Month: December 2022

  • Manusia Cinta Damai

    Damai

    Damai. Kata ini sudah basi. Cuma penghias bibir. Damai di mulut, benci di hati. Puji di depan, cemooh di belakang. Siapa pun kita, namanya manusia, ingin damai, hidup damai, dengan diri dan semua orang. Ini yang asli, asasi. Karena kita manusia memang berasal dari Sumber DAMAI dan sedang kembali ke Sumber DAMAI itu dengan damai. Nafsu kita diberi TUHAN untuk nikmati damai. Nalar kita hadiah dari TUHAN untuk pikir damai. Naluri kita itu diadakan untuk cari damai. Nurani kita diberi TUHAN untuk cinta damai. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Damai. Ini tujuan utama pertemuan ‘G20’. Bicara dagang, bicara sosial, bicara politik, bicara hutan, bicara pangan, semua dalam suasana damai untuk hidup damai. Kalau diri penuh damai dengan sendirinya lingkungan, baik manusia maupun alam, terisi damai terpancar sinar damai. Duduk damai, berdiri damai, kerja damai, makan damai, tidur damai. Apa yang sebenarnya kita manusia cari? Negara-negara ‘G20’ untuk apa bertemu buang waktu buang tenaga dan dana, datang bersidang, untuk apa? Untuk damai. Kalau demikian kata damai tidak lagi basi hasil basa-basi.

    Damai. :Pikir damai, omong damai, buat damai, hidup damai. Kalau sudah damai, untuk apa lagi itu pesawat tanpa awak intip sana intip sini cari markas musuh padahal tidak ada musuh. Roket-roket pembawa bom, dilebur jadi traktor pembajak sawah. Kapal selam pembawa torpedo dijadikan kapal wisata selam. Senapan otomatis diracik ulang jadi besi penggantung jemuran. Peluru tajam dicopot bahan peledaknya dijadikan peluit wasit liga sepak bola. Apa salahnya, apa sulitnya tinggalkan segala macam senjata pembumuh diganti dengan pisau roti?

    Para anggota ‘G20’, pikirlah hal-hal yang menjurus ke damai dan singkirkan jurang permusuhan dan buang itu meriam, peluru kendali ke jurang dalam terkubur di sana. Jet tempur dijadikan kendaraan angkasa mainan anak-anak terjun payung terbang melayang. Ini bukan igauan di siang bolong, ini bukan ramalan si pembohong. Ini pasti jadi kenyataan asal hati dipadati damai dan damai dari hari ke hari.

    Datang sidang runding damai, jadikan ‘G20’ pendekar damai, bawa damai, tebar damai, hidup damai.

    Lihat, TUHAN tersenyum!

    Air

    Air. Pakai air. Hemat air. Ambil air. Tampung air. Cari air. Bagi air. Jaga air.

    Ini semua kegiatan manusia dalam kaitan dengan air. Bumi tanpa air, air tanpa bumi, tidak ada.  Kenyataan, bumi tampung air, air tertampung di bumi. Satu kesatuan. Dua kenyataan, ada air, ada bumi. Air bahagian dari bumi, bumi bahagian dari air. Menyatu. Manusia ada di bumi yang ada air, air ada di bumi bersama manusia. Tak dapat dibayangkan bumi tanpa air yang ada manusia. Sebaliknya, tak dapat dibayangkan air ada di bumi yang tidak ada manusia. Tiga komponen: bumi, air, manusia. Ketiganya,  sama-sama ada dan saling mengada, saling memelihara. Aktor utama adalah manusia, kita ini. Perilaku manusia menentukan keberlangsungan adanya bumi, air dan diri manusia itu sendiri.

    Nafsu minum dalam diri manusia mendorong manusia untuk berperilaku yang wajar terhadap air yang ada di bumi. Nalar manusia mengupayakan segala daya agar ada terjaga air di bumi. Naluri manusia saling mengajak antara sesama manusia agar memakai air secara terukur supaya sama-sama dapat air secukupnya. Nurani manusia menyadarkan manusia untuk menyukuri bahwa ada bumi dan air yang saling menampung agar dapat dinikmati manusia. Empat unsur dalam diri manusia, ini: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani membuat diri manusia itu sadar-sesadar-sadarnya bahwa manusia menghuni bumi yang ada air atas penyelenggaraan di luar kemampuan diri manusia, dan yang menyelenggarakan itu adalah TUHAN, PENYELENGGARA segala sesuatu yang baik dalam keberadaan segala yan ada. Pengada itu adalah Sang Maha Ada yang Ada dan tidak diadakan.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Perhatian kita tertuju pada air. Air ada di mana-mana, tetapi belum tentu di mana-mana ada air. Inilah hal krusial bagi manusia. Semua manusia yang dulu pernah ada, sekarang ada dan yang akan ada bergantung pada air yang ada di bumi ini. Bumi ini tempat tampung air. Kalau bumi rusak, air tidak tertampung dengan baik. Kalau air tidak ditampung dengan baik, bumi sendiri akan retak dan proses hancurnya bumi cepat atau lambat, akan terjadi. Ini alamiah. Manusia penanggung-jawab pertama dan utama untuk tetap adanya keberlangsungan bumi tempat air ditampung dan air ada dalam jumlah yang cukup untuk manusia.

    Tragedi besar akan terjadi kalau air jadi langka atau bumi sebagai tempat tampungan air itu rusak lalu manusia kekurangan air.

    Manusia bertangggung jawab agar bumi utuh dan air cukup. Pengrusakan bumi sama artinya dengan peretakan wadah penampung air. Hanya orang gila saja yang menampung air dalam ember bocor. Nafsu ada mau pakai air tapi nalar tidak dipakai untuk cukupkan air. Naluri ada untuk bagi dan pakai air sama rata tapi sementara itu bertengkar menumpahkan air di gelas yang ada di tangan sesama. Nurani cemas dan timbul belas kasihan terhadap saudaranya yang merintih kehausan sementara dirinya minum dan mandi dalam kolam kelimpahan air. Inilah ulah manusia, kita-kita ini, yang serakah tinggal di bumi yang satu, yang sama-sama butuhkan air yang TUHAN adakan.

    Kita manusia, siapa pun saja, pikul tanggung jawab untuk tersedianya air secukupnya agar setiap kerongkongan tidak kering kerontang. Air yang ada diatur bersama untuk kepentingan bersama. Mulai dari keluarga, tetangga sampai ke tingkat perkumpulan kita manusia di bumi ini sama-sama sadar, butuh air dan atur air. Air yang ada tidak dibuang sesuka hati. Air yang tertampung tidak dikotori dengan limbah apa pun saja.

    Apakah kita perlu malaikat turun dari surga untuk bantu menata bumi, menjaga air bagi kita manusia?

    Tanggung-jawab paling besar ada di pundak para pemimpin, orang-orang hebat yang ada kuasa dan ada uang untuk tersedianya air bagi setiap mulut  insan di bumi ini. Semua pemimpin itu dalam kelompok kecil atau kelompok besar, kalau berkumpul, jangan hanya bicara dagang dan perang, pabrik dan produk. Lupa bicara air? Konyol. Silahkan sewa hotel berbintang lima, rapat di aula berhiaskan berlian, tapi kalau lupa bicara air, maka pertemuan itu ibarat manusia-manusia buta mata dan buntu otak yang tidak peduli pada orang-orang kecil yang kehausan  berjingkat ayun gayung reot minta diisi air pembasah lidah yang layu.

    TUHAN, lindungi dan tuntun para abdi-Mu, siapa pun saja dia, yang berkumpul pada saat-saat khusus dan istimewa di tempat mewah,  agar hati dan budi mereka terbuka untuk bicara segala hal di bumi dan angkasa. Semoga mereka tidak lupa bicara AIR.

    TUHAN

    TUHAN. Ditulis dengan Huruf Besar. Berarti TUHAN yah, TUHAN. TUHAN yang pusat percakapan dalam artikel ini. Tulis tentang TUHAN. Tabu? Pantang? Tidak boleh? Dilarang? Dosa? Tidak. Sangat-sangat pantas dan layak untuk pikir, bicara, tulis malah serukan  Nama TUHAN !!! Mengapa? Karena TUHAN-lah asal segala sesuatu tanpa kecuali, DIA-lah Pencipta dan Pemilik alam semesta dengan segala isinya. TUHAN-lah Pencipta diri kita manusia, termasuk penulis artikel ini, Anton Bele bersama Tim Kompasiana, semua Sahabat Kompasioner dan semua-semua, siapa pun dia. Lalu Bapa-Ibu pemimpin ‘G20’, Uni Eropa dan sembilan belas Negara, termasuk Indonesia, di mana posisi mereka? Mereka pun sama, sama dengan kita semua,  sesama kita yang sama-sama hidup sesaat menghuni bumi ini yang tidak kuasai bumi ini, semesta ini, selain TUHAN.

    Ah, orang-orang yang harus disebut Tokoh-tokoh terhormat, Pemimpin-pemimpin hebat, disinggung dalam artikel ini berkaitan dengan pertemuan ‘G20’, apa urusannya  dengan TUHAN sehingga Nama TUHAN dibawa-bawa dalam artikel ini? Mereka Pemimpin Negara-negara, pemimpin rakyat, bukan  Pemimpin Agama. Apa urusannya dengan TUHAN? Di sinilah letak persoalan masyarakat manusia, kita-kita yang sekitar delapan milliar orang yang sedang memadati bola bumi ini. Kita berlaku seolah-olah kita ini ada hanya di samping TUHAN, di depan TUHAN, di luar TUHAN, malah teganya berpendirian bahwa TUHAN itu jauh, sampai dari antara kita begitu tegas menyatakan, TUHAN itu tidak ada.

    Nama TUHAN itu boleh diserukan oleh Pemimpin Agama di Rumah-rumah Ibadat saat beribadat. Di luar itu? Tidak perlu. Tidak perlu libatkan TUHAN di mana-mana. Urus dunia ini, urus uang, urus makanan, pakaian dan perumahan, terlebih urus senjata, apa gunanya libatkan TUHAN. TUHAN itu terbatas pada urusan rohani, urusan ilahi, urusan surgawi. Urusan agama.

    Urus negara ini, urus rakyat, urus ekonomi,  urus politik, itu urusan jasmani, urusan manusiawi, urusan duniawi. Dua hal yang berbeda, satu di kutub Utara satu di kutub Selatan, tidak bisa dipadukan, tidak bisa dicampur-adukkan. Urusan dunia, dunia. Urusan surga, surga. Jangan campur-adukkan pemimpin dunia dengan pemimpin agama. Kedua urusan ini, dunia dan agama, otonom, masing-masing jalan sendiri, urus diri sendiri. Yang adi-kodrati jangan dikait-kaitkan dengan yang kodrati.

    Semua pertanyaan dan pernyataan ini sedang ramai beredar dan diyakini sebagai kebenaran karena dilihat sebagai hasil pemikiran filosofis, pemikiran yang sedalam-dalamnya dan itulah kebenaran. Ternyata, kebenaran yang tidak benar!!! Itu ibarat ceritera kuno, orang-orang buta yang memegang gajah, yang pegang perut, gajah itu loteng, yang pegang ekor, gajah itu tali, yang pegang kaki, gajah itu tiang. Keterbatasan kita manusia menyimpulkan dan berpendapat rupa-rupa tentang TUHAN. Artikel ini pun pendapat yang sudah jadi keyakinan penulis. Berbeda pendapat, terserah.

    Yang berhimpun, bertemu dan bersidang dalam pertemuan G20 itu manusia-manusia. Setiap mereka ada Nafsu yang bersentuhan dengan urusan jasmani. Ada Nalar yang berkaitan dengan bidang Iptek. Naluri yang berkaitan dengan urusan sosial-politik. Nurani yang menyangkut urusan rohani. Empat urusan ini hanya dapat dibedakan, tidak bisa dipisahkan. Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani itu empat unsur yang diciptakan TUHAN sebagai kesatuan dalam diri setiap manusia untuk menjalani hidup di bumi ini. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kalau empat-empatnya itu berasal dari TUHAN, maka tidak bisa dipisah-pisahkan. Para Pemimpin G20 yang terhormat, yakinlah bahwa kalian bertemu dalam Penyelenggaraan TUHAN. Pesawat terbang yang dipakai, mobil mewah yang dipakai, hotel berbintang yang ditumpangi, semua itu dari TUHAN, milik TUHAN yang dibuat oleh manusia Ciptaan TUHAN. Nafas dan syaraf pun dari TUHAN.

    Berundinglah dalam TUHAN, karena TUHAN maha mengerti, maha melihat apa saja yang kalian pikirkan, ucapkan, tuliskan, rencanakan,  putuskan untuk dilaksanakan.

    TUHAN, berkati para Pemimpin kami yang bersidang bersama kami semua yang ikut bersidang dari jauh.

    Dunia ini milik TUHAN, kita ini Ciptaan TUHAN.

    TUHAN itu Pemilik dan Penguasa segala-galanya. Buatlah segala-galanya dalam terang TUHAN.

     

     

    Penulis

    Dr. Anton Bele, M.Si., lahir di Lakmaras, Timor, NTT, Indonesia, 18 April 1947. Tamatan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, strata 3, tahun 2011, menekuni bidang filsafat pembangunan. Menulis buku ‘Kwadran Bele’ tentang filsafat yang menguraikan hal-hal praktis tentang pembangunan.

     

  • Manusia Sama Di mana pun saja

    Beda

    Beda. Karena beda maka bertemu. Bertemu untuk mempertemukan yang beda itu. Beda itu mulai dari Nafsu. Yang satu mau ini, yang satu lagi mau itu. Ini harus dipertemukan. Beda karena ada Nalar. TidaK semua orang nalarnya itu sama. Perlu dipertemukan. Beda Naluri. Ini mau duduk, itu mau berdiri, yang sana mau berenang, yang sini mau makan. Tiap manusia ada naluri untuk bertemu karena ada tarik-menarik antara manusia itu  satu sama lain. Beda karena ada Nurani. Kesadaran dalam diri tiap orang berbeda-beda. Rasa sayang pada saya, anda, dia, kita, beda-beda. Itu terjadi dalam Nurani.

    Manusia dikaruniai TUHAN, empat unsur ini dalam diri pribadinya: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. Tiap manusia menghayati empat unsur ini dalam dirinya secara berbeda-beda. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Beda. Mari bicarakan apa yang beda, di mana bedanya dan bagaimana dipertemukan. Beda itu mulai dari kemauan (Nafsu). Beda pula pengetahuan dan pengalaman (Nalar). Beda dalam kebiasaan bergaul (Naluri). Beda dalam kadar rasa kasih pada sesama dan percaya pada TUHAN (Nurani). Hahaaaa, karena beda-beda inilah maka manusia-manusia harus dan wajar bertemu untuk mempertemukan supaya jangan ada bentrokan tapi tetap berpelukan.

    Ada kelompok-kelompok manusia di dunia ini. Tiap pribadi saja ada beda. Begitu juga kelompok yang satu beda dengan kelompok yang lain. Ada kelompok yang namakan diri ‘G-20’, Uni Eropa dan 19 Negara di dunia ini. Termasuk Indonesia jadi anggota kelompok ini. Ada 20 perbedaan. Dua puluh kelompok manusia inilah yang bertemu untuk mempertemukan perbedaan. Pendapat berbeda, dipertemukan. Kebutuhan berbeda, dipertemukan. Kekuatan berbeda, dipertemukan. Untuk apa? Saling menolong. Bertolong-tolongan itulah tujuan utama dari pertemuan antara pihak-pihak yang berbeda. Bertemu untuk bertengkar, tidak boleh. Itu namanya pertengkaran. Bertemu itu untuk tingkatkan persahabatan, persaudaraan yang dihayati untuk sementara di dunia ini menuju persaudaraan abadi.

    Pertemuan antara orang yang berbeda dengan kepentingan berbeda menjadi indah dan penuh makna kalau pertemuan jadi perjamuan. Ada yang bawa nasi, ada yang bawa sayur, ada yang bawa daging. Inikan beda-beda. Tidak sama. Tapi nikmat waktu dipertemukan. Untuk memeriahkan, ada yang menyanyi, ada yang menari, ada yang bergurau. Itulah pertemuan antara semua yang berbeda minat dan cita-rasa.

    Manusia berbeda dengan kepentingan berbeda. Bertemu. Semua manusia itu harus sadar bahwa hidup dalam perbedaan ini sementara. Ini  harus disadari supaya kita yang sementara hidup ini yakin bahwa tidak selamanya hidup. PEMILIK kita, PENCIPTA kita, TUHAN, DIA-lah yang menjadi Awal dan Akhir dari yang beda-beda itu. Beda supaya saling melengkapi. Beda itu kekayaan. Beda itu Rahmat. Pertemukan yang beda itu supaya kita hidup ini entah di belahan bumi mana pun tetap beda sambil menikmati Rahmat dari Sang PEMBERI RAHMAT.

    Angkatan

    Angkatan. Harap Negara-negara ‘G20’ membahas angkatan-angkatan seperti angkatan kerja, angkatan muda dan secara khusus membahas empat angkatan yang membawa mala-petaka bagi manusia. Empat angkatan itu ialah: Angkatan Perang yang terbagi dalam tiga angkatan: Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Seharusnya empat angkatan ini tidak boleh ada di antara manusia di dunia ini. Hapus. Tapi apa daya. Manusia sudah terlanjur begitu akrab dan terbiasa dengan adanya empat macam angakatan ini sampai berjuta-juta orang disekolahkan, dilatih dan melamar untuk jadi anggota dari empat angkatan yang berbahaya dan membahayakan hidup manusia.

    Ini kehendak TUHAN? Pasti, pasti dan pasti bukan kehendak DIA, sumber segala DAMAI.

    Angkatan yang empat ini ada akibat takaburnya Nafsu serakah kita manusia merampas dan menjarah milik sesama.

    Nalar diperas untuk menciptakan segala macam senjata demi membela diri, menyerang sesama.

    Naluri menjadi tajam untuk memilih dan memilah sesama antara kawan dan lawan. Kita duduk berkumpul tanpa rasa aman karena sedang memata-matai dan di mata-matai.

    Nurani ditumpulkan untuk setuju saja bahwa membunuh itu sah dan halal kalau dia itu musuh.

    Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani diselewengkan dan hasilnya ini, perang. Muncul angkatan perang, angkatan darat, laut dan udara.

    TUHAN selalu siap beri ampun dan ampun berlipat ganda bagi kita manusia yang pemutar-balikkan arti dan makna ‘4N’ yang seharusnya didaya-gunakan untuk kesejahteraan malah diarahkan untuk saling membinasakan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kelompok G-2o ada dan diadakan untuk cinta damai benci perang. Tapi apa yang terjadi? Perang di mana-mana cuma ditonton. Negara-negara  dalam kelompok G-20 sendiri ada dalam suasana permusuhan dan peperangan. Entah perang panas atau perang dingin. Itu tetap namanya perang. Di sinilah letak adanya angkatan perang.

    Ada ungkapan kuno, ‘Si vis pacem para bellum’, ‘Jika engkau menghendaki kedamaian, maka siapkanlah perang’. Ungkapan yang mengerikan. Masa’ mau damai, perang dulu. Pantas uang kalau di-rupiah-kan, dalam jumlah triliunan dihabiskan untuk kegiatan yang satu ini, buat alat perang dan berperang. Letakkan pacul, angkat senjata. Pabrik sepatu diganti dengan pabrik senjata. Itulah kebutuhan untuk perang. Tiga angkatan yang disatukan dengan nama angkatan perang diadakan oleh setiap negara dan kehebatan satu negara diukur dengan berapa kuatnya angkatan perang yang dimiliki.

    Ironis. Sementara mulut berbusa-busa, pidato berkoar-koar serukan damai, tangan tetap genggam senjata, jari di pelatuk untuk siap muntahkan peluru terarah ke jantung sesama. Mau akui atau tidak, sebenarnya kita seluruh penduduk dunia saat ini munafik. Tangan kanan di atas meja, jari-jari jepit alat tulis tanda-tangan pakta perdamaian sementara tangan kiri di kolong meja genggam granat siap diledakkan.

    Pakta

    Pakta. Perjanjian. Kita manusia ini yang buat perjanjian. Apa saja dijanjikan untuk dibuat. Perjanjian itu antara dua pribadi, mulai dari keluarga sampai kepada bangsa-bangsa di dunia ini. Dalam keluarga, ada perjanjin antara laki-laki dan perempuan untuk berumah-tangga, entah itu perjanjian secara adat atau agama, pokoknya perjanjian yang saling mengikat.

    Perjanjian terjadi karena dua pribadi, masing-masing terdorong oleh Nafsu untuk membuat atau mendapat sesuatu yang sudah dipertimbangkan dengan Nalar sambil mempertenggangkan sesama atas dorongan Naluri dalam keputusan sesuai Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Perjanjian yang paling aneh dan paling kejam adalah perjanjian untuk saling membunuh. Ada perjanjian yang dibuat dengan  sengaja, penuh kesadaran, dengan tahu-mau dan terencana.

    Perjanjian untuk perang. Siap perang kalau salah satu kawan diserang. Lawan sudah diketahui dengan jelas. Untuk mengetahui kekuatan dan kekurangan lawan, mata-mata disebarkan. Hidup saling curiga itu dianggap biasa dan upaya pertahanan diperkuat dari hari ke hari. Semakin kuat, semakin  hebat.

    Pakta. Perjanjian. Perjanjian yang satu ini yang sedang terjadi dan dibanggakan di dunia, perjanjian pertahanan, pakta pertahanan. Dengan penuh kebanggaan negara-negara di dunia ini pamerkan kekuatan, manusia dan senjata.

    Militer. Siapa yang lebih kuat. Perlengkapan perang itu lengkap kalau ada perlengkapan angkatan darat, udara dan laut. Semua berlomba untuk memiliki senjata, semakin canggih semakin disegani.

    Nafsu saling mengganggu selalu ada dan terus dikobarkan. Nafsu perang ini disalut dengan istilah manis, nasionalisme, cinta tanah air, siap bela Negara. Karena ada musuh, Nafsu bertahan pun dengan sendirinya muncul. Kalau sendiri tidak kuat, ragu-ragu, dibuatlah perjanjian pertahanan, pakta pertahanan. Satu diserang semua bangun untuk menyerang penyerang. Serentak.

    Dlam kelompok ‘G2o’ secara terang-terangan  mempunyai pakta sendiri-sendiri. Bertemu muka manis, jabat tangan, saling merangkul, sementara di belakangnya siap-siaga, melihat, mengintai, jangan sampai diserang. Rasa cemas menghantui pertemuan. Sengaja rasa cemas ini dipendam dengan dalih, menahan diri.

    Tangan berkeringat menggenggam senjata. Setiap saat senjata siap menyalak. Sementara itu terus bicara, runding siang malam, kerjasama, janji,  saling menolong. Tapi pedang tetap digenggam, terhunus, siap diayun. Ini sangat ironis. Kemunafikan global.

    Kapan pakta pertahanan keamanan dihapus sehingga kita manusia di dunia ini bisa hidup aman dan nyaman? Mimpi? Tidak. Harus dihapus karena pakta seperti itu salah satu bentuk penjajahan dari yang kuasa dan kuat atas yang lemah dan dijajah.

    TUHAN tidak ciptakan kita manusia untuk saling menjajah. Saling menolong. Itulah kewajiban kita.

    Hak

    Hak. Semua manusia ada hak. Hak atas apa saja, kecuali hidup. Tidak ada satu manusia pun yang ada hak atas hidupnya sendiri maupun hidup orang lain. Lalu hidup itu bergantung pada lingkungan hidup. Seluruh alam semesta ini adalah lingkungan hidup untuk ada kehidupan. Jadi lingkungan hidup itu bukan hanya terdiri dari tumbuhan dan hewan yang hidup tetapi seluruh isi alam ini adalah lingkungan hidup. Kalau begitu, manusia tidak ada hak atas hidup sekaligus atas lingkungan hidup. Hak itu hanya ada pada pemiliknya, yaitu TUHAN. Alam ini ada Pemiliknya. Lalu kita manusia ada hak apa atas milik Sang Pemilik? Kita hanya ada hak untuk pelihara dan pakai sesuai kebutuhan. Kalau ada hak demikian, dengan sendirinya ada kewajiban untuk jaga, atur dan pakai sesuai kebutuhan.

    Kita manusia ada Nafsu untuk pakai hak itu. Hak itu harus dipahami dengan pertimbangan Nalar yang jernih dan jujur. Hak juga harus dipakai dengan pertenggangkan sesama manusia secara adil . Dan yang paling utama, hak itu harus dipakai sesuai bisikan Nurani yang mengatakan bahwa segala yang ada ini ada Pemiliknya, yaitu TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kelompok mana pun termasuk kelompok ‘G 20’ yang terdiri dari Uni Eropa dan 19 Negara di dunia ini kalau bertemu, bicarakan kewajiban lebih utama dari pada hak. Kalau mulai bicara hak, maka pasti akan ada pertengkaran tidak ada ujung. Hak bisa bergeser dan berubah sewaktu-waktu. Kewajiban, tidak. Sejak awal kita manusia tercipta sampai akhirat, kewajiban tetap kewajiban, tak berubah dan tak tergeser, tak bertambah tak berkurang. Tetap. Apa itu? Kasih. Kasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Ini ditetapkan oleh TUHAN.  Itulah kewajiban.

    Kelompok ‘G-20’ kalau adakan pertemuan, itu pertemuan Kasih. Bukan pertemuan untuk kali-bagi hak. Pertemuan untuk saling sadarkan tentang kewajiban. Siapa bantu siapa. Itu kewajiban, bukan hak. Saling membantu. Itu bahagian dari Kasih. Semua manusia yang menyatakan diri anggota dalam Kelompok ‘G-20’ mempunyai kewajiban untuk saling mengasihi ke dalam dan ke luar. Bumi ini akan dihuni dengan penghuni yang tahu diri kalau tiap kita manusia sadar akan kewajiban yang pertama dan utama ini, saling mengasihi.

    Kita di dunia ini sudah tergelincir jauh ke dalam filosofi yang keliru tentang hak sekian rupa sampai untuk mempertahankan hak itu yang bukan hak, dibuat senjata tumpul – tajam, api – atom. Manusia tanpa senjata bukan utopia. Mulai sekarang, kita harus merubah pikiran kita, bicaralah tentang kewajiban dari pada hak. Hak menjerumuskan, kewajiban mengarahkan. Lomba buat makan enak dan bergizi dari pada lomba buat senjata canggih yang mematikan.

    Betapa indahnya hidup bersaudara di dunia ini. Wajib saling membantu, saling menolong, saling mengasihi. Inilah tema dasar untuk bertemu antara sesama manusia, termasuk pertemuan dari kelompok ‘G-20’.

  • Manusia Saling Menghargai

    Bertemu

    Bertemu. Siapa bertemu siapa? Di mana? Kapan? Untuk apa?  Manusia bertemu atas empat dasar. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu, keinginan, dorongan untuk memperjuangkan dan memperoleh serta menikmati sesuatu yang baik, benar dan bagus.

    Nalar, semua perangkat pengalaman dan pengetahuan yang dikerahkan untuk menemukan, merumuskan dan menyepakati lalu melaksanakan hal yang baik dan berguna untuk manusia.

    Naluri, dorongan dalam diri makhluk yang namanya manusia, kita ini untuk hidup bersama secara damai, adil dan beradab.

    Nurani, kesadaran kita manusia akan adanya PENCIPTA alam semesta termasuk diri kita manusia yang dari-NYA kita berasal dan kepada DIA kita menuju.

    Bertemu atas dasar Nafsu saja, pasti ada kemauan untuk saling menggerogoti dan merampas milik sesama. Bertemu atas dasar Nalar saja, pasti akan terjadi saling memperdaya, tipu-menipu. Bertemu atas dasar Naluri saja, pasti terjadi rasa pilih kasih saling mencemooh dan saling mengkhianati satu sama lain. Bertemu atas dasa Nurani saja, pasti akan ada perlombaan cari siapa paling suci dan paling dekat dengan TUHAN sambil merendahkan satu sama lain.

    Bertemu itu satu kegiatan luhur manusia dengan manusia yang mengungkapkan secara jujur dan tulus apa yang dikehendaki (Nafsu), sambil menguraikan pengalaman dan pengetahuan yang benar (Nalar), untuk tercapainya kesejahteraan bersama (Naluri) dalam terang iman akan adanya TUHAN Pemilik alam semesta (Nurani).

    Bertemu harus atas dasar empat unsur dalam diri manusia ini yang dibentangkan dengan jelas maksud an tujuannya. Bertemu yang benar itu adalah pertemuan antara manusia dengan manusia yang pasti diberkati oleh TUHAN Sang Pemilik dan Penguasa alam semesta.

    Bertemu itu memang kewajiban dari setiap kita manusia.  Kewajiban itu datang dari TUHAN sendiri yang mengamanatkan sejak awal alam semesta ini ada dan diadakan untuk kita manusia. Bertemu untuk berunding tentang pembinasaan alam di manusia ini ada, laknat, apalagi berkomplot untuk pembantaian manusia oleh manusia, khianat. Bertemu harus dan wajib untuk tata alam dan rawat insan. Kita ada untuk bertemu hati dengan hati. Hati itu tidak ada warna. Hati itu bening. Kalau ada warna, maka itu bertemu untuk yang kabur semakin kabur dan tindakan apa pun yang dirancang dan dilaksanakan, takabur.

    Bertemu itu tidak hanya manusia dengan manusia yang bertemu. Bertemu itu manusia dengan manusia sama-sama bertemu TUHAN. Itulah pertemuan, apa pun saja namanya, tetap TUHAN itu inti. Entah mau diakui adanya TUHAN atau tidak, bertemu tanpa TUHAN dijadikan sentral, maka pertemuan itu akan melenceng arahnya ke kepentingan sesaat yang sesat. Setiap manusia yang bertemu harus berdoa dan didoakan agar nafsunya tesalur secara terukur, nalarnya terarah seara benar, nalurinya terjalin secara tepat dalam nurani yang terarah secara ikhlas kepada TUHAN, SANG PENCIPTA.

    1. Tamu

    Tamu. Kita menerima tamu, anggota G20. Sembilan belas rombongan akan berdatangan menyambangi Negara kita. Tujuan utama: sidang. Setiap tamu jaga martabat diri, datang dengan tulus pulang dengan mulus. Jarang ada tamu datang dengan akal bulus.Tamu biasa lihat keliling, jalan keliling, salami tuan rumah, kagumi apa saja yang terasa baru dan aneh. Tamu biasa membanding-banding, di tempat asalnya begini, di tempat bertamu begini. Suasana lain, orang-orang lain,  suka-cita, rasa baru berbunga-bunga.

    Tamu dijamu dengan berbagai atraksi. Harga diRi kita tuan rumah dipertaruhkan. Pengamanan di mana-mana, super ketat. Tamu celaka, kita bahaya. Nama hancur. Tamu jual tampang, kita jaga gengsi. Semua serba baik dipertontonkan baik oleh kita tuan rumah maupun oleh tamu yang bedatangan. Suasana persaudaraan penuh tawa dan mesra tersajikan selama tamu berada di Indonesia. Keaslian yang baik kita tampilkan, keaslian keriput kita sembunyikan. Inilah adat kebiasaan di mana-mana.

    Hasil apa yang bakal kita peroleh dari pertemuan G20 nanti? Banyak. Utamanya, empat hasil yang akan dibawa pulang oleh para tamu.

    Pertama: bendawi. Berkaitan dengan benda, materi. Kepentingan pemenuhan kerjasama menata dan mengolah lingkungan, benda-benda, dibahas dan diadakan berbagai pendekatan dan ditanda-tangani bermacam-macam MoU (Memory of Understanding). Ini  terjadi karena setiap manusia, termasuk setiap tamu dan kita tuan rumah, ada Nafsu, dorongan untuk semakin menghasilkan dan menikmati barang-barang olahan hasil dari masing-masing negara. Wajar. Saling membantu, saling menguntungkan.

    Kedua: ilmiah. Istilah alih-teknologi diharapkan terjadi secara lebih intensif lewat saling mengundang nantinya untuk bertukar ilmu dan teknologi baru yang tidak lebih merusak alam yang sudah mulai rusak. Iptek yang menyelamatkan bukan mencelakakan. Ini peran Nalar.

    Ketiga: kekerabatan. Terjalin kekerabatan atas dasar sesama manusia yang harus saling membahagiakan. Tidak boleh terbersit secuil pun rasa saling mencurigai dan saling bermusuhan. Inilah Naluri yang murni dari setiap pribadi kita manusia. Mau damai, mau aman.

    Keempat: kerohanian. Tamu-tamu harap pulang dengan suatu keheningan bathin karena melihat dan mengalami contoh bagaimana kita orang Indonesia mengasihi sesama dan mengabdi TUHAN, SANG PENCIPTA. Kegiatan Ibadah dan rumah-rumah Ibadat harap memancarkan sinar ilahi yang terpantul dari hati yang putih. Inilah karya Nurani.

    Jadi empat hasil yang diharapkan ini bersandar pada empat unsur dalam diri manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani yang TUHAN tempatkan dalam diri setiap manusia  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tamu-tamu silahkan datang. Tangan kami terbuka, hati kami lapang. Kita saling merangkul, enyahkan curiga ganti dengan ceria. TUHAN mau hal itu yang terjadi dalam pertemuan G20.

    1. Ikatan

    Ikatan.  Kita manusia ini terikat-satukan oleh tiga ikatan yang erat-terpadu . Ikatan Darah, Daerah, Darma. Tiga – D (3-D). Kalau ada ikatan ‘G20’ yang terikat dalam satu kelompok Uni Eropa dan 19 Negara, maka ‘3-D’ itu adalah ikatan semua umat manusia, lalu, kini dan nanti.

    Ikatan Darah. Siapa di antara manusia yang mengaku berdarah lain dari sesama manusia yang lain? Kita berasal dari Darah manusia pertama yang diciptakan TUHAN dan kita ini adalah turunan yang terikat oleh Darah yang satu dan sama itu.

    Ikatan Daerah. Daerah tidak terbatas pada pulau atau Negara. Daerah itu bumi ini. Kita semua terikat dalam bumi hunian kita sebagai satu noktah kecil di tata alam semesta.

    Ikatan Darma. Darma itu bakti, karya, kerja. Kita semua terikat dalam satu Darma berbeda corak. Petani berdarma di sawah dan ladang, peternak berdarma di ladang dan kandang, nelayan berdarma di danau dan laut. Semua jenis darma itu terikat satu sama lain karena semua manusia yang terbagi-bagi dalam semua darma itu saling melengkapi saling memberi nafkah.

    Ikatan Negara-negara dalam ‘G20’ sejatinya mengeja-wantahkan tiga ikatan dasar ini, Darah+Daerah+Darma. Bertemu di mana, kapan bertemu, ke-dua-puluh kelompok ini tetap bersandar pada Darah, Daerah dan Darma. Yang dibahas itu-itu juga. Darah jangan ditumpahkan dengan amarah. Daerah jangan dicaplok seenak batok. Darma jangan dilaksanakan sesuka-hati. Supaya tiga ikatan ini dilaksanakan secara adil dan damai, patutlah ‘G20’ bertemu dan syukur Daerah di Indonesia jadi tempat bertemu para pencinta damai.

    Kita manusia ini ada empat unsur dalam diri kita: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Empat ‘N’ ini ditaruh dalam diri kita oleh PENCIPTA. Bukan diadakan oleh diri kita sendiri. Kita tinggal menumbuh-kembangkan dan mendaya-gunakan untuk hidup dengan sentausa.

    Nafsu ada untuk mencari, memperoleh dan menikmati hasil Darma yang dihasilkan oleh sesama yang se-Darah dan tinggal di Daerah yang sama, bumi ini.

    Nalar adalah kemampuan untuk mengalami dan mempelajari segala seluk-beluk diri kita dan alam semesta untuk digunakan secara baik dan benar.

    Naluri adalah dorongan untuk kita sama kita bertemu, bekerja sesuai minat dan bakat dalam Darma yang berbeda dan saling melengkapi. Itu demi kebersamaan kita manusia agar sama-sama ada, sama-sama hidup.

    Nurani itu kesadaran, bisikan, ada dalam relung diri setiap kita yang menyuarakan mana yang baik mana yang jahat agar kita semakin dekat pada DIA, PENCIPTA kita dalam kebersamaan dengan sesama.

    Ikatan Darah, Daerah dan Darma terwujud-nyatakan dalam kebersamaan kita, biar jauh terpisah oleh waktu dan tempat di bumi yang satu dan sama ini. TUHAN senang kita bertemu, bersatu dan berkarya agar Darah yang luhur itu tetap mengalir dalam nadi setiap insan dengan tenteram, agar Daerah yang kita diami ini tetap terjaga dan tertata rapih, agar Darma yang kita laksanakan menghasilkan buah berlimpah-limpah.

     

     

     

     

     

     

  • Bertemu pakai Naluri dan Nurani

    1. Naluri

    Naluri.  Dalam diri kita manusia ada empat unsur yang merupakan satu kesatuan: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Naluri ini yang mendorong Nafsu untuk mencari, memperoleh dan menikmati apa yang diinginkan oleh kita manusia. Naluri juga berperan dalam menggugah Nalar untuk berpikir dan memutuskan sesuatu itu benar, baik dan berguna atau tidak bagi kehidupan. Naluri mendorong manusia untuk mendengar bisikan Nurani, apakah tindakan kita itu baik atau buruk.

    Peran Naluri sangat menentukan dalam tindakan menghargai sesama, menolong sesama, hidup bersama sesama mulai  keluarga sampai masyarakat luas.

    Manusia berkelompok, itu dorongan Naluri. Ada kelompok yang terbentuk dan menamakan diri ‘G20’, yang terdiri dari Uni Eropa dan 19 Negara lain di dunia ini. Kelompok G20 ini akan berkumpul di Indonesia pada tahun 2022. Naluri mendorong anggota-anggota G20 untuk berdatangan ke Indonesia sesuai jadwal dan tempat yang sudah disepakati. Untuk apa berkumpul? Pasti bukan untuk sekedar hura-hura. Pertemuan penting karena menyangkut nasib sesama manusia sesuai Naluri untuk hidup berkumpul dan bekerjasama meningkatkan kesejahteraan sesama baik yang termasuk dalam anggota G20 maupun yang berada di luar perkumpulan ini.

    Naluri manusia mendorong setiap manusia untuk hidup aman, adil dan damai. Ini motivasi dasar dari pertemuan G20. Kalau berkumpul untuk berkomplot merencanakan kejahatan, itu berarti melawan hakikat Naluri. Naluri manusia mendorong ke arah yang positif, memperbaiki yang rusak, meningkatkan yang sudah baik menjadi lebih baik.

    Dari kodratnya, kita manusia ini mempunyai Naluri untuk mendekati yang tulus, menjauhi yang bulus. Manusia dengan manusia bertemu. Bertemu merancang yang baik, saling mendekati dan tidak saling menjauhi. Apa yang ada di yang satu dibagikan kepada yang lain. Berbagi rasa, berbagi harta. Itu tanda manusia hidup mengikuti Naluri yang murni. G20 diharapkan berbicara untuk berbagi kebaikan antara sesama sambil memperhatikan yang di luar G20. Tidak mungkin G20 akan sejahtera sendiri tanpa sesama yang ada di luar G20. Hidup ini sama-sama bekerjasama untuk kebaikan bersama.

    Naluri untuk berkumpul itu satu tanda bahwa manusia saling menghargai dan saling membutuhkan untuk sama-sama mengupayakan kesejahteraan. Sesuai dorongan Naluri yang wajar, manusia dengan manusia saling kasih-mengasihi dengan tindakan nyata dan itulah yang dikehendaki oleh TUHAN, PENCIPTA kita. Permusuhan, itu bukan hasil Naluri yang sehat.

    Perdamaian, itulah harapan murni dari setiap orang yang mempunyai dorongan Naluri sesuai kehendak Sang PENCIPTA.

    Pertemuan G20 pasti menghasilkan segala yang diharapkan oleh semua manusia di dalam dan di luar G20, menata kehidupan di bumi ini untuk semakin bersaudara mengelola dan menikmati hasil bumi secara bersama dalam suasana aman, adil dan damai. TUHAN mau yang itu. G20, selamat bersidang.

    1. Nurani

    Nurani. Setiap manusia mempunyai Nurani. Nurani itu bahagian tak terpisahkan dari ketiga unsur yang lain, Nafsu + Nalar + Naluri. (4N, Kwadran Bele, 2011).  Empat unsur ini menentukan kepribadian manusia sebagai  pribadi utuh. Nafsu bergerak menikmati sesuatu, langsung ada gemanya dalam Nurani. Nalar memikirkan sesuatu, Nurani pun bergetar memberi penilaian, baik atau tidak. Naluri mendorong seseorang untuk bertemu orang lain, Nurani terus membisikkan hal-hal yang berkaitan dengan orang itu, baik atau tidak.

    Nurani menjadi ukuran untuk perilaku manusia, baik atau jahat. Manusia-manusia, kita-kita ini,  mempunyai Nurani, dan Nurani itulah yang menilai kita bertemu sesama, dengan tujuan baik atau tidak. Pertemuan besar seperti ‘G20’ adalah pertemuan antara pribadi-pribadi yang mempunyai Nurani sama seperti kita yang lain. Bedanya, mereka-mereka mewakili kita karena posisi mereka berada pada tingkat pemimpin yang mengendalikan nasib jutaan orang. Bayangkan, kalau mereka mempunyai Nurani yang kabur, maka pertemuan itu akan kabur dan tidak jelas tujuannya lalu apa yang disepakati pun pasti akan mencelakakan diri mereka dan semua kita yang lain.

    Nurani dengan Nurani yang bertemu, entah pertemuan terbatas atau pertemuan besar seperti pertemuan ‘G20’ yang beranggotakan Uni Eropa dan sembilan belas negara yang lain, termasuk Indonesia. Pertemuan G20 yang akan diadakan di Indonesia ini sangat penting karena ada Negara-negara kaya harta dan adi-daya seperti Amerika Serikat dan Rusia. Harta tanpa Nurani, hampa. Kuasa tanpa Nurani, nestapa. Senjata untuk membunuh, sadis. Semua itu apa pun jenisnya, melawan bisikan Nurani. Bayangkan, seorang ayah, anaknya umur sepuluh tahun, mengasah pisau dapur setajam-tajamnya. Waktu ditanya, untuk apa? Mau tikam saudaranya. Ayah itu diam saja? Malah ayah mendukung dengan memberi pisau lain yang lebih tajam. Inilah yang sedang terjadi di dunia kita sekarang ini. Dukung mendukung dalam kejahatan. Nurani dibutakan.

    Hidup abaikan Nurani. Ini pangkal celaka. Dalam Nurani, setiap kita sadar bahwa diri dan sesama itu manusia ciptaan TUHAN, dari TUHAN kembali ke TUHAN. Sampai hati membenci sesama, menyusahkan sesama, membinasahkan sesama? Nurani semakin tumpul dan tidak lagi diperhatikan sehingga Nafsu semakin liar, serakah kumpul malah rampas harta. Nalar menjalar tanpa kendali, pikir dan ciptakan senjata pemusnah. Naluri jadi duri bagi sesama, tikam kawan, tusuk lawan. Di sini letaknya kekacauan dalam skala kecil dan besar.

    G20 silahkan bersidang. Mata dunia tertuju ke Indonesia tempat terselenggaranya Pertemuan dahsyat ini. Pakai Nurani?

     

     

     

  • Pesan Filsafat untuk Negara-negara G-20

    Sekapur sirih

    G-20. Group of Twenty, 20 Negara Anggota G-20 akan bersidang di Indonesia, Bali, tanggal 15-16 November 2022. Satu kehormatan luar biasa untuk Indonesia sebagai tuan rumah. Motto pertemuan ini, ‘Recover together, Recover stronger’, ‘Pulih bersama, Pulih menguat’. Pemulihan ke dalam dan ke luar baik dalam kelompok G-20 maupun di luarnya. Masyarakat sedunia harus menghayati dan melaksanakan isi motto ini, sama-sama memulihkan diri dalam segala bidang kehidupan dan terus berkelanjutan pemulihan itu dari saat ke saat. Semua orang harus berperan.

    Sebagai warga negara Indonesia, penulis menyodorkan pesan moral ini dalam bentuk suguhan ‘sirih-pinang’ tanda menjamu dengan segenap hati para tamu yang datang. Selamat datang, selamat bersidang. Pesan-pesan ini sudah sempat dimuat di Kompasiana, Juli-Agustus 2022 dan disajikan dalam buku kecil ini untuk mudah disimak oleh pembaca di Indonesia dan bagi para tamu, boleh dijadikan oleh-oleh.

    Limpah terimakasih untuk Kompasiana dan Penerbit yang memberi peluang untuk penyebaran pesan-pesan singkat ini. Tuhan memberkati semua pihak.

    Kupang, September 2022

    Anton Bele

    1. Sama

    Sama. Sama baru bisa bertemu. Kalau tidak sama, mana bisa bertemu. Sama dalam hal apa? Namanya kita manusia ini, sama. Semua itu manusia. Kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, sama-sama manusia. Tempat berbeda, status sosial berbeda, tapi sama. Kita manusia ini sama dalam Nafsu. Semua mau makan dan makan. Kita punya Nalar ini sama. Mampu berpikir dan mengalami. Beda di tingkat luas dan dalamnya pengetahuan. Semua manusia ada Naluri yang sama untuk bergaul dan saling mengenal. Dalam Nurani setiap manusia sama-sama merasa bahwa dirinya sama dengan diri-diri yang lain karena berasal dari DIA, TUHAN dan akan kembali kepada DIA. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Kesadaran akan adanya kenyataan bahwa sama dalam hal yang sangat mendasar, sama-sama ciptaan TUHAN inilah yang mendorong manusia dengan manusia untuk bertemu. Duduk itu sama, hanya lain duduk di kursi lain duduk di lantai. Tidur itu sama, bedanya ada yang di kasur ada yang di dapur. Waktu bertemu, setiap manusia itu sama dalam  berpikir, berpendapat dan bersuara.  Bedanya hanya dalam cara dan gaya.

    Sama di bumi, sama di angkasa. Terkadang kita manusia ini kurang sadar bahwa sama-sama menghuni bumi yang sama. Berampas batas, berebut laut, padahal tanah yang berbatas, laut yang berombak itu sama kita diami sama kita arungi. Kita sama dalam status penumpang bis yang sama-sama berangkat ke tujuan yang sama. Aneh, dalam bis yang sesak dan sempit masih sikut-menyikut. Perjalanan jadi tidak nyaman.

    Pertemuan dua puluh kesatuan, Uni Eropa dan sembilan belas negara yang menamakan diri ‘G-20’ adalah pertemuan bermartabat antara manusia-manusia yang sama  rasa dan sama  arah. Dua puluh kumpulan manusia ini sama-sama pikir dan buat yang baik untuk diri dalam kelompok sambil sama-sama pikir dan buat yang baik untuk kelomp0k yang lain yang sama-sama huni bumi yang sama ini.

    Sama dalam niat dan sama dalam semangat untuk maju dan nikmati sama-sama apa yang ada di belahan bumi ini yang jadi bahagian dari semesta semesta yang sama. Inilah motivasi luhur dari yang namanya Negara-negara yang berkumpul dalam ‘G-20’. Dalam kesadaran akan rasa senasib-sepenanggungan setiap kita manusia ini tidak diperkenankan untuk betemu dan  berkumpul untuk bergumul. Bumi ini bukan arena tinju. Adu jot0s itu tidak manusiawi. Otot ada dalam kendali otak untuk saling merangkul bukan saling mencekik.

    Beda tempat tinggal tapi sama-sama satu keluarga. Saudaraku di Rusia, saudariku di Afrika, pamanku di Amerika, tantaku di Eropa, dalam status apa pun saja, kita sama-sama tinggal di rumah yang sama, rumah bumi ini. Tanam apa saja hias halaman kita. Tabur apa saja penuhi sawah-ladang kita. Sama-sama kita siangi, sama-sama kita tuai. Salahnya di mana sehingga ada yang tanam sendiri tuai sendiri, makan sendiri kenyang sendiri. Perbaiki yang salah ini dan benarkan arah agar kita sama-sama bergandeng tangan bersatu hati dalam dekapan DIA, SANG PENCIPTA kita.

    2.Nafsu

    Nafsu. Dorongan dalam diri manusia adalah Nafsu yang berkaitan langsung dengan benda-benda sekitar. Itulah Nafsu dalam arti yang sebenarnya..  Dorongan untuk kontak fisik dengan sesama manusia juga termasuk dalam peran unsur Nafsu dalam diri manusia. Nafsu itu baik sejauh diarahkan untuk hal yang baik. Gagasan terbentuknya kelompok ‘G20’ yang tahun  2022 ini akan bertemu di Indonesia termasuk hasil nyata dari Nafsu. Nafsu itu unsur dalam diri manusia yang erat kaitannya dengan Nalar, Naluri dan Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu untuk bertemu itu baik sekali sejauh motivasinya murni, bertemu untuk berbicara, bersepakat untuk buat hal-hal yang baik, benar dan berguna bagi kehidupan manusia. Nafsu yang positif itu terwujud dalam pemikiran yang jernih (Nalar), pergaulan yang sehat (Naluri) dan tindakan penuh kasih dan sayang (Nurani).

    Bumi ini dihuni, ditata dan dinikmati karena ada Nafsu dalam diri manusia. Pertanian, Peternakan, Perikanan adalah kegiatan nyata dari dorongan Nafsu. Pertanian yang baik itu tidak merambah hutan sesuka-hati. Pertanian yang sehat itu tidak menggunakan pupuk buatan  dari bahan kimia yang merusak lingkungan sekitar. Peternakan yang baik itu membiakkan ternak secara tepat tanpa penggemukan secara paksa dengan pemberian makanan kimia. Perikanan yang tepat itu menangkap ikan dan binatang laut tanpa merusak biota laut. Semua kegiatan ini hasil Nafsu dalam diri manusia. Nafsu yang tidak terkendali tampak dalam keserakahan manusia yang merusak tanah, laut dan udara dengan pengotoran yang membahayakan. Usaha tambang apa pun termasuk dalam dorongan Nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kalau pertambangan tidak terkendali, maka kita gali lubang untuk diri sendiri.

    Pencegahan keserakahan Nafsu tak terkendali inilah yang harus menjadi bahan pembicaraan dalam pertemuan ‘G20’. Bumi ini ada unuk manusia. Bumi tidak boleh dikuras secara kasar dengan Nafsu yang tak terkontrol. Penggarapan tanah secara liar, pengotoran laut, pencemaran udara termasuk dalam pelampiasan Nafsu manusia yang tidak memakai Nalar yang benar, melawan Naluri untuk hidup bersama sesama dengan tenang, menodai Nurani dengan tindakan melawan kasih pada sesama dan sembah bakti pada TUHAN.

    Pertemuan ‘G20’ adalah  hasil dorongan Nafsu yang sehat. Dalam pertemuan akbar ini diharapkan Nafsu para anggota ‘G20’ untuk mengelola alam diserasikan dengan moral, santun hidup bersama memelihara alam ciptaan TUHAN. Para  anggota ‘G20’ menjadi teladan bagi seluruh penduduk dunia dalam cara menyalurkan Nafsu secara terkendali, terukur dan teratur. Itulah yang diidamkan oleh kita semua manusia dan diberkati oleh TUHAN SANG PEMILIK alam semesta.

    1. Nalar

    Nalar. Kemampuan yang menjadi unsur kedua dalam diri manusia, adalah Nalar. TUHAN beri kita Nalar guna mengkaji dan mempertimbangkan segala sesuatu dari sisi benar, baik dan bagus untuk kehidupan manusia.

    Nalar ini  mengendalikan  Nafsu, menuntun Naluri dan menenangkan Nurani. Kerjasama empat unsur dalam diri manusia ini menghasilkan hidup diri kita manusia ini seimbang, serasi, aman dan tenteram. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia dengan manusia bertemu dalam kendali Nalar. Kelompok ‘G20’ yang sudah terkelompok dan bertemu, memakai Nalar dalam merancang acara pertemuan agar dengan Nalar berbicara teratur dan terarah ke tujuan yang baik, benar dan bagus. Bertemu lalu bertengkar, tanda Nalar kurang dipakai secara tepat.

    Dengan Nalar para delegasi ‘G20’ yang bertemu membagi pengetahuan dan pengalaman untuk membangun dunia ini secara tepat penuh manfaat.

    Nalar kalau disalah-gunakan akan terjadi tipu-menipu di antara kita manusia. Yang benar dipersalahkan, yang salah dibenarkan. Itulah penyalah-gunaan Nalar.

    Nalar yang benar tidak kikir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Terbuka untuk dikritik dan dikoreksi.

    Dalam pertemuan ‘G20’ harap itu yang terjadi, membentangkan seluas-luasnya kebenaran untuk dimanfaatkan dan mengoreksi kesalahan dengan santun agar persaudaraan tidak tercoreng. Katakan yang benar itu benar, salah itu salah. Itulah perilaku pelaku pembangunan yang memakai Nalar secara benar.

    Nalar itu berasal dari TUHAN, sumber kebenaran. Dengan Nalar kita manusia ini menata alam secara benar. Pembodohan secara sengaja lewat Nalar, merusak alam mencelakan manusia.

    Hasil Nalar yang nyata, salah satunya penemuan dan penggunaan tenaga nuklir.

    Kalau hasil yang satu ini disalah-gunakan, terjadilah malapetaka yang dahsyat yang sama tidak kita harapkan. Kehati-hatian penggunaan produk Nalar sangat dituntut untuk tujuan luhur demi keamanan umat manusia.

    TUHAN mengamanatkan kepada kita manusia untuk memelihara dan menata dunia demi kehidupan kita, bukan merusak dan membunuh diri sendiri.

     

     

     

     

    1. Naluri

    Naluri.  Dalam diri kita manusia ada empat unsur yang merupakan satu kesatuan: Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011). Naluri ini yang mendorong Nafsu untuk mencari, memperoleh dan menikmati apa yang diinginkan oleh

  • Kwadran Bele dalam Filsafat Manusia

    Pribadi Manusia terdiri dari empat unsur (4 N) yaitu: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani. Empat unsur ini kalau digambarkan dalam bentuk satu lingkaran dibagi atas empat bagian yang sama, maka akan terlihat, satu ‘kwadran’ dengan isinya 4 N. Ini yang disebut ‘Kwadran Bele’, hasil temuan saya, Anton Bele, sebagai hasil penelitian saya selama enam tahun, 2005-2011 dalam rangka penulisan disertasi untuk program doktor Studi Pembangunan di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Temuan ini dinyatakan sebagai temuan khusus dalam bidang filsafat manusia dan disahkan sebagai satu hak kekayaan intelektual atas nama Anton Bele pada tahun 2017 dengan memperoleh Surat Keputusan tentang Hak Kekayaan Itelektual dari Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonsesia, yang berlaku selama saya hidup dan tujuh puluh tahun sesudah saya meninggal dunia.

    Begini uraiannya.

    Nafsu adalah unsur dalam diri manusia berupa dorongan, keinginan  yang menyebabkan manusia itu bisa hidup melalui persatuan dengan benda-benda di sekitarnya. Tubuh manusia itu sendiri adalah gumpalan nafsu, hasil dari makan, minum, istirahat, tidur, bergerak. Nafsu itu netral. Nafsu membuat manusia itu berkeinginan untuk hidup dan berkembang-biak, berketurunan.

    Nalar adalah unsur dalam diri manusia yang memampukan manusia untuk mempelajari, mengetahui, mengalami, memilih dan memilah apa yang ada di sekitarnya dan memakai temuan atau pengalaman itu untuk memenuhi Nafsu.

    Naluri adalah unsur dalam diri manusia yang membuat manusia itu selalu terdorong untuk hidup bersama manusia lain sambil mencari keamanan bagi diri dan sesama.

    Nurani adalah unsur dalam diri manusia yang membuat manusia itu menimbang segala perilakunya, baik atau buruk.

    Empat N (Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani) menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam diri manusia dan itulah kepribadian yang utuh, unik. Sesudah kematian, Empat N ini tetap ada dalam keabadian di hadapan Sang Pencipta. Dengan rumusan 4-N ini saya mengoreksi rumusan ‘Manusia itu terdiri dari jiwa dan badan’, dualistis. Dalam pandangan dualistis ini, sudah umum diterima, jasmani-rohani, ilahi-duniawi, jiwa-badan. Lazim diterima, badan fana, jiwa abadi.  Pribadi manusia itu terdiri dari 4-N. Ini ciptaan Pencipta. Dari kodratnya, manusia itu diwajibkan untuk ‘mengasihi Pencipta itu dengan segenap Nafsu (kekuatan), segenap Nalar (akal budi), segenap Naluri (jiwa/semangat kebersamaan) dan dengan segenap Nurani (hati). Dan setiap manusia diwajibkan oleh Sang Pencipta untuk mengasihi sesama manusia atas cara yang sama, dengan segenap 4-N (Kwadran Bele).

    Kesimpulan

    Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari secara berimbang. Contoh: Makan karena ada Nafsu makan. Harus pakai Nalar, dalam arti pakai pengetahuan bahwa makanan itu tidak berbahaya bagi kehidupan diri si-pemakan. Secara Naluri, makan itu ingat sesama, jangan rakus, ingat diri. Makan pakai Nurani, yaitu makan hasil usaha sendiri yang halal. Dengan mewujud-nyatakan 4-N ini, setiap orang mewujudkan amanat Sang Pencipta sesuai ajaran Agama yang dianut. Maka tidak dibenarkan seseorang:  dengan Nafsu hidupnya menyusahkan orang lain. Dengan Nalarnya menipu sesama. Dengan Nalurinya menyingkirkan orang lain. Dengan Nuraninya membenci sesama.

    Perilaku manusia itu diukur dengan ‘Kwadran Bele’, berarti: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani harus seimbang.