Day: February 19, 2023

  • Cuci Otak

    Cuci otak. Ungkapan ini cukup mengerikan. Sering dikaitkan dengan aksi teror, orang ditangkap dan dijadikan alat untuk tujuan jahat.  Hal-hal jahat dipaksakan masuk ke otak orang menggantikan hal-hal baik. Cuci otak. Otak yang ada  dipakai untuk merusak otak yang lain.

    Cuci otak. Ungkapan ini jarang dipakai dalam arti yang baik. Selalu dikaitkan dengan upaya jahat untuk menyebarkan kejahatan. Cuci otak ringan yaitu upaya terencana lewat pendidikan mulai dari anak-anak sampai ke orang dewasa untuk memahami hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Malah sampai ke hal-hal yang paling mengerikan, yaitu: menyangkali adanya TUHAN. Inilah ulah manusia cuci otak sesama bukan untuk tujuan pembersihan tetapi pengotoran sampai pengaburan dan penggelapan yang membuat seseorang atau sekelompok orang takabur, salah memakai otak ke arah pembinasaan sesama oleh sesama.

    Cuci otak. Ada dua pihak. Yang menyuci dan yang dicuci. Yang menyuci memakai otaknya untuk merusak otak orang lain. Yang dicuci menyerahkan otaknya untuk dicuci demi tujuan yang jahat. Dua pihak berada pada posisi yang salah, malah jahat karena akibat dari cuci otak seperti ini, sudah ada dalam sejarah umat manusia, betapa banyak malapetaka yang muncul karena hal yang sangat sederhana ini, cuci otak.

    Cuci otak berawal dari NAFSU manusia untuk bersorak di atas derita dan petaka sesama. NALAR manusia mencari segala upaya mencuci otak manusia sekian rupa agar dapat menemukan dan menggunakan segala macam  cara dan alat untuk mencelakakan sesama. NALURI manusia yang seharusnya tertuju kepada kebaikan diri dan sesama, diputar-balikkan lewat cuci otak untuk menghalalkan tindakan merusak dan mematikan diri dan sesama itu baik dan luhur. NURANI manusia dibutakan lewat cuci otak untuk melihat yang gelap itu terang dan yang hitam itu putih. Dunia kasih dijungkir-balikkan menjadi dunia iri dan dengki. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Cuci otak model begini harap tidak terjadi lagi di belahan bumi ini di mana pun dan kapan pun. TUHAN Pencipta diri kita manusia yang dilengkapi dengan bahagian tubuh yang kita kenal dengan istilah otak, tidak tega melihat otak hasil karya-Nya diutak-atik dengan tindakan cuci-mencuci sampai hilang tujuannya, mewujudkan Damai dan Kasih.

  • Otak Encer

    Otak encer.  Pintar. Encer, cair, mengalir. Senang kalau anak otak encer. Encer atau tidak, penilaian manusia. Setiap manusia itu punya otak encer. Encer artinya mampu mencari dan mendapat jalan untuk kelangsungan hidup. Orang yang dilihat sebagai orang gila pun otaknya encer. Dia bisa hidup dan tetap hidup karena otaknya encer. Otak encer itu ada tingkat-tingkatnya. Tapi yang namanya otak, setiap pribadi manusia itu otaknya encer. Ini dipahami berdasarkan Pencipta manusia, TUHAN. Tidak mungkin manusia diciptakan dengan otak tidak encer dan hidup kesasar di dunia ini.

    Dalam diri manusia ada NAFSU untuk memperoleh segala kemungkinan supaya hidup penuh semarak dari saat ke saat. Ini membutuhkan otak yang encer. Hanya otak encer yang mengatur NALAR untuk belajar dari pengalaman dan memperoleh pengetahuan baru supaya hidup semakin hari semakin mekar ibarat kembang di padang subur. Manusia ada NALURI untuk kenal-mengenal antara satu sama lain supaya sama-sama hidup dan sama-sama ceria. Ini hanya mungkin kalau otak itu encer. Hasil dari otak encer itulah manusia mengalami ketenteraman dalam NURANI. Empat unsur dalam diri manusia ini, NAFSU yang mendorong, NALAR yang mencerahkan,  NALURI yang menggembirakan, membuat manusia mengalami kedamaian dalam NURANI sebagai tujuan hidup dari hari ke hari. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Otak encer itu hadiah langsung dari Pencipta. Tiap orang otaknya encer. Encer semakin encer melalui pendidikan dan pelatihan sesuai bakat dan minat tiap orang. Pengembangan otak untuk semakin encer adalah kewajiban dari setiap orang dan itu menjadi hak yang tidak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun. Hidup kita manusia ini entah dalam keluarga atau masyarakat luas menjadi indah dan penuh keceriaan karena otak-otak encer menyumbangkan serpihan keindahan pada setiap sisi hidup di dunia ini.

    Menghambat encernya otak atau menyalah-arahkan hasil encernya otak adalah ulah salah dari manusia yang salah olah aliran encernya otak. Pencipta kita, TUHAN, senang dan puas karena tujuan Ciptaan-Nya tercapai lewat pengembangan dan pemanfaatan otak yang encer oleh setiap manusia selama diberi kesempatan untuk menata diri dan alam sekitar lewat kegiatan otak-otak yang encer.

     

  • Otak Dingin

    Otak dingin. Dingin ada kaitan dengan damai. Otak dingin terpancar di wajah yang ramah, tangan yang terentang tenang. Ini yang diharapkan terjadi setiap saat dalam diri manusia dan antara sesama manusia di dunia. Otak dingin tidak berkaitan dengan suhu. Otak dingin ada kaitan dengan penampilan seluruh diri pribadi manusia. Otak dingin menyejukkan diri dan sesama. Otak dingin mempengaruhi tangan yang dingin. Apa saja yang disentuh, entah itu manusia atau alam sekitar, jadi dingin seolah ditetesi embun pagi hari.

    Dalam diri kita manusia ini ada NAFSU yang menginginkan kesejukan. Naungan yang teduh di tengah teriknya matahari dicari oleh dorongan NAFSU kita untuk menghirup segarnya udara. Hidup yang segar itu kerinduan setiap kita yang muncul dari NAFSU yang menggelora dalam dada. Otak yang dingin saling menyejukkan antara sesama dan terpercik pada alam sekitar.

    Dalam diri kita ada NALAR yang senantiasa mengupayakan agar diri kita berada dalam suasana yang sejuk oleh dinginnya otak. NALAR yang sejuk mengarungi samudera yang teduh.

    Kita ada  NALURI untuk berpikir yang damai bagi diri dan sesama dan itu terucap dalam kata penuh irama puitis dan terukir lewat karya agung memahat arca manusia bak dewata. Inilah hidup  tuntunan NALURI lewat otak yang dingin.

    Manusia ada NURANI yang disiapkan oleh Sang Pencipta untuk setiap kita agar otak yang dingin mengalirkan sejuknya hidup lewat seluruh pembuluh hidup menghidupi setiap sel dalam diri kita.

    Empat unsur dalam diri kita manusia ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI bekerjasama mengeja-wantahkan arus hidup dari otak yang dingin. TUHAN Pencipta kita sudah atur yang ini, otak dingin untuk sejukkan hidup. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mengapa kita mau memanas-manasi diri dan sesama dengan iri dan dengki?

    Lihat, TUHAN tersenyum melihat kita saling merangkul dengan otak dingin dalam teduhnya rindang relung langit lazuardi.

  • Selalu Senang

    Selalu senang. Itu berarti segala kebutuhan terpenuhi. Sering kurang senang malah tidak senang. Itu artinya kebutuhan yang diinginkan kurang terpenuhi atau tidak terpenuhi. Kebutuhan itu ada tiga. Ini sudah umum diketahui. Satu: kebutuhan pokok terdiri makan, minum dan perumahan. Dua: kebutuhan penting terdiri dari pendidikan dan kesehatan. Tiga: kebutuhan perlu, hiburan. Jadi ada tiga kebutuhan: pokok, penting dan perlu. Untuk mudahnya, ingat saja ‘3P’. Kalau tiga kebutuhan ini terpenuhi, maka senanglah hidup kita.

    Selalu senang. Apakah tiga kebutuhan itu selalu terpenuhi sehingga selalu senang? Hidup ini tidak mungkin selalu senang atau selalu susah. Ada susah ada senang. Ini yang salah. Selalu senang dan harus selalu senang. Tinggal mengerti apa itu senang.

    Selalu senang, kalau:  dorongan  NAFSU menikmati terpenuhi, desakan NALAR mengetahui terjadi,  harapan NALURI terwujud, arahan NURANI dipatuhi. Itu yang namanya senang. Hidup ini senang dan untuk senang. Selalu senang. Empat unsur dalam diri kita manusia yang diberikan oleh PENCIPTA, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI justru untuk membuat kita manusia senang dan selalu senang. (4N, Kwadran Bele, 2011). Tidak pernah terlintas dalam pemahaman saya bahwa TUHAN mengatur kita di dunia ini untuk hidup senang dan tidak senang sekaligus. Kadang-kadang senang dan kadang-kadang susah. “Itu kehendak TUHAN”. Pemahaman dan ungkapan ini sama sekali tidak benar menurut saya. TUHAN punya kehendak tunggal, membuat manusia, senang.

    Selalu senang. Malam berganti siang. Musim berganti musim. Itu untuk membuat kita senang. Usia menjadi lanjut. Itu menghantar kita untuk jalankan pekerjaan yang lebih ringan supaya senang. Alam dipenuhi dengan tumbuhan dan hewan untuk dijadikan santapan kita manusia. Ini untuk membuat kita senang. Tidak ada satu benda atau satu hal pun yang dirancang PENCIPTA untuk membuat kita manusia senang lalu susah kemudian senang. Kita manusia bukan boneka permainan di Tangan TUHAN. Kita adalah pribadi kesayangan TUHAN. DIA senang membuat kita senang dan selalu senang.

     

  • Isi Otak

    Isi otak. Apa yang ada dalam otak, itulah isinya. Bisa juga kegiatan, isi apa-apa dalam otak. Dengan demikian otak ada isi dan isi otak menjadi kekayaan setiap pribadi manusia. Tidak ada satu otak pun yang tidak ada isinya. Setiap otak ada isi. Sekarang saya ketik huruf-huruf yang jadi kata lalu kalimat dan jadi uraian filsafat ini hasil dari otak yang ada isi dan isi otak yang dipancarkan. Isi otak semakin dikeluarkan semakin ada yang masuk dan semakin berisi.

    Otak saya sekarang penuh dengan uraian filsafat tentang empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita manusia ada NAFSU, unsur pertama yang mendorong kita untuk isi otak dan isi otak diaduk untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh NAFSU. Dalam otak ada isinya yang berputar oleh dorongan NALAR. Berbagai pengalaman dan pengetahuan tersimpan dalam otak dan menjadi bahagian dari isi otak. Isi otak ini tidak pernah berkurang. Terus bertambah dari saat ke saat. Ini hasil dari NALURI yang mendorong kita manusia untuk bergaul dengan sesama dan terus menambah isi dalam otak. Isi otak kita diolah oleh NURANI yang menapis sampai ada hasil yang nampak dalam dua kemungkinan, baik atau buruk.

    Isi otak kita kalau tidak dibagi kepada sesama, maka ibarat air dalam bak tampungan, akan membuat bak itu kotor dan berlumut. Isi otak harus dibagi agar ibarat bak air terus dikuras dan terus bersih dan isinya segar. Membagi isi otak tidak mungkin membuat otak kita kosong, kehabisan isinya. Semakin dibagi semakin berisi otak kita itu.

    Isi otak itu campur aduk antara yang yang baik dan yang buruk. Setiap pribadi mengisi otaknya dengan berbagai cara dan bahan yang dimasukkan pun tergantung pada tiap diri kita. Masukkan yang buruk, isi otak kita jadi buruk, kotor. Masukkan yang baik, isi otak kita jadi baik, jernih.

    Tiap pribadi kita diciptakan oleh TUHAN, Sang Pencipta dengan otak yang sudah ada isi sejak awal kehidupan. Isi ini yang berkembang karena terus dikembangkan lalu menjadi pusaka diri kita yang ditampilkan dalam setiap detak jantung kita untuk menapaki hidup ini langkah demi langkah.

    TUHAN Pencipta kita tetap menuntun kita untuk isi dan pakai isi otak kita dengan baik dan benar demi kedamaian dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia ini maupun sesudah terlepas bebas ke dalam hidup tanpa batas.

  • Hati Bersih

    Hati bersih. Lawannya hati kotor. Tiap manusia menyadari hatinya bersih atau kotor. Bersih seluruhnya, tidak mungkin. Kotor seluruhnya, juga tidak mungkin. Yang pasti, selama manusia hidup di dunia ini, hatinya pasti kotor. Lalu kapan bersihnya? Bersih itu sesaat sewaktu dibersihkan lalu kotor lagi. Jadi pada dasarnya hati manusia itu kotor? Tidak. Pada dasarnya hati manusia itu bersih. Lalu bagaimana sampai jadi kotor sehingga harus terus dibersihkan?

    Manusia ada empat unsur dalam dirinya, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat unsur ini diberikan oleh Sang Pencipta, TUHAN,dari awal kehidupan setiap manusia. Kalau ada orang yang tidak percaya tentang pemberian TUHAN ini, maka dipersilahkan untuk berhenti membaca sampai di sini saja karena uraian filsafat seterusnya bertitik tolak dari adanya empat unsur, hadiah TUHAN ini yang diberikan kepada setiap manusia. Saya sebagai penulis artikel ini, mempunyai pendapat dan pendirian tak tergoyahkan tentang empat unsur hadiah TUHAN ini sebagai dasar penilaian kepribadian kita manusia.

    Hati bersih itu karena dibersihkan. NAFSU kita selalu ingin penuhi segala kebutuhan yang kita mau. Ini baik dan wajar. NALAR ikut mengolah keinginan NAFSU. Sementara itu NALURI kita sadarkan diri kita untuk hargai keberadaan sesama. NURANI kita siap awaskan untuk penuhi keinginan NAFSU sesuai pertimbangan NALAR dan kepentingan sesama yang diingatkan oleh NALURI, secara baik dan benar. Sebab TUHAN Yang menciptakan kita ini Sumber Kebaikan dan Kebenaran. Semua tindakan kita harus baik dan benar.

    NAFSU yang berlebihan, NALAR yang menyimpang, NALURI yang bingung,   NURANI yang kabur membuat hati kita yang bersih jadi kotor. Tidak baik lagi dan tidak benar lagi. Akibatnya, marah, iri, dengki, takabur, terjadi sebagai penampilan hati yang tidak bersih.

    Sebaliknya hati yang bersih akan tergambar pada wajah yang bugar,  otak yang segar, langkah yang tegar dan bathin yang binar.

    Bayangkan kalau kita semua manusia ini punya hati bersih.

  • Dari Hati ke Hati

    Dari hati ke hati. Ungkapan ini lembut selembut lumut,  halus sehalus kapas. Hati dengan hati bertemu. Tanpa kata. Hanya nada. Hati dengan hati menyatu. Tanpa sekat. Hanya niat.  Tak ada manusia tanpa hati. Hati itu saya. Saya itu hati. Saya, anda, dia, kita. Tubuh kita ini sejatinya seonggokan hati. Hati dengan hati itu untaian hati. Terjalin, mulia melebihi intan. Itulah hati yang tak seorang pun dari kita tahu apa itu hati. Tapi setiap kita sadari. Ada hati di dalam hati.

    Masyarakat suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor mempunyai tradisi, melihat hati dari binatang yang disembelih khusus untuk diambil dan dilihat hatinya. Binatang yang disembelih biasanya, ayam jantan atau babi jantan peliharaan. Maksudnya hewan piaraan yang disayangi, dekat dengan manusia. Bukan ayam hutan atau babi hutan.

    Hati hewan ini diuraikan dengan hati-hati dan dilihat alur uratnya oleh orang khusus, yang disebut mako’an, ahli adat.. Langsung ditafsir maknanya, niat dan rencana yang akan dilaksanakan itu baik atau tidak, berhasil atau tidak.  Keputusan diambil waktu itu untuk terus dengan rencana yang ada atau tidak. Langkah hidup ditentukan dengan urat hati. Hati dari hewan piaraan. Simbol kedekatan, kepastian, ketenangan dan kedamaian dalam hidup.

    Dari hati ke hati. Kita manusia ada NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI.  (4N, Kwadran Bele, 2011). Dari empat unsur ini mengerucut dan ada ungkapan, kata majemuk, hati-nurani. Nafsu yang menggebu-gebu secara teratur dan terarah menghasilkan begitu banyak hal indah dan penuh makna di dunia ini. NAFSU untuk hati itu cepat kilat bertemu dari hati ke hati membuat manusia memacu NALAR, mengupayakan berbagai sarana mulai telpon, radio, televisi, pesawat terbang sampai telepon seluler seperti sekarang ini. Hasilnya, NALURI untuk hati dengan hati berpadu terjadi secepat kilat dan terjadilah hati dengan hati itu berpadu dalam hati NURANI.

    Dari hati ke hati. Itulah tujuan Sang Pencipta, TUHAN, menciptakan kita manusia. Hati yang murni menyatu dengan hati lain yang murni, sama-sama murni dan terwujud dalam hidup penuh kasih dan damai.

  • Besar Hati

    Besar hati. Lawannya kecil hati. Hidup ini kalau kecil hati, maka akan sulit dan semakin sulit. Makanya kita harus besar hati. Mulai dari bangun pagi sampai tidur malam, besar hati. Artinya? Mata kita terbuka saat bangun, langsung terbentang di depan kita, dunia, mulai dari loteng kamar tidur sampai ke bentangan langit lazuardi.  Itu semua untuk saya, anda, dia, kita. Sungguh. Harus yakin, hakulyakin, bahwa itu semua untuk kita. Dari Siapa? Dari TUHAN, PENCIPTA kita. Ini dasar untuk besar hati. Tinggal sekarang, gerak. Gerak dengan besar hati.

    NAFSU kita ada untuk mulai bangun dari tidur, gerak, besar hati, siap makan, kerja, makan, kerja. NALAR kita siap untuk beri pencerahan atur waktu, atur gerak dengan besar hati langkahi hari ini ke hari esok.  NALURI kita tuntun diri kita untuk bergandengan tangan dengan sesama baik yang terdekat sampai ke yang tejauh untuk hirup hidup ini dengan besar hati.

    NURANI kita melonjak kegirangan karena tiap detak jantung serap tiap detik demi detik dengan besar hati. Itulah hidup. Hidup dengan besar hati. Berbesar hati. Tidak boleh berkecil hati.  Empat unsur dalam diri kita NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI yang dianugerahkan TUHAN kepada kita itu membuat kita besar hati meniti titian hidup dengan besar hati. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Besar hati itu bukan slogan kosong. Pikiran yang muncul, kata-kata yang terucap, sikap yang kita ambil, tingkah apa yang kita tampilkan, derap apa yang kita renungkan, hasil besar hati dari saat ke saat dalam hidup ini. Setiap kita manusia, siapa pun dia, hidup besar hati bahwa DIA Pencipta kita itu tempatkan kita di sejengkal tanah ini untuk besar hati garap dan cicip hasil tanah yang tampung kita di semesta ini. Karenanya, aneh kalau kita bertengkar di atas bentangan selempeng tanah ini.

    Kita: laki-wanita, kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat, sama-sama besar hati. Hidup  menghidupkan. Jangan mati mematikan. Besar hati untuk hidup menuju hidup yang abadi di dalam DIA, SUMBER HIDUP.

  • Satu Arah

    Satu arah. Tidak dua arah.  Satu arah itu pergi saja. Dua arah, pergi pulang. Hidup ini satu arah. Atau datang dan pulang? Tidak. Satu arah. Ada istilah berpulang. Itu dimengerti datang, lalu pulang. Datang dari mana dan pulang ke mana? Sering kita dengar ungkapan, pulang ke pangkuan Ilahi. Ini pemahaman tentang Yang Ilahi itu jauh, ada jarak. Tidak mungkin ada jarak. Kita manusia, ciptaan ini tetap ada bersama Pencipta, satu-satunya Yang Maha dalam segala hal yang baik itu.  Tidak pernah jauh dan tidak pernah sesaat pun ada di luar Diri Pencipta itu. Inilah dasar pijak untuk berpikir tentang arah hidup ini. Hidup ini dari TUHAN dan kita maju terus bersama DIA, bukan ke arah DIA.

    Satu arah. Kalau itu namanya jalan, maka awal berangkat itu dari DIA, maju terus bersama DIA. Bukan dari DIA baru pulang ke DIA. Satu arah artinya kita diciptakan, tiap-tiap kita ada, itu awal perjalanan kita. Satu arah. Bersama DIA, dalam DIA. Ke mana? Ke suasana damai abadi, baik abadi, senang abadi, puas abadi, kasih abadi. Dari yang sementara ini ke yang abadi dan yang abadi itu hanya DIA. Jadi hidup ini sederhana sekali, jalan satu arah bersama DIA.

    Kita manusia ini dilengkapi oleh DIA, PENCIPTA kita, dengan empat unsur. NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. Dalam seluruh uraian tentang diri kita manusia ini, saya sengaja mengulang-ulang terus kebenaran ini, adanya empat unsur dalam diri kita sebagai penggerak daya hidup kita. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    NAFSU itu membuat diri kita ingin yang baik, gembira, bahagia. Ini sengaja diberi oleh DIA agar sama-sama bahagia terus bersama DIA. NALAR kita diberi oleh DIA supaya kita tetap berpikir dan menyadari serta mengalami keadaan bahagia bersama DIA. NALURI ada dalam diri kita supaya hidup bersama dengan orang lain, berjalan satu arah bersama DIA. Dalam diri kita ada NURANI untuk merasakan bahagia itu sebagai bahagian dari bahagia abadi yang ada dalam DIRI TUHAN.

    Satu arah. Hidup satu arah bersama DIA, bukan dari DIA ke DIA. Hidup yang kita hidupi ini mengalami hidup dalam DIRI DIA, Sumber hidup itu sendiri. Dalam perjalanan satu arah ini, sering terjadi keinginan untuk balik arah. Itu salah. Dan itu terjadi karena kita diberi kebebasan. Di sinilah letaknya kekeliruan dalam hidup kita, tidak satu arah tapi mau belok sana, belok sini sampai ada yang ke luar dari arah, malah balik, dan itu sia-sia.

    Satu arah. Jelas. Bersama sesama jalan bersama DIA, dalam DIA sampai di suasana kasih dan damai abadi, DIA itu, TUHAN.  Itulah hidup.

     

  • Sangka

    Sangka. Saya sangka. Sangka baik atau sangka buruk. Hidup ini diliputi sangka demi sangka. Sangka terhadap alam, sangka terhadap sesama manusia. Sampai sangka terhadap TUHAN. Sangka dan sangka, terus-menerus silih berganti  sampai hidup atau tenang atau risau disebabkan oleh sangka demi sangka ini. Terhadap cuaca. Sayang sangka ini hari hujan. Padahal tidak. Terhadap hewan. Saya sangka burung ini jantan padahal betina. Terhadap teman. Saya sangka dia tipu saya, padahal tidak. Suami terhadap isteri. Saya sangka dia marah, padahal tidak. Isteri terhadap suami. Saya sangka dia lupa, padahal tidak. Sangka dan sangka seperti ini melapangkan jalan di depan kita atau membuat jalan di depan kita itu suram malah gelap.

    Sangka dikembangkan menjadi prasangka. Sebelum sangka sudah ada sangka dan itulah yang disebut prasangka. Ada lagi ungkapan, syak-wasangka. Yang ini selalu menuju ke sangka yang buruk. Langkah ke depan menjadi goyang dan penuh kecurigaan kalau sudah ada sangka dalam bentuk yang seperti ini, sangka yang buruk terhadap sesama.

    NAFSU kita melihat ke depan dan membuat langkah kita ringan kalau kita sangka keadaan itu baik, sesuai dengan yang kita harapkan. NALAR kita langsung beraksi untuk mengatur segala upaya untuk mewujud-nyatakan hal yang kita sangka baik itu.  NALURI kita meneguhkan diri kita untuk merangkul sesama supaya bergerak menuju yang kita sangka baik itu.  NURANI kita menenangkan diri kita untuk maju saja langkah demi langkah karena yang kita sangka itu baik dan ternyata baik. Kepastian dalam hidup dibentuk oleh sangka yang baik itu. Sebaliknya, hidup menjadi goyah kalau sangka itu menjadi prasangka dan lebih parah lagi kalau sudah menjadi syak-wasangka.  Inilah kerjasama serentak antara empat unsur dalam diri kita untuk hidup yang diisi dengan sangka demi sangka ini. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Sangka yang baik atau buruk. Resep sederhana untuk hidup tenang. Bangkitkan dalam diri kita sangka yang baik. Kalau muncul sangka yang buruk, segera saring asal usul dari yang buruk itu dan ganti dengan yang baik. Maka hidup menjadi ringan dan penuh gairah karena bergerak dari sangka yang baik ke sangka yang lebih baik lagi. Tentang TUHAN, SANG PENCIPTA kita, harus kita sangka yang baik saja karena tidak mungkin DIA ciptakan kita dan membuat kita hidup mengarah ke pinggir jurang yang curam. Doa adalah sangka yang paling baik.