Month: January 2023

  • Hati Bersih

    Hati bersih. Lawannya hati kotor. Tiap manusia menyadari hatinya bersih atau kotor. Bersih seluruhnya, tidak mungkin. Kotor seluruhnya, juga tidak mungkin. Yang pasti, selama manusia hidup di dunia ini, hatinya pasti kotor. Lalu kapan bersihnya? Bersih itu sesaat sewaktu dibersihkan lalu kotor lagi. Jadi pada dasarnya hati manusia itu kotor? Tidak. Pada dasarnya hati manusia itu bersih. Lalu bagaimana sampai jadi kotor sehingga harus terus dibersihkan?

    Manusia ada empat unsur dalam dirinya, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat unsur ini diberikan oleh Sang Pencipta, TUHAN,dari awal kehidupan setiap manusia. Kalau ada orang yang tidak percaya tentang pemberian TUHAN ini, maka dipersilahkan untuk berhenti membaca sampai di sini saja karena uraian filsafat seterusnya bertitik tolak dari adanya empat unsur, hadiah TUHAN ini yang diberikan kepada setiap manusia. Saya sebagai penulis artikel ini, mempunyai pendapat dan pendirian tak tergoyahkan tentang empat unsur hadiah TUHAN ini sebagai dasar penilaian kepribadian kita manusia.

    Hati bersih itu karena dibersihkan. NAFSU kita selalu ingin penuhi segala kebutuhan yang kita mau. Ini baik dan wajar. NALAR ikut mengolah keinginan NAFSU. Sementara itu NALURI kita sadarkan diri kita untuk hargai keberadaan sesama. NURANI kita siap awaskan untuk penuhi keinginan NAFSU sesuai pertimbangan NALAR dan kepentingan sesama yang diingatkan oleh NALURI, secara baik dan benar. Sebab TUHAN Yang menciptakan kita ini Sumber Kebaikan dan Kebenaran. Semua tindakan kita harus baik dan benar.

    NAFSU yang berlebihan, NALAR yang menyimpang, NALURI yang bingung,   NURANI yang kabur membuat hati kita yang bersih jadi kotor. Tidak baik lagi dan tidak benar lagi. Akibatnya, marah, iri, dengki, takabur, terjadi sebagai penampilan hati yang tidak bersih.

    Sebaliknya hati yang bersih akan tergambar pada wajah yang bugar,  otak yang segar, langkah yang tegar dan bathin yang binar.

    Bayangkan kalau kita semua manusia ini punya hati bersih.

  • Isi Otak

    Isi otak. Apa yang ada dalam otak, itulah isinya. Bisa juga kegiatan, isi apa-apa dalam otak. Dengan demikian otak ada isi dan isi otak menjadi kekayaan setiap pribadi manusia. Tidak ada satu otak pun yang tidak ada isinya. Setiap otak ada isi. Sekarang saya ketik huruf-huruf yang jadi kata lalu kalimat dan jadi uraian filsafat ini hasil dari otak yang ada isi dan isi otak yang dipancarkan. Isi otak semakin dikeluarkan semakin ada yang masuk dan semakin berisi.

    Otak saya sekarang penuh dengan uraian filsafat tentang empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR  + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Kita manusia ada NAFSU, unsur pertama yang mendorong kita untuk isi otak dan isi otak diaduk untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh NAFSU. Dalam otak ada isinya yang berputar oleh dorongan NALAR. Berbagai pengalaman dan pengetahuan tersimpan dalam otak dan menjadi bahagian dari isi otak. Isi otak ini tidak pernah berkurang. Terus bertambah dari saat ke saat. Ini hasil dari NALURI yang mendorong kita manusia untuk bergaul dengan sesama dan terus menambah isi dalam otak. Isi otak kita diolah oleh NURANI yang menapis sampai ada hasil yang nampak dalam dua kemungkinan, baik atau buruk.

    Isi otak kita kalau tidak dibagi kepada sesama, maka ibarat air dalam bak tampungan, akan membuat bak itu kotor dan berlumut. Isi otak harus dibagi agar ibarat bak air terus dikuras dan terus bersih dan isinya segar. Membagi isi otak tidak mungkin membuat otak kita kosong, kehabisan isinya. Semakin dibagi semakin berisi otak kita itu.

    Isi otak itu campur aduk antara yang yang baik dan yang buruk. Setiap pribadi mengisi otaknya dengan berbagai cara dan bahan yang dimasukkan pun tergantung pada tiap diri kita. Masukkan yang buruk, isi otak kita jadi buruk, kotor. Masukkan yang baik, isi otak kita jadi baik, jernih.

    Tiap pribadi kita diciptakan oleh TUHAN, Sang Pencipta dengan otak yang sudah ada isi sejak awal kehidupan. Isi ini yang berkembang karena terus dikembangkan lalu menjadi pusaka diri kita yang ditampilkan dalam setiap detak jantung kita untuk menapaki hidup ini langkah demi langkah.

    TUHAN Pencipta kita tetap menuntun kita untuk isi dan pakai isi otak kita dengan baik dan benar demi kedamaian dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia ini maupun sesudah terlepas bebas ke dalam hidup tanpa batas.

     

     

     

     

     

     

     

  • Saling Mendoakan

    Saling mendoakan. Kita manusia saling mendoakan. Kalimat ini sering diungkapkan dan dilakukan. Tapi juga sering diabaikan. Manusia sebagai pribadi dan kelompok sangat sering saling mendoakan. Saling mendoakan ini tidak bisa dibatasi dengan tempat dan waktu.

    Tinggal pertanyaan, doa kepada siapa? Tiap-tiap orang berdoa sesuai agama dan kepercayaannya. Ini yang sering terdengar dalam ungkapan harian. Agama? Kepercayaan? Agama itu tata ajaran dan aturan yang dianut sekelompok orang. Kepercayaan itu ada dalam diri setiap orang, tidak terbatas lagi pada agama. Kepercayaan lebih umum.  Tanpa lewat jalur agama pun orang percaya dan ungkapkan kepercayaannya. Keduanya, agama dan kepercayaan. Agama, dari mana, dari siapa? Kepercayaan, kepada siapa?

    Saling mendoakan. Itu oleh sesama untuk sesama dan arahnya kepada yang sama dan satu, TUHAN. Saling mendoakan ini berawal dari Nafsu yang ada dalam diri manusia untuk menikmati hal yang baik dan menyenangkan dalam hidup. Nalar dalam diri manusia bergulat untuk menemukan pengetahuan dan pengalaman yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai keberhasilan itu. Naluri langsung bekerja untuk menemukan dan membagikan hal yang baik itu kepada sesama. Hasilnya, sama-sama menikmati kenyamanan dalam hidup bersama. Nurani memuji si pendoa bahwa doanya dikabulkan oleh Sang Pemilik segala sesuatu, TUHAN. (4 N, Kwadran Bele, 2011).

    Saling mendoakan itu kewajiban. Tidak saling mendoakan, kelalaian. Saling mendoakan mendorong setiap manusia berbuat baik terhadap sesama. Tidak masuk akal kalau saling mendoakan berbarengan dengan saling menciderai. Mulai dari dalam keluarga, setiap anggota keluarga saling mendoakan. Bukan sesewaktu, tetapi setiap saat.

    Saling mendoakan itu harus menjadi bunyi di bibir setiap mulut. Saling mendoakan itu menjadi denyut nadi setiap insan. Kalau ini yang terjadi, yang seharusnya terjadi, maka kita manusia akan tumbuh hijau subur seperti rerumputan di padang yang menghijau, tumbuh tanpa saling menindih.

    Saling mendoakan. Pekerjaan yang satu ini tidak membutuhkan tenaga luar biasa. Hanya dibutuhkan kesadaran dan kehendak. Dan itulah yang dikehendaki oleh TUHAN, PENCIPTA kita.

  • Pakai Otak

    Pakai otak. Ini bisa positif bisa negatif. Positif kalau pakai otak untuk cari kebenaran dan pakai kebenaran untuk tujuan yang baik. Negatif kalau sandarkan diri pada otak dan pakai otak untuk berdalih memperdaya sesama. Pakai otak itu ungkapan harian untuk sadarkan diri dan sesama dalam hidup mencari kenyamanan dan keamanan.

    NAFSU manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak, mengupayakan terjadinya kenyamanan dan keamanan.  Cari nasi dan makan kalau lapar. Abaikan dulu rapat, istirahat dan makan. NALAR manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak, menggali dan menemukan jalan yang tepat untuk hidup nyaman dan aman.

    NALURI manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak, mencari bantuan sesama supaya sama-sama nyaman dan aman. NURANI manusia menyadarkan diri manusia untuk pakai otak menemukan keadaan yang nyaman dan aman tidak hanya dalam dunia yang kelihatan, tetapi dalam dunia yang tidak kelihatan, kuasa TUHAN. Ini kerjasama empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI yang menyadarkan diri manusia untuk secara utuh pakai otak menempuh hidup ini secara utuh. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Pakai otak itu biasa. Tidak pakai otak, tidak biasa. Otak ada secara nyata dalam bentuk gumpalan sumsum yang tersimpan dan terlindungi oleh batok kepala manusia. Otak dalam arti yang luas, segala upaya manusia mengerahkan empat unsur dalam diri manusia, NAFSU + NALAR +  NALURI + NURANI untuk hidup nyaman dan aman. Nyaman, segala kebutuhan terpenuhi. Aman, tidak ada gangguan, tidak mengganggu dan diganggu.

    Pakai otak itu perintah dari Sang Pencipta, TUHAN. Tidak pakai otak atau kurang pakai otak sama artinya melawan Kehendak TUHAN. Kelaparan dan kemiskinan adalah keadaan tidak cukup bahan untuk dimakan dan tidak cukup bahan untuk dimanfaatkan. Ini terjadi karena kurang atau tidak pakai otak.

    Pakai otak hasilnya kebutuhan tercukupi dan terjadilah hidup yang nyaman dan aman. Berarti, kalau ada manusia-manusia, entah pribadi atau kelompok, hidup kurang atau tidak aman dan nyaman, pasti itu karena kurang atau tidak pakai otak. Malah lebih buruk lagi, pakai otak untuk yang sebaliknya dari seharusnya, yaitu: tidak pakai otak untuk tujuan yang baik, tetapi pakai otak untuk mencelakakan diri dan sesama. TUHAN beri otak tetap untuk yang baik, hidup nyaman dan aman.

     

     

     

  • Cuci Otak

    Cuci otak. Ungkapan ini cukup mengerikan. Sering dikaitkan dengan aksi teror, orang ditangkap dan dijadikan alat untuk tujuan jahat.  Hal-hal jahat dipaksakan masuk ke otak orang menggantikan hal-hal baik. Cuci otak. Otak yang ada  dipakai untuk merusak otak yang lain.

    Cuci otak. Ungkapan ini jarang dipakai dalam arti yang baik. Selalu dikaitkan dengan upaya jahat untuk menyebarkan kejahatan. Cuci otak ringan yaitu upaya terencana lewat pendidikan mulai dari anak-anak sampai ke orang dewasa untuk memahami hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Malah sampai ke hal-hal yang paling mengerikan, yaitu: menyangkali adanya TUHAN. Inilah ulah manusia cuci otak sesama bukan untuk tujuan pembersihan tetapi pengotoran sampai pengaburan dan penggelapan yang membuat seseorang atau sekelompok orang takabur, salah memakai otak ke arah pembinasaan sesama oleh sesama.

    Cuci otak. Ada dua pihak. Yang menyuci dan yang dicuci. Yang menyuci memakai otaknya untuk merusak otak orang lain. Yang dicuci menyerahkan otaknya untuk dicuci demi tujuan yang jahat. Dua pihak berada pada posisi yang salah, malah jahat karena akibat dari cuci otak seperti ini, sudah ada dalam sejarah umat manusia, betapa banyak malapetaka yang muncul karena hal yang sangat sederhana ini, cuci otak.

    Cuci otak berawal dari NAFSU manusia untuk bersorak di atas derita dan petaka sesama. NALAR manusia mencari segala upaya mencuci otak manusia sekian rupa agar dapat menemukan dan menggunakan segala macam  cara dan alat untuk mencelakakan sesama. NALURI manusia yang seharusnya tertuju kepada kebaikan diri dan sesama, diputar-balikkan lewat cuci otak untuk menghalalkan tindakan merusak dan mematikan diri dan sesama itu baik dan luhur. NURANI manusia dibutakan lewat cuci otak untuk melihat yang gelap itu terang dan yang hitam itu putih. Dunia kasih dijungkir-balikkan menjadi dunia iri dan dengki. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Cuci otak model begini harap tidak terjadi lagi di belahan bumi ini di mana pun dan kapan pun. TUHAN Pencipta diri kita manusia yang dilengkapi dengan bahagian tubuh yang kita kenal dengan istilah otak, tidak tega melihat otak hasil karya-Nya diutak-atik dengan tindakan cuci-mencuci sampai hilang tujuannya, mewujudkan Damai dan Kasih.

     

     

     

     

  • Otak Encer

    Otak encer.  Pintar. Encer, cair, mengalir. Senang kalau anak otak encer. Encer atau tidak, penilaian manusia. Setiap manusia itu punya otak encer. Encer artinya mampu mencari dan mendapat jalan untuk kelangsungan hidup. Orang yang dilihat sebagai orang gila pun otaknya encer. Dia bisa hidup dan tetap hidup karena otaknya encer. Otak encer itu ada tingkat-tingkatnya. Tapi yang namanya otak, setiap pribadi manusia itu otaknya encer. Ini dipahami berdasarkan Pencipta manusia, TUHAN. Tidak mungkin manusia diciptakan dengan otak tidak encer dan hidup kesasar di dunia ini.

    Dalam diri manusia ada NAFSU untuk memperoleh segala kemungkinan supaya hidup penuh semarak dari saat ke saat. Ini membutuhkan otak yang encer. Hanya otak encer yang mengatur NALAR untuk belajar dari pengalaman dan memperoleh pengetahuan baru supaya hidup semakin hari semakin mekar ibarat kembang di padang subur. Manusia ada NALURI untuk kenal-mengenal antara satu sama lain supaya sama-sama hidup dan sama-sama ceria. Ini hanya mungkin kalau otak itu encer. Hasil dari otak encer itulah manusia mengalami ketenteraman dalam NURANI. Empat unsur dalam diri manusia ini, NAFSU yang mendorong, NALAR yang mencerahkan,  NALURI yang menggembirakan, membuat manusia mengalami kedamaian dalam NURANI sebagai tujuan hidup dari hari ke hari. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Otak encer itu hadiah langsung dari Pencipta. Tiap orang otaknya encer. Encer semakin encer melalui pendidikan dan pelatihan sesuai bakat dan minat tiap orang. Pengembangan otak untuk semakin encer adalah kewajiban dari setiap orang dan itu menjadi hak yang tidak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun. Hidup kita manusia ini entah dalam keluarga atau masyarakat luas menjadi indah dan penuh keceriaan karena otak-otak encer menyumbangkan serpihan keindahan pada setiap sisi hidup di dunia ini.

    Menghambat encernya otak atau menyalah-arahkan hasil encernya otak adalah ulah salah dari manusia yang salah olah aliran encernya otak. Pencipta kita, TUHAN, senang dan puas karena tujuan Ciptaan-Nya tercapai lewat pengembangan dan pemanfaatan otak yang encer oleh setiap manusia selama diberi kesempatan untuk menata diri dan alam sekitar lewat kegiatan otak-otak yang encer.

  • Otak Dingin

    Otak dingin. Dingin ada kaitan dengan damai. Otak dingin terpancar di wajah yang ramah, tangan yang terentang tenang. Ini yang diharapkan terjadi setiap saat dalam diri manusia dan antara sesama manusia di dunia. Otak dingin tidak berkaitan dengan suhu. Otak dingin ada kaitan dengan penampilan seluruh diri pribadi manusia. Otak dingin menyejukkan diri dan sesama. Otak dingin mempengaruhi tangan yang dingin. Apa saja yang disentuh, entah itu manusia atau alam sekitar, jadi dingin seolah ditetesi embun pagi hari.

    Dalam diri kita manusia ini ada NAFSU yang menginginkan kesejukan. Naungan yang teduh di tengah teriknya matahari dicari oleh dorongan NAFSU kita untuk menghirup segarnya udara. Hidup yang segar itu kerinduan setiap kita yang muncul dari NAFSU yang menggelora dalam dada. Otak yang dingin saling menyejukkan antara sesama dan terpercik pada alam sekitar.

    Dalam diri kita ada NALAR yang senantiasa mengupayakan agar diri kita berada dalam suasana yang sejuk oleh dinginnya otak. NALAR yang sejuk mengarungi samudera yang teduh.

    Kita ada  NALURI untuk berpikir yang damai bagi diri dan sesama dan itu terucap dalam kata penuh irama puitis dan terukir lewat karya agung memahat arca manusia bak dewata. Inilah hidup  tuntunan NALURI lewat otak yang dingin.

    Manusia ada NURANI yang disiapkan oleh Sang Pencipta untuk setiap kita agar otak yang dingin mengalirkan sejuknya hidup lewat seluruh pembuluh hidup menghidupi setiap sel dalam diri kita.

    Empat unsur dalam diri kita manusia ini, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI bekerjasama mengeja-wantahkan arus hidup dari otak yang dingin. TUHAN Pencipta kita sudah atur yang ini, otak dingin untuk sejukkan hidup. (4N, Kwadran Bele, 2011). Mengapa kita mau memanas-manasi diri dan sesama dengan iri dan dengki?

    Lihat, TUHAN tersenyum melihat kita saling merangkul dengan otak dingin dalam teduhnya rindang relung langit lazuardi.