Month: June 2024

  • Kumpul

    KUMPUL

    Kumpul. Uang, Ilmu, Orang, Berkat. Ini  empat hal yang selalu kita manusia kumpul tiap hari. Uang itu Nafsu. Ilmu itu Nalar. Orang itu Naluri. Berkat itu Nurani. Keempat ini satu. Tak terpisahkan. Tidak bisa hidup tanpa yang satu dipadukan dengan yang lain. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kumpul. Uang. Kumpul uang itu wajar dan harus. Ini dorongan Nafsu yang wajar dan sah. Pemulung kumpul sampah dan dalam sampah dia lihat uang. Tidak hina. Nelayan lihat uang dalam laut. Petani lihat uang dalam lumpur di tengah sawah. Guru lihat uang di mata murid. Di mata guru murid lihat uang yang akan datang. Pegawai kantor lihat uang di laci meja. Bankir simpan uang dalam brankas. Uang dan uang. Ibu-ibu lihat uang dalam kompor dan bokor. Untuk kumpul uang ini Nafsu menggebu-gebu. Perlu ada rem, kendali. Kumpul uang atas cara yang wajar, baik dan benar. Kumpul sampai sendiri tidak bisa hitung dan bingung dengan jumlah berapa banyak, terlalu. Itu uang bekin celaka, malapetaka menanti. Uang harus jadi kerabat bukan keparat. Bunyi dentingan uang logam dan desisan uang kertas harus jadi merdu dan sejuk di telinga dan hati.

    Kumpul. Ilmu. Harus. Belajar dan banyak berjalan. Ini karya Nalar. Nalar itu siap untuk kumpul pengetahuan dan pengalaman. Tiru orang lain yang berhasil. Semakin terampil semakin berhasil. Ilmu memampukan seseorang untuk menghasilkan uang. Ilmu itu bakal menambah pengetahuan dan pengalaman.

    Kumpul. Orang. Kumpul orang sambil berkumpul dengan orang lain. Ini karya Naluri. Tidak mungkin seorang diri buat segala hal. Perlu orang lain. Guru perlu murid. Murid butuh guru. Saling membutuhkan. Maka berkumpullah orang-orang yang dikenal dengan nama sekolah. Kumpul asal kumpul tidak berguna. Setiap orang dengan bakat dan kemampuannya mencari sesama untuk sama-sama kumpul tenaga, dana dan waktu untuk sama-sama hidup. Kumpul orang harus dengan tujuan luhur, saling menghidupkan. Kumpul orang untuk kejahatan, itu namanya komplotan, gerombolan. Harus kumpul orang jadi rombongan yang terpadu dan terhormat demi tujuan yang luhur.

    Kumpul. Berkat. Kalau kumpul harta, kumpul ilmu, kumpul orang lalu tidak kumpuil berkat, semuanya percuma, sia-sia. Dari mana dan dari siapa berkat itu didapat untuk dikumpul? Hanya hati yang tumpul dan keras membatu serta otak yang beku kaku saja yang bertanya tentang asal usul berkat. Nurani menyatakan dengan jelas bahwa berkat itu hanya dari atas, dari TUHAN. Uang, ilmu dan orang harus dikumpul dalam rangka kumpul berkat. Muncul pertanyaan. Bagaimana supaya uang, ilmu dan orang itu terkumpul lalu berkat ikut terkumpul? Kuncinya, kesadaran. Sadar bahwa semua yang ada ini Pemiliknya hanya Satu, TUHAN. Tanpa kesadaran ini, manusia bukan manusia.

    Kumpul. Kumpul empat hal ini serentak: uang +  ilmu + orang + berkat. Dalam empat hal ini ada nilai sementara dan abadi. Uang, ilmu, orang dalam arti pribadi-pribai manusia, ada nilai sejauh itu dikaitkan dengan berkat yang dimanfaatkan untuk menolong diri dan sesama. Itu semua untuk sama-sama semakin sadar akan adanya Yang Maha Agung, Sang Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, termasuk diri kita manusia. Kumpul segala-galanya dalam Dia, demi Dia, untuk Dia.

     

  • Siap

    SIAP

    Siap. Ini ucapan yang lazim di kalangan militer. Apa pun perintah atasan, dibalas, siap. Kalau tidak siap, waktu dipanggil, huru-hara, raba sana raba sini, bingung, panik. Hidup ini tidak boleh begitu. Harus tetap siap. Siap untuk apa? Untuk akhiri. Ngeri sekali. Tidak. Bekerja seolah akan hidup ratusan tahun, berdoa seolah sebentar akan mati. Ini bukan sikap orang yang putus asa. Tidak. Kaki injak bumi, tangan jangkau langit. Itu yang namanya siap.

    Siap. Siap itu bukan sekedar siap-siap tanpa tahu pasti kapan dipanggil. Itu yang namanya siap asal-asalan. Hidup tidak bisa hanya sekedar hidup. Kita bukan serpihan bunga kapok randu yang habis pecah lepas dari polongnya dan bebas dihembus angin tak tentu ke mana arahnya. Kita jelas dari mana dan mau ke mana. Siap dan tetap siap.

    Siap. Caranya? Berdiri tegak pada posisi di mana berada. Lihat kiri-kanan, muka-belakang, lalu maju langkah demi langkah. Sebagai petani, yah, bergaul dengan lumpur, benih dan panen. Sebagai prajurit, siap panggul senjata bela tanah air. Sebagai guru, siap bahan ajar dan ajar sesuai apa yang harus diketahui oleh pelajar dari berbagai jenjang usia. Sebagai pejabat pemerintah, siap perintah rakyat untuk semakin sejahtera. Sebagai tukang siap campur semen sesuai takaran yang benar. Sebagai pedagang, siap atur dacing tanpa main anak timbangan. Ini yang namanya siap.

    Siap. Untuk yang benar-benar siap itu, sederhana sekali. Kita manusia ini tiap pribadi dilengkapi dengan empat unsur. Pertama, Nafsu. Siap makan untuk sehat. Atur nafsu makan. Jangan terkulai karena kekenyangan. Kedua, Nalar. Siap pecahkan setiap masalah dan cari jalan keluar yang benar dan baik. Jangan berbelit-belit dan berkelit pikir lain, omong lain buat lain. Ketiga, Naluri. Ingat ada sesama, mulai dari rumah sampai riuh ramai hiruk pikuknya orang di pasar. Kendali diri untuk atur diri untuk tidak jadi gangguan bagi orang lain tapi jadi tumpuan kaki bagi diri dan sesama. Keempat, Nurani. Di sana ada sempritan ibarat wasit. Dengar bunyi untuk mulai dan akhiri pertandingan. Dengar bunyi tiupan, salah langkah, stop. Bunyi lagi, lanjutkan dengan tertip sampai finis. Inilah peran empat unsur dalam diri kita untuk hidup siap dari saat ke saat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Siap. TUHAN beri kita hidup dengan segala perlengkapan untuk tetap siap bila dipanggil pulang.

     

  • Singkat

    SINGKAT

    Singkat. Usia alam semesta, kira-kira lima belas miliar tahun. Usia bumi, sekitar empat setengah milliar tahun. Umur kita manusia? Menurut studi para ahli, rata-rata maksimal usia manusia seratus lima puluh tahun. Singkat. Ternyata umur kita manusia ini singkat dibandingkan dengan usia ciptaan lain, seperti alam semesta dan bumi yang hitungannya miliaran tahun.

    Singkat. Usia kita manusia ini singkat kalau dibanding-banding dengan yang lain. Tapi TUHAN beri usia kita itu pas-pas. Tergantung dari kita masing-masing untuk memaknai tiap detik usia kita. Nafsu menggebu-gebu untuk memperoleh segala-galanya. Harus tahu batas. Nalar mengambang ke sana-sini untuk alami dan tahu semua hal. Padahal tidak mungkinl. Naluri meledak-ledak untuk merangkul semua pengagum. Tapi usia membuat wajah keriput dan lutut bertekuk. Nurani memohon TUHAN perpanjang usia tapi TUHAN hanya beri waktu yang sangat terbatas.

    Singkat. Usia yang singkat inilah yang sering kita kurang peduli. Kumpul harta untuk tujuh tururan. Ini dorongan nafsu yang lewat batas.Cari ilmu untuk selami lautan dan jelajah angkasa. Ini angan-angan nalar yang melayang-layang. Rangkul sesama cari pengaruh. Pamer pamor biar dengan cara licik. Ini arah naluri yang kurang tahu malu. Sembahyang bersujud berlutut sampai tiarap tanpa hiraukan nasib sesama. Ini desakan nurani yang sudah tumpul keras membatu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Singkat. Seharusnya setiap diri kita manusia ini sadar bahwa usia kita itu bukan ditentukan oleh diri kita sesuka hati. Siang senang-senang makan-minum, malam terbaring kaku. Anak dalam kandungan  sudah disiapkan segala kelengkapan sampai nama pun sudah dipilih. Sayang, lahir mati. Ini semua gambaran buram tentang usia kita yang tidak tentu.

    Singkat. Karena usia yang singkat itulah maka setiap kita, saya, anda, dia, kita, siap rangkul sesama, sujudi TUHAN. Di mana sulitnya? Nafsu dikendalikan. Nalar diarahkan. Naluri ditenangkan. Nurani dijernihkan. TUHAN mau yang begini ini. Hidup kita biar singkat namun padat isi, sarat makna.