Day: November 28, 2022

  • Mulai

     

    Mulai. Mulai pikir, mulai tulis, mulai baca, mulai kirim. Ini proses munculnya artikel di ‘Kompasiana’. Mulai sesuatu disusul dengan mulai yang lain. Tidak mungkin mulai pikir dan pikir terus. Tidak mungkin mulai tulis dan tulis terus. Sebenarnya hidup ini mulai dengan mulai dan terus mulai.

    Sambung-menyambung dari mulai ke mulai. Kapan berakhir? Seseorang hidup delapan puluh tahun lalu meninggal. Secara sederhana disebut mengakhiri hidup di dunia. Lalu apa? Yah, mulai hidup yang baru. Itu ada dalam kepercayaan kita bahwa hidup manusia ini tidak berakhir dengan kematian tetapi berlanjut terus dalam hidup di keabadian.

    Nafsu kita manusia ini maunya mulai yang baru dan baru terus. Nalar kita mau tahu dan alami yang baru. Bosan dengan yang itu-itu saja. Naluri kita mau bertemu sobat baru, rekan baru, kegiatan baru yang melibatkan sesama. Nurani kita tenang dengan hal baru disusul dengan ketenangan baru. Mulai tenang, mulai damai. Itulah hidup, mulai dari awal dan tidak ada akhir. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Hidup kita menjadi hambar kalau tidak mulai lagi dengan hal yang baru. Hari mulai malam lalu berlangsung sampai tiba pagi hari. Detik lama berlalu dan mulai dengan detik baru. Mulai menit baru, jam baru, hari baru, minggu baru, bulan baru dan tahun baru. Itulah rentetan mulai dan mulai.

    Dengan empat unsur dalam diri kita, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani kita manusia mulai menapaki hidup ini dengan mulai dan mulai. Kalau sudah mulai pikir, selanjutnya mulai buat, disusul dengan mulai cari tahu yang baru dan mulai renung yang baru.

    Nafas pun berganti dengan mulai hembus disusul mulai hirup udara baru. Tarikan nafas disusul dengan hembusan nafas dan ini mulai disusul mulai.

    TUHAN Pencipta kita yang mulai segala sesuatu ini termasuk hidup dalam diri kita pun dimulai oleh TUHAN. Mulai hidup dan terus hidup. Mulai hidup sehat. Mulai sakit. Mulai sembuh. Mulai silih berganti dari mulai ke mulai. Maunya TUHAN itu kita mulai yang baru secara baik, benar dan bagus. (3-B).

    Mulai baik disusul dengan mulai buruk. Ini yang tidak dikehendaki oleh TUHAN. Kecenderungan dalam diri kita memang ada untuk mulai yang baik dan benar itu terus. Tetapi selalu ada godaan untuk mulai yang baik diganti dengan mulai yang buruk. Paling ngeri kalau mulai yang buruk disusul dengan yang buruk lagi sehingga diri kita dari buruk ke buruk sampai pada tingkat jahat.

    Kalau sudah mulai baik, yah, harus disusul dengan mulai lagi baik yang lain. Selang seling baik dan buruk, buruk dan baik inilah yang menjadikan diri kita manusia hidup sengsara. Kalau mau senang, mulai nikmati yang baik. Kalau mau gembira, mulai pikir yang baik. Kalau mau puas, mulai bergaul secara baik dengan sesama. Kalau mau bahagia, mulai  sandar pada yang baik terutama pada YANG MAHA BAIK.

     

     

     

     

  • Ingat

     

     

    Ingat. Setiap kata ada filsafatnya. Kata ‘ingat’. Ada tiga makna. Pertama, ingat, karya nalar menampilkan kembali peristiwa yang sudah lewat. Lawannya, lupa. Kedua, ingat, karya naluri, libatkan sesama baik yang jauh mau pun yang dekat. Ketiga, ingat, pengawasan, hati-hati. Buat yang baik. Hindari yang buruk. Itu karya nurani. Nafsu yang ingin apa saja, diberi isyarat, ingat pengalaman, pengetahuan lalu nikmati. Nafsu diingatkan untuk pikir sesama, perhatikan sesama. Nafsu diingatkan untuk tingkatkan yang baik, tinggalkan yang buruk. Inilah kerjasama ‘4N’, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani, yang ada dalam diri manusia untuk hidup manusiawi. Ingat.

    ‘Ingat’ menurunkan kata-kata: ingat-ingat, ingatan, peringatan, daya ingat, ingat diri, ingat sesama, kurang ingat, hilang ingatan. Filsafat kata ‘ingat’ makin meluas dan makin mendalam. Saya, anda, dia, kita ini hidup dari ‘ingat’ ke ‘ingat’. Setiap gerak-gerik kita itu penjabaran dari ‘ingat’. Bayangkan kalau kita ‘hilang ingatan’. Atau ‘kurang ingat’ sesama.

    ‘Ingat’ dengan segala seluk-beluknya itu yang merangkai hidup kita dari saat ke saat dan menyatukan kita dengan sesama kita manusia dan kita dengan PENCIPTA kita. Kalau Nafsu kita ingin merampas milik sesama, langsung Nalar mengingatkan, ‘Awas, ingat, itu tidak baik’. Naluri kita memberi peringatan, ‘Ingat, dia itu saudaramu!’ Nurani kita memuji diri kita, kalau ingat orang lain.  ‘Syukur, engkau ingat sesama karena sesama itu sama-sama manusia, Ciptaan TUHAN’. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    ‘Ingat’ itu membuat harta yang terpendam dalam diri kita jadi harta bersama lewat nafsu kenikmatan yang wajar. Sama-sama senang. Ingat pengetahuan dan pengalaman yang indah kalau dibagi maka sesama akan gembira. Saling ingat sesama membuat diri kita puas. Ingat yang baik dan buat baik membuat diri kita bahagia. Inilah hasil dari ‘ingat’. Senang, gembira, puas, bahagia.

    Karena itulah setiap kita tetap ingat untuk buat baik terhadap sesama di hadapan TUHAN, kapan pun, di mana pun kita berada.

     

     

  • Mengerti

     

    Mengerti. Kata mengerti itu terjadi melalui satu proses yang panjang dan berbelit. Tidak sesedarhana seperti yang biasa kita mengerti. Mengerti apa? Isi pengertian itu apa? Filsafat itu dasarnya pada mengerti yang menghasilkan pengertian. Kalau tidak mengerti maka apa pun saja yang dikatakan, membuat orang tidak mengerti dan yang berkata maupun yang mendengarkan sama-sama tidak mengerti. Hasilnya, manusia menjadi pribadi-pribadi yang bingung, hidup tanpa arah. Kacau balau. Manusia hidup dengan tenang itu karena mengerti apa itu hidup dan untuk apa hidup.

    Nafsu manusia ada, diberikan oleh Pencipta untuk makan makanan yang bisa dimakan. Buat apa yang bisa dibuat dan untuk apa dibuat lalu cara membuat dan untuk apa dibuat. Ini adalah rangkaian pengertian yang muncul dari nafsu. Nalar ada untuk mengerti semua pengalaman dan pengetahuan sempat dialami oleh manusia. Inilah pengertian hasil dari karya nalar. Sesama manusia saling mengerti entah melalui ungkapan apa pun saja, gerak, isyarat atau kata-kata. Ini karya naluri. Hal baik atau buruk dimengerti sebagai karya nurani yang menghasilkan ketenangan, kedamaian dalam bathin. Perpaduan karya Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani menghasilkan pengertian yang bisa dimengerti oleh diri seseorang dan sesama dan terjalinlah saling pengertian yang saling menghidupkan. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Mengerti membuat manusia mengerti diri dan mengerti hidup. Mengerti muncul dari keinginan. Nafsu. Mengerti hasil usaha Nalar untuk mengetahi dan mengalami segala hal. Mengerti hasil dorongan Naluri untuk mampu hidup bersama dalam suasana saling pengertian. Mengerti hasil kendali dari Nurani yang membuat manusia itu sadar akan arti baik dan buruk dari segala macam ulah manusia.

    Mengerti itu ketrampilan. Mengerti itu tuntutan hidup. Mengerti itu tujuan hidup. Hidup itu mengerti dan mengerti itu hidup. TUHAN Pencipta kita maha mengerti keadaan kita manusia. Kita dituntut untuk mengerti Kehendak DIA Yang mengerti bahwa kita, ciptaan-Nya terbatas oleh segala keterbatasan. Ini harus dimengerti oleh kita manusia bahwa kita tidak dapat mengerti segala-galanya oleh karena itu dalam hidup ini kita harus berusaha untuk mengerti hidup tanpa henti.

  • Pelihara

     

    Pelihara. Pelihara badan. Itu untuk diri. Pelihara anak. Pelihara hewan. Pelihara tanaman.

    Hidup itu rentetan pelihara ke pelihara. Kita manusia pelihara diri. Nafsu kita ada itu untuk pelihara diri mulai dari makan, minum, pakaian sampai ke perumahan. Ini semua ada dan dibuat oleh kita manusia dalam rangka pelihara diri. Nalar kita ada untuk mengetahui dan mengalami cara pelihara diri, pelihara sesama, pelihara hewan, pelihara tumbuhan, pelihara alam. Naluri kita ada untuk saling pelihara antara kita sesama manusia. Nurani kita ada untuk sadarkan diri kita bahwa saya, anda, dia, kita dipelihara oleh SANG PEMELIHARA, PENCIPTA kita.

    Kegiatan pelihara-memelihara itu terjadi sebagai kerjasama antara Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ada kebiasaan suku Buna’ di pedalaman Pulau Timor, setiap rumah harus pelihara hewan di rumah. Mulai dari ayam, kucing, kambing, babi sampai kepada kerbau, sapi, kuda. Untuk apa pelihara hewan? Pertama sebagai pelindung. Kedua sebagai penolong. Ketiga sebagai pembantu. Keempat sebaga penambah penghasilan.

    Fugsi pertama, pelindung.  Itu yang paling penting. Kalau pemiliknya terkena penyakit atau bahaya apa pun saja, ada keyakinan bahwa hewan peliharaan yang pertama-tama menjadi korban. Malapetaka itu menimpa hewan peliharaan baru menimpa tuannya.

    Fungsi kedua sebagai pelindung. Ini terlihat jelas pada anjing peliharaan. Kalau ada orang asing, terlebih pencuri, anjing akan menggonggong, menyerang musuh dan melindungi tuannya.

    Fungsi ketiga sebagai pembantu. Ini terlihat pada peran kuda yang menjadi kuda beban dan kuda tunggangan.

    Fungsi keempat sebagai usaha menambah penghasilan keluarga. Babi dan kambing dapat dijual untuk mendapat tambahan penghasilan.

    Pelihara berarti jaga dan atur supaya hidup. Kalau sebaliknya, apa? Merusak, jadi perusak. Kata-kata seperti merusak, membasmih, membunuh adalah lawan dari pelihara.

    TUHAN pelihara kita. Lalu kita? Saling pelihara.

  • Hadiah

     

    Hadiah. Ada pemberi, ada penerima. Isi hadiah itu apa? Tergantung dari pemberi hadiah. Penerima terima saja. Terimakasih. Atas dasar apa pemberi hadiah memberi hadiah kepada penerima hadiah? Hadiah itu biasanya sesuatu yang berharga, bernilai. Hadiah mewakili diri pemberi. Harga diri pemberi terungkap dalam hadiah. Hadiah menghargai penerima. Pemberi dan penerima disatukan dalam hadiah. Pemberi menghargai. Penerima dihargai. Saling menghargai. Ini dinyatakan dalam hadiah, pemberian cuma-cuma, gratis dari pemberi kepada penerima.

    Nafsu untuk menghargai dan dihargai ada dalam hadiah. Hasilnya, senang. Saling menyenangkan antara pemberi dan penerima hadiah. Nalar bekerja di dalam pemberi hadiah untuk memilih yang cocok sesuai pengalaman dan pengetahuan dari pemberi dan penerima. Hasilnya, gembira. Saling menggembirakan.  Nalar dalam diri pemberi dan penerima bertemu, gayung bersambut. Hasilnya, puas. Saling memuaskan. Nurani dalam diri pemberi dan penerima hadiah dipenuhi rasa tenang, damai dan bahagia. Hasilnya, bahagia. Saling membahagiakan.  Inilah kerjasama secara terpadu antara ‘4N’, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (Kwadran Bele, 2011).

    Hidup ini saling memberi hadiah antara saya, anda, dia dan kita. Kita hidup saling menyenangkan (Nafsu), saling menggembirakan (Nalar), saling memuaskan (Naluri), saling membahagiakan (Nurani). Tidak boleh saling menyusahkan, hasil ulah Nafsu yang tidak terukur. Tidak boleh saling membingungkan, hasil Nalar yang diputar-balikkan. Tidak boleh saling meresahkan, hasil Naluri yang tidak terkendali. Tidak boleh saling mencelakakan, hasil Nurani yang tidak jernih.

    TUHAN, PENCIPTA kita adalah PEMBERI UTAMA semua hadiah yang kita hayati sampai saat ini, kenikmatan (Nafsu), kebijakan (Nalar), keakraban (Naluri), kebahagiaan (Nurani). Inilah hidup dan tujuan hidup.

     

     

     

     

     

  • Maaf

     

    Maaf. Tanpa maaf, umat manusia sudah lama punah. Maaf itu bukan sekedar kata. Sering terucap, ‘Maaf lahir bathin’. Ungkapan ini sarat makna. Maaf lahir, menyangkut unsur Nafsu dalam diri kita manusia. Timbang untuk minta maaf dan memberi maaf terlahir dari Nalar kita manusia. Maaf diminta dan maaf diberi adalah tindakan Naluri yang ingin hidup aman dengan sesama. Maaf bathin, ini ungkapan terdalam dan terindah dalam sikap kita, saya, anda, dia dan kita. Maaf secara bathin itu ibarat air jernih yang sejuk di lubuk yang dalam. Jadi maaf itu terlahir oleh rentetan tindakan dari Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Tiada maaf bagimu. Ungkapan ini sangat berbahaya dan membahayakan bagi diri yang mengungkapkan dan bagi orang yang ditujui. Tiada maaf itu berakhir pada sikap memusuhi sampai membunuh sesama. Ini yang tidak boleh terjadi. Harus diakui bahwa secara kodrati kita manusia ini berada di antara dua kutub magnit, kutub kejahatan dan kutub kebaikan, kutub benci dan kutub kasih. Tarik menarik antara dua kutub ini sangat kuat dan setiap saat kita manusia oleh salah satu dari kutub ini, entah yang baik atau yang jahat.

    Maaf adalah obat penyembuh luka antara yang melukai dan dilukai. Kita kalau sudah terseret oleh arus magnit kutub kejahatan, pasti ada pihak yang dicederai. Segera minta maaf supaya  diberi maaf. Permohonan maaf dari yang mencederai. Pemberian maaf oleh pihak yang dicederai. Mohon maaf karena  bersalah. Beri maaf dari  yang sudah disakiti.

    Siapa yang paling disakiti dalam hidup ini? DIA, PEMBERI hidup.

     

  • Ampun

     

    Ampun. Salah dimaafkan. Dosa diampuni. Sering kita minta ampun pada sesama. Seorang anak dipukul oleh mamanya. Terdengar suara lirih tangisan si anak, ‘Mama, ampun, ampuuun’. Mama jatuh hati dan anak terbebas dari pukulan. Maaf untuk kesalahan kecil, ampun untuk kesalahan besar. Kata ampun terlontar dari mulut pemohon dan dijawab oleh pemberi ampun dengan memberi ampun. Dua belah pihak terbebas dengan kata ini, ampun. Hubungan yang retak terpulih oleh ampun. Mengampuni dan diampuni.

    Ampun, ungkapan penuh rasa sesal yang ditujukan kepada Tuhan. Mohon ampun. Kalau sudah berdosa. Pantas kalau ada ungkapan keagamaan, Tuhan Maha Pengampun. Nafsu yang tidak teratur menyebabkan seorang jatuh dalam dosa. Nalar yang kabur membuat orang tidak lagi mampu melihat mana salah mana benar. Naluri yang sudah dilabur rasa iri dan benci membuat pribadi dengan pribadi yang lain saling menerkam. Nurani yang keruh mengaburkan segala yang murni jadi buram. Inilah dosa.

    Hanya satu kata yang dapat menghapus coreng moreng ini dari diri manusia, ampun. Kata ampun sangat ampuh. Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani jadi teduh, tenang dan damai karena mohon ampun dan dapat ampun dari DIA MAHA PENGAMPUN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Nafsu jalan tertatih oleh kerakusan. Itulah dosa. Nalar jadi kabur oleh tipu-muslihat. Itulah dosa. Naluri jadi tumpul terhadap derita sesama. Itulah dosa. Nurani tercemar oleh iri dan dengki. Itulah dosa. Semua ini dapat kembali pulih kalau Nafsu  lurus, Nalar tulus, Naluri halus, Nurani kudus. Ini semua bisa terjadi lewat mohon ampun dan dapat ampun.

    Hidup kita tidak tertindih beban dosa kalau ampun diminta oleh kita dan ampun diberi oleh DIA, PENCIPTA kita, MAHA PENGAMPUN.

     

  • Ganggu

     

    Ganggu. Hidup ini hilang hidupnya kalau tidak ada yang ganggu. Jadi ganggu itu perlu. Ada yang mengganggu ada yang terganggu. Saling mengganggu. Itulah hidup. Mana ada orang yang sama sekali bebas dari gangguan. Semua manusia selalu mengganggu dan diganggu. Balas membalas. Bayi mengganggu mamanya. Mama mengganggu bayi untuk bangun dari tidur lelap kelamaan. Guru mengganggu siswa-siswi dengan berbagai tugas belajar. Siswa-siswi mengganggu guru dengan berbagai pertanyaan untuk dijawab.

    Di pedalaman Pulau Timor, suku Buna’ biasanya membunyikan segala macam bunyi-bunyian kalau ada gempa bumi. Mereka percaya bahwa getaran gempa itu adalah  gangguan dari roh penjaga manusia yang mau mengetahui manusia masih ada atau tidak di tempat masing-masing. Bunyi-bunyian adalah tanda jawaban kepada roh bahwa manusia masih ada dan tidak tidur, tetap berjaga.

    Nafsu manusia maunya semua serba enak, nyaman. Nalar manusia maunya semua jelas, serba gamblang. Naluri manusia maunya tenang, serba aman. Nurani manusia maunya teduh dan damai serba bahagia. Inilah harapan empat unsur dalam diri manusia, saya, anda, dia, kita. Perpaduan dalam diri manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani menginginkan pribadi manusia tidak mau diganggu, tetap tenang-tenang saja. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Ganggu itu baik atau buruk tergantung dari tujuan pengganggu. Iblis, sumber segala keburukan, pasti mengganggu dengan tujuan untuk mengganggu manusia ke arah yang jahat seperti mengeluh, mengutuk, mengamuk dan menghancurkan alam atau sesama.

    TUHAN, mengganggu manusia untuk sadar bahwa dirinya itu baik dan mengusahakan yang baik untuk diri dan sesama di dalam alam ini. Gigi tumbuh pada bayi dan menimbulkan rasa sakit, itu bukan ganggu dengan tujuan menyakitkan, tetapi ganggu gusi bayi supaya di sana tumbuh gigi untuk menggigit dan mengunyah makanan.

    Ganggu dalam hal ini pertumbuhan. Sering kita manusia melihat pertumbuhan dan perubahan itu sebagai gangguan. Padahal itu adalah pertumbuhan, perkembangan, perbaikan, penyempurnaan dari yang baik ke arah yang lebih baik.

    TUHAN sumber segala yang baik itulah yang memberikan kita manusia kebebasan untuk mengupayakan kesempurnaan dan semakin sempurna sampai kepada sempurna yang kekal. Tahap demi tahap menuju kesempurnaan inilah yang kita sangka gangguan. Bukan, itu bukan gangguan tapi sapaan, pemeliharaan terhadap kita manusia dari DIA, Yang Mahabaik.

     

     

     

  • Tepat

     

    Tepat. Satu kata yang sering kita ucap tapi sering kita langgar. Tepat bisa menyangkut waktu, tempat, sasaran. Tepat waktu, biar sering terlambat dengan berbagai alasan. Tempat yang tepat sesuai keadaan biar sering bergeser sedikit-sedikit.

    Sasaran yang tepat, biar sering melenceng. Kita manusia ada Nafsu untuk memenuhi dan menikmati saat yang tepat, tempat yang tepat dan tujuan yang tepat.

    Kita ada Nalar untuk memikirkan semuanya itu dengan matang. Naluri kita menuntun untuk tepat dan tepati semua rencana yang baik bagi diri dan sesama. Nurani kita tenang karena tepat sesuai keinginan Nafsu, pertimbangan Nalar dan dorongan Naluri. (4N, Kwadran Bele, 2011).

    Patokan jelas, tepat itu dari TUHAN. Kurang atau tidak tepat itu dari kita manusia. Waktu, tempat, sasaran dari hidup ini sudah tepat dan tetap. Tidak mungkin ada kekeliruan waktu, tempat dan sasaran dalam hidup kita yang berasal dari TUHAN. Tujuan dari Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani kita itu jelas, tepat, tetap. Itu sudah Rencana dan Penyelenggaraan TUHAN.

    Filsafat itu harus ada dasar yang kokoh dan itu dalam kesadaran akan adanya TUHAN. Pada TUHAN ada kebenaran mutlak. Filsafat itu cinta kebenaran. Lalu kebenaran itu apa?

    Masalah filosofis sampai sekarang ini muncul karena ada pendapat bahwa filsafat itu harus berdasarkan akal sehat, segala yang dapat dicerna akal. Inilah dasar keangkuhan manusia yang muncul dari pemisahan antara ‘Theologi’, Pengetahuan tentang Tuhan, dan ‘Filsafat’, pengetahuan sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu yang dapat dimengerti dengan kekuatan akal. Mana mungkin mau menyelami adanya TUHAN dengan kekuatan akal.

    Tepat itu hanya ada pada Tuhan. Kita manusia ini selalu melenceng ke sana-sini. Nafsu bercabang, tidak tepat, Nalar melayang, banyak kekeliruan, Naluri timpang, bergaul pilih-pilih, Nurani keruh, kurang ingat TUHAN.

    Tepat itulah gerak hidup saya, anda, dia, kita. Tetapkan waktu yang tepat. Tempat sudah tepat, jangan disesali. Sasaran tetap yang sama, kebahagiaan abadi. Itu semua hanya ada pada TUHAN.

     

     

     

  • Polos

     

    Polos. Kata ini tepat untuk perilaku kita manusia yang pikir, omong, perbuatan sejalan. Ada teman saya pernah sindir saya waktu saya Anggota DPR-D Provinsi NTT tahun 2014-2019. Kawan ini dengan polos bicara, “Pak Anton, saya tidak percaya yang Pak omong. Sebab orang politik ini pikir lain, omong lain, buat lain”. Saya lihat kawan itu, dengar ungkapannya, saya pikir lalu renungkan, kawan ini benar. Karena saya tidak mungkin bentangkan semua yang saya pikirkan lalu omong dan buat.

    Dalam hidup ini setiap kita ada Nafsu. Tidak mungkin seluruh Nafsu dalam bentuk keinginan itu saya bentangkan kepada setiap orang. Kepada yang satu saya ungkapkan kepada yang lain saya sembunyikan. Ini tidak polos. Kenapa? Karena kita manusia ada Nalar untuk mengolah dorongan Nafsu itu sesuai keadaan tempat dan waktu. Lalu itu apa hubungannya dengan polos dan tidak polos?

    Ada kaitan erat antara Nafsu, Nalar dan Naluri. Dengan Naluri saya dibatasi oleh kehadiran sesama manusia. Pertenggangkan orang lain. Ini Naluri yang membuat diri seseorang bisa polos sekarang dan sebentar tidak polos lagi. Dalam diri kita ada Nurani yang membuat diri kita sering pikir lain, omong lain, buat lain. Contoh, saya ada Nafsu untuk cari tambah uang karena butuh.

    Nalar bilang, bisa, asal halal. Naluri bilang, hati-hati orang yang janji beri uang itu bohong. Jangan percaya. Nurani saya langsung berbisik, tenang. Biar uang kurang, puaslah dengan apa yang ada. Tenanglah saya. Semua ini tidak mungkin saya uraikan kepada setiap orang. Dalam segala hal kita manusia tidak mungkin hidup polos dalam arti buka-bukaan segala yang ada pada diri kita yang namanya polos. Harus ada selubungnya. Inilah kerjasama 4N, Nafsu + Nalar + Naluri + Nurani dalam diri kita. (Kwadran Bele, 2011).

    Polos itu harus. Tapi polos dalam arti yang baik, benar dan berguna bagi diri dan sesama.

    Inilah hidup polos yang dituntut dari setiap diri kita, saya, anda, dia, kita. Siapa yang tuntut?

    DIA, PENCIPTA kita.