Day: December 11, 2023

  • Membatasi

    Membatasi. Membatasi apa? Membatasi siapa?  Siapa yang membatasi? Untuk apa membatasi? Empat pertanyaan ini membutuhkan jawaban. Apa, siapa, dan untuk apa? Ada dua pelaku dalam hal ini yang membatasi dan yang dibatasi. Membatasi diri, itu biasa. Saya membatasi diri sehingga diri yang membatasi dan diri pula yang dibatasi. Dalam segala hal. Tinggal jawaban atas pertanyaan, untuk apa membatasi. Kalau tujuannya baik, benar dan bagus, maka kegiatan membatasi itu baik, benar dan bagus. Kalau tujuannya tidak baik, benar dan bagus, maka tindakan membatasi itu entah oleh diri untuk diri atau oleh orang lain untuk diri saya, melanggar hak asasi saya. Batas membatasi itu ada dasarnya, ada aturannya dan ada tujuannya.

    Membatasi. Pertama,  membatasi diri. Dalam hidup ini persoalan muncul karena kita lalai membatasi diri. Terbawa Nafsu sampai tidak kenal batas. Nalar dibelokkan dengan segala tipu daya, tipu diri dan sesama. Naluri diabaikan sampai batas adat dan agama dilanggar seenaknya. Nurani dibungkam dengan berbagai alasan pembenaran diri sehingga seharusnya membatasi diri malah batas-batas itu tidak dianggap batas lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Membatasi. Kedua, membatasi pihak lain. Pihak lain itu, entah sesama manusia atau yang paling parah, membatasi TUHAN. Sesama kita itu ada hak dan kewajiban untuk membatasi diri kita karena berbagai alasan, demi kebaikan dirinya atau demi kebaikan diri kita. Hak dan kewajiban pemimpin agama, membatasi gerak-gerik kita atas Nama Tuhan untuk kebaikan kita. Wewenang pemimpin agama ini kita batasi malah kita remehkan dengan alasan, itu urusan saya dengan Tuhan, jangan campur tangan. Ini kita membatasi hak dan kewajiban pemimpin agama. Dalam keluarga, seorang anak wajib hukumnya untuk menaati perintah dan bimbingan orang tua sejauh perintah dan pembimbingan itu baik, benar dan bagus. Tapi kalau hak dan kewajiban mendidik ini dibatasi oleh sang anak dengan alasan orang tua kolot, orang tua merampas hak dan kebebasan diri anak, maka tindakan membatasi orang tua ini membawa petaka bagi diri si anak.

    Membatasi. Dalam dua tindakan terdahulu, membatasi diri dan sesama, sejauh itu baik, terpuji. Sejauh itu buruk, terpuruk. Pihak lain yang dibatasi itu, bagaimana kalau itu TUHAN? Sering kita manusia ini membatasi TUHAN YANG MAHABAIK sekian rupa sampai Kasih TUHAN itu tidak lagi sampai ke diri kita dan sesama kita. Ini yang kita harapkan tidak terjadi.

  • Terbatas

    Terbatas. Sayang, kita manusia ini sering kurang sadar bahwa diri kita terbatas. Malah tidak jarang menganggap diri teratas. Sering pula berlaku tanpa batas. Padahal terbatas, terbatas dalam segala hal. Terbatas itu bukan kekurangan, tapi keniscayaan yang harus disadari dan diterima. Gigi tanggal tinggal beberapa di usia tua. Itu bukti keterbatasan. Jalan tegak lalu bongkok. Mau tegak terus? Tidak bisa. Karena daya untuk tegak itu terbatas. Mau duduk di kursi kekuasaan terus-menerus tanpa pikir turun? Tidak boleh dan tidak bisa. Ini harus disadari, karena ada generasi baru yang siap mengalami apa yang dinamakan ‘regenerasi‘. Dalam jabat-menjabat, sering kita terikat pada jabatan bukan sebaliknya jabatan terikat pada kita. Lepas jabatan itu mudah sekali kalau kita sadari bahwa diri kita terbatas dan pada waktunya segera lepas dan serahkan jabatan kepada orang lain. Ini semua terjadi karena pemahaman kita tentang makna terbatas itu sangat terbatas. Maunya terus-menerus sehingga julukan yang tepat itu pribadi ini sudah pada tingkat tak terbatas, dia terus, apa-apa dia saja, mau ketua ini, direktur ini, malah presiden direktur atau presdir, pokoknya mau di atas terus tanpa mau sadar bahwa dirinya terbatas.

    Terbatas. Nafsu kita diberikan TUHAN untuk memenuhi keinginan kita dalam berbagai hal, keinginan untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, sampai keinginan seks pun termasuk dalam ranah Nafsu. Ini baik dan wajar. Hanya TUHAN sudah ciptakan kita dalam keadaan yang terbatas. Kalau batas yang terbatas ini dilampaui, maka jelas Nafsu dari pribadi kita itu melenceng.

    Nalar kita dikaruniakan TUHAN kepada kita untuk menimbang dan terus menimang yang kita cita-citakan itu pas dengan diri kita yang terbatas ini atau melampaui kemampuan diri kita. Kalau Nalar kurang jernih apa lagi kalau kita membelokkan Nalar kita ke arah angan-angan melayang tanpa arah, diri kita akan menjadi orang tukang mimpi dan makelar janji.

    Naluri kita diletakkan TUHAN dalam diri kita untuk sadar sesadar-sadarnya diri kita itu terbatas maka harus bergandengan tangan dengan sesama yang juga sama-sama terbatas. Segala tindakan saling menjajah, saling menjagal dan saling menyangkal muncul dari kurang-sadarnya kita pada adanya diri kita yang serba terbatas ini.

    Nurani kita itu wasit dalam diri kita yang ditetapkan TUHAN untuk membunyikan sempritan sewaktu kita mau lewat batas dan melawan keadaan dalam diri kita yang terbatas. Sering kita buat diri itu terlampau suci dan monopoli kesucian sampai menganggap orang lain tetangga iblis. Ini akibat dari kurang sadarnya diri kita bahwa untuk memahami dan menyembah YANG MAHA SUCI itu diri kita ini sangat terbatas oleh kedosaan kita. Doa dan amal pun kita pamer untuk mengelabui diri dan sesama bahwa sebenarnya diri itu terbatas tapi angkuh di Hadirat YANG MAHA TAK TERBATAS.

    Kita diberi perangkat empat unsur oleh PENCIPTA kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani untuk sadari diri kita bahwa kita terbatas dalam arus waktu yang terbatas dan luas ruang yang terbatas. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Terpujilah DIKAU TUHAN Yang telah menciptakan diri kami dalam segala keadaan yang terbatas untuk semakin sadar bahwa diri kami berasal dari DIKAU dan berziarah menuju DIKAU dalam kebersamaan dengan sesama yang harus kami rangkul untuk sama-sama berlangkah tertatih-tatih dalam iman, harap dan kasih menapaki hidup yang terbatas ini.