Day: August 31, 2023

  • Sedang

    Sedang yang dimaksud di sini, sementara. Dia sedang duduk. Saya sedang menulis. Hidup ini dari sedang ke sedang dan menjadi satu untaian sedang yang dilanjutkan dengan sedang abadi. Kalau sedang duduk lalu tidur. Maka yang terjadi ialah orang itu sedang tidur. Kata sedang dipakai terus dengan pengertian, keadaan tertentu berlangsung sesudah keadaan yang lain. Sedang tidur lalu sedang bangun disusul dengan sedang mandi dan seterusnya. Maka benar bahwa hidup ini untaian sedang.

    Sedang hidup di dunia. Itu kalau ada pembicaraan antara yang di dunia dengan yang di luar dunia. Pembicaraan seperti itu tidak ada. Yang ada, kita-kita yang sedang hidup inilah yang menyadari bahwa diri kita sedang berada di dalam dunia ini dengan segala keterbatasan waktu dan tempat.

    Sedang berada dalam satu situasi tertentu sebenarnya diatur oleh NAFSU kita. Mau makan lalu makan, maka dikatakan sedang makan.

    NALAR kita memahami bahwa diri kita sedang berada dalam situasi tertentu dan pasti cepat atau lambat akan beralih ke situasi yang lain sehingga diri kita dikatakan sedang ini atau itu.

    NALURI kita tetap menyadarkan diri kita bahwa kita sedang berada sendiri atau bersama orang lain sehingga diri kita harus disesuaikan dengan keadaan yang sedang dialami. Tidak mungkin seorang yang sedang duduk sendirian berbicara tentang apa saja tanpa ada yang mendengar. Pasti yang sedang berbicara sendirian itu dianggap gila.

    NURANI kita menenangkan kita karena kita sedang mengalami suasana tenang dan gembira. Di sini jelas empat unsur dalam diri kita: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sedang bekerja sama dalam situasi tertentu meninggalkan situasi lama masuk ke situasi baru.

    TUHAN sedang terus memelihara kita. Kita sedang berada dalam lindungan TUHAN. TUHAN Pencipta kita tidak pernah membiarkan kita berada di luar jangkauan perhatian-Nya. Di sinilah muncul soal: kita tidak bisa berbuat sesuka-hati di luar Kehendak TUHAN.

    Kita bebas untuk berbuat apa saja sesuai atau tidak sesuai dengan Kehendak DIA, TUHAN. Yang jelas, DIA sedang menuntun dan mengawasi kita terus. Kita sedang hidup dan hidup dalam rangkulan HIDUP itu sendiri, TUHAN.

    Kita berharap agar kita akhiri hidup kita di dunia ini dalam keadaan sedang berada di jalan yang benar sesuai Kehendak DIA.

  • Pantas

    Pantas itu cocok antara diri dengan keadaan yang dimaksud. Pantas jadi guru. Pantas untuk diteladani. Lawannya, ganjil, janggal, tidak pantas. Diri pribadi kita harus pantas untuk sesuatu di luar diri kita sesuai empat unsur yang ada dalam diri kita.

    Nafsu seseorang mau jadi bupati. Pantas kalau ada pendidikan dan pengalaman untuk itu. Pantas kalau ada banyak orang yang memilih sesuai peraturan yang ada dalam proses pemilihan kepala daerah.

    Nalar menyimpan dan mengolah segala hasil pendidikan dan pengalaman  untuk menjadi bupati.

    Naluri begitu terarah untuk menjadi bupati. Ada jasa bagi para pemilih dan ada simpati dari para pemilih. Maka dari segi Naluri, pantas jadi bupati.

    Nurani  membawa ketenangan bathin untuk menjadi bupati. Pantas jadi bupati dan dengan posisi ini diri tenang dan senang berbakti bagi daerah dan rakyat yang dipimpin. Pantas jadi bupati. Ini contoh konkrit tentang istilah pantas. Ada kerjasama antara empat unsur dalam diri manusia untuk diri itu pantas menjadi sesuatu, dalam hal ini menjadi bupati.   (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pantas masuk surga. Ini kalimat biasa, dan sering dianggap terlalu kudus. Surga itu keadaan bahagia abadi bersama TUHAN sumber kebahagiaan. Manusia pantas untuk masuk dalam keadaan ini kalau dirinya sesuai dengan persyaratan yang ada. Syarat untuk mengalami surga itu ialah diri dalam keadaan kudus, suci dari dosa. Berarti tidak berdosa. Atau pun kalau sudah berdosa, sudah dihapus oleh TUHAN karena diri manusia itu bertobat. Dari tidak pantas menjadi pantas.

    Pantas jadi pemimpin. Syarat-syarat tentang seorang pemimpin itu sudah ada berdasarkan peraturan atau kesepakatan dari masyarakat. Pantas itu tidak bisa dipaksakan dari luar diri. Pantas itu ada dan muncul dari dalam diri manusia. Segala kemungkinan yang ada di luar manusia itu tersedia sesuai arah dan maksud kemungkinan itu. Malapetaka muncul untuk diri kalau sudah tidak pantas lalu dipantaskan untuk posisi tertentu. Ada keluh kesah dari banyak orang, dia tidak pantas. Diri pun terbelit dengan rasa kesal dan sebal. Ini terjadi karena ada ketidak-cocokan antara diri orang itu dengan persyaratan yang ada tentang posisi tertentu.

    Pantas tidak bisa dipantas-pantaskan. Pantas itu harus dengan sendirinya muncul dari diri pribadi sesuai NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang khas dalam diri setiap kita. TUHAN hadiahkan kemungkinan  itu dalam diri kita untuk kita pantas jadi ini dan itu.

    Kita berjuang dan TUHAN mengabulkan dengan pantas untuk kita dapat  bahagia abadi. Puji TUHAN.

     

  • Kenyang

    Kenyang itu lawannya lapar. Saya kenyang karena Nafsu makan terpenuhi dengan adanya makanan yang saya makan. Nalar saya juga bekerja, pilih dan putuskan makanan apa yang layak saya makan. Naluri saya beraksi dengan memanfaatkan jasa semua orang untuk mendapat makanan sampai terhidang dan saya makan. Nurani saya mengiyakan dengan perasaan tenang, damai karena sudah kenyang. Empat unsur dalam diri saya bekerja serentak dalam proses mencari (Nafsu) menemukan (Nalar) menikmati (Nalar) menyukuri (Nurani) makanan yang saya makan sampai terjadi, saya kenyang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini kelansungan peristiwa dari kenyang ke kenyang. Kita manusia diberi anugerah kehidupan oleh SANG PENCIPTA untuk kenyang melalui upaya yang diberi oleh TUHAN dalam alam untuk dikuasai dengan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Dalam upaya untuk kenyang, saya, anda, dia, kita, tidak diperkenankan untuk kenyang sendiri sambil membiarkan sesama kelaparan. Kenyang itu dambaan setiap kita. Membiarkan sesama kelaparan, salah. Menyebabkan sesama kelaparan, lebih salah lagi. Merampas milik sesama sampai sendiri kenyang dan sesama yang kehilangan itu terdampar dalam malapetaka kelaparan, salah di atas salah. Itulah tragedi dalam kehidupan ini yang sering terjadi, yang satu kekenyangan dan yang satu kelaparan.

    Kenyang itu hak setiap orang. TUHAN mengadakan segala sesuatu untuk kita setiap orang kenyang sesuai keadaan masing-masing orang. Merusak alam termasuk menghalangi kekenyangan. Memelihara alam sekitar adalah upaya terpuji sesuai kehendak SANG PENCIPTA untuk kita manusia memperoleh secukupnya makanan untuk tetap kenyang, tidak kelaparan. Sesama ada untuk sama-sama menggiatkan NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI demi kepentingan bersama untuk kenyang. Kenyang sebatas ukuran perut. Kenyang berlebihan, salah. Kenyang dengan hasil curian, merusak diri. Kenyang dengan hasil keringat sendiri, membahagiakan. Akhiri hidup di dunia ini dengan kenyang secara jujur dan kita akan tiba pada keadaan kenyang abadi. Itu di dalam TUHAN.