Month: March 2024

  • Ramas dan Remas

    Ramas dan remas hampir sama tapi tidak sama. Ramas dengan tenaga. Remas dengan rasa. Ramas itu kasar. Remas itu halus. Ramas parutan kelapa untuk dapat santan. Remas susu sapi untuk dapat air susu. Ramas dan remas tujuannya satu dan sama, dapat sesuatu. Santan dan susu diperoleh dengan salah satu dari dua cara ini, ramas dan remas. Itulah tindakan manusia, untuk dapat sesuatu itu entah ramas atau remas.

    Ramas dan remas. Nafsu merampas sesuatu dari sesama itu pasti dengan ramas. Rampas dengan tipu muslihat itu ulah Nalar yang tidak benar. Rampas hak sesama dengan paksa itu namanya Naluri yang rakus incer tiap saat dan ramas sesama. Nurani yang sudah lumpuh tambah tumpul  ramas sesama seperti lumpur.

    Ramas dan remas. Nafsu memperoleh secara santun itu seperti ramas parutan kelapa tinggal ampas dapat santan. Santan jadi pelezat makanan santapan insan dan ampas jadi pakan ternak piaraan. Ada manfaat. Itulah ramas yang pantas untuk dilakukan dan tidak patut kalau sesama diramas tak berdaya lalu apa pun yang dimiliki dijarah secara paksa. Nalar mengarahkan manusia untuk ramas dan remas barang bukan manusia.  Naluri  mendorong kita manusia untuk ramas yang keras dan remas yang lembut, dan itu untuk barang , bukan manusia. Nurani membisikkan dengan jelas, awas, ramas dan remas itu untuk barang, bukan manusia. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, supaya ramas dan remas itu dilakukan untuk benda apa saja yang bisa diramas atau diremas. Tapi bukan manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ramas dan remas. Sayang, dua tindakan ini patut dan pantas untuk barang dan heran dilakukan oleh kita manusia terhadap sesama manusia. TUHAN tidak mau.

  • Jamah

    JAMAH

    Jamah. Pegang, sentuh tidak sama dengan jamah. Jamah itu sentuh dan pegang diri sesama dengan rasa. Jamah juga sentuh sesama dengan sengaja secara seksama. Dokter jamah orang sakit. Itu tidak sebatas pegang atau sentuh. Jamah itu diri dengan diri yang berpadu. Jamah tidak selalu dengan tangan. Jamah bisa dengan mata, bisa dengan tangan, malah bisa dengan seluruh tubuh terutama hati. Jamah itu darah yang mengalir dari pribadi yang satu ke  pribadi yang lain.

    Jamah. Nafsu mengingini gelang milik sesama jamah  pergelangan tangan pemiliknya dengan mesrah. Nalar mengagumi karya lukis seseorang jamah pelukisnya sampai memeluk dengan erat penuh kagum pada sang pelukis. Naluri menerima sapaan sesama mendekap relung dada sesama sambil menjamah merambah lekuk pipi sesama itu sepuas-puasnya tanpa mau lepas. Nurani meresap kasih sesama lewat sejuk kalbu yang jamah relung terdalam telaga hati sesama. Inilah jamah- menjamah antara dua pribadi yang luluh dalam rindu dan berpadu dalam lugu. Jamah- menjamah antara empat unsur, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dari dua pribadi yang ada bersama di persada bumi ini yang membuat manusia itu sama dan satu tanpa bedakan asal dan usul, derajat dan pangkat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jamah. Saya, anda, dia, kita saling jamah-menjamah sekian sampai hilang makna dari kata kamu dan mereka berupa jarak yang membentang memisah-jauhkan satu manusia dengan manusia yang lain. Ternyata kenyataan jamah-menjamah antar kita yang sama-sama manusia ini hanyalah percikan dari jamahan jemari dari DIA, PENCIPTA kita. Di mana lagi jarak antara saya dan anda kalau DIA sudah jamah berdua kita dengan ramah melimpah menelusuri sekujur diri kita?

  • Tepi

    Tepi. Maksudnya pinggir. Tepi pantai, tepi laut. Tepi pantai berarti daratan yang kita pijak sudah mencapai akhir. Maka disebut tepi pantai. Tepi laut berarti laut ada di depan dan kita belum injak airnya. Masih di depan. Hidup ini ada di tepi. Tepi dari pantai yang  berakhir dan tepi dari laut yang akan mulai. Bisa tepi macam-macam. Tepi langit. Tepi jurang. Tepi hutan. Tepi kolam. Tepi kebun. Tepi padang. Itu semua tergantung di mana kita sedang berada dan ke mana sedang menuju.

    Tepi. Tepi hidup. Tidak ada pantai yang tak bertepi. Demikian pun hidup. Pasti bertepi. Sekarang ini saya menulis dan saya sadar sedang berada di tepi pantai hidup menggapai tepi hidup yang lain. Pantai itu kering dan di tepinya kaki saya kering dan tepi laut itu air lautnya menyentuh membasahi  kaki saya dan saya alami kedinginan laut yang sedang gerak berombak memecah buih memutih di karang.

    Tepi. Nafsu saya membuat diri saya ingin apa saja. Sering Nafsu menipu saya menginginkan hujan di langit dan membuang air di ember. Hujan tidak turun ember jadi kosong. Itulah gerak Nafsu yang membuat diri saya berada di tepi kerinduan, keinginan yang antara hampa dan bernas silih berganti. Permainan Nafsu ini yang membuat diri saya hidup di tepi dari yang sedang saya nikmati dan tepi yang sedang kuingini.

    Tepi. Nalar saya mengayun-ayun diri saya dalam ayunan pengalaman masa lampau terayun ke masa depan. Beranjak dari tepi pengetahuan lama ke tepi pengetahuan baru. Nalar membuat diri saya pecah otak untuk merambah lebatnya belantara penuh satwa dan fauna di depan saya. Nalar mengawaskan diri saya untuk kagumi unggas aneka warna sambil awasi diri saya untuk hindari lintah yang merayap dan serangga yang mendengung. Nalar menuntun untuk mengetahui macam dan jenis apa dan siapa yang sedang kuhadapi. Nalar yang membuat diri saya hati-hati di tepi hidup.

    Tepi. Naluri saya menggetarkan diri saya bila berpapasan dengan orang yang lama kurindu dan kutemui di tepi kerumunan orang berjubel di alun-alun kota. Naluri saya menghantar saya dari tepi keramaian memasuki kesunyian kesendirian silih berganti. Itulah tepi hidup yang sedang dirangkaki Naluri yang melotot melongo lewat kisi-kisi tulang rusuk saya.

    Tepi. Nurani saya bisik bahwa sekarang sudah di tepi dari yang lama dan ada di tepi yang baru dari hidup. Dan kutanya, apa jadinya dengan yang baru yang sekarang sedang kugapai tepinya? Nurani cuma senyum dikulum sambil bergumam, tenang, aman, karena tepi dari yang sudah kautapaki dan tepi baru yang sedang kauinjak ada dalam DIAYang tanpa Tepi, Mahaluas tanpa batas Yang rangkul kau erat di pelukan Dada-Nya.

    Tepi. Oh, itulah tepi hidup yang tiap kita tapaki dengan empat unsur hadiah TUHAN  bagi diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Terpujilah DIKAU, TUHAN-ku.

     

  • Terima

    Terima. Hidup ini dari terima ke terima. Lingkaran terima. Saya terima dari dia. Dia terima dari dia, dari dia, dari dia sampai ke DIA dengan huruf besar, berarti, TUHAN.  Jadi saya hidup karena terima hidup ini dari orang tua dan orang tua dari orang tua mereka dan akhirnya sampai kepada orang tua yang pertama dan orang tua yang pertama itu terima hidup dari TUHAN sebagai awal, asal dan tujuan dari hidup ini sendiri. Jelas, hidup itu terima. Terima hidup, hidup. Tidak terima hidup, tidak hidup. Tidak ada satu manusia pun yang berani katakan dia tidak terima hidup karena dia hidup dari diri sendiri. Itu mustahil.

    Terima. Saya bangun  pagi terima udara pagi sinar pagi. Tidak mau terima, tutup pintu, tutup mata. Itu tidak mungkin. Karena akhirnya toh harus terima bahwa hari sudah siang.  Nafsu dalam diri saya mendorong saya untuk terima dan tidak tutup diri terhadap hari baru. Nalar saya menuntun saya untuk berpikir tentang apa yang harus saya terima di hari baru. Naluri saya langsung puas dengan adanya orang-orang kekasih saya ada bersama saya terima senyum sapa mereka. Nurani saya meneduhkan saya untuk segera terima sentuhan Rahmat TUHAN. Inilah kerjasama dari empat unsur dalam diri saya, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele).

    Terima. Ungkapan yang sangat lazim kita ucapkan dan terima yaitu ‘Terimakasih’. Kasih yang kita terima. Orang beri kasih dan kita terima kasih. Sayang kalau kita beri tindakan atau barang yang tidak  berisi kasih. Kita paksa orang lain untuk terima yang bukan kasih tapi benci. Apakah kita tega dan rela untuk terima benci. Kalau diri kita tidak tega dan  rela, mengapa kita beri iri dan dengki kepada sesama dan paksa mereka untuk terima hal yang tidak baik itu. TUHAN Pencipta kita menuntun kita ke padang yang hijau untuk terima kesegaran, TUHAN hantar kita ke sumber air yang jernih untuk menimba dan mereguk air yang jernih dan terima keteduhan bathin.

    Terima. Kita hidup untuk terima kesenangan, kegembiraan, kepuasan dan kebahagiaan. Terima dari siapa? dari TUHAN. Itu hasil empat unsur dalam diri setiap manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani yang serentak terima segala yang baik  secara terpadu. Hidup ini kita terima yang baik itu dan kembangkan dengan bagi supaya orang lain juga terima dan nikmati semua yang baik itu sampai ajal tiba dan kembali terima senang abadi, gembira abadi, puas abadi, bahagia abadi. Terimakasih.

  • Perasaan

    Perasaan. Begitu banyak macam perasaan yang dirasakan oleh tiap kita manusia setiap saat. Ada empat macam perasaan penting yang saya kemukakan dalam tulisan singkat ini berdasarkan analisis sesuai filsafat kepribadian, 4N, Kwadran Bele (2011). Empat perasaan itu: 1. Senang, hasil Nafsu. 2. Gembira, hasil Nalar. 3. Puas, hasil Naluri. 4. Bahagia, hasil Nurani. Empat perasaan ini erat terpadu hanya beda di kuat lemahnya perasaan itu, mana lebih kuat. Contoh. Makan makanan kesukaan. Senang karena Nafsu terpenuhi. Ini yang paling kuat di saat itu. Senang sekali. Ikutannya, gembira di Nalar, puas di Naluri dan bahagia di Nurani.

    Perasaan. Senang lawannya susah. Gembira lawannya duka. Puas lawannya kecewa. Bahagia lawannya derita. Susah-duka-kecewa-derita  sangat tidak diharapkan oleh setiap kita. Tapi tetap dialami, tak terhindarkan. Kenapa itu terjadi? Yah, oleh diri sendiri. Perasaan itu buah dari ulah pribadi. Orang lain sebatas mencoba. Yang cicip itu diri dan yang rasa juga diri.  Perasaan tidak terlepas dari gerak hidup tiap kita. Sekarang rasa apa? Rasa ini itu. Yah, itulah perasaan.

    Perasaan. Tiap manusia hidup dari perasaan dan demi perasaan. Tidak ada hidup yang tidak berdasarkan perasaan. Awal dari perasaan dan akhir juga pada perasaan.  Akhir hidup kita adalah perpaduan empat perasaan ini, senang + gembira + puas + bahagia. Tiap orang mau alami empat perasaan ini maka  harus usahakan diri sendiri alami dan buat supaya sesama pun alami. Hidup suami istri adalah contoh konkrit untuk dua insan saling menolong untuk alami empat perasaan ini. Ganggu salah satu dari empat perasaan ini serentak tiga perasaan yang lain pun terganggu. Dengan sendirinya diri pribadi kita terganggu dalam hidup karena terbawa oleh perasaan.

    Perasaan. Memang ada istilah perasaan halus dan kasar. Halus karena ada tenggang rasa, perhitungkan perasaan orang lain. Kasar karena diri memang sudah kasar lalu kasar pula terhadap orang lain. Pakai perasaan berarti sendiri punya perasaan mau ditularkan kepada orang lain supaya sama rasa dalam arti positif.

    Perasaan. Hanya kita manusia saja merupakan makhluk ciptaan TUHAN yang mempunyai perasaan yang diatur oleh empat unsur: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Seluruh alur perasaan itu terpadu dan melebur menyatu dalam Nurani. Itu yang diharapkan terjadi pada saat kita mengakhiri hidup di dunia ini membawa ke seberang perasaan senang abadi, gembira abadi, puas abadi, bahagia abadi.

  • Tugas + Tepat + Tetap + TUHAN

    Tugas tepat tetap dalam TUHAN. Ada empat T, tugas itu hasil Nafsu, tepat itu hasil Nalar, tetap itu hasil Naluri dan TUHAN itu hasil Nurani. Empat N dalam diri kita berfungsi membuat diri kita hidup senang hasil Nafsu, gembira hasil Nalar, puas hasil Naluri dan bahagia hasil Nurani. Itulah istimewanya kita manusia, dikaruniai TUHAN empat unsur dalam diri kita sehingga kita hidup penuh gairah memenuhi panggilan TUHAN untuk penuhi bumi, pelihara dan manfaatkan bumi ini secara baik, benar, bagus dan kudus. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tugas. Segala tindakan kita itu adalah tugas. Sesudah bekerja seharian, diri saya perlu istirahat dan tidur. Kerja, istirahat dan tidur itu adalah tugas. Penuhi tugas ini, senang, gembira, puas dan bahagia.

    Tepat. Tugas yang tepat untuk pribadi yang tepat memang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Tugas itu sesuai dengan hukum kodrat. Pria perkasa wanita ayu adalah karya TUHAN untuk setiap pribadi kita tepat untuk tugas yang tepat. Dan ini tetap. Tidak pernah pria berganti dengan wanita untuk melahirkan anak. Itu tugas tetap dalam lindungan TUHAN.

    Tetap. Manusia tetap bertugas mulai dari bernafas pun adalah tugas tetap untuk diri menghirup dan menghembuskan udara dan tugas ini tak tergantikan oleh diri yang lain. Tetap. Supaya hidup tetap bertugas. Tugas apa? Tugas jaga hidup, lanjutkan hidup.

    Tiga hal ini, tugas, tepat dan tetap diperintahkan oleh TUHAN kepada kekasih-Nya, yaitu setiap kita ini. Hidup di dunia ini menjadi indah penuh gairah karena tiga T ini, tugas, tepat dan tetap terlaksana oleh tiap diri kita dalam naungan kasih TUHAN.

    Tugas saya, anda, dia, kamu, kita, mereka tepat sesuai dengan bakat dan kemampuan kita dan tetap terlaksana dalam TUHAN.  Itulah yang membuat hidup kita senang + gembira + puas + bahagia, baik di dunia ini maupun di surga kelak.

  • Mulus

    Mulus itu biasanya halus. Halus mulus. Lewat filsafat ‘Kwadran Bele’ kata mulus ini kalau didalami maknanya, maka erat berkaitan dengan kata-kata, lurus, tulus, lulus dan kudus. Jadilah satu rumpun kata terdiri dari enam kata Indonesia, halus + mulus  + lurus + tulus + lulus + kudus. Enam kata ini boleh dicampur-adukkan tanpa perlu diurutkan sesuai penting tidaknya tiap kata itu. Yang jelas, enam kata ini berkaitan dalam arti memberi arti kepada hidup manusia yang harus seperti itu. Ini satu bukti kekayaan bahasa kita, Indonesia, sehingga kalau berfilsafat seperti ini, tidak perlu memakai bahasa asing, Yunani, Latin, Sansekerta, Inggris, Jerman dan lain-lain. Itu tanda kurang menghargai milik sendiri, bahasa Indonesia.

    Mulus. Mulus itu sifat dari   empat unsur yang ada dalam diri kita manusia: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Nafsu, keinginan dalam diri kita kalau diatur dengan baik, benar dan bagus, maka jalannya mulus. Makan. Nasi yang kita makan hasil keringat kita sendiri yang diolah dari beras yang baik mutunya, maka ditelan dengan mulus dan dicerna dengan mulus oleh usus kita. Nalar, daya pikir kita itu mulus sejauh yang kita pikir itu hal-hal yang baik, benar dan berguna untuk diri dan sesama. Naluri kita mendorong diri kita untuk hidup mulus, tanpa berperkara siang malam dengan sesama, mulai dari keluarga, tetangga sampai masyarakat luas. Nurani kita menjadi mulus tak bercacat kalau Nafsu terkendali, Nalar jernih, Naluri murni. TUHAN Pencipta kita menghendaki kita ada bersama di dunia ini untuk hidup mulus, tidak kasar, tidak ribut, tidak ceroboh.

    Mulus. Alangkah indahnya hidup yang mulus karena halus, lurus, tulus sehingga lulus dan dinyatakan kudus. Kita tidak boleh sesaat pun lupa akan asal kita yang dirancang oleh Pencita dari kudus ke kudus. Karena DIA adalah Mahakudus. Ini benar. Dan kebenaran ini jangan diaduk-aduk dengan pertanyaan aneh-aneh tentang arti asal dan tujuan hidup kita. Percaya saja bahwa hidup ini memang demikian. Mulus dari TUHAN, mulus dalam TUHAN dan kembali ke TUHAN dalam keadaan mulus. Hidup yang mulus itu membuat diri kita senang, hasil Nafsu, gembira hasil Nalar, puas hasil Naluri, bahagia hasil Nurani. Cukup, itu saja.

  • Lurus & Lulus & Tulus & Kudus

     

    Lurus & Lulus &Tulus & Kudus. Empat kata ini erat berkaitan satu dengan yang lain. Empat kata ini tertanam dalam diri setiap orang. Pribadi setiap orang itu terdiri dari empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Satu kesatuan. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Lurus erat kaitannya dengan NAFSU. Lulus ada hubungan dengan NALAR. Tulus menyangkut peran NALURI. Kudus itu ukuran untuk NURANI. Setiap manusia merindukan untuk hidup yang Lurus & Lulus &Tulus & Kudus. Hidup manusia mulai dari keluarga sampai masyarakat luas, kalau empat keadaan ini terwujud maka akan terjadilah suasana yang aman dan damai.

    Lurus. Tidak bengkok. Ikut aturan sesuai isi aturan itu. Itu namanya lurus, tidak tambah-kurang isi aturan. Aturan mengatakan, jangan menghina sesama. Kalau menghina, ini yang namanya bengkokkan aturan, akibatnya hubungan antara yang menghina dan yang dihina tidak lurus lagi.

    Lulus. Ada ujian, kerjakan dengan baik, jawab setiap soal dengan benar, maka dinyatakan lulus. Hidup ini ada banyak tantangan, kesulitan yang namanya  ujian. Hadapi tantangan dan atasi kesulitan dengan tabah dan gagah, itu baru namanya lulus. Bangga sudah tempuh ujian dengan baik. Hidup ini ujian. Hidup baik, lulus. Hidup tidak baik, tidak lulus. Semua kita harap dan berjuang untuk lulus.

    Tulus. Tulus itu seperti air yah air, tidak minyak. Minyak yah minyak, tidak air. Apa adanya. Tulus ditambah kata ikhlas. Itu tampak dari beningnya budi tenangnya hati. Orang tulus budi halus. Hidup seperti inilah yang dikehendaki oleh Pencipta kita, tulus seperti merpati yang makan apa yang ada di depannya dan tidak merampas dari jatah sesama.

    Kudus. Gabungan ketiga kata ini, lurus, tulus dan lulus, jadilah diri kita itu kudus. Kudus itu bukan sesudah mati, tapi selama hidup ini harus kudus. Itu macam apa? Yah, macam adanya Pencipta kita, TUHAN, Yang Mahakudus sehingga kita ciptaan-Nya pun harus kudus.

    Hidup kita jadi indah, segar mekar karena lurus, tulus, lulus dan kudus. Tugas setiap kita, kuduskan diri dan saling menguduskan sebagaimana yang dikehendaki oleh TUHAN. Caranya, yah, hidup kudus itu dengan hidup lurus, lulus dan tulus jadilah kudus.

     

     

  • Bantu

    Bantu. Bantu membantu. Itulah hidup. Hidup tanpa bantuan tidak mungkin hidup. Tiap diri kita butuh bantuan orang lain. Sendiri atur diri tanpa bantuan, tidak mungkin. Oleh karena itulah kata bantu ini harus menjadi kata kunci untuk hidup. Anggota tubuh kita saja ada dan bergerak karena baku bantu satu sama lain. Dalam diri kita manusia ini ada empat unsur yang saling bantu sehingga kita hidup. Nafsu bantu Nalar, Nalar bantu Naluri, Naluri bantu Nurani. Seterusnya, Nurani bantu Nafsu. Satu lingkaran bantu membantu antara empat unsur yang TUHAN adakan dalam diri kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Bantu. Saat kita berhenti membantu, saat itulah yang namanya kematian. Selama masih hidup, membantu dan dibantu jalan terus sehingga tiap diri kita mulai bangun pagi sampai tidur malam, hidup atas bantuan orang lain. Sebaliknya, diri kita pun bantu orang lain sehingga dengan saling membantu ini kita manusia menjadi satu kesatuan yang menghuni bumi ini dengan penuh tenaga untuk segala macam kegiatan. Bayangkan, makan nasi. Nasi di piring itu hasil bantuan begitu banyak manusia, mulai dari petani, penjual sampai kepada pemasak. Tanpa mata rantai bantu-membantu  ini tidak mungkin ada nasi. Oleh karena itulah tidak boleh lalai dalam membantu sesama. Tugas kita entah itu namanya tugas pokok atau tugas tambahan, semuanya itu mengarah kepada tugas bantu sesama.

    Bantu. Kegiatan bantu ini dirusak oleh diri kita sendiri kalau kita bantu itu dengan setengah hati atau bantu dengan harapan akan dibantu.  Lebih parah lagi kalau bantu itu dengan tipu muslihat untuk merugikan sesama yang dibantu dengan kedok bantu padahal ada niat untuk menyusahkan orang yang dibantu. Ada sejumlah anggaran untuk bantu orang yang rumah dan seluruh hartanya rusak diterjang badai dan banjir. Bantuan yang harus disalurkan sejumlah satu milyar rupiah, dicubit untuk kepentingan diri, seratus juta. Ini bukan bantu tapi curi. Kalau dana yang terkumpul berasal dari orang-orang yang baik hati atau dari Pemerintah, lalu dikorupsi, maka kita yang membantu dengan cara itu seharusnya dihukum dengan hukuman yang berat seturut peraturan perundang-undangan, tetapi hukuman yang paling berat itu ketenangan dalam nurani kita hilang.

    Bantu. Setiap orang dalam profesi masing-masing itu sejatinya membantu sesama. Ganjarannya, gaji atau honorarium yang diterima dari pihak yang ditentukan untuk mengatur itu. Imbalan atas jasa membantu ini secara lahiriah, ada dalam bentuk barang atau uang. Tapi imbalan yang tak ternilai harganya itu, ialah: Rahmat. Dari siapa? Dari TUHAN.