Year: 2023

  • Kota Buah

    Kota Buah. Ini maksudnya buah sungguhan. Kota yang menghasilkan buah. Buah apa saja yang bisa dimakan oleh penduduk kota. Kota apa saja, entah itu kota kecil atau kota besar, pokoknya kota. Entah ibu kota negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, pokoknya kota. Kota yang dihuni oleh penduduk yang menamakan diri penduduk kota dipertentangkan dengan penduduk desa. Penduduk, yah penduduk, manusia yang menghuni entah itu desa atau kota.

    Kota Buah. Kota yang penduduknya  menghasilkan buah untuk dimakan. Dari sudut filsafat, sederhana sekali memahami makna Kota Buah. Kota penghasil buah. Kita manusia ada dalam diri kita, empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kota Buah. Kita manusia ada nafsu makan. Setiap manusia ada NAFSU, termasuk nafsu makan. Makanya dia hidup. Tidak makan, mati. Mengapa di kota tidak ditanam pohon buah-buahan untuk dimakan? Di Indonesia ini, pohon buah-buahan apa pun saja dapat hidup. Sudah terpola dalam pikiran kita, kota itu bukan kebun. Buah-buahan di kebun. Kota itu tempat orang buat rumah, restoran, toko, kantor, sekolah, teater. Bangunan-bangunan ini cukup dihiasi dengan pohon pelindung yang rindang. Mengapa tidak ditanam nangka, mangga, sawo, rambutan, jeruk? Eh, jorok. Merusak pemandangan. Di sinilah letaknya persepsi yang salah. Pohon buah-buahan dianggap tidak layak untuk menghiasi kota.

    Kota Buah. Kita manusia ada NALAR. Dengan NALAR kita berpikir, mengetahui dan mengalami hal-hal yang paling berguna untuk kehidupan kita. Kota bukan hanya tempat tumbuhnya gedung-gedung ber-ac. Pohon buah-buahan pun berhak untuk tumbuh di kota. Ini perlu kecerdasan NALAR manusia di kota itu. Bayangkan, semua macam pohon buah-buahan itu menghasilkan buah-buah ranum sesuai musimnya. Apakah ini mengotorkan kota? NALAR kita harus diasah untuk memahami makna dan manfaat Kota Buah.

    Kota Buah. Kita manusia ada NALURI. Kota kalau dihiasi dengan pohon buah-buahan, setiap penghuni kota akan menjaga dan menikmati buah-buah itu secara bersama sesuai kebutuhan masing-masing. Supaya adil, setiap jengkal tanah di kota itu dibagi kepada penduduk kota untuk ditanami pohon buah-buahan. Siapa yang tanam, dia yang petik hasilnya. Ini perlu rasa tanggung-jawab yang harus ada dalam diri setiap penduduk kota. Mana pohon yang ditanam oleh petugas dari Dinas tertentu, mana yang ditanam oleh orang per orang dari keluarga sesuai pengaturan lahan umum yang dikapling oleh Ketua RT (Rukun Tetangga). Kalau di halaman rumah, itu urusan keluarga. Tapi tanah milik umum, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk ditanami pohon buah-buahan. Ini karya NALURI untuk menanam, memetik dan menikmati hasil karya dalam rasa hidup bersama.

    Kota Buah. Kita manusia ada NURANI untuk menyukuri karunia TUHAN Yang menciptakan kita manusia lalu menghuni kota dan desa. Di kota, tumbuhkan pohon buah-buahan. Salah? Tidak biasa. Siapa yang bilang tidak biasa? Itu karena kita manusia ini sudah mencabut diri dari akar kita bahwa kita ini hidup dari bertani dan beternak serta menangkap hasil laut. Kebiasaan yang baik ini diteruskan di kota, apa salahnya? Ada tambak dalam kota. Bisa. Kalau begitu bisa sekali ada tanaman pohon buah-buahan dalam kota. Kalau beternak, soal lain lagi. Itu masalah gangguan suara dan kotoran. Tapi kalau tanaman pohon buah-buahn, mengganggu? Tidak.

    Kota Buah. Mari kita semua berpikir ulang. Sesuai filsafat pembangunan, ‘Kwadran Bele’, menanam pohon buah-buahan dan menjadikan kota itu Kota Buah, tidak janggal. Tinggal kita mulai. TUHAN senang melihat insan ciptaan-Nya ramai-ramai memetik buah-buahan dalam kota yang biar bising di siang hari tapi sejuk dan indah dengan gemerlapan cahaya listrik warna-warni di malam hari. Kota Buah. Tinggal pahami dan nikmati.

  • Makankah?

    Makankah? Ini pertanyaan dari Ayah saya, Fetor Asa, pada tahun 1986. Nama baptis Ayah, Petrus, sehingga sering dipanggil Bapa Petrus Asa. Ayah, seorang tokoh masyarakat di desa Henes, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT. Pada waktu itu Ayah berusia 85 tahun.  Saya dan Isteri saya, Mama Yudith Salassa dengan tiga orang anak, Grace 9 tahun, Ina 6 tahun, Isto, bungsu, 1 tahun. Kami tinggal di kota kecil Atambua, Ibukota Kabupaten Belu di pedalaman Pulau Timor. Saya dan Isteri hidup dengan pekerjaan sebagai Guru Agama, bekerja di Keuskupan Atambua, siang mengajar Agama Katolik di Sekolah, sore dan malam hari mengajar umat biasa di kelompok-kelompok dalam kota. Kami mengajak Ayah yang sudah menduda 8 tahun untuk sesekali ke kota dan tinggal bersama kami. Ayah, seorang petani tulen, buta aksara, tidak betah tinggal dengan kami sehingga hanya seminggu atau dua minggu lalu dihantar kembali ke desa Henes dan menikmati keseharian di sana bersama sesama orang desa. Aman dan tenteram.

    Makankah? Ini pertanyaan Ayah kepada Isteri saya yang sedang sibuk mengurus bunga-bunga dalam pot-pot di sekitar rumah tinggal kami. Ayah bertanya dalam bahasa Buna’, bahasa daerah kami. Isteri saya tidak mengerti tetapi karena penasaran, bertanya kepada saya dan saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ayah memberi komentar, ‘Grace punya Mama ini, buat repot diri. Bekin kotor tangan, buat capai diri, angkut pupuk, ganti tanah, siram air. Itu bunga-bunga, ada yang batangnya berduri, tidak takut luka? Itu bunga-bunga,  makankah?”

    Makankah? Ayah berdiri di area pertanian, dunia di mana semua tanaman ditanam untuk dimakan hasilnya. Mama Yudith berdiri di area keindahan, bunga-bunga ditanam, dirawat untuk memenuhi selera keindahan.

    Makankah? Ini pertanyaan mendasar untuk urusan perut. Kita manusia ada empat unsur dalam diri setiap pribadi: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). TUHAN memberi empat unsur ini agar kita hidup dan mengupayakan hidup. NAFSU mendorong manusia untuk bertani, beternak supaya ada makanan untuk dimakan dan hidup. Ini yang dipikirkan oleh Ayah saya.  NAFSU juga mendorong manusia untuk menikmati  keindahan, kesenian. Bunga-bunga termasuk kebutuhan NAFSU untuk dipenuhi. Manusia ada upaya untuk bertani, beternak dan membuat alam sekitar indah dan segar. Itu lewat bunga-bunga yang dirawat oleh Mama Yudith. Ini karya NALAR. Dari segi kebersamaan, NALURI menyadarkan kita untuk saling melengkapi. Ayah saya sebagai petani, menghasilkan makanan, Isteri saya menyajikan keindahan tempat hunian. NURANI kita menyadarkan kita untuk hidup sambil bersyukur kepada TUHAN Pencipta diri kita manusia dan segala yang ada demi kita manusia bisa hidup dari hari ke hari.

    Makankah? Yah, makan. Itu hasil pertanian.  Bunga-bunga itu perlu? Yah, perlu untuk pandangan mata dan rasa indah. Hidup ini senang, indah. Itu disiapkan oleh TUHAN untuk kita. Nikmati hidup. Syukuri hidup.

    Sakit Lutut dan Sendi akan Hilang jika Anda Lakukan Ini Setiap Pagi
    Recommended by

    EDIT HAPUS

    Lihat Filsafat Selengkapnya
    BERI NILAI
    Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
    AKTUAL
    BERMANFAAT
    INSPIRATIF
    MENARIK
    MENGHIBUR
    UNIK
    Belum ada penilaian.
    Jadilah yang pertama untuk

     

    Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Makankah?”, Klik untuk baca:
    https://www.kompasiana.com/belanto/640189b408a8b503c561fcf2/makankah

    Kreator: Anton Bele

     

    Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

    Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

  • Kota Tani

    Kota Tani. Apakah tidak keliru? Biasanya, Kampung Tani, ada. Tapi Kota Tani? Artinya orang-orang tani punya kota? Kota yah kota, dihuni oleh orang-orang kota. Masa’ kota dihuni oleh orang-orang tani. Kontradiksi. Berdasarkan penghuni, bisa dilihat sebagai kontradiksi. Tetapi berdasarkan kehidupan, benar, kota itu tetap dihuni oleh orang-orang yang hidup dari hasil tani. Maka Kota Tani itu benar sekali. Kota di mana orang-orang yang menjadi penghuni itu hidupi diri dengan hasil pertanian, entah didatangkan dari luar kota itu atau dihasilkan di dalam kota atau di sekitar kota. Wajarlah ada nama Kota Tani.

    Kita manusia ini dikaruniai TUHAN, empat unsur, NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Di mana pun saja kita manusia ini berada, tinggal, kita tetap manusia yang ada perut untuk diisi dengan hasil tanaman yang biasa ditumbuhkan oleh orang yang disebut petani dan usahanya disebut pertanian. Kita manusia ini hidup dan dihidupi oleh tiga orang: Petani, Peternak, Nelayan. Petani hasilkan bahan makanan dari tanaman. Peternak hasilkan bahan makanan dari ternak. Nelayan hasilkan makanan dari berbagai binatang yang hidup di laut.

    Kita manusia ada NAFSU untuk bekerja dan makan supaya hidup. Maka kita pasti hidup dari tiga orang itu. Kita yang tinggal di kota pun harus jadi petani-peternak-nelayan sesuai keadaan alam di mana kota itu ada. Bisa langsung di dalam kota atau di sekitar kota. Inilah yang dimaksud dengan Kota Tani yang tanam berbagai tanaman yang menghasilkan makanan. Mulai dari sayur sampai buah-buahan seperti jeruk, nangka, mangga, pisang dan jambu. Dalam jumlah terbatas, semua tanaman dapat ditanam di dalam kota.

    Kita manusia ada NALAR untuk hasilkan dan peroleh makanan supaya perut terisi. Maka pengetahuan dan pengalaman tentang makanan mendorong kita untuk hasilkan makanan itu di dalam, di sekitar dan di luar kota. Layak setiap kota disebut Kota Tani sejauh orang-orang yang menghuni kota itu menghasilkan langsung bahan makanan sesuai daya NALAR untuk mengusahakan tanaman, ternak atau ikan di dalam kota itu. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipakai untuk tumbuhkan tanaman di dalam kota.

    Kita manusia ada NALURI untuk hidup dan menghidupi diri dan sesama. Harus dan wajar kita sendiri-sendiri atau bersama menghasilkan makanan di dalam kota. Tanam tanaman apa saja yang bisa dimakan di dalam kota, maka langsung kota itu bisa disebut Kota Tani.

    Kita manusia ada NURANI untuk hidup damai dan tenang dengan perut terisi, kenyang dengan makanan apa saja, terutama hasil tanaman. Ini sebagai hasil kesadaran akan adanya PENCIPTA, TUHAN Yang menyelenggarakan segala sesuatu termasuk tanaman demi kita manusia  untuk hidup berbakti bagi sesama dalam lindungan TUHAN.

    Kota Tani dihuni oleh orang-orang, siapa pun dia yang hidup dari hasil tani, ternak dan nelayan. Layak bahwa setiap kota disebut Kota Tani. Itulah kota yang dihuni oleh setiap orang di kota itu yang berupaya menjadikan kota tempat menumbuhkan tanaman pertanian sesuai keadaan lahan yang tersedia.

  • Bakat dan Minat

    Bakat dan Minat. Dua hal yang ada dalam diri manusia. Duanya beda. Bakat diberi langsung oleh PENCIPTA kepada setiap diri manusia. Minat disiapkan PENCIPTA di luar diri pribadi manusia untuk diambil dan dipadukan dengan bakat yang sudah ada. Bakat terberi. Minat terjadi. Bakat tumbuh. Minat tambah. Bakat sudah ada di dalam diri manusia. Bakat siap ditumbuh-kembangkan. Minat ada di luar diri manusia. Minat siap ditambah-kembangkan. Bakat tidak bisa dipertukarkan. Minat bisa digonta-ganti.

    Bakat. Dalam diri kita manusia ada empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N. Kwadran Bele, 2011). Bakat itu benih yang sudah ada dalam diri manusia dan ditumbuhkan oleh NAFSU untuk memenuhi keinginan. Dicari cara,  tempat dan waktu yang tepat oleh NALAR supaya bakat itu tumbuh. NALURI merangkai dan merangkul sesama untuk semakin berkembangnya bakat. NURANI memberi arah agar bakat itu tumbuh mekar secara baik dan benar.

    Minat. NAFSU mendorong minat untuk suka yang ini dan besok yang itu. NALAR menetapkan minat untuk tertarik pada yang ini hari ini dan besok yang sana sesuai keadaan waktu dan tempat. NALURI menyingkirkan atau menekuni minat yang satu ini dari pada yang lain itu. NURANI siap terima minat itu sejauh itu baik dan benar.

    Bakat matematika. Minat hari ini di hitung angka. Besok ditambah dengan minat untuk mengukur bentuk bangunan. Minat ini dikembangkan lagi pada mengukir patung dengan ukuran yang tepat sesuai ukuran manusia. Minat itu cabang-cabang yang dicangkokkan pada bakat. Bakat itu rupa-rupa. Minat lebih rupa-rupa lagi. Batas terbatas. Minat tidak terbatas. Bakat tidak bebas untuk dikembangkan. Minat bebas untuk dipangkas atau dicangkokkan pada bakat.

    Bakat dan minat menyatu dalam diri pribadi kita manusia sejauh itu saling melengkapi demi tujuan akhir hidup kita: bahagia. TUHAN menghendaki yang itu, bakat ditumbuhkan dan minat ditambahkan agar hidup kita mekar ibarat kembang mawar yang harum mewangi di taman dunia ini dan selanjutnya di taman abadi.

  • Dibagi Empat

    Dibagi empat. Pribadi manusia dibagi empat atas empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Pribadi manusia  yang sempurna itu kalau dihitung dalam persentase, maka NAFSU 25 % + NALAR 25 % + NALURI 25 % + NURAN I 25 %. Jumlah 100 %. Ini ditetapkan oleh TUHAN dalam diri  kita setiap manusia. Dalam  hidup ini setiap pribadi manusia harus upayakan agar empat unsur ini ditampilkan secara seimbang. Kalau salah satu unsur ditampilkan lewat batas, maka pribadi itu menjadi tidak seimbang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau NAFSU terlalu ditekankan, antara 30 sampai 40 % atau lebih, maka pribadi itu akan dikenal dengan manusia NAFSU dalam arti yang negatif. Pribadi seperti ini biasa menginginkan hal-hal yang lewat batas, sering di luar aturan. Misalnya makan berlebihan, akibatnya kegemukan. Tidur berlebihan, jadilah pemalas. Kuasa berlebihan, diktator.

    Kalau NALAR terlalu ditekankan, sampai 30 atau 40 %,  maka pribadi ini utamakan pengetahuan, ilmu, sampai tidak pusing dengan sesama, malah mudah anggap TUHAN tidak ada.

    Kalau NALURI terlalu ditekankan, maka pribadi ini cenderung sukuis, kurang menghargai orang dari suku lain atau kelompok lain. Dia selalu membedakan, orang saya dan orang lain.

    Kalau NURANI terlalu ditekankan, maka pribadi ini terlihat sok alim, tampil saleh,  anggap orang lain jahat, hanya sendirilah yang suci. Padahal tindakan benci-membenci jadi santapan harian.

    Dibagi empat. Maksudnya sederhana. Kalau bidang yang satu berlebihan ditekankan, segera disadari bahwa itu salah dan dikembalikan kepada porsinya, 25 %. Memang harus diakui, kita manusia ini selalu tergoda dan terjerumus ke dalam salah satu kesalahan, mengutamakan salah satu bidang sehingga kurang atau tidak seimbang.

    Dibagi empat. Itu berarti tidak dipisah-pisahkan, melainkan diakui dan ditampilkan dalam perilaku harian empat unsur ini secara berimbang. NAFSU diupayakan sewajarnya,  NALAR dicurahkan sejujurnya, NALURI diamalkan seikhlasnya, NURANI diresapkan sesungguhnya. Ini yang dikehendaki TUHAN, PENCIPTA kita dari setiap kita manusia ciptaan-NYA.

  • Dekat

    Dekat. Pepo, cucu saya sangat dekat dengan saya, Opa-nya. Saya sedang sibuk kirim dan terima pesan lewat wa (AhatsApp) di hp (hand-phone) saya. Pepo minta. Dengan berat hati saya kasih hp ke Pepo yang baru empat tahun, sekolah TK. Pikiran saya menerawang jauh. Kalau seandainya seorang anak tetangga atau keluarga dekat yang minta pinjam hp saya karena menganggap saya sebagai seorang Opa yang ramah, maka dengan senang hati akan saya berikan hp itu tanpa banyak pikir.

    Sekarang kembali ke Pepo. Dia paling dekat dengan saya, secara fisik dan psikis, hibur saya, sering juga ganggu saya. Tapi kalau dia jauh bersama mamanya, saya merasa kehilangan. Maunya Pepo dekat terus. Kalau pagi-pagi Pepo ke sekolah, saya kehilangan sepanjang siang. Kalau pulang, saya jadi girang, penuh gairah untuk hidup, lupa sudah lansia, umur 76 tahun. Itulah Pepo dan Opa-nya, Anton. Kami dua sangat, sangat dekat.

    Dekat. Lawannya, jauh.

    NAFSU dikenal dan mengenal begitu menggebu-gebu sehingga sering kita lupa waktu. Main hp berjam-jam. Orang-orang dekat diabaikan. Kontak dengan orang-orang jauh di benua lain diutamakan.

    NALAR begitu cerah membayangkan kota Roma, kota Amsterdam yang pernah saya kunjungi semasa masih muda. Lupa dan abai untuk duduk berdekatan dengan Isteri, Anak – Cucu. Merasa harus dan hebat kontak dengan orang-orang di Jakarta dan Makassar.

    NALURI ada bersama itu menjadi lain, sayang yang jauh, asing dengan yang dekat. Aneh, cari popularitas dari orang jauh sementara orang dekat tidak digubris.

    NURANI sering ditipu dengan sembahyang agungkan TUHAN, sementara diri tidak ambil pusing dengan Isteri yang sedang pusing pikir uang untuk beli beras. Inilah galau dalam hidup.

    Empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ada untuk membuat diri kita sadar, yang dekat yah dekat, yang jauh yah jauh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Dekat. Memperhatikan yang jauh tidak boleh digeser dengan mengabaikan yang dekat. Harus seimbang. Yang dekat tetap disayangi sambil tidak melupakan yang jauh. Jangan kita girang di jauh dan garang di dekat. Saya tidak kenyang dengan pizza di Milano dan buang jagung di Kupang. Jagung itu dekat. Pizza itu jauh. Dua-duanya ada. Hidup dengan yang dekat bukan dengan yang jauh.

    Dekat yah dekat. Jauh yah jauh. Ternyata, TUHAN, PENCIPTA kita  itu dekat, malah satu dengan diri saya, anda, dia, kita. Dekap DIA, dalam doa dan ibadah. DIA balik mendekap kita. Saya, anda, dia, kita saling mendekap, karena kita itu dekat, malah satu.

  • Jempol

    Jempol. Ibu jari itu disebut jempol. Banyak dari kita mengerti, acungkan jempol artinya memuji seseorang karena berbuat sesuatu yang luar biasa baik, benar dan bagus. Acungkan jempol itu gampang sekali. Hanya jarang dibuat. Sering kita kikir acungkan jempol. Hanya isyarat sedetik saja dirasa sulit. Padahal pengaruhnya dahsyat. Orang yang mengacungkan dan yang diacungkan jempol sama-sama terangkat dari lantai. Sentuh loteng. Bisa juga ubun-ubun sodoklangit. Mengapa tidak sesering mungkin angkat jempol satu sama lain?

    Kita manusia ini ada empat unsur diberi TUHAN dalam diri kita: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Berdasarkan pendapat sederhana ini, saya tinjau banyak hal dalam diri kita manusia.

    NAFSU kita itu ingin pujian, acungan jempol. Kalau itu wajar, mengapa tidak? Cari acungan jempol dan pada saatnya, beri acungan jempol. Apa sulitnya?

    NALAR kita itu langsung analisis, apakah acungan jempol untuk saya ini wajar atau tidak. Sebaliknya, kita yang acungkan jempol, tepat atau tidak acungkan jempol untuk seseorang. Kalau itu wajar dan tepat pada tempatnya, mengapa harus pikir panjang untuk acungkan jempol kepada sesama yang patut mendapat acungan jempol?

    NALURI kita merasa sangat puas dan bangga kalau diacungkan jempol. Karena itulah jangan kikir untuk acungkan jempol untuk orang lain. Kalau ingin diacungkan jempol, harus rajin acungkan jempol untuk orang lain.

    NURANI kita menjadi damai, bening, tenang dan bahagia kalau lihat sesama acungkan jempol untuk diri kita pada waktu yang tepat dan pada saat yang tampan. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia yang hasilnya membuat diri kita melayang seperti malaikat biar tanpa sayap.

    Jempol itu anggota tubuh yang sudah menjadi kebiasaan untuk diacungkan sebagai tanda pujian, penghargaan kepada sesama.

    TUHAN Yang melihat Ciptaan-Nya, kita manusia ini saling mengacungkan jempol, pasti senang dan setiap acungan jempol itu diberkati TUHAN. Itu maknanya ganda, rahmat untuk  diri yang mengacungkan jempol dan  untuk yang diacungkan jempol. Yang namanya cinta-kasih itu salah satu wujudnya adalah acungan jempol yang tulus ini.

  • Kagum

    Kagum. Kagumi, mengagumkan, terkagum-kagum. Ada hal, barang atau pribadi yang baik, hebat, membuat seseorang kagum. Menghargai, memuji, meneladani orang yang dikagumi. Inilah tindakan yang baik, benar dan bagus. Mengagumi sesama. Hidup ini menjadi lebih ringan, penuh makna karena rentetan kagum ke kagum. Akan tiba pada kagum abadi, yaitu: TUHAN, Pencipta kita itu Yang dirindukan untuk ditemui dan ditatap dari muka ke muka. Hidup ini ke sana dan itu jangan dipertanyakan atau dipersoalkan lagi. Dari kagum sementara ke kagum abadi.

    NAFSU kita mendorong untuk melihat, menikmati hal yang baik, benar dan bagus. Lalu kagum bahwa keinginan  itu terpenuhi. NALAR kita menghendaki sesuatu yang baru dan berguna. Setiap pengamatan, penelitian, kajian yang menghasilkan pengetahuan dan pengalaman baru itu adalah hasil karya NALAR yang selalu membuat kita kagum, terkagum-kagum. NALURI kita senantiasa merindukan pertemuan dan pergaulan dengan orang yang kita kagumi. NURANI kita merasa puas, tenang dan bahagia sesudah bertemu dan bercengkerama dengan pribadi yang dikagumi. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang ditempatkan dalam diri setiap pribadi oleh SANG PENCIPTA, TUHAN. ( 4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kagum. Heran bahwa kita mudah sekali kagum dengan prestasi atau kehebatan orang lain sedangkan prestasi orang yang paling dekat dengan kita sering kurang atau hampir tidak dikagumi. Kagumi yang jauh, kesali yang dekat. Ini ulah yang sering terjadi. Suami sering kesal dan kesal terus-menerus dengan isteri. Padahal begitu banyak jasa dari sang isteri yang harus dikagumi. Sering pula isteri kagumi orang-orang nun jauh di benua sana. Sedang suami sendiri dicomeli terus-menerus dan tidak dikagumi sedikit pun. Anak-anak kagumi guru, kagumi tokoh sejarah, tokoh agama. Sedangkan tokoh yang paling dekat, bapa dan mama, adik-kakak,  jarang atau tidak dikagumi. Mengapa hal ini terjadi? Kagumi orang maka diri akan dikagumi.

    Kagum. Saling mengagumi antara sesama, adalah langkah dan harta terindah yang ada di depan kita malah di dalam diri kita. Harta terindah dalam hidup ini ialah kagum itu. Kagum lihat alam sekitar. Kagum atas kehadiran sesama, terutama sesama yang terdekat. Lalu kagum dengan kedekatan itu setiap saat. Kagum dan kagum. Berat? Tidak. Yah, kagumi alam, kagumi sesama. Ini langsung terarah ke kagumi PENCIPTA. Hasilnya? Bahagia.

  • Cuci Otak

    Cuci otak. Ungkapan ini cukup mengerikan. Sering dikaitkan dengan aksi teror, orang ditangkap dan dijadikan alat untuk tujuan jahat.  Hal-hal jahat dipaksakan masuk ke otak orang menggantikan hal-hal baik. Cuci otak. Otak yang ada  dipakai untuk merusak otak yang lain.

    Cuci otak. Ungkapan ini jarang dipakai dalam arti yang baik. Selalu dikaitkan dengan upaya jahat untuk menyebarkan kejahatan. Cuci otak ringan yaitu upaya terencana lewat pendidikan mulai dari anak-anak sampai ke orang dewasa untuk memahami hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Malah sampai ke hal-hal yang paling mengerikan, yaitu: menyangkali adanya TUHAN. Inilah ulah manusia cuci otak sesama bukan untuk tujuan pembersihan tetapi pengotoran sampai pengaburan dan penggelapan yang membuat seseorang atau sekelompok orang takabur, salah memakai otak ke arah pembinasaan sesama oleh sesama.

    Cuci otak. Ada dua pihak. Yang menyuci dan yang dicuci. Yang menyuci memakai otaknya untuk merusak otak orang lain. Yang dicuci menyerahkan otaknya untuk dicuci demi tujuan yang jahat. Dua pihak berada pada posisi yang salah, malah jahat karena akibat dari cuci otak seperti ini, sudah ada dalam sejarah umat manusia, betapa banyak malapetaka yang muncul karena hal yang sangat sederhana ini, cuci otak.

    Cuci otak berawal dari NAFSU manusia untuk bersorak di atas derita dan petaka sesama. NALAR manusia mencari segala upaya mencuci otak manusia sekian rupa agar dapat menemukan dan menggunakan segala macam  cara dan alat untuk mencelakakan sesama. NALURI manusia yang seharusnya tertuju kepada kebaikan diri dan sesama, diputar-balikkan lewat cuci otak untuk menghalalkan tindakan merusak dan mematikan diri dan sesama itu baik dan luhur. NURANI manusia dibutakan lewat cuci otak untuk melihat yang gelap itu terang dan yang hitam itu putih. Dunia kasih dijungkir-balikkan menjadi dunia iri dan dengki. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Cuci otak model begini harap tidak terjadi lagi di belahan bumi ini di mana pun dan kapan pun. TUHAN Pencipta diri kita manusia yang dilengkapi dengan bahagian tubuh yang kita kenal dengan istilah otak, tidak tega melihat otak hasil karya-Nya diutak-atik dengan tindakan cuci-mencuci sampai hilang tujuannya, mewujudkan Damai dan Kasih.

  • Otak Encer

    Otak encer.  Pintar. Encer, cair, mengalir. Senang kalau anak otak encer. Encer atau tidak, penilaian manusia. Setiap manusia itu punya otak encer. Encer artinya mampu mencari dan mendapat jalan untuk kelangsungan hidup. Orang yang dilihat sebagai orang gila pun otaknya encer. Dia bisa hidup dan tetap hidup karena otaknya encer. Otak encer itu ada tingkat-tingkatnya. Tapi yang namanya otak, setiap pribadi manusia itu otaknya encer. Ini dipahami berdasarkan Pencipta manusia, TUHAN. Tidak mungkin manusia diciptakan dengan otak tidak encer dan hidup kesasar di dunia ini.

    Dalam diri manusia ada NAFSU untuk memperoleh segala kemungkinan supaya hidup penuh semarak dari saat ke saat. Ini membutuhkan otak yang encer. Hanya otak encer yang mengatur NALAR untuk belajar dari pengalaman dan memperoleh pengetahuan baru supaya hidup semakin hari semakin mekar ibarat kembang di padang subur. Manusia ada NALURI untuk kenal-mengenal antara satu sama lain supaya sama-sama hidup dan sama-sama ceria. Ini hanya mungkin kalau otak itu encer. Hasil dari otak encer itulah manusia mengalami ketenteraman dalam NURANI. Empat unsur dalam diri manusia ini, NAFSU yang mendorong, NALAR yang mencerahkan,  NALURI yang menggembirakan, membuat manusia mengalami kedamaian dalam NURANI sebagai tujuan hidup dari hari ke hari. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Otak encer itu hadiah langsung dari Pencipta. Tiap orang otaknya encer. Encer semakin encer melalui pendidikan dan pelatihan sesuai bakat dan minat tiap orang. Pengembangan otak untuk semakin encer adalah kewajiban dari setiap orang dan itu menjadi hak yang tidak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun. Hidup kita manusia ini entah dalam keluarga atau masyarakat luas menjadi indah dan penuh keceriaan karena otak-otak encer menyumbangkan serpihan keindahan pada setiap sisi hidup di dunia ini.

    Menghambat encernya otak atau menyalah-arahkan hasil encernya otak adalah ulah salah dari manusia yang salah olah aliran encernya otak. Pencipta kita, TUHAN, senang dan puas karena tujuan Ciptaan-Nya tercapai lewat pengembangan dan pemanfaatan otak yang encer oleh setiap manusia selama diberi kesempatan untuk menata diri dan alam sekitar lewat kegiatan otak-otak yang encer.