Author: adminkuadranbele

  • Mulai

    Mulai. Mulai berarti awal dari sesuatu yang baru. Memulai, membuat sesuatu yang baru. Dia pintar ini mulai dari dia sekolah. Saya mulai mengajar waktu saya masih muda. Dulu saya tidak pernah minum minuman keras, tapi jadi pemabuk mulai waktu saya diajak oleh teman-teman. Kata mulai mempunyai arti bahwa sesuatu itu baru yang sebelumnya tidak ada.

    Mulai. Kita manusia ini, mau sesuatu dan mulai berusaha untuk mencapai atau memperoleh sesuatu itu. Ini hasrat dari Nafsu kita. Waktu mulai, Nalar kita bekerja untuk mencari upaya apa yang cocok untuk memenuhi hasrat Nafsu itu. Tidak mungkin seseorang berupaya sendirian. Butuh kawan, sesama. Inilah dorongan Naluri. Sebelum, sementara dan sesudah memulai suatu usaha lalu memperolehnya, Nurani kita tetap bergejolak, tenang kalau baik, tegang kalau buruk. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mulai. Ini suatu pemahaman yang sangat terbatas dalam diri kita seolah-olah kita manusia ini bisa mulai buat sesuatu sesuai yang kita kehendaki. Mulai dari awal. Tiap kali mau memulai sesuatu, kita menyangka bahwa kita memulai dari awal. Pemahaman inilah yang membuat diri kita manusia terjerumus ke dalam rasa sombong bahwa dirilah yang memulai, kalau itu baik, dan diri kita menjadi jahat kalau hal itu buruk dan menyangkal mati-matian bahwa bukan dirinya yang memulai.

    Mulai. Pemahaman tentang mulai ini harus dikaitkan dengan karya ciptaan dari Pencipta. TUHAN-lah Yang memulai segala sesuatu yang baik, mencipta alam semesta termasuk diri kita manusia yang menghuni dan menikmati adanya alam ini. Kita tidak memulai apa pun. Hidup kita saja mulai ada oleh TUHAN dan tiap pribadi manusia itu melaksanakan, melanjutkan, menyelesaikan yang sudah dimulai oleh SANG PEMULA, TUHAN. TUHAN Yang memulai. Segala apa yang kita buat selama hidup di dunia ini sudah ada benihnya dalam diri kita dan benih itu dari TUHAN.

    Mulai. Sejak awal hidup tiap diri kita, setiap kita mulai menjalani hidup yang tidak dimulai lagi berulang-ulang oleh kita. Segala tindakan, perolehan yang kita capai dan nikmati, bukan dimulai oleh diri kita, tetapi oleh TUHAN sejak kita diciptakan sebagai pribadi-pribadi dalam rentetan adanya manusia. Tidak pernah seorang jadi Guru dan menggembar-gemborkan posisinya dengan berkoar, saya mulai menjadi Guru sesudah belajar bertahun-tahun di Perguruan Tinggi. Bakat menjadi Guru itu sudah ada, jadi bukan dimulai oleh diri sendiri. Tidak pada tempatnya seorang di muka bumi ini membanggakan diri bahwa dialah yang memulai ini dan itu. Tidak.

    Mulai. Segala yang baik, benar dan bagus yang ada ini mulai ada atas kehendak SANG MAHA-ADA, TUHAN. Di sinilah letaknya titik tolak pemahaman yang terdalam di dalam diri kita untuk berpasrah pada TUHAN. Tidak boleh seenaknya membusungkan dada bahwa diri mulai ini, peletak dasar ini, pemrakarsa itu dan itu hasil saya, buah pikiran saya, buah tangan saya. Inilah kepongahan yang mengotori hidup masing-masing diri kita.

    Mulai. TUHAN sudah mulai mengadakan segala sesuatu dan tiap diri kita melaksanakan amanat TUHAN untuk menunmuh-kembangkan, memelihara, menikmati segala sesuatu yang ada dalam jangkauan kita dalam rasa syukur pada TUHAN. Karya melanjutkan selama di dunia inilah yang kita pertanggung-jawabkan di hadapan TUHAN saat diri kita diberi wajah kehidupan baru terlepas dari ikatan tempat dan waktu.

    Mulai. TUHAN sudah mulai mencipta segala sesuatu itu baik adanya. Kita diawaskan untuk tidak merusak yang baik itu. Jadi, yang salah segera dibenarkan, yang bengkok segera diluruskan, yang ternoda segera dikuduskan. Segala yang buruk itu dari kita, bukan dari TUHAN.  Itulah hidup.

  • Tingkat Doa

     

    Tingkat Doa. Ada empat tingkat Doa. Doa, sapaan kepada Yang Maha Tinggi, ada empat tingkat. Tingkatan doa ini erat berkaitan dengan empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu mendorong diri kita untuk memohon bermacam-macam kebutuhan dari uang sampai pangkat. Doa mohon apa saja dari TUHAN, adalah doa tingkat pertama, ada pada tingkat yang paling rendah.

    Nalar menggugah diri kita untuk menimbang-nimbang peri-laku kita, baik atau buruk. Ada rasa sesal dan terungkaplah doa tobat. Mohon ampun atas kata dan tindakan kita yang tidak baik di hadapan TUHAN. Tobat adalah doa tingkat kedua.

    Naluri kita menggiring diri kita untuk bersyukur kepada TUHAN bahwa sudah dapat apa-apa yang kita minta. Doa syukur ini adalah doa tingkat ketiga. Baik bahwa tahu terimakasih. Inilah yang dalam doa terungkap rasa syukur pada TUHAN Yang sudah mengabulkan niat dan harapan kita.

    Nurani menggugah kita untuk memuji keagungan TUHAN, kemurahan TUHAN, kekuasaan TUNAN. TUHAN Maha segala. Atas dasar itu kita puji TUHAN. Memuji TUHAN dalam bentuk puji-pujian dengan cara apa saja, entah ucapan atau lagu atau pun tari-tarian. Inilah doa pujian, doa tingkat keempat, doa yang paling tinggi.

    Doa hanya sebatas mohon dan mohon dari waktu ke waktu, maka kita merendahkan diri sebagai pengemis dan memaksa TUHAN untuk memenuhi kebutuhan kita sesuka hati kita. Doa seperti ini sering berakhir pada rasa kecewa dan mempersalahkan TUHAN bahwa TUHAN tidak mengabulkan apa yang dimohonkan. Doa tobat saja pun sering membuat diri kita terus merasa bersalah dan tidak layak di hadapan TUHAN. Doa syukur mulai terungkap kalau permohonan sudah terkabul dan ini erat kaitannya dengan doa permohonan.

    Tiga tingkat doa, mohon, tobat dan syukur, sangat baik dan pada tempatnya kalau dimahkotai dengan doa pujian. Seharusnya doa pujian itu yang pertama dan utama. Di setiap agama, ada ajaran dan tradisi untuk membiasakan diri kita memuji dan terus memuji TUHAN, SANG PENCIPTA. Mohon, tobat dan syukur sebagai pelengkap. Hidup ini adalah pujian pada TUHAN.

  • Sapa-Senyum -Sembuh – Sehat

    Sapa-Senyum-Sembuh-Sehat. Empat kata yang diawali dengan huruf S ini, kembar empat. Ini sebenarnya tampilan dari diri pribadi setiap kita setiap saat. Diri kita yang memiliki empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani membuat kita pribadi yang tampil di mana pun saja suka empat segi ini ada serempak: Sapa-Senyum -Sembuh – Sehat. Nafsu mendorong kita untuk sapa sesama. Nalar membuat kita pikir untuk senyum. Naluri mengajak kita untuk sembuh dari sakit penyakit dan sakit hati. Sehat menenangkan kita untuk tampil ceria dan damai. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sapa. Kalau diri kita melewati atau dilewati seseorang yang biasa kita kenal, tanpa sapa. Betapa galau hati kita sambil bertanya, ada apa? Tadi dia lewat tidak sapa saya. Sebaliknya, kalau seseorang yang sedang tidak disukai, biar pun dia lewat sangat dekat, tidak saya sapa. Kata sapa hilang dalam kamus saat itu. Kerugian besar terjadi antara dua pribadi karena tidak saling sapa. Tetapi kalau saling sapa, maka betapa indahnya hidup yang dinikmati oleh dua pribadi yang saling sapa, entah dalam bentuk pandang saja atau sampai bersentuhan tangan malah saling merangkul.

    Senyum. Wajah kita dibentuk untuk senyum yang ditampakkan oleh dua bibir yang merekah ibarat kuntum mawar yang mekar. Senyum lawannya sewot. Tidak ada wajah dibentuk oleh Sang Pencipta untuk sewot. Harus yakin, wajah diciptakan oleh Sang Pencipta untuk senyum. Wajah yang terhias senyum itu ibarat tanaman yang disiram air sewaktu ia gersang. Hati yang kerontang jadi rindang oleh senyum yang membawa kesejukan bagi diri yang senyum dan yang disenyumi.

    Sembuh. Sejatinya tiap kita ini sehat. Utuh tumbuh tubuh dan bathin. Alamiah proses tumbuh ini dibarengi ganti berganti yang terasa nyeri. Ini yang disebut sakit. Gigi berganti. Sakit. Gigi tumbuh, sakit hilang, gusi sehat. Organ tubuh yang lain pun demikian. Sakit tanda kurang sehat. Sakit terhenti, sembuh. Ini dambaan setiap pribadi kita. Sembuh itu harus diawali dengan dua yang pertama, sapa dan senyum. Tanpa keduanya, tidak sembuh, malah tambah sakit. Sembuh bathin, dari tersinggung ke senyum tersungging di wajah, itu sembuh bathin.

    Sehat. Haaa, ini keadaan yang didambakan dan dirasakan setiap pribadi kita yang melangkah menapaki lorong hidup detik demi detik. Kurang sehat, gelisah, resah. Cari cara apa pun saja, supaya sehat. Sehat tubuh saja, sambil rasa gundah gulana, apa faedahnya. Lengkap kalau sehat itu dialami setiap organ tubuh yang menampilkan empat unsur pemberian Pencipta, Nafsu+ Nalar + Naluri + Nurani.

    Diri saya, anda, dia, kita harus sehat. Untuk itu, tampilkan diri setiap saat dengan empat untaian aksi: Sapa-Senyum -Sembuh – Sehat. TUHAN Pencipta kita utus kita lewati hidup di alam ini untuk hidup model begini ini.

     

     

  • Sibuk terus

    Sibuk terus. Semua manusia sibuk terus. Tidak ada manusia yang tidak sibuk. Sibuk tanda hidup. Kesibukan adalah kehidupan. NAFSU kita mendorong diri kita untuk sibuk terus cari makan-minum dan apa saja yang kita butuhkan.  Tentu yang baik, benar dan bagus. NALAR mendorong kita untuk sibuk terus berpikir dan berpikir cari kebenaran.  NALURI mengajak kita untuk terus sibuk berada dekat sesama, mulai dari keluarga sampai masyarakat luas.   NURANI mendorong kita untuk sibuk terus mencari ketenangan. Inilah kerjasama empat unsur dalam diri kita manusia yang menyebabkan kita sibuk terus. Tidur saja pun bahagian dari kesibukan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sibuk terus. Apa yang dicari? Apa hasilnya? Tidak pernah ada yang cari celaka. Sibuk terus cari celaka. Tidak mungkin. Jadi? Sibuk terus cari sebaliknya, selamat. Cari selamat. Selamat dari apa? Selamat dari celaka. Celaka apa? Lalu-lintas? Yah. Lalu-lintas kehidupan. Kita hidup ini lalu-lalang, lalu-lintas  ke sana-sini karena cari dan cari. Itu yang membuat kita sibuk terus. Lalu-lintas saja ada rambu-rambu. Lebih lagi hidup. Sibuk jaga dan ikut aturan hidup itu.

    Sibuk terus. Kalau sibuk tanpa arah, tidak biasa. Satu arah, yah. Tetap sibuk terus dengan arah yang satu, tertentu, tepat, cepat dan tetap. Orang sibuk tidak suka berlambat-lambat. Itulah tanda hidup. Hidup itu tetap. Hidup yang sibuk tidak berarti ada hidup yang tidak sibuk. Sibuk sekali, itu pun keterlaluan. Sekarang saya tidak sibuk. Itu bohong. Duduk pun sibuk. Sibuk duduk.

    Sibuk terus. Kembali lagi ke pertanyaan, cari apa? Cari empat hal: senang, gembira, puas dan bahagia. Ini empat tingkat tujuan dari sibuk. Empat tingkat ini boleh dilihat juga sebagai empat sisi atau empat bahagian satu keutuhan. Satu kesatuan. Empat hal ini tidak ada sementara tidak ada kekal. Dengan terciptanya diri kita oleh SANG PENCIPTA, empat hal ini sudah ada bersamaan dengan empat unsur dalam diri kita yang ulang-ulang ditulis: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI.

    Sibuk terus. Ini membuat setiap diri kita dan bersama diri-diri yang lain senang, gembira, puas dan bahagia yang sudah ada terus ada dan berkembang sampai tiba pada puncaknya. Di mana? Yah, di haribaan PENCIPTA kita.

  • Mencari terus

    Mencari terus. Kalau mencari terus, kapan penemuannya? Apa yang dicari terus? Kita manusia ini tetap bergerak karena terus mencari. Mencari berarti ada yang dicari karena yang dicari itu tersembunyi. Sesudah didapat, ada lagi yang tersembunyi dan kita lagi-lagi tergerak terus untuk mencari dan mencari.

    Mencari terus. Sebenarnya ini dorongan yang wajar dari NAFSU. Tidak pernah terpuaskan. Mencari terus karena kita tergerak oleh NALAR. Sudah tahu, masih mau tahu lagi. Sudah alami, masih mau alami lagi. NALURI kita turut tergerak untuk menemui dan mengajak sesama untuk turut mencari. Sendiri mencari dan mengajak sesama untuk mencari. NURANI kita menjadi tenang dan damai karena hasil mencari sudah menemukan yang dicari lalu mencari lagi. Empat unsur dalam diri kita ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI terpadu mencari apa yang sudah didapat lalu tergerak terus untuk mencari lagi dan lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mencari terus. Cari, dapat. Cari, dapat. Dapat dan berhenti cari berarti hidup terhenti. Karena hidup itu mencari. Mencari apa? Di sini letak persoalannya, cari apa? Cari siapa? Cari empat hal, empat keadaan. Keadaan senang, gembira, puas dan bahagia. Atau dibendakan, kesenangan, kegembiraan, kepuasan, kebahagiaan. Inilah empat hal, empat keadaan  yang dicari dan terus dicari dalam hidup ini. Lalu kapan ditemukan sampai kita berhenti mencari? Pasti akan ada akhir dari upaya mencari ini. Kapan? Itu, saat tubuh ini terlepas dari kungkungan waktu dan tempat. Itu yang disebut kematian. Saat itu kita berhenti mencari. Lalu apa yang kita dapatkan?

    Mencari terus. Akan ada akhirnya, karena yang dicari akhirnya ditemukan. Di mana? Tidak di mana-mana. Kapan? Tidak ada waktunya. Lalu? Berhenti mencari itu sewaktu kita berdekapan karena didekap oleh DIA, TUHAN, Yang menciptakan kita dan merindukan kita sampai kita mendapatkan-NYA dan DIA mendapatkan kita.

    Hidup ini terarah ke sana. Di sanalah, pada saat itulah akan terjadi: senang abadi, gembira abadi, puas abadi dan bahagia abadi. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI tidak mencari lagi karena sudah mendapatkan apa yang dicari, terutama SIAPA Yang dicari itu sudah ditemukan, TUHAN.

  • Belajar terus

    Belajar terus. Kita ada NAFSU untuk mencari dan menemukan yang baru. Hal ini membuat kita hidup dan terus hidup. Kita ada NALAR untuk terus mengetahui dan mengalami hal-hal yang baru. Pengetahuan dan pengalaman baru membuat kita tetap gembira dan lupa akan penderitaan dan keluh-kesah. Kita ada NALURI untuk selalu menemui orang yang kita cintai dan mau mengulangi pertemuan itu sebagai penyegaran dalam hidup. NURANI kita selalu mendorong kita untuk menjadi pribadi yang tenang dan penuh kedamaian bathin.

    Belajar terus. Kita belajar. Apa yang dipelajari? Segala hal. Ada yang mengajar. Setiap saat itu adalah kesempatan untuk belajar. Hidup ini sebenarnya rentetan dari belajar ke belajar. Inilah yang kita sebut dengan istilah belajar terus. Hasil dari belajar terus itu ada empat sesuai dengan empat unsur yang ada dalam diri kita sebagai perangkat kepribadian kita. Karena belajar terus, NAFSU terpenuhi dan kita senang. Belajar terus membuat NALAR kita semakin cerdas dan itu membuat kita gembira. Karena belajar terus, NALURI kita terpenuhi dengan perjumpaan yang  membuat kita puas. Belajar terus membuat NURANI kita menimba ketenangan dan itu yang namanya bahagia. Senang, gembira, puas dan bahagia adalah empat unsur yang menyatu dalam diri kita menjadi utuh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Belajar terus. Bukan hasilnya tapi kesibukan itulah yang membuat kita hidup penuh gairah. Tanpa belajar atau malah berhenti belajar sama artinya berhenti hidup. Tidak mungkin hidup tanpa belajar. Belajar itu bukan sekedar menghimpun hal-hal dari luar tetapi menyalurkan isi dari diri dengan NAFSU yang teratur, NALAR yang segar, NALURI yang tegar dan NURANI yang tenang.

    Belajar terus. Hidup kita menjadi gersang kalau lalai belajar. Belajar itu bukan soal ilmu pengetahuan. Belajar itu soal irama hidup seiring dengan denyut jantung. Belajar itu meniti titian menuju jari-jari yang melambai siap menyentuh dan mengelus pipi kita yang sedang diliputi peluh kepayahan dalam berjalan. Jari-jari siapa? Siapa lagi kalau itu bukan jari-jari dari tangan yang mencipta kita, TUHAN.

  • Kaul Kemurnian

    Kaul Kemurnian

    Kaul Kemurnian. Sering juga disebut kaul keperawanan atau kaul kesucian. Janji untuk tidak kawin. Hidup wadat. Orang yang hidup membiara dalam Gereja Katolik wajib mengikrarkan kaul kemurnian ini. Konsekuensinya, hidup tidak kawin. Dalam hidup sehari-hari, seorang yang berkaul kemurnian, hidup seorang diri tanpa ada pasangan kawin. Di satu pihak dirinya tidak terikat oleh pasangan, entah itu suami atau isteri. Di pihak lain, dirinya bebas untuk mengabdikan diri untuk sesama tanpa ikatan atau halangan keluarga.

    Kaul kemurnian. Berdasarkan filsafat kepribadian, (4N, Kwadran Bele, 2011), kaul kemurnian ini dapat direnungkan sebagai berikut. Kita manusia dianugerahi TUHAN empat unsur, terdiri dari 4N: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Empat unsur ini harus dikembangkan secara serentak dalam arah yang ditentukan oleh TUHAN, baik, benar dan bagus.

    Kaul kemurnian. NAFSU itu dorongan, keinginan untuk segala hal yang baik, benar dan berguna bagi keberlanjutan hidup setiap orang. Dorongan untuk hidup berkeluarga termasuk dalam NAFSU ini dalam arti yang positif. Tiap pribadi bebas untuk menyalurkan NAFSU ini atau tidak. Lewat janji untuk hidup murni, tidak kawin, pribadi yang berkaul kemurnian itu memilih dan memutuskan untuk hidup sendirian tanpa ada pasangan sebagai suami atau isteri.

    Kaul kemurnian. NALAR yang ada di dalam diri pribadi manusia yang berkaul diarahkan untuk mempertimbangkan secara matang, hidup bersama dengan sesama dengan keputusan tanpa ikatan perkawinan. Ini hanya bisa dicerna oleh NALAR dengan pertimbangan supra-NALAR. Campur tangan dari TUHAN.

    Kaul kemurnian. NALURI yang ada di dalam diri setiap kita manusia, mendorong diri kita untuk hidup bersama orang lain. Dorongan ke arah hidup bersama sesama dalam ikatan perkawinan adalah hal yang sangat wajar dan kodrati. Dalam kaul kemurnian, dorongan untuk kawin inilah yang sengaja, dengan tahu dan mau, pribadi itu menyatakan tidak, sehingga ia bebas dalam bekerja untuk sesama dan berbakti kepada TUHAN.

    Kaul kemurnian. NURANI yang ada dalam diri manusia diberi TUHAN untuk meresapkan kemurnian yang paling murni yang hanya ada dalam DIRI TUHAN. Kemurnian inilah yang dihayati dan dijalani oleh setiap orang yang mengikrarkan kaul kemurnian.

    Kaul kemurnian. Hal yang murni dijalani dalam hidup dengan penuh kesadaran oleh yang berkaul untuk memberikan kesaksian kepada sesama bahwa keempat unsur yang ada dalam diri manusia dapat menghantar manusia kepada TUHAN sumber kemurnian itu sendiri. NAFSU dimurnikan lewat  kebebasan dari ikatan perkawinan. NALAR dimurnikan dengan pikiran dan pengalaman serta keyakinan akan adanya hidup tanpa harus diikat dalam ikatan perkawinan. NALURI dimurnikan dengan kesadaran bahwa keakraban antara sesama manusia dapat dijalani tanpa harus lewat perkawinan.  NURANI dimurnikan dengan kesadaran bahwa melayani sesama dan mengabdi TUHAN itu lebih terarah dengan bebas tanpa ikatan perkawinan.

    Kaul kemurnian. Janji yang satu ini mengaktifkan empat unsur dalam diri manusia secara murni dengan mengikatkan empat unsur itu pada TUHAN. Panggilan dan pilihan dari TUHAN kepada diri orang  yang mengikrarkan kaul kemurnian itu menjadi contoh teladan yang nyata bahwa hidup sesudah hidup di dunia ini adalah hidup seperti itu, murni, tidak kawin dan dikawinkan. Itu hidup seperti Malaikat. Ini benar. Soal Iman. Terserah pada tiap diri kita, percaya atau tidak. TUHAN lihat kita.

     

  • Kaul Kemiskinan

    Kaul Kemiskinan. Janji untuk hidup miskin. Aneh. Umumnya orang cari kekayaan. Ada yang janji untuk miskin. Dalam Gereja Katolik ada tradisi bahwa kaul kemiskinan itu dipadukan dengan dua kaul yang lain, kemurnian dan ketaatan. Tiga kaul. Orang-orang yang berkaul itu disebut biarawan atau biarawati. Kehidupan mereka disebut hidup membiara yang terikat erat dengan sesama lain yang berkaul. Mereka ada ratusan ribu di dunia sekarang ini, laki-laki dan perempuan. Mereka hidup dalam kebersamaan, penghasilan mereka dikumpulkan untuk kepentingan bersama. Tidak ada harta pribadi. Ini yang disebut kemiskinan demi kehidupan bersama.

    Kaul kemiskinan. Dari segi akal sehat, kaul atau janji yang satu ini bisa dianalisa dengan teori ‘4N, Kwadran Bele, 2011.

    Kita manusia ini diberi anugerah oleh TUHAN,  empat unsur, disingkat ‘4N’: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Ini dilukiskan dalam satu segi empat dibagi empat maka disebut ‘Kwadran’ dan dikaitkan dengan yang merumuskan, Anton Bele, maka disebut ‘Kwadran Bele’ dirumuskan pada tahun 2011 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, sehingga sebagai pertanggungan-jawaban ilmiah, selalu ditulis, ‘4N, Kwadran Bele, 2011’.

    Kaul kemiskinan. NAFSU untuk kaya, itu biasa. NAFSU untuk miskin? Ini di luar dari biasa. Tapi miskin dalam arti melepaskan diri dari ikatan pada harta demi tujuan yang lebih luhur, berbagi dengan sesama untuk bekerja bersama mewartakan dan memberi kesaksian tentang Sabda TUHAN untuk hidup saling mengasihi, mengapa tidak? Tujuan yang luhur inilah menjadi dasar untuk hidup miskin, mengalihkan NAFSU cari harta menjadi NAFSU mengabdikan harta perolehan pribadi dalam kebersamaan.

    Kaul kemiskinan. NALAR untuk berupaya memperoleh uang, menghimpun modal kerja, wajar. Sejauh harta yang diperoleh itu atas cara yang wajar dan jujur. Berdasarkan pertimbangan NALAR dari orang yang berkaul, hidup miskin dalam arti menyerahkan harta yang diperoleh diabdikan untuk kepentingan yang lebih luas dan luhur, maka kaul ini menjadi sangat bernilai tinggi dan abadi.

    Kaul kemiskinan. NALURI untuk hidup kaya, biasa. Tapi NALURI diarahkan untuk membagi harta yang diperoleh bagi orang lain dalam rasa persaudaraan menimbulkan rasa puas yang luar biasa. Ini yang lebih berkenan pada TUHAN Pemberi NALURI itu.

    Kaul kemiskinan. NURANI untuk hidup tenang, damai dan bahagia itu ditempatkan TUHAN dalam diri manusia untuk sadar bahwa hidup terikat pada tempat dan waktu di dunia ini merupakan jembatan ke hidup yang kekal, penuh kedamaian dan kebahagiaan. Demi hidup yang abadi tanpa terikat lagi pada waktu dan tempat, seseorang mengikrarkan kaul untuk hidup miskin, harus dimengerti sebagai panggilan dan pilihan dari TUHAN sendiri.

    Kaul kemiskinan. Kaul yang satu ini salah satu segi dari segi tiga, kemurnian –  ketaatan – kemiskinan. Benar apa yang sampai sekarang dianggap sebagai satu kebenaran umum, hidup di dunia ini sementara, mati tidak bawa apa-apa. Kalimat ini sederhana, tapi benar karena kita alami setiap hari. TUHAN Sang Pemilik diri kita, berkenan dengan hidup miskin demi tujuan yang lebih luhur, lepas dari harta dan lekat pada TUHAN.

  • Kaul Ketaatan

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat. Dalam tradisi Gereja Katolik, ada orang-orang tertentu, laki-laki dan perempuan mengikrarkan kaul entah sementara atau untuk seumur hidup, kaul atau janji untuk tiga hal: kesucian, ketaatan dan kemiskinan. Mereka ini tergabung dalam kelompok yang disebut biarawan atau biarawati. Kelompok ini hidup tidak kawin seumur hidup. Tujuannya satu. Abdikan diri semata-mata untuk urusan rohani.

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat kepada atasan dalam komunitas yang ia pilih. Sesuai bakat yang dimiliki, seseorang yang berkaul itu hidup mengabdikan bakat dan kemampuannya untuk kehidupan rohani diri dan sesama di mana dia ditugaskan. Ke mana pun saja diutus, ia taat untuk pergi. Inilah yang disebut kaul ketaatan. Dalam dinas ketentaraan, kelompok orang berkaul ini ibarat pasukan gerak cepat yang siap sedia sewaktu-waktu taat pada perintah atasan untuk laksanakan tugas yang diberikan.

    Kaul ketaatan. Janji itu diucapkan di hadapan pembesar serikat dan pembesar Gereja dengan alasan dasar, laksanakan panggilan dan kehendak TUHAN. Inilah dasar paling mendasar sehingga orang itu merasa terpanggil oleh TUHAN sendiri untuk melaksanakan tugas-tugas melayani sesama dalam mengejar kebahagiaan. Ini satu bentuk pola hidup yang dipilih dan seumur hidup menempatkan diri di bawah perintah atasan.

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat ini kalau ditinjau dari sudut pandang filsafat kepribadian, ‘Kwadran Bele’, bisa dipilah atas dasar empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Empat unsur ini diberikan oleh TUHAN kepada setiap pribadi manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pribadi yang berkaul ketaatan, biarawan atau biarawati, tetap ada NAFSU dalam arti positif. NAFSU berupa dorongan untuk hidup dalam bentuk dorongan untuk makan-minum, mencari kesenangan, mengejar nama besar dan menjaga nama baik. NAFSU ini diperjuangkan dan dihayati dalam ketaatan kepada pertimbangan dan keputusan atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NALAR dalam dirinya. Semua daya NALAR dikerahkan secara baik dan benar untuk kepentingan sesama dalam ketaatan pada perintah atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NALURI dalam dirinya untuk bergaul dengan sesama, baik dalam biara maupun di luar biara. Dorongan Naluri ini diatur sesuai dengan pertimbangan dan keputusan atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NURANI dalam dirinya untuk menyadari adanya TUHAN Pengasih dan Penyayang Yang selenggarakan hidup diri pribadi orang itu  dan sesama. Taat dalam mengikuti keputusan atasan dalam biara berdasarkan pertimbangan NURANI merupakan pelaksanaan kaul ketaatan.

    Kalau dorongan dari empat unsur dalam diri pribadi orang yang berkaul itu dilaksanakan dengan penuh kesadaran akan makna tujuan mulia, melaksanakan kehendak TUHAN dalam melaksanakan perintah atasan, maka kaul ketaatan yang diikrarkan itu membuahkan kesenangan, hasil NAFSU, kegembiraan hasil NALAR, kepuasan hasil NALURI dan kebahagiaan hasil NURANI.

    Perpaduan empat unsur dalam diri manusia inilah yang disebut keseimbangan, kematangan, kedewasaan dan tanggung-jawab. Taat demi TUHAN

  • Tentu

    Tentu. Penentu.  Penentuan.  Ketentuan. Sudah tentu. Belum tentu. Hidup ini penuh dengan belum tentu. Kalau hidup ini penuh dengan sudah tentu, maka hilanglah gairah untuk hidup. NAFSU ditempatkan dalam diri kita manusia oleh PENCIPTA untuk mengejar dan mencapai tentu yang belum tentu. NALAR adalah unsur dalam diri kita yang bergelut dengan segala yang belum tentu untuk menjadi tentu. NALURI itu dorongan untuk mewujudkan bersama sesama agar yang belum tentu itu menjadi tentu.  NURANI jadi penentu yang belum tentu itu menjadi tentu dan hasilnya tentu tenang dan damai. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tentu. Tentu itu adalah saat sekarang ini. Yang lalu itu sudah tentu. Yang akan datang itu belum tentu. Sekarang inilah yang tentu itu menjadi tentu sebagai kesinambungan dari yang sudah tentu menyongsong yang belum tentu. Inilah dinamika hidup. Timbul pertanyaan, siapa penentu itu. Apa isi ketentuan itu. Tentu jawabannya sudah tentu, bukan diri kita ini, tetapi, Penentu yang tidak ditentukan lagi dan yang menentukan ketentuan yang sudah tentu. Itulah TUHAN, SANG PENENTU. Kita hidup dari tentu ke tentu ini mengisi ketentuan dari SANG PENENTU.

    Tentu. Hidup kita menjadi sulit, kabur dan terombang-ambing kalau kita berada di luar dari ketentuan dari SANG PENENTU. Setiap kita boleh menentukan apa saja. Dan itu pasti belum tentu dan tidak tentu.  Untuk menentukan apa yang akan terjadi haruslah kita selaraskan dengan ketentuan dari SANG PENENTU.  Di luar itu tentu terjadi hal yang tentu kita semua tidak harapkan, malapetaka.

    Tentu. Sudah jelas bahwa kita tentu senang karena keinginan NAFSU terpenuhi. Kegalauan NALAR terurai, gembira.  Kerinduan NALURI tercapai, puas.  Harapan NURANI terpenuhi, bahagia. Empat keadaan ini: Senang + Gembira + Puas + Bahagia menjadi satu kesatuan yang tentu membuat kita hidup penuh gairah. Ini ketentuan dari SANG PENENTU Yang menentukan setiap kita Senang + Gembira + Puas + Bahagia abadi dalam keabadian hidup yang sudah ditentukan sejak kita ada dan berada dalam ketentuan SANG PENENTU, TUHAN.