Day: March 25, 2024
-
Terima
Terima. Hidup ini dari terima ke terima. Lingkaran terima. Saya terima dari dia. Dia terima dari dia, dari dia, dari dia sampai ke DIA dengan huruf besar, berarti, TUHAN. Jadi saya hidup karena terima hidup ini dari orang tua dan orang tua dari orang tua mereka dan akhirnya sampai kepada orang tua yang pertama dan orang tua yang pertama itu terima hidup dari TUHAN sebagai awal, asal dan tujuan dari hidup ini sendiri. Jelas, hidup itu terima. Terima hidup, hidup. Tidak terima hidup, tidak hidup. Tidak ada satu manusia pun yang berani katakan dia tidak terima hidup karena dia hidup dari diri sendiri. Itu mustahil.
Terima. Saya bangun pagi terima udara pagi sinar pagi. Tidak mau terima, tutup pintu, tutup mata. Itu tidak mungkin. Karena akhirnya toh harus terima bahwa hari sudah siang. Nafsu dalam diri saya mendorong saya untuk terima dan tidak tutup diri terhadap hari baru. Nalar saya menuntun saya untuk berpikir tentang apa yang harus saya terima di hari baru. Naluri saya langsung puas dengan adanya orang-orang kekasih saya ada bersama saya terima senyum sapa mereka. Nurani saya meneduhkan saya untuk segera terima sentuhan Rahmat TUHAN. Inilah kerjasama dari empat unsur dalam diri saya, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele).
Terima. Ungkapan yang sangat lazim kita ucapkan dan terima yaitu ‘Terimakasih’. Kasih yang kita terima. Orang beri kasih dan kita terima kasih. Sayang kalau kita beri tindakan atau barang yang tidak berisi kasih. Kita paksa orang lain untuk terima yang bukan kasih tapi benci. Apakah kita tega dan rela untuk terima benci. Kalau diri kita tidak tega dan rela, mengapa kita beri iri dan dengki kepada sesama dan paksa mereka untuk terima hal yang tidak baik itu. TUHAN Pencipta kita menuntun kita ke padang yang hijau untuk terima kesegaran, TUHAN hantar kita ke sumber air yang jernih untuk menimba dan mereguk air yang jernih dan terima keteduhan bathin.
Terima. Kita hidup untuk terima kesenangan, kegembiraan, kepuasan dan kebahagiaan. Terima dari siapa? dari TUHAN. Itu hasil empat unsur dalam diri setiap manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani yang serentak terima segala yang baik secara terpadu. Hidup ini kita terima yang baik itu dan kembangkan dengan bagi supaya orang lain juga terima dan nikmati semua yang baik itu sampai ajal tiba dan kembali terima senang abadi, gembira abadi, puas abadi, bahagia abadi. Terimakasih.
-
Perasaan
Perasaan. Begitu banyak macam perasaan yang dirasakan oleh tiap kita manusia setiap saat. Ada empat macam perasaan penting yang saya kemukakan dalam tulisan singkat ini berdasarkan analisis sesuai filsafat kepribadian, 4N, Kwadran Bele (2011). Empat perasaan itu: 1. Senang, hasil Nafsu. 2. Gembira, hasil Nalar. 3. Puas, hasil Naluri. 4. Bahagia, hasil Nurani. Empat perasaan ini erat terpadu hanya beda di kuat lemahnya perasaan itu, mana lebih kuat. Contoh. Makan makanan kesukaan. Senang karena Nafsu terpenuhi. Ini yang paling kuat di saat itu. Senang sekali. Ikutannya, gembira di Nalar, puas di Naluri dan bahagia di Nurani.
Perasaan. Senang lawannya susah. Gembira lawannya duka. Puas lawannya kecewa. Bahagia lawannya derita. Susah-duka-kecewa-derita sangat tidak diharapkan oleh setiap kita. Tapi tetap dialami, tak terhindarkan. Kenapa itu terjadi? Yah, oleh diri sendiri. Perasaan itu buah dari ulah pribadi. Orang lain sebatas mencoba. Yang cicip itu diri dan yang rasa juga diri. Perasaan tidak terlepas dari gerak hidup tiap kita. Sekarang rasa apa? Rasa ini itu. Yah, itulah perasaan.
Perasaan. Tiap manusia hidup dari perasaan dan demi perasaan. Tidak ada hidup yang tidak berdasarkan perasaan. Awal dari perasaan dan akhir juga pada perasaan. Akhir hidup kita adalah perpaduan empat perasaan ini, senang + gembira + puas + bahagia. Tiap orang mau alami empat perasaan ini maka harus usahakan diri sendiri alami dan buat supaya sesama pun alami. Hidup suami istri adalah contoh konkrit untuk dua insan saling menolong untuk alami empat perasaan ini. Ganggu salah satu dari empat perasaan ini serentak tiga perasaan yang lain pun terganggu. Dengan sendirinya diri pribadi kita terganggu dalam hidup karena terbawa oleh perasaan.
Perasaan. Memang ada istilah perasaan halus dan kasar. Halus karena ada tenggang rasa, perhitungkan perasaan orang lain. Kasar karena diri memang sudah kasar lalu kasar pula terhadap orang lain. Pakai perasaan berarti sendiri punya perasaan mau ditularkan kepada orang lain supaya sama rasa dalam arti positif.
Perasaan. Hanya kita manusia saja merupakan makhluk ciptaan TUHAN yang mempunyai perasaan yang diatur oleh empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Seluruh alur perasaan itu terpadu dan melebur menyatu dalam Nurani. Itu yang diharapkan terjadi pada saat kita mengakhiri hidup di dunia ini membawa ke seberang perasaan senang abadi, gembira abadi, puas abadi, bahagia abadi.