Day: February 21, 2023

  • Bakat dan Minat

    Bakat dan Minat. Dua hal yang ada dalam diri manusia. Duanya beda. Bakat diberi langsung oleh PENCIPTA kepada setiap diri manusia. Minat disiapkan PENCIPTA di luar diri pribadi manusia untuk diambil dan dipadukan dengan bakat yang sudah ada. Bakat terberi. Minat terjadi. Bakat tumbuh. Minat tambah. Bakat sudah ada di dalam diri manusia. Bakat siap ditumbuh-kembangkan. Minat ada di luar diri manusia. Minat siap ditambah-kembangkan. Bakat tidak bisa dipertukarkan. Minat bisa digonta-ganti.

    Bakat. Dalam diri kita manusia ada empat unsur: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N. Kwadran Bele, 2011). Bakat itu benih yang sudah ada dalam diri manusia dan ditumbuhkan oleh NAFSU untuk memenuhi keinginan. Dicari cara,  tempat dan waktu yang tepat oleh NALAR supaya bakat itu tumbuh. NALURI merangkai dan merangkul sesama untuk semakin berkembangnya bakat. NURANI memberi arah agar bakat itu tumbuh mekar secara baik dan benar.

    Minat. NAFSU mendorong minat untuk suka yang ini dan besok yang itu. NALAR menetapkan minat untuk tertarik pada yang ini hari ini dan besok yang sana sesuai keadaan waktu dan tempat. NALURI menyingkirkan atau menekuni minat yang satu ini dari pada yang lain itu. NURANI siap terima minat itu sejauh itu baik dan benar.

    Bakat matematika. Minat hari ini di hitung angka. Besok ditambah dengan minat untuk mengukur bentuk bangunan. Minat ini dikembangkan lagi pada mengukir patung dengan ukuran yang tepat sesuai ukuran manusia. Minat itu cabang-cabang yang dicangkokkan pada bakat. Bakat itu rupa-rupa. Minat lebih rupa-rupa lagi. Batas terbatas. Minat tidak terbatas. Bakat tidak bebas untuk dikembangkan. Minat bebas untuk dipangkas atau dicangkokkan pada bakat.

    Bakat dan minat menyatu dalam diri pribadi kita manusia sejauh itu saling melengkapi demi tujuan akhir hidup kita: bahagia. TUHAN menghendaki yang itu, bakat ditumbuhkan dan minat ditambahkan agar hidup kita mekar ibarat kembang mawar yang harum mewangi di taman dunia ini dan selanjutnya di taman abadi.

  • Dibagi Empat

    Dibagi empat. Pribadi manusia dibagi empat atas empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Pribadi manusia  yang sempurna itu kalau dihitung dalam persentase, maka NAFSU 25 % + NALAR 25 % + NALURI 25 % + NURAN I 25 %. Jumlah 100 %. Ini ditetapkan oleh TUHAN dalam diri  kita setiap manusia. Dalam  hidup ini setiap pribadi manusia harus upayakan agar empat unsur ini ditampilkan secara seimbang. Kalau salah satu unsur ditampilkan lewat batas, maka pribadi itu menjadi tidak seimbang. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau NAFSU terlalu ditekankan, antara 30 sampai 40 % atau lebih, maka pribadi itu akan dikenal dengan manusia NAFSU dalam arti yang negatif. Pribadi seperti ini biasa menginginkan hal-hal yang lewat batas, sering di luar aturan. Misalnya makan berlebihan, akibatnya kegemukan. Tidur berlebihan, jadilah pemalas. Kuasa berlebihan, diktator.

    Kalau NALAR terlalu ditekankan, sampai 30 atau 40 %,  maka pribadi ini utamakan pengetahuan, ilmu, sampai tidak pusing dengan sesama, malah mudah anggap TUHAN tidak ada.

    Kalau NALURI terlalu ditekankan, maka pribadi ini cenderung sukuis, kurang menghargai orang dari suku lain atau kelompok lain. Dia selalu membedakan, orang saya dan orang lain.

    Kalau NURANI terlalu ditekankan, maka pribadi ini terlihat sok alim, tampil saleh,  anggap orang lain jahat, hanya sendirilah yang suci. Padahal tindakan benci-membenci jadi santapan harian.

    Dibagi empat. Maksudnya sederhana. Kalau bidang yang satu berlebihan ditekankan, segera disadari bahwa itu salah dan dikembalikan kepada porsinya, 25 %. Memang harus diakui, kita manusia ini selalu tergoda dan terjerumus ke dalam salah satu kesalahan, mengutamakan salah satu bidang sehingga kurang atau tidak seimbang.

    Dibagi empat. Itu berarti tidak dipisah-pisahkan, melainkan diakui dan ditampilkan dalam perilaku harian empat unsur ini secara berimbang. NAFSU diupayakan sewajarnya,  NALAR dicurahkan sejujurnya, NALURI diamalkan seikhlasnya, NURANI diresapkan sesungguhnya. Ini yang dikehendaki TUHAN, PENCIPTA kita dari setiap kita manusia ciptaan-NYA.

  • Dekat

    Dekat. Pepo, cucu saya sangat dekat dengan saya, Opa-nya. Saya sedang sibuk kirim dan terima pesan lewat wa (AhatsApp) di hp (hand-phone) saya. Pepo minta. Dengan berat hati saya kasih hp ke Pepo yang baru empat tahun, sekolah TK. Pikiran saya menerawang jauh. Kalau seandainya seorang anak tetangga atau keluarga dekat yang minta pinjam hp saya karena menganggap saya sebagai seorang Opa yang ramah, maka dengan senang hati akan saya berikan hp itu tanpa banyak pikir.

    Sekarang kembali ke Pepo. Dia paling dekat dengan saya, secara fisik dan psikis, hibur saya, sering juga ganggu saya. Tapi kalau dia jauh bersama mamanya, saya merasa kehilangan. Maunya Pepo dekat terus. Kalau pagi-pagi Pepo ke sekolah, saya kehilangan sepanjang siang. Kalau pulang, saya jadi girang, penuh gairah untuk hidup, lupa sudah lansia, umur 76 tahun. Itulah Pepo dan Opa-nya, Anton. Kami dua sangat, sangat dekat.

    Dekat. Lawannya, jauh.

    NAFSU dikenal dan mengenal begitu menggebu-gebu sehingga sering kita lupa waktu. Main hp berjam-jam. Orang-orang dekat diabaikan. Kontak dengan orang-orang jauh di benua lain diutamakan.

    NALAR begitu cerah membayangkan kota Roma, kota Amsterdam yang pernah saya kunjungi semasa masih muda. Lupa dan abai untuk duduk berdekatan dengan Isteri, Anak – Cucu. Merasa harus dan hebat kontak dengan orang-orang di Jakarta dan Makassar.

    NALURI ada bersama itu menjadi lain, sayang yang jauh, asing dengan yang dekat. Aneh, cari popularitas dari orang jauh sementara orang dekat tidak digubris.

    NURANI sering ditipu dengan sembahyang agungkan TUHAN, sementara diri tidak ambil pusing dengan Isteri yang sedang pusing pikir uang untuk beli beras. Inilah galau dalam hidup.

    Empat unsur dalam diri kita, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI ada untuk membuat diri kita sadar, yang dekat yah dekat, yang jauh yah jauh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Dekat. Memperhatikan yang jauh tidak boleh digeser dengan mengabaikan yang dekat. Harus seimbang. Yang dekat tetap disayangi sambil tidak melupakan yang jauh. Jangan kita girang di jauh dan garang di dekat. Saya tidak kenyang dengan pizza di Milano dan buang jagung di Kupang. Jagung itu dekat. Pizza itu jauh. Dua-duanya ada. Hidup dengan yang dekat bukan dengan yang jauh.

    Dekat yah dekat. Jauh yah jauh. Ternyata, TUHAN, PENCIPTA kita  itu dekat, malah satu dengan diri saya, anda, dia, kita. Dekap DIA, dalam doa dan ibadah. DIA balik mendekap kita. Saya, anda, dia, kita saling mendekap, karena kita itu dekat, malah satu.

  • Jempol

    Jempol. Ibu jari itu disebut jempol. Banyak dari kita mengerti, acungkan jempol artinya memuji seseorang karena berbuat sesuatu yang luar biasa baik, benar dan bagus. Acungkan jempol itu gampang sekali. Hanya jarang dibuat. Sering kita kikir acungkan jempol. Hanya isyarat sedetik saja dirasa sulit. Padahal pengaruhnya dahsyat. Orang yang mengacungkan dan yang diacungkan jempol sama-sama terangkat dari lantai. Sentuh loteng. Bisa juga ubun-ubun sodoklangit. Mengapa tidak sesering mungkin angkat jempol satu sama lain?

    Kita manusia ini ada empat unsur diberi TUHAN dalam diri kita: NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Berdasarkan pendapat sederhana ini, saya tinjau banyak hal dalam diri kita manusia.

    NAFSU kita itu ingin pujian, acungan jempol. Kalau itu wajar, mengapa tidak? Cari acungan jempol dan pada saatnya, beri acungan jempol. Apa sulitnya?

    NALAR kita itu langsung analisis, apakah acungan jempol untuk saya ini wajar atau tidak. Sebaliknya, kita yang acungkan jempol, tepat atau tidak acungkan jempol untuk seseorang. Kalau itu wajar dan tepat pada tempatnya, mengapa harus pikir panjang untuk acungkan jempol kepada sesama yang patut mendapat acungan jempol?

    NALURI kita merasa sangat puas dan bangga kalau diacungkan jempol. Karena itulah jangan kikir untuk acungkan jempol untuk orang lain. Kalau ingin diacungkan jempol, harus rajin acungkan jempol untuk orang lain.

    NURANI kita menjadi damai, bening, tenang dan bahagia kalau lihat sesama acungkan jempol untuk diri kita pada waktu yang tepat dan pada saat yang tampan. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia yang hasilnya membuat diri kita melayang seperti malaikat biar tanpa sayap.

    Jempol itu anggota tubuh yang sudah menjadi kebiasaan untuk diacungkan sebagai tanda pujian, penghargaan kepada sesama.

    TUHAN Yang melihat Ciptaan-Nya, kita manusia ini saling mengacungkan jempol, pasti senang dan setiap acungan jempol itu diberkati TUHAN. Itu maknanya ganda, rahmat untuk  diri yang mengacungkan jempol dan  untuk yang diacungkan jempol. Yang namanya cinta-kasih itu salah satu wujudnya adalah acungan jempol yang tulus ini.

  • Kagum

    Kagum. Kagumi, mengagumkan, terkagum-kagum. Ada hal, barang atau pribadi yang baik, hebat, membuat seseorang kagum. Menghargai, memuji, meneladani orang yang dikagumi. Inilah tindakan yang baik, benar dan bagus. Mengagumi sesama. Hidup ini menjadi lebih ringan, penuh makna karena rentetan kagum ke kagum. Akan tiba pada kagum abadi, yaitu: TUHAN, Pencipta kita itu Yang dirindukan untuk ditemui dan ditatap dari muka ke muka. Hidup ini ke sana dan itu jangan dipertanyakan atau dipersoalkan lagi. Dari kagum sementara ke kagum abadi.

    NAFSU kita mendorong untuk melihat, menikmati hal yang baik, benar dan bagus. Lalu kagum bahwa keinginan  itu terpenuhi. NALAR kita menghendaki sesuatu yang baru dan berguna. Setiap pengamatan, penelitian, kajian yang menghasilkan pengetahuan dan pengalaman baru itu adalah hasil karya NALAR yang selalu membuat kita kagum, terkagum-kagum. NALURI kita senantiasa merindukan pertemuan dan pergaulan dengan orang yang kita kagumi. NURANI kita merasa puas, tenang dan bahagia sesudah bertemu dan bercengkerama dengan pribadi yang dikagumi. Inilah kerjasama antara empat unsur dalam diri kita manusia, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang ditempatkan dalam diri setiap pribadi oleh SANG PENCIPTA, TUHAN. ( 4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kagum. Heran bahwa kita mudah sekali kagum dengan prestasi atau kehebatan orang lain sedangkan prestasi orang yang paling dekat dengan kita sering kurang atau hampir tidak dikagumi. Kagumi yang jauh, kesali yang dekat. Ini ulah yang sering terjadi. Suami sering kesal dan kesal terus-menerus dengan isteri. Padahal begitu banyak jasa dari sang isteri yang harus dikagumi. Sering pula isteri kagumi orang-orang nun jauh di benua sana. Sedang suami sendiri dicomeli terus-menerus dan tidak dikagumi sedikit pun. Anak-anak kagumi guru, kagumi tokoh sejarah, tokoh agama. Sedangkan tokoh yang paling dekat, bapa dan mama, adik-kakak,  jarang atau tidak dikagumi. Mengapa hal ini terjadi? Kagumi orang maka diri akan dikagumi.

    Kagum. Saling mengagumi antara sesama, adalah langkah dan harta terindah yang ada di depan kita malah di dalam diri kita. Harta terindah dalam hidup ini ialah kagum itu. Kagum lihat alam sekitar. Kagum atas kehadiran sesama, terutama sesama yang terdekat. Lalu kagum dengan kedekatan itu setiap saat. Kagum dan kagum. Berat? Tidak. Yah, kagumi alam, kagumi sesama. Ini langsung terarah ke kagumi PENCIPTA. Hasilnya? Bahagia.