Day: November 28, 2022

  • Pesta

     

    Pesta. Ada musik, ada tarian, ada tawa-ria. Hiasan rupa-rupa. Ada yang memestakan, ada yang dipestakan. Berpesta, suasana pesta. Hidangan berlimpah. Makanan dan minuman tersaji. Setiap orang sesuka hati mencicipi hidangan sesuai selera. Nafsu manusia terarah kepada hal yang senang-senang seperti ini.

    Maunya pesta terus, siang-malam. Nalar manusia mendorong untuk memikirkan dan mencari pesta di mana dan kapan saja. Naluri manusia terpuaskan oleh hadirnya sesama dalam pesta. Nurani manusia merasa bahagia karena suasana ramah, tenang dan damai dalam pesta. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini pesta. Setiap orang ada dan nikmati pesta. Siapa tuan pesta dan siapa undangan? Setiap pribadi manusia itu tuan pesta sekaligus undangan sebagai peserta dalam pesta yang sedang berlangsung. Ruang pesta adalah seluruh alam semesta ini. Heran kalau ada orang yang merusakkan ruang pesta serta memorak-porandakan hiasan yang ada di dalamnya. Heran juga bahwa ada orang yang berkelahi di ruang pesta. Itulah hidup yang adalah pesta.

    Dalam pesta ini tidak boleh ada mabuk-mabukan. Yang biasa disebut mati, meninggal dunia, sebenarnya pindah ruang. Tetap pesta yang sama. Hanya bedanya, di ruang dalam itu segalanya kekal. Bunga tidak layu lagi, daun tidak lagi gugur.  Terik matahari tidak menyengat dan dinginnya salju tidak menusuk. Yang namanya capai, sakit, susah, lenyap. Hidup yang sekarang ini persiapan ke arah  hidup yang baru itu, abadi.

    Nafsu kita diberi oleh Pencipta untuk menikmati pesta sepuas-puasnya tanpa lewat batas. Nalar kita diberi oleh Dia untuk mengalami dan memahami makna pesta. Naluri diberi untuk menikmati pesta dalam kebersamaan, bukan sendiri-sendiri atau saling gontok-gontokan. Nurani diberi untuk meresap makna pesta dalam keheningan yang penuh damai.

    Pesta itu hidup, hidup itu pesta. Alangkah indahnya hidup ini kalau saya, anda, dia, kita merayakannya dengan gembira. Tidak ada susah? Tidak ada sakit? Yang namanya susah, sakit itu sebenarnya ibarat dalam pesta, kita angkat meja, atur kursi, kerja yang melelahkan, yang masak di dapur asap masuk di mata. Itu bukan siksaan, bukan kutukan.

    Hidup ini pesta. Mari kita rayakan.

     

     

  • Lain

     

    Lain. Hidup ini semakin hidup karena ada yang lain. Lain dalam apa saja. Tempat, waktu, keadaan. Tidak pernah kita manusia ini puas dengan yang sama terus. Maunya lain terus. Hari ini lain dari kemarin dan pasti lain dari esok. Tidak pernah hari yang sama terus. Itu mati. Namanya hidup, harus lain terus, dari lain ke lain.

    Ini karena kita ada Nafsu yang ingin nikmati yang lain dari yang biasa. Sejauh ingin yang lain itu dalam batas-batas yang wajar, maka Nafsu kita berjalan di jalan yang benar. Kita ada Nalar untuk pikir dan cari yang lain dari yang sekarang. Kita suka pengalaman lain, pengetahuan lain. Ini karya Nalar yang cerdas. Kita ada Naluri untuk bergaul secara lain dan berjumpa dengan orang lain. Sejauh ada yang lain di sekitar kita dalam saling memperkaya penuh rasa persaudaraan, maka yang lain itu jadi kegembiraan bukan kegelisahan. Kita ada Nurani untuk menerima yang lain untuk menambah rasa aman dan damai. Dari aman ke lebih aman. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Lain dalam menu makanan. Ini peran Nafsu. Lain dalam pengalaman. Ini peran Nalar. Lain dalam persaudaraan. Ini peran Naluri. Lain dalam damai. Ini peran Nurani. Lain di sini selalu harus dalam arti yang baik, benar dan bagus. Kalau lain dalam arti yang negatif, maka itu yang tidak diizinkan oleh DIA, PENCIPTA kita. Lain dalam mengomsumsi makanan yang lain yang beracun berarti salah dalam Nafsu. Lain dalam mengetahui lalu terlibat hal tipu-menipu, itu peran Nalar yang tidak benar. Lain dalam mencari teman lain yang mencelakakan, pasti itu peran Naluri yang salah arah. Lain dalam arti isi bathin dengan benci dan dendam, itu berarti Nurani sedang kabur. Lain dari sekarang ke arah lain yang lebih baik. Itulah hidup dalam arti yang sebenarnya.

    Hidup ini dari lain ke yang lain. Seluruh kita tearah ke hidup yang lain sebagai keberlanjutan dari yang fana ke yang baka.

     

     

     

  • Bantu

     

    Bantu. Bantu sesama, biasa. Saling membantu, bantu-membantu. Satu bantu yang lain. Satu kekurangan ini, yang lain  kelebihan itu. Bantu yang berkekurangan. Hidup ini bantu-membantu. Tidak ada satu manusia pun yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau sudah dibantu, wajib membantu orang lain.

    Kita manusia ada Nafsu untuk memiliki dan menikmati berbagai kebutuhan. Ini perlu bantuan orang lain. Kita manusia tidak tahu segala sesuatu. Harus ada orang lain bantu kita untuk mengetahui dan mengalami hal-hal baru. Ini karya Nalar. Saling membantu itu wajar dan wajib. Ini peran Naluri. Sesudah membantu dan dibantu, kita ada rasa tenang, terimakasih, damai. Ini peran Nurani. Empat unsur ini, ‘4N’ merupakan bahagian tak terpisahkan dalam diri kita manusia untuk hidup membantu dan dibantu. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Manusia saling membantu. Alam sekitar ada, diadakan oleh PENCIPTA untuk membantu kita manusia supaya bisa hidup. Hidup ini tidak melayang begitu saja. Harus ada tempat. Rumah, ladang, langit, udara, ada untuk membantu kita supaya kita hidup. Kita bertindak bodoh kalau tidak memakai bantuan ini. Lebih bodoh lagi kalau menyalah-gunakan malah merusak bantuan ini.

    Bantu-membantu, itu wajib. Saling membantu. Itu yang bahasa kerennya, saling mengasihi. Orang sakit, dibantu. Yang sehat bantu yang sakit. Orang miskin, dibantu. Yang kaya bantu yang miskin. Beri bantuan. Yang membantu ada kemampuan untuk membantu. Yang dibantu membutuhkan bantuan karena kekurangan. Orang Eropa ada gandum, bantu kita di Asia dengan gandum yang jadi terigu dan roti. Kita di Asia bantu mereka dengan padi yang jadi beras dan nasi. Alam dengan segala keterbatasannya memaksa kita untuk saling membantu.

    Nafsu kita adalah dorongan untuk menikmati apa yang ada di sekitar kita. Tidak boleh nikmati sendiri, harus bantu orang lain. Nalar adalah daya untuk mengetahui cara mengolah kebutuhan. Tidak boleh kikir dengan pengetahuan dan pengalaman. Saling mengajar dan saling melatih. Ini bantu-membantu. Bantu sesama agar hidup sama-sama, makin hari makin makmur. Ini karya Naluri. Aneh kalau tidak bantu sesama dan biarkan sesama itu hidup susah. Bantu sesama itu membuat hati senang dan tenang. Ini karya Nurani.

    Bantu itu Perintah dari DIA, PENCIPTA kita supaya kita hidup saling membantu. Dengan itu kita tidak keburu Nafsu, tidak keblinger Nalar, tidak  kelabakan Naluri dan tidak kebablasan  Nurani.

     

     

     

  • Tolong

     

    Tolong. Sering kita pakai istilah ini. Tolong saya dulu. Saya tolong dia. Tolong menolong. Yang meminta tolong merendahkan diri. Yang menolong merasa hebat.

    Tolong selalu berkaitan dengan belas kasihan. Yang meminta tolong  mengharapkan belas kasih. Yang menolong melimpahkan belas kasih. Ada rasa kasihan dalam diri penolong kepada yang ditolong. Kasihan!

    Nafsu kita mendorong kita untuk mengharapkan sesuatu yang sulit diperoleh. Minta tolong. Nalar kita sulit memecahkan satu persoalan. Minta tolong. Naluri kita mengingatkan kita akan adanya bahaya. Minta tolong. Nurani kita sedang kacau. Minta tolong. Ini keterkaitan anatara empat unsur, 4N dalam diri kita, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. Seseorang yang tak berdaya, minta tolong. Orang yang diminta tolong tergerak empat Unsur dalam dirinya dan cepat tanggap, menolong sesama yang minta tolong. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tolong! Ungkapan orang yang tak berdaya. Di sini letaknya kesalahan pemahaman tentang istilah tolong. Setiap diri manusia, ada hak dan kewajiban untuk tolong diri karena penolong satu-satunya adalah TUHAN. DIA-lah PENOLONG. Bukan manusia. Manusia dengan manusia ada kewajiban dan hak untuk bantu-membantu. Ada dalam posisi sederajat. Tolong itu terjadi antara dua pihak yang tidak sederajat. Manusia dengan manusia, sama derajat, sama martabat. Mana mungkin satu merasa diri hampa dan yang lain merasa diri hebat untuk menjadi penolong. Ini merampas posisi TUHAN. Hanya TUHAN-lah yang mempunyai kuasa untuk menolong. Kita sama-sama manusia tidak ada kuasa untuk tolong. Bantu, yah. Tapi tolong, tidak.

    Tolong itu dari yang kelimpahan ke yang ketiadaan. Kita manusia, tidak ada yang kelimpahan, apa pun saja, dan tidak ada yang ketiadaan, kekosongan dalam hal apa pun saja. Setiap kita ada dalam keterbatasan dalam segala hal dan tidak benar kalau anggap diri bisa menjadi penolong. Saya, anda, dia, kita sama-sama dalam posisi ada dan apa yang ada dalam diri kita inilah yang dipakai untuk bantu sesama. Bukan tolong sesama. Sikap suka tolong mengganggap sesama rendah dan menganggap diri tinggi. Ini tidak benar.

    Mari kita sama-sama memohon setiap saat, apa saja dari PENOLONG, TUHAN, PENCIPTA kita.

     

     

     

     

  • Jangan

     

    Jangan. Kalau kata ini tidak ada, kita semua manusia sudah celaka. Musnah. Punah. Sekarang kita masih ada turunan demi turunan karena ada kata ini, ‘jangan’. Heran, ada dua kata ini berdampingan, ‘jangan’ dan ‘harus’. Harus itu perintah, jangan itu larang. Perintah dan larangan ada untuk ditaati oleh kita. Larang dan suruh ibarat dua sisi  dari satu mata uang. Kalau larang terus tanpa perintah, maka sengsaralah hidup ini. Kalau suruh dan suruh terus, maka apakah kita manusia ini pesuruh?

    Nafsu kita bergerak antara dua kutub ini, jangan dan harus. Jangan terus, jadi pembangkang, karena lawan. Harus terus, kurus, karena beban. Nalar kita sadar akan makna jangan dan harus. Tidak ada jalan tengah. Atau-atau. Jangan atau harus. Naluri kita terkendali oleh jangan dan harus ini. Kalau lalai, jadi serigala bagi sesama. Nurani kita meresapkan sari pati dari jangan dan harus. Ampas dibuang, sari disimpan. Itulah peran Nurani.

    Empat N, Nafsu + Nalar +  Naluri +  Nurani adalah empat unsur  yang diletakkan TUHAN dalam diri kita masing-masing agar ikut dua kata ini, ‘jangan’ dan ‘harus’. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Jangan ribut. Harus tenang. Ini larangan dan suruhan guru kepada siswa-siswi dalam kelas. Apa tujuannya? Supaya belajar dan kerja tugas dengan tenang.  Nanti dalam ujian, bisa lulus. Larang bukan rotan, suruh bukan beban. Ini demi keberhasilan siswa-siswi.

    Dalam hidup, siapa yang larang dan suruh kita? TUHAN. Ini bukan filsafat yang dikira hanya permainan otak. Filsafat itu menyeluruh, menyangkut ‘4N’, pikir sedalam-dalamnya tentang makna dan tujuan dari ‘4N’. Jadi dengan filsafat tentang dua kata ini, ‘larang’ dan ‘suruh’, hidup kita jadi penuh makna.

     

     

     

     

     

     

  • Firasat.

    Firasat. Sering kita dengar dan pakai kata ini, firasat. Ada rasa, dugaan, perkiraan tentang apa yang akan terjadi. Baik atau buruk. Sesudah terjadi langsung berceritera, memang, saya sudah ada firasat. Biasanya hal buruk yang menimpa itu yang diungkapkan melalui ceritera tentang firasat. Celaka dengan kendaraan di jalan. Entah sendiri atau kerabat dekat berujar, memang saya sudah ada firasat jelek tadi pagi. Kejadian dikaitkan dengan perasaan di waktu lalu.

    Nafsu kita selalu berkontak dengan alam nyata. Nalar kita mengetahui dan mengalami yang sudah dan sedang terjadi. Nalar juga menduga apa yang akan terjadi. Di sini letak firasat. Naluri kita selalu mengharapkan yang baik. Kalau yang buruk menimpa kita langsung cari jawabnya pada firasat. Nurani kita terguncang oleh peristiwa jelek yang menimpa diri kita dan Nurani bertanya, salah apa? Ini peran 4N, Nafsu+ Nalar + Naluri +Nurani yang membuat diri kita hidup melangkah maju ke arah yang baik dan lebih baik lagi. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Firasat itu meneguhkan atau meruntuhkan? Hidup itu tahan banting. Penuh tantangan. Dalam hadapi tantangan, kalau diteguhkan, baik. Kalau diruntuhkan semangat juang, jangan. Istilah firasat boleh tetap dipakai, karena sulit dihilangkan. Sudah berurat-akar dalam hidup kita bermasyarakat. Pakailah kata firasat dalam arti yang positif. ‘Tadi pagi saya ada firasat buruk’. Ungkapan ini meruntuhkan diri. Kalau tertimpa mala-petaka yang tak terduga, tanyalah Nafsu, ini salah keinginan? Tanya Nalar, mengapa saya tidak ikut larangan? Tanya Naluri, mengapa saya tidak ikuti nasihat orang untuk tidak berbuat hal itu? Tanya Nurani, mengapa saya tidak waspada menghadapi situasi ini?

    Kita hidup tidak dituntun oleh firasat. Hidup kita dituntun oleh DIA, SANG PEMBERI HIDUP. Di luar DIA, tidak ada siapa pun, apa pun yang mengatur hidup kita ini. Unsur-unsur dalam diri kita, ‘4N’ itu anugerah dari YANG MAHA BIJAK untuk kita hidup penuh bijak bukan penuh firasat.

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (16)

     

    Nalar kita jelas-jelas menunjukkan mana milik kita, mana milik orang lain. Praktek KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) terjadi salah satunya karena faktor ini, tidak menghargai milik orang lain. Dalam diri kita manusia ini ada Karunia dari TUHAN, kebebasan. Bebas untuk memilih, mana baik, mana buruk, mana benar, mana salah.

    KKN terjadi karena Nalar kita mendorong untuk pilih hal yang salah, menganggap milik orang lain itu milik sendiri, tidak menghargai orang lain dan milik orang lain itu. KKN itu dibuat oleh siapa pun saja di dunia ini. Anak-anak dan remaja pun bisa buat KKN.

    Dalam hal yang berbeda-beda. Kejahatannya sama. Tidak hanya orang dewasa, tidak hanya pejabat, guru, Anggota TNI/POLRI,  Dokter, Pemimpin Agama pun bisa praktekkan KKN. Ini karena Nalar diarahkan salah, tidak diarahkan ke hal yang benar, tapi ke hal yang salah.

    Nalar sudah memberikan yang salah, ditambah oleh dorongan Nafsu yang tak terkendali, Naluri pun ikut-ikutan, tidak berdayalah Nurani. Diri pribadi terombang-ambing, tercabik-cabik. Lengkaplah perbuatan yang tercelah, KKN. Milik orang lain dianggap milik sendiri secara tidak wajar dan tidak sah.

    Nafsu mengatakan, pakai saja sepuas-puasnya. Kebebasan yang ada dalam diri kita dipaksa untuk tidak bebas lagi memilih yang baik, yang salah itulah yang dipilih. Nafsu setuju, Nalar buta, Naluri angkat tangan, Nurani menangis. Inilah model mala-petaka dalam pribadi kita kalau ber-KKN.

    Hancurlah diri kita karena KKN, menguasai milik orang lain tanpa menghargai orang lain. Terjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam merusak harga diri melalui Nafsu yang sudah di luar alur. Nalar semakin kabur dan hancur harga diri.

    Naluri ada dalam keadaan terkejar-kejar oleh milik orang lain yang sementara dikuasai secara tidak wajar dan pemilik yang sedang resah dan risau mencari dan menanti barangnya yang hilang. Nurani gelisah tanpa arah mengembara dalam belantara yang gulita. Itulah pengaruh KKN yang tidak menghargai milik orang lain.

    Belum terlambat. Nalar harus segera dicuci-bersih dan diarahkan untuk berpikir dan berpendapat yan benar. Nafsu segera diberitahu untuk hentikan dorongan untuk memiliki barang orang di luar hak sendiri.

    Naluri segera disadarkan untuk mengembalikan hak dan milik orang lain  dan Nurani segera disadarkan dengan rasa sesal sempurna di hadapan sesama dan TUHAN. Kalau sudah terlanjur buat KKN, tunggu nasib. Kalau belum, baru terdorong, lari, hindari praktek KKN. Milik orang tetap milik orang. Puas dengan milik sendiri.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (15)

     

    Nalar kita manusia menyadarkan diri kita tentang adanya sesama. Diri kita bukan seorang diri tapi ada bersama diri-diri yang lain. Kalau sesama tidak dihargai sama artinya tidak menghargai diri sendiri. Saling menghargai, wajib hukumnya. Ini Perintah dari TUHAN PENCIPTA kita. Kita manusia sama-sama perlu makanan. Ini muncul dari Nafsu. Nalar kita menjelaskan, jenis tumbuhan atau hewan mana yang dapat dimakan. Makan harus diusahakan, tidak sendiri-sendiri tetapi harus bersama-sama. Ini karya Naluri. Sesama manusia harus tetap saling menghargai mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Ini perintah Nurani. Dalam hal cari makan ini tidak boleh ada tipu-menipu.

    Nalar mencerahkan kita manusia untuk bertindak benar dalam memperjuangkan kebutuhan manusia. Tidak boleh ikut Nafsu yang negatif, suka berfoya-foya. Dalam memenuhi kebutuhan manusia, kita diingatkan oleh Naluri untuk tetap memperhatikan kepentingan sesama. Tidak boleh kepentingan bersama itu diciderai. Nurani memberikan kita petunjuk untuk tetap menaati peraturan yang baik sesuai Perintah TUHAN untuk saling mengasihi. Tidak boleh Nurani dicemari.

    Tindakan KKN, Korupsi-Kolusi-Nepotisme sebagai kejahatan kemanusiaan, muncul dari penyalah-gunaan empat unsur dalam diri pribadi manusia, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani secara bersamaan. Nalar bermain dan dipermainkan oleh diri kita untuk membuat penyimpangan-penyimpangan dalam mengurus milik bersama, milik rakyat. Nalar beri pertimbangan yang salah, diputar-balikkan untuk kepentingan diri dan orang-orang dekat sambil merugikan orang lain. Seorang kepala di bahagian Pemerintahan, ada tugas melayani kepentingan masyarakat. Uang yang terkumpul dari rakyat, tidak kembalikan kepada rakyat, tetapi dipakai untuk memperkaya diri. Ini hasil Nalar yang penuh dengan dusta dalam diri kepala yang bersangkutan. Inilah yang disebut KKN.

    Nalar itu bersih, lurus, jernih, bijak. Semua sifat Nalar ini tidak diindahkan oleh seseorang atau sekelompok orang yang nekat melakukan tindakan kejahatan yang namanya KKN. Kepentingan orang lain diabaikan. Ini kejahatan terhadap sesama manusia, melawan Naluri. Aneh bahwa orang yang melakukan KKN, tidak menghargai sesama,  merasa tenang di hati, padahal itu penipuan terhadap diri sendiri dan terhadap sesama, terlebih terhadap TUHAN PENCIPTA kita.

     

     

     

  • Hidup Jujur (14)

     

    Nalar itu cermin untuk lihat diri kita apa adanya. Di cermin kita tidak bisa tipu diri. Itulah Nalar. Lewat cermin kita lihat diri, bentuk roman muka, busana dan bisa juga seluruh badan kita. Penampilan diri inilah yang kita namakan diri dengan segala embel-embel yang menempel pada diri kita. Ada banyak barang berharga melekat pada diri kita, arloji, kacamata, ada yang gigi mas, baju rupa-rupa model. Ini semua berharga, tetapi tidak dapat dibandingkan dengan harga diri.

    Nalar menyadarkan diri kita akan harga diri dan menampilkan kepada sesama manusia bahwa diri kita ada harga. Harga diri muncul dari perpaduan empat unsur dalam diri kita: Nafsu mendorong, Nalar mengarahkan, Naluri membimbing, Nurani menampung. Dalam hal yang positif, Nalar menjadi patokan untuk penampilan diri kita sebagai orang yang rendah hati dan suka membagi pengetahuan dan pengalaman kepada sesama dengan suka hati.  (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar bisa membawa kita kepada sikap yang negatif, angkuh, suka memperdaya sesama, dan menghancurkan alam dan sesama dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Akar dari tindakan KKN itu bisa berawal dari Nalar yang kurang jernih. Dorongan dari Nafsu untuk memperoleh sesuatu secara tidak halal diterima oleh Nalar lalu mengajak orang lain, sesuai Naluri dan terjadilah tindakan KKN. Nurani akan memberontak tetapi tidak diindahkan oleh diri kita pribadi maka kejahatan KKN yang meruntuhkan harga diri terjadi.

    Nalar menipu kita, kita tipu diri dengan Nalar bahwa tindakan tipu-menipu itu tidak diketahui oleh orang lain, jadi aman. Nalar semakin keruh ibarat air kotor penuh lumpur. Nalar semakin dikaburkan baik oleh dorongan Nafsu yang tidak teratur maupun oleh Naluri yang sudah dibohongi dengan cara mengelabui mata sesama. Nurani kita menjadi gelap dan diri kita hilang harga diri. Celakanya kalau diketahui oleh orang lain, rasa malu akan menimpa diri kita dan menular ke orang-orang yang dekat. Harga diri jatuh.

    Nalar harus dijaga sungguh-sungguh untuk menyadari bahwa tindakan KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme itu tindakan jahat, mencuri uang atau barang orang lain secara terselubung. Ini sungguh-sungguh meruntuhkan harga diri di mata masyarakat, terutama di hadapan TUHAN, PENCIPTA kita.

     

     

     

     

     

  • Hidup Jujur (13)

     

    Nalar mengajar kita untuk mencari dan menikmati hiburan yang baik, benar dan bagus. (3B). Dalam Nalar kita ada perbendaharaan ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang segala macam hiburan yang ada di sekitar kita.

    Nafsu kita mendorong untuk menikmati alam pegunungan. Bagus. Hiburan itu kebutuhan yang perlu untuk kesegaran diri kita. Kalau kebutuhan pokok itu terdiri dari sandang , pangan dan papan, maka untuk memenuhi kebutuhan penting, pendidikan dan kesehatan, kita butuh kebutuhan yang perlu yaitu hiburan.

    Nafsu cari hiburan, Nalar beri pengetahuan tentang hiburan yang benar, Naluri dorong kita untuk cari hiburan yang bermanfaat bagi diri dan sesama, dan Nurani langsung mebisikkan hiburan mana yang baik dan santun. Ini kerjasama antara empat usur dalam diri kita manusia: 4N, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nalar menuntun kita untuk menikmati hiburan yang baik, benar dan bagus. Tetapi sering terjadi kita manusia ini didorong untuk cari hiburan yang tidak pantas di luar batas. Ada yang mencari hiburan dengan biaya yang tidak sedikit.  Kalau biaya itu terjangkau oleh penghasilan sendiri, masih bisa diterima.

    Kalau cari hiburan dengan memakai uang milik orang lain, namanya pencuri. Kalau milik umum, misalnya milik rakyat untuk pembangunan, ini yang termasuk pencuri khusus yang dinamakan koruptor, suka korupsi. Kalau korupsi, biasanya lewat kolusi dan bersama orang-orang dekat sehingga disebut nepotisme.

    Nalar mengiyakan kebutuhan manusia sebagai kebutuhan yang perlu dinikmati. Ada kesegaran tercipta lewat hiburan. Hiburan ada banyak macam. Mulai hiburan secara fisik seperti olah raga sampai kepada hiburan otak seperti bermain catur atau mengisi teka-teki silang. Hiburan itu perlu dinikmati untuk mengatasi kejenuhan dalam bekerja.

    Nalar mengemukakan dengan jelas segala pengetahuan dan pengalaman orang-orang dari berbagai tempat dan berbagai tradisi tentang jenis-jenis hiburan. Manusia tergerak untuk saling mengunjung karena adanya hiburan ini. Nafsu untuk mengalami sesuatu yang baru dan segar adalah wajar  untuk menghibur diri dan sesama.

    Naluri mendorong manusia untuk menikmati hiburan secara bersama, tidak sendiri-sendiri. Nurani meneguhkan manusia dalam hal mencari dan menikmati hiburan yang pantas dan layak di hadapan sesama, terutama di hadapan TUHAN.