Year: 2023

  • Kaul Kemiskinan

    Kaul Kemiskinan. Janji untuk hidup miskin. Aneh. Umumnya orang cari kekayaan. Ada yang janji untuk miskin. Dalam Gereja Katolik ada tradisi bahwa kaul kemiskinan itu dipadukan dengan dua kaul yang lain, kemurnian dan ketaatan. Tiga kaul. Orang-orang yang berkaul itu disebut biarawan atau biarawati. Kehidupan mereka disebut hidup membiara yang terikat erat dengan sesama lain yang berkaul. Mereka ada ratusan ribu di dunia sekarang ini, laki-laki dan perempuan. Mereka hidup dalam kebersamaan, penghasilan mereka dikumpulkan untuk kepentingan bersama. Tidak ada harta pribadi. Ini yang disebut kemiskinan demi kehidupan bersama.

    Kaul kemiskinan. Dari segi akal sehat, kaul atau janji yang satu ini bisa dianalisa dengan teori ‘4N, Kwadran Bele, 2011.

    Kita manusia ini diberi anugerah oleh TUHAN,  empat unsur, disingkat ‘4N’: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Ini dilukiskan dalam satu segi empat dibagi empat maka disebut ‘Kwadran’ dan dikaitkan dengan yang merumuskan, Anton Bele, maka disebut ‘Kwadran Bele’ dirumuskan pada tahun 2011 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, sehingga sebagai pertanggungan-jawaban ilmiah, selalu ditulis, ‘4N, Kwadran Bele, 2011’.

    Kaul kemiskinan. NAFSU untuk kaya, itu biasa. NAFSU untuk miskin? Ini di luar dari biasa. Tapi miskin dalam arti melepaskan diri dari ikatan pada harta demi tujuan yang lebih luhur, berbagi dengan sesama untuk bekerja bersama mewartakan dan memberi kesaksian tentang Sabda TUHAN untuk hidup saling mengasihi, mengapa tidak? Tujuan yang luhur inilah menjadi dasar untuk hidup miskin, mengalihkan NAFSU cari harta menjadi NAFSU mengabdikan harta perolehan pribadi dalam kebersamaan.

    Kaul kemiskinan. NALAR untuk berupaya memperoleh uang, menghimpun modal kerja, wajar. Sejauh harta yang diperoleh itu atas cara yang wajar dan jujur. Berdasarkan pertimbangan NALAR dari orang yang berkaul, hidup miskin dalam arti menyerahkan harta yang diperoleh diabdikan untuk kepentingan yang lebih luas dan luhur, maka kaul ini menjadi sangat bernilai tinggi dan abadi.

    Kaul kemiskinan. NALURI untuk hidup kaya, biasa. Tapi NALURI diarahkan untuk membagi harta yang diperoleh bagi orang lain dalam rasa persaudaraan menimbulkan rasa puas yang luar biasa. Ini yang lebih berkenan pada TUHAN Pemberi NALURI itu.

    Kaul kemiskinan. NURANI untuk hidup tenang, damai dan bahagia itu ditempatkan TUHAN dalam diri manusia untuk sadar bahwa hidup terikat pada tempat dan waktu di dunia ini merupakan jembatan ke hidup yang kekal, penuh kedamaian dan kebahagiaan. Demi hidup yang abadi tanpa terikat lagi pada waktu dan tempat, seseorang mengikrarkan kaul untuk hidup miskin, harus dimengerti sebagai panggilan dan pilihan dari TUHAN sendiri.

    Kaul kemiskinan. Kaul yang satu ini salah satu segi dari segi tiga, kemurnian –  ketaatan – kemiskinan. Benar apa yang sampai sekarang dianggap sebagai satu kebenaran umum, hidup di dunia ini sementara, mati tidak bawa apa-apa. Kalimat ini sederhana, tapi benar karena kita alami setiap hari. TUHAN Sang Pemilik diri kita, berkenan dengan hidup miskin demi tujuan yang lebih luhur, lepas dari harta dan lekat pada TUHAN.

  • Kaul Ketaatan

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat. Dalam tradisi Gereja Katolik, ada orang-orang tertentu, laki-laki dan perempuan mengikrarkan kaul entah sementara atau untuk seumur hidup, kaul atau janji untuk tiga hal: kesucian, ketaatan dan kemiskinan. Mereka ini tergabung dalam kelompok yang disebut biarawan atau biarawati. Kelompok ini hidup tidak kawin seumur hidup. Tujuannya satu. Abdikan diri semata-mata untuk urusan rohani.

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat kepada atasan dalam komunitas yang ia pilih. Sesuai bakat yang dimiliki, seseorang yang berkaul itu hidup mengabdikan bakat dan kemampuannya untuk kehidupan rohani diri dan sesama di mana dia ditugaskan. Ke mana pun saja diutus, ia taat untuk pergi. Inilah yang disebut kaul ketaatan. Dalam dinas ketentaraan, kelompok orang berkaul ini ibarat pasukan gerak cepat yang siap sedia sewaktu-waktu taat pada perintah atasan untuk laksanakan tugas yang diberikan.

    Kaul ketaatan. Janji itu diucapkan di hadapan pembesar serikat dan pembesar Gereja dengan alasan dasar, laksanakan panggilan dan kehendak TUHAN. Inilah dasar paling mendasar sehingga orang itu merasa terpanggil oleh TUHAN sendiri untuk melaksanakan tugas-tugas melayani sesama dalam mengejar kebahagiaan. Ini satu bentuk pola hidup yang dipilih dan seumur hidup menempatkan diri di bawah perintah atasan.

    Kaul ketaatan. Janji untuk taat ini kalau ditinjau dari sudut pandang filsafat kepribadian, ‘Kwadran Bele’, bisa dipilah atas dasar empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Empat unsur ini diberikan oleh TUHAN kepada setiap pribadi manusia. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pribadi yang berkaul ketaatan, biarawan atau biarawati, tetap ada NAFSU dalam arti positif. NAFSU berupa dorongan untuk hidup dalam bentuk dorongan untuk makan-minum, mencari kesenangan, mengejar nama besar dan menjaga nama baik. NAFSU ini diperjuangkan dan dihayati dalam ketaatan kepada pertimbangan dan keputusan atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NALAR dalam dirinya. Semua daya NALAR dikerahkan secara baik dan benar untuk kepentingan sesama dalam ketaatan pada perintah atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NALURI dalam dirinya untuk bergaul dengan sesama, baik dalam biara maupun di luar biara. Dorongan Naluri ini diatur sesuai dengan pertimbangan dan keputusan atasan.

    Pribadi yang berkaul ketaatan ada NURANI dalam dirinya untuk menyadari adanya TUHAN Pengasih dan Penyayang Yang selenggarakan hidup diri pribadi orang itu  dan sesama. Taat dalam mengikuti keputusan atasan dalam biara berdasarkan pertimbangan NURANI merupakan pelaksanaan kaul ketaatan.

    Kalau dorongan dari empat unsur dalam diri pribadi orang yang berkaul itu dilaksanakan dengan penuh kesadaran akan makna tujuan mulia, melaksanakan kehendak TUHAN dalam melaksanakan perintah atasan, maka kaul ketaatan yang diikrarkan itu membuahkan kesenangan, hasil NAFSU, kegembiraan hasil NALAR, kepuasan hasil NALURI dan kebahagiaan hasil NURANI.

    Perpaduan empat unsur dalam diri manusia inilah yang disebut keseimbangan, kematangan, kedewasaan dan tanggung-jawab. Taat demi TUHAN

  • Tentu

    Tentu. Penentu.  Penentuan.  Ketentuan. Sudah tentu. Belum tentu. Hidup ini penuh dengan belum tentu. Kalau hidup ini penuh dengan sudah tentu, maka hilanglah gairah untuk hidup. NAFSU ditempatkan dalam diri kita manusia oleh PENCIPTA untuk mengejar dan mencapai tentu yang belum tentu. NALAR adalah unsur dalam diri kita yang bergelut dengan segala yang belum tentu untuk menjadi tentu. NALURI itu dorongan untuk mewujudkan bersama sesama agar yang belum tentu itu menjadi tentu.  NURANI jadi penentu yang belum tentu itu menjadi tentu dan hasilnya tentu tenang dan damai. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tentu. Tentu itu adalah saat sekarang ini. Yang lalu itu sudah tentu. Yang akan datang itu belum tentu. Sekarang inilah yang tentu itu menjadi tentu sebagai kesinambungan dari yang sudah tentu menyongsong yang belum tentu. Inilah dinamika hidup. Timbul pertanyaan, siapa penentu itu. Apa isi ketentuan itu. Tentu jawabannya sudah tentu, bukan diri kita ini, tetapi, Penentu yang tidak ditentukan lagi dan yang menentukan ketentuan yang sudah tentu. Itulah TUHAN, SANG PENENTU. Kita hidup dari tentu ke tentu ini mengisi ketentuan dari SANG PENENTU.

    Tentu. Hidup kita menjadi sulit, kabur dan terombang-ambing kalau kita berada di luar dari ketentuan dari SANG PENENTU. Setiap kita boleh menentukan apa saja. Dan itu pasti belum tentu dan tidak tentu.  Untuk menentukan apa yang akan terjadi haruslah kita selaraskan dengan ketentuan dari SANG PENENTU.  Di luar itu tentu terjadi hal yang tentu kita semua tidak harapkan, malapetaka.

    Tentu. Sudah jelas bahwa kita tentu senang karena keinginan NAFSU terpenuhi. Kegalauan NALAR terurai, gembira.  Kerinduan NALURI tercapai, puas.  Harapan NURANI terpenuhi, bahagia. Empat keadaan ini: Senang + Gembira + Puas + Bahagia menjadi satu kesatuan yang tentu membuat kita hidup penuh gairah. Ini ketentuan dari SANG PENENTU Yang menentukan setiap kita Senang + Gembira + Puas + Bahagia abadi dalam keabadian hidup yang sudah ditentukan sejak kita ada dan berada dalam ketentuan SANG PENENTU, TUHAN.

  • Jual Obat

    Jual obat. Tukang jual obat. Ungkapan ini ejekan. Senang kalau obat laku. Heran bahwa ada orang yang mau beli. Hidup ini jual obat.  Tipu. Baku tipu sana baku tipu sini. Tertipu itu barang biasa. Orang lain tertipu sendiri juga tertipu. Hasil jual obat. Obat yang dijual, khasiatnya sedikit, bungkusnya yang hebat. Pembeli tertarik dengan kemasannya bukan isinya. Tidak perduli dengan isinya. Hiburan sesaat. Tawaran menggiurkan. Terbuai belaian bujuk rayu. Hanyut. Itulah hidup. Kajian filsafat tentang jual obat ini, mudah. Pakai ‘Kwadran Bele’, 4N.

    Jual obat. Ini dorongan NAFSU untuk didengar dan mendengar. Pihak penjual obat, ingin didengar. Tambah bumbu di sana-sini supaya mengelabui pendengar. Pihak pembeli obat, ingin mendengar. Biar sadar bahwa ini lebih banyak bohongnya dari pada benarnya. Ada pertimbangan NALAR. Penjual pilih kata-kata yang tepat untuk mempengaruhi pembeli. Pembeli saring yang didengar. Akhirnya timbang sana timbang sini, dan putuskan, beli. Obat laku. NALURI bekerja keras. Penjual mulut berbusa-busa suarakan kata-kata bertuah, pembeli terkagum-kagum percaya gaung tong kosong. Saling menyapa dan terjadi transaksi, jual-beli bertamengkan bohongan saling menolong. NURANI dua belah pihak tercenung merenung resap udara damai sejahtera padahal hampa. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jual obat. Sering dari mimbar-mimbar kudus pun terdengar jual obat. Sendiri tidak menghayati, suruh orang mendengar dan laksanakan. Dari panggung-panggung politik, apa lagi. Jual obat paling hebat. Laku keras. Meja-meja pertemuan ditata. Rapat. Perdamaian. Padahal hanya di mulut dan di kertas. Ini bukti nyata hidup jual obat. Obat yang sedianya menyembuhkan, malah mematikan.

    Jual obat. Sejak adanya manusia sampai sekarang, saya, anda, dia, kita, sibuk jual obat. Kadang-kadang laku, lebih sering tidak laku. Dunia ini kacau-balau karena kita semua terlalu banyak jual-beli obat.

    TUHAN tetap dengar dan lihat dan terus tegur,  kadang-kadang jewer kita untuk kurangi jual obat.

     

     

     

  • Hening dan Bening

    Hening dan bening. Dua kata yang erat berkaitan satu sama lain. Hening ya bening. Bening ya hening. Kita manusia ini mau yang itu: hening dan bening. Kalau ada suasana bising, lari, cari hening. Kalau buram, kusam, gosok supaya bening. Hening dan bening menjadi prasyarat untuk terjadinya suasana teduh, tenang, aman dan damai.

    Kita ada NAFSU untuk senantiasa cari suasana hening. Kita ada NALAR untuk atur supaya keadaan bening dan tembus pandang. Kita ada NALURI untuk ajak sesama supaya sekitar itu tetap hening dan bening, tidak kacau-balau. Kita ada  NURANI yang tampung rasa teduh dalam situasi yang hening dan bening. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hening dan bening. Saya, anda, dia, kita, sering sendiri ciptakan suasana gaduh. Pikiran kacau, suara parau, gurau hilang dan hati galau. Ini semua karena hilang itu yang hening dan lenyap yang namanya bening. Kita manusia ini hanya bisa hidup dalam suasana yang hening dan dalam alam yang bening. Rusuh dan keruh itu menghancurkan diri kita. Resah, risau, kisruh adalah bahagian dari yang namanya rusak yang merusak hidup kita. Itu ulah kita manusia sendiri. Tidak boleh hal ini terjadi.

    Hening dan bening. Itu dari TUHAN, Pencipta kita. Setiap kita harus upayakan suasana yang hening. Peredaran darah kita jadi lancar dalam tubuh yang hening. Syaraf otak jadi lentur dalam alam yang hening itu. Tidak kusut. Pikiran kita kusut karena kita sendiri yang membuat suasana di dalam diri dan sekitar kita keruh dan kisruh. Gerak hidup kita harus mengikuti irama yang teratur, bangun pada waktunya, bekerja dan beristirahat secara teratur. Makan dan minum secukupnya sesuai kebutuhan, menyapa sesama secara santun. Beribadah sesuai ajaran dan tradisi agama yang kita anut. Ini semua menjadi sumber suasana yang hening dan bening.

    Hening dan bening. Suasana hidup jadi aman dan damai kalau diri hening dan bathin bening. Kegaduhan dihindari, kerusuhan dicegah. Tiap manusia adalah sesama yang sama-sama mengupayakan suasana hidup yang hening dan bening. TUHAN menghendaki adanya suasana yang hening dan bening. Hidup sesudah hidup di dunia ini suasananya hening abadi dan bening abadi. Ke sana kita menuju.

     

     

     

  • Warta-berita

    Warta-berita. Ada warta. Ada berita. Begitu banyak warta, begitu banyak berita sehingga digabung menjadi warta-berita. Warta-berita itu rupa-rupa. Ada gembira, ada duka. Ada benar, ada salah. Ada jujur, ada bohong. Ada lambat, ada cepat. Dengan adanya teknologi baru, manusia dapat menyebar warta-berita begitu cepat sehingga warta-berita dari sudut Afrika dapat diterima dalam sekejap oleh saya di Kupang, sudut Indonesia.

    Kalau dipakai perhitungan saat ini, sekitar delapan milyar manusia menghuni bumi dan sekitar tujuh milyar yang sudah mampu menyebar warta berita, maka dalam sekejap tujuh milyar warta-berita tersebar, belum lagi satu menit, satu hari, satu minggu bahkan satu tahun, maka triliunan warta-berita berseliweran di seantero bumi antara umat manusia.

    Warta-berita. Kita manusia hidup di dalam arus dan gelombang warta-berita. Kita sendiri yang wartakan, beritakan, sebarkan warta-berita. Kita manusia suka dengar, suka serukan, suka kirim dan suka terima warta-berita. Ini karena apa? Karena dalam diri kita manusia ada empat unsur ini: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    NAFSU menggebu-gebu untuk segera menyebarkan warta-berita kepada sesama. Yang mengirim dan yang menerima sama-sama senang atau susah saat terima warta-berita itu. Ini adalah dorongan NAFSU dalam diri kita. NALAR kita siap olah warta-berita  untuk disebarkan dan siap pula mencerna isi warta-berita yang dikirim atau diterima. NALURI kita tenang sesudah menyebarkan warta-berita dan merasa puas kalau warta-berita sudah tersebar dan ditanggapi. NURANI kita tenang dan damai sewaktu  warta-berita yang dikirim menenangkan sesama atau sebaliknya warta-berita yang diterima membawa kesejukan dan ketenteraman.

    Warta-berita. Aneh kalau ada di antara kita yang suka karang-karang warta-berita yang simpang siur penuh kebohongan, bermuatan iri dan dengki. Tidaklah heran kalau kita yang hidup sekarang sering dibuat cemas dan bingung karena warta-berita yang disebarkan sarat dengan muatan penuh tipu muslihat, saling menjebak dan saling menjatuhkan. Akibatnya kegaduhan yang terjadi dan bukan keteduhan. Kapan penyelewengan arah dan tujuan warta-berita ini berakhir?

    Warta-berita. Tujuan warta-berita hanya satu. Damai. Yang damai semakin damai. Karena, kita manusia diciptakan oleh TUHAN dalam damai, hidup damai menuju damai abadi dalam kebersamaan dengan DIA, TUHAN, SANG-DAMAI.

     

  • Sebarkan Kebaikan

    Sebarkan kebaikan. Ini kewajiban setiap orang. Mulai di dalam keluarga sampai ke masyarakat luas, tiap orang mempunyai kewajiban untuk sebarkan kebaikan.

    Di era digital ini kewajiban sebarkan kebaikan sangat mudah. Kebaikan itu muncul dari empat sumber: pikiran, perkataan, perbuatan dan pekerjaan. Pikiran baik mendorong diri kita berkata baik, berbuat baik, bekerja baik.

    Keempat sumber kebaikan ini menampilkan diri kita sebagai seorang baik. Inilah kebaikan. Dan ini yang harus disebarkan setiap saat dengan sadar, tahu dan mau. Manusia baik sebarkan yang baik.

    Sebarkan kebaikan. Masyarakat manusia jadi baik karena kebaikan disebarkan oleh setiap orang yang baik.

    Anak kecil pun pasti baik kalau selalu dapat kebaikan yang disebarkan oleh orang tua dan masyarakat sekitar. Mulai dari usia kanak-kanak setiap orang diharuskan sebarkan kebaikan.

    Diri harus baik untuk sebarkan kebaikan dan membuat diri orang lain jadi orang baik. Dari sudut filsafat, sebarkan kebaikan ini mudah dipikirkan, dipahami dan dilaksanakan.

    Sebarkan kebaikan. Manusia terdiri dari empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. NAFSU kita membuat diri kita  inginkan segala hal yang baik. Senang kalau hal yang baik itu diperoleh dan dinikmati.

    NALAR kita selalu terarah kepada hal yang baik. Mengetahui yang baik dan mengalami yang baik adalah karya NALAR kita. NALURI kita mendorong diri kita untuk mencari dan hidup bersama orang baik.

    Warga Nusa Tenggara Timur Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    Recommended by
    NURANI kita merindukan hadirnya orang baik dan berbuat baik untuk diri kita dan hasilnya ada ketenangan, kebahagiaan. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita yang menyebabkan diri kita jadi orang baik dan siap sebarkan kebaikan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sebarkan kebaikan. Segala upaya dan sarana yang ada di dunia ini tersedia untuk penyebaran kebaikan. Teknologi informasi dalam berbagai bentuk paling mutakhir pun sebenarnya tersedia dan siap digunakan untuk sebarkan kebaikan. Sebarkan keburukan, kejahatan, tidak boleh terjadi di antara kita manusia.

    TUHAN, Pencipta kita, adalah Sumber Kebaikan dan menciptakan diri kita manusia baik adanya untuk tetap baik sampai bersatu dengan DIRI-NYA YANG Maha Baik. Kita harus hidup baik untuk sebarkan kebaikan. Ini tugas kita selama kita hidup di dunia ini.

     

     

  • Santun Beragama

    Santun beragama. Ada orang yang memakai istilah ‘Moderasi Beragama’. Istilah asing, ‘moderasi’. Ini dari bahasa Latin ‘moderari’ artinya: mengatur, menata. Dari kata ‘moderari’ ini lahir kata lain, ‘moderator’, orang yang mengatur, ‘modus’ keteraturan. Kalau istilah ‘moderasi beragama’, untuk mudahnya dikatakan saja, ‘santun beragama’. Kalau dipakai ungkapan ‘santun beragama’, maka empat hal muncul dari sudut filsafat kepribadian manusia. (‘4N, Kwadran Bele, 2011.)

    Kita manusia ini diberi Pencipta kita empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Santun beragama adalah pemunculan ‘4N’ ini dalam hidup beragama.

    NAFSU beragama tampak dalam hal-hal bendawi seperti mendirikan rumah-rumah ibadat, beribadat, busana ibadat, tempat ibadat, waktu beribadat, doa dan lagu ibadat.

    Semua ini dipenuhi oleh manusia karena ada dorongan untuk senang dengan tempat, suasana dan cara beragama. Dalam hal ini perlu kesantunan, yaitu tidak menggembar-gemborkan agama sendiri sambil menghina orang yang berlainan agama.

    Inilah yang namanya santun beragama sesuai NAFSU yang teratur, terukur dan tersalur secara wajar baik di antara sesama yang beragama sama maupun di antara sesama yang berlainan agama.

    NALAR beragama terwujud dalam beragama sesuai daya pikir dan pengalaman yang diwariskan dalam ajaran dan tradisi agama yang dianut.

    Berpikir sesuai agama yang dianut, bertindak sesuai tradisi yang diwariskan secara santun, dalam arti diri gembira dan orang lain pun gembira mendapat pengetahuan serta pengalaman tentang agama sendiri dan agama sesama. Terima ajaran dan tradisi  itu secara santun.

    NALURI beragama adalah dorongan untuk tiap orang bersama orang lain untuk melaksanakan kewajiban agama sendiri dan menghargai orang lain yang berbeda agama. Malah di mana perlu, membantu sesama dari agama lain untuk dia atau mereka beragama dengan tenteram. Hasil yang dicapai adalah puas, rasa puas dalam beragama.

    Warga Nusa Tenggara Timur Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    Recommended by
    NURANI beragama muncul dalam keteduhan bathin yang dialami pada saat menjalankan kewajiban agama sendiri atau saat menyaksikan orang lain menjalankan kewajiban agamanya. Kedamaian, ketenangan, suka-cita, kebahagiaan yang dirasakan dalam hati adalah hasil pelaksanaan kewajiban beragama yang merupakan buah dari sikap santun beragama.

    Santun beragama itu hasinya: Senang + Gembira + Puas + Bahagia. Senang karena dorongan NAFSU beragama terpenuhi secara santun. Gembira karena pencaharian NALAR beragama tercapai secara santun. Puas karena  kerinduan NALURI beragama terjadi dalam kebersamaan dengan sesama. Bahagia karena hasrat NURANI beragama tercipta dalam diri yang terpancar secara santun dalam keteduhan dan kesakralan praktek keagamaan.

    Santun beragama itu wajib hukumnya karena TUHAN Pencipta kita yang kita puja-puji dalam agama mana pun di mana pun kapan pun, menghendaki setiap kita manusia untuk beragama secara santun supaya senang, gembira, puas dan bahagia di dunia yang kelihatan ini maupun di dunia yang tidak kelihatan nanti. Santun beragama itu tidak sukar. Harus beragama dengan santun.

     

     

     

     

  • Turut Serta

    Turut serta. Ini bisa ada dua kemungkinan. Turut serta dalam hal yang baik, atau turut serta dalam hal yang kurang baik. Kita manusia ini ada dalam diri kita empat unsur itu: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Artikel ini muncul dalam situasi konkrit yang sedang saya alami saat ini.

    Turut serta. Ada kawan akrab saya yang sudah banyak berbuat baik bagi diri saya, sedang mengalami masalah. Entah benar atau tidak, saya cuma mengikutinya lewat media sosial. Begitu banyak komentar miring tentang kawan saya ini yang terhitung orang terpandang dalam masyarakat. Komentar positif sedikit sekali. Itu pun kalau muncul, langsung ditanggapi dengan nada sangat sinis, dicap penjilat, pengekor, kelompok komplotan jahat. Begitu banyak orang turut serta dalam hujatan terhadap kawan saya ini.

    Turut serta. Waktu artikel ini saya tulis, saya turut serta dalam kelompok kecil yang membela kawan saya yang sedang terpojok ini. Saya tidak turut serta memojokkan. Kalau hukum orang Yahudi dahulu pada abad-abad sebelum dan sesudah Masehi, tercatat, orang yang bersalah berat dihukum rajam dengan batu di pintu gerbang kota sampai orang itu mati tertimbun bebatuan yang terlontar dari semua warga kota. Kawan saya sedang dirajam. Saya tidak turut serta merajam. Karena tidak sampai hati.

    Turut serta. Tiap kita manusia ini, saya, anda, dia, kita, sama-sama turut serta merajam atau tidak merajam sesama dalam kasus apa saja. Saya turut serta dalam orang-orang yang tidak merajam teman saya. Di pihak lain, banyak orang yang turut serta merajam teman saya. Yang netral, tidak ada. Kalau ada yang mengetahui ulah kawan saya ini dan tidak berbuat apa-apa, itu omong kosong. Tidak berkomentar pun sudah turut serta dalam tidak menghukum. Hanya ada dua kemungkinan. Turut serta menghukum atau tidak menghukum.

    Turut serta. Mengapa saya tidak turut serta dalam mencerca dan mempersalahkan teman saya ini? Ada dua alasan mendasar. Pertama, dia, teman saya dan saya kenal baik diri dan latar-belakangnya serta posisi darurat yang sedang dia hadapi. Dia sudah dan sedang dirajam. NAFSU untuk turut serta menghukum, tidak muncul. NALAR saya beri pertimbangan untuk pikir dan pikir bahwa hari ini dia, besok atau lusa, diri saya pun bisa saja terjerumus pada masalah yang sama. NALURI saya membuat diri saya tidak tega turut serta menghukum karena teman saya sedikit banyak sudah pernah berjasa untuk saya. NURANI saya berbisik untuk menolong atas bermacam cara dan tidak boleh turut serta menghukum. Alasan kedua: kita manusia ini bukan malaikat. Pernah dan akan pernah jatuh dalam kesalahan entah besar atau kecil. Diri saya pun tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang sudah pernah saya lakukan dan kemungkinan besar di hari-hari nanti, tertimpa malapetaka dalam bentuk yang lain.

    Turut serta. Sebaiknya kita manusia ini turut serta berpikir yang baik bersama-sama, berkata yang santun serentak, berbuat yang luhur secara bergotong-royong dan beramal secara ikhlas terhadap sesama di hadirat Yang MAHA-AGUNG. Ini tidak berat. Turut serta berbuat yang baik, manfaatnya baik berlipat-ganda. Itulah tujuan kita hidup di dunia ini.

    Sakit Lutut dan Sendi akan Hilang jika Anda Lakukan Ini Setiap Pagi
    Recommended by

     

    EDIT HAPUS

    Lihat Filsafat Selengkapnya
    BERI NILAI
    Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
    AKTUAL
    BERMANFAAT
    INSPIRATIF
    MENARIK
    MENGHIBUR
    UNIK
    Belum ada penilaian.
    Jadilah yang pertama untuk
    memberikan penilaian!
    BERI KOMENTAR

    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    KIRIM
    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
    VIDEO PILIHAN
    TAG
    humaniora

    filsafat
    TANGGAPI DENGAN ARTIKEL
    RESPONS : 0
    KONTEN SPONSOR

     

    Turunkan 18 Kg dengan Konsumsi sebelum Tidur selama Seminggu

    Membersihkan Pembuluh Darah Anda dari Kolesterol & Sumbatan Darah

    Rambut Pasti Tumbuh Lebat! Tak Peduli Seberapa Parah Botak

    Warga Kupang Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    Diabetes Reda dan Pankreas Pulih jika Anda Lakukan Sekali Sehari

    The Craziest Game Of 2023!
    Artikel Terkait
    Siapa yang Menderita Diabetes Baca Segera sebelum Dihapus
    PR
    Warga Nusa Tenggara Timur Yang Sakit Lutut dan Pinggul Wajib Membaca Ini!
    PR
    Konflik Etnis Tionghoa dan Pribumi di Surakarta (1972-1998)
    Banyak Pasien Diabetes Indonesia Nyesal Tak Cepat Tau Ini
    PR
    ACR Juarai Ganesha Bridge Open Tournament 2023
    Diabetes Hilang 100% jika Pankreas Pulih, dengan Makan Ini
    PR
    Recommended by

    Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
    Daftar

    POPULERREKOMENDASI

    1
    Bantai Man United 7-0, Liverpool Era Baru Telah Lahir
    Dani Ramdani
    Dibaca 637
    2
    Luis Diaz dan Diogo Jota, Kolaborasi Epic Tangkis Tekel Serangan Ganas Rivalnya!
    M ERIK IBRAHIM
    Dibaca 502
    3
    ACR Juarai Ganesha Bridge Open Tournament 2023
    Bert Toar Polii (Bertje)
    Dibaca 431
    4
    Sekolah Mulai Jam 5 Pagi?
    Roselina Tjiptadinata
    Dibaca 311
    5
    Liverpool Remukkan MU 7-0, Menikmati Ketajaman Trisula The Reds
    Adian Saputra
    Dibaca 309
    Selengkapnya
    NILAI TERTINGGI

    Sekolah Mulai Jam 5 Pagi?
    Roselina Tjiptadinata

    Pinjol dan Paylater Singkirkan Dominasi Bisnis Kartu Kredit
    Irwan Rinaldi Sikumbang

    Liverpool Menang dan “Biang Kekalahan” Manchester United
    AKIHensa

    Rotasi Jobdesc Itu Bukan Punishment
    Sigit Eka Pribadi

    Kalau Dulu Para Presiden adalah Pembaca, Apakah Presiden Berikutnya adalah Penulis?
    INDRIAN SAFKA FAUZI (Aa Rian)
    TERBARU

    Hasil Survei IPK & IKM Rupbasan Purbalingga Periode Februari 2023
    RUPBASAN PURBALINGGA
    0

    KKN XXI.A.3 UAD MENYULAP EMBER CAT MENJADI TEMPAT SAMPAH YANG BERMANFAAT
    muhammad rifky
    0

    Koperasi Konsumen IKA Alumni SMKN 1 Metro Adakan Grand Launching IKAFlorist
    Arroyyan Dwi Andini
    0

    The Wonder: Florence Pugh Memukau dalam Kisah yang Menarik tentang Iman dan Skeptisisme
    Chandra Kesuma
    0

    Rencana tinggal rencana
    Ulfa Yulianingsih
    0
    ARTIKEL UTAMA

    “Call Me Chihiro”, Sisi Lain Kehidupan Mantan Pekerja Seks
    Rd.
    177

    Siswa Finlandia Sekolah Jam 9 Pagi dan Mereka Lebih Sukses
    Masykur Mahmud
    499

    Cultuurstelsel, di Balik Alasan Belanda Memilih Tebu dan Kopi Bukan Sagu atau Padi
    Dodik Suprayogi
    212

    ChatGPT Bisa Membuat Artikel Jadi Lebih Bagus
    Budi Susilo
    860

    Bantai Man United 7-0, Liverpool Era Baru Telah Lahir
    Dani Ramdani
    637

    TENTANG KOMPASIANA
    PROFIL
    PERFORMA & STATISTIK
    TIM

    JARINGAN
    KGMEDIA.ID
    SYARAT DAN KETENTUAN
    DEFINISI
    KETENTUAN LAYANAN
    KETENTUAN KONTEN
    PENGGUNAAN DAN HAK CIPTA
    SANGGAHAN DAN PELAPORAN KONTEN
    KETENTUAN PERUBAHAN
    UNDANG-UNDANG ITE
    PRIVACY POLICY
    FAQ KOMPASIANA
    KONTEN
    TEKNIS DAN GANGGUAN
    TIPS DAN TUTORIAL
    BISNIS DAN KERJA SAMA
    BANTUAN
    KONTAK KAMI
    Gedung Kompas Gramedia Palmerah Barat Unit II Lantai 6, Jl. Palmerah Barat No. 29-37, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10270
    6221 536 99 200
    6221 5360678
    kompasiana@kompasiana.com
    Untuk Pengajuan Iklan Dan Kerja Sama Bisa Menghubungi:
    kerjasama@kompasiana.com
    © 2018 KOMPASIANA.COM. A SUBSIDIARY OF KG MEDIA. ALL RIGHTS RESERVED
    0
    0
    X CLOSE

     

    Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Turut serta”, Klik untuk baca:
    https://www.kompasiana.com/belanto/64058585cf40870df91e7e22/turut-serta

    Kreator: Anton Bele

     

    Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

    Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

  • Orang Kota

    Orang Kota. Orang yang tinggal di kota menamakan diri Orang Kota. Berbagai kemudahan ada di kota. Ini yang menyebabkan orang suka tinggal di kota dan menjadi Orang Kota. Satu hal yang khas dari Orang Kota ialah suka menghitung. Hidup penuh perhitungan. Hitung waktu, hitung uang, hitung jasa, hitung jarak, hitung untung, hitung rugi sampai hitung detak jantung. Air dihitung pakai meteran. Listrik dihitung pakai pulsa.  Salah hitung, hidup susah. Hidup itu  jadinya hitungan dari saat ke saat, siang malam hitung terus sampai terkadang tidak tahu hitung lagi apa yang mau dihitung. Itulah Orang Kota.

    Orang Kota. Saya yang dari kecil sampai umur belasan tahun tinggal di desa, sekarang tinggal di kota jadi Orang Kota. Ternyata, kita manusia ini, tinggal di kota jadi Orang Kota, tidak ada bedanya dengan orang yang tinggal di kampung, di desa, yang dijuluki orang kampung, orang desa.

    Orang Kota. NAFSU yang dimiliki Orang Kota ternyata ditantang begitu hebat oleh tawaran begitu banyak untuk dipuaskan. NALAR Orang Kota dijejali dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman sampai ketimbunan hal baru dan tidak heran kalau begitu banyak Orang Kota hidup dalam kebingunan. NALURI Orang Kota begitu digosok dan digesek dengan padatnya manusia yang hidup berhimpitan sampai rasa menjadi tebal dan kebal terhadap jeritan sesama di sampingnya dan dianggap hal biasa bahwa seorang yang lain mengunyah hamburger dan yang lain mengorek kerak nasi. NURANI Orang Kota sudah membatu dengan ceramah agama dan dendang lagu ibadah indah sehingga TUHAN begitu jauh sampai mulai bertanya TUHAN itu ada atau tidak. Empat unsur dalam diri manusia yang namanya Orang Kota, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI sudah berfungsi jauh ngelantur dari yang seharusnya sehingga manusia tidak kenal lagi siapa sesamanya karena semua manusia itu dilihat dari segi hitung-menghitung sesuai ukuran yang diciptakan oleh Orang Kota. Manusia jadi sebatas angka. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Orang Kota. Bangga jadi Orang Kota? Boleh. Sejauh tidak melihat sesama dengan hitungan angka. Apalagi kalau melihat TUHAN hanya sebatas angka rupiah yang disisipkan di celah tutupan kotak derma. Jadilah Orang Kota yang lihat sesama sebagai sesama dan imani TUHAN sebagai PENGUASA alam semesta. Itu baru namanya Orang Kota.