Blog

  • Percaya diri

    Percaya diri. Maksudnya? Percaya bahwa diri itu ada, berada dan mengada. Kalau kurang atau tidak percaya diri? Celaka. Kalau diri saja sudah kurang atau tidak dipercaya, mana mungkin percaya yang di luar diri? Ada titian dari kayu. Waktu mau meniti harus percaya bahwa kayu itu kuat. Lalu percaya bahwa diri mampu meniti kayu itu dan bisa tiba di seberang. Percaya diri artinya dalam diri itu ada perangkat yang memampukan diri untuk berbuat apa saja yang dikehendaki. Ada dan bisa. Ada kalau tidak bisa, jangan percaya. Bisa tapi tidak ada, apa gunanya percaya? Percaya artinya dalam diri itu ada dan bisa untuk buat apa-apa. Dan apa-apa itu harus yang baik, benar dan bagus. Untuk itulah percaya diri. Dalam diri ada Nafsu, dorongan untuk menikmati yang baik. Percaya itu. Dalam diri ada Nalar, kemampuan untuk berpikir dan mengalami hal yang baik. Percaya. Laksanakan. Dalam diri ada Naluri untuk mengarahkan diri kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sesama untuk hal-hal yang baik. Percaya itu. Dalam diri kita ada Nurani untuk menyadari adanya kebaikan yang berasal dari Yang Mahabaik, TUHAN. Haaa, inilah sumber dari segala sumber untuk percaya, percaya diri dan sesama yang mengarah kepada percaya pada TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Percaya diri. Hidup ini percaya diri bahwa TUHAN tempatkan kita di bumi ini tidak untuk hal yang sia-sia. Percaya diri bahwa diri kita itu dipercaya oleh TUHAN untuk tampil menjadi saksi tentang adanya TUHAN Yang kepadaNya kita percaya. Hidup tanpa percaya adalah hampa. Buat apa-apa tanpa percaya diri, sia-sia. Penuh percaya diri untuk hidup detik demi detik. Orok dalam kandungan bundanya sudah percaya diri bahwa dirinya aman selama sembilan bulan lebih. Waktu dilahirkan, bayi ini sudah percaya diri bahwa dirinya diberi asi untuk hidup. Itulah kita manusia. Percaya diri sejak dari kandungan. Malah percaya diri sejak diri kita tercipta oleh Pencipta lewat kasih Ibu dan Ayah kita.

    Percaya diri. Ini jadi dasar untuk saling percaya. Suami percaya isteri, isteri percaya suami. Keluarga tercipta atas dasar saling percaya ini yang dipancarkan oleh diri-diri yang percaya diri. Anak-anak percaya bahwa diri mereka akan bertumbuh menjadi dewasa karena terlindungi oleh orang tua yang percaya diri bahwa mereka adalah orang tua yang baik. Guru yang baik percaya diri untuk tampil di muka kelas berhadapan dengan siswa-siswi yang percaya bahwa Guru mereka ini orang baik. Para siswa-siswi pun masing-masing percaya diri bahwa dirinya diakui sebagai siswa atau siswi karena mampu menerima ilmu dari seorang Guru yang percaya diri bahwa apa yang dia sampaikan kepada siswa-siswinya itu hal-hal yang baik, benar dan bagus.

    Percaya diri. Hidup dan kehidupan adalah gerak langkah setiap diri manusia yang percaya diri bahwa dirinya dipercaya oleh SANG PENCIPTA untuk bergerak dari DIA, dalam DIA ke DIA. DIA itu adalah DIRI Yang kita sapa dengan berbagai NAMA, salah satu NAMA, TUHAN.

  • Jaga diri

    Jaga diri. Memangnya ada yang ganggu sehingga perlu jaga diri? Ya. Perlu. Menjaga dan dijaga. Itulah hidup. Siapa jaga siapa? Tiap diri kita manusia ada lalu tidak ada yang jaga, mana mungkin bisa hidup. Hidup ini jaga menjaga. Rentetan aksi jaga menjaga itulah mata rantai dari kehidupan. Itu harus mulai dari awal, siapa penjaga awal. Itulah TUHAN. Mulai dari DIA. Langsung alur pikir kita menjadi jelas dan mudah. TUHAN menjaga setiap diri kita manusia agar hidup yang IA letakkan dalam diri kita berlangsung terus tanpa ada lagi akhirnya. Karena IA beri hidup dan kita hidup, maka IA menjaga supaya kita tetap hidup dan untuk itu kita yang hidup ini diberi tugas dan wewenang untuk jaga hidup itu. Kita diberi Nafsu untuk suka hidup. Diberi Nalar untuk alami hidup. Diberi Naluri untuk lanjutkan hidup bersama orang lain. Diberi Nurani untuk tetap yakin bahwa hidup itu berasal dari DIRI-NYA dan akan kembali kepada DIRI-NYA. Dari sini timbul upaya itu, DIA jaga kita dan kita jaga diri.  Inilah rentetan jaga menjaga. Tiap-tiap kita jaga diri dan tiap-tiap kita jaga diri sesama kita agar hidup yang DIA beri berlangsung dalam rangkaian hidup penuh gairah hidup.  Jaga menjaga. Sumbernya, DIA, penggeraknya  diri kita yang diberi penggerak, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jaga diri. Kalau setiap kita manusia ini jaga diri maka apa yang dicemaskan di dunia ini selama yang namanya kita manusia ini hidup? Damai dan tenteram. Itu idealnya. Mengapa itu tidak terjadi? Tiap diri kita selalu tertimpa berbagai petaka kecil atau besar. Itu karenakurang juga atau tidak jaga. Jaga yang betul itu namanya siaga. Ditambah kata siap maka jadilah siap- siaga.  Jadilah hidup yang  aman sejahtera. Kalau kurang aman, kurang jaga, sehingga ada kegalauan, kekacauan. Siapa penyebab semuanya itu? Diri. Diri siapa? Diri saya, diri anda, diri dia, diri kita. Jangan cari kambing hitam. Biasanya iblis dikambing-hitamkan. Ini kerja iblis. Tidak. Iblis itu ada, pengganggu, tapi tidak berdaya apa-apa kalau setiap kita ketat jaga diri. Anehnya, sering diri kita menjadi rekan dengan pengganggu itu sehingga huru-hara dapat terjadi sewaktu-waktu. Kacau di dalam balau di luar. Kacau balau dalam diri setiap kita dan diri begitu banyak diri manusia, maka lengkaplah kekacauan, menimpa sebahagian atau seluruh umat manusia.

    Jaga diri. Supaya jangan ada kecelakaan sekecil apapun, kita semua jaga diri. Jaga sesama. Saling menjaga. Untuk apa? Untuk ciptakan suasana damai dan tenteram. Sesuai dengan kehendak DIA Yang mencipta kita lalu senantiasa menjaga kita.

  • Pertahankan diri

    Pertahankan diri. Siapa yang bertahan akan hidup. Hidup ini bertahan dari saat ke saat. Nafsu pertahankan diri itu yang membuat kita hidup dan terus hidup. Nalar kita terus bekerja untuk bertahan hidup dalam situasi apa pun. Malam berlalu dan nalar kita mulai beraksi untuk menyambut siang. Sepanjang siang bertahan sampai malam tiba dan begitu terus dan itulah hidup, bertahan, pertahankan diri. Naluri kita mendorong kita untuk pertahankan diri bersama sesama yang juga tiap-tiapnya pertahankan diri. Kita makan sama-sama di meja makan adalah aktivitas pertahankan diri masing-masing pribadi untuk bertahan hidup dengan kenyangkan diri seperlunya. Pertahankan diri yang tidak boleh terjadi itu kalau pertahankan diri sambil robohkan orang lain yang sementara bertahan pertahankan diri. Dia juga ada hak untuk pertahankan diri. Kalau baik, mengapa dia digerogoti? Nurani kita berbisik pada diri kita untuk tetap pertahankan diri dalam situai apa pun sejauh diri bertahan dalam kebaikan, kejujuran dan keadilan. Inilah kerjasama antara 4N dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pertahankan diri. Memangnya ada serangan? Tidak. Pertahankan diri dalam arti luas itu bergerak, menyatakan diri ada dan berada serta mengada untuk pertahankan nafas kehidupan yang ada dalam diri setiap diri kita. Dalam bus yang pengap seorang bergerak mengap-mengap mencari udara segar, itu dorongan pertahankan diri agar tidak mati lemas. Bayi dalam gendongan mamanya meronta menangis histeris, tanda dia pertahankan diri karena ternyata tangannya yang tergantung disengat semut merah. Kelompok suku terasing merontak memanah dan menyumpit pendatang baru yang mengganggu, tanda pertahankan diri dalam situasi belantara yang penuh nyamuk dan pelanduk yang sama-sama ada dan sama-sama pertahankan diri. Hidup ini pertahankan diri dalam tenang dan damai.

    Pertahankan diri. Tiap diri kita pertahankan diri dan tiap kita diberi TUHAN, PENCIPTA kita kemampuan pertahankan diri yaitu empat unsur itu: NAFSU + NALAR + NALURI +  NURANI. Makan dan minum adalah kegiatan rutin pertahankan diri yang didorong oleh Nafsu. Makan apa, minum apa adalan pertanyaan yang dijawab oleh daya Nalar dalam diri kita untuk tahu dan alami apa yang tepat untuk dimakan dan diminum. Bedakan antara madu dan racun adalah kemampuan Nalar. Naluri kita mendorong untuk memandang keliling untuk rangkul sesama agar sama-sama pertahankan diri dan bukan saling merobohkan. Jalan seiring duduk sejajar. Itulah gerak yang diarahkan oleh naluri setiap kita dalam hidup dari hari ke hari. Nurani kita hembuskan dalam diri kita hawa segar untuk segarkan diri dan sesama sekitar untuk sama-sama segar agar semua mekar rengkuh Rahmat yang tercurah dari DIA tanpa hitung waktu dan tempat. Itulah hidup, pertahankan diri agar utuh datang dari DIA dan kembali pun dalam keadaan utuh.

  • Benarkan diri

    Benarkan diri. Tidak ada satu orang pun yang suka salahkan diri. Salahkan orang lain dan benarkan diri, biasa. Sendiri benar terus. Nafsu untuk benarkan diri dan menang sendiri itu sangat kuat dalam diri setiap orang. Dengan Nafsu benarkan diri inilah setiap manusia itu bisa hidup. Salahkan diri sama dengan bunuh diri. Nalar setiap kita bermain, cari berbagai alasan yang masuk akal untuk benarkan diri. biarpun sering alasan itu tidak masuk akal sehingga sesama yang melihat itu langsung melontarkan ungkapan, sistim burung unta, sembunyi kepala padahal seluruh badan ada di luar, kelihatan. Naluri kita manusia ini memang cari yang benar dan benarkan diri di hadapan sesama. Bangga kalau dapat acungan jempol karena diri benar. Syukur kalau itu benar yang benar-benar benar. Bisa terjadi nampaknya benar padahal terselimuti dengan berbagai ke-tidak-benar-an. kebohongan. Nurani kita tertipu kalau benar yang sekedar dibenar-benarkan padahal sebenarnya tidak benar. Hidup tipu diri. Inilah kerjasama antara empat N: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dalam proses benarkan diri. Nurani kita berbinar kalau benar dan memang benar sehingga benarkan diri yanb benar. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Benarkan diri. Luar biasa kalau memang itu benar-benar benar. Menampik tuduhan yang mempersalahkan lalu pertahankan diri dan uraikan panjang lebar tentang benarnya diri yang benar, maka itulah yang harus terjadi setiap saat, benarkan diri, bukan salahkan diri. Setiap penampilan diri kita itu adalah penampilan pembenaran diri. Diri benar duduk di tempat yang benar. Di tempat umum,  duduk  di tempat yang disediakan untuk umum, benar. Kalau duduk di tempat yang sudah dikhususkan untuk orang tertentu, misalnya untuk orang cacat, salah. Itu salah duduk. Kalau sudah salah duduk lalu benarkan diri, ini yang salah.  Pertahankan kesalahan itulah yang sering membuat hidup kita ini tidak nyaman, penuh dengan salah faham sampai bertikai malah saling serang mengarah ke saling bunuh-membunuh.

    Benarkan diri. Itu baik sejauh benarkan diri pada posisi yang benar. Saya guru. Pukul murid. Orang bilang itu salah, lalu bela diri, saya benar, murid salah. Posisi guru itu mengajar, mendidik, bukan memukul. Cara mendidik dengan memukul, salajh. Tapi kalau benarkan diri dan pertahankan diri bahwa cara mendidik dengan memukul itu benar, itu salah. Lalu dalam posisi guru, benar, tapi pakai posisi itu untuk menghajar murid bukan mengajar, maka posisi ini salah digunakan. Tidak benar. Sudah tidak benar terus benarkan diri. Itulah contoh kekisruhan dalam hidup kita bahwa pakai salah posisi untuk berbuat yang tidak benar lalu ngotot tetap benarkan diri. Salah.

    Benarkan diri. Setiap diri kita manusia ini ada karena benar ada dan adanya kita itu untuk saksikan kebenaran. Kebenaran tentang apa saja. Hidup ini kumpulan berkas benar dan benar tentang kebenaran. Setiap langkah itu benar ke arah kebenaran. Hati-hati, jangan salah langkah. Langkah yang tidak benar itu segera dibalik ke arah yang benar. Jangan pernah kita benarkan diri kalau langkah sudah salah. Hidup benar itu berasal dari sumber kebenaran dan itulah TUHAN. Dari DIA , ke DIA, dalam DIA. Itulah hidup yang benar.

  • Vox

    Vox. Ini kata bahasa Latin, artinya suara. Dalam pemilihan umum, pemilu, suara dikumpulkan melalui pencoblosan surat suara oleh tiap orang satu surat suara. Maka, satu orang satu suara. Ini yang lazim disebut ‘vox populi‘, suara rakyat. Ini benar-benar suara rakyat. Mulai tidak benar itu waktu ditambah dua kata, ‘Vox Dei‘ artinya, Suara Allah. Lebih tidak benar lagi kalau suara yang terkumpul di kotak suara waktu pemilu disebut ‘vox populi vox Dei‘. Lucu. Suara rakyat itu disebut suara Allah. Berarti suara itu kudus, karena dari Allah, untuk calon tertentu. Lalu calon itu terpilih, dia berbangga bahwa dia terpilih karena ‘suara Allah’. Lalu yang tidak terpilih karena jumlah suara tidak mencukupi, berarti ‘suara Allah’ tidak cukup, kurang?

    Vox. Suara itu kehendak dari Nafsu seseorang yang memberi suara kepada seorang calon. Suara itu berdasarkan pertimbangan  Nalar seseorang pemilih. Dia beri suara karena ada Naluri yang cocok dengan pribadi calon. Nurani pemberi suara itu tenang karena sudah memberikan suara kepada calon pujaannya. Kerjasama empat unsur dalam diri manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani ini menghasilkan satu suara dari seseorang untuk seseorang. Ini sama sekali bukan suara Allah. Ini murni suara pribadi manusia yang dengan bebas atau tidak bebas (kalau tertipu) memberikan suara kepada sang calon. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Vox. Suara yang dibeli dengan uang, suara Allah? Suara yang terhimpun dengan umbar janji kosong sang calon. Suara Allah? Ini murni suara rakyat dalam sistem yang disepakati untuk pemilihan calon legislatif atau eksekutif pada periode waktu tertentu, lima tahunan. Herannya ada anggapan, sang calon yang terpilih dengan pengumpulan suara terbanyak mengganggap itu kehendak Allah. Berarti Allah campur tangan untuk memilih seseorang dalam posisi tertentu, menjadi anggota legislatif atau eksekutif, kepada daerah atau presiden dan wakil presiden. Salah kaprah. Pemilihan umum itu perebutan suara. Perebutan itu tidak mungkin atas amanat Allah. Itu murni kehendak bebas dari manusia yang berkenan pada Allah kalau dilaksanakan dengan jujur dan adil, sebaliknya tidak berkenan pada Allah kalau perebutan suara itu dengan cara-cara kotor, penipuan dan persekongkolan jahat.

    Vox. Kalau vox, suara itu sudah diperoleh dan seseorang menduduki kursi sebagai hasil penghimpunan suara, langsung kewajiban si pemenang itu untuk melaksanakan segala tugas dan wewenang sesuai dengan kehendak Allah, jujur dan adil. Itu saja. Jadi bukan Allah Yang pilih, bukan Allah yang suruh duduk di kursi ini atau itu. Kursi itu direbut dan diduduki untuk melayani sesama, mengabdi Allah. Dengan itu si-pemenang senang (hasil Nafsu), gembira (hasil Nalar), puas (hasil Naluri), bahagia (hasil Nurani). Perpaduan empat hasil ini: senang + gembira + puas + bahagia, menjadi tujuan hidup setiap manusia baik di dunia ini maupun di akhirat.

  • HP

    HP. Handphone. Telepon genggam. HP saya artikan dengan istilah, Hati Putih. HP jadi alat, sarana untuk sebarkan isi Hati Putih. Semua serba putih, dalam arti, bersih,  jernih, menyegarkan diri dan sesama. Dalam diri kita setiap pribadi, ada empat unsur itu: NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).  Empat unsur ini harus sama-sama putih baru hasilnya putih. Kalau salah satunya, hitam, kotor, empat-empatnya tercemar sehingga diri pribadi jadi kotor, tidak putih lagi.

    HP. Lewat sarana ini, tersebar getar Hati Putih yang membuat hati yang lain turut putih. Nafsu menyebarkan isi hati, selalu membuat diri kita tidak tenang sebelum isi hati itu dicurahkan. Senang sesudah terungkap kepada sesama. Nalar menggebu-gebu mencari rumus yang tepat untuk menampilkan isi hati putih dengan cara yang tepat. Hasilnya gembira. Naluri membuat diri kita sibuk utak-atik HP menjangkau kerabat kenalan jauh dekat sebar berita putih dari hati putih. Nurani jadi tenang sesudah isi hati putih disambut dan dibalas dengan hati yang putih pula. Ini tujuan si-penemu alat yang satu ini, hp.

    HP. Tujuan baik,  pakai hp dari hati putih, hasilnya dunia ini ramai, damai, ria, teduh, tenang, aman, tenteram. Mengapa hp disalah-gunakan untuk gembar-gembor berita miring iris hati cincang hati berkeping-keping? Puaskah sipenyebar? Hp kirim dan terima khabar kasar penuh amarah dari hati yang kelam tenggelamkan segala rindu dan harap akan sejuknya bathin. Ini yang sering terjadi. Sebar berita amarah dan dengki akan terus berlanjut? Akan membudaya? Kita manusia meracuni diri, hati hancur lebur, dari putih ke kelam, gelap gulita.

    HP. Ini alat kurnia TUHAN lewat daya Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dari para penemu, perancang dan perakit, yang kemudian dilempar ke pasar lalu digenggam oleh setiap tangan kecil-besar, lembut-kasar dari lebih separuh penduduk dunia sekarang ini.

    TUHAN mau kita sebar khabar putih penuh kasih  dari hati putih antar sesama. Itulah tujuaHP, Handhone, Telpon genggam

  • Pilih

    Pilih. Hidup ini pilih. Pilih ini atau itu. Tidak bisa genggam semua. Dua telapak tangan tidak mampu untuk genggam sekarung jagung. Pilih dan cuma ambil satu genggam atau dua genggam kalau dengan dua tangan. Terbatas. Pilih dari sekian banyak. Ada pemilih ada pilihan, ada yang dipilih ada yang tidak dipilih. Dalam politik ada pemilihan umum. Dalam hidup sehari-hari, ada pilihan yang dahulu dan yang kemudian. Tempat dipilih. Mau di sini atau di sana. Waktu juga dipilih. Hari ini atau esok. Orang pun dipilih. Berkawan dengan dia ini atau dia itu. Berkawan dengan semua, itu harus. Tetapi harus pilih salah satu. Berkawan akrab sama akrab dengan dua orang sekaligus, tidak mungkin. Pasti ada satu yang lebih akrab. Inilah pilihan.

    Pilih. NAFSU dalam diri kita mendorong kita untuk pilih ini atau itu. NALAR kita memberikan pertimbangan untuk jatuhkan pilihan untuk yang ini bukan itu. Dalam diri kita ada  NALURI yang mempengaruhi sampai kita pilih ini sebagai yang terbaik menurut kita. Dalam NURANI selalu ada dorongan untuk memberikan pujian kalau kita pilih yang benar dan beri teguran kepada kita kalau kita salah pilih. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita dalam aksi pilih. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pilih. Pilih yang baik. Mana pilih yang buruk. Kegiatan pilih memilih yang dikendali oleh 4N dalam diri kita membuat kita manusia segar setiap saat dari peristiwa ke peristiwa. Kita tidak terpaku pada satu keadaan. Terus berubah dan itulah pilihan. Berubah karena kita berubah. Berubah bukan karena orang yang ubah kita. Tidak. Kitalah yang ubah sehingga berubah. Inilah hasil dari pilih. Hari ini pilih makan ini, besok makan itu. Hari ini belajar ini dan besok belajar yang lain. Terus pilih dan pilih. Jadilah pilihan yang membuat diri kita terpilih untuk apa saja yang tidak sama dengan orang lain.

    Setiap kita adalah pribadi pilihan TUHAN. Karena pilihan TUHAN, maka dengan sendirinya setiap kita itu orang kesayangan TUHAN. Saat kita menutup mata untuk terakhir kalinya, itulah saat kita dipilih TUHAN untuk bersatu abadi dengan DIRINYA.

  • Bookkeeping Software for Small Businesses

    Here’s a closer look at the key features and how they perform in practice. Before investing, consider your investment objectives and the fees and expenses charged. Neither Atomic Invest nor Atomic Brokerage, nor any of their affiliates is a bank. NerdWallet has engaged Atomic Invest LLC (“Atomic”), an SEC-registered investment adviser, to bring you the opportunity to open an investment advisory account with Atomic. If you find discrepancies with your credit score or information from your credit report, please contact TransUnion® directly.

    Reconciliation: Ensuring Your Books Match Your Bank

    The money hits your account faster than you can say “paid in full.” Even better, Wave lets clients pay online with a credit card or bank transfer. Wave makes it easy to create sharp-looking invoices in minutes.

    Create an invoice in seconds with beautiful, customizable templates, part of our free Starter Plan.

    However, if your business isn’t properly registered, tax-compliant, or recognized by the government, those clean books won’t protect you when it matters. Within a few months, you’ll not only know your business’s financial health, but you’ll also be able to predict trends and make smarter decisions with confidence. Dedicate a few minutes each week to log in, review reports, and reconcile accounts. Review your account settings to ensure your tax information and fiscal year are correct. In the final week, start automating your recurring invoices, payments, and categorization rules. You’ll learn how reports reflect your business performance and use reconciliation to keep your books error-free.

    Love your program, thanks for everything you do

    I can link my business bank and credit card accounts and watch transactions import automatically without any extra setup. It’s built for people who don’t have a finance background but want an easy-to-use system that handles invoicing, expenses and payments in one place. If you’re searching for a cloud-based accounting software, Wave Accounting is one bank loans and overdrafts of the few tools that lets you manage your books without paying a monthly fee. Objective and comprehensive business accounting software ratings rubric. Visit your dashboard or use your invoicing or accounting features, and click the “Upgrade now” button.

    Wave vs QuickBooks

    However, Wave is perfect for freelancers and small businesses that need quick and simple estimates. The feature is available for both plans at $40 per month plus $6 per employee or independent contractor. Employees get a basic portal where they have access to paystubs, W2s and vacation time. It offers automatic tax calculations, direct deposit and optional automated tax filings (availability varies by state). I like the fact that recurring billing, deposits and automatic payment reminders are built into the software. It’s a practical setup for small operations that want automation without extra software.

    It allocated them as COGS directly which means I need a JE every time I sell any of my goods. WAVE will cause immediate debiting the WAVE client’s account. Nevertheless, WAVE will expect the merchant (the business) to reimburse them, immediately.

    Unify your business back office with doola—an all-in-one platform that handles LLC Formation, Bookkeeping, Taxes, and E-commerce Analytics. Stick with the free plan while you’re testing or just starting out. Once activated, Wave lets you invoice and record expenses in different currencies, automatically converting them to your home currency for reports. Once the legal foundation is in place, Wave’s reports and transactions start reflecting what is an account payable real business health, not just personal cash flow. But when they apply for Stripe to accept U.S. payments, they hit a wall because they don’t have a registered U.S. business entity.

    Unlimited bank and credit card connections

    Look and feel polished, keep your books organized, and kick tax season’s butt, whether you’re a newbie or seasoned pro. In eight years, we haven’t had a single unpaid invoice, thanks to how easy it is to create, send, and follow up. The fee is calculated for a calendar month of transactions, and depends on the size of your business.

    Get comfortable with them, and bookkeeping will start to feel less like a chore and more like a smart business habit. Always use a dedicated business account. Tracking expenses keeps your books accurate and your taxes clean. These are the building blocks of your bookkeeping routine, and mastering them early will save you time and frustration later. Wave shines when you connect it to your financial accounts. If you’re new to Wave, the first step is to set up your account properly.

    The Easiest Way to Start and Scale Your U.S. Business.

    Even if you handle your books yourself, a quarterly review with an expert accountant can catch small errors before they turn into big ones. Both belong under the Equity section of your chart of accounts. When running reports, filter or export transactions with those notes to see profitability per project. Add labels like “Marketing Campaign,” “Holiday Sale,” or “Product Launch” to track project-specific income and expenses. Here’s how to save time, reduce manual work, and keep your books audit-ready all year round.

    Sometimes your Wave account balance doesn’t match your actual bank balance, which is usually caused by missing, duplicated, or miscategorized entries. Sometimes Wave can’t connect to your bank due to authentication changes, MFA (multi-factor authentication), or updates from your financial institution. Even if you start small, learning these features early gives you better visibility, faster payments, and a clearer understanding of your business health. These tools help you manage payments, understand your financial health, and even handle payroll if it’s available in your region. Once you’ve mastered the basics of invoicing and expense tracking, Wave’s advanced features take your bookkeeping to the next level.

    I use it for quotes and invoices and receipts and accounting, the end of year reports for my taxes. However, the free plan still offers unlimited invoices, bills, and bookkeeping records, making it a solid option for those with basic accounting needs. Though it offers accounting functionality at no cost, Wave isn’t for businesses requiring budgeting, time tracking, job management, and more industry-specific features. Unlike other software, Wave is built for small business owners and solopreneurs at every stage—not accountants—so it’s easy for you to use. Experienced and passionate about the unique challenges small business owners face, Wave Advisors can give you help and advice when you need it—during the year, when you’re closing year-end, or at tax time.

    • Additionally, it’s limited in integrations, so it does not provide the scalability for more popular financial software like QuickBooks.
    • However, I do not like that users of the free plan do not have access to chat or email support.
    • Within a few months, you’ll not only know your business’s financial health, but you’ll also be able to predict trends and make smarter decisions with confidence.
    • It’s a quick way to see if your business is thriving or if you need to stop buying those fancy pens.

    Credit Cards

    • Wave’s payroll feature is best for very small businesses with just a few employees or contractors that want an easy way to run payroll.
    • Once your bank feed starts pulling in data, begin categorizing transactions.
    • So, if you’re like Noah, staring at a pile of receipts and dreading tax season, give Wave a shot.

    It’s perfect for small business owners, freelancers, or anyone who wants to keep their finances organized without losing their mind. Wave Accounting is like that reliable friend who shows up with pizza when you’re stressed. But for small businesses, freelancers, or side hustlers, Wave is like that perfect pair of sneakers—comfy, reliable, and just right for the job. Also, Wave isn’t built for huge, complex businesses.

    Should you need to upgrade to a more advanced solution, Wave makes it easy to migrate your data into another system. Overall, Wave is a smart, inexpensive choice for new companies that plan to stay relatively small. For both packages, there is an additional $6 fee per active employee or independent contractor paid. Additionally, it charges 1% per transaction ($1 min fee) for bank transactions. Wave charges 2.9% + $0.60 per credit card transaction and 3.4% + $0.60 per AMEX transaction. Wave allows you to track multiple businesses, while QuickBooks charges you for an additional subscription.

    We recommend Wave for small businesses, freelancers, and startups with less than ten employees. This change sparked frustration among some users, especially as features like automatic transaction imports were placed behind a paywall. This platform also provides customers with basic financial reporting and automated payment reminders. Form Your Construction Business with doola today. Join millions of self-starters in getting business resources, tips, and inspiring stories in your inventory turnover ratio formula inbox. We form your U.S. business in any of the 50 states and ensure it stays 100% compliant.

  • Calon

    Calon. Menanti jadi. Mengharapkan jadi. Jadi apa? Sesuatu. Yang baik, benar dan bagus. Tidak ada seorang pun yang mau jadi calon untuk sesuatu yang hina, salah dan buruk. Semua berebutan jadi calon untuk sesuatu yang baik, benar dan bagus. Makanya hidup kita manusia ini sebenarnya dalam posisi calon. Dan sebagai calon, kita dilengkapi oleh Pencipta kita, TUHAN, dengan empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Calon. Mau jadi sesuatu itu adalah dorongan NAFSU dalam diri kita. Bayi adalah calon kanak-kanak, selanjutnya calon pribadi remaja dan calon pribadi dewasa. Dalam bidang politik praktis, biasanya seseorang itu mengharapkan untuk menjadi sesuatu dalam posisi yang lebih tinggi, lebih terhormat. Tidak pernah seorang pejabat mencalonkan diri untuk menjadi penyapu lantai dan berebutan untuk mencapai posisi itu. Calon itu harap menggapai kursi yang lebih tinggi.

    Calon. Kalau berebutan, parah. Hidup kita manusia jadi kacau karena cara yang salah dalam proses pencalonan. Saling sikut, saling jegal dan saling injak terjadi karena kita yang adalah sama-sama calon begitu utamakan diri sampai sesama diremehkan. NAFSU menggebu-gebu, NALAR diperas tanpa ampun, NALURI dipacu cari pengaruh, NURANI ditindas ikut maunya diri tanpa lihat ada sesama dan paling utama dan pertama, tanpa peduli pada YANG di Atas,TUHAN. Calon itu berjuang menata diri untuk lebih cantik, lebih menarik, lebih pantas dan lebih layak, sangat boleh dan harus demikian. NAFSU dikendalikan dengan baik, NALAR dipakai untuk berpikir yang matang penuh pertimbangan,  NALURI dijadikan ajang mempengaruhi sesama baik dekat maupun jauh dengan tanam jasa dan budi baik, NURANI ditenteramkan dengan menyapa sesama  dan menyembah TUHAN.

    Calon. Mau jadi orang terhormat di bidang politik praktis, silahkan. Mau jadi pejabat pemerintah, silahkan. Ada tangga-tangga yang harus diikuti secara berjenjang. Mau jadi pengusaha yang sukses, harus, asal lewat cara-cara yang jujur tidak bohong-bohongan dalam harga dan pemasaran. Mau jadi artis yang tersohor, baik sekali. Berlatih dan terus  berlatih dan tampil dengan apik. Mau jadi olah-ragawan atau olah-ragawati yang menjuarai berbagai perlombaan, mengapa tidak? Calon juara.

    Calon. Kita semua ini calon orang yang berbahagia abadi. Dunia ini medan laga. Siapa kuat, dia menang. Kuat bukan untuk mengalahkan sesama, karena sesama itu bukan lawan. Kuat dalam melawan kelemahan dan ketamakan. Itulah perjuangan. Menang, menggembirakan PENCIPTA dan DIA akan merangkul kita pada saat akhir hayat dikandung badan.

  • Ada yang salah

    Ada yang salah. Belajar dari kesalahan. Tidak ada manusia yang tidak pernah buat salah. Manusia tidak sempurna. Dalam hal apa saja, manusia tetap buat kesalahan. Sampai dalam urusan agama pun manusia buat kesalahan. Makanya manusia harus sadar bahwa ia sudah dan sedang buat salah. Itu yang harus disadari dan perbaiki kesalahan itu. Untuk itu harus lihat dan sadar bahwa ada yang salah. Dalam sistem pemilihan umum di Indonesia sekarang ini ada begitu banyak keluh-kesah tentang berbagai hal. Tentang partai, tentang perangkat pemerintah yang urus pemilu, tentang calon, tentang uang, tentang cara. Banyak. Pemilu tidak disambut dengan gembira tetapi dengan kecemasan. Contoh konkrit, di tingkat Provinsi tertentu, ada daerah pemilihan (dapil) yang mempunyai jatah tujuh kursi di DPR-D Provinsi. Tujuh belas partai masing-masing mencalonkan tujuh orang. Maka jumlah calon, 17 x 7 = 119 calon. Mereka 119 orang memperebutkan 7 kursi. Maka siap-siaplah 119-7 = 112 orang mengelus dada sesudah hari pemilu karena tidak dapat kursi. Padahal proses pencalonan, sosialisasi, kampanye, baliho, temu-muka sudah menelan puluhan malah ratusan juta rupiah. Tragis.

    Ada yang salah. Salah di mana? Apa yang salah? Siapa yang salah? Tiga pertanyaan. Saya coba jawab mulai dari pribadi manusia. Alat yang saya pakai, Kwadran Bele, 4N. NAFSU untuk raih kursi terlalu besar. Kurang pakai NALAR. NALURI dipangkas. NURANI diberangus. Oleh diri sendiri. Salah di mana? Di sini, sistem. Perekrutan oleh Partai. Calon loyal pada Partai. NALAR kurang dipakai dalam arti paksa diri untuk ikuti kehendak orang-orang tertentu di Partai sehingga kerdilkan diri dengan abaikan pengetahuan dan pengalaman yang baik untuk diri dan masyarakat lalu dikorbankan untuk memuaskan kehendak Partai dalam diri orang-orang petinggi Partai. NALURI dikerdilkan dengan persempit pengaruh terbatas pada sesama anggota Partai dan para donatur Partai. NURANI dikesampingkan dengan pemaafan diri bahwa ini urusan politik, tidak perlu libatkan TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011). 

    Ada yang salah. Jadi salah pokok dan pokok salah di Partai. Desa pun mulai dibelah-pisah berdasarkan Partai. Lebih ngeri lagi, keluarga saja diporak-porandakan berdasarkan Partai. Suami, Isteri, Anak-anak, bisa saja tidak se-Partai. Runyam.

    Ada yang salah. Partai itu wadah, organisasi, kumpulan manusia. Kita manusia yang buat. Jadi? Kita yang salah. Kita memberangus diri dalam Partai. Pilih Kepala Daerah Kabupaten, Kota, Provinsi berdasarkan Partai. Pilih Presiden, Wakil Presiden, Anggota DPR-D, mulai dari Kabupaten, Kota, Provinsi sampai Pusat, lewat Partai. Kita jadikan diri robot dalam Partai. 

    Ada yang salah. Siapa yang harus perbaiki? Kita semua. Pertama, sadar dulu bahwa ada salah. Kedua, cari jalan keluar. Ketiga, laksanakan. Kembali, setiap kita, sadar untuk: kendalikan NAFSU,  cerahkan NALAR, arahkan NALUJRI, murnikan NURANI. TUHAN mau yang itu.

smartness.com.pl/

brionis cazino

brionis kod promocyjny

casino brionis

money moon casino pl