Month: February 2023

  • Isi Otak

    Isi otak. Apa yang ada dalam otak, itulah isinya. Bisa juga kegiatan, isi apa-apa dalam otak. Dengan demikian otak ada isi dan isi otak menjadi kekayaan setiap pribadi manusia. Tidak ada satu otak pun yang tidak ada isinya. Setiap otak ada isi. Sekarang saya ketik huruf-huruf yang jadi kata lalu kalimat dan jadi uraian filsafat ini hasil dari otak yang ada isi dan isi otak yang dipancarkan. Isi otak semakin dikeluarkan semakin ada yang masuk dan semakin berisi.

    Otak saya sekarang penuh dengan uraian filsafat tentang empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita manusia ada NAFSU, unsur pertama yang mendorong kita untuk isi otak dan isi otak diaduk untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh NAFSU. Dalam otak ada isinya yang berputar oleh dorongan NALAR. Berbagai pengalaman dan pengetahuan tersimpan dalam otak dan menjadi bahagian dari isi otak. Isi otak ini tidak pernah berkurang. Terus bertambah dari saat ke saat. Ini hasil dari NALURI yang mendorong kita manusia untuk bergaul dengan sesama dan terus menambah isi dalam otak. Isi otak kita diolah oleh NURANI yang menapis sampai ada hasil yang nampak dalam dua kemungkinan, baik atau buruk.

    Isi otak kita kalau tidak dibagi kepada sesama, maka ibarat air dalam bak tampungan, akan membuat bak itu kotor dan berlumut. Isi otak harus dibagi agar ibarat bak air terus dikuras dan terus bersih dan isinya segar. Membagi isi otak tidak mungkin membuat otak kita kosong, kehabisan isinya. Semakin dibagi semakin berisi otak kita itu.

    Isi otak itu campur aduk antara yang yang baik dan yang buruk. Setiap pribadi mengisi otaknya dengan berbagai cara dan bahan yang dimasukkan pun tergantung pada tiap diri kita. Masukkan yang buruk, isi otak kita jadi buruk, kotor. Masukkan yang baik, isi otak kita jadi baik, jernih.

    Tiap pribadi kita diciptakan oleh TUHAN, Sang Pencipta dengan otak yang sudah ada isi sejak awal kehidupan. Isi ini yang berkembang karena terus dikembangkan lalu menjadi pusaka diri kita yang ditampilkan dalam setiap detak jantung kita untuk menapaki hidup ini langkah demi langkah.

    TUHAN Pencipta kita tetap menuntun kita untuk isi dan pakai isi otak kita dengan baik dan benar demi kedamaian dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia ini maupun sesudah terlepas bebas ke dalam hidup tanpa batas.

  • Hati Bersih

    Hati bersih. Lawannya hati kotor. Tiap manusia menyadari hatinya bersih atau kotor. Bersih seluruhnya, tidak mungkin. Kotor seluruhnya, juga tidak mungkin. Yang pasti, selama manusia hidup di dunia ini, hatinya pasti kotor. Lalu kapan bersihnya? Bersih itu sesaat sewaktu dibersihkan lalu kotor lagi. Jadi pada dasarnya hati manusia itu kotor? Tidak. Pada dasarnya hati manusia itu bersih. Lalu bagaimana sampai jadi kotor sehingga harus terus dibersihkan?

    Manusia ada empat unsur dalam dirinya, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat unsur ini diberikan oleh Sang Pencipta, TUHAN,dari awal kehidupan setiap manusia. Kalau ada orang yang tidak percaya tentang pemberian TUHAN ini, maka dipersilahkan untuk berhenti membaca sampai di sini saja karena uraian filsafat seterusnya bertitik tolak dari adanya empat unsur, hadiah TUHAN ini yang diberikan kepada setiap manusia. Saya sebagai penulis artikel ini, mempunyai pendapat dan pendirian tak tergoyahkan tentang empat unsur hadiah TUHAN ini sebagai dasar penilaian kepribadian kita manusia.

    Hati bersih itu karena dibersihkan. NAFSU kita selalu ingin penuhi segala kebutuhan yang kita mau. Ini baik dan wajar. NALAR ikut mengolah keinginan NAFSU. Sementara itu NALURI kita sadarkan diri kita untuk hargai keberadaan sesama. NURANI kita siap awaskan untuk penuhi keinginan NAFSU sesuai pertimbangan NALAR dan kepentingan sesama yang diingatkan oleh NALURI, secara baik dan benar. Sebab TUHAN Yang menciptakan kita ini Sumber Kebaikan dan Kebenaran. Semua tindakan kita harus baik dan benar.

    NAFSU yang berlebihan, NALAR yang menyimpang, NALURI yang bingung,   NURANI yang kabur membuat hati kita yang bersih jadi kotor. Tidak baik lagi dan tidak benar lagi. Akibatnya, marah, iri, dengki, takabur, terjadi sebagai penampilan hati yang tidak bersih.

    Sebaliknya hati yang bersih akan tergambar pada wajah yang bugar,  otak yang segar, langkah yang tegar dan bathin yang binar.

    Bayangkan kalau kita semua manusia ini punya hati bersih.

  • Dari Hati ke Hati

    Dari hati ke hati. Ungkapan ini lembut selembut lumut,  halus sehalus kapas. Hati dengan hati bertemu. Tanpa kata. Hanya nada. Hati dengan hati menyatu. Tanpa sekat. Hanya niat.  Tak ada manusia tanpa hati. Hati itu saya. Saya itu hati. Saya, anda, dia, kita. Tubuh kita ini sejatinya seonggokan hati. Hati dengan hati itu untaian hati. Terjalin, mulia melebihi intan. Itulah hati yang tak seorang pun dari kita tahu apa itu hati. Tapi setiap kita sadari. Ada hati di dalam hati.

    Masyarakat suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor mempunyai tradisi, melihat hati dari binatang yang disembelih khusus untuk diambil dan dilihat hatinya. Binatang yang disembelih biasanya, ayam jantan atau babi jantan peliharaan. Maksudnya hewan piaraan yang disayangi, dekat dengan manusia. Bukan ayam hutan atau babi hutan.

    Hati hewan ini diuraikan dengan hati-hati dan dilihat alur uratnya oleh orang khusus, yang disebut mako’an, ahli adat.. Langsung ditafsir maknanya, niat dan rencana yang akan dilaksanakan itu baik atau tidak, berhasil atau tidak.  Keputusan diambil waktu itu untuk terus dengan rencana yang ada atau tidak. Langkah hidup ditentukan dengan urat hati. Hati dari hewan piaraan. Simbol kedekatan, kepastian, ketenangan dan kedamaian dalam hidup.

    Dari hati ke hati. Kita manusia ada NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI.  (4N, Kwadran Bele, 2011). Dari empat unsur ini mengerucut dan ada ungkapan, kata majemuk, hati-nurani. Nafsu yang menggebu-gebu secara teratur dan terarah menghasilkan begitu banyak hal indah dan penuh makna di dunia ini. NAFSU untuk hati itu cepat kilat bertemu dari hati ke hati membuat manusia memacu NALAR, mengupayakan berbagai sarana mulai telpon, radio, televisi, pesawat terbang sampai telepon seluler seperti sekarang ini. Hasilnya, NALURI untuk hati dengan hati berpadu terjadi secepat kilat dan terjadilah hati dengan hati itu berpadu dalam hati NURANI.

    Dari hati ke hati. Itulah tujuan Sang Pencipta, TUHAN, menciptakan kita manusia. Hati yang murni menyatu dengan hati lain yang murni, sama-sama murni dan terwujud dalam hidup penuh kasih dan damai.

  • Besar Hati

    Besar hati. Lawannya kecil hati. Hidup ini kalau kecil hati, maka akan sulit dan semakin sulit. Makanya kita harus besar hati. Mulai dari bangun pagi sampai tidur malam, besar hati. Artinya? Mata kita terbuka saat bangun, langsung terbentang di depan kita, dunia, mulai dari loteng kamar tidur sampai ke bentangan langit lazuardi.  Itu semua untuk saya, anda, dia, kita. Sungguh. Harus yakin, hakulyakin, bahwa itu semua untuk kita. Dari Siapa? Dari TUHAN, PENCIPTA kita. Ini dasar untuk besar hati. Tinggal sekarang, gerak. Gerak dengan besar hati.

    NAFSU kita ada untuk mulai bangun dari tidur, gerak, besar hati, siap makan, kerja, makan, kerja. NALAR kita siap untuk beri pencerahan atur waktu, atur gerak dengan besar hati langkahi hari ini ke hari esok.  NALURI kita tuntun diri kita untuk bergandengan tangan dengan sesama baik yang terdekat sampai ke yang tejauh untuk hirup hidup ini dengan besar hati.

    NURANI kita melonjak kegirangan karena tiap detak jantung serap tiap detik demi detik dengan besar hati. Itulah hidup. Hidup dengan besar hati. Berbesar hati. Tidak boleh berkecil hati.  Empat unsur dalam diri kita NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI yang dianugerahkan TUHAN kepada kita itu membuat kita besar hati meniti titian hidup dengan besar hati. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Besar hati itu bukan slogan kosong. Pikiran yang muncul, kata-kata yang terucap, sikap yang kita ambil, tingkah apa yang kita tampilkan, derap apa yang kita renungkan, hasil besar hati dari saat ke saat dalam hidup ini. Setiap kita manusia, siapa pun dia, hidup besar hati bahwa DIA Pencipta kita itu tempatkan kita di sejengkal tanah ini untuk besar hati garap dan cicip hasil tanah yang tampung kita di semesta ini. Karenanya, aneh kalau kita bertengkar di atas bentangan selempeng tanah ini.

    Kita: laki-wanita, kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat, sama-sama besar hati. Hidup  menghidupkan. Jangan mati mematikan. Besar hati untuk hidup menuju hidup yang abadi di dalam DIA, SUMBER HIDUP.

  • Satu Arah

    Satu arah. Tidak dua arah.  Satu arah itu pergi saja. Dua arah, pergi pulang. Hidup ini satu arah. Atau datang dan pulang? Tidak. Satu arah. Ada istilah berpulang. Itu dimengerti datang, lalu pulang. Datang dari mana dan pulang ke mana? Sering kita dengar ungkapan, pulang ke pangkuan Ilahi. Ini pemahaman tentang Yang Ilahi itu jauh, ada jarak. Tidak mungkin ada jarak. Kita manusia, ciptaan ini tetap ada bersama Pencipta, satu-satunya Yang Maha dalam segala hal yang baik itu.  Tidak pernah jauh dan tidak pernah sesaat pun ada di luar Diri Pencipta itu. Inilah dasar pijak untuk berpikir tentang arah hidup ini. Hidup ini dari TUHAN dan kita maju terus bersama DIA, bukan ke arah DIA.

    Satu arah. Kalau itu namanya jalan, maka awal berangkat itu dari DIA, maju terus bersama DIA. Bukan dari DIA baru pulang ke DIA. Satu arah artinya kita diciptakan, tiap-tiap kita ada, itu awal perjalanan kita. Satu arah. Bersama DIA, dalam DIA. Ke mana? Ke suasana damai abadi, baik abadi, senang abadi, puas abadi, kasih abadi. Dari yang sementara ini ke yang abadi dan yang abadi itu hanya DIA. Jadi hidup ini sederhana sekali, jalan satu arah bersama DIA.

    Kita manusia ini dilengkapi oleh DIA, PENCIPTA kita, dengan empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Dalam seluruh uraian tentang diri kita manusia ini, saya sengaja mengulang-ulang terus kebenaran ini, adanya empat unsur dalam diri kita sebagai penggerak daya hidup kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    NAFSU itu membuat diri kita ingin yang baik, gembira, bahagia. Ini sengaja diberi oleh DIA agar sama-sama bahagia terus bersama DIA. NALAR kita diberi oleh DIA supaya kita tetap berpikir dan menyadari serta mengalami keadaan bahagia bersama DIA. NALURI ada dalam diri kita supaya hidup bersama dengan orang lain, berjalan satu arah bersama DIA. Dalam diri kita ada NURANI untuk merasakan bahagia itu sebagai bahagian dari bahagia abadi yang ada dalam DIRI TUHAN.

    Satu arah. Hidup satu arah bersama DIA, bukan dari DIA ke DIA. Hidup yang kita hidupi ini mengalami hidup dalam DIRI DIA, Sumber hidup itu sendiri. Dalam perjalanan satu arah ini, sering terjadi keinginan untuk balik arah. Itu salah. Dan itu terjadi karena kita diberi kebebasan. Di sinilah letaknya kekeliruan dalam hidup kita, tidak satu arah tapi mau belok sana, belok sini sampai ada yang ke luar dari arah, malah balik, dan itu sia-sia.

    Satu arah. Jelas. Bersama sesama jalan bersama DIA, dalam DIA sampai di suasana kasih dan damai abadi, DIA itu, TUHAN.  Itulah hidup.

     

  • Sangka

    Sangka. Saya sangka. Sangka baik atau sangka buruk. Hidup ini diliputi sangka demi sangka. Sangka terhadap alam, sangka terhadap sesama manusia. Sampai sangka terhadap TUHAN. Sangka dan sangka, terus-menerus silih berganti  sampai hidup atau tenang atau risau disebabkan oleh sangka demi sangka ini. Terhadap cuaca. Sayang sangka ini hari hujan. Padahal tidak. Terhadap hewan. Saya sangka burung ini jantan padahal betina. Terhadap teman. Saya sangka dia tipu saya, padahal tidak. Suami terhadap isteri. Saya sangka dia marah, padahal tidak. Isteri terhadap suami. Saya sangka dia lupa, padahal tidak. Sangka dan sangka seperti ini melapangkan jalan di depan kita atau membuat jalan di depan kita itu suram malah gelap.

    Sangka dikembangkan menjadi prasangka. Sebelum sangka sudah ada sangka dan itulah yang disebut prasangka. Ada lagi ungkapan, syak-wasangka. Yang ini selalu menuju ke sangka yang buruk. Langkah ke depan menjadi goyang dan penuh kecurigaan kalau sudah ada sangka dalam bentuk yang seperti ini, sangka yang buruk terhadap sesama.

    NAFSU kita melihat ke depan dan membuat langkah kita ringan kalau kita sangka keadaan itu baik, sesuai dengan yang kita harapkan. NALAR kita langsung beraksi untuk mengatur segala upaya untuk mewujud-nyatakan hal yang kita sangka baik itu.  NALURI kita meneguhkan diri kita untuk merangkul sesama supaya bergerak menuju yang kita sangka baik itu.  NURANI kita menenangkan diri kita untuk maju saja langkah demi langkah karena yang kita sangka itu baik dan ternyata baik. Kepastian dalam hidup dibentuk oleh sangka yang baik itu. Sebaliknya, hidup menjadi goyah kalau sangka itu menjadi prasangka dan lebih parah lagi kalau sudah menjadi syak-wasangka.  Inilah kerjasama serentak antara empat unsur dalam diri kita untuk hidup yang diisi dengan sangka demi sangka ini. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sangka yang baik atau buruk. Resep sederhana untuk hidup tenang. Bangkitkan dalam diri kita sangka yang baik. Kalau muncul sangka yang buruk, segera saring asal usul dari yang buruk itu dan ganti dengan yang baik. Maka hidup menjadi ringan dan penuh gairah karena bergerak dari sangka yang baik ke sangka yang lebih baik lagi. Tentang TUHAN, SANG PENCIPTA kita, harus kita sangka yang baik saja karena tidak mungkin DIA ciptakan kita dan membuat kita hidup mengarah ke pinggir jurang yang curam. Doa adalah sangka yang paling baik.

     

  • Yakin Yang Baik

    Yakin yang baik. Kalau tidak yakin yang baik, jangan maju. Sebaliknya, kalau yakin bahwa itu baik, mengapa ragu-ragu? Hidup tidak ragu-ragu itu karena yakin bahwa semua yang ada di depan itu baik. Semua di depan itu baik. Kenapa? Karena disiapkan oleh YANG MAHA BAIK. Mana mungkin YANG MAHA BAIK pasang ranjau untuk kita yang IA sayangi. Jadi hidup penuh keyakinan bahwa yang di depan itu baik, yakin yang baik ada di depan.

    Lalu sering ada yang tidak baik itu dari mana?

    NAFSU kita ingin yang baik saja. Hanya sering lewat  batas  sehingga yang baik jadi tidak baik lagi. Mau dapat uang. Jalan pintas. Rampas orang lain punya hak. Ini namanya yakin yang baik pada hal tidak baik.

    NALAR kita ini diberi TUHAN untuk yakin bahwa begitu banyak ha baik ada di depan kita. TUHAN sedia semua itu baik adanya. Kita keliru pilih yang tidak baik. Tipu sesama itu tidak baik. Tapi atur, main otak, perdaya sesama. Ini yang namanya pakai salah NALAR.  Akibatnya, yang baik jadi tidak baik.

    Kita ada NALURI yang selalu suka menikmati yang baik. Ajak sesama untuk yakin yang baik dan nikmati yang baik, yah, itu yang namanya yakin yang baik. Ajak sesama yang terdekat atau yang jauh untuk hal yang tidak baik, dengan sendirinya yang terjadi, yang tidak baik itu. Ini bertentangan dengan kehendak dan rencana TUHAN YANG MAHA BAIK. Jadi sering terjadi yang tidak baik itu bukan dari orang lain, apa lagi dari TUHAN.

    NURANI kita selalu arahkan kita untuk yakin akan hal yang baik sehingga pikir, bicara dan buat yang baik saja. Tapi kalau arahan dari NURANI ini tidak diindahkan, dengan sendirinya yang tidak baik yang terjadi. Ini salah siapa? Diri kita sendiri. Jangan tuduh orang lain. Orang rencanakan yang tidak baik, kalau kita tidak ikut dan serahkan diri, maka kita luput dari yang tidak baik.

    Seluruh proses yakin yang baik ini adalah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Yakin yang baik ada di depan kita. Itulah hidup. SANG PEMBERI hidup mau yang baik saja untuk setiap kita ciptaan-NYA. Yakin, hakul-yakin.