Author: adminkuadranbele

  • Bakat dan Minat

    Bakat dan Minat. Dua hal yang ada dalam diri manusia. Duanya beda. Bakat diberi langsung oleh PENCIPTA kepada setiap diri manusia. Minat disiapkan PENCIPTA di luar diri pribadi manusia untuk diambil dan dipadukan dengan bakat yang sudah ada. Bakat terberi. Minat terjadi. Bakat tumbuh. Minat tambah. Bakat sudah ada di dalam diri manusia. Bakat siap ditumbuh-kembangkan. Minat ada di luar diri manusia. Minat siap ditambah-kembangkan. Bakat tidak bisa dipertukarkan. Minat bisa digonta-ganti.

    Bakat. Dalam diri kita manusia ada empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N. Kwadran Bele, 2011). Bakat itu benih yang sudah ada dalam diri manusia dan ditumbuhkan oleh NAFSU untuk memenuhi keinginan. Dicari cara,  tempat dan waktu yang tepat oleh NALAR supaya bakat itu tumbuh. NALURI merangkai dan merangkul sesama untuk semakin berkembangnya bakat. NURANI memberi arah agar bakat itu tumbuh mekar secara baik dan benar.

    Minat. NAFSU mendorong minat untuk suka yang ini dan besok yang itu. NALAR menetapkan minat untuk tertarik pada yang ini hari ini dan besok yang sana sesuai keadaan waktu dan tempat. NALURI menyingkirkan atau menekuni minat yang satu ini dari pada yang lain itu. NURANI siap terima minat itu sejauh itu baik dan benar.

    Bakat matematika. Minat hari ini di hitung angka. Besok ditambah dengan minat untuk mengukur bentuk bangunan. Minat ini dikembangkan lagi pada mengukir patung dengan ukuran yang tepat sesuai ukuran manusia. Minat itu cabang-cabang yang dicangkokkan pada bakat. Bakat itu rupa-rupa. Minat lebih rupa-rupa lagi. Batas terbatas. Minat tidak terbatas. Bakat tidak bebas untuk dikembangkan. Minat bebas untuk dipangkas atau dicangkokkan pada bakat.

    Bakat dan minat menyatu dalam diri pribadi kita manusia sejauh itu saling melengkapi demi tujuan akhir hidup kita: bahagia. TUHAN menghendaki yang itu, bakat ditumbuhkan dan minat ditambahkan agar hidup kita mekar ibarat kembang mawar yang harum mewangi di taman dunia ini dan selanjutnya di taman abadi.

  • Dibagi Empat

    Dibagi empat. Pribadi manusia dibagi empat atas empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Pribadi manusia  yang sempurna itu kalau dihitung dalam persentase, maka NAFSU 25 % + NALAR 25 % + NALURI 25 % + NURAN I 25 %. Jumlah 100 %. Ini ditetapkan oleh TUHAN dalam diri  kita setiap manusia. Dalam  hidup ini setiap pribadi manusia harus upayakan agar empat unsur ini ditampilkan secara seimbang. Kalau salah satu unsur ditampilkan lewat batas, maka pribadi itu menjadi tidak seimbang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau NAFSU terlalu ditekankan, antara 30 sampai 40 % atau lebih, maka pribadi itu akan dikenal dengan manusia NAFSU dalam arti yang negatif. Pribadi seperti ini biasa menginginkan hal-hal yang lewat batas, sering di luar aturan. Misalnya makan berlebihan, akibatnya kegemukan. Tidur berlebihan, jadilah pemalas. Kuasa berlebihan, diktator.

    Kalau NALAR terlalu ditekankan, sampai 30 atau 40 %,  maka pribadi ini utamakan pengetahuan, ilmu, sampai tidak pusing dengan sesama, malah mudah anggap TUHAN tidak ada.

    Kalau NALURI terlalu ditekankan, maka pribadi ini cenderung sukuis, kurang menghargai orang dari suku lain atau kelompok lain. Dia selalu membedakan, orang saya dan orang lain.

    Kalau NURANI terlalu ditekankan, maka pribadi ini terlihat sok alim, tampil saleh,  anggap orang lain jahat, hanya sendirilah yang suci. Padahal tindakan benci-membenci jadi santapan harian.

    Dibagi empat. Maksudnya sederhana. Kalau bidang yang satu berlebihan ditekankan, segera disadari bahwa itu salah dan dikembalikan kepada porsinya, 25 %. Memang harus diakui, kita manusia ini selalu tergoda dan terjerumus ke dalam salah satu kesalahan, mengutamakan salah satu bidang sehingga kurang atau tidak seimbang.

    Dibagi empat. Itu berarti tidak dipisah-pisahkan, melainkan diakui dan ditampilkan dalam perilaku harian empat unsur ini secara berimbang. NAFSU diupayakan sewajarnya,  NALAR dicurahkan sejujurnya, NALURI diamalkan seikhlasnya, NURANI diresapkan sesungguhnya. Ini yang dikehendaki TUHAN, PENCIPTA kita dari setiap kita manusia ciptaan-NYA.

  • Dekat

    Dekat. Pepo, cucu saya sangat dekat dengan saya, Opa-nya. Saya sedang sibuk kirim dan terima pesan lewat wa (AhatsApp) di hp (hand-phone) saya. Pepo minta. Dengan berat hati saya kasih hp ke Pepo yang baru empat tahun, sekolah TK. Pikiran saya menerawang jauh. Kalau seandainya seorang anak tetangga atau keluarga dekat yang minta pinjam hp saya karena menganggap saya sebagai seorang Opa yang ramah, maka dengan senang hati akan saya berikan hp itu tanpa banyak pikir.

    Sekarang kembali ke Pepo. Dia paling dekat dengan saya, secara fisik dan psikis, hibur saya, sering juga ganggu saya. Tapi kalau dia jauh bersama mamanya, saya merasa kehilangan. Maunya Pepo dekat terus. Kalau pagi-pagi Pepo ke sekolah, saya kehilangan sepanjang siang. Kalau pulang, saya jadi girang, penuh gairah untuk hidup, lupa sudah lansia, umur 76 tahun. Itulah Pepo dan Opa-nya, Anton. Kami dua sangat, sangat dekat.

    Dekat. Lawannya, jauh.

    NAFSU dikenal dan mengenal begitu menggebu-gebu sehingga sering kita lupa waktu. Main hp berjam-jam. Orang-orang dekat diabaikan. Kontak dengan orang-orang jauh di benua lain diutamakan.

    NALAR begitu cerah membayangkan kota Roma, kota Amsterdam yang pernah saya kunjungi semasa masih muda. Lupa dan abai untuk duduk berdekatan dengan Isteri, Anak – Cucu. Merasa harus dan hebat kontak dengan orang-orang di Jakarta dan Makassar.

    NALURI ada bersama itu menjadi lain, sayang yang jauh, asing dengan yang dekat. Aneh, cari popularitas dari orang jauh sementara orang dekat tidak digubris.

    NURANI sering ditipu dengan sembahyang agungkan TUHAN, sementara diri tidak ambil pusing dengan Isteri yang sedang pusing pikir uang untuk beli beras. Inilah galau dalam hidup.

    Empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ada untuk membuat diri kita sadar, yang dekat yah dekat, yang jauh yah jauh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Dekat. Memperhatikan yang jauh tidak boleh digeser dengan mengabaikan yang dekat. Harus seimbang. Yang dekat tetap disayangi sambil tidak melupakan yang jauh. Jangan kita girang di jauh dan garang di dekat. Saya tidak kenyang dengan pizza di Milano dan buang jagung di Kupang. Jagung itu dekat. Pizza itu jauh. Dua-duanya ada. Hidup dengan yang dekat bukan dengan yang jauh.

    Dekat yah dekat. Jauh yah jauh. Ternyata, TUHAN, PENCIPTA kita  itu dekat, malah satu dengan diri saya, anda, dia, kita. Dekap DIA, dalam doa dan ibadah. DIA balik mendekap kita. Saya, anda, dia, kita saling mendekap, karena kita itu dekat, malah satu.

  • Jempol

    Jempol. Ibu jari itu disebut jempol. Banyak dari kita mengerti, acungkan jempol artinya memuji seseorang karena berbuat sesuatu yang luar biasa baik, benar dan bagus. Acungkan jempol itu gampang sekali. Hanya jarang dibuat. Sering kita kikir acungkan jempol. Hanya isyarat sedetik saja dirasa sulit. Padahal pengaruhnya dahsyat. Orang yang mengacungkan dan yang diacungkan jempol sama-sama terangkat dari lantai. Sentuh loteng. Bisa juga ubun-ubun sodoklangit. Mengapa tidak sesering mungkin angkat jempol satu sama lain?

    Kita manusia ini ada empat unsur diberi TUHAN dalam diri kita: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Berdasarkan pendapat sederhana ini, saya tinjau banyak hal dalam diri kita manusia.

    NAFSU kita itu ingin pujian, acungan jempol. Kalau itu wajar, mengapa tidak? Cari acungan jempol dan pada saatnya, beri acungan jempol. Apa sulitnya?

    NALAR kita itu langsung analisis, apakah acungan jempol untuk saya ini wajar atau tidak. Sebaliknya, kita yang acungkan jempol, tepat atau tidak acungkan jempol untuk seseorang. Kalau itu wajar dan tepat pada tempatnya, mengapa harus pikir panjang untuk acungkan jempol kepada sesama yang patut mendapat acungan jempol?

    NALURI kita merasa sangat puas dan bangga kalau diacungkan jempol. Karena itulah jangan kikir untuk acungkan jempol untuk orang lain. Kalau ingin diacungkan jempol, harus rajin acungkan jempol untuk orang lain.

    NURANI kita menjadi damai, bening, tenang dan bahagia kalau lihat sesama acungkan jempol untuk diri kita pada waktu yang tepat dan pada saat yang tampan. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia yang hasilnya membuat diri kita melayang seperti malaikat biar tanpa sayap.

    Jempol itu anggota tubuh yang sudah menjadi kebiasaan untuk diacungkan sebagai tanda pujian, penghargaan kepada sesama.

    TUHAN Yang melihat Ciptaan-Nya, kita manusia ini saling mengacungkan jempol, pasti senang dan setiap acungan jempol itu diberkati TUHAN. Itu maknanya ganda, rahmat untuk  diri yang mengacungkan jempol dan  untuk yang diacungkan jempol. Yang namanya cinta-kasih itu salah satu wujudnya adalah acungan jempol yang tulus ini.

  • Kagum

    Kagum. Kagumi, mengagumkan, terkagum-kagum. Ada hal, barang atau pribadi yang baik, hebat, membuat seseorang kagum. Menghargai, memuji, meneladani orang yang dikagumi. Inilah tindakan yang baik, benar dan bagus. Mengagumi sesama. Hidup ini menjadi lebih ringan, penuh makna karena rentetan kagum ke kagum. Akan tiba pada kagum abadi, yaitu: TUHAN, Pencipta kita itu Yang dirindukan untuk ditemui dan ditatap dari muka ke muka. Hidup ini ke sana dan itu jangan dipertanyakan atau dipersoalkan lagi. Dari kagum sementara ke kagum abadi.

    NAFSU kita mendorong untuk melihat, menikmati hal yang baik, benar dan bagus. Lalu kagum bahwa keinginan  itu terpenuhi. NALAR kita menghendaki sesuatu yang baru dan berguna. Setiap pengamatan, penelitian, kajian yang menghasilkan pengetahuan dan pengalaman baru itu adalah hasil karya NALAR yang selalu membuat kita kagum, terkagum-kagum. NALURI kita senantiasa merindukan pertemuan dan pergaulan dengan orang yang kita kagumi. NURANI kita merasa puas, tenang dan bahagia sesudah bertemu dan bercengkerama dengan pribadi yang dikagumi. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang ditempatkan dalam diri setiap pribadi oleh SANG PENCIPTA, TUHAN. ( 4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kagum. Heran bahwa kita mudah sekali kagum dengan prestasi atau kehebatan orang lain sedangkan prestasi orang yang paling dekat dengan kita sering kurang atau hampir tidak dikagumi. Kagumi yang jauh, kesali yang dekat. Ini ulah yang sering terjadi. Suami sering kesal dan kesal terus-menerus dengan isteri. Padahal begitu banyak jasa dari sang isteri yang harus dikagumi. Sering pula isteri kagumi orang-orang nun jauh di benua sana. Sedang suami sendiri dicomeli terus-menerus dan tidak dikagumi sedikit pun. Anak-anak kagumi guru, kagumi tokoh sejarah, tokoh agama. Sedangkan tokoh yang paling dekat, bapa dan mama, adik-kakak,  jarang atau tidak dikagumi. Mengapa hal ini terjadi? Kagumi orang maka diri akan dikagumi.

    Kagum. Saling mengagumi antara sesama, adalah langkah dan harta terindah yang ada di depan kita malah di dalam diri kita. Harta terindah dalam hidup ini ialah kagum itu. Kagum lihat alam sekitar. Kagum atas kehadiran sesama, terutama sesama yang terdekat. Lalu kagum dengan kedekatan itu setiap saat. Kagum dan kagum. Berat? Tidak. Yah, kagumi alam, kagumi sesama. Ini langsung terarah ke kagumi PENCIPTA. Hasilnya? Bahagia.

  • Cuci Otak

    Cuci otak. Ungkapan ini cukup mengerikan. Sering dikaitkan dengan aksi teror, orang ditangkap dan dijadikan alat untuk tujuan jahat.  Hal-hal jahat dipaksakan masuk ke otak orang menggantikan hal-hal baik. Cuci otak. Otak yang ada  dipakai untuk merusak otak yang lain.

    Cuci otak. Ungkapan ini jarang dipakai dalam arti yang baik. Selalu dikaitkan dengan upaya jahat untuk menyebarkan kejahatan. Cuci otak ringan yaitu upaya terencana lewat pendidikan mulai dari anak-anak sampai ke orang dewasa untuk memahami hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Malah sampai ke hal-hal yang paling mengerikan, yaitu: menyangkali adanya TUHAN. Inilah ulah manusia cuci otak sesama bukan untuk tujuan pembersihan tetapi pengotoran sampai pengaburan dan penggelapan yang membuat seseorang atau sekelompok orang takabur, salah memakai otak ke arah pembinasaan sesama oleh sesama.

    Cuci otak. Ada dua pihak. Yang menyuci dan yang dicuci. Yang menyuci memakai otaknya untuk merusak otak orang lain. Yang dicuci menyerahkan otaknya untuk dicuci demi tujuan yang jahat. Dua pihak berada pada posisi yang salah, malah jahat karena akibat dari cuci otak seperti ini, sudah ada dalam sejarah umat manusia, betapa banyak malapetaka yang muncul karena hal yang sangat sederhana ini, cuci otak.

    Cuci otak berawal dari NAFSU manusia untuk bersorak di atas derita dan petaka sesama. NALAR manusia mencari segala upaya mencuci otak manusia sekian rupa agar dapat menemukan dan menggunakan segala macam  cara dan alat untuk mencelakakan sesama. NALURI manusia yang seharusnya tertuju kepada kebaikan diri dan sesama, diputar-balikkan lewat cuci otak untuk menghalalkan tindakan merusak dan mematikan diri dan sesama itu baik dan luhur. NURANI manusia dibutakan lewat cuci otak untuk melihat yang gelap itu terang dan yang hitam itu putih. Dunia kasih dijungkir-balikkan menjadi dunia iri dan dengki. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Cuci otak model begini harap tidak terjadi lagi di belahan bumi ini di mana pun dan kapan pun. TUHAN Pencipta diri kita manusia yang dilengkapi dengan bahagian tubuh yang kita kenal dengan istilah otak, tidak tega melihat otak hasil karya-Nya diutak-atik dengan tindakan cuci-mencuci sampai hilang tujuannya, mewujudkan Damai dan Kasih.

  • Otak Encer

    Otak encer.  Pintar. Encer, cair, mengalir. Senang kalau anak otak encer. Encer atau tidak, penilaian manusia. Setiap manusia itu punya otak encer. Encer artinya mampu mencari dan mendapat jalan untuk kelangsungan hidup. Orang yang dilihat sebagai orang gila pun otaknya encer. Dia bisa hidup dan tetap hidup karena otaknya encer. Otak encer itu ada tingkat-tingkatnya. Tapi yang namanya otak, setiap pribadi manusia itu otaknya encer. Ini dipahami berdasarkan Pencipta manusia, TUHAN. Tidak mungkin manusia diciptakan dengan otak tidak encer dan hidup kesasar di dunia ini.

    Dalam diri manusia ada NAFSU untuk memperoleh segala kemungkinan supaya hidup penuh semarak dari saat ke saat. Ini membutuhkan otak yang encer. Hanya otak encer yang mengatur NALAR untuk belajar dari pengalaman dan memperoleh pengetahuan baru supaya hidup semakin hari semakin mekar ibarat kembang di padang subur. Manusia ada NALURI untuk kenal-mengenal antara satu sama lain supaya sama-sama hidup dan sama-sama ceria. Ini hanya mungkin kalau otak itu encer. Hasil dari otak encer itulah manusia mengalami ketenteraman dalam NURANI. Empat unsur dalam diri manusia ini, NAFSU yang mendorong, NALAR yang mencerahkan,  NALURI yang menggembirakan, membuat manusia mengalami kedamaian dalam NURANI sebagai tujuan hidup dari hari ke hari. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Otak encer itu hadiah langsung dari Pencipta. Tiap orang otaknya encer. Encer semakin encer melalui pendidikan dan pelatihan sesuai bakat dan minat tiap orang. Pengembangan otak untuk semakin encer adalah kewajiban dari setiap orang dan itu menjadi hak yang tidak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun. Hidup kita manusia ini entah dalam keluarga atau masyarakat luas menjadi indah dan penuh keceriaan karena otak-otak encer menyumbangkan serpihan keindahan pada setiap sisi hidup di dunia ini.

    Menghambat encernya otak atau menyalah-arahkan hasil encernya otak adalah ulah salah dari manusia yang salah olah aliran encernya otak. Pencipta kita, TUHAN, senang dan puas karena tujuan Ciptaan-Nya tercapai lewat pengembangan dan pemanfaatan otak yang encer oleh setiap manusia selama diberi kesempatan untuk menata diri dan alam sekitar lewat kegiatan otak-otak yang encer.

     

  • Otak Dingin

    Otak dingin. Dingin ada kaitan dengan damai. Otak dingin terpancar di wajah yang ramah, tangan yang terentang tenang. Ini yang diharapkan terjadi setiap saat dalam diri manusia dan antara sesama manusia di dunia. Otak dingin tidak berkaitan dengan suhu. Otak dingin ada kaitan dengan penampilan seluruh diri pribadi manusia. Otak dingin menyejukkan diri dan sesama. Otak dingin mempengaruhi tangan yang dingin. Apa saja yang disentuh, entah itu manusia atau alam sekitar, jadi dingin seolah ditetesi embun pagi hari.

    Dalam diri kita manusia ini ada NAFSU yang menginginkan kesejukan. Naungan yang teduh di tengah teriknya matahari dicari oleh dorongan NAFSU kita untuk menghirup segarnya udara. Hidup yang segar itu kerinduan setiap kita yang muncul dari NAFSU yang menggelora dalam dada. Otak yang dingin saling menyejukkan antara sesama dan terpercik pada alam sekitar.

    Dalam diri kita ada NALAR yang senantiasa mengupayakan agar diri kita berada dalam suasana yang sejuk oleh dinginnya otak. NALAR yang sejuk mengarungi samudera yang teduh.

    Kita ada  NALURI untuk berpikir yang damai bagi diri dan sesama dan itu terucap dalam kata penuh irama puitis dan terukir lewat karya agung memahat arca manusia bak dewata. Inilah hidup  tuntunan NALURI lewat otak yang dingin.

    Manusia ada NURANI yang disiapkan oleh Sang Pencipta untuk setiap kita agar otak yang dingin mengalirkan sejuknya hidup lewat seluruh pembuluh hidup menghidupi setiap sel dalam diri kita.

    Empat unsur dalam diri kita manusia ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI bekerjasama mengeja-wantahkan arus hidup dari otak yang dingin. TUHAN Pencipta kita sudah atur yang ini, otak dingin untuk sejukkan hidup. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mengapa kita mau memanas-manasi diri dan sesama dengan iri dan dengki?

    Lihat, TUHAN tersenyum melihat kita saling merangkul dengan otak dingin dalam teduhnya rindang relung langit lazuardi.

  • Selalu Senang

    Selalu senang. Itu berarti segala kebutuhan terpenuhi. Sering kurang senang malah tidak senang. Itu artinya kebutuhan yang diinginkan kurang terpenuhi atau tidak terpenuhi. Kebutuhan itu ada tiga. Ini sudah umum diketahui. Satu: kebutuhan pokok terdiri makan, minum dan perumahan. Dua: kebutuhan penting terdiri dari pendidikan dan kesehatan. Tiga: kebutuhan perlu, hiburan. Jadi ada tiga kebutuhan: pokok, penting dan perlu. Untuk mudahnya, ingat saja ‘3P’. Kalau tiga kebutuhan ini terpenuhi, maka senanglah hidup kita.

    Selalu senang. Apakah tiga kebutuhan itu selalu terpenuhi sehingga selalu senang? Hidup ini tidak mungkin selalu senang atau selalu susah. Ada susah ada senang. Ini yang salah. Selalu senang dan harus selalu senang. Tinggal mengerti apa itu senang.

    Selalu senang, kalau:  dorongan  NAFSU menikmati terpenuhi, desakan NALAR mengetahui terjadi,  harapan NALURI terwujud, arahan NURANI dipatuhi. Itu yang namanya senang. Hidup ini senang dan untuk senang. Selalu senang. Empat unsur dalam diri kita manusia yang diberikan oleh PENCIPTA, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI justru untuk membuat kita manusia senang dan selalu senang. (4N, Kwadran Bele, 2011). Tidak pernah terlintas dalam pemahaman saya bahwa TUHAN mengatur kita di dunia ini untuk hidup senang dan tidak senang sekaligus. Kadang-kadang senang dan kadang-kadang susah. “Itu kehendak TUHAN”. Pemahaman dan ungkapan ini sama sekali tidak benar menurut saya. TUHAN punya kehendak tunggal, membuat manusia, senang.

    Selalu senang. Malam berganti siang. Musim berganti musim. Itu untuk membuat kita senang. Usia menjadi lanjut. Itu menghantar kita untuk jalankan pekerjaan yang lebih ringan supaya senang. Alam dipenuhi dengan tumbuhan dan hewan untuk dijadikan santapan kita manusia. Ini untuk membuat kita senang. Tidak ada satu benda atau satu hal pun yang dirancang PENCIPTA untuk membuat kita manusia senang lalu susah kemudian senang. Kita manusia bukan boneka permainan di Tangan TUHAN. Kita adalah pribadi kesayangan TUHAN. DIA senang membuat kita senang dan selalu senang.

     

  • Isi Otak

    Isi otak. Apa yang ada dalam otak, itulah isinya. Bisa juga kegiatan, isi apa-apa dalam otak. Dengan demikian otak ada isi dan isi otak menjadi kekayaan setiap pribadi manusia. Tidak ada satu otak pun yang tidak ada isinya. Setiap otak ada isi. Sekarang saya ketik huruf-huruf yang jadi kata lalu kalimat dan jadi uraian filsafat ini hasil dari otak yang ada isi dan isi otak yang dipancarkan. Isi otak semakin dikeluarkan semakin ada yang masuk dan semakin berisi.

    Otak saya sekarang penuh dengan uraian filsafat tentang empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita manusia ada NAFSU, unsur pertama yang mendorong kita untuk isi otak dan isi otak diaduk untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh NAFSU. Dalam otak ada isinya yang berputar oleh dorongan NALAR. Berbagai pengalaman dan pengetahuan tersimpan dalam otak dan menjadi bahagian dari isi otak. Isi otak ini tidak pernah berkurang. Terus bertambah dari saat ke saat. Ini hasil dari NALURI yang mendorong kita manusia untuk bergaul dengan sesama dan terus menambah isi dalam otak. Isi otak kita diolah oleh NURANI yang menapis sampai ada hasil yang nampak dalam dua kemungkinan, baik atau buruk.

    Isi otak kita kalau tidak dibagi kepada sesama, maka ibarat air dalam bak tampungan, akan membuat bak itu kotor dan berlumut. Isi otak harus dibagi agar ibarat bak air terus dikuras dan terus bersih dan isinya segar. Membagi isi otak tidak mungkin membuat otak kita kosong, kehabisan isinya. Semakin dibagi semakin berisi otak kita itu.

    Isi otak itu campur aduk antara yang yang baik dan yang buruk. Setiap pribadi mengisi otaknya dengan berbagai cara dan bahan yang dimasukkan pun tergantung pada tiap diri kita. Masukkan yang buruk, isi otak kita jadi buruk, kotor. Masukkan yang baik, isi otak kita jadi baik, jernih.

    Tiap pribadi kita diciptakan oleh TUHAN, Sang Pencipta dengan otak yang sudah ada isi sejak awal kehidupan. Isi ini yang berkembang karena terus dikembangkan lalu menjadi pusaka diri kita yang ditampilkan dalam setiap detak jantung kita untuk menapaki hidup ini langkah demi langkah.

    TUHAN Pencipta kita tetap menuntun kita untuk isi dan pakai isi otak kita dengan baik dan benar demi kedamaian dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia ini maupun sesudah terlepas bebas ke dalam hidup tanpa batas.