Month: July 2024

  • Isi

    Isi. Ada dua arti: isi mengisi dan isinya apa. Kata kerja dan kata benda. Hidup ini isi mengisi. Hidup ini ada isi. Isinya apa? Perbuatan yang baik. Siapa yang isi? Yah, tiap diri kita sendiri. Kita yang isi kita punya hidup. Isi hidup supaya hidup ada isi. Isi dengan yang baik isinya baik. Isi dengan yang buruk, isinya buruk.

    Isi. Nafsu kita tidak pernah berhenti isi diri kita dengan segala macam keinginan. Tubuh kita ada isi, gemuk. Itu hasil nafsu makan. Nalar kita juga tidak pernah lelah isi otak kita dengan bebagai pengetahuan dan ingatan akan berbagai pengalaman. Otak penuh isi. Itu hasil kerja nalar. Naluri kita mendorong diri kita untuk melanglang buana. Hasilnya diri kita ada isi dengan berbagai keakraban antar kita sesama manusia. Nurani kita penuh dengan isi dalam bentuk ketenangan kalau diri kita itu baik.  Tapi nurani kita bisa saja penuh dengan ketegangan kalau kita isi dengan hal-hal yang buruk. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele 2011).

    Isi. Diri kita tidak kosong. Tidak hampa. Selalu Ada isi. Ada dua saja kemungkinan: isi yang baik atau isi yang buruk. Tidak mungkin isi dua-dua, baik dan buruk sekaligus. Isi yang buruk sedikit saja, itu sudah buruk. Maka yang buruk itu diperbaiki supaya isi diri kita itu baik. Utuh. Sekarang terserah pada diri kita masing-masing. Isi yang baik dan terus yang baik maka jadilah diri kita itu orang baik. Tapi kalau  isi yang buruk terus-menerus, sudah jelas, hasilnya diri kita jadi orang yang buruk di mata sesama dan terlebih di hadirat TUHAN. Tetapi kita tidak usah cemas. Karena TUHAN, Pencipta kita, tidak pernah akan membiarkan diri kita jadi orang buruk karena RahmatNYA berlimpah-limpah  tercurah kepada diri kita perorangan dan per kelompok untuk jadi pribadi yang baik.

    Isi. Mari kita isi diri kita dengan segala yang baik, benar dan berguna (tiga B) karena itulah tujuan kita hidup di dunia ini untuk nantinya tiba kembali pada PEMBERI kebaikan karena DIA itu MAHA-BAIK.

  • Peran

    Peran. Setiap manusia ada peran. Tidak ada satu manusia pun yang tidak ada peran. TUHAN ciptakan setiap manusia itu dengan perannya masing-masing. Mana mungkin TUHAN ciptakan satu orang sekedar ada tanpa peran. Tidak mungkin.

    Peran. Manusia dari kandungan ibu sudah ada peran. Hah, peran apa? Peran pribadi dalam kandungan itu ialah, menyadarkan ibunya dan juga bapaknya bahwa dirinya adalah hasil cinta antara dua insan. Bayi yang dikandung di luar nikah yang sah pun ada peran untuk mengingatkan kepada si Ibu dan Ayah untuk bertanggung-jawab di hadapan sesama terlebih di hadapan TUHAN.

    Peran. Diri kita manusia ini masing-masing ada peran. Bayi yang baru lahir berperan untuk menangis mengingatkan ibunya dan ayahnya untuk beri rezeki sebagai wujud tanggung-jawab. Anak, remaja, dewasa, tua, semua yang kita yang namanya manusia ini ada peran terhadap diri, sesama dan TUHAN. Tidur nyenyak pun salah satu bentuk peran, kumpul tenaga. Yang tua renta, apa perannya? Beri nasihat dan terutama mendoakan yang muda agar hidup baik. Orang sakit? Perannya itu beri kesaksian bahwa hidup ini begantung pada orang lain, terutama pada TUHAN. Orang mati pun ada peran, sadarkan kita yang masih hidup bahwa hidup ini tidak sia-sia karena dari TUHAN kembali ke TUHAN.

    Nafsu kita berperan untuk dorong diri kita tidak tinggal diam, terus bergerak cari hidup dengan kerja dan hasilkan makanan dan semua kebutuhan lain. Ada catatan, cari makan dengan jujur, tidak curi, tidak serakah. Itu namanya Nafsu yang teratur dan terukur.

    Nalar kita berperan untuk pikir dan putuskan buat apa saja yang baik, benar dan berguna untuk kehidupan yang sedang kita jalani. Nalar  berperan pikir lurus, tidak bengkak-bengkok tipu sana tipu sini. Nalar berperan buat diri kita cerdas tidak culas.

    Naluri kita berperan untuk dorong kita hidup bersama sesama guna sama-sama pelihara diri dan sesama dalam alam ini untuk hidup sama-sama sejahtera. Peran Naluri tidak boleh dibelokkan untuk ciderai sesama, iri dan dengki pada sesama, apalagi habiskan nyawa orang lain. Itu bukan peran yang dimaksud oleh SANG PENCIPTA. Peran Naluri itu rangkul sesama, balas yang baik dengan baik, yang buruk pun dibalas dengan yang baik.

    Nurani kita berperan untuk pegang kendali supaya hidup itu baik dan benar, sayang sesama dan sembah TUHAN. Nurani berperan untuk buat diri kita teduh dan tenang dalam naungan Kasih Sang Maha Pengasih dan Penyayang.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Peran. Empat unsur dalam diri kita ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sama-sama serentak berperan menjadi peran diri pribadi kita untuk pelihara diri, pelihara sesama, manfaatkan alam, sembah TUHAN sujud PENCIPTA. Itulah peran kita masing-masing. Ganjarannya apa? Kebahagiaan baik di dunia ini maupun di akhirat.

  • Pihak

    Pihak. Memihak. Berpihak. Pihak sebelah. Pihak sana, pihak sini. Ikut pihak mana? Hidup ini membuat diri kita manusia terombang-ambing antara dua pihak. Tidak pernah ada satu manusia pun yang tidak berpihak. Selalu hidup dalam berpihak. Hanya ada dua pihak. Pihak yang baik atau pihak yang buruk. Ini saja. Tiap kita, ada di pihak yang baik atau di pihak yang buruk.

    Pihak. Pribadi yang berpihak pada yang baik, disebut manusia baik. Pribadi yang berpihak pada yang buruk, dikelompokkan sebagai pribadi buruk atau jahat. Hanya itu saja, baik atau buruk. Ini tergantung pada dorongan dari empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pihak. Nafsu kita selalu mendorong untuk menyukai hal, barang atau orang tertentu. Kalau itu yang baik, maka diri kita waktu itu ada di pihak yang baik. Kalau buruk, dan kita mau yang buruk itu, maka dengan sendirinya  kita di pihak yang buruk.

    Pihak. Nalar kita selalu juga mendorong diri kita untuk berpikir dan timbang pilihan kita jatuh pada hal, barang atau orang yang baik atau buruk. Pilih dan putuskan pegang yang baik, berarti kita berada di pihak yang baik, kalau yang buruk, ada di pihak yang buruk.

    Pihak. Naluri kita pun tertantang selalu untuk berada di pihak mana. Yang baik atau yang buruk. Kalau sesama yang baik yang kita pilih dan jadikan dia sebagai teman, maka pada waktu itu kita di pihak yang baik. Kalau yang kita pilih itu teman yang buruk, kita sedang berada di pihak yang buruk.

    Pihak. Nurani kita ini menentukan. Kalau Nafsu + Nalar + Naluri sudah berada di pihak yang baik, maka Nurani kita bergembira karena diri kita masuk di pihak orang yang baik. TUHAN mau yang itu. Kalau tiga unsur dalam diri kita itu pilih yang buruk, maka diri kita sedang berada di pihak yang buruk dan kita dikenal sebagai orang yang buruk atau dengan kata lain, orang jahat.

    Pihak. Harus pilih yang baik supaya kita jadi orang baik. TUHAN, PENCIPTA kita itu Mahabaik, maka kita wajib pikir yang baik, omong yang baik, buat yang baik, dan jadilah orang yang baik di hadapan sesama dan dengan sendirinya di hadapan TUHAN. Genaplah tujuan kita berada di dunia ini sesuai dengan Kehendak PENCIPTA kita, jadi orang baik yang sedang berada di pihak yang baik.

  • Saat

    Saat itu sekarang. Saat itu terus berlalu. Tidak ada satu orang pun yang dapat menghentikan atau menunda saat.  Juga tidak ada satu pribadi pun di antara kita manusia ini yang mampu memperpendek atau memperpanjang saat. Saat yah saat, tiba dan lewat. Tidak bisa diulang. Saat tidak berulang. Saat ada awalnya. Ada akhirnya. Kita manusia ini, sejak saat kita ada baik sebagai makhluk  ciptaan umum maupun secara pribadi dalam kandungan ibu, kita ada dalam saat. Hidup kita ini rentetan saat demi saat.

    Saat. Nafsu kita membuat diri kita  menanti dan mengalami saat yang dinanti. Saat yang menyenangkan, harapan Nafsu kita terpenuhi. Saat yang menyedihkan, Nafsu kita kecewa dan maunya cepat berlalu. Nalar kita manusia mempertimbangkan saat yang baik untuk diri kita. Saat yang dirindu itu tiba, Nalar kita berteriak gembira membuat diri kita loncat kegirangan.  Naluri kita pun selalu berada dalam penantian dan pelampiasan rasa suka atau duka atas kebersamaan diri dengan sesama, siapa pun dia. Saat bertemu dengan orang yang disayangi, diri kita terhanyut dalam rasa puas. Saat berpapasan dengan orang yang tidak diharapkan, Naluri kita kaget dan kecewa. Nurani kita tenang tenteram saat berteduh diri dalam keheningan. Saat teduh tenang itu membuat Nurani kita turut teduh dan bahagia. Perpaduan kegiatan  empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani membuat diri kita terbuai ria kalau saat yang dialami itu indah. Sebaliknya, empat unsur dalam diri kita ini akan membuat diri kita  bermuram durja kalau saat yang dialami itu pahit penuh kegetiran. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Saat. Hidup kita manusia ini beranjak dari saat ke saat. Tidak meloncat, tapi melangkah. Saat tidur pun saraf otak kita bekerja dan ada mimpi yang sempat diingat dan membuat diri kita terhibur oleh mimpi yang indah atau cemas oleh mimpi yang buruk. Itu semua gambaran tentang saat demi saat dalam jejak langkah hidup kita. Timbul pertanyaan, siapa yang atur saat yang kita bicarakan ini? Pertanyaan ini tidak layak untuk ditanyakan karena saat itu diatur oleh TUHAN sendiri. Tidak ada yang lain. Kita hidup dalam TUHAN dan saat itu adalah penyelenggaraan TUHAN. Saat itu adalah anugerah sebagai kesempatan untuk kita hidup, hidupi diri dan bantu sesama untuk sama-sama hidup dari saat ke saat. Karena saat itu milik TUHAN, maka sangat wajar kalau kita syukuri anugerah TUHAN ini dari saat ke saat.