Category: Business

  • Jaga diri

    Jaga diri. Memangnya ada yang ganggu sehingga perlu jaga diri? Ya. Perlu. Menjaga dan dijaga. Itulah hidup. Siapa jaga siapa? Tiap diri kita manusia ada lalu tidak ada yang jaga, mana mungkin bisa hidup. Hidup ini jaga menjaga. Rentetan aksi jaga menjaga itulah mata rantai dari kehidupan. Itu harus mulai dari awal, siapa penjaga awal. Itulah TUHAN. Mulai dari DIA. Langsung alur pikir kita menjadi jelas dan mudah. TUHAN menjaga setiap diri kita manusia agar hidup yang IA letakkan dalam diri kita berlangsung terus tanpa ada lagi akhirnya. Karena IA beri hidup dan kita hidup, maka IA menjaga supaya kita tetap hidup dan untuk itu kita yang hidup ini diberi tugas dan wewenang untuk jaga hidup itu. Kita diberi Nafsu untuk suka hidup. Diberi Nalar untuk alami hidup. Diberi Naluri untuk lanjutkan hidup bersama orang lain. Diberi Nurani untuk tetap yakin bahwa hidup itu berasal dari DIRI-NYA dan akan kembali kepada DIRI-NYA. Dari sini timbul upaya itu, DIA jaga kita dan kita jaga diri.  Inilah rentetan jaga menjaga. Tiap-tiap kita jaga diri dan tiap-tiap kita jaga diri sesama kita agar hidup yang DIA beri berlangsung dalam rangkaian hidup penuh gairah hidup.  Jaga menjaga. Sumbernya, DIA, penggeraknya  diri kita yang diberi penggerak, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jaga diri. Kalau setiap kita manusia ini jaga diri maka apa yang dicemaskan di dunia ini selama yang namanya kita manusia ini hidup? Damai dan tenteram. Itu idealnya. Mengapa itu tidak terjadi? Tiap diri kita selalu tertimpa berbagai petaka kecil atau besar. Itu karenakurang juga atau tidak jaga. Jaga yang betul itu namanya siaga. Ditambah kata siap maka jadilah siap- siaga.  Jadilah hidup yang  aman sejahtera. Kalau kurang aman, kurang jaga, sehingga ada kegalauan, kekacauan. Siapa penyebab semuanya itu? Diri. Diri siapa? Diri saya, diri anda, diri dia, diri kita. Jangan cari kambing hitam. Biasanya iblis dikambing-hitamkan. Ini kerja iblis. Tidak. Iblis itu ada, pengganggu, tapi tidak berdaya apa-apa kalau setiap kita ketat jaga diri. Anehnya, sering diri kita menjadi rekan dengan pengganggu itu sehingga huru-hara dapat terjadi sewaktu-waktu. Kacau di dalam balau di luar. Kacau balau dalam diri setiap kita dan diri begitu banyak diri manusia, maka lengkaplah kekacauan, menimpa sebahagian atau seluruh umat manusia.

    Jaga diri. Supaya jangan ada kecelakaan sekecil apapun, kita semua jaga diri. Jaga sesama. Saling menjaga. Untuk apa? Untuk ciptakan suasana damai dan tenteram. Sesuai dengan kehendak DIA Yang mencipta kita lalu senantiasa menjaga kita.

  • Menjadi

    Menjadi

    Menjadi. Dari kata jadi muncullah kata menjadi, dijadikan, terjadi, kejadian. Ini gerakan. Dari satu keadaan ke kedaan lain. Menjadi ini menghasilkan kejadian. Kejadian itu peristiwa. Dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Itulah proses menjadi. Menjadikan juga menghasilkan sesuatu yang baru. Menjadikan bisa dari sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru. Menjadikan untuk menjadi itu adalah kegiatan yang menyebabkan gerakan, dari yang sudah ada menjadi ada yang baru. Ini alur filsafat, pemikiran yang dalam tentang kata menjadi. Kata menjadi, kata yang biasa menjadi kata yang penuh makna dalam kehidupan kita manusia.

    Kita manusia diberi TUHAN empat unsur, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Maka kepribadian manusia terdiri dari empat unsur ini. Ini menurut pendapat saya. Pendapat yang saya rumuskan berdasarkan hasil penelitian dan permenungan filsafat tentang manusia. Untuk sementara, rumusan ini disebut ‘4N, Kwadran Bele’ (2011).

    Nafsu mendorong diri kita untuk menjadi dan terus menjadi. Nafsu mendorong kita untuk kerja. Capai. Nafsu istirahat datang. Lanjutkan dengan tidur karena ada nafsu tidur. Ini dorongan Nafsu. Nalar serentak bekerja. Timbang untuk diri kita istirahat dan tidur. Naluri bekerja sama dengan Nafsu dan Nalar. Ketiganya mendorong diri kita untuk tidur di tempat yang wajar dan sopan, entah di rumah sendiri atau di penginapan. Tiga unsur ini tetap dikendali oleh Nurani yang menjaga supaya Nafsu terukur, Nalar teratur, Naluri tersalur dan Nurani terhibur.

    Menjadi itu adalah tindakan manusia untuk semakin manusiawi. Sendiri semakin manusiawi dan menjadikan sesama semakin manusiawi. Sama-sama menjadi semakin manusiawi. Inilah tindakan yang sopan dan santun, berkenan pada sesama dan terutama pada TUHAN.

     

     

  • Peternak

    Peternak. Kawannya, Petani dan Nelayan. Tiga orang ini yang cari makan untuk diri dan sesama. Semua manusia, kita,  dapat makan dari tiga orang ini. Peternak itu akrab dengan padang dan ternak. Petani akrab dengan tanah dan tanaman. Nelayan akrab dengan laut dan ikan. Tiga orang ini hidup tanpa banyak omong. Mereka menyatu dengan tanaman, ternak dan ikan.

    Nafsu mendapat rezeki mendorong peternak untuk sayang ternak, kecil besar sesuai keadaan alam tempat huniannya. Nalar peternak luar biasa cerlang, karena dia tahu setiap perilaku ternak yang ia sayangi. Naluri peternak membuat dirinya akrab dengan ternak sebagai sahabat sampai ia sapa dengan nama. Nurani peternak tergerak untuk memohon pada Sang Pencipta supaya ternaknya aman dan setiap saat ia syukuri rezeki yang ia peroleh dari ternak yang dipeliharanya. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Empat unsur ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI secara sangat sederhana ada dalam tiap diri ternak. Nafsu hidup mendorong ternak untuk melolong mencari peternak, tuannya, bila ia lapar atau celaka. Nalar ternak bekerja untuk mengikuti peternak ke mana dirinya diarahkan untuk memperoleh pakan. Naluri ternak mendorong hewan ternak untuk taat pada perintah tuannya. Nurani ternak membuat diri ternak terbaring nyenyak dalam kandang tuan pemiliknya.

    Empat unsur itu ada secara penuh dalam diri manusia, sang peternak. Pencipta, TUHAN, menaruh empat unsur kepribadian ini dalam diri kita setiap manusia, termasuk peternak untuk berkontak dengan hewan ternaknya. Kalau terhadap ternak, hewan, manusia, kita-kita ini, masih atur, Nafsu, masih hitung, Nalar, masih pelihara, Naluri, masih sayang, Nurani, mengapa kita dengan kita, sesama manusia, tidak salurkan empat unsur ini secara benar antar kita?

     

  • Belajar terus

    Belajar terus. Kita ada NAFSU untuk mencari dan menemukan yang baru. Hal ini membuat kita hidup dan terus hidup. Kita ada NALAR untuk terus mengetahui dan mengalami hal-hal yang baru. Pengetahuan dan pengalaman baru membuat kita tetap gembira dan lupa akan penderitaan dan keluh-kesah. Kita ada NALURI untuk selalu menemui orang yang kita cintai dan mau mengulangi pertemuan itu sebagai penyegaran dalam hidup. NURANI kita selalu mendorong kita untuk menjadi pribadi yang tenang dan penuh kedamaian bathin.

    Belajar terus. Kita belajar. Apa yang dipelajari? Segala hal. Ada yang mengajar. Setiap saat itu adalah kesempatan untuk belajar. Hidup ini sebenarnya rentetan dari belajar ke belajar. Inilah yang kita sebut dengan istilah belajar terus. Hasil dari belajar terus itu ada empat sesuai dengan empat unsur yang ada dalam diri kita sebagai perangkat kepribadian kita. Karena belajar terus, NAFSU terpenuhi dan kita senang. Belajar terus membuat NALAR kita semakin cerdas dan itu membuat kita gembira. Karena belajar terus, NALURI kita terpenuhi dengan perjumpaan yang  membuat kita puas. Belajar terus membuat NURANI kita menimba ketenangan dan itu yang namanya bahagia. Senang, gembira, puas dan bahagia adalah empat unsur yang menyatu dalam diri kita menjadi utuh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Belajar terus. Bukan hasilnya tapi kesibukan itulah yang membuat kita hidup penuh gairah. Tanpa belajar atau malah berhenti belajar sama artinya berhenti hidup. Tidak mungkin hidup tanpa belajar. Belajar itu bukan sekedar menghimpun hal-hal dari luar tetapi menyalurkan isi dari diri dengan NAFSU yang teratur, NALAR yang segar, NALURI yang tegar dan NURANI yang tenang.

    Belajar terus. Hidup kita menjadi gersang kalau lalai belajar. Belajar itu bukan soal ilmu pengetahuan. Belajar itu soal irama hidup seiring dengan denyut jantung. Belajar itu meniti titian menuju jari-jari yang melambai siap menyentuh dan mengelus pipi kita yang sedang diliputi peluh kepayahan dalam berjalan. Jari-jari siapa? Siapa lagi kalau itu bukan jari-jari dari tangan yang mencipta kita, TUHAN.

  • Bakat dan Minat

    Bakat dan Minat. Dua hal yang ada dalam diri manusia. Duanya beda. Bakat diberi langsung oleh PENCIPTA kepada setiap diri manusia. Minat disiapkan PENCIPTA di luar diri pribadi manusia untuk diambil dan dipadukan dengan bakat yang sudah ada. Bakat terberi. Minat terjadi. Bakat tumbuh. Minat tambah. Bakat sudah ada di dalam diri manusia. Bakat siap ditumbuh-kembangkan. Minat ada di luar diri manusia. Minat siap ditambah-kembangkan. Bakat tidak bisa dipertukarkan. Minat bisa digonta-ganti.

    Bakat. Dalam diri kita manusia ada empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N. Kwadran Bele, 2011). Bakat itu benih yang sudah ada dalam diri manusia dan ditumbuhkan oleh NAFSU untuk memenuhi keinginan. Dicari cara,  tempat dan waktu yang tepat oleh NALAR supaya bakat itu tumbuh. NALURI merangkai dan merangkul sesama untuk semakin berkembangnya bakat. NURANI memberi arah agar bakat itu tumbuh mekar secara baik dan benar.

    Minat. NAFSU mendorong minat untuk suka yang ini dan besok yang itu. NALAR menetapkan minat untuk tertarik pada yang ini hari ini dan besok yang sana sesuai keadaan waktu dan tempat. NALURI menyingkirkan atau menekuni minat yang satu ini dari pada yang lain itu. NURANI siap terima minat itu sejauh itu baik dan benar.

    Bakat matematika. Minat hari ini di hitung angka. Besok ditambah dengan minat untuk mengukur bentuk bangunan. Minat ini dikembangkan lagi pada mengukir patung dengan ukuran yang tepat sesuai ukuran manusia. Minat itu cabang-cabang yang dicangkokkan pada bakat. Bakat itu rupa-rupa. Minat lebih rupa-rupa lagi. Batas terbatas. Minat tidak terbatas. Bakat tidak bebas untuk dikembangkan. Minat bebas untuk dipangkas atau dicangkokkan pada bakat.

    Bakat dan minat menyatu dalam diri pribadi kita manusia sejauh itu saling melengkapi demi tujuan akhir hidup kita: bahagia. TUHAN menghendaki yang itu, bakat ditumbuhkan dan minat ditambahkan agar hidup kita mekar ibarat kembang mawar yang harum mewangi di taman dunia ini dan selanjutnya di taman abadi.

  • Dibagi Empat

    Dibagi empat. Pribadi manusia dibagi empat atas empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Pribadi manusia  yang sempurna itu kalau dihitung dalam persentase, maka NAFSU 25 % + NALAR 25 % + NALURI 25 % + NURAN I 25 %. Jumlah 100 %. Ini ditetapkan oleh TUHAN dalam diri  kita setiap manusia. Dalam  hidup ini setiap pribadi manusia harus upayakan agar empat unsur ini ditampilkan secara seimbang. Kalau salah satu unsur ditampilkan lewat batas, maka pribadi itu menjadi tidak seimbang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau NAFSU terlalu ditekankan, antara 30 sampai 40 % atau lebih, maka pribadi itu akan dikenal dengan manusia NAFSU dalam arti yang negatif. Pribadi seperti ini biasa menginginkan hal-hal yang lewat batas, sering di luar aturan. Misalnya makan berlebihan, akibatnya kegemukan. Tidur berlebihan, jadilah pemalas. Kuasa berlebihan, diktator.

    Kalau NALAR terlalu ditekankan, sampai 30 atau 40 %,  maka pribadi ini utamakan pengetahuan, ilmu, sampai tidak pusing dengan sesama, malah mudah anggap TUHAN tidak ada.

    Kalau NALURI terlalu ditekankan, maka pribadi ini cenderung sukuis, kurang menghargai orang dari suku lain atau kelompok lain. Dia selalu membedakan, orang saya dan orang lain.

    Kalau NURANI terlalu ditekankan, maka pribadi ini terlihat sok alim, tampil saleh,  anggap orang lain jahat, hanya sendirilah yang suci. Padahal tindakan benci-membenci jadi santapan harian.

    Dibagi empat. Maksudnya sederhana. Kalau bidang yang satu berlebihan ditekankan, segera disadari bahwa itu salah dan dikembalikan kepada porsinya, 25 %. Memang harus diakui, kita manusia ini selalu tergoda dan terjerumus ke dalam salah satu kesalahan, mengutamakan salah satu bidang sehingga kurang atau tidak seimbang.

    Dibagi empat. Itu berarti tidak dipisah-pisahkan, melainkan diakui dan ditampilkan dalam perilaku harian empat unsur ini secara berimbang. NAFSU diupayakan sewajarnya,  NALAR dicurahkan sejujurnya, NALURI diamalkan seikhlasnya, NURANI diresapkan sesungguhnya. Ini yang dikehendaki TUHAN, PENCIPTA kita dari setiap kita manusia ciptaan-NYA.

  • Manusia Saling Menghargai

    Bertemu

    Bertemu. Siapa bertemu siapa? Di mana? Kapan? Untuk apa?  Manusia bertemu atas empat dasar. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu, keinginan, dorongan untuk memperjuangkan dan memperoleh serta menikmati sesuatu yang baik, benar dan bagus.

    Nalar, semua perangkat pengalaman dan pengetahuan yang dikerahkan untuk menemukan, merumuskan dan menyepakati lalu melaksanakan hal yang baik dan berguna untuk manusia.

    Naluri, dorongan dalam diri makhluk yang namanya manusia, kita ini untuk hidup bersama secara damai, adil dan beradab.

    Nurani, kesadaran kita manusia akan adanya PENCIPTA alam semesta termasuk diri kita manusia yang dari-NYA kita berasal dan kepada DIA kita menuju.

    Bertemu atas dasar Nafsu saja, pasti ada kemauan untuk saling menggerogoti dan merampas milik sesama. Bertemu atas dasar Nalar saja, pasti akan terjadi saling memperdaya, tipu-menipu. Bertemu atas dasar Naluri saja, pasti terjadi rasa pilih kasih saling mencemooh dan saling mengkhianati satu sama lain. Bertemu atas dasa Nurani saja, pasti akan ada perlombaan cari siapa paling suci dan paling dekat dengan TUHAN sambil merendahkan satu sama lain.

    Bertemu itu satu kegiatan luhur manusia dengan manusia yang mengungkapkan secara jujur dan tulus apa yang dikehendaki (Nafsu), sambil menguraikan pengalaman dan pengetahuan yang benar (Nalar), untuk tercapainya kesejahteraan bersama (Naluri) dalam terang iman akan adanya TUHAN Pemilik alam semesta (Nurani).

    Bertemu harus atas dasar empat unsur dalam diri manusia ini yang dibentangkan dengan jelas maksud an tujuannya. Bertemu yang benar itu adalah pertemuan antara manusia dengan manusia yang pasti diberkati oleh TUHAN Sang Pemilik dan Penguasa alam semesta.

    Bertemu itu memang kewajiban dari setiap kita manusia.  Kewajiban itu datang dari TUHAN sendiri yang mengamanatkan sejak awal alam semesta ini ada dan diadakan untuk kita manusia. Bertemu untuk berunding tentang pembinasaan alam di manusia ini ada, laknat, apalagi berkomplot untuk pembantaian manusia oleh manusia, khianat. Bertemu harus dan wajib untuk tata alam dan rawat insan. Kita ada untuk bertemu hati dengan hati. Hati itu tidak ada warna. Hati itu bening. Kalau ada warna, maka itu bertemu untuk yang kabur semakin kabur dan tindakan apa pun yang dirancang dan dilaksanakan, takabur.

    Bertemu itu tidak hanya manusia dengan manusia yang bertemu. Bertemu itu manusia dengan manusia sama-sama bertemu TUHAN. Itulah pertemuan, apa pun saja namanya, tetap TUHAN itu inti. Entah mau diakui adanya TUHAN atau tidak, bertemu tanpa TUHAN dijadikan sentral, maka pertemuan itu akan melenceng arahnya ke kepentingan sesaat yang sesat. Setiap manusia yang bertemu harus berdoa dan didoakan agar nafsunya tesalur secara terukur, nalarnya terarah seara benar, nalurinya terjalin secara tepat dalam nurani yang terarah secara ikhlas kepada TUHAN, SANG PENCIPTA.

    1. Tamu

    Tamu. Kita menerima tamu, anggota G20. Sembilan belas rombongan akan berdatangan menyambangi Negara kita. Tujuan utama: sidang. Setiap tamu jaga martabat diri, datang dengan tulus pulang dengan mulus. Jarang ada tamu datang dengan akal bulus.Tamu biasa lihat keliling, jalan keliling, salami tuan rumah, kagumi apa saja yang terasa baru dan aneh. Tamu biasa membanding-banding, di tempat asalnya begini, di tempat bertamu begini. Suasana lain, orang-orang lain,  suka-cita, rasa baru berbunga-bunga.

    Tamu dijamu dengan berbagai atraksi. Harga diRi kita tuan rumah dipertaruhkan. Pengamanan di mana-mana, super ketat. Tamu celaka, kita bahaya. Nama hancur. Tamu jual tampang, kita jaga gengsi. Semua serba baik dipertontonkan baik oleh kita tuan rumah maupun oleh tamu yang bedatangan. Suasana persaudaraan penuh tawa dan mesra tersajikan selama tamu berada di Indonesia. Keaslian yang baik kita tampilkan, keaslian keriput kita sembunyikan. Inilah adat kebiasaan di mana-mana.

    Hasil apa yang bakal kita peroleh dari pertemuan G20 nanti? Banyak. Utamanya, empat hasil yang akan dibawa pulang oleh para tamu.

    Pertama: bendawi. Berkaitan dengan benda, materi. Kepentingan pemenuhan kerjasama menata dan mengolah lingkungan, benda-benda, dibahas dan diadakan berbagai pendekatan dan ditanda-tangani bermacam-macam MoU (Memory of Understanding). Ini  terjadi karena setiap manusia, termasuk setiap tamu dan kita tuan rumah, ada Nafsu, dorongan untuk semakin menghasilkan dan menikmati barang-barang olahan hasil dari masing-masing negara. Wajar. Saling membantu, saling menguntungkan.

    Kedua: ilmiah. Istilah alih-teknologi diharapkan terjadi secara lebih intensif lewat saling mengundang nantinya untuk bertukar ilmu dan teknologi baru yang tidak lebih merusak alam yang sudah mulai rusak. Iptek yang menyelamatkan bukan mencelakakan. Ini peran Nalar.

    Ketiga: kekerabatan. Terjalin kekerabatan atas dasar sesama manusia yang harus saling membahagiakan. Tidak boleh terbersit secuil pun rasa saling mencurigai dan saling bermusuhan. Inilah Naluri yang murni dari setiap pribadi kita manusia. Mau damai, mau aman.

    Keempat: kerohanian. Tamu-tamu harap pulang dengan suatu keheningan bathin karena melihat dan mengalami contoh bagaimana kita orang Indonesia mengasihi sesama dan mengabdi TUHAN, SANG PENCIPTA. Kegiatan Ibadah dan rumah-rumah Ibadat harap memancarkan sinar ilahi yang terpantul dari hati yang putih. Inilah karya Nurani.

    Jadi empat hasil yang diharapkan ini bersandar pada empat unsur dalam diri manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani yang TUHAN tempatkan dalam diri setiap manusia  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tamu-tamu silahkan datang. Tangan kami terbuka, hati kami lapang. Kita saling merangkul, enyahkan curiga ganti dengan ceria. TUHAN mau hal itu yang terjadi dalam pertemuan G20.

    1. Ikatan

    Ikatan.  Kita manusia ini terikat-satukan oleh tiga ikatan yang erat-terpadu . Ikatan Darah, Daerah, Darma. Tiga – D (3-D). Kalau ada ikatan ‘G20’ yang terikat dalam satu kelompok Uni Eropa dan 19 Negara, maka ‘3-D’ itu adalah ikatan semua umat manusia, lalu, kini dan nanti.

    Ikatan Darah. Siapa di antara manusia yang mengaku berdarah lain dari sesama manusia yang lain? Kita berasal dari Darah manusia pertama yang diciptakan TUHAN dan kita ini adalah turunan yang terikat oleh Darah yang satu dan sama itu.

    Ikatan Daerah. Daerah tidak terbatas pada pulau atau Negara. Daerah itu bumi ini. Kita semua terikat dalam bumi hunian kita sebagai satu noktah kecil di tata alam semesta.

    Ikatan Darma. Darma itu bakti, karya, kerja. Kita semua terikat dalam satu Darma berbeda corak. Petani berdarma di sawah dan ladang, peternak berdarma di ladang dan kandang, nelayan berdarma di danau dan laut. Semua jenis darma itu terikat satu sama lain karena semua manusia yang terbagi-bagi dalam semua darma itu saling melengkapi saling memberi nafkah.

    Ikatan Negara-negara dalam ‘G20’ sejatinya mengeja-wantahkan tiga ikatan dasar ini, Darah+Daerah+Darma. Bertemu di mana, kapan bertemu, ke-dua-puluh kelompok ini tetap bersandar pada Darah, Daerah dan Darma. Yang dibahas itu-itu juga. Darah jangan ditumpahkan dengan amarah. Daerah jangan dicaplok seenak batok. Darma jangan dilaksanakan sesuka-hati. Supaya tiga ikatan ini dilaksanakan secara adil dan damai, patutlah ‘G20’ bertemu dan syukur Daerah di Indonesia jadi tempat bertemu para pencinta damai.

    Kita manusia ini ada empat unsur dalam diri kita: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat ‘N’ ini ditaruh dalam diri kita oleh PENCIPTA. Bukan diadakan oleh diri kita sendiri. Kita tinggal menumbuh-kembangkan dan mendaya-gunakan untuk hidup dengan sentausa.

    Nafsu ada untuk mencari, memperoleh dan menikmati hasil Darma yang dihasilkan oleh sesama yang se-Darah dan tinggal di Daerah yang sama, bumi ini.

    Nalar adalah kemampuan untuk mengalami dan mempelajari segala seluk-beluk diri kita dan alam semesta untuk digunakan secara baik dan benar.

    Naluri adalah dorongan untuk kita sama kita bertemu, bekerja sesuai minat dan bakat dalam Darma yang berbeda dan saling melengkapi. Itu demi kebersamaan kita manusia agar sama-sama ada, sama-sama hidup.

    Nurani itu kesadaran, bisikan, ada dalam relung diri setiap kita yang menyuarakan mana yang baik mana yang jahat agar kita semakin dekat pada DIA, PENCIPTA kita dalam kebersamaan dengan sesama.

    Ikatan Darah, Daerah dan Darma terwujud-nyatakan dalam kebersamaan kita, biar jauh terpisah oleh waktu dan tempat di bumi yang satu dan sama ini. TUHAN senang kita bertemu, bersatu dan berkarya agar Darah yang luhur itu tetap mengalir dalam nadi setiap insan dengan tenteram, agar Daerah yang kita diami ini tetap terjaga dan tertata rapih, agar Darma yang kita laksanakan menghasilkan buah berlimpah-limpah.

     

     

     

     

     

     

  • Filsafat Pembangunan

     

    Pembangunan yah pembangunan. Bangun jalan, jembatan dan gedung. Ada filsafat? Buang waktu. Bangun yah bangun. Untuk apa filsafat. Apa kaitannya? Ungkapan seperti inilah yang membuat pembangunan itu asal pembangunan, tanpa dasar yang kokoh. Bangun apa, siapa yang membangun, untuk siapa, di mana, kapan, berapa anggaran, gunanya apa, dan semua pertanyaan ini adalah permukaan dari pembangunan. Ini bukan dasar.

    Dasarnya di mana? Filsafat. Hah, apa lagi? Jadi kami yang di Dinas PU (Pembangunan Umum) ini harus studi filsafat? Kami ini kontraktor. Harus studi filsafat. Saya ini Sarjana Teknik. Harus studi filsafat dan bergelar Sarjana Filsafat? Makin bingung dan makin berbelit pertanyaan tentang Filsafat Pembangunan.

    Pembangunan. Bangun. Jembatan bangun? Rumah bangun? Jalan bangun? Tidak. Yang bangun itu manusia. Manusia itulah pembangun. Karya manusia itulah yang namanya pembangunan. Untuk terjun ke filsafat pembangunan penulis sodorkan teori ‘Kwadran Bele’ (2011), 4 N. Berdasarkan teori ini manusia itu pribadi yang terdiri dari empat unsur: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani.

    Dalam diagram, satu bujur sangkar dibagi empat dan tiap bidang itu berisi: bidang pertama, Nafsu, kedua Nalar, ketiga Naluri dan keempat Nurani. Empat bidang ini sama besar, berarti ada keseimbangan. Kalau salah satu bidang terlalu besar, maka tiga bidang yang lain tergeser ukurannya dan empat bidang itu tidak seimbang lagi. Ini teori untuk mengukur pembangunan apa saja. Pembangunan itu harus sesuai Nafsu yang wajar, Nalar yang benar, Naluri yang sehat dan Nurani yang tulus.

    Bangun satu jembatan, dana 100 milyar. Jembatan itu memang sangat dibutuhkan. Ini masuk bidang Nafsu. Ada ahli-ahli yang merancang. Ini bidang Nalar. Ada banyak pihak terlibat, termasuk masyarakat yang membutuhkan. Semua harus dipuaskan. Ini bidang Naluri. Ada pertimbangan dapat untung  yang wajar. Ini bidang Nurani.

    Bidang pertama, NAFSU. Jembatan itu dibutuhkan. Tapi terlalu panjang dan terlalu mahal. Dana tidak cukup, tapi karena benar-benar dibutuhkan, bangun saja dengan dana pinjaman. Ini Nafsu besar. Gali lubang tutup lubang. Baik kalau hutang itu dapa dilunasi pada waktunya. Kalau tidak? Mencelakakan diri. NALAR.

    Para ahli dari berbagai disiplin Ilmu berkumpul membuat analisa. Ini membutuhkan keahlian dan pengalaman yang benar-benar teruji. Salah hitung, jembatan ambruk. NALURI. Para kontraktor belomba untuk menang tender. Pemerintah dekati masyarakat, pembebasan tanah. Para pedagang, semen, besi, kayu, aspal bermunculan menawarkan jasa. Masyarakat penuh harap jembatan segera selesai.

    Keterlibatan manusia-manusia ini masuk dalam Naluri untuk berkontak antara sesama  manusia. NURANI. Pemerintah jujur tidak menipu masyarakat. Kontraktor kerja sesuai rencana. Ada hasil, semua pihak puas. Tidak ada saling tipu, tidak ada mark-up harga dan lahan yang dibebaskan diberi harga yang wajar. Waktu peresmian, gunting pita,  ada pesta. Gembira karena sudah memenuhi 4 N. Berbagai pihak pidato dan ada doa. TUHAN dilibatkan untuk jadi SAKSI.

    Empat unsur ini, 4N,  terpadu dalam diri masing-masing pribadi, kelompok  yang terlibat dalam pembangunan, itulah yang dinamakan filsafat pembangunan. Manusia yang membangun. Membangun demi kesejahteraan. Salah satu unsur itu tidak terpenuhi maka pembangunan itu tidak layak disebut pembangunan tetapi pengrusakan, penghancuran. Bangun yah benar-benar bangun, bukan tidur atau kubur. Bangun membuat segar. Pembangunan membuat manusia bugar, jasmani-rohani.

     

     

  • Firasat

     

     

    Sering kita dengar dan pakai kata ini, firasat. Ada rasa, dugaan, perkiraan tentang apa yang akan terjadi. Baik atau buruk. Sesudah terjadi langsung berceritera, memang, saya sudah ada firasat. Biasanya hal buruk yang menimpa itu yang diungkapkan melalui ceritera tentang firasat. Celaka dengan kendaraan di jalan. Entah sendiri atau kerabat dekat berujar, memang saya sudah ada firasat jelek tadi pagi. Kejadian dikaitkan dengan perasaan di waktu lalu.

    Nafsu kita selalu berkontak dengan alam nyata. Nalar kita mengetahui dan mengalami yang sudah dan sedang terjadi. Nalar juga menduga apa yang akan terjadi. Di sini letak firasat. Naluri kita selalu mengharapkan yang baik. Kalau yang buruk menimpa kita langsung cari jawabnya pada firasat. Nurani kita terguncang oleh peristiwa jelek yang menimpa diri kita dan Nurani bertanya, salah apa? Ini peran 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri +Nurani yang membuat diri kita hidup melangkah maju ke arah yang baik dan lebih baik lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Firasat itu meneguhkan atau meruntuhkan? Hidup itu tahan banting. Penuh tantangan. Dalam hadapi tantangan, kalau diteguhkan, baik. Kalau diruntuhkan semangat juang, jangan. Istilah firasat boleh tetap dipakai, karena sulit dihilangkan. Sudah berurat-akar dalam hidup kita bermasyarakat. Pakailah kata firasat dalam arti yang positif. ‘Tadi pagi saya ada firasat buruk’. Ungkapan ini meruntuhkan diri. Kalau tertimpa mala-petaka yang tak terduga, tanyalah Nafsu, ini salah keinginan? Tanya Nalar, mengapa saya tidak ikut larangan? Tanya Naluri, mengapa saya tidak ikuti nasihat orang untuk tidak berbuat hal itu? Tanya Nurani, mengapa saya tidak waspada menghadapi situasi ini?

    Kita hidup tidak dituntun oleh firasat. Hidup kita dituntun oleh DIA, SANG PEMBERI HIDUP. Di luar DIA, tidak ada siapa pun, apa pun yang mengatur hidup kita ini. Unsur-unsur dalam diri kita, ‘4N’ itu anugerah dari YANG MAHA BIJAK untuk kita hidup penuh bijak bukan penuh firasat.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mengerti

     

    Mengerti. Kata mengerti itu terjadi melalui satu proses yang panjang dan berbelit. Tidak sesedarhana seperti yang biasa kita mengerti. Mengerti apa? Isi pengertian itu apa? Filsafat itu dasarnya pada mengerti yang menghasilkan pengertian. Kalau tidak mengerti maka apa pun saja yang dikatakan, membuat orang tidak mengerti dan yang berkata maupun yang mendengarkan sama-sama tidak mengerti. Hasilnya, manusia menjadi pribadi-pribadi yang bingung, hidup tanpa arah. Kacau balau. Manusia hidup dengan tenang itu karena mengerti apa itu hidup dan untuk apa hidup.

    Nafsu manusia ada, diberikan oleh Pencipta untuk makan makanan yang bisa dimakan. Buat apa yang bisa dibuat dan untuk apa dibuat lalu cara membuat dan untuk apa dibuat. Ini adalah rangkaian pengertian yang muncul dari nafsu. Nalar ada untuk mengerti semua pengalaman dan pengetahuan sempat dialami oleh manusia. Inilah pengertian hasil dari karya nalar. Sesama manusia saling mengerti entah melalui ungkapan apa pun saja, gerak, isyarat atau kata-kata. Ini karya naluri. Hal baik atau buruk dimengerti sebagai karya nurani yang menghasilkan ketenangan, kedamaian dalam bathin. Perpaduan karya Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani menghasilkan pengertian yang bisa dimengerti oleh diri seseorang dan sesama dan terjalinlah saling pengertian yang saling menghidupkan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mengerti membuat manusia mengerti diri dan mengerti hidup. Mengerti muncul dari keinginan. Nafsu. Mengerti hasil usaha Nalar untuk mengetahi dan mengalami segala hal. Mengerti hasil dorongan Naluri untuk mampu hidup bersama dalam suasana saling pengertian. Mengerti hasil kendali dari Nurani yang membuat manusia itu sadar akan arti baik dan buruk dari segala macam ulah manusia.

    Mengerti itu ketrampilan. Mengerti itu tuntutan hidup. Mengerti itu tujuan hidup. Hidup itu mengerti dan mengerti itu hidup. TUHAN Pencipta kita maha mengerti keadaan kita manusia. Kita dituntut untuk mengerti Kehendak DIA Yang mengerti bahwa kita, ciptaan-Nya terbatas oleh segala keterbatasan. Ini harus dimengerti oleh kita manusia bahwa kita tidak dapat mengerti segala-galanya oleh karena itu dalam hidup ini kita harus berusaha untuk mengerti hidup tanpa henti.