang sekitar delapan milliar orang yang sedang memadati bola bumi ini. Kita berlaku seolah-olah kita ini ada hanya di samping TUHAN, di depan TUHAN, di luar TUHAN, malah teganya berpendirian bahwa TUHAN itu jauh, sampai dari antara kita begitu tegas menyatakan, TUHAN itu tidak ada.

    Nama TUHAN itu boleh diserukan oleh Pemimpin Agama di Rumah-rumah Ibadat saat beribadat. Di luar itu? Tidak perlu. Tidak perlu libatkan TUHAN di mana-mana. Urus dunia ini, urus uang, urus makanan, pakaian dan perumahan, terlebih urus senjata, apa gunanya libatkan TUHAN. TUHAN itu terbatas pada urusan rohani, urusan ilahi, urusan surgawi. Urusan agama.

    Urus negara ini, urus rakyat, urus ekonomi,  urus politik, itu urusan jasmani, urusan manusiawi, urusan duniawi. Dua hal yang berbeda, satu di kutub Utara satu di kutub Selatan, tidak bisa dipadukan, tidak bisa dicampur-adukkan. Urusan dunia, dunia. Urusan surga, surga. Jangan campur-adukkan pemimpin dunia dengan pemimpin agama. Kedua urusan ini, dunia dan agama, otonom, masing-masing jalan sendiri, urus diri sendiri. Yang adi-kodrati jangan dikait-kaitkan dengan yang kodrati.

    Semua pertanyaan dan pernyataan ini sedang ramai beredar dan diyakini sebagai kebenaran karena dilihat sebagai hasil pemikiran filosofis, pemikiran yang sedalam-dalamnya dan itulah kebenaran. Ternyata, kebenaran yang tidak benar!!! Itu ibarat ceritera kuno, orang-orang buta yang memegang gajah, yang pegang perut, gajah itu loteng, yang pegang ekor, gajah itu tali, yang pegang kaki, gajah itu tiang. Keterbatasan kita manusia menyimpulkan dan berpendapat rupa-rupa tentang TUHAN. Artikel ini pun pendapat yang sudah jadi keyakinan penulis. Berbeda pendapat, terserah.

    Yang berhimpun, bertemu dan bersidang dalam pertemuan G20 itu manusia-manusia. Setiap mereka ada Nafsu yang bersentuhan dengan urusan jasmani. Ada Nalar yang berkaitan dengan bidang Iptek. Naluri yang berkaitan dengan urusan sosial-politik. Nurani yang menyangkut urusan rohani. Empat urusan ini hanya dapat dibedakan, tidak bisa dipisahkan. Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani itu empat unsur yang diciptakan TUHAN sebagai kesatuan dalam diri setiap manusia untuk menjalani hidup di bumi ini. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau empat-empatnya itu berasal dari TUHAN, maka tidak bisa dipisah-pisahkan. Para Pemimpin G20 yang terhormat, yakinlah bahwa kalian bertemu dalam Penyelenggaraan TUHAN. Pesawat terbang yang dipakai, mobil mewah yang dipakai, hotel berbintang yang ditumpangi, semua itu dari TUHAN, milik TUHAN yang dibuat oleh manusia Ciptaan TUHAN. Nafas dan syaraf pun dari TUHAN.

    Berundinglah dalam TUHAN, karena TUHAN maha mengerti, maha melihat apa saja yang kalian pikirkan, ucapkan, tuliskan, rencanakan,  putuskan untuk dilaksanakan.

    TUHAN, berkati para Pemimpin kami yang bersidang bersama kami semua yang ikut bersidang dari jauh.

    Dunia ini milik TUHAN, kita ini Ciptaan TUHAN.

    TUHAN itu Pemilik dan Penguasa segala-galanya. Buatlah segala-galanya dalam terang TUHAN.

     

     

    Penulis

    Dr. Anton Bele, M.Si., lahir di Lakmaras, Timor, NTT, Indonesia, 18 April 1947. Tamatan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, strata 3, tahun 2011, menekuni bidang filsafat pembangunan. Menulis buku ‘Kwadran Bele’ tentang filsafat yang menguraikan hal-hal praktis tentang pembangunan.

     

  • Manusia Sama Di mana pun saja

    Beda

    Beda. Karena beda maka bertemu. Bertemu untuk mempertemukan yang beda itu. Beda itu mulai dari Nafsu. Yang satu mau ini, yang satu lagi mau itu. Ini harus dipertemukan. Beda karena ada Nalar. TidaK semua orang nalarnya itu sama. Perlu dipertemukan. Beda Naluri. Ini mau duduk, itu mau berdiri, yang sana mau berenang, yang sini mau makan. Tiap manusia ada naluri untuk bertemu karena ada tarik-menarik antara manusia itu  satu sama lain. Beda karena ada Nurani. Kesadaran dalam diri tiap orang berbeda-beda. Rasa sayang pada saya, anda, dia, kita, beda-beda. Itu terjadi dalam Nurani.

    Manusia dikaruniai TUHAN, empat unsur ini dalam diri pribadinya: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Tiap manusia menghayati empat unsur ini dalam dirinya secara berbeda-beda. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Beda. Mari bicarakan apa yang beda, di mana bedanya dan bagaimana dipertemukan. Beda itu mulai dari kemauan (Nafsu). Beda pula pengetahuan dan pengalaman (Nalar). Beda dalam kebiasaan bergaul (Naluri). Beda dalam kadar rasa kasih pada sesama dan percaya pada TUHAN (Nurani). Hahaaaa, karena beda-beda inilah maka manusia-manusia harus dan wajar bertemu untuk mempertemukan supaya jangan ada bentrokan tapi tetap berpelukan.

    Ada kelompok-kelompok manusia di dunia ini. Tiap pribadi saja ada beda. Begitu juga kelompok yang satu beda dengan kelompok yang lain. Ada kelompok yang namakan diri ‘G-20’, Uni Eropa dan 19 Negara di dunia ini. Termasuk Indonesia jadi anggota kelompok ini. Ada 20 perbedaan. Dua puluh kelompok manusia inilah yang bertemu untuk mempertemukan perbedaan. Pendapat berbeda, dipertemukan. Kebutuhan berbeda, dipertemukan. Kekuatan berbeda, dipertemukan. Untuk apa? Saling menolong. Bertolong-tolongan itulah tujuan utama dari pertemuan antara pihak-pihak yang berbeda. Bertemu untuk bertengkar, tidak boleh. Itu namanya pertengkaran. Bertemu itu untuk tingkatkan persahabatan, persaudaraan yang dihayati untuk sementara di dunia ini menuju persaudaraan abadi.

    Pertemuan antara orang yang berbeda dengan kepentingan berbeda menjadi indah dan penuh makna kalau pertemuan jadi perjamuan. Ada yang bawa nasi, ada yang bawa sayur, ada yang bawa daging. Inikan beda-beda. Tidak sama. Tapi nikmat waktu dipertemukan. Untuk memeriahkan, ada yang menyanyi, ada yang menari, ada yang bergurau. Itulah pertemuan antara semua yang berbeda minat dan cita-rasa.

    Manusia berbeda dengan kepentingan berbeda. Bertemu. Semua manusia itu harus sadar bahwa hidup dalam perbedaan ini sementara. Ini  harus disadari supaya kita yang sementara hidup ini yakin bahwa tidak selamanya hidup. PEMILIK kita, PENCIPTA kita, TUHAN, DIA-lah yang menjadi Awal dan Akhir dari yang beda-beda itu. Beda supaya saling melengkapi. Beda itu kekayaan. Beda itu Rahmat. Pertemukan yang beda itu supaya kita hidup ini entah di belahan bumi mana pun tetap beda sambil menikmati Rahmat dari Sang PEMBERI RAHMAT.

    Angkatan

    Angkatan. Harap Negara-negara ‘G20’ membahas angkatan-angkatan seperti angkatan kerja, angkatan muda dan secara khusus membahas empat angkatan yang membawa mala-petaka bagi manusia. Empat angkatan itu ialah: Angkatan Perang yang terbagi dalam tiga angkatan: Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Seharusnya empat angkatan ini tidak boleh ada di antara manusia di dunia ini. Hapus. Tapi apa daya. Manusia sudah terlanjur begitu akrab dan terbiasa dengan adanya empat macam angakatan ini sampai berjuta-juta orang disekolahkan, dilatih dan melamar untuk jadi anggota dari empat angkatan yang berbahaya dan membahayakan hidup manusia.

    Ini kehendak TUHAN? Pasti, pasti dan pasti bukan kehendak DIA, sumber segala DAMAI.

    Angkatan yang empat ini ada akibat takaburnya Nafsu serakah kita manusia merampas dan menjarah milik sesama.

    Nalar diperas untuk menciptakan segala macam senjata demi membela diri, menyerang sesama.

    Naluri menjadi tajam untuk memilih dan memilah sesama antara kawan dan lawan. Kita duduk berkumpul tanpa rasa aman karena sedang memata-matai dan di mata-matai.

    Nurani ditumpulkan untuk setuju saja bahwa membunuh itu sah dan halal kalau dia itu musuh.

    Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani diselewengkan dan hasilnya ini, perang. Muncul angkatan perang, angkatan darat, laut dan udara.

    TUHAN selalu siap beri ampun dan ampun berlipat ganda bagi kita manusia yang pemutar-balikkan arti dan makna ‘4N’ yang seharusnya didaya-gunakan untuk kesejahteraan malah diarahkan untuk saling membinasakan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kelompok G-2o ada dan diadakan untuk cinta damai benci perang. Tapi apa yang terjadi? Perang di mana-mana cuma ditonton. Negara-negara  dalam kelompok G-20 sendiri ada dalam suasana permusuhan dan peperangan. Entah perang panas atau perang dingin. Itu tetap namanya perang. Di sinilah letak adanya angkatan perang.

    Ada ungkapan kuno, ‘Si vis pacem para bellum’, ‘Jika engkau menghendaki kedamaian, maka siapkanlah perang’. Ungkapan yang mengerikan. Masa’ mau damai, perang dulu. Pantas uang kalau di-rupiah-kan, dalam jumlah triliunan dihabiskan untuk kegiatan yang satu ini, buat alat perang dan berperang. Letakkan pacul, angkat senjata. Pabrik sepatu diganti dengan pabrik senjata. Itulah kebutuhan untuk perang. Tiga angkatan yang disatukan dengan nama angkatan perang diadakan oleh setiap negara dan kehebatan satu negara diukur dengan berapa kuatnya angkatan perang yang dimiliki.

    Ironis. Sementara mulut berbusa-busa, pidato berkoar-koar serukan damai, tangan tetap genggam senjata, jari di pelatuk untuk siap muntahkan peluru terarah ke jantung sesama. Mau akui atau tidak, sebenarnya kita seluruh penduduk dunia saat ini munafik. Tangan kanan di atas meja, jari-jari jepit alat tulis tanda-tangan pakta perdamaian sementara tangan kiri di kolong meja genggam granat siap diledakkan.

    Pakta

    Pakta. Perjanjian. Kita manusia ini yang buat perjanjian. Apa saja dijanjikan untuk dibuat. Perjanjian itu antara dua pribadi, mulai dari keluarga sampai kepada bangsa-bangsa di dunia ini. Dalam keluarga, ada perjanjin antara laki-laki dan perempuan untuk berumah-tangga, entah itu perjanjian secara adat atau agama, pokoknya perjanjian yang saling mengikat.

    Perjanjian terjadi karena dua pribadi, masing-masing terdorong oleh Nafsu untuk membuat atau mendapat sesuatu yang sudah dipertimbangkan dengan Nalar sambil mempertenggangkan sesama atas dorongan Naluri dalam keputusan sesuai Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Perjanjian yang paling aneh dan paling kejam adalah perjanjian untuk saling membunuh. Ada perjanjian yang dibuat dengan  sengaja, penuh kesadaran, dengan tahu-mau dan terencana.

    Perjanjian untuk perang. Siap perang kalau salah satu kawan diserang. Lawan sudah diketahui dengan jelas. Untuk mengetahui kekuatan dan kekurangan lawan, mata-mata disebarkan. Hidup saling curiga itu dianggap biasa dan upaya pertahanan diperkuat dari hari ke hari. Semakin kuat, semakin  hebat.

    Pakta. Perjanjian. Perjanjian yang satu ini yang sedang terjadi dan dibanggakan di dunia, perjanjian pertahanan, pakta pertahanan. Dengan penuh kebanggaan negara-negara di dunia ini pamerkan kekuatan, manusia dan senjata.

    Militer. Siapa yang lebih kuat. Perlengkapan perang itu lengkap kalau ada perlengkapan angkatan darat, udara dan laut. Semua berlomba untuk memiliki senjata, semakin canggih semakin disegani.

    Nafsu saling mengganggu selalu ada dan terus dikobarkan. Nafsu perang ini disalut dengan istilah manis, nasionalisme, cinta tanah air, siap bela Negara. Karena ada musuh, Nafsu bertahan pun dengan sendirinya muncul. Kalau sendiri tidak kuat, ragu-ragu, dibuatlah perjanjian pertahanan, pakta pertahanan. Satu diserang semua bangun untuk menyerang penyerang. Serentak.

    Dlam kelompok ‘G2o’ secara terang-terangan  mempunyai pakta sendiri-sendiri. Bertemu muka manis, jabat tangan, saling merangkul, sementara di belakangnya siap-siaga, melihat, mengintai, jangan sampai diserang. Rasa cemas menghantui pertemuan. Sengaja rasa cemas ini dipendam dengan dalih, menahan diri.

    Tangan berkeringat menggenggam senjata. Setiap saat senjata siap menyalak. Sementara itu terus bicara, runding siang malam, kerjasama, janji,  saling menolong. Tapi pedang tetap digenggam, terhunus, siap diayun. Ini sangat ironis. Kemunafikan global.

    Kapan pakta pertahanan keamanan dihapus sehingga kita manusia di dunia ini bisa hidup aman dan nyaman? Mimpi? Tidak. Harus dihapus karena pakta seperti itu salah satu bentuk penjajahan dari yang kuasa dan kuat atas yang lemah dan dijajah.

    TUHAN tidak ciptakan kita manusia untuk saling menjajah. Saling menolong. Itulah kewajiban kita.

    Hak

    Hak. Semua manusia ada hak. Hak atas apa saja, kecuali hidup. Tidak ada satu manusia pun yang ada hak atas hidupnya sendiri maupun hidup orang lain. Lalu hidup itu bergantung pada lingkungan hidup. Seluruh alam semesta ini adalah lingkungan hidup untuk ada kehidupan. Jadi lingkungan hidup itu bukan hanya terdiri dari tumbuhan dan hewan yang hidup tetapi seluruh isi alam ini adalah lingkungan hidup. Kalau begitu, manusia tidak ada hak atas hidup sekaligus atas lingkungan hidup. Hak itu hanya ada pada pemiliknya, yaitu TUHAN. Alam ini ada Pemiliknya. Lalu kita manusia ada hak apa atas milik Sang Pemilik? Kita hanya ada hak untuk pelihara dan pakai sesuai kebutuhan. Kalau ada hak demikian, dengan sendirinya ada kewajiban untuk jaga, atur dan pakai sesuai kebutuhan.

    Kita manusia ada Nafsu untuk pakai hak itu. Hak itu harus dipahami dengan pertimbangan Nalar yang jernih dan jujur. Hak juga harus dipakai dengan pertenggangkan sesama manusia secara adil . Dan yang paling utama, hak itu harus dipakai sesuai bisikan Nurani yang mengatakan bahwa segala yang ada ini ada Pemiliknya, yaitu TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kelompok mana pun termasuk kelompok ‘G 20’ yang terdiri dari Uni Eropa dan 19 Negara di dunia ini kalau bertemu, bicarakan kewajiban lebih utama dari pada hak. Kalau mulai bicara hak, maka pasti akan ada pertengkaran tidak ada ujung. Hak bisa bergeser dan berubah sewaktu-waktu. Kewajiban, tidak. Sejak awal kita manusia tercipta sampai akhirat, kewajiban tetap kewajiban, tak berubah dan tak tergeser, tak bertambah tak berkurang. Tetap. Apa itu? Kasih. Kasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Ini ditetapkan oleh TUHAN.  Itulah kewajiban.

    Kelompok ‘G-20’ kalau adakan pertemuan, itu pertemuan Kasih. Bukan pertemuan untuk kali-bagi hak. Pertemuan untuk saling sadarkan tentang kewajiban. Siapa bantu siapa. Itu kewajiban, bukan hak. Saling membantu. Itu bahagian dari Kasih. Semua manusia yang menyatakan diri anggota dalam Kelompok ‘G-20’ mempunyai kewajiban untuk saling mengasihi ke dalam dan ke luar. Bumi ini akan dihuni dengan penghuni yang tahu diri kalau tiap kita manusia sadar akan kewajiban yang pertama dan utama ini, saling mengasihi.

    Kita di dunia ini sudah tergelincir jauh ke dalam filosofi yang keliru tentang hak sekian rupa sampai untuk mempertahankan hak itu yang bukan hak, dibuat senjata tumpul – tajam, api – atom. Manusia tanpa senjata bukan utopia. Mulai sekarang, kita harus merubah pikiran kita, bicaralah tentang kewajiban dari pada hak. Hak menjerumuskan, kewajiban mengarahkan. Lomba buat makan enak dan bergizi dari pada lomba buat senjata canggih yang mematikan.

    Betapa indahnya hidup bersaudara di dunia ini. Wajib saling membantu, saling menolong, saling mengasihi. Inilah tema dasar untuk bertemu antara sesama manusia, termasuk pertemuan dari kelompok ‘G-20’.