Day: March 6, 2024

  • Kendali diri

    Kendali diri. Memangnya diri itu kuda? Kendali. Atau kekang. Kekang diri? Yah, dua-duanya sama arti, kekang diri, kendali diri. Ibarat kuda, dikendalikan agar ikut jalan sesuai kehendak tuannya. Begitu pun diri kita, harus dikendali. Setiap saat. Tidak boleh lepas kendali. Kalau diri dikendali, siapa yang pegang kendali? Yah, diri yang pegang kendali dan diri kendali diri. Hidup sering runyam karena diri lepas kendali. Hidup itu jalan. Diri harus ikut jalan itu. Makanya harus dikendali agar tetap ikut jalan itu. Bagaimana diri kendali diri? Dalam diri ada Nafsu. Karena ada Nafsu, diri kita ingin apa saja yang ia mau. Sabar, ada Nalar. Nalar inilah yang kendali Nafsu dengan berbagai pertimbangan sehingga Nafsu tidak seenaknya ikut Nafsu punya mau. Lalu ada Naluri. Naluri ini kendali diri kita untuk ingat ada diri-diri yang lain. Makanya diri kita kendali diri kita untuk tidak bersenggolan dengan diri yang lain. Terakhir ada Nurani. Nurani inilah pemegang kendali terakhir. Dia ibarat wasit, tiup sempritan kalau Nafsu + Nalar + Naluri lepas kendali lewat batas, langgar aturan. Nurani dengan tegas ingatkan, awas, ikut jalan. Dengan keras Nurani tarik kendali dan diri terpaksa ikut jalan yang dimaui Nurani. Kerjasama antara empat unsur inilah yang membuat diri kita dikendali. (4N, Kwadran Bele, 2011). Dalam kendaraan bermotor, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ini  ibarat rem yang terdiri dari minyak rem, kanfas, besi dan injakan yang serentak digerakkan bersama sehingga kendaraan terhenti dan tidak terperosok ke luar jalan.

    Kendali diri. Bayi pun sudah tahu kendali diri sehingga menetek susu ibu sebatas ruang ususnya tersedia. Seluruh anggota tubuh diri kita manusia tersusun dalam sistem kendali yang saling mengendalikan. Kendali diri bukan kungkungan yang menyengsarakan. Kendali diri berarti kegiatan yang berjalan dengan tenang dan senang ibarat sais pegang kendali kuda penarik pedati yang jalan gontai sambil sais itu duduk terkantuk-kantuk.  Hidup tenang dan senang itu karena hidup terkendali. Kendali diri itu tanda sadar diri.

    Kendali diri. Kalau setiap kita manusia yang milyaran ini masing-masing tahu kendali diri sewajarnya, maka biarpun hidup ini ramai, pasti tetap damai. Itulah yang dikehendaki oleh Sang Juru Damai, TUHAN.

  • Percaya diri

    Percaya diri. Maksudnya? Percaya bahwa diri itu ada, berada dan mengada. Kalau kurang atau tidak percaya diri? Celaka. Kalau diri saja sudah kurang atau tidak dipercaya, mana mungkin percaya yang di luar diri? Ada titian dari kayu. Waktu mau meniti harus percaya bahwa kayu itu kuat. Lalu percaya bahwa diri mampu meniti kayu itu dan bisa tiba di seberang. Percaya diri artinya dalam diri itu ada perangkat yang memampukan diri untuk berbuat apa saja yang dikehendaki. Ada dan bisa. Ada kalau tidak bisa, jangan percaya. Bisa tapi tidak ada, apa gunanya percaya? Percaya artinya dalam diri itu ada dan bisa untuk buat apa-apa. Dan apa-apa itu harus yang baik, benar dan bagus. Untuk itulah percaya diri. Dalam diri ada Nafsu, dorongan untuk menikmati yang baik. Percaya itu. Dalam diri ada Nalar, kemampuan untuk berpikir dan mengalami hal yang baik. Percaya. Laksanakan. Dalam diri ada Naluri untuk mengarahkan diri kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sesama untuk hal-hal yang baik. Percaya itu. Dalam diri kita ada Nurani untuk menyadari adanya kebaikan yang berasal dari Yang Mahabaik, TUHAN. Haaa, inilah sumber dari segala sumber untuk percaya, percaya diri dan sesama yang mengarah kepada percaya pada TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Percaya diri. Hidup ini percaya diri bahwa TUHAN tempatkan kita di bumi ini tidak untuk hal yang sia-sia. Percaya diri bahwa diri kita itu dipercaya oleh TUHAN untuk tampil menjadi saksi tentang adanya TUHAN Yang kepadaNya kita percaya. Hidup tanpa percaya adalah hampa. Buat apa-apa tanpa percaya diri, sia-sia. Penuh percaya diri untuk hidup detik demi detik. Orok dalam kandungan bundanya sudah percaya diri bahwa dirinya aman selama sembilan bulan lebih. Waktu dilahirkan, bayi ini sudah percaya diri bahwa dirinya diberi asi untuk hidup. Itulah kita manusia. Percaya diri sejak dari kandungan. Malah percaya diri sejak diri kita tercipta oleh Pencipta lewat kasih Ibu dan Ayah kita.

    Percaya diri. Ini jadi dasar untuk saling percaya. Suami percaya isteri, isteri percaya suami. Keluarga tercipta atas dasar saling percaya ini yang dipancarkan oleh diri-diri yang percaya diri. Anak-anak percaya bahwa diri mereka akan bertumbuh menjadi dewasa karena terlindungi oleh orang tua yang percaya diri bahwa mereka adalah orang tua yang baik. Guru yang baik percaya diri untuk tampil di muka kelas berhadapan dengan siswa-siswi yang percaya bahwa Guru mereka ini orang baik. Para siswa-siswi pun masing-masing percaya diri bahwa dirinya diakui sebagai siswa atau siswi karena mampu menerima ilmu dari seorang Guru yang percaya diri bahwa apa yang dia sampaikan kepada siswa-siswinya itu hal-hal yang baik, benar dan bagus.

    Percaya diri. Hidup dan kehidupan adalah gerak langkah setiap diri manusia yang percaya diri bahwa dirinya dipercaya oleh SANG PENCIPTA untuk bergerak dari DIA, dalam DIA ke DIA. DIA itu adalah DIRI Yang kita sapa dengan berbagai NAMA, salah satu NAMA, TUHAN.

  • Jaga diri

    Jaga diri. Memangnya ada yang ganggu sehingga perlu jaga diri? Ya. Perlu. Menjaga dan dijaga. Itulah hidup. Siapa jaga siapa? Tiap diri kita manusia ada lalu tidak ada yang jaga, mana mungkin bisa hidup. Hidup ini jaga menjaga. Rentetan aksi jaga menjaga itulah mata rantai dari kehidupan. Itu harus mulai dari awal, siapa penjaga awal. Itulah TUHAN. Mulai dari DIA. Langsung alur pikir kita menjadi jelas dan mudah. TUHAN menjaga setiap diri kita manusia agar hidup yang IA letakkan dalam diri kita berlangsung terus tanpa ada lagi akhirnya. Karena IA beri hidup dan kita hidup, maka IA menjaga supaya kita tetap hidup dan untuk itu kita yang hidup ini diberi tugas dan wewenang untuk jaga hidup itu. Kita diberi Nafsu untuk suka hidup. Diberi Nalar untuk alami hidup. Diberi Naluri untuk lanjutkan hidup bersama orang lain. Diberi Nurani untuk tetap yakin bahwa hidup itu berasal dari DIRI-NYA dan akan kembali kepada DIRI-NYA. Dari sini timbul upaya itu, DIA jaga kita dan kita jaga diri.  Inilah rentetan jaga menjaga. Tiap-tiap kita jaga diri dan tiap-tiap kita jaga diri sesama kita agar hidup yang DIA beri berlangsung dalam rangkaian hidup penuh gairah hidup.  Jaga menjaga. Sumbernya, DIA, penggeraknya  diri kita yang diberi penggerak, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jaga diri. Kalau setiap kita manusia ini jaga diri maka apa yang dicemaskan di dunia ini selama yang namanya kita manusia ini hidup? Damai dan tenteram. Itu idealnya. Mengapa itu tidak terjadi? Tiap diri kita selalu tertimpa berbagai petaka kecil atau besar. Itu karenakurang juga atau tidak jaga. Jaga yang betul itu namanya siaga. Ditambah kata siap maka jadilah siap- siaga.  Jadilah hidup yang  aman sejahtera. Kalau kurang aman, kurang jaga, sehingga ada kegalauan, kekacauan. Siapa penyebab semuanya itu? Diri. Diri siapa? Diri saya, diri anda, diri dia, diri kita. Jangan cari kambing hitam. Biasanya iblis dikambing-hitamkan. Ini kerja iblis. Tidak. Iblis itu ada, pengganggu, tapi tidak berdaya apa-apa kalau setiap kita ketat jaga diri. Anehnya, sering diri kita menjadi rekan dengan pengganggu itu sehingga huru-hara dapat terjadi sewaktu-waktu. Kacau di dalam balau di luar. Kacau balau dalam diri setiap kita dan diri begitu banyak diri manusia, maka lengkaplah kekacauan, menimpa sebahagian atau seluruh umat manusia.

    Jaga diri. Supaya jangan ada kecelakaan sekecil apapun, kita semua jaga diri. Jaga sesama. Saling menjaga. Untuk apa? Untuk ciptakan suasana damai dan tenteram. Sesuai dengan kehendak DIA Yang mencipta kita lalu senantiasa menjaga kita.

  • Pertahankan diri

    Pertahankan diri. Siapa yang bertahan akan hidup. Hidup ini bertahan dari saat ke saat. Nafsu pertahankan diri itu yang membuat kita hidup dan terus hidup. Nalar kita terus bekerja untuk bertahan hidup dalam situasi apa pun. Malam berlalu dan nalar kita mulai beraksi untuk menyambut siang. Sepanjang siang bertahan sampai malam tiba dan begitu terus dan itulah hidup, bertahan, pertahankan diri. Naluri kita mendorong kita untuk pertahankan diri bersama sesama yang juga tiap-tiapnya pertahankan diri. Kita makan sama-sama di meja makan adalah aktivitas pertahankan diri masing-masing pribadi untuk bertahan hidup dengan kenyangkan diri seperlunya. Pertahankan diri yang tidak boleh terjadi itu kalau pertahankan diri sambil robohkan orang lain yang sementara bertahan pertahankan diri. Dia juga ada hak untuk pertahankan diri. Kalau baik, mengapa dia digerogoti? Nurani kita berbisik pada diri kita untuk tetap pertahankan diri dalam situai apa pun sejauh diri bertahan dalam kebaikan, kejujuran dan keadilan. Inilah kerjasama antara 4N dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pertahankan diri. Memangnya ada serangan? Tidak. Pertahankan diri dalam arti luas itu bergerak, menyatakan diri ada dan berada serta mengada untuk pertahankan nafas kehidupan yang ada dalam diri setiap diri kita. Dalam bus yang pengap seorang bergerak mengap-mengap mencari udara segar, itu dorongan pertahankan diri agar tidak mati lemas. Bayi dalam gendongan mamanya meronta menangis histeris, tanda dia pertahankan diri karena ternyata tangannya yang tergantung disengat semut merah. Kelompok suku terasing merontak memanah dan menyumpit pendatang baru yang mengganggu, tanda pertahankan diri dalam situasi belantara yang penuh nyamuk dan pelanduk yang sama-sama ada dan sama-sama pertahankan diri. Hidup ini pertahankan diri dalam tenang dan damai.

    Pertahankan diri. Tiap diri kita pertahankan diri dan tiap kita diberi TUHAN, PENCIPTA kita kemampuan pertahankan diri yaitu empat unsur itu: NAFSU + NALAR + NALURI +  NURANI. Makan dan minum adalah kegiatan rutin pertahankan diri yang didorong oleh Nafsu. Makan apa, minum apa adalan pertanyaan yang dijawab oleh daya Nalar dalam diri kita untuk tahu dan alami apa yang tepat untuk dimakan dan diminum. Bedakan antara madu dan racun adalah kemampuan Nalar. Naluri kita mendorong untuk memandang keliling untuk rangkul sesama agar sama-sama pertahankan diri dan bukan saling merobohkan. Jalan seiring duduk sejajar. Itulah gerak yang diarahkan oleh naluri setiap kita dalam hidup dari hari ke hari. Nurani kita hembuskan dalam diri kita hawa segar untuk segarkan diri dan sesama sekitar untuk sama-sama segar agar semua mekar rengkuh Rahmat yang tercurah dari DIA tanpa hitung waktu dan tempat. Itulah hidup, pertahankan diri agar utuh datang dari DIA dan kembali pun dalam keadaan utuh.

  • Benarkan diri

    Benarkan diri. Tidak ada satu orang pun yang suka salahkan diri. Salahkan orang lain dan benarkan diri, biasa. Sendiri benar terus. Nafsu untuk benarkan diri dan menang sendiri itu sangat kuat dalam diri setiap orang. Dengan Nafsu benarkan diri inilah setiap manusia itu bisa hidup. Salahkan diri sama dengan bunuh diri. Nalar setiap kita bermain, cari berbagai alasan yang masuk akal untuk benarkan diri. biarpun sering alasan itu tidak masuk akal sehingga sesama yang melihat itu langsung melontarkan ungkapan, sistim burung unta, sembunyi kepala padahal seluruh badan ada di luar, kelihatan. Naluri kita manusia ini memang cari yang benar dan benarkan diri di hadapan sesama. Bangga kalau dapat acungan jempol karena diri benar. Syukur kalau itu benar yang benar-benar benar. Bisa terjadi nampaknya benar padahal terselimuti dengan berbagai ke-tidak-benar-an. kebohongan. Nurani kita tertipu kalau benar yang sekedar dibenar-benarkan padahal sebenarnya tidak benar. Hidup tipu diri. Inilah kerjasama antara empat N: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dalam proses benarkan diri. Nurani kita berbinar kalau benar dan memang benar sehingga benarkan diri yanb benar. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Benarkan diri. Luar biasa kalau memang itu benar-benar benar. Menampik tuduhan yang mempersalahkan lalu pertahankan diri dan uraikan panjang lebar tentang benarnya diri yang benar, maka itulah yang harus terjadi setiap saat, benarkan diri, bukan salahkan diri. Setiap penampilan diri kita itu adalah penampilan pembenaran diri. Diri benar duduk di tempat yang benar. Di tempat umum,  duduk  di tempat yang disediakan untuk umum, benar. Kalau duduk di tempat yang sudah dikhususkan untuk orang tertentu, misalnya untuk orang cacat, salah. Itu salah duduk. Kalau sudah salah duduk lalu benarkan diri, ini yang salah.  Pertahankan kesalahan itulah yang sering membuat hidup kita ini tidak nyaman, penuh dengan salah faham sampai bertikai malah saling serang mengarah ke saling bunuh-membunuh.

    Benarkan diri. Itu baik sejauh benarkan diri pada posisi yang benar. Saya guru. Pukul murid. Orang bilang itu salah, lalu bela diri, saya benar, murid salah. Posisi guru itu mengajar, mendidik, bukan memukul. Cara mendidik dengan memukul, salajh. Tapi kalau benarkan diri dan pertahankan diri bahwa cara mendidik dengan memukul itu benar, itu salah. Lalu dalam posisi guru, benar, tapi pakai posisi itu untuk menghajar murid bukan mengajar, maka posisi ini salah digunakan. Tidak benar. Sudah tidak benar terus benarkan diri. Itulah contoh kekisruhan dalam hidup kita bahwa pakai salah posisi untuk berbuat yang tidak benar lalu ngotot tetap benarkan diri. Salah.

    Benarkan diri. Setiap diri kita manusia ini ada karena benar ada dan adanya kita itu untuk saksikan kebenaran. Kebenaran tentang apa saja. Hidup ini kumpulan berkas benar dan benar tentang kebenaran. Setiap langkah itu benar ke arah kebenaran. Hati-hati, jangan salah langkah. Langkah yang tidak benar itu segera dibalik ke arah yang benar. Jangan pernah kita benarkan diri kalau langkah sudah salah. Hidup benar itu berasal dari sumber kebenaran dan itulah TUHAN. Dari DIA , ke DIA, dalam DIA. Itulah hidup yang benar.