Year: 2024

  • Perasaan

    Perasaan. Begitu banyak macam perasaan yang dirasakan oleh tiap kita manusia setiap saat. Ada empat macam perasaan penting yang saya kemukakan dalam tulisan singkat ini berdasarkan analisis sesuai filsafat kepribadian, 4N, Kwadran Bele (2011). Empat perasaan itu: 1. Senang, hasil Nafsu. 2. Gembira, hasil Nalar. 3. Puas, hasil Naluri. 4. Bahagia, hasil Nurani. Empat perasaan ini erat terpadu hanya beda di kuat lemahnya perasaan itu, mana lebih kuat. Contoh. Makan makanan kesukaan. Senang karena Nafsu terpenuhi. Ini yang paling kuat di saat itu. Senang sekali. Ikutannya, gembira di Nalar, puas di Naluri dan bahagia di Nurani.

    Perasaan. Senang lawannya susah. Gembira lawannya duka. Puas lawannya kecewa. Bahagia lawannya derita. Susah-duka-kecewa-derita  sangat tidak diharapkan oleh setiap kita. Tapi tetap dialami, tak terhindarkan. Kenapa itu terjadi? Yah, oleh diri sendiri. Perasaan itu buah dari ulah pribadi. Orang lain sebatas mencoba. Yang cicip itu diri dan yang rasa juga diri.  Perasaan tidak terlepas dari gerak hidup tiap kita. Sekarang rasa apa? Rasa ini itu. Yah, itulah perasaan.

    Perasaan. Tiap manusia hidup dari perasaan dan demi perasaan. Tidak ada hidup yang tidak berdasarkan perasaan. Awal dari perasaan dan akhir juga pada perasaan.  Akhir hidup kita adalah perpaduan empat perasaan ini, senang + gembira + puas + bahagia. Tiap orang mau alami empat perasaan ini maka  harus usahakan diri sendiri alami dan buat supaya sesama pun alami. Hidup suami istri adalah contoh konkrit untuk dua insan saling menolong untuk alami empat perasaan ini. Ganggu salah satu dari empat perasaan ini serentak tiga perasaan yang lain pun terganggu. Dengan sendirinya diri pribadi kita terganggu dalam hidup karena terbawa oleh perasaan.

    Perasaan. Memang ada istilah perasaan halus dan kasar. Halus karena ada tenggang rasa, perhitungkan perasaan orang lain. Kasar karena diri memang sudah kasar lalu kasar pula terhadap orang lain. Pakai perasaan berarti sendiri punya perasaan mau ditularkan kepada orang lain supaya sama rasa dalam arti positif.

    Perasaan. Hanya kita manusia saja merupakan makhluk ciptaan TUHAN yang mempunyai perasaan yang diatur oleh empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Seluruh alur perasaan itu terpadu dan melebur menyatu dalam Nurani. Itu yang diharapkan terjadi pada saat kita mengakhiri hidup di dunia ini membawa ke seberang perasaan senang abadi, gembira abadi, puas abadi, bahagia abadi.

  • Tugas + Tepat + Tetap + TUHAN

    Tugas tepat tetap dalam TUHAN. Ada empat T, tugas itu hasil Nafsu, tepat itu hasil Nalar, tetap itu hasil Naluri dan TUHAN itu hasil Nurani. Empat N dalam diri kita berfungsi membuat diri kita hidup senang hasil Nafsu, gembira hasil Nalar, puas hasil Naluri dan bahagia hasil Nurani. Itulah istimewanya kita manusia, dikaruniai TUHAN empat unsur dalam diri kita sehingga kita hidup penuh gairah memenuhi panggilan TUHAN untuk penuhi bumi, pelihara dan manfaatkan bumi ini secara baik, benar, bagus dan kudus. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tugas. Segala tindakan kita itu adalah tugas. Sesudah bekerja seharian, diri saya perlu istirahat dan tidur. Kerja, istirahat dan tidur itu adalah tugas. Penuhi tugas ini, senang, gembira, puas dan bahagia.

    Tepat. Tugas yang tepat untuk pribadi yang tepat memang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Tugas itu sesuai dengan hukum kodrat. Pria perkasa wanita ayu adalah karya TUHAN untuk setiap pribadi kita tepat untuk tugas yang tepat. Dan ini tetap. Tidak pernah pria berganti dengan wanita untuk melahirkan anak. Itu tugas tetap dalam lindungan TUHAN.

    Tetap. Manusia tetap bertugas mulai dari bernafas pun adalah tugas tetap untuk diri menghirup dan menghembuskan udara dan tugas ini tak tergantikan oleh diri yang lain. Tetap. Supaya hidup tetap bertugas. Tugas apa? Tugas jaga hidup, lanjutkan hidup.

    Tiga hal ini, tugas, tepat dan tetap diperintahkan oleh TUHAN kepada kekasih-Nya, yaitu setiap kita ini. Hidup di dunia ini menjadi indah penuh gairah karena tiga T ini, tugas, tepat dan tetap terlaksana oleh tiap diri kita dalam naungan kasih TUHAN.

    Tugas saya, anda, dia, kamu, kita, mereka tepat sesuai dengan bakat dan kemampuan kita dan tetap terlaksana dalam TUHAN.  Itulah yang membuat hidup kita senang + gembira + puas + bahagia, baik di dunia ini maupun di surga kelak.

  • Mulus

    Mulus itu biasanya halus. Halus mulus. Lewat filsafat ‘Kwadran Bele’ kata mulus ini kalau didalami maknanya, maka erat berkaitan dengan kata-kata, lurus, tulus, lulus dan kudus. Jadilah satu rumpun kata terdiri dari enam kata Indonesia, halus + mulus  + lurus + tulus + lulus + kudus. Enam kata ini boleh dicampur-adukkan tanpa perlu diurutkan sesuai penting tidaknya tiap kata itu. Yang jelas, enam kata ini berkaitan dalam arti memberi arti kepada hidup manusia yang harus seperti itu. Ini satu bukti kekayaan bahasa kita, Indonesia, sehingga kalau berfilsafat seperti ini, tidak perlu memakai bahasa asing, Yunani, Latin, Sansekerta, Inggris, Jerman dan lain-lain. Itu tanda kurang menghargai milik sendiri, bahasa Indonesia.

    Mulus. Mulus itu sifat dari   empat unsur yang ada dalam diri kita manusia: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Nafsu, keinginan dalam diri kita kalau diatur dengan baik, benar dan bagus, maka jalannya mulus. Makan. Nasi yang kita makan hasil keringat kita sendiri yang diolah dari beras yang baik mutunya, maka ditelan dengan mulus dan dicerna dengan mulus oleh usus kita. Nalar, daya pikir kita itu mulus sejauh yang kita pikir itu hal-hal yang baik, benar dan berguna untuk diri dan sesama. Naluri kita mendorong diri kita untuk hidup mulus, tanpa berperkara siang malam dengan sesama, mulai dari keluarga, tetangga sampai masyarakat luas. Nurani kita menjadi mulus tak bercacat kalau Nafsu terkendali, Nalar jernih, Naluri murni. TUHAN Pencipta kita menghendaki kita ada bersama di dunia ini untuk hidup mulus, tidak kasar, tidak ribut, tidak ceroboh.

    Mulus. Alangkah indahnya hidup yang mulus karena halus, lurus, tulus sehingga lulus dan dinyatakan kudus. Kita tidak boleh sesaat pun lupa akan asal kita yang dirancang oleh Pencita dari kudus ke kudus. Karena DIA adalah Mahakudus. Ini benar. Dan kebenaran ini jangan diaduk-aduk dengan pertanyaan aneh-aneh tentang arti asal dan tujuan hidup kita. Percaya saja bahwa hidup ini memang demikian. Mulus dari TUHAN, mulus dalam TUHAN dan kembali ke TUHAN dalam keadaan mulus. Hidup yang mulus itu membuat diri kita senang, hasil Nafsu, gembira hasil Nalar, puas hasil Naluri, bahagia hasil Nurani. Cukup, itu saja.

  • Lurus & Lulus & Tulus & Kudus

     

    Lurus & Lulus &Tulus & Kudus. Empat kata ini erat berkaitan satu dengan yang lain. Empat kata ini tertanam dalam diri setiap orang. Pribadi setiap orang itu terdiri dari empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Satu kesatuan. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Lurus erat kaitannya dengan NAFSU. Lulus ada hubungan dengan NALAR. Tulus menyangkut peran NALURI. Kudus itu ukuran untuk NURANI. Setiap manusia merindukan untuk hidup yang Lurus & Lulus &Tulus & Kudus. Hidup manusia mulai dari keluarga sampai masyarakat luas, kalau empat keadaan ini terwujud maka akan terjadilah suasana yang aman dan damai.

    Lurus. Tidak bengkok. Ikut aturan sesuai isi aturan itu. Itu namanya lurus, tidak tambah-kurang isi aturan. Aturan mengatakan, jangan menghina sesama. Kalau menghina, ini yang namanya bengkokkan aturan, akibatnya hubungan antara yang menghina dan yang dihina tidak lurus lagi.

    Lulus. Ada ujian, kerjakan dengan baik, jawab setiap soal dengan benar, maka dinyatakan lulus. Hidup ini ada banyak tantangan, kesulitan yang namanya  ujian. Hadapi tantangan dan atasi kesulitan dengan tabah dan gagah, itu baru namanya lulus. Bangga sudah tempuh ujian dengan baik. Hidup ini ujian. Hidup baik, lulus. Hidup tidak baik, tidak lulus. Semua kita harap dan berjuang untuk lulus.

    Tulus. Tulus itu seperti air yah air, tidak minyak. Minyak yah minyak, tidak air. Apa adanya. Tulus ditambah kata ikhlas. Itu tampak dari beningnya budi tenangnya hati. Orang tulus budi halus. Hidup seperti inilah yang dikehendaki oleh Pencipta kita, tulus seperti merpati yang makan apa yang ada di depannya dan tidak merampas dari jatah sesama.

    Kudus. Gabungan ketiga kata ini, lurus, tulus dan lulus, jadilah diri kita itu kudus. Kudus itu bukan sesudah mati, tapi selama hidup ini harus kudus. Itu macam apa? Yah, macam adanya Pencipta kita, TUHAN, Yang Mahakudus sehingga kita ciptaan-Nya pun harus kudus.

    Hidup kita jadi indah, segar mekar karena lurus, tulus, lulus dan kudus. Tugas setiap kita, kuduskan diri dan saling menguduskan sebagaimana yang dikehendaki oleh TUHAN. Caranya, yah, hidup kudus itu dengan hidup lurus, lulus dan tulus jadilah kudus.

     

     

  • Bantu

    Bantu. Bantu membantu. Itulah hidup. Hidup tanpa bantuan tidak mungkin hidup. Tiap diri kita butuh bantuan orang lain. Sendiri atur diri tanpa bantuan, tidak mungkin. Oleh karena itulah kata bantu ini harus menjadi kata kunci untuk hidup. Anggota tubuh kita saja ada dan bergerak karena baku bantu satu sama lain. Dalam diri kita manusia ini ada empat unsur yang saling bantu sehingga kita hidup. Nafsu bantu Nalar, Nalar bantu Naluri, Naluri bantu Nurani. Seterusnya, Nurani bantu Nafsu. Satu lingkaran bantu membantu antara empat unsur yang TUHAN adakan dalam diri kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Bantu. Saat kita berhenti membantu, saat itulah yang namanya kematian. Selama masih hidup, membantu dan dibantu jalan terus sehingga tiap diri kita mulai bangun pagi sampai tidur malam, hidup atas bantuan orang lain. Sebaliknya, diri kita pun bantu orang lain sehingga dengan saling membantu ini kita manusia menjadi satu kesatuan yang menghuni bumi ini dengan penuh tenaga untuk segala macam kegiatan. Bayangkan, makan nasi. Nasi di piring itu hasil bantuan begitu banyak manusia, mulai dari petani, penjual sampai kepada pemasak. Tanpa mata rantai bantu-membantu  ini tidak mungkin ada nasi. Oleh karena itulah tidak boleh lalai dalam membantu sesama. Tugas kita entah itu namanya tugas pokok atau tugas tambahan, semuanya itu mengarah kepada tugas bantu sesama.

    Bantu. Kegiatan bantu ini dirusak oleh diri kita sendiri kalau kita bantu itu dengan setengah hati atau bantu dengan harapan akan dibantu.  Lebih parah lagi kalau bantu itu dengan tipu muslihat untuk merugikan sesama yang dibantu dengan kedok bantu padahal ada niat untuk menyusahkan orang yang dibantu. Ada sejumlah anggaran untuk bantu orang yang rumah dan seluruh hartanya rusak diterjang badai dan banjir. Bantuan yang harus disalurkan sejumlah satu milyar rupiah, dicubit untuk kepentingan diri, seratus juta. Ini bukan bantu tapi curi. Kalau dana yang terkumpul berasal dari orang-orang yang baik hati atau dari Pemerintah, lalu dikorupsi, maka kita yang membantu dengan cara itu seharusnya dihukum dengan hukuman yang berat seturut peraturan perundang-undangan, tetapi hukuman yang paling berat itu ketenangan dalam nurani kita hilang.

    Bantu. Setiap orang dalam profesi masing-masing itu sejatinya membantu sesama. Ganjarannya, gaji atau honorarium yang diterima dari pihak yang ditentukan untuk mengatur itu. Imbalan atas jasa membantu ini secara lahiriah, ada dalam bentuk barang atau uang. Tapi imbalan yang tak ternilai harganya itu, ialah: Rahmat. Dari siapa? Dari TUHAN.

  • Sendiri

    Sendiri. Memang hidup ini sendiri-sendiri. Tidak ada manusia yang hidup gabung dengan diri yang lain. Biar kembar siam pun ada dua diri. Tidak ada diri kembar. Tetap sendiri. Ini erat kaitannya dengan tanggung-jawab. Perilaku tiap diri itu dipertanggung-jawabkan oleh pribadi itu sendiri bukan oleh pribadi yang lain. Hukuman atau pujian tetap sendiri yang dapat, bukan pribadi yang lain. Saling tolong, boleh. Tapi berbuat, itu sendiri yang berbuat maka sendiri yang dapat akibatnya. Karena apa? Karena dalam diri setiap kita ada Nafsu alami sesuatu itu manis atau pahit, ada Nalar untuk timbang sesuatu benar atau salah, ada Naluri untuk rangkul sesama erat atau renggang, ada Nurani untuk sesuatu itu baik atau buruk. Ini ada dalam diri sendiri dan tidak ada di dalam diri orang lain. (4N, Kwadran Bele, 2011)

    Sendiri. Lahir sendiri, mati sendiri. Tidak pernah lahir sama-sama dan mati sama-sama. Itulah hebatnya kita manusia. Oleh Pencipta kita tiap diri kita itu dimanja sendiri-sendiri tidak gabung sehingga porsi yang ada untuk setiap orang sendiri itu tidak kurang tidak lebih, pas-pas. Itulah kasih sayang dari TUHAN untuk kita. Tidak pernah berkekurangan dan tidak juga berkelebihan. Berkekurangan itu penyakit, berkelebihan itu penggarong. Sendiri pilih, mau sakit atau garong. Makanya pilih sendiri, jangan piih dua-duanya. Pilih yang lain, sehat. Sendiri sehat dan buat orang lain sehat. Sama-sama sehat. Caranya? Hidup sendiri-sendiri sesuai yang TUHAN beri. Sadar bahwa diri itu bisa kenyang dengan nasi satu piring, makanlah nasi sepiring, jangan dua piring.

    Sendiri. Jangan cari selamat sendiri. Mama ada untuk anak. Anak ada karena mama. Maka antara anak dan mama ada tali penghubung yang tak pernah putus, tali kasih. Ini kuncinya. Sendiri tapi tidak sendiri. Ibarat rumah, tiap-tiap ramuan ada perannya. Tembok perlu untuk penahan, atap perlu untuk pelindung. Utuh. Sendiri untuk sendiri buat yang lain itu tidak sendiri. Sama-sama sendiri dalam peran masing-masing. Saling topang dan jangan saling dorong. Sendiri jatuh itu salah sendiri. Tidak hati-hati. Supaya jangan jatuh, gandeng yang lain supaya sama-sama tidak sendiri. Sendiri ada dalam kesatuan sendiri-sendiri. Sendiri dengan sendiri bukan terpisah. Sendiri dengan sendiri yang lain itu satu, terikat, bukan terlebur.

    Sendiri. TUHAN adakan kita sendiri-sendiri dan DIA panggil pulang juga sendiri-sendiri. Kasih dari TUHAN itu tak terbagi. Sendiri kita nikmati sendiri-sendiri. TUHAN mahakasih.

  • Cinta diri

    Cinta diri. Diri itu siapa dan yang cinta itu siapa. Ini dua diri? Yah, memang dua diri. Diri yang cinta diri. Diri yang kelihatan ini dikendalikan oleh diri yang tidak kelihatan. Cinta itu terjadi antara diri yang tampak dan tak tampak. Diri yang satu dua sisi. Sisi yang tampak cinta yang tak tampak, sebaliknya yang tak tampak cinta yang tampak.  Itulah yang namanya cinta diri. Dalam diri kita ada Nafsu sebagai dorongan untuk nikmati sesuatu. Jadi mau kenyang. Itu perut punya mau. Tapi yang namanya Nafsu itu bilang, nasi satu piring cukup, jangan lebih. Nanti perut sakit. Inilah namanya cinta diri, Nafsu cinta sama perut sehingga isi secukupnya saja. Dalam diri kita ada Nalar untuk ingatkan diri bahwa nasi itu kalau sudah basi jangan makan. Itu bukti Nalar cinta perut sehingga mulut dan kerongkongan tidak kunyah dan telan nasi basi.  Naluri kita adalah bahagian dari diri yang cubit diri kita untuk makan ingat orang lain. Kita langsung setuju. Itulah Naluri yang cinta diri kita sehingga kita hidup aman dengan sesama. Nurani kita puji kita makan secukupnya sambil bersyukur kepada Pencipta tumbuhan padi yang jadi nasi. Nurani cinta diri kita untuk sadar akan keberadaan kita yang tergantung penuh pada Diri Sang Pencipta. Inilah cinta diri dalam arti yang sesungguhnya atas peran dari empat N dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Cinta diri. Diri ada dan diri dengan diri itu saling cinta. Ternyata ada diri-diri yang lain yang juga sama dengan diri saya. Maka muncullah kesadaran berupa kewajiban untuk cinta diri-diri yang lain itu. Jadilah hukum cinta antara sesama. Oh, hukum? Yah, hukum yang mempunyai dua sisi, larangan dan perintah. Cinta itu lawannya benci. Hukum cinta itu, larang  diri untuk tidak boleh benci diri dan sesama, dan perintah  diri untuk cinta diri dan cinta diri sesama. Hukum ini tidak dibuat oleh diri-diri kita ini. Hukum ini berasal dari Diri Pencipta kita. Dikenal dengan hukum cinta, hukum kasih.

    Cinta diri. Diri kita yang wajib cinta diri ini sadar bahwa ada diri yang lain.  Diri yang lain yang namanya manusia itu sama dengan diri saya sehingga disebut sesama. Dan suatu hal yang luar biasa, diri saya, anda, dia, kita, kamu, mereka, harus sadar sesadar-sadarnya bahwa ada Diri Yang lain Yang Mahasempurna yaitu TUHAN. Dia itulah yang suruh kita cinta diri dan cinta sesama. Maka sudah harus setiap diri kita cinta Diri Yang Satu ini, TUHAN. Lengkaplah cinta diri ini, cinta diri sendiri, cinta diri sesama dan cinta di atas segala cinta, diarahkan kepada Sang Maha-Cinta sumber dari segala sumber CINTA.

  • Bawa diri

    Bawa diri. Memangnya diri itu barang sehingga bisa dibawa-bawa? Bawa ke mana? Bawa ke siapa? Untuk apa? Bawa diri dengan kata lain, tampilkan diri. Diri itu ada dua. Diri luar dan diri dalam.  Diri luar yang kelihatan ini. Diri dalam yang tidak kelihatan. Diri luar itu kulit. Diri dalam itu isi. Duanya bisa beda. Bisa terjadi begini. Luar bagus isi buruk. Atau sebaliknya, isi bagus luar bagus.  Yang diharapkan itu dalam dan luar sama bagus. Ini yang sering disebut tampang. Diri yang dalam itu ada empat unsur. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Ini yang saya namakan 4N, Kwadran Bele, diumumkan dalam ujian disertasi doktoral tentang filsafat pembangunan di Fakultas Interdisiplin (FID) universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, tahun 2011. Karena itu dalam banyak artikel selalu saya tulis “4N, Kwadran Bele, 2011”.

    Bawa diri. Dua bagian dari diri ini bisa dibawa ke mana-mana dan setiap kali tampil di mana pun kapan pun selalu dalam bentuk bawa diri. Tidur pun bawa diri, dalam bentuk terbaring, ngorok, nyenyak. Makan juga bawa diri. Marah itu bawa diri. Tenang itu juga salah satu bentuk bawa diri.

    Bawa diri. Nafsu kita mendorong diri kita untuk buat sesuatu, contoh, menulis. Nafsu menulis membuat jari-jari kita bergerak entah memakai  alat tulis pensil dan kertas atau alat laptop. Nalar kita bekerja untuk timbang, tulis apa, pakai bahasa apa, untuk siapa. Naluri kita bekerja untuk tuntun kita bahwa menulis itu mempengaruhi siapa dan itu menyinggung perasaan atau menghibur orang. Nurani kita menyaring pekerjaan menulis itu santun atau tidak, membawa damai atau menyebar dengki. Inilah bawa diri yang dikendali oleh empat unsur dalam diri kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Bawa diri. Diri dibawa dari satu keadaan ke keadaan lain. Dari tidur ke bangun. Dari berdiri ke duduk. Dari mencinta ke membenci. Semua bentuk bawa diri ini harus memenuhi tiga syarat, baik, benar, bagus. Itu baru namanya bawa diri yang sesuai dengan kehendak dari Dia yang mencipta diri kita, sumber segala sumber yang baik, benar dan bagus. Kita hidup di dunia ini dalam rentang usia tertentu sebenarnya bawa diri sejak dari kandungan ibu sampai masuk haribaan pertiwi.

    Bawa diri. Setiap saat itu bawa diri. Setiap gerak itu bawa diri. Jadilah diri yang diri ini atau diri itu dan tidak ada diri yang sama dengan diri yang lain karena diri yang bawa diri itu tidak pernah sama dengan diri itu atau diri ini yang sekarang bawa ke sana sebentar bawa ke sini. Ke mana pun diri itu dibawa, tetaplah diri dan tak akan tertukar dengan diri yang lain. Karena apa? TUHAN Yang ciptakan diri kita ini Mahabijak, cipta diri kita begitu khas sehingga Dia sayang kita satu per satu sepenuhnya sesuai dengan diri yang kita bawa itu sejauh yang Ia kehendaki, bawa diri dengan cocok (Nafsu), bijak (Nalar), sopan (Naluri),  santun (Nurani). Diri yang jumlahnya milyaran di dunia ini kalau bawa diri dengan baik, benar dan bagus, maka itulah namanya Surga.

  • Kendali diri

    Kendali diri. Memangnya diri itu kuda? Kendali. Atau kekang. Kekang diri? Yah, dua-duanya sama arti, kekang diri, kendali diri. Ibarat kuda, dikendalikan agar ikut jalan sesuai kehendak tuannya. Begitu pun diri kita, harus dikendali. Setiap saat. Tidak boleh lepas kendali. Kalau diri dikendali, siapa yang pegang kendali? Yah, diri yang pegang kendali dan diri kendali diri. Hidup sering runyam karena diri lepas kendali. Hidup itu jalan. Diri harus ikut jalan itu. Makanya harus dikendali agar tetap ikut jalan itu. Bagaimana diri kendali diri? Dalam diri ada Nafsu. Karena ada Nafsu, diri kita ingin apa saja yang ia mau. Sabar, ada Nalar. Nalar inilah yang kendali Nafsu dengan berbagai pertimbangan sehingga Nafsu tidak seenaknya ikut Nafsu punya mau. Lalu ada Naluri. Naluri ini kendali diri kita untuk ingat ada diri-diri yang lain. Makanya diri kita kendali diri kita untuk tidak bersenggolan dengan diri yang lain. Terakhir ada Nurani. Nurani inilah pemegang kendali terakhir. Dia ibarat wasit, tiup sempritan kalau Nafsu + Nalar + Naluri lepas kendali lewat batas, langgar aturan. Nurani dengan tegas ingatkan, awas, ikut jalan. Dengan keras Nurani tarik kendali dan diri terpaksa ikut jalan yang dimaui Nurani. Kerjasama antara empat unsur inilah yang membuat diri kita dikendali. (4N, Kwadran Bele, 2011). Dalam kendaraan bermotor, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ini  ibarat rem yang terdiri dari minyak rem, kanfas, besi dan injakan yang serentak digerakkan bersama sehingga kendaraan terhenti dan tidak terperosok ke luar jalan.

    Kendali diri. Bayi pun sudah tahu kendali diri sehingga menetek susu ibu sebatas ruang ususnya tersedia. Seluruh anggota tubuh diri kita manusia tersusun dalam sistem kendali yang saling mengendalikan. Kendali diri bukan kungkungan yang menyengsarakan. Kendali diri berarti kegiatan yang berjalan dengan tenang dan senang ibarat sais pegang kendali kuda penarik pedati yang jalan gontai sambil sais itu duduk terkantuk-kantuk.  Hidup tenang dan senang itu karena hidup terkendali. Kendali diri itu tanda sadar diri.

    Kendali diri. Kalau setiap kita manusia yang milyaran ini masing-masing tahu kendali diri sewajarnya, maka biarpun hidup ini ramai, pasti tetap damai. Itulah yang dikehendaki oleh Sang Juru Damai, TUHAN.

  • Percaya diri

    Percaya diri. Maksudnya? Percaya bahwa diri itu ada, berada dan mengada. Kalau kurang atau tidak percaya diri? Celaka. Kalau diri saja sudah kurang atau tidak dipercaya, mana mungkin percaya yang di luar diri? Ada titian dari kayu. Waktu mau meniti harus percaya bahwa kayu itu kuat. Lalu percaya bahwa diri mampu meniti kayu itu dan bisa tiba di seberang. Percaya diri artinya dalam diri itu ada perangkat yang memampukan diri untuk berbuat apa saja yang dikehendaki. Ada dan bisa. Ada kalau tidak bisa, jangan percaya. Bisa tapi tidak ada, apa gunanya percaya? Percaya artinya dalam diri itu ada dan bisa untuk buat apa-apa. Dan apa-apa itu harus yang baik, benar dan bagus. Untuk itulah percaya diri. Dalam diri ada Nafsu, dorongan untuk menikmati yang baik. Percaya itu. Dalam diri ada Nalar, kemampuan untuk berpikir dan mengalami hal yang baik. Percaya. Laksanakan. Dalam diri ada Naluri untuk mengarahkan diri kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sesama untuk hal-hal yang baik. Percaya itu. Dalam diri kita ada Nurani untuk menyadari adanya kebaikan yang berasal dari Yang Mahabaik, TUHAN. Haaa, inilah sumber dari segala sumber untuk percaya, percaya diri dan sesama yang mengarah kepada percaya pada TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Percaya diri. Hidup ini percaya diri bahwa TUHAN tempatkan kita di bumi ini tidak untuk hal yang sia-sia. Percaya diri bahwa diri kita itu dipercaya oleh TUHAN untuk tampil menjadi saksi tentang adanya TUHAN Yang kepadaNya kita percaya. Hidup tanpa percaya adalah hampa. Buat apa-apa tanpa percaya diri, sia-sia. Penuh percaya diri untuk hidup detik demi detik. Orok dalam kandungan bundanya sudah percaya diri bahwa dirinya aman selama sembilan bulan lebih. Waktu dilahirkan, bayi ini sudah percaya diri bahwa dirinya diberi asi untuk hidup. Itulah kita manusia. Percaya diri sejak dari kandungan. Malah percaya diri sejak diri kita tercipta oleh Pencipta lewat kasih Ibu dan Ayah kita.

    Percaya diri. Ini jadi dasar untuk saling percaya. Suami percaya isteri, isteri percaya suami. Keluarga tercipta atas dasar saling percaya ini yang dipancarkan oleh diri-diri yang percaya diri. Anak-anak percaya bahwa diri mereka akan bertumbuh menjadi dewasa karena terlindungi oleh orang tua yang percaya diri bahwa mereka adalah orang tua yang baik. Guru yang baik percaya diri untuk tampil di muka kelas berhadapan dengan siswa-siswi yang percaya bahwa Guru mereka ini orang baik. Para siswa-siswi pun masing-masing percaya diri bahwa dirinya diakui sebagai siswa atau siswi karena mampu menerima ilmu dari seorang Guru yang percaya diri bahwa apa yang dia sampaikan kepada siswa-siswinya itu hal-hal yang baik, benar dan bagus.

    Percaya diri. Hidup dan kehidupan adalah gerak langkah setiap diri manusia yang percaya diri bahwa dirinya dipercaya oleh SANG PENCIPTA untuk bergerak dari DIA, dalam DIA ke DIA. DIA itu adalah DIRI Yang kita sapa dengan berbagai NAMA, salah satu NAMA, TUHAN.